Tampilkan postingan dengan label anak kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak kita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juli 2011

Anak-anak ku Sedang Belajar tentang ‘Perpisahan’

Dua hari ini ketiga krucilku sangat ekstrim tingkahnya. Si sulung Maura sangat sering tiba-tiba memarahi kami semua, kasar dan suka memanas-manasi adik-adinya (termasuk menjahili dan membuat saya memakai nada ‘si’ untung menegur, atau jika emosi saya sedang lumayan terkontrol, saya hanya diam bersila didepan si Teguh Pendirian yg sedang uring-uringan sambil memandanginya, beristighfar lirih dan jika ia benar-benar ‘tantrum’ ekstrim, saya bisa sampai melelehkan airmata dengan posisi itu tapi ajaibnya tidak marah). Farwah, sejak abinya pergi dan lalu mbah Kung nya pamit pulang juga marah dan menangis memilukan.Hayah. Hanya si Tengah Salma yang lumayan biasa aja tapi juga sedikit-sedikit rewel dan mudah menjerit, heheh.
Sebenarnya, ini diam-diam berhubungan dengan kepergian si Abi ke Taiwan dua bulan kedepan. Pengkondisian terhadap moment ini sudah kami lakukan sebulan lalu, kami juga sudah melengkapi sarana komunikasi dan webcame dirumah agar perpisahan ini tidak membuat anak-anak kehilangan sosok idolanya (walaupun kak Maura sering ‘jaim’ didepan abinya karena kemiripan sifat kali ya hihihi).Tapi, toh anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka belum mampu menyeranta perasaannya. Meskipun mereka sudah sering ditinggal keluar kota, moment ini pasti berbeda.Mereka tau bahwa 2 bulan itu lebih lama dari dua hari atau dua malam,batas biasanya mereka menanyakan “abi kapan pulang?”.
Luarbiasa. Abi. Sosok yang ternyata mereka idolakan lho.Karena meskipun abinya sering pergi dan padat aktifitas, anak-anak suka pada ngeriyung saat beliau stay at home. Main tebak kata, tebak gerak, tebak kesukaan.Abi juga tidak mudah marah, gak seperti Umi yang ‘banyak menegur’ (bahasa halus dari cerewet hihihi) .Farwah apalagi, sejak bisa jalan sendiri, dia yang paling ‘romantis’ sama abi. Paling semangat mengantar abi sampai ke pintu, paling semangat pula menyambut abi pulang, paling ‘caper’ dan mesra panggilannya “Abiii’…(sambil diam, melirik kemaki dan menggemaskan)”
Begitulah. Pekan ini dan dua bulan kedepan anak-anak akan sangat belajar bahwa mereka mencintai abi.Perpisahan sejenak pernah kami lakukan pada dua putri kami sesekali. KAmi meninggalkan mereka bersama tante kami dan ART untuk pergi ke Kudus selama dua hari.Kami pergi hanya dengan ‘paket kecil’ : saya, abinya dan si bungsu, Farwah.Itu bermanfaat, karena mereka jadi mengerti apa itu amanah saat abi dan umi tidak dirumah.Mereka jadi tau apa arti kebersamaan dan saling membutuhkan. Pekan ini adalah adaptasi terpenting bagi anak-anak. Saya pun berusaha kompak dengan asisten yang menginap dirumah selama abi pergi, juga dengan tante kami yang biasa mengantar jemput mereka sekolah.
Anak-anak harus kita bantu memaknai perpisahan sebagai sebuah bagian dari kehidupan.Perpisahan dan pertemuan karena Allah akan menjadikan kita kompak. Password andalan yang kami ciptakan: karena kita bersaaaatuuuu yang kami ucapkan sambil menautkan jari/tangan kami menjadi yel-yel memperbarui semangat. Selalu begitu saat saya ingin membangun kerjasama dengan mereka. Anak-anak tidak dapat berpisah dari ayah bundanya, itu pasti. Namun kita harus pula mengajarkan ketegaran dan menularkan semangat-semangat para keluarga pejuang dijalan Allah dimana saat bersama dan berpisahnya begitu berkualitas. Mungkin bagi saya ini long distance love yang sudah biasa. Tapi tidak bagi anak-anak. Maka kitalah yang harus lebih memahami bahwa segala ekspresi mereka tentang perpisahan harus kita apresiasi dengan penuh empati meskipun tidak harus berlebihan dan meruntuhkan ketegaran.
Ekspresi keberatan itu akan muncul dari bahasa penolakan, pelanggaran aturan, atau perilaku fisik yang menguji kesabaran. Tapi inilah kita : seorang I B U.Seseorang yang harus mampu mempelajari banyak bahasa jiwa dan kasih untuk mendidik anak-anak yang unik. Mengajari mereka tentang sikap tegar dan tidak merubah mereka menjadi malaikat yang selalu sempurna. Jika sedang marah,biarkan mereka marah, arahkan dan gali keinginannya.JIka sedang menyenangkan, beri pujian wajar dan menentramkan.Mereka manusia kecil yang perasaan dan pribadinya akan terpahat melalui kita.Jadi, mari mengenali perasaan mereka dan menyambungkan dengan naluri kita, lalu membina mereka berproses menjadi anak-anak bermental kuat , empatik dan berjiwa pejuang . Dan kali ini dari sebuah moment PERPISAHAN.Insya Allah!

Jumat, 10 Juni 2011

Liburan Anak-anak , awas Jangan Malah Stress!

Ini celetukan jujur ibu-ibu muda pas terima raport (termasuk  kadang saya)
“Weess liburan aku malah stress, lha pie ndak mandeg mandeg lho maunya.Kalao udah pergi ke neneknya lumayan” jiaah. Ada lagi
 “Lha pie kalo mereka libur kita ndak libur kerja, trus budget jadi bengkak, yang bikin sebel, kita tambah stress karena gak bisa ajak mereka main juga, antara kasian dan gak berdaya” hiks hiks
Tidak dipungkiri, moment liburan menjadi saat yang kini justru tidak terlalu menyenangkan. Tepatnya mencemaskan bagi orang tua. Banyak kemungkinan sebab. Mungkin, karena saat liburan anak-anak para orangtua tidak libur, terutama yang keduanya bekerja. Padahal, mereka  biasa menitipkan anak-anak disekolah atau tempat penitipan anak seharian.Lha kalu libur? Stress juga kan?Kedua, bagi ibu-ibu yang tidak bekerja seperti saya, jujur lho ya, kadang kita tidak ‘siap’ membersamai anak-anak dirumah lebih lama, biasanya kita bisa sedikit lega saat mereka sekolah meskipun hanya sampai siang.Lha kalu liburan? Bisa-bisa seharian kita teriak-teriak. Masya Allah hehe
Ya, mungkin tulisan ini sekedar  pengingat diri sendiri . Sedikit tips aja, yang ingin saya cobakan untuk liburan beberapa hari lagi. Supaya saya yang sehari-hari memang bekerja dirumah ini juga bisa benar-benar ‘membersamai’ anak-anak tidak sekedar ‘nyambi’ nemeni mereka.
1.Apa yang KITA lakukan, musyawarah yuk!
Mengajak anak-anak merencanakan liburan mereka sendiri akan membantu kita menyiapkan apa yang mereka mau. Toh ini adalah hak mereka untuk menikmati waktu dirumah. Kegiatan apa yang akan kita lakukan bersama, dimana bagaimana, dan berapa anggarannya. Tidak harus  berlibur ketempat-tempat yang mahal dan keluar rumah. Merencanakan liburan dirumah tapi dengan kegiatan yang variatif asyik juga.
Yang harus kita siapkan adalah : enjoy dan menghargai pilihan mereka. Katakan saja jika memang kita hanya memiliki anggaran terbatas. Kalau saya, ingin mengajak anak-anak menata ulang kamar mereka, mengecat kaleng-kaleng bekas jadi aneka wadah pernik dan membuat kue, dan mengunjungi rumah baca di rumah kontrakan lama kami ,insya Allah.
2. Jika memang Anda Tidak LIBUR
Mungkin memang rasanya serba salah, tapi bagaimana lagi. Jika memang anda adalah orangtua bekerja yang tidak libur, mungkin memang harus menyempatkan waktu sedikit lebih banyal Atau, biarkan mereka ke rumah nenek atau paman, atau beri kepercayaan mereka berlibur dengan teman sebaya jika memang sudah bisa dilepas. Jika tempat bekerja kita fleksibel dan anak-anak bisa kita kondisikan untuk ikut ke kantor/tempat kerja bagus juga. Biasanya dengan begitu mereka akan lebih berempati dengan pekerjaan kita. Jika ini yang anda pilih, siap-siaplah untuk mengenalkan anak pada teman-teman anda, atasan, atau bahkan satpam, dan pilihlah di hari-hari yang tidak terlalu sibuk.
Jika pilihan jatuh pada berlibur dirumah nenek atau kerabat, bersiap-siaplah dengan beberapa pola yang mungkin akan melonggar, atau bekerjasamalah dengan pihak-pihak ‘tuan rumah’ untuk menjaga pola dan aturan yang berhubungan dengan waktu makan, sholat, menonton Televisi. Upayakan anak bermain aktif, tidak didepan televisi atau game.Ini berlaku pula jika anak hanya dirumah dengan pengasuh. Oya, bisa juga membuat family gathering dengan anak-anak teman, siapa tau justru menjadi awal yang baik untuk kegiatan positif mereka dihari-hari selanjutnya
3. Hindari terlalu banyak JANGAN, Libatkan saja!
Mungkin yang menjadikan bertambah stress karena kita tidak siap berbagi waktu.Kalau sudah begini, sungguh kita bisa sangat menghargai guru-guru dan pengasuh anak-anak kita di TK, PAUD, sekolah fullday atau tempat penitipan. Disaat liburan, anak-anak cenderung ingin melakukan apa yang kita lakukan, sebenarnya. Sayangnya, kita-orang dewasa- disekitar mereka belum siap. Maka terjadilah teriakan-teriakan larangan “Huuh…jangan begitu, jangan begini. Sudah-sudah tidak usah ikut-ikutan, tuh kaaan apa ibu bilang, pecah kan? Suruh liat tivi aja gak mau sih. Sudah kamu nonto VCD aja ya?Atau sudah kamu ajak adik main ya?ibu mau beberes” Fiiuuuh….jujur, saya pernah begitu
Tapi kemudian, saya tau ini sebenarnya waktu mereka untuk belajar bersama kita. Maka yang kita harus lakukan sebenarnya adalah : mengajak mereka bekerjasama. Hasilnya? Putri tertua saya sudah mulai bisa membantu saya dan mbak pengasuh mencuci piring, sudah mulai ‘peka’ bahwa kamarnya kotor harus ditata ulang, sudah mulai punya usul untuk menyortir mainan. Ya ya, libatkan saja. Banyak melarang bukan hanya menjadikan mereka agresif negative tapi juga melelahkan kita.
4. Jangan Nyambi, mak!
Mak, bund, umi, mama, ibu, mungkin kita-kita yang dirumah ini sering punya waktu banyak tapi hambar dimata anak-anak. Makanya, mungkin kita harus mengusahakan untuk sedikit ‘menjamu’ mereka yang sedang liburan itu. Membersamai mereka bukan sekedar ada. MAtikan computer, FB, minimalkan telpon-telponan, BB an saat sedang bersama anak.
Saya bukan ibu yang sempurna. Saya pernah diprotes anak-anak sampai akhirnya saya putuskan tidak abai terhadap waktu bersama. Ya, memang dengan membersamai mereka, ada nilai-nilai yang bisa kita masukkan lewat cerita, gerak dan lagu, tebak kata, mencipta puisi dan saling bercerita. Semoga.
5.Siapkan anggarannya
Mungkin memang anggaran liburan anak-anak harus kita rencanakan. Bukan hanya untuk belanja, senang-senang, makan-makan diluar. Dirumah pun kita harus punya anggaran. Sederhananya, jika liburan ini saya ingin mengajak anak-anak membuat handycraft, mengecat kaleng, membuat kue, saya pun harus mempersiapkan anggaran. Hehe jer basuki mowo bea, iya kan? Mungkin sekali lagi, tak harus selalu mengakomodir keinginan anak-anak. Oya, jangan banyak menuruti hasrat jajan anak-anak disaat liburan ya .
Oke semoga liburan kali ini bisa menjadi refreshing dan berkesan, mendidik, buat mereka juga buat kita, jangan malah stress. Have a nice holiday!

Kamis, 19 Mei 2011

Ekspresi Anak-anak : Cerminan Kita (Sebuah Muhasabah)

Beberapa hari ini aku merasa begitu ‘jenuh’. Satu kata yang paling tidak disukai suamiku, lelaki optimis yang kukenal setelah ayahku. Baiklah mungkin sedikit uring-uringan atau bete, begitu saja ya! Jujur, ini tulisan yang sangat penuh pengakuan. Bukan tulisan idealis dan memang, kita harus pula mengakui bahwa terkadang kita bukanlah super mom yang selalu berhasil dengan segala teori-teori parenting. Bahkan, menurutku, setiap ibu memiliki ‘teknik’ parentingnya sendiri. Meskipun kadang tepat kadang tidak. Hehe

Seperti akupun. Memiliki tiga anak membuatku banyak belajar dan harus begitu. Ada rapot merah yang kadang kusesali kenapa aku ‘terlambat’ belajar soal ini dahulu. Ada pula kata ‘lega’ saat aku kadang bisa menanamkan sebuah nilai atau pembiasaan. Kuamati bahwa beberapa hari ini si sulungku yang cantik dan dominant itu begitu gampang memukul, berkata kasar, bahkan sedikit ‘ndrawasi’ cara bercandanya. Si tengah juga begitu, lebih sering merengek, berteriak, dan selalu merasa ingin sama. Anak-anak tertuaku sering bertengkar. Huuuh..ada apa ini? Mengapa mereka seolah terus menerus membuat ulah yang tak biasanya? Mengapa aku juga gagal menghadapi mereka, lebih sulit dari biasanya?

Akupun egois dan mulai sedikit mencari kambinghitam (meskipun nada bicara agak sopan) “Maura kenapa ya kok begitu? Kok marahnya aneh ya? Disekolah ada yang ditiru ya? “ atau “Haniyya, sudahlah ….masak begitu aja dibikin rewel tho naaak…” Aku tetap dengan aktivitasku. Sampai sepertinya kemarin sebuah celetukan mereka membuatku terhenyak. “Ah, umi pasti komputeran lagi. Ayo main lagi mi…” Celetukan yang kusambut dengan tercenung (padahal aku justru sedang tidak didepan computer, aku sedang masak). Betapa lalainya aku. Aku yang selama ini berkomitmen untuk tidak beraktivitas didepan computer jika anak-anak belum tidur atau sekolah ternyata sedikit kulanggar. Aku segera bersyukur. Aku yang salah. Anak-anak mungkin merasa waktunya bersamaku kurang. Atau…KURANG BERKUALITAS meskipun aku ada disekitar mereka. Aha! Mungkin memang ini masalahnya.

 Aku menemukan obatnya. Maka aku menyebutnya TERAPI KEBERSAMAAN.Mungkin mulai esok aku akan kembali lagi pada ‘jadwal lamaku’. Membersamai mereka seasyik mungkin, melucu, bernyanyi, menciptakan lagu-lagu baru (mereka hafal lagu terbaruku ‘Jari-jariku’ 2minggu lalu). Menyalakan computer -yang diam-diam membuat mereka cemburu - saat mereka sudah lelap atau sekolah. Membacakan cerita-cerita hikmah sebelum mereka tidur atau saat kami bersama (aktivitas ini agak berkurang terutama saat malam.aku sudah mulai sibuk menidurkan si bungsu)

Ada lagi. Mungkin aku lelah dan bermalas-malasan. Aku perlu kembali mendisiplinkan olahragaku, mengatur pola makan dan minumku. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk memberikan energi sisa untuk mereka :suami, anak ,asisten dan bahkan untuk semua aktivitasku. Ya,ya..mereka harus kuberikan haknya.

Lalu, siang sampai sore tadi aku mendapatkan ‘tambahan’ obatku, bahkan yang terpenting. Forum Jalasah Ruhiyah , sebuah program  dalam komunitas mengajiku cukup memberiku amunisi ruhiyah lagi. Aku pulang dengan semangat baru. Kutemukan aku yang dua pekan ini adalah seorang ibu yang sedang bolong-bolong aktivitas ruhiyahnya. Tilawahku kurang dari target, dzikir ku, sholat malamku, sholat dhuhaku, semua masih begitu minim. Tidaaak!!!! Pantas saja anak-anakku begitu menguji kesabaranku dan parahnya aku bebrapa kali mungkin termasuk  tidak lulus. Ya, aku tidak malu mengakuinya sebab aku harus terus belajar.
Ya,ya,ya..maghrib tadi kumulai merengkuh  mereka lebih dalam lagi, bukan dengan energi sisa. Kuceritakan tentang keajaiban menahan diri, "Oleh-oleh dari pengajian umi tadi.Kalian mau dengar?".Mereka melingkar didekatku, sebelum abi mereka datang sebentar kemudian.  Itu sebenarnya untukku, nasehat untukku sendiri. Begitulah , aku tau tak semua dapat diteorikan. Dan saat tulisan ini selesai, hari sudah berganti. Jum’at 3.30 aku akan memulai mengobati diriku dengan memohon pada Penggenggam ku. Dan ku akan berdoa  : Rabbi….mudahkan aku mendidik diriku untuk lebih sabar, dan mudahkan kami membimbing mereka.jalan masih sangat panjang. Terimakasih teman untuk mendengarkan celoteh penaku. doakan aku ya! Wallahu a’lam bisahwwab

Senin, 28 Maret 2011

Mengkondisikan Anak di Forum/Acara ‘Serius’


kasus 1 :
 ”prang!!!!” tutup toples itu akhirnya pecah oleh anak seorang temanku.Sebelumnya si anak mengaduk-aduk isi toples, berpindah dari satu hidangan ke hidangan lain, tanpa dihabiskan! Kami yang dari tadi miris dan melihat si empunya rumah juga ’cemas’ namun pekewuh negur  akhirnya hanya bisa saling pandang dan menggelengkan kepala. Teguran kami sedari tadi tak meredakan tingkah super ngglidisnya, sedang ibunya? hanya berkomentar ”Nah, mbak nana ( bukan nama sebenarnya), pecah kan?Maaf ya Bu...” Dari tadi ngapain aja buuu??? Ada lagi yang curhat, tanaman hias kesayangannya tercabik-cabik karena tamu kecilnya tidak dihandle dengan baik oleh ibunya.
kasus 2:
Dari tadi beberapa anak  itu kok gak bisa diam ya. Naik turun panggung, mengganggu pembicara (ustadz) Sang ustadz sampai agak jengah dan  wajar jika kehilangan mood dan konsentrasi. Forum yang tadinya menjadi harapan kami menimba ilmu dan merefresh ruhiyah kami, sontak menjadi ajang teriakan, lari-larian. Sebalnya, orangtua anak-anak itu –padahal datang berdua- tidak aada yang beranjak dan mengajak anaknya menjauhi arena atau memberi kegiatan ’alihan’. Diam, hanya ragu-ragu dan memanggil-manggil, atau –bahkan- asyik mengobrol. Ndilalahnya (solo banget) selalu mereka yang jadi ’bintang panggung’.Hiiiih kalau saya orangtuanya, sudah saya angkat anak itu dan saya korbankan tempat duduk saya.Resiko mengajak anak kan?
kasus 3:
Diacara pernikahan seorang kerabat. Seorang anak memaki anak-anak saya dengan berteriak-teriak .”Ini kursiku semua, jangan duduk disitu!!! Jelek kamu”. Selanjutnya si anak tadi meneriaki ibunya, membuat onar, mengacak-acak sup. Ibunya yang malu semakin  panik. Saya hanya memberi isyarat anak-anak untuk diam dan pindah.Jujur saya malas menegur. Anak saya yang memang dari siang sudah saya kondisikan jika  jadi ikut, untuk  duduk ditempat yang lapang, dideretan belakang dan ambil kursi dekat meja agar bisa makan dengan santai. Anak-anak heran dan berbisik ”mungkin dia tadi belum dikasih tau  mamahnya ya, Mi?” Yang tengah berkata ”Kok dia gitu  ya mi, itu mamahnya kan malu ya. ini kan kursinya bukan punya dia ya, kan bukan rumahnya” hehe

    Begitulah.Itu tiga kasus paling sering saya jumpai. Anak-anak di forum serius orangtua.Apakah rapat sekolah, acara-acara pengajian pekanan, seminar (kecuali yang emang boleh bawa anak), undangan pernikahan atau sekedar bertamu. Yah sebenarnya ini secara umum tentang mengajak anak bepergian dan bertandang diluar rumah, tapi saya senang memakai judul diatas
    Sebenarnya, anak-anak memiliki dunia bermain dan waktu konsentrasi yang bisa kita pelajari dan kita kondisikan. Sikap dan attitude diluar rumah pun bisa kita biasakan. Mengajak anak-anak di forum yang ’bukan’ milik mereka menawarkan konsekuwnsi yang mestinya telah kita prediksikan. Bukan untuk kenyamanan kita saja, tentunya, tapi untuk orang lain di forum yang sama. Ya, Saya pun sadar, mungkin kita terpaksa mengajak anak-anak di forum yang serius dan penting  karena tidak ada pihak lain yang bisa kita titipi selama kita pergi. It’s oke sebenarnya, itu pilihan namun sangat perlu kita persiapkan. Semoga sharing pengalaman ini sedikit membantu
1. Pra kondisi itu perlu
    Sebelum mengajak anak-anak, pastikan bahwa mereka mengetahui acara yang akan mereka datangi. Beri gambaran, kemudian beri pilihan. Jangan mendadak mengajak atau juga meninggalkan mereka. Maaf, biasanya saya memberi tahu jadwal acara keluar rumah pada anak-anak sehari sebelumnya. Anak-anak mengerti bahwa saya pengajian pekanan di hari Senin, rapat sekolah mereka, tugas di Posyandu, pergi dengan abi dan semua kegiatan saya. Saya mencoba mendiskripsikan satu-satu dan mengusahakan memberi mereka pilihan. Tidak setiap saat karena sekarang anak-anak sudah ngerti bahwa mereka bisa ikut atau tidak.
    Misal jika saya pengajian pekanan. Saya bilang ke mereka begini
Saya:”Umi besok pengajian, halaqoh”
Anak-anak:”Liqo’ ya mi? Dirumah sini atau di rumah teman umi?”
Saya: ”Dirumah teman umi ?”
Anak-anak :”Rumahnya luas atau tidak? Kalau rumahnya luas, kami boleh ikut kan kata umi?Kalau rumahnya kecil ya..kami gak ikut”
Saya: “Ya, boleh.Jika kamu ikut, adek umi tinggal sama mbak ros (atau pengasuh), dan kalian bersiap karena umi tidak mau terlambat. Tapi sampai hampir maghrib lho acaranya dan disana ada aturan, kalian tidak mengganggu umi ataupun ibu-ibu yang lain. Karena umi disana mengaji, bukan bermain santai. Kalian bawa persiapan yang biasa kalian bawa untuk mengisi waktu. “ Maaf saya memang terbiasa mengajak anak2  berbicara’ serius untuk hal serius
Anak-anak “Hm... sampai maghrib ya.Berarti aku gak bisa nonton TV champion Zona Juara ya? Trus kalo misalnya aku gak ikut? “
Saya:“Ya, kalian bisa membuat snack sore ( dengan bahan seadanya.Biasanya minimal saya mnyediakan nutrijel ), mandi agak nanti, iqro’ dengan mbak Ros, nonton Zona Juara, atau jika Yangti Lia (tantenya Suami)nanti datang dan mengajak kalian ke alun-alun, kalian boleh juga ikut, asal tidak sampai maghrib.Gimana? Silakan aja pilih”
    Biasanya si sulung memilih stay at home, sitengah juga ikut kakaknya. Atau ikut saya. Sayapun siap dengan pilihan anak-anak. Jika mereka akhirnya ikut dan ‘bosan’ mereka akan ingat aturan saya dan biasanya lumayan bisa agal bersabar.Yah, semua pilihan ada akibatnya itu prinsip saya. Itu selalu begitu dalam tiap acara yang saya ikuti.
2. Persiapan
    Saya terinspirasi dengan seorang teman mengaji saya. Ia seorang dokter.Saat itu seingat saya, putranya yang sebaya dengan sulung saya berusia 2 tahun dan si sulungnya berusia 5 tahun (kalau tidak salah). Saat pengajian beliau membawa bekal makan sore lengkap nasi dan sayurnya, dengan sendok dibungkus kantong plastik, terlihat higienis dam cermat. Saya senang melihatnya dan saya ingat-ingat terus. Ternyata, itu adalah cara beliau untuk menjaga ’jadwal makanan’ anak-anak. Luar biasa. Begini jelas beliau setelah sekian lama saya ingatkan lagi peristiwa itu, ”anak-anak usia dibawah 7atau 8 tahun umumnya belum bisa menahan lapar, bu.Jadi jika tidak terpaksa, jangan mengajak pergi menabrak jam makan. Jika itu terjadi, bawakan bekal, agar jadwal makannya tidak terganggu” Itu salah satu ilmu yang saya dapat dari ibu-ibu yang cermat. Pun  demikian ada pula –pelajaran – sebaliknya. Saya pernah melakukan ketidaktelitian dalam mempersiapkan anak-anak saya keluar rumah, saya lupa membawa baju ganti.
    Ya, jika memang kita memilih anak-anak ikut ke forum dan acara kita, persiapan yang cermat akan membantu kita untuk tenang. Perlengkapan pribadi (baju ganti, popok/diapers/celana cadangan, tisue basah, handukkecil, obat-obatan sederhana , minyak telon, bekal makanan-minuman), perlengkapan mengisi waktu ( buku cerita, majalah, buku gambar dan crayon, kertas lipat, lem, gunting, play dough, plastisin, dll)
    Siapkan pula kemungkinan terburuk jika pra kondisi tidak berhasil ditengah acara. Misalnya, cepatlah membuat anak tenang dan atau carilah tempat duduk yang memungkinkan kita segera mengajak anak keluar arena saat mereka bosan
3. Menghandle Anak Bersama
    Jika kita memang datang di acara tersebut berdua, dan memang telah disepakati untuk tidak menitipkan anak-anak pada pihak lain (hehe) ya semestinya kita dan pasangan dapat bekerjasama. Terus terang, saya dan suami biasa melihat substansi acara untuk memutuskan mengajak anak-anak atau tidak. Jika kami memiliki pengasuh, atau tante kami longgar dan bersedia mengajak dua putri tertua kami, ya kami memilih tidak membawa mereka. Bukan apa-apa, kami mencoba mempertimbangkan apakah forum ini bisa ’dinikmati’ anak2 atau tidak. Apakah kami bisa menghandle ank-anak atau tidak, apakah kehadiran anak-anak kami mengganggu forum atau tidak.
    Atau...jika kami memang harus membawa anak ke sebuah forum, semua persiapan harus prima dan kami harus bekerjasama menghandle mereka. Saya kadang gemas melihat suami istri, membawa anak –lebih dari satu- dan hanya si ibu yang repot dan kalangkabut saat anak-anak mereka rewel. Sang ayah hanya duduk bersedekap atau bahkan tidak hafal tangisan dan amukan anaknya hehe.
    Kadang-juga- orangtua tidak peka bahwa ke’aktifan’ anak-anak mereka sebenarnya mengganggu orang lain. Mungkin, mereka anggap ini sebuah bentuk ’keberanian’, kreatif atau lucu. Padahal, anak-anak mulai usia 2tahun sudah dapat diberi tahu tentang adab dan kesopanan. Saya termasuk yang sering risih dengan pemandangan hiruk pikuk anak-anak di forum serius meskipun tentunya saya harus menahan diri.Orangtua harus jeli saat membawa anak-anak apakah tingkah anak mereka membahayakan, merisihkan atau bahkan membuyarkan konsentrasi. Apalagi jika mereka memilih tidak menitipkan anak-anak ke tempat hadhonah atau children area.Sejauh ini  selalu saya tanamkan pada anak-anak bahwa setiap tempat memiliki aturan, jadi jika mereka ikut acara kami  mereka tau apa yang harus mereka jaga ditempat berbeda. Hal itu sangat kami ingatkan terus. Biasanya kami pun memberi 'reward' jika mereka bersikap disiplin dan menyenangkan, mentaati perjanjian hehe
 
4. Hadhonah dan Children Area : Rekomendasi Untuk Penyelenggara
    Anak-anak dibawah lima tahun memang tak bisa berkonsentrasi dalam waktu lama. Maka jika kita menyelenggarakan acara atau dapat mengusulkan pada penyelenggara, jasa hadhonah (penitipan anak dan pengasuhan) dan children area mestinya harus diprioritaskan. Sebab, saya menyadari semua orang ingin datang kesebuah acara penting dan memang tidak semuanya bisa meninggalkan anak-anak dirumah. Maka tim menghandle anak-anak disebuah acara (misal daurah, seminar, atau pengajian bahkan) harus ada.
    Suami saya pernah dengan tegas meminta panitia dan para orangtua disebuah acara untuk menghandle dan menenangkan anak-anak. Secara, sesion beliau mengisi waktunya siang hee. Ya,ya... penyelenggara yang profesional akan mencoba memfasilitasi children area di forum serius. Lalu bagaimana dengan orangtua yang –maaf- kadang ngeyel untuk tetap mengajak anaknya didalam forum? Orangtua sebenarnya bisa memasukkan poin ini pada tahap ’pra kondisi’ dengan mengatakan pada anak-anak ”jika kamu  mau ikut, nanti disana ada tempat untuk anak-anak kamu disana ya atau jika tetap ingin sama umi kamu bisa tenang” dan jika kita akan menitipkan anak-anak di children area atau hadhonah, usahakan datang lebih awal agar anak enjoy dahulu dan tidak kaget

Begitulah, mungkin tulisan ini terkesan ih mau ajak anak aja kok ribet. Tapi jujur, tulisan ini sudah mengendap beberapa waktu. Terus terang dengan sangat jujur saya akui saya sering merasa terganggu dengan acara yang sudah dipersiapkan, kita dapat amenggali ilmu, pembicara pun sudah didatangkan jauh-jauh dan tentu sudah mempersiapkan diri, ternyata nuansa tholabul ilminya gak dapat dan bahkan rusak karena teriakan anak-anak. Semoga ini nasehat untuk diri saya sendiri.Salam inspiratif!

Minggu, 16 Januari 2011

SALAH SATU ARTIKEL YANG MEMBUATKU BERHENTI MEMBERI SUFOR!

Pada Bulan Desember 2009 -kalau tidak salah- tak sengaja saya membaca sebuah majalah kesehatan milik adik saya yang tertinggal dirumah orangtua. Kini saya tinggal dirumah itu . Majalah yang membuat saya 'kembali' mencoba pola hidup lebih sehat. Padahal sebelumnya saya juga sering membaca banyak artikel kesehatan. Tapi begitulah, mungkin kita tak pernah tau rahasia sebuah ilmu sampai benar-benar kita dapat berkomitmen. Dan artikel inilah salah satu 'ilmu' yang saya dapatkan hari itu, menginspirasi saya terutama yang saya cetak tebal. 

Kebetulan, saya sedang  mencoba menghentikan 'kecanduan' susu formula anak kedua saya  yang tiap kali meminta susu. Susu formula yang memang manis  itu pastilah disukai anak. Saya benar-benar beruntung.Kini semua anak saya tidak lagi minum sufor. Kami berlangganan susu segar. Tentang ini, semoga ada postingan lain yang segera saya buat. Saya sengaja meng-copy paste artikel ini, semoga menginspirasi! atau buka  link ini 

************

Pola baru? Bukan!
Oleh: Dr. Tan Shot Yen. Sumber: Majalah Prevention Indonesia, Januari 2009

Ketika saya diminta bicara dalam suatu seminar tentang pola makan, ada satu pertanyaan yang paling sering muncul.


Pertanyaan itu adalah seputar kesulitan ‘beradaptasi’ dengan isi piring makan yang sudah dijelaskan. Sambil menghela napas (menguji kesabaran) dan memutar otak untuk menata bahasa, saya akhirnya bertanya,”Apakah yang diuraikan tadi adalah hal yang sama sekali baru, sehingga Anda perlu beradaptasi?” Kaget karena ditanya balik, sang penanya biasanya tersipu-sipu,”Yaaa… saya tau sih dok, makan sayur itu sehat. Apalagi bentuknya segar, tapi… ‘kan kita enggak biasa…”

Tubuh manusia abad ini dan tubuh manusia purba membawa pola genetik dengan tatanan DNA dan RNA dalam inti sel yang 99% masih sama. Kaget? Tidak perlu. Yang mengagetkan saya justru begitu cepatnya perubahan gaya makan manusia dalam kurun waktu tersebut. Yang ternyata membuat orang mempunyai jurang lebar antara apa yang dilakukan (dimakan) dengan apa yang sebenarnya diketahui sebagai hal yang tidak baik. Ketimpangan ini rupanya tidak hanya terjadi di bidang akhlak (siapa yang tidak tahu korupsi itu buruk? Tapi dilakukan juga…) melainkan juga dalam memilih gaya hidup (siapa yang tidak tahu merokok sama dengan bunuh diri? Tapi masih dikerjakan juga…) dan dalam hal memilih pola makan (siapa yang tidak tahu gula berlebih membuat keropos tulang? Tapi tetap ngopi-ngopi berteman tumpukan snack bertepung…).

Pembenaran yang tampaknya hanya sekadar permainan ‘rational excuses’, seperti menghentikan rokok sebaiknya pelan-pelan, atau membiasakan makan sayur secara bertahap, ternyata bukan mencerminkan niat sesungguhnya atau pengejawantahan ‘resolusi hidup sehat’. Seperti kebanyakan jargon obral janji orang modern setiap awal tahun baru. Saya sering (walaupun tidak selalu!) menemukan segala sesuatu yang berhubungan dengan niat tapi dijalankan dengan gaya ‘adaptasi’, lebih cenderung gagal. Karena sejak awal yang dibuka adalah self-sabotage, atau bahkan backdoor exit. Sebagai orang berintelektual tinggi dan pandai merasionalisasi segala sesuatu, tentu berderet alasan bisa dijadikan pembenaran. Termasuk kegagalan untuk konsisten makan sayur karena alasan ‘keluar kota’, atau yang paling konyol : istri saya belum sempat beli…

Jadi, yang sesungguhnya kerap terjadi (salah satunya dalam menerapkan pola makan sehat) bukanlah untuk membiasakan tubuh (karena tubuh justru akan bersorak sorai mendapatkan makanan layaknya untuk tetap bugar). Melainkan membiasakan diri untuk stand for your ultimate vision – menegakkan visi Anda.

Betul, Anda tidak hidup sendiri. Butuh support? Tunggu dulu. Dalam perjalanan terbang Surabaya-Jakarta beberapa waktu yang lalu, saya ‘mencuri dengar’ pembicaraan seru tentang marketing dan kelesuan ekonomi antara dua pria dengan penampilan keren. Pembicaraan mengenai ekonomi biasanya sangat saya hindari karena memusingkan kepala, buntut-buntutnya saya tetap kelihatan tidak pintar. Tapi sepotong kalimat si keren tadi membuat telinga saya tegak, ”Tahu enggak, warung kopi franchise menjadi sangat laris karena menambahkan informasi mengenai susu. Bahwa dalam setiap gelas cappucino atau coffee latte mereka, pelanggan juga mendapat manfaat susu sebagai pencegah keropos tulang…” Astagaaaa!! Saya baru sadar tentang ampuhnya jargon dan kepercayaan. Itulah mengapa sulit sekali ‘meluruskan kembali’ peta masalah dan memanggil orang untuk bangun dari tidur lelapnya yang sudah terlalu lama. Itulah sebabnya mengapa saya harus berjuang agar pasien perlu keluar dari ribuan kepercayaannya: Bahwa minum teh manis tiap pagi bukan ‘morning call’ yang sehat untuk insulin, bahwa jus malah meningkatkan risiko diabetik, bahwa sapi kita bukan lagi pemakan rumput dan susu pasteurisasi tidak mungkin memberikan manfaat pencegahan keropos tulang karena kalsiumnya sudah bersifat ‘non bio-available’. Alih-alih memadatkan tulang, ia malah nyasar mengendap di pembuluh darah.

Jargon lebih ampuh dari fakta ilmiah (yang sering disimpan kalau bunyinya merusak derap perdagangan dan investasi). Bukan hanya untuk awam, juga untuk yang katanya ‘profesional’. Ketika kedelai sekarang sudah dihujat di belahan bumi lain (yang memuja kedelai yang sama 10 tahun lalu), negeri ini justru baru mulai membuat ritual pemujaannya. Barangkali ini nasib dunia ketiga.

Apabila saya berkampanye tentang kembali ke sayur dan buah sebagai sumber karbohidrat, menganjurkan bayi-bayi menyusu pada ibunya dan berhenti menyusu (termasuk susu kaleng!) pada saat gigi sudah komplit karena ia perlu mengunyah dan mengaktifkan alat-alat cernanya (toh, kadar enzim laktase dan renin sudah hampir tidak ada pada usia 3 tahun), apakah saya mengajarkan ‘pola makan’ gaya baru?

Yang perlu lebih dicermati adalah perilaku gampangan dan mempertahankan survival dalam comfort zone manusia, yang pasti tidak akan membawanya ke mana-mana selain kematian dini. Bila cinta saja mati dalam lingkaran comfort zone yang tidak menjanjian pertumbuhan, apalagi tubuh? Tantangannya, bukan mengadopsi ‘pola yang baru’, melainkan: yuk, kembali menjadi manusia yang selaras dengan alam, bebas dari jargon dan berani bangun dari nina-bobok berbagai kepercayaan usang. Karena hidup sudah berubah. Beras tidak lagi ditumbuk dengan alu, sapi tidak lagi makan rumput. Banguuuuuunnnnnn!!(Dr. Tan Shot Yen, M.Hum.,)


**Dr. Tan Shot Yen, M.Hum., kinesiolog, sekaligus praktisi Braingym dan Quantum Touch, energy healing. Ia juga dikenal sebagai basic & advanced clinical hypnotherapist di Internasional Center for Hypnosis Education & Research. Selain sibuk menjadi pembicara dan narasumber di berbagai seminar, talkshows dan media, dia juga dipercaya menjadi co-teacher di kursus-kursus medical hypnotherapy. Wanita yang sedang sudah menyelesaikan studi di Program Magister Filsafat Manusia, STF Driyarkara ini juga aktif sebagai konsultan di Health Service Program – USAID.

Pelajaran Sadar Nutrisi di Tahun Baru (Hijriyah)


Hari Libur. 7 Desember 2010, tepatnya tahun baru  1432 Hijriyah 
Sebelum pukul tujuh pagi tadi aku sesegera mungkin menyelesaikan cucian baju. Tante kami sudah datang untuk menjagakan anak-anakku yang tertua. Belum ada asisten. Pukul tujuh aku berjanji dengan dokter anak yang merupakan sahabat keluarga kami, dr. Annang Giri Mulya, Sp.A . Kecemasan akan berat badan Farwah yang tak bertambah dalam sebulan ini membuatku tidak bisa menutup mata. Komentar dari saudara-saudara dan sahabat bahwa Farwah terlihat kurus akhirnya menerbitkan juga rasa gimana gitu. Yah, memang aku bukan penganut gemuk itu sehat. Tapi penurunan berat badan Farwah tetap menjadi perhatianku. Apalagi kali ini disertai panas dan batuk pilek beberapa hari.

Sesampainya dirumah pak Dokter, beliau dan istrinya menyambut kami dengan ramah. Ini dia beberapa poin percakapanku. Mungkin tidak sama persis.
”Apakabar bu?, Yah ini kecemasan seorang ibu” kataku membuka cakap dengan istri sang dokter
”Cobam sini saya periksa lingkar kepala dan beratnya” kata dokter Annang.
”Kamu ramah ya (sambil memangku Farwah).Hmm bagus, lingkar kepala, tingginya juga. Hmmm..beratnya memang kurang bu Vida.” dokter Annang membuka sebuah buku tebal. Lanjutnya,
”ini lho bu, kalau pake standar Amerika ini gizi buruk.. hehe”
”Apa?????!!!! Wah ndak enak nih . Padahal saya usahakan gizinya baik lho Pak.. jadi tersinggung” Dasar saya, ceplas ceplos aja. Sang dokter dan istrinya tertawa
”Ya... kualitasnya oke bu, tapi untuk aktifitas anak yang begini aktif mungkin kuantitasnya perlu ditambah.”

Singkatnya, aku harus mengupayakan 1000 kalori masuk ketubuh Farwah untuk mengejar berat badannya. Sang doketr yang menangkap keenggananku pake susu formula untuk menaikkan berat jagoanku seolah maklum. Dia tidak memaksa.

”Ya, kalau bu Vida mau tetap ASI, dan bikin MP ASI sendiri dan tanpa sufor, kuantitasnya harus ditammbah. Apa mau difoto kopi ni daftar kalori makanan”
”saya punya kok dokter...”
”Dikasih keju bu Vida, cepat kok naiknya” sambung istrinya. Setelah berbincang banyak hal saya pamit. Saya pun langsung meng-sms suami wah gak enak banget kata pak Annang Farwah gizi buruk, kurang kalorinya.Pfff...umi langsung mampir toko nih belanja. Suami saya yang sangat percaya pada saya untuk urusan anak-anak hanya membalas  : Ya katanya umi mau nerusin mamah bikin depot makanan bayi, ya harus diuji dulu doong.  Subhanallah. Tiap punya cita-cita kok ya Allah langsung memberi saya ’tantangan’.

Sepekan Masa Stress 
Sepede-pedenya saya, tetap saja saya merasa kepikiran. Ditambah Farwah yang panasnya seolah tak mau turun juga. Saya segera membeli semua bahan makanan  dan mencobakannya pada Farwah. Jujur, saya belum begitu fokus. Mungkin kecapekan, jadi ASI saya menurun kuantitas dan kualitasnya. Mungkin ini, itu semua sebab saya cari. Sayapun bertanya pada sahabat saya seorang spesialis nutrisi katanya : “Kalau gak pake sufor ya agak lama bu naikin beratnya” 

       Hfff.... suami saya hampir saya menyuruh saya tidak mempertahankan idealisme untuk tidak memberi sufor. Tapi saya bertahan. Saya memilih mengubah pola makan. Dokter Annang pun akhirnya menjawab ‘coba susu formula’ saat saya sms beliau bahwa Farwah enggan makan dan maunya minum. Saya pun diam. Mereka para ahli, apakah iya kalau saya tetep keukeuh? Apakah saya meremehkan mereka? Tidak begitu maksud saya. ya sudahlah, saya pun tetap tidak memberi Farwah sufor. Tentang ini, semoga kapan-kapan saya bisa menuliskannya.

Fase Kesadaran dan Berburu  Ilmu

Mungkin ini kali pertama semua orang-yang saya kenal- mengatakan anak saya ’kecil’ dan kebetulannya, ini pas yang laki-laki.hehehe (bias jender nih) . kakak-kakaknya berprofil lumayan ’gemuk’ seusia farwah dan hingga kini. Meskipun saya sebenarnya tidak setuju dengan ’gemuk’ itu sehat. Jujur setelah hari kesepuluh sejak saya begitu cemas, ada sebuah kesadaran bahwa semua sebab sudah saya cari, semuanya, termasuk menyadari kesalahan saya yang sempat ’percaya’ pada pengasuh lama saya yang mengatakan’ sudah makan’ setiap saya tanyakan perihal makan anak-anak terutama saat saya keluar rumah. Ternyata, makanan yang masuk tidak standar jumlahnya. 

Akhirnya saya searching banyak hal, saya baca semua buku-buku gizi yang saya punya, bundel Ayahbunda warisan mamah saya,  pengetahuan tentang kalori , gizi seimbang, menu variatif, share dengan teman di Facebook, bertanya pada sahabat-sahabt saya yang dokter anak dan ahli gizi, melahap semua ’ilmu’ tentang nutrisi, kebutuhan gizi anak, mencatat setiap makanan yang masuk ke anak  beserta banyaknya, mengatur ulang pola makan bayi  saya termasuk kakak-kakaknya dengan komitmen 3kali makan dan 2 kali snack (alhamdulillah anak-anak tidak terlalu doyan jajan kecuali dibelikan nenek mereka  dan saya coba  buatkan makanan selingan sendiri), saya cari semua zat yang katanya ada di sufor, saya substitusi dengan bahan makanan, saya bertahan tidak pakai sufor dan MP ASI instan. Saya turuti nasehat teman untuk pijat bayi teratur yang saya lakukan sendiri, komitmen kembali ’menjemur’ Farwah sambil sarapan. Ini harga sebuah kesadaran, batin saya.

Fase Optimis dan Tawakkal
Saya bukan orang yang bisa beralih haluan. Mungkin ini yang banyak dibilang orang ’kuno’ dan ’kaku’ tentang saya. Setelah sebulan program perbaikan pola makan Farwah, berusaha menaikkan berat badannya say jalani, sayapun selalu optimis. Sepekan setelah fase kesadaran itu, Farwah naik 300gr dan kini dia semakin terlihat sehat diusianya satu tahun. Memang dia tidak ’nampak’ gemuk. Tapi saya selalu optimis anak saya HARUS SEHAT. Mungkin memang perawakan dia berbeda dengan kakak-kakaknya. Saya tidak lagi pusing dengan komentar-komentar ’kuno’ seputar gemuk dan komentar-komentar sinis karena saya enggan memakai sufor. 
Alhamdulillah saya semakin bersemangat menjadikan anak-anak saya sadar terhadap kebutuhan gizi mereka. Mereka kini tau bahwa mereka HARUS makan yang bermutu. Mereka kini yang selalu menyemangati saya ”susu segar yes, susu ASI oke, susu formula no! Makan sayur yes, jajan sembarangan no!”. Dan ini lagu gubahan saya untuk mereka (nyanyikan dengan nada Lihat kebunku)

Ini makanku semuanya Indah
ada sayurnya, buah dan lauknya
setiap hari diberikan umi
Masak sendiri semua BERGIZI!

 Saya yakin banyak ibu-ibu yang mengalami seperti saya. Tapi yakinlah bahwa setiap suapan yang kita uapayakan sendiri adalah lebih baik meskipun sedikit demi sedikit. Problem anak susah makan, makan yang itu-itu saya, pilih-pilih, ternyata tergantung kesabaran kita dan kemauan kita mengolah bahan makanan. Suapan kita, masakan kita, dekapan kita, do’a- do’a kita untuk kesehatan mereka adalah luar biasa pengaruhnya. Dan BOHONG jika itu bisa digantikan dengan PEDIASURE, SUSTAGEN dan SGM dan entah apa lagi, kecuali jika kita hanya ingin anak kita ’kenyang’. Maafkan saya karena menyebut merk. Tetap Optimis semoga menginspirasi

*just thanks to  dua bersaudara dr.Annang Giri Mulya, SpA dan dr.Annta Kern N, Sp.N atas kesabarannya menjawab pertanyaan-pertanyaan dan mohon maaf atas ’kengeyelan’  saya tidak pake sufor hehe

Kamis, 02 September 2010

Musyawarah Yuk, Nak!


            Musyawarah? pa’an tuh? emang bisa anak-anak diajak bicara serius-serius begitu? Mungkin itu yang bergelayut di benak kita saat melihat putra putri kita yang bicaranya aja belum jelas dan suka ngelantur kemana-mana itu, ditambah rasa ego diusi  balita yang lagi dahsyat-dahsyatnya. Justru itulah yang menjadikanku memulai kegiatan ini.
            Membiasakan bermusyawarah menjadikan aku sangat menikmati proses memberikan pelajaran tentang apa yang boleh, tidak boleh dan apa yang kita sarankan untuk anak-anak kita. Musyawarah dengan anak  menjadikan kita melihat dan memahami sebuah persoalan bukan hanya dari sudut pandang kita, tapi memberi ruang pada anak-anak kita untuk mengeksplorasi apa, mengapa, siapa, bagaimana sebuah persoalan itu terselesaikan atau minimal mereka ‘pahami’ sesuai dengan alam kanak-kanak mereka.  Satu lagi, musyawarah memberikan pelajaran bagi mereka tentang menghargai pendapat, menghormati kesepakatan dan berbagi.
            Mungkin banyak teori yang ayah-bundam abi-umi, sist semua bisa dapatkan lebih komplit. Tapi boleh ya kami ceritakan pengalaman tentang bermusyawarah dengan putri-putri kami Maura ( hampir 5 tahun) dan Salma (hampir 3 tahun). Memang kadang sedikit memicu wajah cemberut diawalnya, tapi dengan sedikit ‘menyabarkan’ diri kita akan puas deh saat anak-anak kita bisa memulai ‘berdemokrasi’.
Apa yang Kita Lakukan pertama x ?
            Kegiatan ini memerlukan ‘awalan’ yang lumayan intens. Memperkenalkan kebiasaan selalu membuat anak-anak heran dan jika kita perceya diri melakukannya mereka akan ngikuut. Yang kami lakukan, baiasanya saya ‘mendengung-dengungkan’ kata musyawarah didepan anak-anak saat saya dan Abi ingin membicaraan sesuatu yang ‘penting’ meskipun gak penting-penting amat hehe. Biasanya kami bilang kemereka “ kakak Maura dan Salma, umi sama abi mau musyawarah dulu ya, ada yang penting nih” , atau “ Abi dan umi sudah musyawarah, sepertinya kita akan ….”  Atau “ Mau nggak kita musyawarah dulu biar kita bisa putuskan yang paling sip buat kita” Insya Allah saat kita konsisten memperkenalkan sebuah budaya atau kebiasaan baru, mereka akan mengerti. Sama dengan kita mengenalkan aktivitas kita apakah itu halaqoh, ngaji, nulis, dakwah dans emua aktifitas positif lainnya.
            Selanjutnya, kita buat suasana yang menyenangkan, tanpa tekanan dan memberi kesempatan pada anak-anak untuk mengungkapkan dahulu keinginan mereka, kita tampung dan kita apresiasi positif. Kita hanya perlu ‘mengarahkan’ pada apa yang kita anggap baik saat mereka sudah menerima haknya untuk didengar. Mungkin dua contoh ini dapat menginspirasi
  1. Pengalaman “Siapa Dahulu yang pergi Dengan Umi?”
Di bulan Juni yang lalu banyak sekali undangan walimah. Alhasil tiap pekan saya selalu dapat undangan. Nah, saya sedang mempunyai program mengajak pergi kakak maura dan kak haniyya bergantian. Pagi itu saya kebetulan harus mendatangi undangan dan tidak mungkin membawa kedua putri saya. Dari pagi saya sudah mensosialisasikan acara ‘jagong’ pagi ini. Nah, kebetulan lagi, tante kami ( anak-anak memanggilnya yangti juga ingin mengajak salah satu dari putri kami untuk menemaninya) . Musyawarah kita mulai
“ Aku mau ikut umi” kata Maura
“Aku yang ikut umiiiiiiii….” Salma Haniyya mulai merengek
“Hmm… gini aja kita musyawarah yuk! Kan kita bisa bicarakan siapa yang gantian pergi sama umi hari ini” aku menggiring mereka keruang tamu
“Jadi gini nak…Umi kan dapat undangan terus nih. Hari ini di Bu darwiyah, nah pekan depan yang nikah amah (tante) Tia. Itu lho Maura yang kemarin kesini kasih undangan. “ Maura mencoba mengingat
“ ooooh   yang adeknya amah Ana itu ya Mi?”
“Betuul….Nah kalau hari ini Maura ikut walimah umi, berarti Maura minggu depan gak ikut di pernikahan Amah Tia. Kalau…..”
“ Iyaya, aku tau… Kalau hari ini Aku ikut Yangti Lia, aku minggu depan bisa ikut Umi sama Abi ketempat nikahan amah Tia, gitu tho?”
“ Sip, betul. jadi gimana?Haniyya ikut umi dulu hari ini trus minggu depan kakak Maura, gitu ya haniyya?”
“ Iyaaaa…..” Haniyya yang emang udah pengen ikut terlihat senang. Tapi targetku kali ini si Kakak
“Okelah kal begitu. Aku ikut umi yang minggu depan ajalah. Aku sabar aja. Sama abi juga tho minggu depan? Aku sekarang ikut Yangti” Alhamdulillah....kesepakatan trcapai. dan kami pun berangkat dan berpisah  tanpa rewel-rewelan lagi. hari itu, jujur saya senang karena Maura mulai bisa mengambil keputusan
      2. Membuat Jadwal Harian
      Bulan Agustus besok pagi. Magrib ini sudah kurencanakan mengajak anak-anak dan Abi untuk menyusun jadwal harian. Setelah magrib saya ambil bekas tanggalan besaar dan spidol besar. Kubalik kertasnya dan kutulis besar-besar “JADWAL HARIAN KELUARGA” mulai kuajak mereka berdiskusi
“Baik, kita akan bermusyawarah ya. Kita akan membuat sendiri jadwal kita. Kapan bangun pagi, nonton tV, berangkat sekolah dsb. Gimana ?”
“Setujuuuu, mi. Apa dulu mi pertamanya?” kata kak Maura. Salma si tengah Cuma ikut aja tapi dia ngerti maksudnya
“Baik, kita mulai ya. Bangun tidur jam berapa? Habis bangun tidur apa?”
“ Jam 5 mi, trus sholat subuh, ...trus apa mi? tugas ya mi?”
“Ya, tugas pagi,kak Maura kemaren pengen bantu buang sampah kan? kita sapu halaman bareng-bareng trus buang sampah yang didapur ya!” dan seterusnya kegiatan demi kegiatan seharian kami catat sederhana dengan jamnya. Anak-anak belajar menghargai pilihan dan konsekuensi. Kapan mereka menonton Teve, kapan mereka sudah ‘saatnya’ berhenti. Insya Allah jika dengan selalu melibatkan dan memberi mereka pilihan, mereka akan mengerti bahwa menghargai itu bermula dari diri sendiri. Lagi-lagi kuncinya pada kita : sudahkah mencoba memulainya?

Kamis, 22 Juli 2010

Adil Pada Anak : Bahkan Saat Mereka Berbeda dan Tak Sempurna!

1.                
Mengamati mereka tumbuh menjadikanku bersyukur. Keunikan mereka menjadikanku ta’jub pada Penciptanya. Kedua putri yang sama-sama kulahirkan memiliki hal-hal berbeda. Si Sulung,Maura  yang saat aku menulis ini berusia empat tahun lebih, dan si tengah , Salma,yang usianya dua tahun lebih dua bulan. Dan anak ketiga kami yang saat naskah  buku ini  selesai kubuat ia sedang menikmati  3 pekan  didunia, kelak keunikannya pasti juga berbeda.

Hari ini, aku begitu tersentuh dan terhenyak. Si Sulung barusaja bertengkar dengan adiknya, Salma. Biasaa, mereka berebut. Kemarahannya membuatnya mencakar adiknya. Terus terang aku tak lagi bisa menahan amarah sebab kutanamkan  aturan pada mereka : Umi benar-benar  marah saat kalian sudah saling melukai dan menyakiti oranglain.

Disela penyesalannya dan tangisnya karena terpaksa kumarahi. Tiba-tiba Maura berkata  “ Semua orang tidak ada yang memanggilku cantik. Tadi aku diluar dipanggil gendut, gemuk. Aku mau dipanggil M A U R A...” Aku tercekat. Aku ikut menangis kupeluk sulungku dengan tulus. Naluri keibuanku merasakan gelisahnya. Mungkin kemarahannya tadi adalah pelampiasan. Kubelai rambutnya. Kutenangkan dia kukatakan padanya

“Nak, kamu cantik. Bagi umi kamu cantik...cantik sekali. Mungkin mereka memanggilmu gemuk karena gemas padamu, dan belum tau namamu, sayang. Besok kalau ada yang memanggilmu si gemuk lagi, perkenalkan namamu,ya! “ Maura masih menangis kecil dan masih terisak mengatakan dia tidak cantik

“Nak, yang penting kamu berakhlak baik. Sehat. Gemuk tapi baik hati itu lebih baik daripada kamu cantik tapi nakal. Makanya Maura yang sholihah ya, sayang sama adik, baik hati, ramah, tidak suka berkata jelek, itu semua lebih baik nak..Umi dan Abi bangga kok sama Maura. Kalau Umi dan Abi marah, dan menegur Maura karena kesalahan, itu agar Maura jadi anak yang baik dan Abi Umi tetap sayang. Sekarang, Minta maaflah sama adikmu  sayang “ Entahlah. Aku memang kesulitan megatasi sulungku yang sangat dominan, teguh pendiriannya, cerdas dan ‘kuat’ postur tubuhnya itu. Tapi dia sangat sensitif dan pemikir

Begitulah. Orang-orang dewasa disekitar anak-anak kita ( semoga tidak termasuk kita orangtua mereka)   sering menjadikan perbedaan-perbedaan menjadi sesuatu yang berlebihan dan tak jarang tanpa mereka sadari meruntuhkan atau mengurangi self esteem  (harga diri) anak-anak. Dari perbedaan fisik, prestasi belajar, sifat, bahkan selera! Ternyata menghargai keunikan dan pilihan anak-anak ataupun keadaan mereka apa adanya perlu kesabaran dan kebesaran jiwa.

Anak-anak yang tumbuh dalam suasana pembedaan atas mereka dengan anak lain (baik saudara kandung maupun teman-teman sebayanya) menyerap dan menyingkirkan dirinya dari optimisme. Betapa ‘ganasnya’ sikap membedakan anak-anak dapat menjadi boomerang bagi kita, para orangtua. Saya pernah mendengar cerita seorang teman yang selalu ‘menomorsatukan’ anak sulung mereka. Si tengah yang dari kecil merasa terpinggir, kalah, diacyuhkan,  tumbuh menjadi pribadi yang berkebalikan dimasa SMP. Ia jadi agresif, suka marah dan memanfaatkan ‘ketakutan’ ayah ibunya untuk menuntut sesuatu.

Sungguh, menghargai anak-anak kita sebagai ‘manusia’ seutuhnya adalah keharusan. Meraba potensinya, melihat kelebihannya, menikmati keragaman karakternya menjadikan kita lebih bijak bersikap. Kita, orang-orang yang beriman diperintahkan untuk bersikap adil pada anak-anak kita. Bahkan saat mereka tak sempurna sekalipun! Jangan pernah memperlakukan mereka berbeda. Saya pernah melihat cuplikan film dokumenter di sebuah kajian motivasi. Seorang anak yang menderita kelainan otak hingga tak bisa menggerakkan sebagian besar tubuhnya tetap diajak ‘hidup normal’ oleh ayahnya. Ia diajarkan berenang, diajak mengikuti lebih dari 900 event olahraga bersama sang ayah, dan dia menyelesaikan kuliahnya! Sang ayah memperlakukannya dengan adil dalam kehidupan. Subhanallah

Adil, mari kita adil pada anak-anak kita. Tak harus selalu memberikan sesuatu yang sama pada tiap anak, namun memperlakukan mereka dengan sama, apapun kelebihan dan kekuarangannya serta mendidik mereka untuk menghargai perbedaan diantara mereka sendiri. Tanamkan pada diri kita bahwa hukuman, hadiah, tutur kata harus selalu mencerminkan keadilan dan kasihsayang kita kepada mereka. Bahkan pada saat kita menghukum mereka, iringi dengan sikap bijak setelahnya. Agar ruh keadilan dan kasihsayang itu bersinergi menjadi kesan indah dalam kehidupan anak-anak kita kelak., dan menuntunnya menjadi manusia yang demikian pula : Adil sekaligus  penuh kasih. Wallahu a’alm bishawwab

Sabtu, 17 Juli 2010

Aku Sabar Aku Dapat!, Aku Sabar Tetap semangat!



            Hari sekolah sudah dekat. Si Sulung mulai masuk TK A (kecil) setelah sebelumnya dia telah masuk PAUD di dekat rumah. Si tengah mulai masuk PAUD tempat kakaknya dahulu bersekolah. Sengaja kami pisahkan tahun ini karena beberapa pertimbangan salah satunya karena si tengah suka ‘nyusul’ kekelas kakak Maura saat hari mulai siang hehehe.

            Dan cerita ini mengenai... S E PA TU BARU. Kebetulan di sekolah kak Maura yang sekarang ada peraturan bahwa semua siswa harus ‘seragam’ untuk sepatunya. Hitam, tidak boleh ada lampu yang berkedip-kedip, tidak boleh aneh-aneh lah pokoknya. Bagus juga maksudnya agar tidak ada acara pamer-pameran, yang berujung rengekan-rengekan pada orangtua. Mungkin.

            Kebetulan, saya dan suami memang belum menyempatkan membelikan sepatu untuk kakak. toh masih bisa pakai sepatu lama yang memang secara model simple, sepatu model Warior hitam dengan tali. Dan masih bisa dipakai kok kalau talinya dilonggarkan. Selain itu, kami sebenarnya sangat apreciate dengan anak-anak yang tidak pernah terlalu ‘risau’ dengan sepatu baru. Kukatakan dengan jujur bahwa Umi dan Abi Insya Allah akan belikan sepatu tapi belum saat ini. Kalau kalian sabar, pasti dapat yang terbaik. Dan anak-anakpun enjoy, karena semangat sekolah mereka luar biasa.  Si adek Salma malah dengan penuh semangat mengatakan “ Aku pake sepatu kakak yang pink ya kak? kan aku cukup nih” kakaknya menyahut , “Boleh, aku juga pake yang item tali.Aku kan TK ya mi, sekolahku sekarang gak boleh lho pake sepatu warna warni”. Hmm... itulah yang membuatku PD aja belum membelikan sepatu diawal masuk sekolah. Hehe... meskipun, biasaaa emak-emak tetep aja ‘ribut’ nyindir-nyindir sama Abi “kapan ya kita punya waktu nih belikan sepatu buat kakak”hihihihi

            Nah, saudara-saudara. Di hari ketiga sekolah mulailah sebuah ‘pelajaran’ kecil kudapatkan. Tiba-tiba sahabatku yang anaknya satu sekolah dengan si sulung kebetulan menelepon dan diakhir perbincangan kami, ia mengatakan padaku “Eh, bu Vida PR dari guru sekolah Maura udah dibilangin ke njenengan (kamu, ed)? coba deh ditanya hehe. Tadi pas mau pulang gurunya mbisikin dia.Coba deh ditanya” aku menebaknya pasti masalah sepatu karena kemarin si sulung sudah sambil lalu bilang “ Mi, kata buguru aku suruh mbelikan sepatu”. Akhirnya saat kutanya, Maura malah cengar cengir.

            Olalala.....ternyata si guru membisikkan pada anakku “ Dapat PR dari bu Guru ya, bilang sama Umi ya suruh belikan sepatu” akupun sebenarnya jengah. Ah, biasa aja pikirku. Sampai sore harinya kukatakan pad suamiku dan mulailah tema diskusi yang tak kuduga. Begini kata Abinya

“hm.. bersyukur ya Mi, kita punya anak-anak yang tidak patah semangat hanya karena belum dibelikan sepatu. Abi malah berpikir gurunya kurang tepat tuh masak bilang gitu ke anaknya, mestinya ke kita dong” kata suamiku sambil duduk santai menikmati wedangan sore.

“Hmmm..Iya juga ya, kan ada buku penghubung, atau bisa pakae surat, sms atau telpon kita kalau memang itu jadi sesuatu yang penting. Iya ya, Umi nangkep maksud Abi. Coba kalau anak kita mentalnya kecil, minder, pasti udah mogok sekolah ya!” aku merasa ini pelajaran berharga
“ Iyalah, tapi coba, dengan kita kemaren bilang bahwa kita belum bisa belikan sepatu saat ini,anak-anak sudah enjoy.Kita padahal kan sedang masukkan nilai sabar, qona’ah, kepercayaan diri.Gurunya gak ngerti soalnya ya hehehe” .

Maka kupanggil kedua putriku dan kami berbincang
“Maura, sepatu maura itu emang udah sempit banget ya? Tadi bu guru ya yang make’in sepatu?” aku tau sebenarnya talinya yang bikin kadang sepatu terasa sesak
“ Ndak kok mi, mungkin bu guruku itu kurang lebar mi mbukanya, jadi susah”
“ Ooo….atau mungkin disekolah gak ada yang pake sepatu begitu ya. mm… Maura masih bisa sabar kan nunggu Umi dan Abi belikan sepatau? Insya Allah Minggu depan Maura sudah pake sepatu yang hitam dan tidak pake tali seperti yang di peraturan sekolah. Hitam dan tidak bertali”.
“ Iya Mi, gak papa aku sabar kok. Kan kalau sabar kita dapat yang baik kan mi?”
"Iya dan masih banyak anak-anak yang tidak bisa beli sepatu namun mereka tetap semangat belajar, Maura"
“ Aku juga sabal Mi…aku sepatu sandal ya mi? kan aku sekolah bisa pake sepatu kakak” si tengah nimbrung
“ Subhanallah yaaa anak-anak Umi hebat. Abi dan Umi kan selalu tepat janji ya? Kalian percaya kan?”
“ Oooo tentuuu Hahahaa. ” Kata kakak dengan gayanya kemayu meniru presenter cilik di TV

Akhirnya, Sabtu sore kuluangkan waktu bareng suami membelikan sepatu hitam, simple, berperekat, ringan untuk si sulung dan sepatu model sandal untuk si tengah yang memang masih bebas pakai sepatu model apa aja. Sore itu mereka merasa begitu puas. Aku buatkan kalimat afirmatif untuk mereka : Aku Sabar Aku Dapat, Aku Sabar , Tetap Semangat! Kukatakan pada putri-putriku
“ Terimaksih ya anak-anak sabar, Umi senang kalian tetap semangat sekolah, meskipun belum dapat sepatu. Oke yuk kita bareng-bareng bersyukur dan bilang Alhamdulillah, aku dapat sepatu. Aku sabar aku dapat, Aku sabar tetap semangat!”
Jadilah sejak sore kemarin hingga siang ini mereka ‘fashion show’ dengan sepatu masing-masing , dan terus bertanya ‘ini hari apa? besok hari Senin? Aku sudah bisa pakai sepatu baru…” Alhamdulillah Nak!



Minggu, 20 Desember 2009

Berdamai dengan si Sulung

Hari ini melelahkan. Dan aku yakin kemarin, besok, dan akan seterusnya begini. Anak-anak kita akan selalu mempunyai potensi konflik dengan kita. Hm…tentu saja sesuai dengan fase bertumbuh dan berkembang mereka. Aku baru saja memutuskan berdamai dengan anakku setelah bebrapa jam yang lalu ia benar-benar keras kepala.

Bagaimana tidak? Sepulang sekolah ia terus menerus melakukan hal-hal yang memantik emosi. Dari satu permintaan –pemaksaan- satu ke yang lain. Dan sungguh seperti yang kutulis kemarin : aku belum cukup sabar atau belum cukup bisa menahan diri .

Akhirnya aku memilih diam sejenak. Kupandangi sulungku yang merajuk karena permintaannya yang kesekian kali siang itu tidak kuturuti. Kali ini ia memintaku membelikan pensil warna yang baru karena sepulang sekolah tadi ia mendapatkan hadiah buku mewarnai yang ternyata sama dengan yang pernah ia punya. Alhasil ia merasa tidak ada sesuatu yang ‘baru’. Ditambah lagi seperti biasa, crayonnya yang lama hilang dan entah kemana. Segala argumen kuhiburkan, kuminta ia memakai sisa crayonnya yang lama. Dan tidak berhasil. Mulailah ia mengamuk,berteriak, berguling dilantai (khas anak-anak yang marah), mengatakan “Umi jahat” dan seterusnya.
Dan menurut teori yang kubaca, semakin tinggi volume suara kita saat anak marah ternyata semakin membuatnya bertahan dengan kemarahannya. Maka, akupun DIAM, Tanpa ekspresi.

“Nak....sini nak, umi tau kamu kecewa. .” akhirnya itu kalimat pertama yang kuucapkan setalah menghela nafas. Sulungku masih merajuk. Kurengkuh tubuhnya meski dia masih enggan
“Aku dapat hadiah buku yang sama, Mi. Aku sudah pernah punya. Lagipula Aku juga gak punya pensil warna…” anakku panjang lebar meluapkan kekesalannya. Masih dengan seragam sekolahnya. Aku mendengarkan dengan menatap matanya. Berusaha setulus mungkin!
“ Ya sudah… sekarang Maura ganti baju dulu, pipis,minum air putih, dan nanti kita coba cari lagi crayonmu ya? Kalau memang sudah saatnya beli pensil warna baru, Insya Allah Umi belikan. Tapi kita cari dulu crayonmu yang lama.”… beringsut sulungku mengangkat tangannya keatas, bersiap melepas seragamnya dan sterusnya. Pertanda bagus.

Aku benar-benar membantunya mencari crayonnya. Memang tidak mungkin ditemukan semua karena memang crayon itu sudah ‘habis’ ia pakai atau sebagiannya lagi tercecer kesana kemari. Aku pun sadar aku akan membelikan pensi warna baru di toko sebelah rumah sebab memang sebenarnya ia telah lama tidak lagi memilikinya. Tapi belum sekarang waktunya.

Kubantu putri sulungku mencari crayon yang masih tersisa. Sembari mencari, kunetralkan perasaannya.
“Sudah Nak? Sudah nggak marah kan? Bersyukur ya Nak, hadiah Bunda Dina kan sudah bagus. Malahan Maura bisa mewarnai lebih baik karena sudah pernah.” Putriku mengangguk pelan. Bagus. Marahnya reda
“ Aku sudah mau terima hadiah itu, Mi. Tapi aku ndak punya pensil warna lagi. Cuma ini, kan ndak banyak warnanya” Baiklah. Aku sudah berdamai dengannya.
Kemarahan yang luar biasa bisa kuredam dengan sedikit berempati dengan perasaannya. Perasaan kecewa, capek, frustasi. Aku tidak menjamin bisa setiap hari begitu. Kadang lelahku beradu dengan lelahnya, batas kesabaranku, beradu dengan ketidakpuasannya. Dan sebenarnya itulah yang kadang memicu kita ‘berperang’ dengan anak-anak kita.

Siang ini setidaknya aku ingin mengajarkan ia berdamai dengan perasaannya dahulu. Memang kadang kita terburu menghentikan rasa marahnya dengan salah : segera memberi apa yang ia minta. Ya, memang ia berhenti, namun dia sedang belajar ‘menjajah’ orang lain untuk menuruti segala permintaan dengan MARAH.

Siang itu setelah ia ‘berdamai dengan kemarahannya’, setelah ia mau mewarnai buku barunya dengan crayon seadanya, barulah kuberikan reward (penghargaan) padanya sekotak pensil warna yang memang tidak mahal...he..he... dan kurendahkan tubuhku lalu kubisikkan padanya : “ Ini untuk anak Umi yang bersyukur dengan pemberian, mau bersabar, dan mau mencari crayonnya...he..he..” Siang itu, aku berdamai dengan Si sulung. Meskipun akan selalu ada lagi ‘peperangan’ dan potensi konflik yang harus kita hadapi sebagai seorang ibu, tho?? Kita hanya harus bersiap untuk berdamai dengan benar dan mendidik.
Ishbir ya, Ummi!

Anak Kita: Steril ato imun?

Keputusan kami mengontrak rumah dikawasan pinggir kota Solo membuat orang tuaku dan sebagian kerabat ‘mengeryit’. Daerah itu sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah orang tuaku dan kerabatku. Hanya berbeda kelurahan saja. Menurut sejarah kota ini adalah tempat yang dikenal dengan black area-nya Solo. Meskipun banyak hal telah berubah, namun pengaruh image terhadap sesuatu ternyata begitu hebat.

Tapi entah kenapa aku menyukainya. Hehe meskipun untuk kemana mana aku –sst... yang sampai tulisan ini dibuat tidak bisa naek motor- harus mencapai mulut gang dan bertemu dengan pasar diatas tanggul tempat banyak becak mangkal.

Aku tak ingin bercerita tentang istanaku itu.Aku akan menceritakannya dibagian lain buku ini. Hal yang paling dikhawatirkan oleh orangtuaku sebagai seorang nenek dan kakek tentu saja pengaruh lingkuangan kami terhadap perilaku para cucu mereka. Dua putri balitaku dikhawatirkan terpengaruh dengan anak-anak kampung .

Hmm… kubiarkan anak-anakku bebas bermain bersama anak tetangga. Biar saja. Memang kadang aku terkaget-kaget dengan nada bicara dan kosakata yang hmm…asing dan kadang ada juga kata-kata kasar yang tersangkut dalam memori mereka. Kebetulan anak-anak tetanggaku tidak ada yang benar-benar sebaya dengan sulungku, Maura. Mereka lebih tua usianya.

Bahkan untuk mengkampanyekan memakai sandal saat bermain pun aku harus sedikit bekerja keras dengan terus menerus menegur anak-anak tetanggaku, menggiring mereka mencuci kaki-kaki kecil mereka di kamar mandi rumahku. Dengan perlahan tapi pasti mereka tau : sandal itu berguna untuk kaki mereka. Agar mereka tak terkena kuman dan tentu saja tidak membawa najis dan kotoran jalanan kerumah.

Aku benar-benar merasakan betapa yang benar-benar penting adalah memberikan mereka imunitas untuk bergaul ditengah masyarakat. Bukan mensterilkan mereka dari proses mengenal banyak anak, sifat dan perilaku. Kuakui, kadang cemas menyelinap saat anakku kadang tidak mematuhi aturan kami.
Imunitas pada anak-anak dapat berupa penanaman nilai, proses dan bukan hasil. Sulit memang, sangat sulit. Bahkan akupun masih belum bisa sepenuhnya bersabar menghadapi anak-anak yang bertumbuh.

Imunitas berupa kejujuran akan menjadikan anak-anak kita sportif. Berani mengakui ksalahan kecil maupun besar nantinya. Kehangatan menerima mereka juga akan menjadikan mereka tetap kembali pada kita.

Mungkin, kesalahan kecil yang sering kita –para orangtua- lakukan adalah mencari kambing hitam dengan menyalahkan teman-teman bermain anak-anak kita. Dalam bukunya Bersikap Terhadap Anak (2000), Fauzil dengan sangat adil mengatakan bahwa mencari kambing hitam dengan menyalahkan teman anak-anak kita pada saat mereka ‘nakal’ atau melanggar aturan bukanlah sesuatu yang efektif.

Sebab akar masalah dan kenakalan tak akan selesai. Sebaliknya, anak-anak kita terbiasa ‘menyelahkan’ dan mensterilkan dirinya dari kesalahan atau kenakalan yang sebenarnya iapun turut serta melakukannya bersama teman-temannya.

Akibatnya? Anak-anak yang disterilkan orangtuanya dari proses bergaul (dengan segala kekurangan dan kelebihannya) justru akan menjadi anak yang manja, pengadu, dijauhi teman-temannya karena akhirnya kurang bisa berdaptasi dan egois.

Biar saja proses bergaul dan bermain menjadi hak anak-anak kita. Biar saja mereka memahami bahwa disekitar mereka ada anak-anak yang berbeda-beda, ada orangtua yang berbeda-beda, ada permusuhan, ada perdamaian, ada persahabatan, ada memaafkan setelah pertengkaran, ada berbagi. Yang terpenting, saat mereka pulang kembali dalam rengkuhan kita, suntikkan lagi vaksinasi moral, kehangatan, kesiapan mendengarkan cerita-cerita mereka. Insya Allah…kemanapun mereka bermain, semoga kita para ibunya tetap menjadi tempat kembali yang memberinya bekal lagi bahwa hidup tidak pernah datar dan merekapun siap bertemu, bergaul dengan siapapun tanpa menggadaikan prinsip. Semoga.