Minggu, 20 Desember 2009

Tahun Baru Hijriyah : Ibrah bagi Aktifis Dakwah

Kita adalah umat yang sering diperintahkan Allah untuk mengambil pelajaran dari semua peristiwa. Karenanya Allah sering memantik rasa dan kecerdasan kita dengan 'agar kamu ingat', 'agar kalian berpikir', 'agar kalian mengambil pelajaran'. Sungguh itupun terjadi dalam peringatan-peringatan hari-hari besar Islam, apakah Idul Adha yang barusaja berlalu atau Tahun Baru Hijriyah yang akan kita jelang. Taka ada larangan dalam MEMPERINGATINYA namun mungkin kita tak perlu melakukan perayaan-perayaan sebagaimana kaum lain merayakan tahun baru mereka. Sebab, sangat dimungkinkan perayaan itu menghilangkan esensi dari peristiwanya.Dan akhirnya kita hanya terjebak pada euphoria perayaannya. itu sja prolog tulisan ini

LATAR BELAKANG TAHUN HIJRIYAH

Khalifah Umar Ibnul Khattabb (al-Faruq) adalah kholifah yang banyak melahirkan produk-produk baru dalam pemerintahannya.Pada masa pemerintahan beliau, kekuasaan Islam sudah mencapai 1/3 bagian dunia. Namun umat Islam yang telah memiliki kekuasaan itu, belummemiliki sistem penanggalannya sendiri. Pada saat itu yang berlaku adalah penanggalan Romawi, Tahun Gajah, penanggalan-penanggalan jahiliyyah.Itulah yang dipertanyakan dan diusulkan oleh salah satu gubernur Al-Faruq diangkat menjadyang bernama Abu Musa al-Asy'ari. Maka ia mengusulkan pada Umar tentang penanggalan Islam.

Mulailah Umar ra mengumpulkan para shabat dan sharing ide dengan mereka. Mana tahu ada usulan-usulan pun muncul. Ada yang usulan dari para sahabat tntang kapan dimulainya penanggalan Islam. Maka berbagai usul muncul. Ada yang berpatokan pada peristiwa Fathkhu Mekkah, ada yang usul saat Rasulullah mulai diangkat menjadi Rasul, Bahkan ada yang usul hr kematian Rasulullah.

Akhirnya umar cenderung kepada usulan Ali bin abu thalib. Ali mengusulkan bahwa peristiwa Hijrah sangat layak menjadi awal di penanggalan itu. Bahwa hijrah menjadi peristiwa yang membuktikan orang-orang yang telah lulus dalam turbulensi dakwah di Mekkah dan membuktikan loyalitasnya pada Islam dan pada perintah Allah dengan adanya peristiwa Hijrah....

HAKIKAT HIJRaH
Hijrah secara maknawiyah memang berarti meninggalkan apa-apa yang diarang Allah dan menimbulkan dosa. Hijrah juga dapat bermakna bahw akita diberi kesempatana oleh Allah untuk mengarungi bumi Allah yang luas, dimanapun kita melangkah, ada banyak peluang kebaikan. Kitapun diseru untuk menyebar diseluruh bumi, mencari penghidupan dan mnyebarkan syiar Islam.

IBRAH KHUSUS HIJRAH : PROFIL dan Karakter Pendukung Setia Dakwah

Peristiwa hijrah bukanlah peristiwa perjalanan yang menyenangkan.Umat Islam pada saat itu tidak dalam kondisi ayang aman.Tak heran jika peristiwa Hijrah itu memiliki keutamaan yang besar disisi Allah.Namun para sahabta utama memberikah teladan dalam mengarungi ujian dakwah dan pembuktian ketaatan itu

1. Pelajaran dari Keberanian UMAR Ibnul Khattab

Umar melakukan hijrah dengan cara berbeda. Disaat para sahabat yang lain melakukan hijrah dengan sembunyi2, maka Umar dengan menyadari kekuatan dirinya justru mengumumkan terang-terangan hijrahnya dengan 'menatang' penduduka Makkah : "siapa yang ingin istrinya menjadi janda dan anaknya jadi yatim,maka silakan menemuiku dibalik bukit ini"

dan benarlah. Semua penduduk Makkah tidak bergeming. membiarkan Umar berhijrah dengan mulus. Apa ibrahnya? Apakah ini kesombongan Umar? Sekali-kali tidak! Umar sedang mengajarkan pada kita bagaimana sebuah keberanian itu lahir dari kemampuan mengukur potensi diri, kesiapan diri. Keberanian bukanlah kenekatan. Umar sangat tau dan dapat mengukur potensi, peluang dan akhirnya menjahrkan hijrahnya. Begitupula kita sebagai aktifis dakwah, jika memang kita telah percaya diri dengan kekuatan kita, optimis dan yakin dengan kebenaran yang kita bawa, maka tidak adaalasana kita terus 'bersembunyi' dalam syiar-syiar dakwah kita

2. Kesetiaan dan Kepedulian Abu Bakar Ash-shidiq pada Qiyadahnya (pemimpinnya)

Siapa tak mengenal sosok ini? dari awal hingga akhir ia menjadi sosok pembela Rasulullah. dia yang menemani Rasulullah dalam perjalanan hijrah yang tidak mudah.Menemani bersembunyi di gua Tsur yang menurut shiroh terdapat banyak lubang ular dan goa itu sangat sempit. Sehingga dengan sangat khawatir trehadap keselamatan Murabbinya, Abu Bakar mengetakan "Wahai Rasulullah bagaimana jika mereka melihat kaki kita?" Dan rasulullah menjawab : " Bagaimana jika ada tiga dan yang satu Allah? Sesungguhnya Allah bersama kita"
Bahkan Abubakar merelakan pahanya digigit ular demi menjaga agar RAsulullah tidak terbangun dari tidur beliau yang bersandarkan pahanya.Luar biasa

Didalam dakwah, ksetiaan dan kepedulian kita pada qiyadah, pemimpin sangat penting. Janganlah kita selalu menuntut bahwa murabbi, pemimpin kita selalu peduli kita namun kita jarang peduli terhadap kondisi murabbi, naqib, pemimpin kita dalam dakwah

3. Pengorbanan Ali untuk Qiyadahnya

Malam itu, siapa sosok yang telah siap mati terbunuh menggantikan Rasulullah?Dialah Ali bin Abu Thalib. Rencana pembunuhan Rasulullah oleh para pemuda Quraisy telah final dimalam itu. Ali pun telah siap tidur berselimut jubah Rasulullah untuk menggantikan nyawa Rasulullah.

pengorbanan yang sangat-sangat menyentuh wilayah pribadi. Ini bukan hanya berkorban untuk seruan dakwah yang umum. ini berkorban nyawa untuk seorang pemimpin. Sungguh, jika tidak ada kecintaan, loyalitas dan rasa bela, hal ini mustahil dilakukan. Kesadaran bahwa dakwah memerlukan Rasulullah lebih besar daripada kecintaan Ali terhadap dirinya. Kita sebagai kader dakwah mungkin belum sampai pada pengorbanan yang menyentuh wilyah pribadi. Kita belum diminta mengorbankan anak kita sebagaimana Ibrahim, kita belum diminta menggantikan qiyadah untuk misi bertaruh nyawa. Namun kita masih sering menolak untuk tugas-tugas dan taklimat dakwah yang sebenarnya bisa kita lakukan seandainya kita tak mengajukan banyak alasan.

4. Kreatifitas dan Kesungguhan Putra Putri Abu Bakar
Dalam momentum hijrah, putra putri Abu Bakar layak menjadi kader-kader muda brilian. Abdullah bin Abu Bakar dengan cerdas memainkan peran 'intelejen' yang cerdik. Di pagi dan siang hari Abdullah dengan sangat cool mengikuti forum-forum Quraisy, menyaring segala informasi, ikut 'nimbrung' dalam diskusi-diskusi mereka seolah-olah taka ada apa-apa. Dan dimalam harinya Abdullah melaporkan pada ayahandanya dan Rasulullah di goa Tsur.Rapi dan cerdik.

begitu pula Asma' dan Aisyuah yang diusai belia mereka sudah menunjukkan loyalitas dan besarnya peran perempuan dalam dakwah.tugas membawa dan mengantarkan bekal untuk Rasulullah dan ayah merak tent bukan tanpa resiko. perempuan-perempuan yang digembleng oleh dakwah generasi awal itu teguh, pemberani, sangat besarpengorbanannya. ide membagi dua ikat pinggang yang dilakukan Asma' menunjukkan kreatifitas dan kecakapan

ibrah : dakwah memerlukan kader-kader yang kreatif, jeli, teliti dan siap berkorban untuk misi dakwah. Tua, muda semua melakukan peran-peran yang mampun mereka lakukan. Tidak ad alasan bagi para kader dan aktivis dakwah untuk 'duduk-duduk' dan bersantai sebabb pkerjaan dawah ini sangat banyak!

IBRAH UMUM

secara Umum, hijrah Rasulullah memberikan ibrah sebagai berikut
1. Pengorbanan dan Keikhlasan
ditunjukkan oleh Muhajirin dan Anshor yang mereka dijaminkan kemuliaan karena pengorbanan mereka. kaum muhajirin meninggalkan apa-apa yang mereka punya di kampunghalamannya (harta, keluarga, jabatan, kenyamanan) dan Kaum Anshor rela berbagi apapun yang mereka miliki untuk saudara-saudara mereka kaum Muhajirin. Padahal kaum Anshorpun bukan orang-orang kaya.
bahwa sebagai aktivis dakwah kita harus mampun memunculkan keikhlasan dan pengorbanan yang mungkin menyentuh wilayah-wilayah pribadi kita.

2. Kreatifitas dan Optimis

Hijrah memberikan ibrah bahwa kita para aktivis dakwah harus selalu optimis dan kreatif dalam memunculkan ide-iede baru dan semangat dalam mengelola dakwah ini. Jangan hanya mengalir dan puas menjadi penonton sja. Kreatifitas menghadapi objek dakwah yang berbeda kultur, usi adan latarbelakang menjadikan kita terus berpikr memenangkan dakwah.

3. Kerjakeras dan Tawakkal

Mengapa Hijrah Rasulullah tidak bergelimang fasilitas padahal Rsulullah diberi fasilitas Bouraq pada saat isra' mi'raj? :) Mengapa Rasulullah tidak meminta kemudahan dri Allah?
Luar biasa. Hijrah dn prosesnya menunjukkan pada kita bahwa setiap hal dalam dakwah ini sangat memerlukan kerja keras. proses dan ikhtiar mendahului tawakkal. rasulullah mengatur strategi, menyewa penunjuk jalan dan menyuruhnya berputar, bersembunyi 3 hari agar jejakmereka tertiup angin, para sahabat diatas dengan perannya masing-masing mensukseskan proyek hijrah dengan sungguh-sungguh. Dan Allahpun memberikan pertolongan-pertolongan yang bukan 'sim salabim'.

inilah pelajaran bahwa kita harus terus bekerja keras dalam dakwah. Tidak boleh kita mendahulukan 'tawakkal' dan menggantungkan pada hal-hal yang kbetulan. Sifat 'njagakne' danseenaknya dalam dakwah tidak akan mendatangkan kebaikan apalagi pertolongan Allah. Pertolongan Allah harus kita upayakan agar kita pantas mendapatkannya

demikian rangkuman dari kajian menjelang tahun baru ijriyah yang mampu saya serap dan saya 'tularkan' kembali semoga menjadi inspirasi dan semnagt baru, khususnya untuk diri saya. Maaf jika terlalu panjang...Maturnuwun kepada Ust. Hatta Syamsuddin, Lc :) atas kajiannya sore itu.

Investasi Generasi : Sebuah Harapan Tawakkal

Program Investasi Generasi (mendapatkan buah hati): Pembuktian Tawakkal

Aku menikah di tahun 2004. Seperti kebanyakan pasangan, bayangan segera mempunyai generasi baru pasti menggebu. Akupun sering mndengarkan 'curhat' teman dan saudara tentang kegelisahan mereka menanti buah hati.Tapi Allah tentu lebih tau kesiapan kita. Aku sering mendengar orang-orang sekitar kita tanpa sadar ‘mendikte’ Allah dan menyinggung orang lain (biasanya sesama perempuan) meskipun dengan bercanda. Begini seringnya candaan mereka:

“ Kapan nih nikah? Kok nggak cepet-cepet nikah. Milih-milih ya?” Itu pada yang belum menikah. Lalu, selanjutnya
“ Aduh kapan nih rencana punya momongan. Tunggu apalagi? “ atau “Kok belum dapet ‘laba’ nih…belum rencana punya anak,ya?” itu pada yang sudah menikah tapi belum juga berputra. Begitu seterusnya kalau anak sudah ada, pertanyaan muncul kapan nambah lagi? Mungkin itu juga yang menjadi inspirasi sebuah iklan kontrasepsi di televisi.

Program investasi generasi. Begitu saya dan suami menamakan. Sebab memang anak, keturunan adalah sebuah ‘investasi’. Mereka bisa menguntungkan untuk dunia akhirat jika kita bisa dan benar merawatnya. Sebaliknya, bisa menjadi fitnah jika kita salah dalam orientasi memilikinya dan lalai dalam mendidiknya. Dan yang penting diingat : kita hanya bisa MERENCANAKAN dan memohon kepercayaan dari Allah. Kita tidak berhak mendikte Allah dan mendesak atau bahkan menyinggung orang-orang yang belum memilikinya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti diatas.

Saya sering menghibur teman-teman yang belum berputra dengan mengatakan " Allah masih menginginkanmu memberikan banyak sedekah waktu dan produktifitas amal yang belum tentu lho bisa kau lakukan saat sudah berputra.he..he..Berkhusnu
dhon saja ya...?"

Begitulah. Layaknya sebuah investasi, Allah menuntunkan kita benar-benar lurus dalam usaha menanamkan benih dirahim kita. Sejak awal hubungan biologis orang-orang beriman dituntunkan untuk berdo’a. Bismillahi Allahumma jannibnasy syaithon wajanibnasy syaithona maa razaqtana.
Begini terjemahan hadits lengkapnya. Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah bersabda:

“Sekiranya salah seorang diantara kalian menggauli istrinya lalu ia mengucapkan ‘Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami’, maka sekiranya Dia mengaruniakanseorang anak kepada keduanya, maka anaknya itu tidak akan dibahayakan oleh setan selama-lamanya “.

Sungguh sebuah amanah yang besar itu selayaknya pula dipersiapkan dengan tuntunan Allah. Tidak ada sebuah rencana bagi kita yang mengaku beriman ini tanpa melibatkan Allah dalam segala urusan dan hajat kita.

Program investasi generasi ini menurutku juga benar-benar akan menguji ketawakalan kita sebagai hamba. Bahwa kesenangan, harapan dan cita-cita mendapatkan anak yang sholeh, banyak dan sehat tentulah tidak cukup dengan persiapan dhohir dengan program-program makanan sehat, tips agar cepat mendapat keturunan, namun lebih dari itu.

Keyakinan bahwa Allah yang menjadikan benih itu tumbuh dirahim kita, Allah yang melahirkannya, termasuk Allah yang memilihkan jenis kelamin anak-anak kita, atau bahkan menjadikan kita tak berputra, harus terus kita pelihara. Semua itu agar tidak ada harapan yang pupus ataupun percaya diri berlebihan yang melahirkan sikap berbangga. Termasuk berbangga dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sungguh benar Allah berfirman dalam Q.S. Asy-Syura (42) : 49-50

“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, (QS.42 : 49)
“atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki.Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.(QS.42:50)

Ya, anak-anak kita adalah investasi generasi. Mari mempersiapkannya dan terus memohon kepada Allah agar kita ridho atas semua kehendak Allah atas kita,pasangan kita, dan anak-anak kita.Berdo'a dan bersabar akan datanganya amanah itu akan lebih baik daripada kita menebak-nebak. Wallahu a’lam bish shawwab

Dua Tahun Benih Cendekia : Tawaran Partisipasi

Rumah "BC" 2 Des 2007- 2 Desember 2009
Alhamdulillah.. meskipun masih tertatih mewujudkan idealisme, masih menjadi 'benih' yang mencoba tersemai dan tumbuh.Namun belajar adalah keniscayaan dan pantang menyerah adalah pena yang tak boleh mengering.Mengajak sahabat, teman, saudara yang memiliki kepedulian yang sama dalam meretas jalan mencerdaskan diri dan sesama dalam tawaran partisipasi Rumah Baca dan Rumah Karya kami di Tahun Kedua ini:

1. Books Box Drop Jauh Dekat
Program pengumpulan buku baru dan bekas baik buku pelajaran, buku-buku pendidikan (parenting), majalah, novel yang mendidik, buku-buku ketrampilan hidup,bundel majalah dan semua bahan bacaan yang bermanfaat untuk anak, remaja, perempuan, umum.

Kami juga berharap para penerbit buku untuk dapat menyumbangkan buku-buku pada kami baik secara langsung maupun bekerjasama dalam event-event tertentu.

Dapat dikirimkan ke : Rumah baca BENIH CENDEKIA d.a Bp/Ibu Hatta Syamsuddin Jl. s. Langkat no 11, Sawahan Sangkrah Rt.01/XI Pasarkliwon Solo 57119 Cp.081329460601
Jarak dekat (Kota Solo) kami bersedia mengambil kerumah/institusi Anda

2. Relawan Pendidikan
Anda seorang trainer?Pendongeng? Guru lukis? Apapun,siapapun Anda yang peduli pendidikan atau Berminat menjadi mentor sukarela dalam program pendampingan belajar SD? kami menunggu partisipasi Anda bergabung mencerdaskan generasi

3. Sumbangan Media Belajar dan Kreatifitas
Berupa sumbangan media belajar : crayon, cat lukis, kanvas, mainan edukatif (bekas atau baru), rak buku, papan tulis, gambar tempel dsb

4.Infaq Dana Kegiatan
Berupa infaq dana partisipasi untuk mensupport kegiatan kami.Dapat Dikirim ke Rekeneing BSM atas nama Robi'ah al Adawiyah No rekening 0120151625
5. Penyuluh Parenting
Anda dapat bergabung dalam program 'Penyuluhan Pendidikan Keluarga' yang memberikan penyuluhan pada ibu-ibu di kampung tentang pendidikan anak, komunikasi keluarga, kesehatan keluarga, dll

Program Kegiatan Andalan Kami Terbaru
1. Kursus Murah Bahasa Inggris Untuk SMP-SMU (sementara masih memerlukan Guru untuk SMU, jadi yang berjalan baru SMP) setiap rabu sore

2. Kelas Belajar Membaca Usia TK (persiapan SD)
hari: Jumat sore. masih membutuhkan relawan

3. Pendampingan Belajar untuk SD kelas 4,5,6 setiap kamis dan sabtu pk 14.30-16.00

4. Penyuluhan Pendidikan Keluarga (setiap bulan)

demikian catatan kecil ini semoga mengetuk hati siapapun yang bersemangat dalam menyemai benih-benih kebaikan.Amiin

Berdamai dengan si Sulung

Hari ini melelahkan. Dan aku yakin kemarin, besok, dan akan seterusnya begini. Anak-anak kita akan selalu mempunyai potensi konflik dengan kita. Hm…tentu saja sesuai dengan fase bertumbuh dan berkembang mereka. Aku baru saja memutuskan berdamai dengan anakku setelah bebrapa jam yang lalu ia benar-benar keras kepala.

Bagaimana tidak? Sepulang sekolah ia terus menerus melakukan hal-hal yang memantik emosi. Dari satu permintaan –pemaksaan- satu ke yang lain. Dan sungguh seperti yang kutulis kemarin : aku belum cukup sabar atau belum cukup bisa menahan diri .

Akhirnya aku memilih diam sejenak. Kupandangi sulungku yang merajuk karena permintaannya yang kesekian kali siang itu tidak kuturuti. Kali ini ia memintaku membelikan pensil warna yang baru karena sepulang sekolah tadi ia mendapatkan hadiah buku mewarnai yang ternyata sama dengan yang pernah ia punya. Alhasil ia merasa tidak ada sesuatu yang ‘baru’. Ditambah lagi seperti biasa, crayonnya yang lama hilang dan entah kemana. Segala argumen kuhiburkan, kuminta ia memakai sisa crayonnya yang lama. Dan tidak berhasil. Mulailah ia mengamuk,berteriak, berguling dilantai (khas anak-anak yang marah), mengatakan “Umi jahat” dan seterusnya.
Dan menurut teori yang kubaca, semakin tinggi volume suara kita saat anak marah ternyata semakin membuatnya bertahan dengan kemarahannya. Maka, akupun DIAM, Tanpa ekspresi.

“Nak....sini nak, umi tau kamu kecewa. .” akhirnya itu kalimat pertama yang kuucapkan setalah menghela nafas. Sulungku masih merajuk. Kurengkuh tubuhnya meski dia masih enggan
“Aku dapat hadiah buku yang sama, Mi. Aku sudah pernah punya. Lagipula Aku juga gak punya pensil warna…” anakku panjang lebar meluapkan kekesalannya. Masih dengan seragam sekolahnya. Aku mendengarkan dengan menatap matanya. Berusaha setulus mungkin!
“ Ya sudah… sekarang Maura ganti baju dulu, pipis,minum air putih, dan nanti kita coba cari lagi crayonmu ya? Kalau memang sudah saatnya beli pensil warna baru, Insya Allah Umi belikan. Tapi kita cari dulu crayonmu yang lama.”… beringsut sulungku mengangkat tangannya keatas, bersiap melepas seragamnya dan sterusnya. Pertanda bagus.

Aku benar-benar membantunya mencari crayonnya. Memang tidak mungkin ditemukan semua karena memang crayon itu sudah ‘habis’ ia pakai atau sebagiannya lagi tercecer kesana kemari. Aku pun sadar aku akan membelikan pensi warna baru di toko sebelah rumah sebab memang sebenarnya ia telah lama tidak lagi memilikinya. Tapi belum sekarang waktunya.

Kubantu putri sulungku mencari crayon yang masih tersisa. Sembari mencari, kunetralkan perasaannya.
“Sudah Nak? Sudah nggak marah kan? Bersyukur ya Nak, hadiah Bunda Dina kan sudah bagus. Malahan Maura bisa mewarnai lebih baik karena sudah pernah.” Putriku mengangguk pelan. Bagus. Marahnya reda
“ Aku sudah mau terima hadiah itu, Mi. Tapi aku ndak punya pensil warna lagi. Cuma ini, kan ndak banyak warnanya” Baiklah. Aku sudah berdamai dengannya.
Kemarahan yang luar biasa bisa kuredam dengan sedikit berempati dengan perasaannya. Perasaan kecewa, capek, frustasi. Aku tidak menjamin bisa setiap hari begitu. Kadang lelahku beradu dengan lelahnya, batas kesabaranku, beradu dengan ketidakpuasannya. Dan sebenarnya itulah yang kadang memicu kita ‘berperang’ dengan anak-anak kita.

Siang ini setidaknya aku ingin mengajarkan ia berdamai dengan perasaannya dahulu. Memang kadang kita terburu menghentikan rasa marahnya dengan salah : segera memberi apa yang ia minta. Ya, memang ia berhenti, namun dia sedang belajar ‘menjajah’ orang lain untuk menuruti segala permintaan dengan MARAH.

Siang itu setelah ia ‘berdamai dengan kemarahannya’, setelah ia mau mewarnai buku barunya dengan crayon seadanya, barulah kuberikan reward (penghargaan) padanya sekotak pensil warna yang memang tidak mahal...he..he... dan kurendahkan tubuhku lalu kubisikkan padanya : “ Ini untuk anak Umi yang bersyukur dengan pemberian, mau bersabar, dan mau mencari crayonnya...he..he..” Siang itu, aku berdamai dengan Si sulung. Meskipun akan selalu ada lagi ‘peperangan’ dan potensi konflik yang harus kita hadapi sebagai seorang ibu, tho?? Kita hanya harus bersiap untuk berdamai dengan benar dan mendidik.
Ishbir ya, Ummi!

Menyebut Lengkap nama Pasangan

"I love you Robi'ah Al-Adawiyah"...sms itu membuat saya jengah. Diantara hiruk pikuk anak-anak disuatu sore. Sms itu datang sesaat saya 'curhat' pada suami tentang 'kebandelan' anak-anak selama Abi mereka mudik menjenguk mertuaku 2 hari 3 malam ini.Biasa, anak-anak selalu 'menguji kesabaran' terutama jika Abi mereka lebih dari sehari tidak terlihat. Caper gitu..Dan alhamdulillah..sore itu saya lolos (baca : mampu menaklukkan mereka) .he..he..

Kembali ke sms tadi. Mungkin Sederhana.Tapi entah kenapa sms itu menginspirasi saya tentang sesuatu.Menyirapkan perasaan bangga dan PD. Dasar saya, sms yang menurut saya romantis itu tidak saya biarkan begitu saja menjadi 'hanya' konsumsi pribadi karena ternyata ada sebuah 'analisis rasa' yang saya hasilkan.Karena menurut saya ada ibroh dari pernyataan singkat itu. Waduh...

Ya, begitulah. Entah apakah apa yang saya tuliskan ini Anda setujui atau tidak, Anda rasakan atau tidak, tapi satu hal yang sering saya pikirkan bahwa kita terlampau sering 'mengabaikan' panggilan-panggilan sayang, sapaan nama kita. Kita -terutama yang telah berputra- terlanjur menikmati diri kita dipanggil oleh pasangan dengan 'Bunda', 'Ayah', 'Umi', "Abi', 'Bune (heh..he..), mamah, 'Abah' . Atau Abu Maura, Ummu Hania, dan sederet panggilan yang tujuan awalnya 'membahasakan' panggilan itu untuk anak-anak kita. Bahkan, jangan-jangan pasangan kita lupa dengan nama lengkap kita? Nah looo(just kidding) Atau ..kita penganut "apalah arti sebuah nama? Yang jelas semua juga tau dia istriku/suamiku" lha???

Tapi ternyata, sesekali menyebutkan nama pasangan kita dengan nama lengkapnya, memberikan sebuah kesan tersendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan dan mungkin Anda bisa juga mencobanya. Dengan menyebutkan nama pasangan Anda seperti dalam contoh sms diatas atau dalam panggilan khas yang kita peruntukkan padanya, akan membuat pasangan kita -terutama mungkin para istri- merasa dicintai sebagai DIRINYA SENDIRI. bukan sebagai ibu atau ayah anak-anak Anda. Kadang itu perlu. Hal itu meneguhkan perasaan kita dan perasaannya. Seperti halnya mencoba meluangkan waktu 'berdua', mengungkapkan perasaan Anda bahwa Anda mencintainya sebagai seorang perempuan atau laki-laki menurut saya dapat membesarkan hatinya. Sebab kadang seorang individu tetap ingin dihargai sebagai DIRI SENDIRI.

Hiruk pikuk rumahtangga, kewajiban mengasuh anak-anak,kesibukan ditempat kerja, kadang melupakan kita akan hal-hal kecil bermakna besar. Mungkin termasuk mengekspresikan bahwa Anda mencintai seorang laki-laki atau perempuan bernama :................. yang menyebut / disebut namanya disaat akad nikah beberapa waktu yang lalu membuat Anda tergetar! Yang selama ini mendampingi Anda.
Ini hanya catatan kecil, tapi mungkin kita bisa memulai untuk tidak 'jaim' dan merasa 'untuk apa melakukannya?' hanya karena kita telah lama menikah.Ya, bukankah salah satu tanda cinta terhadap sesuatu adalah menyebutkan nama 'kekasih' kita dengan mantap dan tulus? Wallahu a'lam bishawwab...

Menyebut Lengkap nama Pasangan

"I love you Robi'ah Al-Adawiyah"...sms itu membuat saya jengah. Diantara hiruk pikuk anak-anak disuatu sore. Sms itu datang sesaat saya 'curhat' pada suami tentang 'kebandelan' anak-anak selama Abi mereka mudik menjenguk mertuaku 2 hari 3 malam ini.Biasa, anak-anak selalu 'menguji kesabaran' terutama jika Abi mereka lebih dari sehari tidak terlihat. Caper gitu..Dan alhamdulillah..sore itu saya lolos (baca : mampu menaklukkan mereka) .he..he..

Kembali ke sms tadi. Mungkin Sederhana.Tapi entah kenapa sms itu menginspirasi saya tentang sesuatu.Menyirapkan perasaan bangga dan PD. Dasar saya, sms yang menurut saya romantis itu tidak saya biarkan begitu saja menjadi 'hanya' konsumsi pribadi karena ternyata ada sebuah 'analisis rasa' yang saya hasilkan.Karena menurut saya ada ibroh dari pernyataan singkat itu. Waduh...

Ya, begitulah. Entah apakah apa yang saya tuliskan ini Anda setujui atau tidak, Anda rasakan atau tidak, tapi satu hal yang sering saya pikirkan bahwa kita terlampau sering 'mengabaikan' panggilan-panggilan sayang, sapaan nama kita. Kita -terutama yang telah berputra- terlanjur menikmati diri kita dipanggil oleh pasangan dengan 'Bunda', 'Ayah', 'Umi', "Abi', 'Bune (heh..he..), mamah, 'Abah' . Atau Abu Maura, Ummu Hania, dan sederet panggilan yang tujuan awalnya 'membahasakan' panggilan itu untuk anak-anak kita. Bahkan, jangan-jangan pasangan kita lupa dengan nama lengkap kita? Nah looo(just kidding) Atau ..kita penganut "apalah arti sebuah nama? Yang jelas semua juga tau dia istriku/suamiku" lha???

Tapi ternyata, sesekali menyebutkan nama pasangan kita dengan nama lengkapnya, memberikan sebuah kesan tersendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan dan mungkin Anda bisa juga mencobanya. Dengan menyebutkan nama pasangan Anda seperti dalam contoh sms diatas atau dalam panggilan khas yang kita peruntukkan padanya, akan membuat pasangan kita -terutama mungkin para istri- merasa dicintai sebagai DIRINYA SENDIRI. bukan sebagai ibu atau ayah anak-anak Anda. Kadang itu perlu. Hal itu meneguhkan perasaan kita dan perasaannya. Seperti halnya mencoba meluangkan waktu 'berdua', mengungkapkan perasaan Anda bahwa Anda mencintainya sebagai seorang perempuan atau laki-laki menurut saya dapat membesarkan hatinya. Sebab kadang seorang individu tetap ingin dihargai sebagai DIRI SENDIRI.

Hiruk pikuk rumahtangga, kewajiban mengasuh anak-anak,kesibukan ditempat kerja, kadang melupakan kita akan hal-hal kecil bermakna besar. Mungkin termasuk mengekspresikan bahwa Anda mencintai seorang laki-laki atau perempuan bernama :................. yang menyebut / disebut namanya disaat akad nikah beberapa waktu yang lalu membuat Anda tergetar! Yang selama ini mendampingi Anda.
Ini hanya catatan kecil, tapi mungkin kita bisa memulai untuk tidak 'jaim' dan merasa 'untuk apa melakukannya?' hanya karena kita telah lama menikah.Ya, bukankah salah satu tanda cinta terhadap sesuatu adalah menyebutkan nama 'kekasih' kita dengan mantap dan tulus? Wallahu a'lam bishawwab...

Anak Kita: Steril ato imun?

Keputusan kami mengontrak rumah dikawasan pinggir kota Solo membuat orang tuaku dan sebagian kerabat ‘mengeryit’. Daerah itu sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah orang tuaku dan kerabatku. Hanya berbeda kelurahan saja. Menurut sejarah kota ini adalah tempat yang dikenal dengan black area-nya Solo. Meskipun banyak hal telah berubah, namun pengaruh image terhadap sesuatu ternyata begitu hebat.

Tapi entah kenapa aku menyukainya. Hehe meskipun untuk kemana mana aku –sst... yang sampai tulisan ini dibuat tidak bisa naek motor- harus mencapai mulut gang dan bertemu dengan pasar diatas tanggul tempat banyak becak mangkal.

Aku tak ingin bercerita tentang istanaku itu.Aku akan menceritakannya dibagian lain buku ini. Hal yang paling dikhawatirkan oleh orangtuaku sebagai seorang nenek dan kakek tentu saja pengaruh lingkuangan kami terhadap perilaku para cucu mereka. Dua putri balitaku dikhawatirkan terpengaruh dengan anak-anak kampung .

Hmm… kubiarkan anak-anakku bebas bermain bersama anak tetangga. Biar saja. Memang kadang aku terkaget-kaget dengan nada bicara dan kosakata yang hmm…asing dan kadang ada juga kata-kata kasar yang tersangkut dalam memori mereka. Kebetulan anak-anak tetanggaku tidak ada yang benar-benar sebaya dengan sulungku, Maura. Mereka lebih tua usianya.

Bahkan untuk mengkampanyekan memakai sandal saat bermain pun aku harus sedikit bekerja keras dengan terus menerus menegur anak-anak tetanggaku, menggiring mereka mencuci kaki-kaki kecil mereka di kamar mandi rumahku. Dengan perlahan tapi pasti mereka tau : sandal itu berguna untuk kaki mereka. Agar mereka tak terkena kuman dan tentu saja tidak membawa najis dan kotoran jalanan kerumah.

Aku benar-benar merasakan betapa yang benar-benar penting adalah memberikan mereka imunitas untuk bergaul ditengah masyarakat. Bukan mensterilkan mereka dari proses mengenal banyak anak, sifat dan perilaku. Kuakui, kadang cemas menyelinap saat anakku kadang tidak mematuhi aturan kami.
Imunitas pada anak-anak dapat berupa penanaman nilai, proses dan bukan hasil. Sulit memang, sangat sulit. Bahkan akupun masih belum bisa sepenuhnya bersabar menghadapi anak-anak yang bertumbuh.

Imunitas berupa kejujuran akan menjadikan anak-anak kita sportif. Berani mengakui ksalahan kecil maupun besar nantinya. Kehangatan menerima mereka juga akan menjadikan mereka tetap kembali pada kita.

Mungkin, kesalahan kecil yang sering kita –para orangtua- lakukan adalah mencari kambing hitam dengan menyalahkan teman-teman bermain anak-anak kita. Dalam bukunya Bersikap Terhadap Anak (2000), Fauzil dengan sangat adil mengatakan bahwa mencari kambing hitam dengan menyalahkan teman anak-anak kita pada saat mereka ‘nakal’ atau melanggar aturan bukanlah sesuatu yang efektif.

Sebab akar masalah dan kenakalan tak akan selesai. Sebaliknya, anak-anak kita terbiasa ‘menyelahkan’ dan mensterilkan dirinya dari kesalahan atau kenakalan yang sebenarnya iapun turut serta melakukannya bersama teman-temannya.

Akibatnya? Anak-anak yang disterilkan orangtuanya dari proses bergaul (dengan segala kekurangan dan kelebihannya) justru akan menjadi anak yang manja, pengadu, dijauhi teman-temannya karena akhirnya kurang bisa berdaptasi dan egois.

Biar saja proses bergaul dan bermain menjadi hak anak-anak kita. Biar saja mereka memahami bahwa disekitar mereka ada anak-anak yang berbeda-beda, ada orangtua yang berbeda-beda, ada permusuhan, ada perdamaian, ada persahabatan, ada memaafkan setelah pertengkaran, ada berbagi. Yang terpenting, saat mereka pulang kembali dalam rengkuhan kita, suntikkan lagi vaksinasi moral, kehangatan, kesiapan mendengarkan cerita-cerita mereka. Insya Allah…kemanapun mereka bermain, semoga kita para ibunya tetap menjadi tempat kembali yang memberinya bekal lagi bahwa hidup tidak pernah datar dan merekapun siap bertemu, bergaul dengan siapapun tanpa menggadaikan prinsip. Semoga.

Buku Tamu & Profil

 Enam tahun yang lalu seorang pemuda  bernama Hatta Syamsuddin memberanikan diri untuk melamarnya. Waktu itu keduanya masih berstatus mahasiswa. Saat ini,  putri solo kelahiran 15 Mei 1981 ini tengah sibuk membesarkan tiga putra-putrinya yang kecil-kecil ; Kuni Maura Ahna ( 4,5 tahun) dan Salma Haniyya ( 3 tahun) dan Farwah Awwab Hafidz (6 bulan).


Sejak SMA telah aktif berorganisasi, bahkan pernah menjadi Ketua PII wati wilayah Surakarta. Mantan aktifis mahasiswa Fakultas Hukum UNS angkatan 1999 ini bukan nama baru di dunia kepenulisan. Buku pertamanya KENAPA HARUS PACARAN (Mizan, 2004) sukses menggebrak pasar remaja dan menjadi best seller di jamannya. Hingga saat ini, setidaknya enam buku telah dihasilkannya. masing-masing :

1. Kenapa Harus Pacaran - Mizan 2004

2. Diary Pengantin - Syamil 2005 ( kolaborasi dengan Izzatul Jannah - Ketua FLP )

3. How To Get Married - Mizan 2005 ( buku kompilasi)

4. Nggak Sekedar Ngampus ( MVM media 2006)

5. Agar Ngampus Tak Sekedar Status ( Indiva Media Kreasi - 2007)

6. Pacaran Enggak Banget ( Indiva 2009)

 Disela-sela kesibukannya mengisi kajian remaja, menulis dan merawat ketiga putra-putrinya, ia  bersama rekan-rekannya merintis rumah baca dan bengkel kreatifitas anak dan remaja BENIH CENDIKIA.  Sebuah perpustakaan kecil dan manis menempati ruang tersendiri di rumahnya. Setiap hari tak kurang sekitar 15-an anak membaca, belajar dan bermain di dalamnya.  Ini memang cita-citanya sejak dahulu. Saat ini, BENIH CENDIKIA telah berkembang lebih jauh menjadi KPPA (Komunitas Peduli Perempuan & Anak) BENIH, yang mempunyai konsentrasi penuh dalan pemberdayaan perempuan, parenting dan dunia anak remaja.


Untuk peningkatan isi blog ini, mohon kiranya para sahabat bisa berbagi pesan, saran dan kritik di bawah postingan ini. Terima kasih ..

Semua ada Masanya

Suatu hari, tepat diusia ke 28 hari kelahiran anak keduaku aku mulai keluar rumah. Hm..sepertinya tak betah juga terlalau lama berdiam diri. Kami mengunjungi sebuah pameran buku dimana suamiku dan seorang penulis senior yang kuanggap sebagai guru, sahabat, kakak, ada disana sebagai pengisi salah satu acaranya siang itu. Sulungku yang belum genap dua tahun, putri keduaku yang baru 20 hari, mengingatkan peran baruku sebagai ibu dua putri.

Sementara menunggu acara dimulai… aku melihat sahabat seniorku yang akrab kusapa mbak IJ itu bak seorang komandan. Putri-putri cantiknya terus mengintilnya dengan celoteh khas anak-anak. Ya..ya… aku seriing melihatnya membawa serta ketiga putrinya di bebrapa acara. Dan siang itu aku berkomentar tentang anak-anaknya yang mulai tumbuh menjadi gadis-gadis kecil yang menyenangkan.

"Kalau lihat kaya' gini,rasanya udah lupa ya mbak .. capek-capek yang dulu?"kataku
"O…iya.Aku menahan 9tahun untuk bisa beraktivitas lagi.Ada masanya Vid…Aku dirumah sampai anak-anakku bisa kutinggal beraktivitas lagi " begitu kira-kira kata mbak IJ waktu itu.

Hhh…yya.ya.. aku jadi teringat saat aku masih lajang.Dahulu aku selalu berapi-api untuk 'mengoreksi' setiap forum dimana saat itu yang kulihatt hanya 'para ustadz' yang hadir menjadi pembicara. Dimana para ummahat? Ustadzah-ustadzah atau para aktivis yang dahulu meratui kampus….?

Ya..ya…ya.. Kini aku merasakan juga.Tentulah seorang istri tidak dapat disamakan dengan seorang lajang, dan seorang ibu disamakan dengan seorang lajang atau yang belum memiliki putra. Disetiap fase hidup kita ada sebuah kewajiban. Ah..tapi itu bukan lantas menjadi apologi.Setiap orang harus berdaya, apalagi jika jalan dakwah itu menjadi pikihan hidupnya. Inilah sebenarnya kunci dari segala gundah yang sering memantik gelisahku,tentang betapa aku merasa 'tidak melakukan apa-apa' setelah memiliki anak.

Seorang ummahat pernah tanpa sengaja 'mencerahkanku' saat kami berdua mengisi sebuah acara, saat itu seorang akhwat bertanya "Kenapa ya bu setelah menikah banyak ummahat yang tidak lagi muncul" Aaah…mirip dengan pertanyaanku beberapa tahun yang lalu. Dan jawaban ummahat itu…."Semua ada masanya…Hanya satu yang tidak boleh berubah:visi dakwah kita.Ya, dakwah itu seperti energi. Dia tidak pernah hilang, dia kekal hanya bentuknya saja yang berubah…"

Hmm… analogi yang sangat tepat. Seseorang yang mengazamkan dirinya bervisi hidup untuk dakwah maka ia akan tetap dapat memanfaatkan peluang dakwah dalam setiap fase hidupnya, tentu dengan proporsi yang berbeda.

Meskipun sebenarnya ada juga para ummahat dan mantan-mantan aktivis muslimah yang benar-benar 'turun mesin' pasca menikah dan berputra. Mereka cenderung merasa 'cukup' hanya mendatangi halaqah pekanan, atau mungkin juga karena para suami mereka tidak begitu memberi ruang pasca menikah. Padahal..dahulu para suami mereka memilih mereka karena mereka seorang aktivis muslimah. Hayoo ngaku dooong!

Akupun akhirnya merasakan perbedaan itu. Sikapku mengasuh si sulung yang kala itu aku masih 'terlalu idealis' untuk membuktikan bahwa meskipun telah menikah aku harus tetap eksis ternyata memiliki dampak berbeda dengan polaku mengasuh anak keduaku dimana aku sudah bisa merasa seleh untuk menanti saat yang tepat untuk beraktivitas lagi. Bahkan entah ada hubungannya atau tidak, kondisi itu turut mempengaruhi karakter kedua putri ku itu.

Begitulah. Mungkin memang ada masanya kita beraktualisasi diri sebagai seorang muslimah, perempuan atau istri dan ibu. Kesabaran meniti semua fase akan menjadikan kita dapat menikmatinya dan optimal. Yang penting, kita tulus dan tidak pernah merasa cukup untuk belajar apalagi jika kita adalah para perempuan muslim yang 'dibesarkan' dalam atmosfer kecintaan terhadap dakwah. Mungkin perlu juga berkomunikasi dengan pasangan tentang pembaruan-pembaruan cita dan citra diri kita.Agar kita tidak termasuk ummahat 'turun mesin' yang bukan tidak dapat memberdayakan diri namun memang tidak mau menyemangati diri untuk itu. Wallahu a'lam
Faidza faraghta fanshob wa ila Rabbika farghob…..

Jumat, 17 April 2009

Rethinking Kartini : Dari Simbol menuju spirit

Ibu kita Kartini pendekar bangsa
Pendekar Kaumnya, Untuk merdeka..
Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia…….
Sungguh besar cita-citanya untuk Indonesia….

Kartini adalah icon pembebasan perempuan di negeri ini dengan segala kebiasaan orang-orang di negri ini pula dalam memperingati sebuah moment. Tak jarang peringatan kelahiran seorang tokoh, peristiwa sejarah, justru mengaburkan spirit sang tokoh atau hari-hari besar yang diperingati di negri ini. Jamak kita tahu, hari Kartini adalah hari dimana anak-anak sekolah berbondong-bondong pergi ke salon, menggelung rambutnya, memakai kebaya, merias wajahnya, setelah itu berupacara. Atau hari Kartini adalah hari dimana para desainer mengeluarkan rancangan kebaya terbaru, lalu menggelar acara fashion show di hotel-hotel mewah, di mall-mall, dan dimanapun sebuah simbol dapat terus-menerus di uri-uri. Sungguh kasihan bangsa ini jika sering terjebak pada hal-hal glamour tanpa esensi.
Disisi lain, Kartini terlegalkan menjadi sebuah icon ‘emansipasi’ yang pada kenyataannya bergulir menjadi sebuah kesamaan hak yang jauh berbeda dari cita-cita Kartini. Kaum perempuan terjebak dalam iming-iming kapitalisasi tubuh, kecantikan, gaya hidup. Akhlak dan moralitas perempuan justru semakin jauh meninggalkan semangat perbaikan yang diusung Kartini. Peringatan-peringatan simbolis inilah yang sebenarnya menjadikan masyarakat kita justru kehilangan makna sejarah dari tokoh dan moment yang diperingatinya.
Spirit Cita Kartini
Kartini tentu tak ingin hanya menjadi sebuah simbol yang terperingati namun tak termaknai.Peringatan-peringatan hari kartini mestinya menggugah spirit Kartini dalam beberapa bidang yaitu pencerahan spiritual, spirit kepekaan sosial, dan spirit perbaikan mental dan moral

1. Spirit pencerahan spiritual
Kartini adalah gadis Jawa yang mengalami irisan ideologi antara ‘kejawaannya’ dan ideologi transendentalnya: Islam. Kartini dengan anugrah kekritisan mendongkrak kejumudan beragama yang kala itu terwarnai dengan semangat puritanisme jawa dan kelihaian penjajah menciptakan dan memanfaatkan ‘ketakutan-ketakutan’ beberapa kyai untuk mengungkap fakta beragama dan kitab suci agar terlihat sacral dan tabu untuk dipelajari lebih dalam.
Sampai pada akhirnya -dalam banyak versi yang berbeda-Kartini muda menemukan satu pencerahan dari seorang Kyai Demak (ada yang menyebutnya Kyai saleh Darat, ada pula yang menyebutkan Kyai Abudus shomad) yang kala itu menerangkan tentang tafsir salah satu ayat al-Qur’an yang mengandung kata minadh dhulumati ila nuur (dari kegelapan menuju cahaya)-yang oleh Armin Pane kemudian diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang inilah yang kemudian menginspirasi Kartini untuk menggali lagi pemahaman keislamannya, menyingkirkan keraguan dan keapatisannya, menemukan spirit pembebasan dalam kata itu,dia memantapkan visi “dari gelap menuju caghaya” itu dalam dirinya dan menjadikannya sebagai √©lan vital untuk terus bergerak.
Perempuan Indonesia saat ini semestinya mempunyai semangat yang sama, kembali pada semangat spiritualitas yang mantap, menggali dan belajar memaknai lebih dalam sumber transenden yang mereka yakini, belajar dan terus menggali bahwa agama bukan dogma, tetapi sumber inspirasi hidup yang menjadikan manusia (laki-laki dan perempuan) menjadi lebih cerdas, berenergi dan visioner!

2.Spirit kepekaan social
Kartini semestinya memberikan inspirasi bagi kaum perempuan di negri ini untuk memiliki kepekaan sosial terhadap persoalan-persolan masyarakat disekitarnya. Kartini tergerak untuk memperbaikai masyarakatnya setelah ia mengalami pencerahan spiritual yang luar biasa tadi. Pencerahan ideolgi yang menuntunnya pada realita masyarakat yang miskin, bodoh dan terjajah.
Bukankah sejarah senantiasa berulang? Bukankah kemiskinan, kebodohan dan keterjajahan dalah masalah yang sennatiasa ada dan hanya berubah bentuk dalam masyarakat? Saatnya kaum perempuan berjalan disekitar masyarakatnya, mengamati dan berbuat lebih banyak untuk lingkungannya, memberikan nuansa kesejukan yang berenergi!
Kartini memanfaatkan segala potensi ‘keningratannya’ untuk melakukan perubahan social yang nyata. Inilah mungkin yang menjadikan Kartini lebih menojol dibandingkan para pejuang perempuan lain di negri ini yang boleh jadi sudah menunjukkan aksi nyata pula dalam melawan penjajahan. Bahkan banyak diantara pejuang perempuan yang terjun langsung dalam peperangan, Cut Nya’ Dien misalnya. Namun, mungkin Kartini lebih beruntung sebab segala pemikirannya terdokumentasi, pemikirannya untuk menyuntiikkan semangat ‘melawan penjajahan’ dari sisi pendidikan dan perubahan social mungkin lebih memiliki efek jangka panjang.

2. Spirit Perempuan pembelajar
Spirit ini yang kian pupus dalam diri kaum perempuan.kartini sejatinya tak pernah menuntut sebuah ‘persamaan’ yang berlebihan dalam interaksi lelaki dan perempuaqn. Kartini hanya ingin perempuan memiliki akses belajar dan pendidikan. Sebab dari perbaikan pendidikan dan munculnya semnagt belajar itulah para perempuan memeiliki modal sebagai istri dan ibu yang akan mendidik anak-anak dan keluarganya menuju martabat yang lebih baik.
Kartini memberikan spirit pembelajar yang luar biasa. Semangat untuk mencari informasi, mengakses jaringan, bertanya, mencermati dan menanyakan kepada para sahabat dan guru spiritualnya tentang apa-apa yang tidak diketahuinya dalam beragama, misalnya. Peringatan-peringatn hari Kartini semestinya sarat dengan kegiatan-kegiatan yang bermutu dan mendorong semangat belajar kaum perempuan sebagai apapun mereka. Akses sosial, politik, pendidikan, kesehatan bagi perempuan semestinya dibuka lebar dan dioptimalkan kemanfaatannya.Sebab meskipun semua akses telah terbuka lebar jika para perempuan ogah-ogahan membelajarkan dirinya maka perempuan akan terus menerus merasa ‘tak diberi ruang’. Jika sudah begitu, apakah salah jika lagi-lagi perempuan selalu terstigma tidak dapat professional, kurang wawasan dan menjadi penggembira dalam ranah-ranah public?!

3. Spirit Perbaikan Mental Moral
Perjuangan Indonesia kini semakin kompleks. Problematika moral yang menempatkan perempuan baik sebagai korban atau pelaku kemerosotan moral tak dapat dielakkan.
Kartini pasti tidak mengharapkan perempuan liar dalam kebebasannya, meninggalkan nilai-nilai moral dan tatanan ketimuran. Banyak ranah yang harus diperbaiki dan menempatkan perempuan sebagai lakon yang semestinya dapat mengusung perbaikan moral itu.
Perbaikan diri, keluarga, masyarakat dan negara adalah tahapan paling niscaya dalam sebuah perbaikan tatanan masyarakat. Perempuan-perempuan yang memiliki moralitas tinggi, dedikasi penuh terhadap perbaikan, kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat akan menggerakkan kaum perempuan untuk membenahai diri dan masyarakatnya melalui karya nyata mereka disegala bidang.
Emansipasi tanpa spirit moral hanya akan menjadikan kaum perempuan kehilangan feminin modesty, anugrah alam untuk kaum perempuan atau dalam bahasa sederhananya fitrah. Fitrah memelihara, kelembutan, kepekaan, rasa malu, pengabdian yang tulus, ketinggian budi bukan sebuah ‘kelemahan’ yang tiba-tiba harus diubah menjadi perkasa sebagai wujud ketangguhan. Justru semua itu adalah anugrah alamiah yang dimiliki perempuan sebagai modal berpartisapasi dalam ‘mengelola’ kehidupan. Bukan begitu, kaumku? Selamat hari Kartini!

Wallahu a’lam…

Sabtu, 21 Maret 2009

Mengukur Kapabilitas Aleg Perempuan : Sebuah Kaca Diri

Pemilu tinggal menghitung hari. Gegap gepita atribut partai mulai seruak menyeruak satu sama lain. Semua caleg menawrkan diri dengan berbagai manuver pemikat simpati yang tak pelak membutuhkan banyak modal.
Adalah para caleg perempuan yang dalam perjalanan pemilu tahun ini banyak mengalami pembahasan. Kita mungkin ingat bagaimana diawal peraturan pemilu caleg perempuan diberi peluang untuk ada di tiap tiga nomor urut. Sampai dengan putusan MK yang akhirnya menetapkan suara terbanyak bagi caleg untuk memenangi pemilu. Lalu, putusan itupun menjadi sebuah kekhawatiran dikalangan aktivis perempuan yang menganggap akan sangat sulit bagi caleg perempuan untuk dapat menembus angka 'menang' karena beberapa keterbatasan perempuan untuk mengkampanyekan diri. Selain itu, wacana afirmatif yang telah rapi diusung dan sejatinya hampir berhasil dengan penetapan 30 persen seolah termentahkan.
Terlepas dari bagaimana strategi memenangkan diri para caleg, sesungguhnya ada yang lebih perlu diperhatikan terkait dengan kualitas para caleg dan aleg nantinya dalam menjalankan tugas-tugas baru mereka. Utamanya caleg perempuan yang kini banyak diusung oleh parpol, semestinya memiliki kapabilitas internal dan eksternal dalam dirinya. Sebab, setelah duduk dikursi empuk legeslator, kita tak lagi bisa bicara atas nama partai. Para caleg harus terus menempa dirinya dengan berbagai kemahiran sebagai anggota dewan yang terhormat


Kapabilitas Internal
Para caleg dan Aleg perempuan memiliki tugas berat. Saat duduk menjadi anggota dewan, tidak menutup kemungkinan ada kemandegan, stagnasi dan dominasi jender dalam mengambil kebijakan dan memperjuangkan aspirasi. Seorang anggota legeslatif pada umumnya dan aleg perempuan khususnya hendaknya memiliki kapabilitas internal diantaranya
Wawasan Politik Dasar
Maksudnya bahwa para caleg dan aleg (jika nantinya terpilih) wajib memiliki wawasan politik yang prima utamanya menyangkut tugas-tugas legeslator yang mereka emban. Bagaimana mengembangkan gagasan politik, menguasai isue-isue politik lokal, nasional bahkan internasional. Bagaimana ia mengembangkan pengetahuannya terkait tugas-tugasnya dibawah komisi dimana ia bernaung. Sangat disayangkan jika seorang aleg kurang atau bahkan tidak mengusai bidang garapnya. Hal ini akan menjadikannya hanya duduk dan tidak memiliki apa-apa yang dapat disuarakan. Ya, sebab kita tidak mungkin memberi jika tak memiliki.
Daya dukung Internal
Para anggota dewan perempuan utamanya yang telah berkeluarga tidak bisa menafikan peran-peran domestiknya. Tim sukses dalam rumahtangga merupakan daya dukung dasar dimana ia dapat menjalankan tugas-tugas ranah publiknya dengan optimal. Suami, anak, pembantu dan keluarga besar yang siap memberikan dukungan langsung maupun tidak langsung tentu akan mengurangi 'beban ganda' caleg perempuan. Hal tersebut mestinya telah disiapkan sejak ia memilih untuk berperan diranah publik. Jika tidak dipungkiri, pasti ada bersitan 'rasa bersalah' manakala seorang perempuan sukses di ranah publik namun meninggalkan rumahtagganya dalam keadaan kacau.Bukan begitu?
Kemampuan Berempati dan Kapabilitas Moral yang baik
Seorang caleg perempuan sejatinya memiliki modal besar untuk dapat merasakan beban-beban konstituennya. Saya yakin kemampuan berempati dapat menjadi salah satu spirit dalam melakukan kerja-kerja pelayanan pada masyarakat. Jika kemampuan berempati ini miskin dimiliki para anggota legeslatif maka kekahawatiran sebagian besar masyarakat akan terjadi : setelah jadi para anggota dewan lupa pada rakyat yang memilihnya. Kemampuan berempati pula yang akan menjadikan para aleg dapat konsisten memperjuangkan aspirasi masyarakat di gedung dewan yang ber ac dan penuh fasilitas.
Persoalan-persoalan perempuan yang begitu banyak dan kompleks menjadi PR bagi para anggota dewan perempuan (dari partai manapun ia berasal). Hal tersebut akan mandeg jika ternyata para aleg perempuan tidak peka dan akhirnya memilih diam dan 'pasrah' dalam percaturan wacana di gedung alegeslatif yang terhormat. Demikian halnya Kapabilitas moral juga akan menjadi parameter seorang anggota legeslatif untuk terus konsisten pada nilai dan prinsip yang ia pegang teguh. Keduanya menjadi daya dukung yang harmonis dalam memperjuangkan aspirasi perempuan
Kapabilitas Eksternal
Selain kapabilitas internal, seorang aleg perempuan semestinya memiliki kapabilitas eksternal sebagai berikut
Ketrampilan komunikasi massa yang baik
Anggota dewan adalah 'komunikator' dan mediator bagi konstituennya. Ia harus dapat mengkomunikasikan kebutuhan, aspirasi, gagasan politik baik kepada lawan politik, kepada masyarakat dan kepada semua pihak dengan cara yang cerdas, elegan sekaligus bermutu.
Kemampuan berkomunikasi baik secara lesan dan tulisan menurut saya menjadi keahlian yang harus terus diasah. Seorang anggota dewan harus mampu memanfaatkan media menjadi partner dalam menyampaikan gagasan, menangkap persoalan masyarakat.

Kemampuan Merawat Basis Dukungan
Inilah hal penting yang kadang terlupakan. Apatisme masyarakat menjadi sesuatu yang lumrah manakala pada kenyataan terdahulu setelah pemilu banyak para caleg yang terpilih dan menjadi anggota dewan melupakan basis massa dukungannya. Alasan sibuk dan sebagainya tentu tidak dapat menjadi pemaaf. Rakyat dan pemilih adalah basis massa yang nyata. Bukan dengan memenuhi fasilitas mereka saja dan membayar 'hutang' janji pada massa kampanye, namun yang lebih penting para caleg maupun aleg harus tetap membina dan memberikan pendidikan politik berkelanjutan pada basis masa pendukungnya. Bukan hanya menjadikan mereka menjadi pemilih pragmatis dan 'memoroti' para celeg,namun menjadikan basis massa mereka menjadi pemilih rasional, pendukung langkah yang setia dan akhirnya menjadi bagian dari masyarakat yang mandiri dan memiliki kesadaran berpolitik.
Melayani tiada henti
Sejatinya para anggota dewan adalah pelayan yang terus menerus bahkan semestinya memberi pelayanan yang semakin baik setelah ia duduk di kursi legeslatif.Pemilu hanyalah cara menjaring suara. Setelah pemilu para caleg akan mengalami tantangan riil dimasyarakat. Bagi yang kurang beruntung duduk sebagai anggota dewan, ketulusan melayani akan teruji. Apakah ia tetap menjadi seseorang yang proaktifdalam perbaikan masyarakat dan terus berusaha melayani masyarakat dengan potensinya atau berhenti karena 'mutung' ?
Bagi yang beruntung duduk dikursi dewan, ini adalah pembuktian melayani dengan menghasilkan aturan-aturan, pengawasan anggaran yang berpihak pada masyarakat.

Nah, jika kapabilitas internal dan eksternal telah dimiliki oleh para caleg, maka tak mungkin masyarakat tertipu dan apatis dengan pemilu yang tinggal beberapa hari ini. Jika Anda para caleg membaca artikel ini, mungkin bisa menjadi penstabil semangat Anda dalam meraih suara dan mengukur kelayakan Anda untuk menjadi wakil rakyat yang membawa perubahan dan keberkahan.Wallahu a'lam

Rabu, 18 Februari 2009

Berbagi Suami

Wacana Poligami kembali menyeruak, mungkin tidak begitu menghebohkan jika suami saya atau suami anda yang melakukannya. Begitu pula tidak menghebohkan juga jika tetangga kita ketahuan berselingkuh atau beradegan mesum dan beredar videonya sebagai blue film yang dijual dipinggiran jalan.

Yang menjadi masalah, seorang ustadz –yang sebenarnya biasa saja- melakukan poligami dan seorang pejabat anggota dewan yang terbuka kedok perselingkuhannya. Sungguh, dua berita yang menyita perhatian publik diawal bulan ini. Kemudian jika sebuah pertanyaan saya ajukan pada anda kaum perempuan; mana yang Anda pilih : suami Anda menikah lagi dengan pengakuan yang jujur dan terbuka, atau Anda diselingkuhi? Atau.. jika Anda kaum lelaki, Anda menikah lagi atau berselingkuh?Jawabannya pasti amit-amit jangan sampai.

Susah memang, tapi sepertinya realita adanya kecenderungan untuk mendua istri, berbagi suami atau apalah istilahnya, patut mulai dipikirkan dan ditanggapi dengan lebih arif, terbuka dan dibuka ruang-ruang diskusi yang objektif. Tentu saja dengan tidak hanya mengedepankan perasaan, emosi dan cacian-cacian yang kadang mengaburkan persoalan.

Poligami atau ٍSelingkuh?
Saat saya duduk dibangku kuliah, salah seorang dosen Hukum Gender pernah mebuka ruang diskusi tentang poligami, saat itu sedang marak poligami award.Dengan ‘berbekal’ buletin dari sebuah LSM Perempuan, beliau mengajukan pertanyaan pada kami tentang setuju dan tidak setuju mendua istri.Hm… seperti kebiasaan LSM Perempuan, sebagian ‘aktivis perempuan’, selalu saja ‘tanggung’ dalam memahami ayat tentang poligami. Alhasil, yang terjadi justru wacana-wacana yang berkutat pada perasaan, merasa diremehkan, dan sejenisnya sehingga mengaburkan substansi.
Sampailah dosen saya bertanya, “bagaimana perasaan anak-anak dari hasil poligami?Atau anak-anak yang orang tuanya berpoligami?” Saya hanya menjawab singkat : Mana yang lebih menimbulkan dampak psikologis anak dengan orang tua berpoligami –dengan pemahaman yang benar tentunya- dengan anak-anak dari keluarga yang orangtuanya berselingkuh? Dan dosen sayapun diam.
Begitulah, poligami terlanjur dipandang sebagai sebuah keputusan yang berarti akhir dari harmonisnya sebuah hubungan suami istri. Tidak dapat disalahkan juga sebab masyarakat terlanjur salah memahami poligami dari sebuah proses yyang tidak atau kurang pas. Poligami terlanjur dianggap sebagai pelarian dari rumah tangga yang tidak bahagialah,tergoda perempuan yang lebih aduhai, dan –yang lebih parah-poligami diam-diam menjadi sebuah momok yang lebih menakutkan daripada perceraian, bahkan perselingkuhan.
Lihat saja, berita-berita perceraian, gonta-ganti pasangan, bahkan perselingkuhan di infotaintment, misalnya ,menjadi hal yang tidak terlalu menghebohkan dibanding jika seseorang memutuskan berpoligami.Mungkin karena poligami menimbulkan konsekuensi ‘berbagi’ hak dan berbagi cinta yang katanya sangat sulit dijalani oleh kaum perempuan. Jargon “wanita mana yang rela dimadu” seolah-olah menjadi kata kunci yang demikian melankolis untuk mencecar pelaku poligami dan wanita kedua.Padahal,banyak sekali keluraga monogami yang justru menyimpan bara dalam sekam sebab terlilit perselingkuhan yang berujung perceraian, bahkan menjadi skandal.Artinya, tidak fair agaknya ketika poligami digebyah uyah (disamaratakan) tanpa melihat prosesnya.

Masdar F.Mashudi mengatakan bahwa naluri seorang laki-laki untuk beristri lebih dari satu adalah alamiah, yang menjadi masalah adalah, tidak semua laki-laki ‘siap’ menjadi suami dari banyak istri. Sedangkan kaum perempuan sebenarnya lebih siap menjadi istri siapapun dan keberapapun. Hanya saja, perlu kita renungkan, jika semua perempuan hanya ‘mau dan siap’menjadi istri pertama, bukankah peluang berselingkuh, kawin cerai, nikah dibawah tangan justru marak? Semua beralasan tidak mau ‘dimadu’ atau tidak mau menjadi istri kedua, ketiga dan keempat?Dan jika alasannya anak, apakah anak-anak dari semua hubungan-hubungan tersebut tidak lebih menderita? Jadi semestinya kitapun membuat paradigma baru bahwa tidak semua wanita yang menjadi istri kedua, ketiga dan keempat adalah “perusak rumah tangga orang lain” bukan? Jika memang para pelaku poligami merasa ‘nyaman’ dengan pilihannya, bukankah itu cukup?

Berprestasilah Dulu di Keluarga Pertama:Catatan kecil untuk para Suami
Saat banyak tokoh-tokoh berpoligami,sebenarnya bukan ketakutan yang berlebihan yang harus muncul.Poligami sebagai sebuah pilihan berkeluarga, tak selamanya buruk. Saatnya merubah paradiigma masyarakat.Jika saelama ini orang beranggapan “ooo pantes si A poligami lhawong istrinya begini, begitu”, atau jika orang berkomentar “kurang apa tho mbak Itu, kok ya suaminya nikah lagi?” maka saatnya mungkin kita berbaik sangka dengan mengatakan “Ooo… ya pantes tho..poligami wong dia itu sudah sukses, istrinya solihah, anak-anaknya kopen (terawat),pinter-pinter, keluarganya harmonis,…wajar jika dia ingin menambah keluarga sukses lebh banyak lagi he..he..” Indah bukan? Sungguh sangat berbeda dengan berselingkuh tho? Atau dengan poligami yang dilakukan sebagai pelarian karena rumahtangga pertama begitu mencekam.

Inilah yang sepertinya paling pantas direnungi para suami dan mungkin bisa dijadikan ‘syarat’ bagi para istri. Tanggung jawab poligami sangat berat bagi para suami. Jika Anda –para suami- belum dapat berprestasi dikeluarga pertama Anda, belum dapat menjadi pemimpin keluarga yang memahami nilai-nilai moral dan agama,belum dapat menjadi panutan, belum dapat memenuhi hak dan kewajiban Anda sebagai suami dan ayah, belum dapat mensejahterakan (dalam arti yang pantas), meskipun Anda tidak -perlu menjadi milyader, rasanya Anda-para suami- harus berpikir ulang untuk berbagi cinta dan mendua keluarga. Sebab itu hanya akan menambah beban diri dan orang-orang tercinta disekitar Anda. Apalagi jika 'berbagi' cinta tersebut ditempuh dengan cara Selingkuh.Ibarat sebuah perusahaan, tentulah akan membuka cabang baru jika telah terbukti sukses di perusahaan pertama bukan?
Maka membesar-besarkan maslah poligami sebagai sesuatu yang seolah-olah tabu dilakukan namun membuka peluang perselingkuhan dan menganggap selingkuh sebagai sesuatu yang 'biasa' tentu bukanlah sesuatu yang bijak dan adil. Bukan begitu?
Wallahua'lam.

Selasa, 17 Februari 2009

Sekilas tentang Benih Cendekia (Promosi ..?)


VISI

Membudayakan gemar belajar (membaca, menulis, berapresiasi) yang aktif, kreatif dan bermoral dikalangan anak-anak dan remaja

MISI
  1. menjadi fasilitator bagi anak-anak dan remaja untuk menggali kreatifitas dan membudayakan membaca sebagai kebutuhan
  2. menjadi fasilitator pendidikan alternatif yang menekankan pada pendidikan moral dan sikap mental positif di kalangan anak-anak dan remaja.

PROGRAM

Dalam aktifitasnya, sanggar Baca dan Kreatifitas Anak dan Remaja “Benih Cendekia” mempunyai agenda belajar sebagai berikut

A. Program Inti (untuk anak dan remaja)

1. Sanggar Baca

Merupakan program yang memberi keluasan pada anak-anak dan remaja untuk datang dan membaca apa saja yang mereka minati di perpustakaan mini yang sedang dirintis.

2. Sanggar Ekspresi Visual

Merupakan program untuk melatih daya imajinasi, melatih kepekaan dan kejujuran ekspresi anak-anak dan remaja terhadap apa yang mereka rasakan terhadap lingkungannya, keluarga, dirinya sendiri dengan menuangkannya dalam : karangan bebas, puisi, menggambar, mewarnai.

3. Sanggar Cerita Dan Diskusi

Merupakan salah satu upaya untuk menanamkan nilai-nilai aqidah dan akhlak dikalangan anak-anak dan remaja melalui media cerita dan diskusi dengan teman sebaya (peer group). Output yang diharapkan adalah anak-anak dan remaja menjadi terbiasa untuk mengemukakan pendapat, menghargai pendapat orang lain dan mengetahui alasan dari setiap perilaku yang diambil. Program ini Insya Allah dilakukan setiap hari Ahad pukul 16.30-17.30

4 Free Day

Merupakan program “hari bebas” untuk anak-anak yang Insya Allah akan dibimbing oleh para volunteer. Mereka dapat memilih untuk membaca dan bermain apa saja, menulis, menggambar, berpuisi, dsb. Program ini kami laksanakan pada hari Ahad pukul 08.00-16.00. Dengan program ini kami juga mengusahakan untuk menjalin silaturahmi dengan orang tua

5. Ngobrol Santai Remaja

Merupakan program dwi mingguan yang membahas masalah-masalah seputar remaja. Insya Allah akan dilaksanakan berselang-seling antara remaja putra dan putri ataupun bersamaan. Dilaksanakan secara mandiri (oleh sanggar) maupun bekerja sama dengan sekolah-sekolah. Tema yang dibahas menyesuaikan kebutuhan para remaja.

6. Ajang Kreativitas Seni

Merupakan ajang bulanan (kondisional) yang memamerkan karya anak-anak dan remaja dan juga unjuk kreatifitas di depan teman-teman, para volunteer, dan orang tua sebagai pengakraban dan menumbuhkan semangat untuk berprestasi dan melatih percaya diri.

7. Program Penulis Pemula

Program ini kami fokuskan pada remaja (usia 15-20 tahun) yang berminat untuk mendalami dunia jurnalistik. Program ini Insya Allah akan bekerjasama dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Solo.

8. Kreatifitas daur ulang

Program ini ditujukan untuk mengasah ketrampilan dan menggali krfeatifitas anggota dengan memanfaatkan barang-barang bekas disekitarnya. Program ini dalam jangka panjang bertujuan untuk dapat memberikan kontri busi riil dalam kemandirian ekonomi sanggar dan anggotanya terutama untuk para remaja putus sekolah.

B. Program Penunjang

Merupakan program yang ditujukan pada para orang tua atau wali. Program ini dilakukan sebagai tambajan wacana dan bekal bagi para orang tua dalam mengasuh dan membimbing putra-putrinya di rumah, sebab pendidikan utama selalu DIMULAI DARI RUMAH.

Insya Allah setiap satu bulan sekali kami akan mengundang para orang tua anak-anak dan remaja yang menjadi pengunjung sanggar baca untuk berkumpul dan berbagi pengalaman mengasuh anak-anak mereka. Dengan program ini diharapkan data menjadi sarana untuk saling menerima diantara para orang tua.

METODE

Metode belajar aktif dan partisipatoris dengan menekankan pada pendidikan moral, penguatan aqidah dan kesadaran perilaku, merupakan pilihan metode yang kami gunakan untk mengelola sanggar baca dan kreatifitas anak dan remaja “Benih Cendekia”

SARANA-SARANA PENUNJANG

Perpustakaan Mini Non Komersial

Merupakansarana yang sangat vital bagi terlaksananya seluruh program yang kami tawarkan. Perpustakaan mini ini kami rintis sebagai perpustakaan non komersil, artinya tidak memungut biaya untuk mendapatkan laba secara financial.

Media Belajar

Merupakan sarana pendukung bagi setiap kegiatan-kegiatan yang membutuhkan partisipasi aktif para peserta untuk dapat berekspresi dan belajar secara aktif. Misalnya kertas/buku gambar, kertas lipat, pensil warna, spidol, buku tulis, metaplan, berbagai gambar dan permainan yang mendidik dan kreatif, dsb.

Tempat

Secara ideal, semestinya sanggar dibuat dengan desain tempat yang lebih luas dan benar-benar dapat menunjang keleluasaan anak-anak di sanggar kami dengan nuansa yang nyaman. Namun dengan keterbatasan tempat dan dana yang kami miliki, hal itu belum dapat diwujudkan

VOLUNTEER

Dalam mengelola sanggar, kami sangat mengharapkan partisipasi dan dukungan dari teman-teman mahasiswa, para laki-laki dan perempuan yang peduli terhadap permasalahan moral, pendidikan dan dunia anak/remaja dari berbagai disiplin ilmu.

Kami akan menerima dengan senang hati kerjasama dan keinginan siapapun untuk dapat bergabung menjadi volunteer di sanggar yang baru saja kami rintis ini. Adapun volunteer yang kami butuhkan adalah teman-teman yang berminat atau concern dalam bidang :
  • Pendidikan
  • Traning remaja
  • Psikologi
  • Kesehatan
  • Seni dan Sastra
  • Kerajinan tangan
DONASI

Mengingat sanggar ini benar-benar merupakan usaha non profit yang lahir dari sebuah keprihatinan untuk melakukan sebuah upaya perbaikan moral, mental dan mendidik kreatifitas anak dan remaja, maka kami berupaya untuk mengusahakan pembiayaan operasional dari diri kami masing-masing, seoptimal yang kami bisa.

Untuk itu, kami mengetuk nurani semua pihak yang berminat dan bersungguh-sungguh untuk mendukung kami dalam mengusahakan sarana dan prasarana yang mendukung usaha sanggar ini dalam mewujudkan cita-cita. Bentuk partisipasi/dukungan dapat berupa :

1. buku-buku pelajaran SD-SMA
2. buku cerita anak (pra TK) bekas-baru
3. majalah remaja Islam (Annida, Permata, Elfata,dsb)
4. novel Islami atau cerita-cerita yang mendidik (bekas/baru)
5. buletin remaja, bundel majalah
6. buku pengetahuan umum tentang pendidikan
7. alat-alat tulis
8. Alat-alat ketrampilan

Donasi finansial dapat disalurkan melalui rekening :

a.n Robiah Al-Adawiyah, BNI CABANG PASAR KLEWER No. Rekening : 280 2248-9

Dukungan juga dapat berupa kerjasama keilmuan, pelatihan dan sebagainya yang tidak mengikat selama sejalan dengan tujuan sanggar ini.

PENGELOLA

Ketua : Robi’ah al Adawiyah, SH
Sekretaris : Sofia Ningsih R.P.,S.IP
Bendahara : Wiwin Lestari, ST
Divisi Pengembangan : Andina Widiastuti, S.Ked
Lena Prihantari, S.Pd
Riana Kusumasari, A.md

Senin, 16 Februari 2009

Surat Terbuka Kepada Perempuan Indonesia

Erotisme, jangan anggap remeh…..
Sebenarnya ini bukan saja masalah Inul dan goyangannya. Banyak hal di
masyarakat kita yang luput dari perhatian kita. Masyarakat semakin
tidak peka terhadap apa-apa yang mungkin sebenarnya mereka akui
kebenarannya.
Inul dan siapapun yang saat ini semakin getol mengusung goyangan-
goyangan erotis hanyalah korban sekaligus ladang yang menguntungkan
banyak pihak. "Kasihan" Inul.Sebab ia hanyalah fenomena pemicu dari
semua hal menjijikkan-maaf- dan erotis yang selama ini ditolerir atas
nama seni.
Saya hanya ingin mengajak semua pihak berpikir ke belakang. Masih
ingat saat Inul pertama kali "ngebor" ? Banyak pihak yang
merasa "risih" baik terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Saat itu
banyak komentar, Inul nggak punya modal suaralah, Inul secara etika
panggung membelakangi penontonlah, goyangan Inul tidak harmonislah,
Bla!Bla! bla! Bahkan si Annisa Bahar yang `pemberani" itu juga ikut-
ikutan berceloteh sinis tentang Inul. Sekarang ketika "lahan"nya
terusik oleh ancaman kebenaran moral ? Begitulah….
Tapi.. dasar mentalitas masyarakat kita dan banyak pihak
yang `kreatif' memanfaatkan peluang, justru lambat laun hal-hal
seperti itu difasilitasi, di blow-up. Dan sekarang? Ketika Inul
telah "menebar" berkah goyang ngebornya, semua pihak, media massa,
hiburan, menjadikannya ratu. Maaf saya tidak sedang berbicara tentang
persainganlah, terserah para pihak yang "berseteru" kalau soal itu.
Muncullah goyangan-goyangan tandingan dan semua hal yang dahulu masih
malu-malu sekarang menjadi tontonan publik yang menggiurkan.
Masyarakat kita digiring untuk menjadikan seks dan erotisme bertajuk
seni sebagai kebutuhan.
Ini bukan masalah baru. Dahulu, saat Sophia Latjuba berpose syuur
juga begitu. Sampai-sampai Rendra mengatakan. Pose-pose syur bukanlah
seni tapi "air seni"! maaf. Sebab, kadang kita sudah terlalu bebal
dengan berbagai himbauan moral kecuali harus dengan bahasa yang
tajam. Bukankah ini juga "kebebasan ekspresi"????
Semua media hiburan ,infotainment berbondong-bondong berusaha
mengulik simpati dari perjalan karier Inul yang diluar panggung
sangat rendah diri, polos, dsb. Sekali lagi, kasian Inul. Ia hanyalah
bagian dari lingkaran kepentingan perut yang menunya (baca:
kebutuhannya) berbeda-beda..Semua orang yang kehilangan rasa malu
dapat melakukan apapun , dan semua itu kembali pada orientasi
perilaku. Dan sebelum Inul, banyak…. Apalagi sesudahnya nanti
Namun, ingat! Ada yang lebih harus kita perhatikan. Saya prihatin
dengan perilaku-perilaku `menjijikkan" yang semakin "berkibar"
ditelevis-televisi. Bukan saja masalah goyangan-goyangan tapi juga
film-film impor, iklan-iklan yang tidak mendidik (bahkan iklan
pembesar payudara pun dapat dilihat jelas oleh ank-anak) , film-film
remaja picisan yang bukannya mendidik tapi malah banyak mengajarkan
perilaku-perilaku amoral yang "dimaklumi" sebagai gaya anak muda
gaul.
Makanya, sebenarnya pihak-pihak yang mendukung dan malu-malu
mendukung hal-hal erotis (ingat dari standar moral, kesopanan,
bukan "seni") yang sebenarnya sudah jelas ukurannya itu sebaiknya
mulai mengaca diri. Lagi-lagi dalam kasus Inul, misalnya, bukankah
sebenarnya semua ini tak lepas dari lingkaran kepentingan yang telah
diraup banyak pihak dari seseorang yang kebetulan menjadi ikon dan
simbol dari ekspresi bebas masyarakat kita, yang sekaligus menuai
kritik? Bukankah dukungan-dukungan itu juga dapat berarti agar hal-
hal yang melebihi Inul, atau perilaku-perilaku erotis lain baik yang
tersembunyi, telah ada, dan akan ada tidak terberangus ? Sebab bila
begitu, berapa banyak kerugiannya?mari kita berpikir.



Media massa
Mari jeli melihat, menimbang, bukankah media kita akhir-akhir ini
sering men-delegitimate-kan moral ? Mari kita analisis secara
objektif
Contoh, kenapa Arswendo, Gus Dur, Guruh, Para "insan" seni yang
terang-terang mengatakan , pencekalan Inul melanggar HAM-lah, itu
ekspresi senilah, saat ini begitu "legitimate"? sementara yang kontra
terhadap goyangan Inul yang boleh jadi merupakan "silent majority"
tidak kemudain menjadi legitimate juga ? Ukuran moral tidak menjadi
sesuatu yang menjadi ruh dalam pembahasan media dan semua
infotainment.
Kebanyakan media mengusung Isu Inul secara kurang pas. Padahal, apa
yang diramu media telah kadung dianggap kebenaran oleh massa. Jadi
bagaimana? Mana nilai-nilai moral yang seharusnya diusung media
sebagai salah satu sarana perbaikan masyarakat ?

Kepada Insan "Seni","Dunia Hiburan", Selebritis…….
Dari awal, surat terbuka ini tidak hendak bicara tentang satu masalah
saja. Sebab, bila kita memakai ukuran kebenaran yang nyata, standar
ketimuran, dan moraliatas yang diusung semua agama dan keyakinan,
kita akan melihat betapa hal-hal yang dikonsumsi masyarakat lewat
kotak ajaib (televisi) , majalah-majalah porno, VCD dan sebagainya
telah masuk dalam suatu kondisi yang memprihatinkan.
Wahai para pekerja `seni, selebritis, dan semua yang terlibat dalam
dunia hiburan. Apakah kalian hanya terdinding antara tampilan kalian
di televisi dengan dimasyarakat ? Saya sangat paham bahwa itu adalah
pencaharian kalian. Dari sana kalian hidup, tapi, tidak dapatkah
kalian mengusung sesuatu yang lebih bermutu ? Apa yang kalian
tontonkan di televisi telah terlanjur menjadi tuntunan bagi
masyarakat. Mungkin kalian akan berkomentar, itu kan penilaian
masyarakat. Itu kan hak mereka. dsb
Ingatlah bahwa masyarakat memang tidak bisa lepas dari kekaguman
mereka akan kalian para publik figur, artis dan semacamnya. Maka,
tampillah yang mendidik, jangan seronok. Lihatlah seorang Siti
Nurhaliza, dia tetap menjadi seorang yang dihargai karena kualitas
pribadinya. Apakah dia jatuh hanya karena tidak mau
berpenampilan "terbuka"? Apakah dia tidak populer hanya karena dia
bertahan untuk tidak "berciuman" pipi dengan laki-laki,misalnya ?
Tidak bukan ? Mengapa ? karena dia bangga dengan budayanya, dia
bangga dengan apa yang dia yakini sebagai kebenaran. Tentu saja,
kebenaran yang bukan bernilai "relatif". Dan tentu saja saya hanyalah
sura kecil yang mungkin singgah di indra dengar kalian, berkelebat
dan hilang.
Bukankah kita dapat membuat hiburan yang lebih menentramkan? Bukan
film-film yangmengajarkan para muda bergaul tanpa batas dengan
alasan "funky". Bukan hal-hal yang memicu masyarakat kita untuk
mudah "bermimpi" dan melenakan mereka dari realita. Ini bukan basa-
basi ini riil.
Kami, masyarakat awam adalah objek dari perilaku kalian, objek dari
mata pencaharian kalian. Tabloid-tabloid yang anda hasilkan, VCD-VCD
porno yang kalian produksi, film-film dan tayangan-tayangan komersil
yang kalian suguhkan adalah sesuatu yang langsung dipraktekkan oleh
masyarakat dan itu riil! Entahlah mungkin akan banyak jawaban dan
pembelaan yang dapat Anda sampaikan. Tapi ingat, anda bukan hidup
dalam dunia "sinetron" anda tidak hidup di sekotak televisi dan
lokasi syuting atau pemotretan. Mungkin kalian dapat masa bodoh
setelah melakukan pekerjaan kalian, tapi masyarakat sejak itu telah
mencoba meniru-niru dan "bermimpi". Ya, mungkin saya terkesan sangat
menganggap bodoh masyarakat. Tapi itulah kenyataannya. .Masyarakat
kita adalah masyarakat yang mudah sekali meniru segala macam hal baru
dan trend. Tidakkah kalian pernah berpikir dan merenung tentang itu ?

Kepada para Perempuan dan "TOKOH Pejuang, Pemerhati Perempuan"
Saya sedang berpikir apa masih ada perempuan di negeri ini. Saya tak
habis pikir mengapa para tokoh perempuan di negeri ini "bisu"
terhadap persoalan moralitas.
Yang lebih menyedihkan ,banyak ibu-ibu rumah tangga dan tokoh
perempuan semacam Ratna Sarumpaet, dan banyak tokoh (atau yang
dinobatkan media sebagai tokoh perempuan) justru selalu berputar-
putar masalah seni,kebebasan perempuan, dan semua yang mereka koarkan
diseminar-seminar and talk show-talk show.
Wahai para perempuan, dan para "pejuang hak perempuan".Yang selalu
memperjuangkan hak anak, hak perempuan yang diperkosa, perempuan yang
dilecehkan,di seminar-seminar, di TV-TV, apa benar kalian menghayati
apa yang kalian perjuangkan? Sementara untuk hal-hal yang menjadi
pemicu dari semua itu kalian abaikan! Jangan hanya bergabung dengan
organisasi-organisasi perempuan mentereng .Jangan bangga menjadi
pembicara-pembicara dan talk show-talk show jika kalian tidak pernah
berempati terhadap merosotnya moralitas perempuan.
Jangan-jangan kalian para tokoh perempuan dan para publik figur
perempuan hanyalah perempuan-perempuan yang berorientasi pada
kebebasan yang tak jelas, dengan dalih perjuangan perempuan.Perempuan
yang mana ? Sementara untuk hal-hal yang jelas-jelas melecehkan
perempuan kalian bisu. Kalian selalu membahas akibat bukan mencari
sebab!

Wahai Para perempuan! Dan Tokoh perempuan!
Lihat ! Apakah kalian tidak pernah merasa risih melihat di TV-TV dan
mungkin anak-anak gadis kalian berpakaian hampir telanjang ? Kita,
anda dan saya adalah perempuan, tidakkah kita risih melihat tubuh
saudara-saudara kita yang sama dengan kita dieksploitasi dalam bahasa-
bahasa iklan, acara-acara yang dengan nyata diiklankan dengan kata-
kata "untuk pria dewasa" yang berisi tampilan-tampilan para model?
Pekalah, sensitiflah! Bayangkan tubuh kita yang sama dengan mereka
berlenggak-lenggok seronok dan dinikmati oleh suami orang lain,
tetangga, anak-anak lelaki dan semua orang.Tidakkah kalian merasa
risih ?
Kita yang selalu berkoar tentang pelecehan seksual dsb, bagaiman jika
tiba-tiba kita ,atau saudara perempuan kita, anak gadis kita menjadi
korbannya? Korban dari laki-laki yang terpancing nafsu hinanya ? Atau
bagaimana bila anak-anak lelaki kita, saudara lelaki kita, suami
kita, merusak masa depan perempuan,anak-anak gadis lain karena kita
tidak peka terhadap tontonan-tontonan amoral dirumah kita ? Tidakkah
kita lebih banyak bicara tentang hak perempuan supaya kita
ternobatkan menjadi tokohnya? Sementara kita tidak pernah peduli
dengan upaya-upaya untuk menjaga harga diri kaum kita sendiri.
Bukankah itu egois ? omong kosong ?
Tontonan-tontonan dan semua yang merusak di dunia hiburan kita yang
bersifat seks-oriented, materialis, konsumtif itu yang akan
mempengaruhi anak-anak kita kelak. Bagaimana mungkin bangsa ini
bermoral jika para perempuan dan para ibu telah lebih senang
menikmati sajian-sajian TV, VCD, dan media-media yang memancing
mereka berpolah tingkah seperti ABG ? Bagaimana mungkin ibu-ibu yang
seperti itu dapat memberi teladan moral bagi anak-anaknya ? Sementara
setelah anak-anak mereka "rusak" mereka uring-uringan ? Tolong,
jangan jawab saya dengan : "ah.. itu sih tergantung orangnya" .
Tidak. Itu tergantung kita semua!
Sudah saatnya ada perempuan-perempuan dan laki-laki yang menyerukan
tentang perbaikan moral bangsa ini. Mengingatkan setiap jiwa bahwa
bangsa ini tengah menjadi "sasaran empuk" pembodohan modern,
imperialisme modern, perang pemikiran yang menelusup halus dalam
bentuk hiburan dan propaganda-propaganda tontonan yang melenakan.
Terlalu berlebihan ? Mungkin akan dirasa berlebihan sebab kita dan
masyarakat kita telah terbiasa mengabaikan hal-hal fundamental
seperti moral, ideologi dan semacamnya.
Demikianlah surat terbuka ini saya tulis dan saya kirimkan ke
berbagai media sebagai sebuah usaha minimal yang dapat saya
lakukan.Saya telah siap untuk menerima segala konsekwensi yang timbul
dari surat terbuka ini. Sebab, saya hanyalah seorang perempuan muda
yang mencoba mengkomunikasikan kegelisahan saya.
Mungkin saya tidak bisa sehebat kalian para publik figur dan para
selebritis yang selalu bisa dan terbiasa mengatakan apapun
dan "mengekspresikan diri" kalian di telvisi-televisi. Namun, saya
hanyalah satu diantara –mungkin- sekian banyak perempuan muda yang
gelisah terhadap masa depan moral anak-anak kami kelak. Saya hanyalah
seorang perempuan yang sedang mencoba merenungi akar dari semua hal
yang menjadikan kaum saya (perempuan) semakin menyedihkan.
Saya hanyalah seorang perempuan yang meyakini bahwa kebenaran yang
bersumber pada moralitas dan kesopanan adalah kebenaran mutlak yang
bersumber pada Sang Pemilik kebenaran sejati. Ukuran moralitas,
kesopanan adalah absolut dan diyakini oleh agama serta keyakinan
manapun. Keyakinan itulah yang akan melahirkan keberanian, keteguhan
dan juga totalitas peran kita sebagai perempuan.
Sedangkan seni, kesetaraan, kebebasan yang tidak jelas, HAM, dan hal-
hal materi dan fisik yang digunakan banyak pihak akhir-akhir ini
sebagai standarisasi perilaku dan permakluman terhadap hal-hal yang
kurang pas adalah hasil analisis, buatan dan pembelaan manusia atas
kepentingannya. Dan, tentu saja hal-hal tersebut bersifat sangat
relatif bukan? Maka, dapatkah yang reltif "mengalahkan" yang absolut?
Akhirnya,
Jika diantara pembaca surat terbuka ini tersentuh, tergugah untuk
menjadi lebih baik. Sungguh, itu hanya karena kekuasaan Sang Pemilik
dan Penguasa hati. Bukan karena materi dari surat ini sendiri. Dialah
pemberi hidayah dan cinta. Namun jika surat ini membuat banyak pihak
tersakiti, menimbulkan kebencian dan prasangka… Sungguh, mungkin itu
adalah bagian dari kelemahan saya dalam menyampaikan sesuatu. Atau
mungkin karena ada ketidaktulusan dari hati saya yang meskipun tidak
saya lahirkan tapi Dzat Yang Jiwa saya ada di Genggaman-Nya
mengetahuinya.. Dan bila memang demikian saya mohon maaf pada Anda
semua dan mohon ampun pada-Nya. Wallahu a'lam bishawwab

Dicari : Feminis Moral

Sebenarnya, saya enggan memakai kata "feminis". Tapi bagaimana lagi, kata itu kadung menjadi sebutan bagi perempuan yang "gelisah" terhadap hak perempuan dan memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masalah-masalah kaum perempuan.
Perbincangan mengenai masalah perempuan yang terus bergulir hingga kini, tidak pernah lepas dari semua aspek kehidupan. Semua hal selalu nampak "bias gender" ketika kita telah menyentuh ranah pembelaan hak terhadap perempuan. Memang, kita tidak memungkiri bahwa masih banyak para perempuan yang terlilit oleh ketidakpekaan lingkungan sosial mereka (termasuk didalamnya perempuan yang lain dan laki-laki) terhadap keharmonisan dan kesadaran akan tanggungjawab bersama untuk menciptakan kehidupan yang lebih humanis.
Moralitas perempuan: Bilakah engkau diperjuangkan?
Terlepas permakluman dan pemahaman, sepakat-tidak sepakatnya penulis terhadap isu-isu kesetaraan yang diangkat kepermukaan oleh para pemerhati perempuan, sepertinya perlu ada banyak hal yang harus terungkap dibalik sisi lain kehidupan perempuan di masyarakat kita (Indonesia) saat ini.
Sebuah paradigma yang mengajak perempuan dan para pejuangnya (baca:feminis) mencari akar dari segala permasalahan perempuan yang sering terabaikan di tengah deru perjuangan kesetaraan dan keadilan gender.
Perjuangan hak-hak perempuan selalu bermula pada akibat dari sebuah perbuatan yang memojokkan perempuan sebagai posisi korban (perempuan dilecehkan, dirampas haknya dan sebagainya).
Namun ada yang mengganjal pemikiran penulis akhir-akhir ini, bahwa perjuangan para pemerhati perempuan justru cenderung menjadikan kelemahan atau anggapan ketidakberdayaan terhadap perempuan semakin menganga dan tereksploitir. Akibatnya, justru paradigma perjuangan perempuan tidak berkembang dan cenderung kasuistis, akibat lain dari hal tersebut adalah kebekuan perjuangan perempuan seperti yang kita lihat hanya bersifat temporal, monumental dan berorientasi pada hal-hal yang nampak secara fisik dan materi. Dengan standar kebebasan dan keberhasilan kebebasan yang materialis pula.
Ada yang dilupakan dari para pejuang hak-hak perempuan. Yaitu, makna kesejatian dari perempuan itu sendiri. Makna kepantasan, ketinggian moral dan budaya. Mengapa hal tersebut terjadi? Jawabannya jelas: karena mereka hanya menuntut hak dan menjadikan pemikiran-pemikiran bebas sebebas-bebasnya sebagai acuan berpikir. Alhasil, ada ketimpangan budaya dari hingar bingarnya perjuangan perempuan.
Ada kegelisahan tersembunyi yang tidak pernah terungkap dalam diskusi-diskusi tentang kesetaraan gender. Ada kelemahan yang tidak terungkap dan mungkin "enggan" diakui dan terabaikan oleh para pejuang perempuan kebanyakan.
Kegelisahan tersembunyi itulah, persoalan moral dan segala hal yang berkenaan dengannya, termasuk perilaku dan gaya hidup. Degradasi perempuan di masyarakat kita hampir menjadi sesuatu yang tidak layak jual di forum-forum perempuan. Suara-suara keprihatinan akan degradasi moralitas perempuan seolah tercibir oleh kaum perempuan sendiri sehingga banyak diantara mereka menganggapnya sebagai isu komunitas dan tidak trend.
Persoalan pelecehan dan pemerkosaan selalu ditanggapi setelah terjadi, bukan bagaimana mengupayakan semua kebiasaan, polah tingkah, dan tatanan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang lebih beradab, tertata dan penuh kesopanan. Protes-protes atau kritik terhadap hal-hal yang kurang sopan justru dicecar dengan alasan-alasan kebebasan.
Persoalan moral yang terjadi di dalam sebagian besar perempuan di Indonesia telah begitu kronis sehingga melahirkan mentalitas easy going dan permissive terhadap semua hal yang hingar bingar, pergaulan bebas diantara remaja misalnya dan semua alasan modernitas yang disodorkan sebagai alasan pemaaf dan pembenar perilaku yang jauh dari norma adat dan budaya serta agama.
Feminis Moral: dicari!
Jika kita mau lebih jujur mengamati, saat ini banyak perempuan dan LSM perempuan yang mencoba untuk menunjukkan minatnya kepada permasalahan perempuan. Mereka begitu getol memperjuangkan bagaimana seorang perempuan dapat menunjukkan eksistensi mereka di ranah publik. Dan semua telah hampir terpenuhi. Kesetaraan yang mereka perjuangkan atas nama emansipasi sudah tercapai (meskipun bagi sebagian perempuan belum).
Namun, sayang, ketika persoalan moralitas dan segala hal yang memerlukan kejujuran dan kepekaan rasa keperempuanan untuk menilainya disodorkan pada mereka, mereka seolah bisu dan tak terdengar gaungan perjuangan dan kepeduliannya.
Contoh kecil, betapa sulitnya bangsa ini memberikan ketegasan tentang pornografi sementara begitu banyak aktivis perempuan di negeri ini. Tak heran, sebab memang kebanyakan dari mereka mungkin tidak sempat memikirkan hal-hal "sepele" ini dibanding isu-isu publik, pro-kontra poligami, melejitkan karier, quota politik, isu-isu bisnis, talk show-talk show kepribadian dan kecantikan, yang tentunya lebih menggiurkan bagi para funding para perempuan "modern" di negeri ini.
Feminis moral mau tidak mau harus lahir dari negeri "berbudaya" dan "bermoral" bernama Indonesia ini. Negeri yang sebagian perempuannya telah lebih bule daripada para bule. Negeri yang para perempuannya menjadi pangsa pasar terbesar serbuan penjajahan gaya baru melalui trend, mode, gaya hidup dan pola pikir. Negeri yang para perempuan (ibu-ibu dan remaja putri) begitu fasih bicara tentang tempat-tempat shopping dan cafe-cafe ternyaman. Negeri yang para prianya semakin hari semakin buas karena tersuguhi tontonan dan gadis-gadis siap saji. Kasar memang tapi inilah wajah perempuan dan masyarakat kita hari ini. Dimana menegur mereka tidak lagi bisa dengan bahasa-bahasa halus sebab mereka telah kehilangan apa itu rasa malu. Jadi untuk apa basa basi?
Feminis moral itu harus muncul dengan kemunculan yang benar-benar lahir dari sebuah pemahaman dan keprihatinan akan kondisi kaummnya. Bukan "tertokohkan" hanya karena dia sekali dua tampil sebagai pembicara di sebuah seminar lalu tiba-tiba "dinobatkan" sebagai aktivis perempuan.
Dia harus lahir dari sebuah pemahaman yang integral tentang permasalahan perempuan dan semua hal yang melingkupinya. Dia tertokohkan karena melakukan perubahan, bukan untuk mendongkrak popularitasnya. Meskipun sebenarnya untuk menjadi seorang feminis moral dia justru harus siap untuk tidak terkenal dan bahkan harus bekerja keras.
Feminis moral itu hendaknya memiliki kecintaan terhadap budaya positif bangsa ini, meskipun ia bukanlah orang yang gagap terhadap pola pikir progresif. Ialah feminis yang tidak hanya menyuarakan hak namun juga sadar bahwa kewajiban adalah sejoli dari hak itu sendiri.
Feminis moral itu hendaknya konsisten terhadap apa yang diyakininya, sebab yang akan dirubahnya adalah pola pikir, kultur, maka ia semestinya mampu menjadikan dirinya lebih bermoral dari orang lain. Standar berpikir Sang feminis moral ini adalah keteguhan prinsip dan kepekaan yang dalam terhadap kepantasan. Ia harus siap berpredikat "kuno" diantara para aktivis perempuan yang mendapik diri mereka "modern".
Ia dapat bersikap toleran terhadap perbedaan pemahaman namun tidak untuk meluruhkan prinsipnya. Ia berpola pikir progresif namun tertuntun oleh pemahaman religius yang matang.
Entahlah, kapan Sang Feminis Moral itu muncul di negeri ini dan membawa semangat perubahan dan perbaikan moral perempuan dan laki-laki. Semestinya ia lahir atau muncul secepatnya, agar kelak anak-anak di negeri ini masih sempat dilahirkan dan diasuh oleh ibu-ibu yang bermoral ,cerdas dan berbudi-pekerti luhur. Agar kedepan negeri ini masih sempat di sebut negeri yang adiluhung, bersahaja.
Jika mungkin diantara anda ada yang memenuhi kriteria itu atau sedang menempa diri seperti itu, atau jika anda seorang pemerhati perempuan yang tengah gelisah dan bingung menentukan aliran perjuangan anda, mungkin tulisan ini bisa menjadi referensi perenungan yang akan menghantarkan anda menjadi para pejuang moral yang tulus dan mampu meretas ruh (semangat) baru perbaikan moral negeri bernama INDONESIA ini.

Episode Bunga Mawar

Saudariku, meskipun aku tak begitu suka dengan bunga. Tapi aku suka mengamati dan membuat pemaknaan-pemaknaan tentangnya. Sebab, bukankah kita dituntunkan untuk bertafakkur terhadap penciptaan Allah?
Aku sudah menceritakan tentang bunga matahari beberapa waktu yang lalu (jika kalian sempat membaca tulisanku sebelumnya) . Gambaran seseorang taat, seseorang yang berpegang teguh terhadap apa yang dianggapnya benar, apa yang menjadi prinsipnya. (setidaknya menurut pemaknaanku)
Saudariku, pasti kau tahu bunga mawar. Bunga yang sering menjadi lambang dari cinta, romantisme, bunga yang warnanya tegas, jika ia berwarna merah, maka ia akan berwarna merah darah, pekat! Jika ia putih, ia pun berwarna putih yang teguh, suci. Jarang mawar berwarna merah muda, meskipun mungkin ada.
Bunga mawar beraroma harum, kelopak-kelopaknya begitu tertata, banyak, dan melindungi benang sarinya dengan seksama. Mawar juga tidak mudah menggugurkan mahkota-mahkota bunganya, aku membuktikannya, betapa mawar tetap bermahkota dan berkelopak meskipun mungkin bila ia dipetik dengan tangkainya dan ia diletakkan tanpa air, ia mungkin layu, tapi mahkotanya tidak gugur!
Bunga itu masih lagi dilindungi kelopaknya yang tak kalah teguh. Bukan itu saja! Kau tahu, saudariku ? Mawar begitu sulit terjangkau! Ya! Kita harus berhati-hati memetiknya sebab tangkainya yang meskipun kecil namun kokoh itu berduri.
Begitulah. Setiap bagian dari mawar sempat kuamati. Setiap bagian bunganya begitu mantap dan teguh, selain bentuknya yang indah dan baunya yang harum. Mawar begitu mempesona.
Mawar begitu misterius, elegan . Bentuk dan aromanya yang mempesona, semua membuat orang ingin menikmatinya, memetiknya, memilikinya. Tapi, ternyata tidak mudah mendapatkannya. Untuk memetiknya kita harus berhati-hati agar durinya tidak melukai. Tidak sembarangan kita bisa sambil lalu memetiknya, bila kita tidak ingin’diserang’ oleh durinya. Tangkainya juga tidak mudah dipatahkan. Bila kalian pernah mengalami, kita harus menggunakan alat (gunting, pisau) untuk memotongnya. Iya kan ?
Hmmmmmm……….Begitulah. Mawar. Kau tau saudariku, bahwa ada wanita-wanita seperti mawar. Tapi, mungkin tidak banyak. Dan seorang muslimah yang seperti mawar??? Wah tentu lebih sedikit lagi.
Aku tidak sedang membicarakan kecantikan fisik, meskipun jika itu ada dalam diri seseorang, kita tak bisa menyangkal untuk memujinya.
Wanita atau muslimah yang seperti mawar, begitu enak dipandang. Kecantikannya terpancar dari sebuah keteguhan yang dalam. Kalaupun dia memang dianugerahi kecantikan fisik oleh Allah, dia akan semakin cantik. Kalaupun secara fisik dia tidak tergolong ‘begitu cantik’ namun dia memancarkan kecantikan yang lain. Kecantikan yang membawanya pada sebuah derajat yang begitu tinggi. Elegan.
Wanita yang seperti bunga mawar memiliki keteguhan prinsip, dia mengerti setiap detil dari dirinya begitu berharga, untuk itulah dia menjaganya, melindunginya dengan seksama. Lihat betapa banyak ‘senjata’ yang dimiliki mawar untuk melindungi putik dan benang sarinya. Itulah , perempuan apalagi perempuan Islam, dituntunkan untuk selalu menjaga dirinya, karena setiap bagian jasad, ruh dan akalnya memiliki potensi keindahan.
Wanita atau perempuan yang berkarakter mawar juga sangat teguh pendiriannya. Dia tidak mudah meluruhkan harga dirinya untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan jalan perinsipnya. Lihat, betapa mawar tidak mudah menggugurkan mahkota bunganya meskipun ia layu. Perempuan-perempuan seteguh mawar tidak akan meluruhkan kehormatannya . Dia akan menjaganya meskipun ia harus berjuang untuk itu. Keadaan tidak membuatnya cengeng.
Satu lagi, saudariku. Mawar tidak mudah dipetik. Perempuan-perempuan yang teguh dan meneguhkan, cerdas dan mencerdaskan, baik dan memperbaiki akan memancarkan banyak energi. Semua orang tahu bahwa dia memiliki banayak pesona. Namun pesona itu tidak membuatnya pongah. Pun begitu, perempuan-perempuan berkarakter mawar selalu memancarkan keramahan, kebaikan. Tapi untuk mendapatkannya? Nanti dulu! Bukan jual mahal, tapi ia memiliki izzah (harga diri, kehormatan, rasa PD, bangga bukan karena dirinya tapi ‘bangga’ karena ia memegang teguh Islam dan segala peraturannya).
Pesona mawar membuat orang tidak berani mempermainkannya. Pesona karakter ‘mawar’ akan menyeleksi siapa yang beruntung mendapatkannya dengan cara yang baik, bukan menyerobot apalagi memetiknya dengan paksa! Sebab jika itu dilakukan, Sang Mawar akan melukai tangan pemetiknya yang kasar dan tidak beradab, iya kan?
Maka, siapapun yang ingin memetik mawar-mawar muslimah itu, ia haruslah seorang yang memiliki keteguhan dan daya juang! Ia harus meminta mawar-mawar muslimah itu dari pemiliknya. Siapa pemiliknya? Sang pencinta mawar itu dan pemilik kebun mawar yang sejak kecil merawat dan menjaga Sang mawar agar tumbuh menjadi muslimah yang teguh.
Bagaimana? Jika kalian baca tulisanku ini dan kalian seorang perempuan, muslimah, semoga kalian bergegas untuk menjadi kuntum mawar terindah di kebun rumah orang tua kalian. Jika kalian seorang laki-laki, seorang muslim, dan sedang ‘mengagumi’ salah satu kuntum mawar itu, bersiaplah untuk menjadi pemetiknya yang ‘sekufu’, bukan karena hal-hal yang tampak, tapi dari cara kalian memetiknya!
Ketuklah pintu pagar dimana mawar itu tumbuh, datangi keluarga dimana mawar itu tumbuh dan terjaga (jangan asal slonong apalagi merusak dan memaksanya!) kemudian mohonlah pada Sang Pencipta mawar itu karena Dialah pemilik dan pemeliharanya yang hakiki. Mohonlah agar Ia berkenan menjadikan kalian sepasang insan yang menebarkan kebaikan di taman bumi dan mengetuk surga dengan keagungan yang terjaga!

Episode Bunga Matahari

Karena cinta aku menuliskannya untuk mu, mungkin juga untukku sendiri. Sebagai pengingat atau teman merenung.

Hari ini aku melihat bunga matahari dihalaman rumah tetanggaku. Anak-anak sekolah menyempatkan menyentuhnya, adikku bahkan meminta bijinya untuk ditanam di kebun belakang rumah kami.

Dan aku? Aku menikmatinya dari dalam rumahku. Adikku berteriak penuh kekaguman ,”lihat! Dia selalu mengikuti arah matahari!” Ya! Tentu saja, batinku. Namanya juga bunga matahari. Tapi mungkin juga sebagian menamainya begitu karena warnanya yang kuning cerah, bulat menyerupai benda langit, sentral planet raya : MATAHARI

Bunga itu menjadi inspirasiku, menuliskannya untuk kalian. Bunga matahri itu selalu mengikuti arah matahari. Dia begitu ikhlas berputar dan menghadapkan wajahnya kesana.

Saat matahari mulai tenggelam, senja datang dan bunga mataharipun merunduk, seolah dia berkata; “kemana matahariku? Aku hilang arah” . Saudariku, muslimah yang tercinta, pernahkah kau merasakan suasana senja hari? Saat matahari mulai tenggelam dan langit kemerahan?

Kalau aku, kadang dikala senja datang, ada sebuah kesedihan yang tiba-tiba menyergap, ada suasana sedih, takut (apalagi bila aku masih di perjalanan, menunggu bus, atau berjalan saat maghrib, belum sampai dirumah ada perasaan yang tidak mengenakkan). Ah, mungkin itulah mengapa kita diajarkan oleh Rasulullah untuk berdo’a dan banyak berdzikir di sore hari.

Kembali pada bunga matahari. Mungkin dia juga merasakan seperti yang kurasakan saat matahari tenggelam, ya? Saudariku, tidakkah kau tau dan merasakan bahwa bunga matahari itu seperti manusia? Manusia diciptakan untuk mengikuti apa yang diyakininya. Semestinya kita menjadikan Qur’an seperti matahari, dimana disana terkumpul tuntunan, pedoman, dan pancaran kasih sayang Allah. Betapa Allah menurunkan Qur’an seperti matahari yang menerangi bumi. Menjadi petunjuk manusia dalam kehidupannya.

Kita semestinya mengikuti Qur’an kemanapun ia membawa kita, menuruti apa yang Allah tunjukkan. Mengatakan ‘tidak’ terhadap apa yang Allah, Rasul ,Qur’an tuntunkan dan menjadikannya petunjuk bagi hati nurani kita. Mengatakan ‘ya’ dan tanpa malau, ragu atau menawar-nawar perintah Qur’an. Ah…………saudariku, bilakah kita menjadikan Qur’an satu-satunya matahari dalam kehidupan kita?

Bila tidak demikian, Saat kita tak lagi menjadikan Qur’an sebagai matahari, mengingkarinya, menjauhkan diri kita darinya, mengalihkan wajah kita darinya, mengingkari bisikan nurani untuk mengikutnya……Maka kita seperti bunga matahari yang kehilangan mataharinya (maka, apa dia bisa dinamai ‘bunga matahari’ lagi? Sedang ia tak lagi mengikuti matahari, atau kehilangan mataharinya).

Saudariku, kitalah bunga-bunga matahari itu yang beredar dan menundukkan diri dibawah Qur’an, yang menjadikan kita terang, hidup, menjadi penuntun agar kita tetap menjadi makhluk terbaik dan pantas mendapat predikat umat terbaik.

Saudariku, aku ingin kita mengihiasi dunia, dan saat kita menjadi orang-orang yang mengikuti Qur’an, niscaya kita akan menjadi orang-orang yang mengagumkan! Tanpa harus mengagumi diri sendiri. Kita akan mulia tanpa harus mendapik diri sebagai orang yang mulia. Seperti manusia yang mengagumi bunga matahari, satu bunga dari taman bumi.

Tulisan ini pernah dimuat di eramuslim pada tahun 2003