Tampilkan postingan dengan label manajer rumah tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajer rumah tangga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Mei 2011

Lha Emang Ini kerjaan Kita, Kok!

Kamu nyetrika, Da?lha khadimatmu ngapain?” sms dari tanteku di ibukota, kami biasa berdiskusi tentang banyak hal.
“Mbak  Vida kok nyapu halaman, rewangnya gak masuk ya?” selidik tetanggaku saat aku nyapu halaman total sambil nyabutin rumput2
“Lha rewangmu penak nho mbak, pekerjaannya apa kok belonjo , masak panjenengan juga” kata temannya ibuku, ketemu ditukang sayur.

            Hmmm.Sebenarnya pertanyaan wajar, tapi apa salahnya? Bukankah ini rumah kita? Ini masakan untuk keluarga kita? Baju-baju itu juga begitu puas jika kita melihatnya rapi terpakai sang buah hati dan suami dari hasil setrikaan kita? Bukankah semua-muanya di setiap sudut ruang rumah ini awalnya adalah P E K E R J A A N  kita? Amanah kita? Lalu, Rewang, pembantu, khadamat, asisten rumahtangga, atau apalah namanya datang menawarkan jasanya? Membantu sebagian dari pekerjaan kita dan kita mengupahi tenaga dan waktunya? Lalu, apakah orang yang hanya membantu itu tiba-tiba harus mengambil alih semua pekerjaan kita? Lalu kita? Mungkin  keenakan ini yang membuat kita kembali lunglai saat si ART tidak masuk/keluar tiba-tiba.

            Saya sering melihat gambaran kurang menyenangkan tentang pembantu rumahtangga. Dalam sebuah rumah seorang pembantu seperti mesin pekerja yang begitu kelebihan beban. Dari Pagi hingga malam mereka harus bekerja cepat dan beres. Tidak dan tidak untuk kami. Sedari kecil, ibu saya memiliki banyak ’asisten’ atau  pembantu. Dari yang pocokan sampai yang sangat cerdas,loyal dan sanggup melaksanakan apa yang ibu saya mau hanya dengan membaca catatan ibu saya (bahkan hanya saya, mbak Waqi’ah itu dan dua orang lagi yang bisa membaca tulisan latin mamah saya yang kadang masih ejaan lama, wkkk). Tapi almh.mamah selalu berkata pada saya ”mereka hanya membantu, nok. kitalah lakonnya”. Saya masih ingat bagaimana mamah saya menempel banyak tulisan peringatan, peraturan di tempat-tempat tertentu agar tiak banyak omong, katanya.Bahkan sampai kini ada 'asisten' almarhumah mamah saya yang masih sering main kerumah dan tiba-tiba memasakkan saya dengan masakan setara katering, hmmm (yang ini namanya Mbak Parmi) heheh jadi seneng.

            Saat ini banyak keluhan ibu-ibu bahwa khadimat / prt/art/rewang semkain susah dicari. Kalau ada,kadang kerjaan gak beres, kalu masih muda gak terampil, kalau udah berumur susah dikasih masukan. Kalau udah lama ikut, eee...ngelunjak. Astaghfirullah, alamaak. Tapi...apa iya semua semata-mata karena si ART?Jangan-jangan karena kita emang belum lihai berinteraksi sehat dengannya lahir batin hihihi

         Tujuh tahun pernikahan saya sudah berganti sekitar 8 orang prt, termasuk yang terakhir ini-semoga betah-. Dari berbagai tipe saya alami. Dari mulai yang suka klepto, galak dan bahkan kasar sama anak (syukurlaah akhirnya saya memiliki  rasa 'tega' untuk memberhentikannya karena benar-benar sudah tidak dapat saya tolerir), ada yang sakit-sakitan, baik hati tapi gak bisa kerja berat, dll.

Detil is Our Duty, moms!
Syukurlah justru dari mereka  saya mengambil pelajaran bahwa kitalah yang harus benar-benar menghandle hal-hal detil atau tak terpikirkan olehnya, hehe Membersihkan bak kamarmandi sampai bersih dan menggosok lantainya yg kadang licin karena tumpukan sabun, mengurasnya dengan benar, menyetrika baju-baju suami , baju pergi saya dan anak-anak, mengoperasi bersih dapur, kamar anak-anak, mensortir barang-barang, memasak, membersihkan kamar saya, bahkan sesekali mengelap semua perabot dan membersihkan kipas angin disetiap kamar adalah  TUGAS SAYA. asisten saya kadang hanya saya suruh melihat ! ”lihat ibu melakukannya, ros.Lalu jika suatu saat ibu meminta tolong melakukan ini, lakukan dengan begini ya?!” hasilnya saya tidak pernah makan hati dengan asisten, atau lebih tepatnya jarang :).

            Ya,ya, ya. Hal-hal detil tidak mungkin dilakukan pembantu kita. Begitu kata ayah saya pada suatu hari. Betul juga. Kecuali kita mendaptkan yang cerdas, terlatih dan loyal. Dan itu sulit. Dan jika kita tidak mau memendam perasaan sebal, tidak ingin ribut dan sudah berulangkali prt melakukan pekerjaan detil itu dengan ’salah’, maka... kerjakan saja sendiri, bu!

            Ini saya pelajari dan akhirnya saya coba  menikmati. Tidak ada ketergantungan, saat mereka datang kita syukuri sebagai bentuk pertolongan Allah atas pekerjaan rumah yang tak berjeda.Saat mereka tidak datang atau bahkan tiba-tiba keluar tanpa pamit kita juga tidak panik, tinggal sadari saja ’pekerjaan kita kembali kesemula :banyak’ dan pahala kita utuh (hihi gak dibagi ama pembantu soalnya). Yang bisa dikerjakan ya dikerjakan, yang belum bisa yaah tunda dulu gak masalah. Capek istirahat, anak-anak dikondisikan.Dibikin santai. Nyatanya dengan menasehati diri sendiri dan benar-benar meyakini bahwa hal-hal detil memang harus kita yang melakukan, saya merasa lebih baik. Kini saya mempunyai asisten yang masih remaja, yaah memang masih harus selalu mengingatkan tapi saat saya sudah malas menegur dan contoh-contoh saya ’lupa’ dikerjakannya. Lakukan sendiri! Contoh lebih mengena, dan biasanya si dia (ART) cengar cengir dan merasa salting. Jadi mulailah menyadari bahwa detil is our duty.
Apakah hal-hal detil yang tak terpikirkan oleh ART kita itu?Tunggu saja catatan berikutnya.Okay emak-emak semangat!!

Senin, 25 April 2011

Visi Memasak!

Judul yang aneh ya? Mungkin. Ini salah satu kalimat suami pada saya suatu hari. Saat saya seharian sepertinya tidak ada ‘tanda-tanda’ untuk memasak. Alias, Cuma beli lauk. Maka beliau bilang “Kayaknya umi nggak punya visi memasak hari ini” Saya bukannya marah, malah senyum senang (dapat judul bagus tuh)Mmm… lalu jadilah itu sebuah judul yang mengingatkan saya awal mula saya justru memiliki ‘visi’ untuk tidak terlalu ‘kesenengen’ saat suami bilang udah kita beli lauk aja.

Bingung? Iya, saya juga. Hihi. Biasa kalu menulis pas gak dapet intro yang manis beginilah akibatnya. Padahal entah kenapa hari ini saya sangat ingin menulis tentang ini, terutama saat  pagi tadi suami saya yang baik hati itu, memudahkan saya untuk ‘tidak usah masak’ hari ini mengingat saya yang agak kurang fit dan asisten tidak  masuk.Oke begini saja kita memulainya…

Saya ini orang yang sangat ‘tahan lapar’. Saya bisa berjam-jam melakukan aktivitas hanya dengan modal wedangan pagi dan snack pagi hari. Sarapan saya tidak teratur, dan mungkin juga ini akibat sugesti dari almarhumah mamah saya bahwa kebutuhan ‘sarapan’ saat kami masih kecil-kecil dahulu, cukup dengan minum susu, roti tawar atau gabin, lalu berangkat sekolah,atau kalau mau ulangan kami juga makan telur setengah matang hihii.dan dengan sugesti seorang ibu saya selalu percaya diri dengan sarapan yang tidak harus nasi itu.

Nah, maslah muncul saat saya menikah. Suami saya seorang yang sangat tertib (mungkin begini pengaruh dibesarkan di keluarga PNS, hihii piss ^_^V ) beliau sangat tertib sarapan pagi jam 7 ! Padahal saudara-saudara… mamah saya sangat hobbi masak dan telaten. Lha, mungkin karena saya yang tahan lapar itulah maka sinyal untuk   memasak saya tidak terlalu kuat saat mahasiswa.

Sampai pada suatu hari, saat suami saya yang merantau di negri orang  dan pulang , mengontrak dan mendapati ternyata istrinya belum terlalu peduli untuk urusan perut (hihi) dengan sangat jujur dan sedikit menyindir (terimaksiiih ya Rab..) suami saya bilang “Umi, kayaknya umi pengen kita semua tahan lapar kayak umi ya?Hm.atau cukup kita beli lauk terus ?” Wha???? Malu saya. Bukannya saya tidak pernah masak, tapi sungguh mungkin memang saat saya awal-awal ngontrak sendiri, saya seperti malas melangkahkan kakii belanja apalagi kalo udah siang, trus masaknya Cuma asal ada sayur, lauk gitu aja (bahkan sambal kesukaan suami saya serig lupa)

Sejak saat itu saya berlatih untuk masak dengan senang hati, apalagi saat anak mulai nambah, kesadaran akan kebutuhan nutrisi mereka membuat saya tidak lagi bisa coba-coba dan asal masak asal ada lauk. Termasuk kehadiran teknologi dikeluarga kami, membuat saya ‘tertantang’ untuk bisa mencoba banyak resep. Visi memasak.Ya, visi menjadikan kita mampu melampaui keterbatasan dan kemalasan. Termasuk malas belanja, malas masak atau mungkin ada yang malas bau amis dan malas menyiangi sayur? (kalau ini nggak banget deh).

Kini saya memasak bukan lagi karena takut dan malu disindir suami, atau kalau dulu saya memasak dengan alakadarnya, kini saya memasak dengan penuh spirit kesadaran (ceiyeee ).Saya memasak bukan karena kewajiban, karena kita memang tidak  wajib masak, tapi wajib memberi makan anak-anak hehee .Nah…apakah kita memberi makan dengan memasak atau njajan, itu pilihan. Dan silakan pilih yang lebih mencerdaskan dan sehat.

Kini saya memasak karena saya peduli. Mungkin saya bisa tahan lapar, toh habis masak juga biasanya malah kenyang.Tapi anak, suami, pembantu? Makanya saya tidak menyerahkan urusan masak pada pembantu agar saya tidak malas.Kini  Saya memasak karena saya tidak mau kelak anak-anak saya terutama yang calon ibu tumbuh menjadi gadis aneh dan sok modern  yang berkata “ah, ngapain masak, ibuku aja tinggal beli, praktis. Ah, aku nggak pernah tuh suruh ke dapur”. Saya kini memasak karena saya ingin anak-anak saya tidak akrab dengan restoran siap saji.Apakah saya dan suami pelit dan gak pernah mengajak mereka makan diluar ?Hehe jangan salah, saya dan suami adalah penikmat traveling kuliner.Tapi visi memasak membuat saya ‘menikmati’ makan diluar dengan merasakan bumbu-bumbunya, dan mencoba memasak makanan yang sama dirumah. Hasilnya? Cukuplah si sulung dan ayahnya bilang ‘enak’ berarti lulus!

Kini saya memasak karena saya ingin anak-anak saya percaya bahwa apa yang disajikan uminya adalah yang terbaik dan sehat. Pernah suatu hari saya coba-coba membuat pizza dengan bahan topping seadanya. Dan tanpa sengaja dua putri saya mengobrol “Umi kita hebat ya kak ya?Umi bisa bikin apa-apa yang kita pengin.Daripada beli”  jawab kakanya “Iya, umi kita pengen kita sehat, hania..Kata Umi  kan semua bisa kita buat sendiri” saya sempat terharu mendengarnya, dan menjadi lebih bersemangat. Ya, saya memasak karena ingin mengasah kreatifitas dan mengajarkan anak-anak hal yang sama. Terakhir, saya memasak karena saya ingin anak-anak saya terbiasa makan apa yang telah dihidangkan, tidak memilih-milih makanan  yang akhirnya menjadikan mereka anak-anak yang sulit makan. Ok, selamat menumbuhkan visi memasak, ya!

Sabtu, 09 April 2011

Keluar Rumah Tanpa Resah

Pernah melakukan aktifitas diluar rumah dengan ‘resah?’ Jujur saya akui, Saya pernah. Saya keluar rumah sementara saya merasa bersalah karena meninggalkan anak-anak saya tanpa persiapan yang prima. Masak seadanya, perasan ASI saya tidak optimal, sementara saya sudah dijemput untuk mengisi acara. Apalagi saat pertamakali saya mengontrak rumah dan saya masih gagap mengatur waktu. Saya memang tidak bekerja diluar rumah yang menghabiskan waktu lebih dari enam jam diluar rumah. Sayapun bukan pegawai sebuah perusahaan manapun yang pulang disore hari. Saya hanya keluar rumah untuk urusan aktifitas social dan dakwah. Tapi, tetap saja, keluar rumah tanpa persiapan akan menjadikan sebagian hati kita terasa terburu dan ketenangan kita terganggu.
                Oya, mari kita sepakati terlebih dahulu bahwa dalam tulisan ini, persoalan tujuan kita keluar rumah dan keridhoan suami  atas keperluan kita diluar rumah sudah selesai. Artinya, kita memang keluar rumah insya Allah tidak untuk bermaksiyat dan suamipun ridho. Persoalannya , kita adalah panglima untuk ‘pasukan’ kita (anak-anak dan pembantu) serta  manajer untuk rumahtangga kita. Maka, mari kita pastikan bahwa rumah kita dan pasukan kita dalam keadaan aman terkendali selama kita diluar rumah. Saya pun masih selalu belajar, namun setelah tujuh tahun menikah dan sedikit demi sedikit belajar bersama suami, pembantu dan anak-anak kami, saya menemukan beberapa pola dalam mengasuh anak-anak dan memenej rumah, termasuk agar aktifitas diluar rumah kita tidak mengabaikan hak-hak anak-anak dan tidak menerbitkan kemrungsung. Bismillah, mari kita mulai!
1.Menyampaikan Tujuan Kita dengan Tepat
                Anak-anak harus mengerti aktifitas kita dan manfaatnya. Saya biasa mengajak anak-anak berdiskusi dan melibatkan mereka dengan perbincangan-perbincangan yang memancing mereka berpendapat. Saya ibu rumahtangga yang tidak bekerja diluar rumah, maka saya benar-benar tekankan pada anak-anak bahwa jika uminya keluar rumah maka pasti ada keperluan yang penting. Saya sering katakan pada mereka  “umi punya banyak waktu bersama kalian dirumah.jadi kalau umi pas pergi, insya Allah itu benar-benar ada perlu.Umi mungkin belanja, berbagi ilmu dengan oranglain, pengajian dan keperluan lain.Jadi kalian bisa ya bersabar dirumah?” Saya pun mulai mengenalkan fadhilah atau keutamaan membagi ilmu pada oranglain, mendatangi majelis ilmu dan apapun aktifitas saya.Mungkin terkesan serius tapi tak apa, bagi saya anak-anak akan memahami kita hanya jika mereka dimengertikan
                Hidari pemahaman yang salah pada anak. Misalnya, untuk orangtua yang bekerja, saya sering mendengar kalimat yang akan menjadi boomerang begini : “Ayah/Ibu bekerja untuk cari uang, nanti kan kalu udah dapat uang bisa untuk beli mainan buat adek/kakak, Ya? “ atau “Ibu pergi dulu ya, gak usah nangis nanti kalau ibu pulang kan ibu bawakan oleh-oleh?”   Apa akibat dari dua pernyataan itu? Anak akan salah memahami bahwa bekerja hanya untuk cari uang dan beli mainan.Anak juga akan merasa ‘harus’ dibawakan oleh-oleh saat ayah/ibunya keluar rumah. Bagaimana?Mari mulai belajar menyampaikan pemahaman yang benar pada anak-anak ya bund, ayah!
2. Mempersiapkan Kebutuhan Anak dan Suami
                Kita-perempuan- diberi anugrah alam/fitrah  (Ratna mengawangi menyebutnya female modesty) untuk melayani, mengayomi dan mampu melakukan banyak aktifitas sebagai istri dan ibu. Naluri bertanggungjawab inilah yang harus kita penuhi. Persiapkan kebutuhan anak-anak dan suami sebelum kita keluar rumah. Mungkin ini akan sangat terasa bagi kaum perempuan yang berkarier diluar rumah.
                Saat saya mempunyai agenda keluar rumah diatas satu jam, maka saya harus menyiapkannya seprima mungkin. Dan itu saya awalai dengan bangun lebih pagi! Jika saya keluar rumah pukul 8, misalnya maka saya akan berusaha bangun pukul 3.30 dini hari.Dan sejak jam itu sampai dengan asisten rumahtangga saya datang,  Saya mencuci, memeras ASI (terutama saat masih member ASI ekslusif)menyicil menyapu rumah, menyiapkan seragam atau baju kerja anak-anak dan suami, menyiapkan bahan sarapan atau memasak satu sayur untuk seharian hehe, mencatat apa yang harus dilakukan asisten, memandikan anak-anak yang akan sekolah. Nanti saat asisten saya datang, dia tinggal memandikan anak bungsu saya dan saya bersiap.Atau jika hari libur,maka saya melonggarkan waktu mandi pagi. Persiapan tersebut melegakan saya.Setidaknya saya tidak membiarkan anak-anak kelaparan saat pulang sekolah.
3. Mendelegasikan Pekerjaan dengan Tepat Selama di Luar Rumah
                Saya memang sangat membutuhkan asisten rumahtangga terutama untuk menjaga anak-anak saya selama saya melakukan aktifitas luar rumah. Maka sejak awal saya tidak membebankan semua pekerjaan rumah pada pembantu (khadimat). Saat haru s pergi, Saya memberikan tugas yang focus pada khadimat saya, yaitu menjaga anak-anak. Apalagi jika semua anak terpaksa saya tinggal dan kita hanya punya satu asisten. Itulah sebabnya saya mengerjakan beberapa pekerjaan rumahtangga, sebelum keluar rumah, agar selama saya pergi khadimat saya focus menjaga anak-anak
                Jika kita bekerja seharian, lebih baik kita memberikan catatan pada khadimat, apa yang harus dikerjakannya dan yang harus dilakukannya dengan anak-anak. Jika asisten sudah terbiasa, maka kita hanya tinggal mengeceknya. Jangan membebani khadimat dengan hal-hal yang belum mampu ia kerjakan atau membebani terlalu banyak pekerjaan.
4. Tetap Menjalin komunikasi
                Komunikasi hangat dengan anak-anak  menjadi hal yang paling melegakan. Jalinlah komunikasi dengan anak-anak dan khadimat selama bepergian. Tidak usah terlalu sering tapi cukup mengingatkan jam-jam makan, mandi, sholat atau sekedar say hello. Komunikasi juga akan memberikan kesan dekat dan akan membuat anak-anak merasa diperhatikan.
                Bagus juga saat kita pergi, sesekali kita memberi aktifitas yang prestatif dan kita tanyakan saat menelepon.Apakah itu berbentuk pekerjaan ringan (membantu mbak, membereskan mainan, menjaga adek), ataukah sikap positif (tidak bertengkar, makan dengan tertib,sholat,) atau sekedar mewarnai, membuat kreatifitas dari play dough yang akan mereka tunjukkan pada kita. Berikan reward kejutan.Tak harus mahal.Bahkan saya kadang hanya member reward pelukan atau memasang karya mereka dikamar kami, itu membanggakan.
5.Tetap Bersemangat dan Ceria saat Kembali Pulang
                Bekerja atau beraktifitas beberapa lama diluar rumah pasti melelahkan.Tapi, mari kita tetap antusias dan bersemangat saat masuk rumah. Segera peluk anak-anak,  segeralah bergabung dengan mereka, tanggapi dulu cerita mereka yang pasti sangat bertubi-tubi hehe. Jangan memasang wajah lelah, apalagi mengatakan “ah, nanti saja ya, ibu capek nih” . Kitalah yang harus membayar kerinduan itu. Jika anak-anak telah kita sambut dan kita perhatikan, minta waktu pada mereka untuk sholat, mandi,atau beristiraat sejenak. “ Oke, gimana kalau Umi mandi, ganti baju, sholat, nah nanti kita lanjutkan ya main-mainnya?” Lalu, kembalilah merengkuh mereka. Ya,ya,ya…mereka sudah sangat bersabar menanti kita bukan?
Begitulah. Semoga apapun aktifitas sarat manfaat diluar sana yang kita jalani, memberikeberkahan.Semoga kita masih tetap dapat memberikan hak anak-anak kita.Agar kita menjadi orangtua yang senantiasa dirindukan. Salam inspiratif!

Kamis, 25 November 2010

Sebulan Tanpa ‘Budhe’: Rupa-rupa Hikmah


            Sudah sebulan  ini kami tidak lagi memakai asisten rumahtangga (prt, khadimat, etc). Kami biasa memanggilnya ‘budhe’. Keputusan yang lumayan perlu adaptasai setelah selama satu setengah tahun ini bersama beliau. Banyak kebaikan dan loyalitas beliau yang masih selalu saya ingat. Tapi memang, ada beberapa hal prinsip yang akhirnya membuat saya sedikit terpaksa memberhentikannya. Selain karena SWOT saya atas manfaat dan mudhorotnya ternyata tidak lagi imbang, saya juga merasa hubungannya dengan anak-anak sudah tidak lagi sehat, plus keluhan sakit yang sering ia lontarkan secara ‘halus’ dan sering pula ia seolah menolak jika harus berhenti secara sukarela padahal saya sering merasa beliau tak lagi nyaman ( mungkin dalam 6 tahun pernikahan saya ganti khadimah 5 kali, jadi udah hafal tanda-tanda mereka udah gak tune in) hehe. Jadi sedikit curhat nih critanya. Well, pun begitu saya benar-benar seolah terlahir kembali.

Ya,ya,aya memang capek karena pekerjaan istri dan ibu itu 24 jam. Tapi sepenggal inspirasi dari seorang sahabat saya yang juga penulis, Jazimah al-Muhyi membuat saya merasa mampu menjalani ini. Apakah saya sesabar Fatimah Az-zahra yang meminta Rasulullah memberinya khadimah? Belum. Saya masih sesekali bersuara tinggi saat anak-anak benar-benar tak lagi bisa ditegur  dengan nada do re mi fa sol ( sebutan saya untuk ‘tahapan’ nada suara menegur anak-anak, agar tidak segera marah). Bahkan saat ayahanda saya tau saya tak lagi punya khadimat, beliau berkata : “Allah ingin kamu jadi ibu yang sebenarnya”. Subhanallah . Begitupun komentar suami saya, “Umi akan lebih mantap menyampaikan kajian-kajian parenting dan kerumahtanggan, kemuslimahan. Umi akan lihat hasil didikan umi yang sebenarnya ya saat kita tidak ada pembantu. Tapi kalau umi mau tetap cari, silakan.Abi Cuma tidak ingin umi kecapekan dan akhirnya mempengaruhi emosi. hehe” Subhanallah, saya pun akhirnya memilih tidak pake dulu kecuali mungkin sesekali memanggil pocokan ( khadimat paru waktu yang tidak tiap hari) untuk membantu membersihan rumah total atau menyetrika. Dan beberapa hikmah itu ingin saya bagi disini, boleh ya?!

Satu : Saya menjadi satu-satunya ‘model’ untuk anak-anak saya
Ya, ya.. saya merasa 1,5 tahun ini anak-anak sering mengadopsi beberapa akhlak yang kurang pas dari si ‘budhe’. Memang, saya juga bukan manusia sempurna. Namun target-target pengasuhan anak yang saya harapkan sepertinya mulai jauh. Mereka mulai sering bicara keras, ogah minta maaf (krena kata pengasuhnya: udah, gak perlu minta maaf udah dimaafin, walah. Atau: ah kalian banyak omong , saat anak-anak bercerita atau mengemukakan pendapat )Hff.. dengan menghandle sendiri anak-anak, setidaknya saya tidak lagi bisa mencari kambing hitam atas prilaku buruk anak-anak. Saya pun berusaha dan terus belajar agar saya menjadi ‘model’ dan contoh yang baik. Anak- anak juga mulai bisa kembali pada aturan main. Memang masih harus terus dilatih, tapi setidaknya saya merasa lebih hati-hati dengan ucapan dan prilaku saya, Insya Allah, amin.

Dua : Saya Belajar memberdayakan anak-anak saya

Salah satu yang saya yakini dari sebuah proses mendidik adalah menjadikan anak-anak kita mampu memberdayakan dirinya dan terampil dalam lingkungan. Tanpa asisten rumahtangga saya menjadi belajar memaknai kehadiran mereka yang luar biasa. Saat kesadaran bahwa mereka adalah-anak yang luar biasa dan hebat itu kita tularkan pada mereka, kita ungkapkan, maka kita dapati mereka menjadi anak-anak yang siap membantu dan dengan senang hati mengerjakan tugas-tugas sederhana. Pemberian tanggung jawab itu yang menjadikan mereka merasa seperti ‘orang dewasa’.

            Saya masih ingat sejenak setelah pengasuhnya berhenti dan saya katakan ” Kita sudah tidak punya pembantu, budhe istirahat. Jadi...umi akan kerjakan sendiri semua pekerjaan rumah...” Eee.si sulung tiba-tiba nyeletuk

” Umi... pembantunya Umi ya anak-anaknya ini.Aku bisa bantu umi gantiin celana adek kan kalo ngompol” saya langsung terharu! Saya tidak menyangka kalimat itu muncul dari anak yang hampir lima tahun. Spontan kami bertiga (Saya, Maura dan Salma) berpelukan. Dan kamipun mengucapkan password kesukaan kami : karena kita bersaaatuuuu. Indah. Lagi-lagi ini pun perlu pembiasaan. anak-anak hanya perlu dijaga moodnya, dipuji kelebihannya, dipercayai, maka kita akan dapatkan ketaatan mereka. Suami saya sering mengingatkan saya tentang hal itu saat saya mulai jenuh dan bahkan sudah mulai bernada tinggi.hehe

Tiga :Saya Belajar Memenej Waktu
Ini yang bener-benar membuat saya kadang terengah-engah. Hihihi. Jujur, saya bukan tipikal orang yang runtut dalam mengerjakan sesuatu. Tapi subhanallah... tanpa khadimat saya jadi punya radar bahwa saatnya ini, saatnya itu, jangan menunda, jangan menumpuk pekerjaan. Maka sayapun memanfaatkan segala teknologi untuk menimba ilmu memenej waktu. Dari tulisan-tulisan teman, dari web, dari tanya-tanya. Hasilnya lumayan meskipun kadang masih ada yang tertunda terutama setrikaan dan kadang memasak juga agak keteteran karena si Farwah udah mulai butuh pengawasan serius  kalau tidak mau dia merayap sampai kamar mandi! haha. Begitupun belanja yang sebelumnya bisa diantar suami ke pasar tiga hari sekali dengan meninggalkan anak dirumah, kini saya harus terbiasa belanja seadanya di warung terdekat dan membawa bayi saya sekalian jalan pagi .sesuatu yang sejak lama jarang saya lakukan,

 Saya pun harus rela bangun lebih pagi agar lebih bisa melakukan banyak hal. Atau tidur malam lebih awal dengan mengeloni dan membacakan cerita untuk  anak-anak kemudian bangun lagi dan mengerjakan beberapa pekerjaan (terutama beberes  dan ngepel agar esok pagi lantai rumah siap lagi jadi arena bermain ). Saya belum begitu berhasil tapi setidaknya saya mulai bisa menghargai waktu untuk lebih produktif.

 Empat :. Saya Belajar Kreatif Mengerjakan Banyak Hal

Saya sejak lama mengamati dan mensyukuri bahwa perempuan adalah makhluk hebat. Biar kata ’hanya’ diberi satu akal dan 9 perasaan hehe, tapi itu semua dapat dipergunakannya untuk melakukan banyak hal. Apalagi kalau akalnya pas ’jalan’ dan perasaannya pas sehat dan  penuh optimis, maka Perempuan dapat melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu!

Menghandle pekerjaan rumah sendiri membuat kita kreatif dan peka. Kita selalu ppunya cara untuk menyelesaikannya. Anak nangis bersamaan, saya pake cara shabat saya, Jazimah dengan meninggalkan mereka sendiri dan keluar dari arena konflik (kalo kasusnya bertengkar) lalu ngadem, ternyata mereka jadi bisa menyelesaikan maslah mereka. Saya juga jadi penuh inisiatif. Beberes ini di hari ini, bersihin dapur total dihari ini, dan semua hal kreatif ternyata dapat sedikit mengalihkan capek. Apaka saya selalu bisa? Hahaa tidak juga. Anak-anakpun jadikreatif. Ikut memotong sayur sementara saya menggoreng ikan, walaupun dengan potongan yang sebisanya, toh sangat membantu. Termasuk saya jadi kreatif membuat mainan-mainan dari barang-barang seadanya.

Lima : Saya Jadi Lebih Sering Bermain dan Berkreasi Bareng anak-anak

Saat ada pembantu, saya menetapkan pukul 9 pagi sebagai ’jam kerja  saya’ saya menulis, atau melakukan kegiatan diluar rumah. Komputer menyala dari jam 9 pagi dan kadang saya biarkan menyala karena anak-anak pulang sekolah. Bahkan saya kadang hanya bersay hello dengan bayi saya sebentar saja. Meskipun tugas memandikan dan menyuapi tetap saya. Akibatnya? Anak-anak sering bermain dengan pengasuhnya. Dan semakain lama ternyat ada efek  yang membuat hati saya tak berkenan.

Kini saya merubah jam-jam aktifitas saya. Saya turuti permintaan kak maura untuk tidak menyalakan komputer dan internet jika mereka tidak tidur atau mereka sedang sekolah. termasuk, karena Haniyya hanya sekolah 2hari sekali maka saya pun off dari komputer saat dia dirumah.

Selama sebulan ini saya banyak membari kesempatan bermain dengan anak2. Meskipun-jujur- saya pun masih sering bercuap-cuap agar mereka juga nurut aturan, membereskan mainan, dan merapikan mainan yang terdahulu sebelum pindah mainan lain.Walhasil saya jadi ‘bermain lagi’. Saya mengajari anak2 ‘engklek’, ‘ meronce’, mengajak masak, membiarkan mereka bermain semprot air, dan mengajak mereka menciptakan puisi dan mengubah lagu. Saya menemukan lagi rasa yang dulu ibu saya pernah menceritakan pada saya : “kamu akan menjadi perempuan bahagia saat melihat anak-anakmu tumbuh dalam dekapanmu. Sabarlah karena saat itu hanya sebentar”
 
Enam : Saya Sedang Belajar Untuk Ikhlas
Saya bukan orang yang bisa berbasa-basi. Siapa yang tidak merasakan capek menjadi ibu rumahtangga? saya tidak membayangkan yang masih ditambah bekerja diluar rumah. Saya bukan tipe istri dan umi yang cukup ’sabar’ dalam artian mampu menahana emosi negatif. Meskipun aku sudah dikit-dikit praktek melepaskan emosi negatif dengan lebih ’cool’ toh aku masih kadang ’iri’ mengapa suamiku dapat sejenak  terlelap sepulang kerja? huuuh. tapi sebuah ucapan suamiku yang singkat, padatm jelas dan membuatku tersipu adalah : ”umi, tidak ada yang menafikan semua pekerjaan umi. Kita sama-sama bekerja berat tiap hari.Di jalan itu punya kelelahan sendiri. Bedanya, abi tidak pernah mengeluh dengan segala tugas dan kewajiban abi sebagai suami. hehhe” Glek!

Ya,ya,ya. Saya belajar untuk memaknai keikhlasan lebih sering. Meskipun sekali lagi, saya MASIH BELAJAR. Saya hanya perlu terus menancapkan tekad bahwa Allah akan melihat segala amal kita dan kita diberi banyak

Tujuh : Saya Tidak Lagi Tertekan
Saya merasa menjadi ’new mom’ . Saat saya berinteraksi dengan khadimah saya yang terakhir ini, begitu banyak tekanan pikiran dan perasaan. Saya bebasa menentukan semua target dirumah. Seacra fisik memang capek. Tapi hati dan pikiran saya lumayan bebas. Saya bebas membuat ’acara’ dan bagaimana cara membereskan rumah. Saya tidak harus berulangkali menegur dan menahan napas (karena udah nyerah, negur berulangkali). Saya menurunkan standar saya tentang hal-hal idealis yang belum saya capai. Saya tidak lagi tertekan karena volume keras budhe yang kadang membuat anak-anak saya meniru. Pfff..intinya saya kembali menjadi ’kepala urusan rumahtangga’ di negara kedaulatan saya dan suami hihihi

Delapan : Saya Belajar Tetap Menjadi Ibu ’Aktif dan Produktif’
Saya pernah ’sesumbar’ –semoga diampuni Allah- bahwa saya tidak akan ’turun mesin’ setelah menikah dan punya anak. Artinya, meskipun tentu tidak lagi sama saat lajang, tapi saya tidak mau ketinggalan dengan aktifitas produktif. Idealisme memadukan ranah domestik dan publik membuat saya –memang- harus rela bangun lebih awal dan tidur lebih sedikit. Saya menancapkan azzam(tekad) bahwa saya harus tetap menyempatkan membaca apa saja yang bermanfaat (satu halaman buku atau satu dua artikel dalam satu hari ), saya harus komitmen menjaga stamina menulis dengan menulis catatan di facebook atau posting blog, saya harus tetap mengisi kajian atau mendatangi kajian rutin pekanan, saya harus bisa berinteraksi dengan tetangga dan masyarakat saya. Saya sedang belajar, ya, b e  l a j a r.

            Memang, saya tidak lagi bisa pergi ‘sorangan wae’ saat mengisi kajian atau acara diluar rumah. Saya harus membwa minimal anak terkecil –karena kakak2nya kadang ikut tanteku- saya harus menyiapkan bekal, ASI perah dan mampu menjaga stamina. Tapi toh saya enjoy. pernah suatu hari saya membawa si Farwah mengisi kajian di kampus UNS, semua mata melihat padaku. Mahasiswa, dosen, karyawan menatap aneh bahwa pembicara bedah bukunya bawa anaka dan tas bayi yang besar. Ternyata setelah hampir lima tahun tidak begitu (terakhir saya lakukan saat maura berumur 5bulan) saya bisa dan bayi saya pun dapat bekerjasama.

Sembilan : Saya Belajar Membuat Prioritas dan Bargaining Saat harus Mengisi Acara di Luar rumah
Ini yang harus saya terima dengan legawa. Saat tidak ada khadimat dengan tiga anak seperti sekarang saya harus mampu membuat prioritas. Suami saya pun akhirnya memabantu saya ’menegaskan’ untuk membuat prioritas dengan membuat aturan jika saya harus mengisi kajian atau acara diluar rumah yang dimulai pk.08.00 maka saya sudah harus kembali kerumah sekitar pk.11.00 dan itu berarti saya harus membuat bargaining dengan panitia yang biasanya ’molor’.

Saya mulai belajar  berkata ”saya hanya bisa sampai jam11.00 jadi tolong tepat waktu ya mbak, gimana?” atau saya mulai terbiasa berkata ”Maaf, saya tidak bisa karena hari itu saya sudah ada acara keluar rumah, saya tidak bisa membuat acara dua kali dalam satu hari” atau ”Saya tidak punya acara hari itu, tapi saya izin suami dulu,ya!” atau  ” maaf, saya harus membawa bayi saya, apakah ada panitia yang bersedia membantu saya selama acara berlangsung?”  terus terang itu semua membuat saya belajar berkata tidak atau belajar membuat keputusan yang ’save’ untuk semua. Pernah saya keluar rumah dengan perhitungan waktu yang meleset dan saya menyesalinya karena ada hak suami dan anak-anak yang terabaikan hari itu.

Selain itu, saya mulai mengenalkan pada dua putri tertua saya bagaimana sikap yang sebaiknya mereka punya saat harus ikut acara ’serius’ bersama saya. Misalnya saya akan mengkondisikan mereka tidak merusak konsentrasi oranglain, membawakan mereka bekal,baju ganti,  alat gambar, buku, kertas lipat,gunting , lem dsb  hehee. Ternyata anak-anak semakin paham juga kalao kita libatkan

Sepuluh : Saya Kembali Bertawakkal Pada Allah
Diatas semua hikmah, saya menempatkan ini di penutup meskpun inilah justru yang utama. Sekedar info, sejak menikah dan memutuskan mengontrak, saya telah berganti 5 khadimat dalam jarak 4bulan sekali. Baru yang terakhir ini ikut lama banget 1,5 tahun. Saya justru merasa selama ini mungkin ’terlena’. Saya mengambil hikmah bahwa tanpa khadimat, saya kembali bertwakkal pada Allah bahwa Allah akan menurunkan pertolongan. Ketergantungan saya pada Allah jadi semakin tebal karena benar-benar pertolongan Allah itu dekat.

Apakah pertolongan Allah itu hanya sekedar mengirimkan pembantu pengganti? Tidak selalu. pertolongan Allah itu dapat berwujud dengan anak-anak yang seharian kadang bisa nuruuuut banget, atau berujud dari terjaganya kesehatan anak-anak, kesabaran suami, kadang pertolongan itu berwujud dari kesiapan kita untuk menerima ’kehirukpikukan’ dan keberantakan dengan lapang dan sabar. Kini saya hanya sesekali memanggil orang untuk membantu menyetrika saat saya sudah benar-benar lelah, dengan niat tetap menjaga stamina hehe

Sungguh, saya pun masih  berencana kelak punya khadimat/pembantu yang bisa saya ajak mendidik anak-anak saya dan mengatur rumah. tapi tidak sekarang. Mungkin ini saatnya saya mendidik dan menempa diri saya bahwa menjadi istri dan ibu itu adalah kesempatan untuk memohon pertolongan Allah dan membuktikannya saat letih dan lelah menandak-nandak ditubuh kita dan benar-benar tidak ada yang menolong selain Dia. Semoga menginspirasi!          

Senin, 01 November 2010

Apa Yang Sebaiknya Ada di Lemari Dapur dan Kulkas Kita ?



            Ini catatan  ringan aja. Pengen berbagi buat temen-temen yang mungkin sibuk kerja dan atau buat mamah-mamah muda yang pengen berusaha ‘bikin apa-apa’ sendiri. Daripada beli jajan diluaran dan bahan-bahan ‘persiapan’ kala hujan dan anak-anak merengek pengen sesuatu. Atau…. saat anak-anak uring-uringan , mungkin memasak bersama bisa meredakan emosi.
            Gak semua bahan-bahan ini ada didapurku sob, cuman memang kuusahakan ada biar kalau pengen bikin apa-apa siap. Yuk mulai
  • Aneka Tepung
Aku suka beli macam-macam tepung. Terigu protein sedang (segitiga biru) untuk macam-macam gorengan dan kue, tepung sagu untuk campuran membuat bakso atau dibuat bubur, tekstur dan fungsinya mirip dengan tepung  tapioka atau kanji. Sssst..tepung kanji ini juga berguna saat lem kertas habis hihihihi tinggal bikin lem untuk main  tempel2 an
Tepung Maizena  ada juga. Tepung lembut ini berguna untuk membuat vla, bubur bayi dan campuran membuat kue kering agar teksturnya lebih lembut
Tepung Beras untuk bikin aneka penganan seperti bubur sumsum, nagasari atau untuk campuran bikin adonan saat bikin gorengan bersama si terigu dan kanji.
Tepung Roti untuk baluran, untuk celupan bikin kroket lah, bikin risoles lah
  • Aneka Bumbu Halus & Rempah
Yang ini ikut-ikutan almh. mamah . Didapur selalu ada segala macam bumbu halus  dan rempah. Pokoknya bumbu-bumbu untuk Kare deh hehhee.. kan itu komplit rempahnya. Selain itu bawang merah, bawang bombay, bawang putih jangan sampai kehabisan jeng. Karena semua masakan butuh itu.
Dulu almh mamah suka pesen, sediakan cabe merah, cabe rawit. Cabe merah direbus, dinginkan, blender dan masukkan freezer, kalau butuh tinggal sendok deh (cermat ya ibuku, maklum pernah punya 3 rumah makan, boo)

  • Bahan-bahan kue dan panganan
Yang ini kadang bikin budget belanja agak mengembang hehehe. Mungkin kalau dipikir-pikir diawal bulan jadi ‘boros’ tapi ternyata menghemat sekian rupiah untuk jajan anak lho! Jujur, sejak Maura masuk playgroup dan kenal pelajaran memasak, aku lebih senang mengajak dia bikin makanan atau jajanan sendiri. Memang sih gak tiap hari, karena kadang si jajanan itu sudah datang dari pembantu, tanteku atau mbah putrinya yang weleh2 kalau ngirim snack, jadilah aku ‘ngumpetin’ snack2 toko itu dan memberikannya hanya sebagai reward.
            Telur : wajib nih, karena dengannya aku bisa bikin orak arik, pancake dan rupa2 lauk/kue
Essense: yang biasanya sih coklat, pandan atau cocopandan pasta. dengan ini, aku bisa bikin makanan beraroma atau kadang bikin simple syrup sendiri
            Margarin/mentega: nah ini wajib ada. Menumis, campuran adonan kue pasti pakai bahan ini
            Keju : meski gak tiap hari ada, kadang aku beli yang mini, jaga2 untuk taburan
            Meises: berguna buat taburan pancake atau donat
            TBM/ovalet: ini pengemulsi, jeng. Berguna untuk bikin bolu kukus,misalnya
            Ragi/Fermipan: Ini bahan untuk mengembangkan adonan. Bahan utama bikin donat
            Baking Powder: Fungsinya sama untuk pengembang kue/roti tapi biasanya untuk yang kering. aku biasa kasih sedikit BP untuk merenyahkan gorengan juga
            Mayonaise: Beli aja yang ukuran kecil karena termasuk bahan yang ‘awet’ dan jarang dipakai tapi sesekali pengen. Bisa untuk olesan, cocolan
            Bihun Jagung dan Misoa: hehe ini sih kadang bia untuk bikin bihun goreng dan vermiseli (lihat resep rumahan) .Tapi aku stop mi instan berbumbu masuk ke dapurku
            Roti Tawar: ini juga gak setiap hari ada karena juga harus segera habis, jadi belinya kalau pas ada order dari anak-anak atau abinya untuk bikin roti bakar
            Santan Instan atau Kelapa Parut : kalau santan instan biasanya Cuma untuk sesekali. nah kelapa parut ini bisa awet jika disimpan di freezer. saat ingin pakai, keluarkan dan ‘cairkan’ dulu esnya, jadikan suhu ruang, baru itambah air untuk memeras santannya. Oya, ada tips, santan yang udah diperas bisa dimasak sampe mateng, dinginkan dan simpan di kulkas, kalau mau pakai tinggal ambil aja.
            Gula Jawa: Bahan yang satu ini penting karena hampir semua makanan memakainya
           
           

  • Sayuran Beku & Bahan Mentah
Jagung Manis /Kernel Corn:  ini berguna untuk bikin penganan atau bakwan jagung , jagung manis susu, puding jagung
Sayuran Beku            : Nah ini kadang sisa banyak hehe,sayuran beku ini bisa untuk campuran nasi goreng, sop atau hidangan penutup lain
Pisang Kepok/raja     : karena hampir semua penghuni suka pisang goreng, maka buah ini meskipun tidak tiap hari, tapi seneng kalo punya
Kacang ijo : hehe ini favorit suamiku. bikin kacang ijo biasanya juga dipesen dulu sama beliau, habis kadang lupa hehe
Daging/ seafood: Biasanya kami belanja 3hari sekali/ pekanan untuk daging dan ikan. Di freezer aja sebelum dipakai. bisa awet dan tinggal dimasak apalagi untuk daging, kalau udah direbus, simpan kaldunya dalam tempat terpisah, simpan di kulkas dagingnya, olah sesuai kebutuhanJ
Susu Segar dan Kental Manis
            Sejak 6 bulan lalu anak-anakku kuhentikan dari susu formula. Selain aku semakin mengerti bahwa susu formula nyaris tak benar- benar ’sehat’, aku juga sedang melepas ketergantungan si tengah dengan susu dan menggantinya dengan makan. Akhirnya susu segar jadi stok yang bisa dimanfaatkan untuk campuran masakan begitupun susu kental manis yang kugunakan untuk campuran bikin penganan atau masakan.

yah, itu beberapa bahan makanan yang mungkin saya rekomendasikan untuk ada di dapur.Sekali lagi, sesuaikan dengan anggaran. Tak harus komplit bisa di atur sesuai menu.Yang jelas benar-benar membantu untuk bisa menyiapkan menu sarapan dan cemilan. Just share, semoga bermanfaat!

Minggu, 04 Juli 2010

Oleh-oleh seminar Miracle at Home

Adalah disuatu hari yang berharga aku dan teman-teman dari KPPA BENIH menyelenggarakan seminar kecil ‘Miracle at Home’ bersama dokter Zulaehah Hidayati, pemilik Rumah parenting Bandung yang kukenal pertama kali melalui facebook (tengkyu ya facebook). Selama ini teori-teori dan diskusi-diskusi mengasuh anak memang sudah sering saya lakukan dengan suami, sahabat, tante atau membaca buku.
Awalnya, seminar parenting yang ‘hanya’ berpengikut 20 orang itu adalah usaha ‘memanfaatkan waktu’ beliau yang tengah berkunjung kerumah orangtua di daerah Baki , sukoharjo, selatan kota Solo. Namun luar biasa, efeknya pada saya dan keduapuluh teman. Semoga saya tidak overestimate, tapi kesan dari diskusi-diskusi dan koment di facebook membuat saya memiliki satu kesan tentang beliau: telaten merespon, telaten membuka ruang konsultasi di facebook, inbox atau telepon. Semoga selalu begitu meskipun sudah semakin ‘terkenal’ ya dokter. Kebetulan-lagi- beliau adalah tetangga kakak ipar saya di Bandung. Klop deh. lanjuut

Diawal pelatihan, dokter Zule memaparkan betapa pentingnya sebuah paradigma baru mengasuh anak. Dinukil dari Buku beliau “miracle at Home’ yang oleh Mizan diterbitkan dengan judul “ Anak Saya Tidak Nakal, Kok!”, maka bergulirlah tips praktis diawali dari pengumpulan masalah-masalah yang kami alami. Anak mengamuk, berkelahi, berbohong, memanipulasi, memilih-milih makanan dan sebagainya. memang yang saya rasakan, dokter Zule begitu sederhana saja memaparkan tipsnya. Buku yang akhirnya kami beli itu pun sederhana sekali pembahasaannya hingga kami merasa terpandu sesampai dirumah.
PARENTING di Rumah Parenting dituliskan dengan huruf kapital yang kepanjangannya menjadi sebuah ‘proses’ dan teknik mengasuh anak yang –menurut kesimpulan saya- memang harus diawali dengan ‘membereskan’ dulu diri kita, emosi kita. Setidaknya ini beberapa teknik yang kutulis dengan pemahamanku (semoga dokter Zule dan Rumah Parenting berkenan)

P untuk Pengasuhan anak yang benar(perubahan paradigma dari konvesnsional menjadi cara mendidik anak yang benar),

A untuk Anak adalah anugrah (sebuah kesadaran bahwa mereka adalah amanah, kebanggan, anugrah yang tidak semua orang ternayat memilikinya, sehingga kita harus mendidiknya, mengasuhnya dengan cinta),

R untuk Redam amarah (bahwa marah hanya akan membuat masalah menjadi tidak selesai, dan menambah masalah baru, marah akan membuat kita menumpulkan kreatifitas anak),

E untuk Empati mendengarkan ( empati mendengarkan menjadikan kita mampu memahami maksud anak yang kdang justru bermaksud baik, tulus, luarbiasa dan jauh dari yang kita sangka).

N untuk notifiaksi pembicaraan dan tindakan (teknik ini mengajarkan kita untuk tidak gegabah dalam merespon perilaku buruk anak, dan mengajarkan pada kita untuk ‘memilih’ sikap yang bijak seiring dengan teknik ‘R’ dan ‘E’) .

T untuk Tanamkan nilai positif ( teknik ini mengajarkan kita untuk tetap menanamkan energi positif, menghindari kata-kata buruk, merendahkan, menghina dan menstempel anak dengan gelar yang buruk. memuji, meyakinkan anak dengan hal2 yang baik akan membuat mereka sebaik yang kita inginkan, bahkan lebih).

I untuk istiqamah (bahwa mengasuh dan mendidik anak membutuhkan kesabaran, ketegasan, konsistensi agar anak mengrti maksud baik kita dan menghargainya. Istiqamah juga menjadikan kita tegas namun penuh kasih sayang). Dan

NG untuk meNGadakan time out ( time out adalah konsekuensi yang harus diterima anak akibat perilaku buruk yang ia lakukan berulang dan tidak ada perubahan, meskipun telah kita peringatkan. teknik time out banyak deh bunda.saya juga lagi belajar..hehe)

Nah…subhanallah, saat pulang, ternyata bekal teknik PARENTING itu membantu sekali. saya sengaja baru menuliskannya setelah sepekan. Karena sepekan ini, meskipun sedikit demi sedikit saya mampu meredam amarah saya. Saya berkomitmen bahwa saya akan memperbaiki diri dan cara mengasuh anak-anak saya dengan merubah diri sendiri dahulu. Tak mudah, tapi Insya Allah bisa.

Baru dengan me Redam amarah saja, sepekan ini saya merasa sedikit ‘berbeda’. Meminjam istilah Ustadz Fauzil Adhim, ternyata menjadi orangtua ‘sumbu pendek’ sangat merugi. Saya berkomitmen tidak lagi mau ‘mengomel’ atau berteriak, melotot (apalagi memukul) untuk menghentikan perilaku buruk mereka. Memang...masih panjang jalan mengasuh anak-anak, ini bukan sulapan mejik, euy. Apalagi seorang ibu yang selalu 'dianggap' paling bertanggungjawab atas perilaku anak-anak, tentu mengasuh anak menjadi tanggungjawab besar. Mereka baru lima tahun,3tahun, dan semakin kita mendapatkan ilmu baru, justru ‘ujian’ kesabaran kita semakin besar... ini saja dulu ya teman, sahabatku, bunda, ayah... semoga note2 selanjutnya tentang ‘tema’ ini bisa saya buat setelah saya melakukannya. (malu dong kalao udah nulis belum praktek....) thanks to rumah Parenting, dan 20 teman rintisan RP Solo yang bersemangat...kita buat lagi ya tanggal 29 mei agar manfaat yang kita rasakan dirasakan oleh para orangtua lain. BISMILLAH!

Audisi Pembantu Rumah Tangga


Saat menulis bagian ini saya sedang telah mengalami banyak hal berhubungan dengan seseorang dalam rumah tangga kita: Khadimat, pembantu, rewang (bahasa jawa,ed)dan semacamnya.Ya..ya…ternyata
banyak pengalaman yang sebenarnya aku alami dengan 'para khadimat' yang silih berganti hadir dalam kehidupanku he..he… tentu saja sejak aku kecil.Mengapa juga khadimat menjadi bagian yang aku rasa penting dalam diary pernikahan kita? Entah. Namun setahu dan serasaku, kebutuhan akan khadimat sangat sulit dipisahkan dalam rumahtangga kita.

Tulisan ini akan sangat panjang, sebab segala yang berhubungan dengan si khadimat akan aku tulis sejujurnya. Di tulisan pertamaku tentang mereka, kubagi beberapa tips untuk memilihnya atau sebelum kita memutuskan untuk ya atau tidak menerimanya di istana kita.Tak selalu mulus, tapi semoga bermanfaat.
a. Memilihnya Dengan Prioritas Kebutuhan Kita

Suatu hari, aku merasa begitu tertarik dan tercerahkan dengan perbincangannku dengan seorang teman.Aku bercerita begitu sulitnya mencari khadimat yang dapat 'diandalkan'.
"…..saat kita udah cocok sama kerjaannya, e…. dia punya sifat yang nggak menyenangkan dan sifat itu menjadi karakter yang membuat kita tidak nyaman,tidak aman" begitu kataku
"He..he.. iya sih Vid (sapaanku, ed) tapi aku punya nasihat bagus dari ibuku.Kta beliau,pembantu itu ada tipe-tipenya.." katanya sambil senyum simpul
"O ya? Menarik tuh pie mbak?" tanggapku
" Ada yang pekerjaannya oke, tapi dia enggak care sama anak-anak kita dan nggak bisa diajak bicara seperti teman…" hmm…aku menyimak dan iapun melanjutkan
"Ada yang care sama anak-anak kita, ana kita terurus dengan baik, dia sabar, ngemong, tapi dari sisi pekerjaan rumahnya nggak memuaskan…Dan yang terakhir…he he.. Ada khadimat yang yah… Cuma bisa kita andalkan sebagai 'teman bicara',bisa menjadi poendengar tapi pekerjaan dan cara mendidik anak-anak kita dia pas pasan.." dan temanku itu menghela nafas…"so.. tergantung kita sebenarnya apakah kita mau memilih khadimat untuk pekerjaan rumah kita, anak kita, atau hanya sebagai 'teman'.Begitu vid…." Diapun tersenyum

Ini yang sekarang saya hadapi. setelah berpetualang dengan berganti-ganti khodimat (pembantu, rewang, ‘asissten rumah tangga, apapun sebutannya) sampai tulisan ini kubuat saya selalu ingat nasehat teman saya itu. Memang sulit. Akhirnya kita memang harus benar-benar sadar khadimat bukan malaikat poenolong atau bahwa romusha yang kita kerja paksa. Akhirnya saya membuat prioritas bahwa saya memilihnya untuk melancarkan aktivitas dakwah. Sehingga, ada kalanya ia ‘hanya’ menjaga anak-anak ketika saya pergi keluar rumah, dan berlapang dada jika karenanya pekerjaan lain sedikit kurang sempurna

b. Berterus Terang Di awal tentang GAJI

Ada pepatah Arab yang sering dikatakan suami saya fish shorohah, rohah artinya : dalam keterusterangan ada ketenangan. Nah,gaji adalah salah satu yang menuntut keterusterangan kita diawal mereka ‘melamar’ pekerjaan.

Pengalaman saya, membicarakan gaji untuk khadimat diawal itu lebih baik. Artinya, sama-sama sepakat. carilah informasi upah standar untuk pembantu yang pulang sore (jawa: pocokan) atau yang menginap (jawa: ngebleng). Biasanya pembantu yang menginap gajinya lebih murah karena dia tidak memikirkan transpot, menginap dirumah kita, makan dan tidur juga bersama kita. Tapi kalau saya sama saja karena meskiupun menginap, justru tugasnya kadang lebih banyak kan?

Setelah kita tau upah standar, mulailah mennayakan pada calon khodimat apakah ia ingin gajinya diambil pekanan, bulanan, dua mingguan atau malah..harian?? ini penting agar kita siap anggaran. Selain itu, jangan sampai kita menunda upah yang mereka butuhkan, kecuali dengan ridho mereka.

Selain itu, tak ada salahnya jika kita membuat kesepakatan kapan gajinya dipotong, atau kapan ia bisa menerima ‘bonus’. Mislanya jika ia pocokan (tidak menginap) upahnya dihitung sesuai masuknya dia. Kalau saya, saya akan lihat komitmennya. kalau khadimat kita tipe orang yang memang ‘butuh’ bekerja, ia akan selalu masuk. Ia akan memprioritaskan pekerjaan dirumah kita.maka untuk yang begini, saya tidak akan pernah memmotong gajinya karena ia pasti bener-bener ada keperluan saat tak masuk. Sayapun tidak pernah memotong gaji harian pembantu yang tidak masuk karena sakit, baik dia atau keluarganya. Tapi ada juga pembantu pocokan yang sering tidak masuk, nah kita perlu memberi ‘warning’ dengan aturan gaji sesuai kedatangannya.

Yang jelas, gajilah pembantu dengan layak. Apalagi jika ia seorang yang loyal pada kita, berilah bonus atau hadiah yang menyenangkan hatinya, meskipun tak harus selalu berbentuk uang. Ingat, jangan terlalu pelit namun juga tetap profesional

c. Mintalah Komitmen Kerjanya dan Buat Aturan Kerja yang Jelas

ya, ini benar-benar pengalaman berharga. Saya pernah mengalami berganti khadimat setiap 3 bulan! Entahlah, saya sampai risih dengan komentar beberapa tetangga “kok ganti lagi, Bu Vida”. Kesannya saya ini orang yang ‘sulit. hehe. Padahal, hampir semua pembantu yang keluar kebanyakan karena problem mereka sendiri dan yang membuat saya jengah, mereka biasanya tiba-tiba tidak masuk beberapa hari tanpa kabar dan tiba-tiba..keluar! Bahkan saya pernah sedikit malu karena khadimat saya meninggalkan ‘hutang’ pada tetangga dan pada saya (yang ini sih udah diikhlaskan kok, tapi tetap ditulis untuk ambil pelajaran, gak papa doong) .he..he.Ya sudahlah. Semoga Allah memberinya jalan keluar dari kesulitannya.

So, dari sinilah saya semakin teliti dalam menyeleksi khadimat. komitmen untuk masuk tiap hari saya letakkan diurutan ketiga setelah : ia muslim dan sholat, dia jujur dapat dipercaya. Barulah yang ketiga: bersedia masuk setiap hari dan tidak sedikit-sedikit membolos. Karena, meskipun saya dirumah full, saya kadang saya harus keluar rumah, menulis buku, dan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan 'pihak' ketiga untuk membantu saya.Alhamdulillah setelah lima kali saya mendapatkannya.Meskipun lagi-lagi tak ada orang yang sempurna. Saya tetap menemukan kekurangannya. Namun kriteria utama dan prioritas , segera membuat saya ‘beradaptasi’ dengan kekurangannya dan mengingat segala potensi baiknya.

Aturan kerja yang jelas itu penting. Apakah ia hanya mengasuh anak, ataukah ia hanya mengerjakan pekerjaan rumah, atau keduanya? Buat aturan juga kapan boleh nonton TV, apa yang boleh ia tonton bersama anak-anak kita,adab berpakaiannya, dan hal-hal yang menjadikan kita sreg jika ia melakukannya, sangat penting kita komunikasikan. Bukan apa-apa, kita turut bertanggungjawab juga kan terhadap kebaikan siapapun yang ada dirumah kita bukan?
d. menginap/ setengah hari?
Setiap pilihan ada konsekuensi. Kadang yang menjadi pilihan kita tak selamanya menyenangkan. Saya tidak pernah mempunyai pembantu menginap. Namun sejak saya akan melahirkan anak ketiga kami yang akhirnya harus cesar, saya meminta khodimat saya menginap. Awalnya saya terbantu karena saya foskus mengurus si kecil.Namun lama kelamaan saya seperti kehilangan anak-anak tertua saya. Saya mulai jarang membacakan cerita dimalam hari, mereka juga sering terpengaruh bicara si 'budhe' pengasuh yang kadang bikin hati saya kurang sreg, atau budhe pengasuh yang karena lelah jadi sering 'cuek', sedikit 'galak' dengan saya hehe.
Akhirnya tepat dua bulan, saya memilih mempekerjakannya setengah hari atau karena rumah beliau dekat, beliau ringan hati untuk pulang agak malam saat saya harus ada acara dimalam hari.Subhanallah, meskipun capek, tapi anak-anak saya 'kembali' ke pangkuan saya. dan Allah mudahkan...mereka kini sudah punya 'jam biologis' kapan tidur malam dan tidak sering terbangun dimalam hari. Itulah mengapa saya tetap cenderung menyarankan khodimat tidak menginap agar kita tetap punya 'kedaulatan' dirumah kita sendiri dan tidak terlalu 'bergantung' pada pembantu yang kadang justru menimbulkan masalah dikemudian hari

Tentang pengalaman mencoba ‘beradaptasi’ dan sabar itu...mungkin akan saya tulis berikutnya,ya! Insya Allah