Minggu, 20 Desember 2009

Berdamai dengan si Sulung

Hari ini melelahkan. Dan aku yakin kemarin, besok, dan akan seterusnya begini. Anak-anak kita akan selalu mempunyai potensi konflik dengan kita. Hm…tentu saja sesuai dengan fase bertumbuh dan berkembang mereka. Aku baru saja memutuskan berdamai dengan anakku setelah bebrapa jam yang lalu ia benar-benar keras kepala.

Bagaimana tidak? Sepulang sekolah ia terus menerus melakukan hal-hal yang memantik emosi. Dari satu permintaan –pemaksaan- satu ke yang lain. Dan sungguh seperti yang kutulis kemarin : aku belum cukup sabar atau belum cukup bisa menahan diri .

Akhirnya aku memilih diam sejenak. Kupandangi sulungku yang merajuk karena permintaannya yang kesekian kali siang itu tidak kuturuti. Kali ini ia memintaku membelikan pensil warna yang baru karena sepulang sekolah tadi ia mendapatkan hadiah buku mewarnai yang ternyata sama dengan yang pernah ia punya. Alhasil ia merasa tidak ada sesuatu yang ‘baru’. Ditambah lagi seperti biasa, crayonnya yang lama hilang dan entah kemana. Segala argumen kuhiburkan, kuminta ia memakai sisa crayonnya yang lama. Dan tidak berhasil. Mulailah ia mengamuk,berteriak, berguling dilantai (khas anak-anak yang marah), mengatakan “Umi jahat” dan seterusnya.
Dan menurut teori yang kubaca, semakin tinggi volume suara kita saat anak marah ternyata semakin membuatnya bertahan dengan kemarahannya. Maka, akupun DIAM, Tanpa ekspresi.

“Nak....sini nak, umi tau kamu kecewa. .” akhirnya itu kalimat pertama yang kuucapkan setalah menghela nafas. Sulungku masih merajuk. Kurengkuh tubuhnya meski dia masih enggan
“Aku dapat hadiah buku yang sama, Mi. Aku sudah pernah punya. Lagipula Aku juga gak punya pensil warna…” anakku panjang lebar meluapkan kekesalannya. Masih dengan seragam sekolahnya. Aku mendengarkan dengan menatap matanya. Berusaha setulus mungkin!
“ Ya sudah… sekarang Maura ganti baju dulu, pipis,minum air putih, dan nanti kita coba cari lagi crayonmu ya? Kalau memang sudah saatnya beli pensil warna baru, Insya Allah Umi belikan. Tapi kita cari dulu crayonmu yang lama.”… beringsut sulungku mengangkat tangannya keatas, bersiap melepas seragamnya dan sterusnya. Pertanda bagus.

Aku benar-benar membantunya mencari crayonnya. Memang tidak mungkin ditemukan semua karena memang crayon itu sudah ‘habis’ ia pakai atau sebagiannya lagi tercecer kesana kemari. Aku pun sadar aku akan membelikan pensi warna baru di toko sebelah rumah sebab memang sebenarnya ia telah lama tidak lagi memilikinya. Tapi belum sekarang waktunya.

Kubantu putri sulungku mencari crayon yang masih tersisa. Sembari mencari, kunetralkan perasaannya.
“Sudah Nak? Sudah nggak marah kan? Bersyukur ya Nak, hadiah Bunda Dina kan sudah bagus. Malahan Maura bisa mewarnai lebih baik karena sudah pernah.” Putriku mengangguk pelan. Bagus. Marahnya reda
“ Aku sudah mau terima hadiah itu, Mi. Tapi aku ndak punya pensil warna lagi. Cuma ini, kan ndak banyak warnanya” Baiklah. Aku sudah berdamai dengannya.
Kemarahan yang luar biasa bisa kuredam dengan sedikit berempati dengan perasaannya. Perasaan kecewa, capek, frustasi. Aku tidak menjamin bisa setiap hari begitu. Kadang lelahku beradu dengan lelahnya, batas kesabaranku, beradu dengan ketidakpuasannya. Dan sebenarnya itulah yang kadang memicu kita ‘berperang’ dengan anak-anak kita.

Siang ini setidaknya aku ingin mengajarkan ia berdamai dengan perasaannya dahulu. Memang kadang kita terburu menghentikan rasa marahnya dengan salah : segera memberi apa yang ia minta. Ya, memang ia berhenti, namun dia sedang belajar ‘menjajah’ orang lain untuk menuruti segala permintaan dengan MARAH.

Siang itu setelah ia ‘berdamai dengan kemarahannya’, setelah ia mau mewarnai buku barunya dengan crayon seadanya, barulah kuberikan reward (penghargaan) padanya sekotak pensil warna yang memang tidak mahal...he..he... dan kurendahkan tubuhku lalu kubisikkan padanya : “ Ini untuk anak Umi yang bersyukur dengan pemberian, mau bersabar, dan mau mencari crayonnya...he..he..” Siang itu, aku berdamai dengan Si sulung. Meskipun akan selalu ada lagi ‘peperangan’ dan potensi konflik yang harus kita hadapi sebagai seorang ibu, tho?? Kita hanya harus bersiap untuk berdamai dengan benar dan mendidik.
Ishbir ya, Ummi!

Menyebut Lengkap nama Pasangan

"I love you Robi'ah Al-Adawiyah"...sms itu membuat saya jengah. Diantara hiruk pikuk anak-anak disuatu sore. Sms itu datang sesaat saya 'curhat' pada suami tentang 'kebandelan' anak-anak selama Abi mereka mudik menjenguk mertuaku 2 hari 3 malam ini.Biasa, anak-anak selalu 'menguji kesabaran' terutama jika Abi mereka lebih dari sehari tidak terlihat. Caper gitu..Dan alhamdulillah..sore itu saya lolos (baca : mampu menaklukkan mereka) .he..he..

Kembali ke sms tadi. Mungkin Sederhana.Tapi entah kenapa sms itu menginspirasi saya tentang sesuatu.Menyirapkan perasaan bangga dan PD. Dasar saya, sms yang menurut saya romantis itu tidak saya biarkan begitu saja menjadi 'hanya' konsumsi pribadi karena ternyata ada sebuah 'analisis rasa' yang saya hasilkan.Karena menurut saya ada ibroh dari pernyataan singkat itu. Waduh...

Ya, begitulah. Entah apakah apa yang saya tuliskan ini Anda setujui atau tidak, Anda rasakan atau tidak, tapi satu hal yang sering saya pikirkan bahwa kita terlampau sering 'mengabaikan' panggilan-panggilan sayang, sapaan nama kita. Kita -terutama yang telah berputra- terlanjur menikmati diri kita dipanggil oleh pasangan dengan 'Bunda', 'Ayah', 'Umi', "Abi', 'Bune (heh..he..), mamah, 'Abah' . Atau Abu Maura, Ummu Hania, dan sederet panggilan yang tujuan awalnya 'membahasakan' panggilan itu untuk anak-anak kita. Bahkan, jangan-jangan pasangan kita lupa dengan nama lengkap kita? Nah looo(just kidding) Atau ..kita penganut "apalah arti sebuah nama? Yang jelas semua juga tau dia istriku/suamiku" lha???

Tapi ternyata, sesekali menyebutkan nama pasangan kita dengan nama lengkapnya, memberikan sebuah kesan tersendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan dan mungkin Anda bisa juga mencobanya. Dengan menyebutkan nama pasangan Anda seperti dalam contoh sms diatas atau dalam panggilan khas yang kita peruntukkan padanya, akan membuat pasangan kita -terutama mungkin para istri- merasa dicintai sebagai DIRINYA SENDIRI. bukan sebagai ibu atau ayah anak-anak Anda. Kadang itu perlu. Hal itu meneguhkan perasaan kita dan perasaannya. Seperti halnya mencoba meluangkan waktu 'berdua', mengungkapkan perasaan Anda bahwa Anda mencintainya sebagai seorang perempuan atau laki-laki menurut saya dapat membesarkan hatinya. Sebab kadang seorang individu tetap ingin dihargai sebagai DIRI SENDIRI.

Hiruk pikuk rumahtangga, kewajiban mengasuh anak-anak,kesibukan ditempat kerja, kadang melupakan kita akan hal-hal kecil bermakna besar. Mungkin termasuk mengekspresikan bahwa Anda mencintai seorang laki-laki atau perempuan bernama :................. yang menyebut / disebut namanya disaat akad nikah beberapa waktu yang lalu membuat Anda tergetar! Yang selama ini mendampingi Anda.
Ini hanya catatan kecil, tapi mungkin kita bisa memulai untuk tidak 'jaim' dan merasa 'untuk apa melakukannya?' hanya karena kita telah lama menikah.Ya, bukankah salah satu tanda cinta terhadap sesuatu adalah menyebutkan nama 'kekasih' kita dengan mantap dan tulus? Wallahu a'lam bishawwab...

Menyebut Lengkap nama Pasangan

"I love you Robi'ah Al-Adawiyah"...sms itu membuat saya jengah. Diantara hiruk pikuk anak-anak disuatu sore. Sms itu datang sesaat saya 'curhat' pada suami tentang 'kebandelan' anak-anak selama Abi mereka mudik menjenguk mertuaku 2 hari 3 malam ini.Biasa, anak-anak selalu 'menguji kesabaran' terutama jika Abi mereka lebih dari sehari tidak terlihat. Caper gitu..Dan alhamdulillah..sore itu saya lolos (baca : mampu menaklukkan mereka) .he..he..

Kembali ke sms tadi. Mungkin Sederhana.Tapi entah kenapa sms itu menginspirasi saya tentang sesuatu.Menyirapkan perasaan bangga dan PD. Dasar saya, sms yang menurut saya romantis itu tidak saya biarkan begitu saja menjadi 'hanya' konsumsi pribadi karena ternyata ada sebuah 'analisis rasa' yang saya hasilkan.Karena menurut saya ada ibroh dari pernyataan singkat itu. Waduh...

Ya, begitulah. Entah apakah apa yang saya tuliskan ini Anda setujui atau tidak, Anda rasakan atau tidak, tapi satu hal yang sering saya pikirkan bahwa kita terlampau sering 'mengabaikan' panggilan-panggilan sayang, sapaan nama kita. Kita -terutama yang telah berputra- terlanjur menikmati diri kita dipanggil oleh pasangan dengan 'Bunda', 'Ayah', 'Umi', "Abi', 'Bune (heh..he..), mamah, 'Abah' . Atau Abu Maura, Ummu Hania, dan sederet panggilan yang tujuan awalnya 'membahasakan' panggilan itu untuk anak-anak kita. Bahkan, jangan-jangan pasangan kita lupa dengan nama lengkap kita? Nah looo(just kidding) Atau ..kita penganut "apalah arti sebuah nama? Yang jelas semua juga tau dia istriku/suamiku" lha???

Tapi ternyata, sesekali menyebutkan nama pasangan kita dengan nama lengkapnya, memberikan sebuah kesan tersendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan dan mungkin Anda bisa juga mencobanya. Dengan menyebutkan nama pasangan Anda seperti dalam contoh sms diatas atau dalam panggilan khas yang kita peruntukkan padanya, akan membuat pasangan kita -terutama mungkin para istri- merasa dicintai sebagai DIRINYA SENDIRI. bukan sebagai ibu atau ayah anak-anak Anda. Kadang itu perlu. Hal itu meneguhkan perasaan kita dan perasaannya. Seperti halnya mencoba meluangkan waktu 'berdua', mengungkapkan perasaan Anda bahwa Anda mencintainya sebagai seorang perempuan atau laki-laki menurut saya dapat membesarkan hatinya. Sebab kadang seorang individu tetap ingin dihargai sebagai DIRI SENDIRI.

Hiruk pikuk rumahtangga, kewajiban mengasuh anak-anak,kesibukan ditempat kerja, kadang melupakan kita akan hal-hal kecil bermakna besar. Mungkin termasuk mengekspresikan bahwa Anda mencintai seorang laki-laki atau perempuan bernama :................. yang menyebut / disebut namanya disaat akad nikah beberapa waktu yang lalu membuat Anda tergetar! Yang selama ini mendampingi Anda.
Ini hanya catatan kecil, tapi mungkin kita bisa memulai untuk tidak 'jaim' dan merasa 'untuk apa melakukannya?' hanya karena kita telah lama menikah.Ya, bukankah salah satu tanda cinta terhadap sesuatu adalah menyebutkan nama 'kekasih' kita dengan mantap dan tulus? Wallahu a'lam bishawwab...

Anak Kita: Steril ato imun?

Keputusan kami mengontrak rumah dikawasan pinggir kota Solo membuat orang tuaku dan sebagian kerabat ‘mengeryit’. Daerah itu sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah orang tuaku dan kerabatku. Hanya berbeda kelurahan saja. Menurut sejarah kota ini adalah tempat yang dikenal dengan black area-nya Solo. Meskipun banyak hal telah berubah, namun pengaruh image terhadap sesuatu ternyata begitu hebat.

Tapi entah kenapa aku menyukainya. Hehe meskipun untuk kemana mana aku –sst... yang sampai tulisan ini dibuat tidak bisa naek motor- harus mencapai mulut gang dan bertemu dengan pasar diatas tanggul tempat banyak becak mangkal.

Aku tak ingin bercerita tentang istanaku itu.Aku akan menceritakannya dibagian lain buku ini. Hal yang paling dikhawatirkan oleh orangtuaku sebagai seorang nenek dan kakek tentu saja pengaruh lingkuangan kami terhadap perilaku para cucu mereka. Dua putri balitaku dikhawatirkan terpengaruh dengan anak-anak kampung .

Hmm… kubiarkan anak-anakku bebas bermain bersama anak tetangga. Biar saja. Memang kadang aku terkaget-kaget dengan nada bicara dan kosakata yang hmm…asing dan kadang ada juga kata-kata kasar yang tersangkut dalam memori mereka. Kebetulan anak-anak tetanggaku tidak ada yang benar-benar sebaya dengan sulungku, Maura. Mereka lebih tua usianya.

Bahkan untuk mengkampanyekan memakai sandal saat bermain pun aku harus sedikit bekerja keras dengan terus menerus menegur anak-anak tetanggaku, menggiring mereka mencuci kaki-kaki kecil mereka di kamar mandi rumahku. Dengan perlahan tapi pasti mereka tau : sandal itu berguna untuk kaki mereka. Agar mereka tak terkena kuman dan tentu saja tidak membawa najis dan kotoran jalanan kerumah.

Aku benar-benar merasakan betapa yang benar-benar penting adalah memberikan mereka imunitas untuk bergaul ditengah masyarakat. Bukan mensterilkan mereka dari proses mengenal banyak anak, sifat dan perilaku. Kuakui, kadang cemas menyelinap saat anakku kadang tidak mematuhi aturan kami.
Imunitas pada anak-anak dapat berupa penanaman nilai, proses dan bukan hasil. Sulit memang, sangat sulit. Bahkan akupun masih belum bisa sepenuhnya bersabar menghadapi anak-anak yang bertumbuh.

Imunitas berupa kejujuran akan menjadikan anak-anak kita sportif. Berani mengakui ksalahan kecil maupun besar nantinya. Kehangatan menerima mereka juga akan menjadikan mereka tetap kembali pada kita.

Mungkin, kesalahan kecil yang sering kita –para orangtua- lakukan adalah mencari kambing hitam dengan menyalahkan teman-teman bermain anak-anak kita. Dalam bukunya Bersikap Terhadap Anak (2000), Fauzil dengan sangat adil mengatakan bahwa mencari kambing hitam dengan menyalahkan teman anak-anak kita pada saat mereka ‘nakal’ atau melanggar aturan bukanlah sesuatu yang efektif.

Sebab akar masalah dan kenakalan tak akan selesai. Sebaliknya, anak-anak kita terbiasa ‘menyelahkan’ dan mensterilkan dirinya dari kesalahan atau kenakalan yang sebenarnya iapun turut serta melakukannya bersama teman-temannya.

Akibatnya? Anak-anak yang disterilkan orangtuanya dari proses bergaul (dengan segala kekurangan dan kelebihannya) justru akan menjadi anak yang manja, pengadu, dijauhi teman-temannya karena akhirnya kurang bisa berdaptasi dan egois.

Biar saja proses bergaul dan bermain menjadi hak anak-anak kita. Biar saja mereka memahami bahwa disekitar mereka ada anak-anak yang berbeda-beda, ada orangtua yang berbeda-beda, ada permusuhan, ada perdamaian, ada persahabatan, ada memaafkan setelah pertengkaran, ada berbagi. Yang terpenting, saat mereka pulang kembali dalam rengkuhan kita, suntikkan lagi vaksinasi moral, kehangatan, kesiapan mendengarkan cerita-cerita mereka. Insya Allah…kemanapun mereka bermain, semoga kita para ibunya tetap menjadi tempat kembali yang memberinya bekal lagi bahwa hidup tidak pernah datar dan merekapun siap bertemu, bergaul dengan siapapun tanpa menggadaikan prinsip. Semoga.

Buku Tamu & Profil

 Enam tahun yang lalu seorang pemuda  bernama Hatta Syamsuddin memberanikan diri untuk melamarnya. Waktu itu keduanya masih berstatus mahasiswa. Saat ini,  putri solo kelahiran 15 Mei 1981 ini tengah sibuk membesarkan tiga putra-putrinya yang kecil-kecil ; Kuni Maura Ahna ( 4,5 tahun) dan Salma Haniyya ( 3 tahun) dan Farwah Awwab Hafidz (6 bulan).


Sejak SMA telah aktif berorganisasi, bahkan pernah menjadi Ketua PII wati wilayah Surakarta. Mantan aktifis mahasiswa Fakultas Hukum UNS angkatan 1999 ini bukan nama baru di dunia kepenulisan. Buku pertamanya KENAPA HARUS PACARAN (Mizan, 2004) sukses menggebrak pasar remaja dan menjadi best seller di jamannya. Hingga saat ini, setidaknya enam buku telah dihasilkannya. masing-masing :

1. Kenapa Harus Pacaran - Mizan 2004

2. Diary Pengantin - Syamil 2005 ( kolaborasi dengan Izzatul Jannah - Ketua FLP )

3. How To Get Married - Mizan 2005 ( buku kompilasi)

4. Nggak Sekedar Ngampus ( MVM media 2006)

5. Agar Ngampus Tak Sekedar Status ( Indiva Media Kreasi - 2007)

6. Pacaran Enggak Banget ( Indiva 2009)

 Disela-sela kesibukannya mengisi kajian remaja, menulis dan merawat ketiga putra-putrinya, ia  bersama rekan-rekannya merintis rumah baca dan bengkel kreatifitas anak dan remaja BENIH CENDIKIA.  Sebuah perpustakaan kecil dan manis menempati ruang tersendiri di rumahnya. Setiap hari tak kurang sekitar 15-an anak membaca, belajar dan bermain di dalamnya.  Ini memang cita-citanya sejak dahulu. Saat ini, BENIH CENDIKIA telah berkembang lebih jauh menjadi KPPA (Komunitas Peduli Perempuan & Anak) BENIH, yang mempunyai konsentrasi penuh dalan pemberdayaan perempuan, parenting dan dunia anak remaja.


Untuk peningkatan isi blog ini, mohon kiranya para sahabat bisa berbagi pesan, saran dan kritik di bawah postingan ini. Terima kasih ..

Semua ada Masanya

Suatu hari, tepat diusia ke 28 hari kelahiran anak keduaku aku mulai keluar rumah. Hm..sepertinya tak betah juga terlalau lama berdiam diri. Kami mengunjungi sebuah pameran buku dimana suamiku dan seorang penulis senior yang kuanggap sebagai guru, sahabat, kakak, ada disana sebagai pengisi salah satu acaranya siang itu. Sulungku yang belum genap dua tahun, putri keduaku yang baru 20 hari, mengingatkan peran baruku sebagai ibu dua putri.

Sementara menunggu acara dimulai… aku melihat sahabat seniorku yang akrab kusapa mbak IJ itu bak seorang komandan. Putri-putri cantiknya terus mengintilnya dengan celoteh khas anak-anak. Ya..ya… aku seriing melihatnya membawa serta ketiga putrinya di bebrapa acara. Dan siang itu aku berkomentar tentang anak-anaknya yang mulai tumbuh menjadi gadis-gadis kecil yang menyenangkan.

"Kalau lihat kaya' gini,rasanya udah lupa ya mbak .. capek-capek yang dulu?"kataku
"O…iya.Aku menahan 9tahun untuk bisa beraktivitas lagi.Ada masanya Vid…Aku dirumah sampai anak-anakku bisa kutinggal beraktivitas lagi " begitu kira-kira kata mbak IJ waktu itu.

Hhh…yya.ya.. aku jadi teringat saat aku masih lajang.Dahulu aku selalu berapi-api untuk 'mengoreksi' setiap forum dimana saat itu yang kulihatt hanya 'para ustadz' yang hadir menjadi pembicara. Dimana para ummahat? Ustadzah-ustadzah atau para aktivis yang dahulu meratui kampus….?

Ya..ya…ya.. Kini aku merasakan juga.Tentulah seorang istri tidak dapat disamakan dengan seorang lajang, dan seorang ibu disamakan dengan seorang lajang atau yang belum memiliki putra. Disetiap fase hidup kita ada sebuah kewajiban. Ah..tapi itu bukan lantas menjadi apologi.Setiap orang harus berdaya, apalagi jika jalan dakwah itu menjadi pikihan hidupnya. Inilah sebenarnya kunci dari segala gundah yang sering memantik gelisahku,tentang betapa aku merasa 'tidak melakukan apa-apa' setelah memiliki anak.

Seorang ummahat pernah tanpa sengaja 'mencerahkanku' saat kami berdua mengisi sebuah acara, saat itu seorang akhwat bertanya "Kenapa ya bu setelah menikah banyak ummahat yang tidak lagi muncul" Aaah…mirip dengan pertanyaanku beberapa tahun yang lalu. Dan jawaban ummahat itu…."Semua ada masanya…Hanya satu yang tidak boleh berubah:visi dakwah kita.Ya, dakwah itu seperti energi. Dia tidak pernah hilang, dia kekal hanya bentuknya saja yang berubah…"

Hmm… analogi yang sangat tepat. Seseorang yang mengazamkan dirinya bervisi hidup untuk dakwah maka ia akan tetap dapat memanfaatkan peluang dakwah dalam setiap fase hidupnya, tentu dengan proporsi yang berbeda.

Meskipun sebenarnya ada juga para ummahat dan mantan-mantan aktivis muslimah yang benar-benar 'turun mesin' pasca menikah dan berputra. Mereka cenderung merasa 'cukup' hanya mendatangi halaqah pekanan, atau mungkin juga karena para suami mereka tidak begitu memberi ruang pasca menikah. Padahal..dahulu para suami mereka memilih mereka karena mereka seorang aktivis muslimah. Hayoo ngaku dooong!

Akupun akhirnya merasakan perbedaan itu. Sikapku mengasuh si sulung yang kala itu aku masih 'terlalu idealis' untuk membuktikan bahwa meskipun telah menikah aku harus tetap eksis ternyata memiliki dampak berbeda dengan polaku mengasuh anak keduaku dimana aku sudah bisa merasa seleh untuk menanti saat yang tepat untuk beraktivitas lagi. Bahkan entah ada hubungannya atau tidak, kondisi itu turut mempengaruhi karakter kedua putri ku itu.

Begitulah. Mungkin memang ada masanya kita beraktualisasi diri sebagai seorang muslimah, perempuan atau istri dan ibu. Kesabaran meniti semua fase akan menjadikan kita dapat menikmatinya dan optimal. Yang penting, kita tulus dan tidak pernah merasa cukup untuk belajar apalagi jika kita adalah para perempuan muslim yang 'dibesarkan' dalam atmosfer kecintaan terhadap dakwah. Mungkin perlu juga berkomunikasi dengan pasangan tentang pembaruan-pembaruan cita dan citra diri kita.Agar kita tidak termasuk ummahat 'turun mesin' yang bukan tidak dapat memberdayakan diri namun memang tidak mau menyemangati diri untuk itu. Wallahu a'lam
Faidza faraghta fanshob wa ila Rabbika farghob…..

Jumat, 17 April 2009

Rethinking Kartini : Dari Simbol menuju spirit

Ibu kita Kartini pendekar bangsa
Pendekar Kaumnya, Untuk merdeka..
Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia…….
Sungguh besar cita-citanya untuk Indonesia….

Kartini adalah icon pembebasan perempuan di negeri ini dengan segala kebiasaan orang-orang di negri ini pula dalam memperingati sebuah moment. Tak jarang peringatan kelahiran seorang tokoh, peristiwa sejarah, justru mengaburkan spirit sang tokoh atau hari-hari besar yang diperingati di negri ini. Jamak kita tahu, hari Kartini adalah hari dimana anak-anak sekolah berbondong-bondong pergi ke salon, menggelung rambutnya, memakai kebaya, merias wajahnya, setelah itu berupacara. Atau hari Kartini adalah hari dimana para desainer mengeluarkan rancangan kebaya terbaru, lalu menggelar acara fashion show di hotel-hotel mewah, di mall-mall, dan dimanapun sebuah simbol dapat terus-menerus di uri-uri. Sungguh kasihan bangsa ini jika sering terjebak pada hal-hal glamour tanpa esensi.
Disisi lain, Kartini terlegalkan menjadi sebuah icon ‘emansipasi’ yang pada kenyataannya bergulir menjadi sebuah kesamaan hak yang jauh berbeda dari cita-cita Kartini. Kaum perempuan terjebak dalam iming-iming kapitalisasi tubuh, kecantikan, gaya hidup. Akhlak dan moralitas perempuan justru semakin jauh meninggalkan semangat perbaikan yang diusung Kartini. Peringatan-peringatan simbolis inilah yang sebenarnya menjadikan masyarakat kita justru kehilangan makna sejarah dari tokoh dan moment yang diperingatinya.
Spirit Cita Kartini
Kartini tentu tak ingin hanya menjadi sebuah simbol yang terperingati namun tak termaknai.Peringatan-peringatan hari kartini mestinya menggugah spirit Kartini dalam beberapa bidang yaitu pencerahan spiritual, spirit kepekaan sosial, dan spirit perbaikan mental dan moral

1. Spirit pencerahan spiritual
Kartini adalah gadis Jawa yang mengalami irisan ideologi antara ‘kejawaannya’ dan ideologi transendentalnya: Islam. Kartini dengan anugrah kekritisan mendongkrak kejumudan beragama yang kala itu terwarnai dengan semangat puritanisme jawa dan kelihaian penjajah menciptakan dan memanfaatkan ‘ketakutan-ketakutan’ beberapa kyai untuk mengungkap fakta beragama dan kitab suci agar terlihat sacral dan tabu untuk dipelajari lebih dalam.
Sampai pada akhirnya -dalam banyak versi yang berbeda-Kartini muda menemukan satu pencerahan dari seorang Kyai Demak (ada yang menyebutnya Kyai saleh Darat, ada pula yang menyebutkan Kyai Abudus shomad) yang kala itu menerangkan tentang tafsir salah satu ayat al-Qur’an yang mengandung kata minadh dhulumati ila nuur (dari kegelapan menuju cahaya)-yang oleh Armin Pane kemudian diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang inilah yang kemudian menginspirasi Kartini untuk menggali lagi pemahaman keislamannya, menyingkirkan keraguan dan keapatisannya, menemukan spirit pembebasan dalam kata itu,dia memantapkan visi “dari gelap menuju caghaya” itu dalam dirinya dan menjadikannya sebagai élan vital untuk terus bergerak.
Perempuan Indonesia saat ini semestinya mempunyai semangat yang sama, kembali pada semangat spiritualitas yang mantap, menggali dan belajar memaknai lebih dalam sumber transenden yang mereka yakini, belajar dan terus menggali bahwa agama bukan dogma, tetapi sumber inspirasi hidup yang menjadikan manusia (laki-laki dan perempuan) menjadi lebih cerdas, berenergi dan visioner!

2.Spirit kepekaan social
Kartini semestinya memberikan inspirasi bagi kaum perempuan di negri ini untuk memiliki kepekaan sosial terhadap persoalan-persolan masyarakat disekitarnya. Kartini tergerak untuk memperbaikai masyarakatnya setelah ia mengalami pencerahan spiritual yang luar biasa tadi. Pencerahan ideolgi yang menuntunnya pada realita masyarakat yang miskin, bodoh dan terjajah.
Bukankah sejarah senantiasa berulang? Bukankah kemiskinan, kebodohan dan keterjajahan dalah masalah yang sennatiasa ada dan hanya berubah bentuk dalam masyarakat? Saatnya kaum perempuan berjalan disekitar masyarakatnya, mengamati dan berbuat lebih banyak untuk lingkungannya, memberikan nuansa kesejukan yang berenergi!
Kartini memanfaatkan segala potensi ‘keningratannya’ untuk melakukan perubahan social yang nyata. Inilah mungkin yang menjadikan Kartini lebih menojol dibandingkan para pejuang perempuan lain di negri ini yang boleh jadi sudah menunjukkan aksi nyata pula dalam melawan penjajahan. Bahkan banyak diantara pejuang perempuan yang terjun langsung dalam peperangan, Cut Nya’ Dien misalnya. Namun, mungkin Kartini lebih beruntung sebab segala pemikirannya terdokumentasi, pemikirannya untuk menyuntiikkan semangat ‘melawan penjajahan’ dari sisi pendidikan dan perubahan social mungkin lebih memiliki efek jangka panjang.

2. Spirit Perempuan pembelajar
Spirit ini yang kian pupus dalam diri kaum perempuan.kartini sejatinya tak pernah menuntut sebuah ‘persamaan’ yang berlebihan dalam interaksi lelaki dan perempuaqn. Kartini hanya ingin perempuan memiliki akses belajar dan pendidikan. Sebab dari perbaikan pendidikan dan munculnya semnagt belajar itulah para perempuan memeiliki modal sebagai istri dan ibu yang akan mendidik anak-anak dan keluarganya menuju martabat yang lebih baik.
Kartini memberikan spirit pembelajar yang luar biasa. Semangat untuk mencari informasi, mengakses jaringan, bertanya, mencermati dan menanyakan kepada para sahabat dan guru spiritualnya tentang apa-apa yang tidak diketahuinya dalam beragama, misalnya. Peringatan-peringatn hari Kartini semestinya sarat dengan kegiatan-kegiatan yang bermutu dan mendorong semangat belajar kaum perempuan sebagai apapun mereka. Akses sosial, politik, pendidikan, kesehatan bagi perempuan semestinya dibuka lebar dan dioptimalkan kemanfaatannya.Sebab meskipun semua akses telah terbuka lebar jika para perempuan ogah-ogahan membelajarkan dirinya maka perempuan akan terus menerus merasa ‘tak diberi ruang’. Jika sudah begitu, apakah salah jika lagi-lagi perempuan selalu terstigma tidak dapat professional, kurang wawasan dan menjadi penggembira dalam ranah-ranah public?!

3. Spirit Perbaikan Mental Moral
Perjuangan Indonesia kini semakin kompleks. Problematika moral yang menempatkan perempuan baik sebagai korban atau pelaku kemerosotan moral tak dapat dielakkan.
Kartini pasti tidak mengharapkan perempuan liar dalam kebebasannya, meninggalkan nilai-nilai moral dan tatanan ketimuran. Banyak ranah yang harus diperbaiki dan menempatkan perempuan sebagai lakon yang semestinya dapat mengusung perbaikan moral itu.
Perbaikan diri, keluarga, masyarakat dan negara adalah tahapan paling niscaya dalam sebuah perbaikan tatanan masyarakat. Perempuan-perempuan yang memiliki moralitas tinggi, dedikasi penuh terhadap perbaikan, kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat akan menggerakkan kaum perempuan untuk membenahai diri dan masyarakatnya melalui karya nyata mereka disegala bidang.
Emansipasi tanpa spirit moral hanya akan menjadikan kaum perempuan kehilangan feminin modesty, anugrah alam untuk kaum perempuan atau dalam bahasa sederhananya fitrah. Fitrah memelihara, kelembutan, kepekaan, rasa malu, pengabdian yang tulus, ketinggian budi bukan sebuah ‘kelemahan’ yang tiba-tiba harus diubah menjadi perkasa sebagai wujud ketangguhan. Justru semua itu adalah anugrah alamiah yang dimiliki perempuan sebagai modal berpartisapasi dalam ‘mengelola’ kehidupan. Bukan begitu, kaumku? Selamat hari Kartini!

Wallahu a’lam…