Tampilkan postingan dengan label dakwah kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah kita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Oktober 2015



Lembaran Triplek dan Mangga yang Ranum  : Bekal karakter ber- Amar Ma’ruf Nahy Mungkar

                Dua perumpamaan itu sangat saya sukai. Saya mendapatkan penjelasan keduanya dari sebuah kajian dimana ‘Ustadz Special’ yang saya cintai menyampaikannya. Pantesan nyantel..(nggak diing, jangan lihat siapa yang mengatakannya, tapi lihat apa yang dikatakannya kaaan kebetulan aja yang nyampekan kekasih hati) . Tulisan ini mengambil ‘referensi’ perumpamaan keduanya yang bagi saya inspiratif. Dan setiap saya hendak timbul malas…saya selalu mengulang merenunginya agar energi positif pendar kembali. Kali ini saya tuliskan agar pendar itu menyemangati kita semua.Yuk, Mari!
  Adalah kita, manusia laki-laki dan perempuan, memilih menjadi orang beriman dan pada akhirnya memilih dengan sadar atau bahkan ada yang awalnya ‘terpaksa terkondisikan’  menjadi ‘sebagian manusia’ yang memenuhi seruan Allah untuk melakukan amar ma’ruf nahy mungkar ( yuk buka QS.Ali Imran 104), maka kita tentu tak ingin menjadi seseorang penyeru kebaikan yang berilmu lemah, atau pencegah kemungkaran yang beringas dan kaku bukan? Amanah amar ma’ruf nahy mungkar yang disematkan Allah dalam misi agama ini begitu mulia dan terus menerus menjadi warosatul anbiyaa’ (warisan para nabi) hingga kita saat ini. Pembawa misi kebaikan tentulah harus berbekal banyak ketrampilan, ilmu dan kepribadian mempesona yang tulus dan benar-benar menjadi karakternya (bukan pencitraan, lhoo hihi)

1.       Lembaran Triplek : Luas dan Luwes
         Apakah kita pernah melihat dan menemukan secuil triplek? Bagaimana keadaannya? Apa yang bisa dibuat dari secuil triplek? Ya, ya..Secuil triplek tentu kaku, keras, tidak bisa dibentuk dan hanya bisa sedikit memberi manfaat. Tapi triplek lembaran? Yang lebar dan bahkan bisa digerak-gerakkan? Begitu luas, manfaatnya banyak, bisa jadi daun pintu, bisa jadi almari, meja dan sebagainya. Selembar triplek memberi ‘peluang’ untuk dijadikan apa saja yang memberi manfaat.
          Itulah manusia dan modal ilmunya. Seseorang, yang berilmu hanya secuil dan –lebih parah lagi- jika tidak mau menerima pelajaran dari orang lain biasanya berpotensi menjadi pribadi yang kaku, pedapatnya hanya satu sumber, sulit menerima perbedaan. Diperparah jika dengan ilmu yang secuil itu dia begitu percaya diri dan tidak mau belajar lagi.Apa yang terjadi?
           Sebaliknya, orang yang berilmu luas, memiliki semangat belajar dari siapa saja, mau menerima masukan, bersemangat mencari ilmu dan terus membagikan ilmunya menjadi seorang yang memiliki kapasitas dan bahkan expert di bidangnya biasanya bisa memahami perbedaan, opend mind, memegang perinsip namun bisa menerima hal yang berbeda, tidak surut dicela, tidak pongah dipuji.
           Karakter ‘lembaran triplek’ yang luas itu juga menjadikan seorang yang berilmu luas bisa luwes tanpa harus menyakiti orang lain dan tanpa harus ‘melacurkan’ keilmuan dan idealismenya.
Ilmu menjadi modal kita beramar ma’ruf nahy mungkar.Mari  mulai belajar bicara dengan data, mulai mengajak dengan pemahaman yang prima tentang apa yang kita seru, juga mencegah dengan cara yang baik, tau tahapan kapan harus bicara lembut kapan harus tegas. Sekali lagi ilmu yang luas seperti lembaran triplek,bisa juga lembaran kain atau apapun deh  yang luwes dan memberi manfaat lebih luas

2.       Mangga ranum : Disukai semua orang dan Mengundang Selera
           Ini karakter penyeru kebaikan dan pencegah kemungkaran yang satu lagi. Pernah kita lihat mangga mengkal yang muda? Sudah tumbuh besar tapi masih mengkal. mangga seperti itu siapa yang menyukainya? Tentulah ibu hamil yang suka nyidam yang asem-asem, atau tukang rujak. hehe..Mangga mengkal dan muda kadang juga bisa menyebabkan sakit perut jika dimakan tanpa batas. Intinya penyuka mangga muda itu terbatas, sist!
           Beda kan dengan mangga ranum, manis dan matang pohon pula. Semua orang di semua usia dan kondisi suka dan ingin memetiknya, ditawarin juga gak nolak, baunya harum rasanya manis, siapa gak kepingin?
            Begitulah kita, jika karakter kita seperti mangga muda dan mengkal maka kita hanya mampu masuk  dan diterima olah ‘segmen’ tertentu. Kita tidak bisa membaur, kita bahkan terlalu underestimate dengan orang-orang yang baru atau tidak kita kenal, akibatnya kita terkesan begitu ‘masam’ dan membosankan.      Pada akhirnya ya…kita hanya bisa diterima dikalangan terbatas dan bahkan banyak orang ‘mewarning’ orang lain tentang keberadaan kita, duuh…
             Sebaliknya, kita semestinya menjadi mangga ranum yang menyenangkan, bisa masuk pada semua kalangan, disukai karena memang kita begitu humble, hangat, ramah,apa adanya dan jujur dengan keadaan diri kita. Karakter mangga ranum itu menjadikan kita bisa berempati dan tepo sliro dengan hal-hal yang baru kita temui, atau tidak hanya cukup dengan menyenangkan banyak orang tapi kita juga bisa membawa mereka pada kebaikan-kebaikan yang kita tularkan. Hingga amar ma’ruf dari lisan dan sikap kita menjadi sebuah keistiqomahan, dan orang meninggalkan kemungkaran dengan penuh kesadaran karena si penyeru yang penuh kesabaran dan begitu mengesankan
          Ah…jika..jika dari keduanya saja kita bisa belajar, maka kita pasti akan mendapatkan energi keberkahan dari semua aktifitas menyeru pada kebenaran dan mencegah kemungkaran, dan janji Allah bahwa sebagian orang yang demikian adalah orang-orang yang beruntung akan kita raih dan rasakan.In syaaAllah. Semoga menginspirasi akhir pekan kita. Wallahu a’lam..

Selasa, 26 Juli 2011

Aku, Suamiku dan Istri Pertamanya

 Sejak aku mengenalnya, aku tau aku harus siap berbagi dengan istri pertamanya. Segalanya dan lahir batin. Bagaimana tidak? Istri pertamanya itu lebih dahulu dikenalnya dan banyak memberinya kenyamanan jiwa. Sebaimana istri, belahan jiwa, istri pertamanya itu adalah bagian hidup suamiku. Suamiku mengenalnya dan berinteraksi mesra dengannya jauh sebelum mengenalku.JAdi, aku memang harus tau diri dan menaruh takzim.

 Suamiku mengenalku saat aku berusia ranum, 23 tahun.Sebelum itu, suamiku sudah mengikat janji dengan istri pertamanya. Akupun mengenal suamiku dengan perantara istri pertamanya itu,jadi sekali lagi, bagaimana aku bisa menghalangi suamiku dating dan memenuhi panggilan istri pertamanya setiap detik, menit, jam, hari pekan ,bulan bahkan tahun? Aku sudah menetapkan hatiku :aku ini hanya istri kedua setelah dia. Tulus dan tanpa paksaan.

                Hari berganti hari, dan kini usia pernikahan kami tujuh tahun. Selama itu pula aku, suamiku, dan istri pertamanya semakin akur saja. Semua berjalan dengan sangat romantis. Romantis yang berbeda, bukan mellow atau possessive. Aku,suamiku dan istri pertamanya itu saling menguatkan. Ya, panggilan-panggilan dari istri pertamanya selalu kulempangkan jalannya. Kubiarkan suamiku memenuhi kewajibannya pada istri pertamanya dengan tanpa beban, tanpa kureweli dan kukondisikan anak-anakku sejak dini untuk memahami belahan jiwa ayah mereka yang lain. Dan meskipun masih anak-anak, aku yakin mereka akan bertumbuh dengan keyakinan sama denganku, toh ayah mereka adalah seorang ayah yang berusaha membagi waktu dengan adil. Cinta yang bervisi surga, begitu mimpi kami.

  Aku sering berseloroh dengan suamiku “aku ini hanya istri kedua setela dia.begitu juga istri-istri berikutnya , jika tidak bisa berinteraksi dengan istri pertamamu, lebih baik jangan nambah, hahaha…” dan entahlah, kami tidak pernah merasa jengah dan tabu berbicara tentang momok pernikahan bagi para istri : POLIGAMI. Karena bagi kami semua itu ada waktunya, ada aturan dan ada standarnya.Jadi, aku dan istri pertamanya dan suamiku sudah saling memahami hanya tinggal kehendak Allah bukan? Mau ditambah lagi atau tidak  hehehe

                Aku tau semakin bertambah usia pernikahan kami, istri pertamanya akan semakin banyak meminta perhatian, konsentrasi, pemikiran dan bahkan waktu suamiku. Karena istri pertamanya itu bukan sesuatu yang biasa-biasa saja.Aku bahkan merasa nyaman berinteraksi dengannya. Aku ,suamiku , dan istri pertamanya telah sama menemukan belahan jiwa, bukan cinta fisik yang berbatas usia, tapi romantisme heroic yang saling memotivasi untuk semakin teguh dijalan ini. Ya,ya,ya…sejak semua cinta bermula pada suamiku, aku sudah meneguhkan diriku :aku ini istri kedua setelahJAMA’AH dan amanah Dakwah yang lebih dulu dicintainya.Salam Inspiratif!

Jumat, 13 Mei 2011

Kita Kader Dakwah, BUKAN ‘Alien’ yang Berdakwah

Tulisan ini sudah lama ingin saya posting. Terinspirasi dengan pertemuan kami dengan istri menkominfo Tifatul Sembiring, ibu Sri Rahayu disela-sela kunjungan kerja beliau untuk studi banding tentang Kota Layak Anak. 
Menarik,karena beliau yang kini mendapatkan amanah sebagai sekretaris komisi D DPRD Kota Depok dan istri seorang mentri yang berasal dari Luar Jawa itu tidak kehilangan akar budayanya: Jawa. Beberapa kali dialeg bahasa Jawa halus beliau sampaikan bahkan kami yang 'masih' jaga gawang di kota berjuluk 'spirit of Java' ini pun kalah. Bahkan seorang teman di Jakarta mengatakan, citra Solo itu masih terus beliau bawa dalam menjamu tamu dengan menghidangkan nasi liwet, misalnya.Bagi saya ini menjadi salah satu kelebihan tentang bagaimana beliau mampu berasimilasi budaya di tengah hirukpikuk ibukota dan dengan suami yang berkarakter berbeda.

Kembali pada substansi. Pertemuan tak lebih dari dua jam itu lumayan membuat saya belajar tentang banyak hal. Tentu saja, tema dakwah dan segala perniknya masih selalu menjadi wawasan yang harus kami gali dari banyak pelaku dakwah, apalagi diranah birokrasi yang begitu banyak menawarkan tantangan. Sebuah kata kunci yang digunakan oleh beliau, ibu Rahayu adalah bahwa inti dari dakwah adalah delivering message.Tentu saja message disini adalah kebaikan dan kebenaran Islam dari Allah  yang dibawa Rasulullah. Nah, dari diskusi kami di sore itu, saya mengambil inspirasi-inspirasi bahwa dakwah ini harus tersampaikan dengan cara-cara yang tepat, profesional dan luwes. Ibu Rahayu sempat menyampaikan jangan sampai kita menjadi 'mutan' .Mutan sendiri kurang lebih sesuatu yang terjadi karena proses yang tidak sempurna, akhirnya tumbuh sebagai sesuatu yang cenderung keluar dari sifat asli dan biasanya aneh serta justru kebanyakan merugikan.

Terinspirasi dengan istilah bu Yayuk tersebut, Saya sendiri akhirnya lebih memilih istilah 'alien' dalam tulisan ini agar lebih gampang dipahami. Dakwah Ilallah dan segala programnya mengharapkan kita menjadi para 'aktivisnya'. Memperjuangkan, menyampaikan pesannya, dan menjadikannya ruh serta orientasi aktivitas kita. Pun begitu, tak jarang kita yang 'mengaku-aku' sebagi aktivis dakwah ini justru bertindang seperti alien yang asing dan tidak dapat nyambung dengan masyarakat. Nah, beberapa poin dibawah ini mungkin dapat menginspirasi agar kita dapat menilik kedalam diri, sudahkah kita berlaku selayaknya aktivis dakwah yang seharusnya menjadikan masyarakat sebagai tempat ia menyemai kebaikan dan bertumbuh bersama mereka.

1. Kader dakwah Mampu Membersamai masyarakatnya
     Jika kita mengaku sebagai kader dakwah, mari kita hitung berapa banyak kita berinteraksi dengan masyarakat kita dalam sehari, sepekan,s ebulan, setahun? Berapa banyak event-event kemasyarakatan yang kita sediakan waktu untuk mendatanginya? PKK, Posyandu, Kerjabakti Kampung, Sholat berjama’ah dimasjid, Mendatangi upacara pemakaman, pernikahan atau sekedar menyapu halaman dan menyapa orang yang lewat?

Kader dakwah yang hanya puas dengan kebaikan-kebaikan dan kesibukan dirinya,dunianya dan hanya sibuk beraktivitas dalam  'komunitas' jama'ahnya hanya akan menjadikan dirinya bak makhluk asing ditengah masyarakatnya. Gampangnya orang akan sedikit sinis saat ia tiba-tiba menyeru –meskipun- itu kebaikan. Siape lu? Kemana aja lu? Mungkin begitu tanggapan masyarakat. Percayalah bahwa masyarakat kita sebenarnya baik dan tulus, hanya kadang kita terlalu ‘tinggi’ melihat pada diri sendiri dan enggan sekedar srawung (ketemu)  dan mengenal mereka
2. Kader Dakwah mampu Bersikap Profesional, Sabar dan Telaten
            Setelah poin pertama, maka karakter sabar dan telaten adalah kuncinya. Berdakwah seperti juga marketing. Lihat Rasulullah, kesabaran beliau dan ketelatenan beliau menjadikan dakwah Islam ini bersifat mssiv, kokoh dan bertahan dalam jangka ratusan abad. Kader dakwah mampu menjadikan proses tarbiyah (pembinaan) dalam masyarakat sebagai sunnatullah yang harus dijalani dengan sabar, professional, ngemong dan telaten agar kemanfaatan dan loyalitas masyarakat dan objek dakwah pada Islam dan dakwah itu muncul dan bertumbuh sebagai kesadaran, bukan reaksi sesaat yang tiba-tiba akan lenyap.
            Kader dakwah harus siap menempa dirinya seperti benih yang tersemai, kadang terinjak, dikritik, dicaci dan kadang harus menghadapi banyak akibat yang tidak sesuai dengan usahanya. Tak mengapa. Masyarakat akan melihat siapa yang mapu bekerja dengan sabar. Maka jika kita ingat, kader dakwah harus memiliki sikap seperti ‘orangtua’ yang ngemong dan telaten pada anak-anaknya.
3. Kader Dakwah Mampu Bersikap Luwes dan Tawadhuk
            Mancolo putro mancolo putri Hehehe itu istilah yang diperkenalkan bu Sri Rahayu yang sempat menjadikan suasana segar . karena,ternyata banyak diantara kami yang tidak tau istilah njawani itu. Artinya kurang lebih sikap yang luwes. Kalau arti ‘sakleknya’ sih kadang jadi laki kadang jadi perempuan hehe
            Begitulah, kader dakwah harus dapat bersikap luwes dalam hal ‘cara’ menyampaikan pesan. Soal substansi pesan itu sendiri kita sudah sepakati bahwa pesan terbaik adalah seruan-seruan kebaikan. Bersikap luwes menjadikan kita mampu melihat lebih luas dan taktis. Kader dakwah di era kini tidak lagi dapat bersikap arogan, sinis, kaku, terlalu banyak menyalahkan pihak lain dan apalagi bersikap kasar dan merusak. Dakwah yang luwes ini dicontohkan Rasulullah misalnya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan para sahabat yang berbeda-beda tingkat pemahaman keislamannya. Rasulullah juga bersikap luwes saat perjanjian Hudaibiyah dengan –bahkan- menanggalkan identitas kerasulan beliau .Tapi lihat…akibat keluwesan beliau, dalam jangka waktu tak lama  maka Mekkah kembali dalam genggaman Islam. Sikap simpatik dan tawadhuk beliau mampu menerbitkan rasa kagum dan cinta. Bagaimana dengan kita?
4. Kader Dakwah harus Mau Belajar Mendengar
            Saya sangat tersentuh dengan cerita bu Yayuk bagaimana beliau dengn identitas PKS nya, diakalangan ‘ibu-ibu istri elit politik senior’ masih sering dianggap ‘Partai Kemarin Sore’ (yang ini istilah saya, maaaaf hehe) artinya dianggap anak kecil. “Maka kita yang harus belajar dari mereka yang lebih dahulu ada di ranah politik ini” begitu kata beliau
            Kader dakwah harus mampu menyampaikan pesan kebaikan itu baik saat berbicara maupun diam. Mari kita terkadang hanya hadir untuk mendengar oranglain mengisi kajian. Mari kita budayakan ngangsu kawruh (menimba ilmu). Beri kesempatan orang lain –apalagi yang lebih sepuh- untuk berbicara, mari mendengar. Termasuk, biarkan orang kadang mengkritik, kesal, dan menumpahkan kekesalan itu pada kita. Saya pun benar-benar masih belajar untuk mendengar dan ‘tahan’ terhadap kritikan. Sebab tak semua harus kita jawab dengan…berbicara.
5. Kader Dakwah Mampu Menguatkan Cita diri Positifnya dan…BEKERJA!
            Kita hidup dalam khusnudhon orang lain. Jika kita ngaku-ngaku kader dakwah, mari kita belajar mengenali citra diri positif kita. Namun, kita pun harus tulus, dan membina diri kita sehingga karakter kita tidak dibuat-buat.
            “Tak masalah ketika seorang kader dakwah harus ‘berganti-ganti kostum. Tapi seorang Vida tetap Vida, dengan baju apapun yang ia gunakan.” Hmm..begitu jawab bu Sri Rahayu saat saya menanyakan tentang bagiamana kita bersikap luwes tanpa mengaburkan karakter kita.
Benar juga. Ibarat seseorang yang mampu beradaptasi , ia tidak akan salah kostum. Ia adalah dirinya sendiri baik ketika memakai pakaian tidur, baju pesta, baju kerja dan bahkan memakai daster.hehe.Kader dakwah mampu meneguhkan karakter positif dirinya dengan membina dirinya terus menerus dalam kebaikan. Sehingga orang/ masyarakat  tak lagi memusingkan ia sedang memakai ‘baju’ apa. Sebab, apapun baju yang sedang dikenakannya ia tetap BEKERJA!
Demikian sekelumit tulisan untuk menasehati diri saya sendiri. Semoga tulisan ini menginspirasi. Wallahu a’lam bisahawwab. Salam Inspiratif!




















Kamis, 21 April 2011

Analogi Sebuah Kapal dan Pulau Harapan : Sebuah Pelajaran Tentang Amal Jama’I ( bagian 2)


                Sambungan note saya sebelumnya dengan judul yang sama.
                Mungkin orang sedikit menganggap saya berlebihan mengapresiasi tentang training di Pelajar Islam Indonesia (PII) yang saya sudahi tahapannya sampai dengan Pelatihan Instruktur di sekitar tahun 2000 kalau tidak salah. Termasuk suami saya  yang sering menselorohi saya ini  suka bernostalgia (hehe padahal beliau juga pernah mencicipi training PII di SMU 1 Kudus). It’s oke. Tapi menurut saya, ini awal saya menghargai kerja-kerja tim.Karena persiapan training di PII bisa memakan waktu tiga bulan dan selama itu kami harus siap bolak balik Solo/Kota lain-Semarang

                Saya menyadari, teman-teman kami di PII kini telah memilih ‘kapal’ masing-masing. Itulah uniknya, kami di PII tidak pernah merasa harus menghakimi pilihan.  Ada yang ngaku ikut aliran kiri,kanan, tengah (asal gak aliran sesat aja heheh)milih bisnis, LSM, lembaga penelitian, jalur partai, ngurusin pondok, semua pilihan kapal itu tetap menjadikan kami berasa ‘weton’ PII. Keislaman, kepelajaran, keindonesiaan menjadi tiga manifestasi visi dakwah yang manis.Oke, selesai sampai disini cerita ‘pengantar ‘ saya tetang asbabul wurud saya mendapatkan analogi kapal dan pulau harapan itu.
                Episode Selanjutnya, 13 tahun setelah Basic training itu, saya pun bertumbuh dengan segala idealisme. Setelah mahasiswa,dikampus saya berkenalan dan terbina dengan sebuah gerakan dakwah tarbiyah,hingga akhirnya dengan percaya diri saya pun tak malu-malu mengakui menempuh jalur kepartaian. Inilah kapal saya, kapal kami. Analogi kapal dan pulau harapan pun semakin utuh saya pahami sebagai salah satu jalan  menganalogikan  amal jama’I .
                Dakwah  seperti kapal yang didalamnya berisi banyak awak dan penumpang. Layarnya kadang terkembang kokoh dan kadang tertiup angin kencang serta sedikit tercabik. Kerja-kerja dakwah yang besar ini adalah upaya melajukan kapal ini menuju harapan terbesar manusia : Ridho Allah. Didalamnya ada perencanaan, kerja-kerja kebersamaan, dan evaluasi. Apakah selalu sempurna? Tidak! Sebab sunatullah sebuah pekerjaan besar yang dikerjakan banyak orang adalah kekhilafan, kecemasan akan kegagalan dan tuaian kritik.
                Kapal ini akan berjalan, dan ditengah-tengah samudra banyak pulau-pulau persinggahan atau kapal-kapal yang lebih menarik. Atau… didalam kapal kita pun ada sekoci-sekoci yang bisa kita pakai jika kita ingin menyelamatkan diri sendiri.
                Amal jama’I ini sebuah perjalanan yang sungguh menguji kesabaran. Seperti awak kapal dan penumpang yang harus menjaga ketsiqohan untuk tetap dalam kebersamaan sampai ke pulau harapan. Apakah tak mungkin kapal itu bocor? Mungkin saja. Apakah tak mungkin ada penumpang yang ingin coba-coba ‘melubangi’ kapal walaupun tak sengaja? Juga mungkin. Atau…apakah tidak mungkin sampah-sampah laut, pasir dan antukan karang menjadikan kapal kita sedikit kotor, kumuh dan oleng?Ya, sangat bisa!
                Namun pilihan sikap ada pada awak kapal dan penumpangnya. Jika kita tak puas, tidak sabar dengan nakhkoda dan cemas, reaktif dengan lubang-lubang kapal yang tiba-tiba kita temukan, maka kita bisa saja mengambil sekoci dan dengan penuh kemarahan kita memisahkan diri, naik sekoci dan bahkan mengajak penumpang lain ‘ikut’ dengan kita.  Ya,ya,ya mungkin kita selamat dan puas. Namun kita tak akan pernah merasakan kenikmatan orang-orang yang bekerja keras dan sabar dalam kepanikan dan ujian itu. Kemenangan dan keberkahan ada dalam sebuah jama’ah, dalam kerja-kerja yang tak pernah terusik oleh hasutan dan hawa nafsu kedirian.Amal jama’I adalah ujian ketaatan, ketelitian, kemampuan mengevaluasi dan memperbaiki diri dengan tetap optimis dan solid.
                Saya teringat kisah pasca perang Uhud yang diceritakan suami saya beberapa waktu lalu. Saat itu Rasulullah mengumpulkan kembali sisa pasukan setelah kekalahan di bukit Uhud yang memilukan. Rasulullah mengajak kaum muslimin untuk kembali mengejar musuh. Banyak kaum muslimin yang sebelumnya  tidak ikut berperang sebelumnya menawarkan diri untuk menambah kekuatan.Tapi apa jawab Rasulullah ? “Hanya prajurit yang turut berperang sebelumnya dan mengalami kekalahan di bukit Uhud yang boleh ikut serta..”
                Luarbiasa. Hikmah dari ucapan Rasulullah itu adalah bahwa hanya orang-orang yang pernah rekoso, jatuh, kalah, tercaci, terfitnah, bekerja keras dan sabar dalam barisan yang berhak dan layak untuk menikmati kemenangan-kemenangan. Dan tentu kita belum menerima sedikitpun ujian seberat Rasul dan sha habat bukan? Maka, jika kapal dakwah dengan segala pernak pernik tribulansinya, tantangan dan ujiannya ini menjadikan awak dan penumpang yang mampu menutup lobang-lobang kapal dengan sabar, membersihkan kapal dengan bersemangat, tetap merengkuh para ‘peragu’ dalam kapal dan meneguhkannya kembali untuk tetap dalam kebersamaan menuju ‘pulau harapan’, mungkin janji Allah akan layak kita dapatkan : sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Wallahu a’lam bishawwab.*)
*) sebuah nasehat untuk diri sendiri.

Analogi Kapal dan Pulau Harapan : Pelajaran Tentang Amal Jama'i (1)


Kalau tidak salah ingat, diusia 17 tahun saya merasa beruntung ada di forum itu. Saat itu-kalau ini insya Allah benar- saya duduk di kelas 2 SMU. Tepatnya di gedung DDII Islamic Center Pabelan Kartasura, saat Ramadhan. Perjalanan dari rumah saya tempuh dengan bis kota bersama sahabat karib saya, Ayun Nurul Maqbullah. Sempat kesasar, hingga akhirnya menjelang buka kami baru sampai. Saya bertemu dengan teman-teman pelajar yang lebih dahulu bergabung dengan komunitas pelajar yang lumayan bergengsi kala itu, PII. Kakak beradik Almira dan Iin Hasanah, Ridho Amiruddin, Rifqoh, teman-teman sesama peserta baru dan banyak lagi yunda dan kanda di PII. Aku mengikuti Basic Training PII.
                Oke, lanjut. Tulisan ini tentang sebuah awalan training yang membuatku merasa dari sinilah kelebihan training-training PII dibanding-maaf- training pengkaderan organisasi pelajar atau mahasiswa yang biasanya hanya 3hari. Di PII , basic training harus kami lalui 1 pekan stelah sebelumnya  biasanya  minimal sebulan sebelum BATRA kami –para peserta- mengikuti pra Batra selama 3 hari dengan kegiatan yang lebih ringan dan fun. Ya, harus satu pekan, tidak boleh izin meninggalkan arena kecuali dengan alasan yang sangat-sangat darurat. Bagaimana mungkin? Di PII mungkin.
Dihari pertama training ada sesi EXPECTATION (penggalian harapan) dan kontrak forum. Disini kuncinya. Saat saya masih menjadi peserta training paling dasar hingga Pelatihan Instruktur, ini session paling menegangkan. Mitosnya- dan ini benar- kalau sesi ini sukses, maka kemungkinan sukses sebuah training akan besar.Maka tak heran jika para instruktur disetiap lokal (satu lockl/kelas maksimal 12 orang) sangat telaten dan benar-benar diuji kesabarannya.Juga peserta, mereka mulai diuji kesolidan, argumentasi, dan kemampuan ‘membujuk’ teman yang ada tanda-tanda mau pulang di tengah training.hihi.Dan analogi sebuah kapal dan pulau harapanpun menjadi sebuah perumpamaan yang pas.
                Setelah perkenalan peserta , instruktur lokal memberi selembar kertas dan selotip untuk peserta, biasanya dia menyuruh peserta menuliskan harapan mereka satu persatu terhadap training ini.Lalu kami para peserta menempelkan harapan-harapan kami di dinding. Lalu instruktur lokal dibantu observer mulai menggali kami pada harapan, motivasi dan mengajak kami berkomitmen ‘mempertahankan’ komposisi local dari hari pertama hingga hari ketujuh nanti. Dan inilah kurang lebih bahasa umum para instruktur hehe
“ Bagaimana kalau kita ibaratkan local kita ini…sebuah kapal yang akan menuju sebuah Pulau Harapan yang berisi harapan-harapan kita  seperti di dinding itu.Kita akan berlayar bersama kesana. Setuju?”
“Setuju..”
“Mah kira-kira apa ayang akan membuat kitaterhambat sampai kepulau Harapan”
“ Angin kencang, kang, layarnya lepas” satu peserta menjawab
“ Kapalnya bocor, ada yang melubangi kapal”
“Ada yang pengen kembali, kang. Gak kuat berlayar lagi”
                Dan banyak lagi alasan yang mungkin  menghambat training tergali satu demi satu . Dan begitulah, terkadang sampai dengan sore satu lokal baru bisa ‘selesai’ sesi ini karena ternyata ada peserta yang berencana cuma ikut empat harilah, ada yang tiba-tiba hilang mood, ada yang gak suka dengan suasana. Para instruktur sudah terlatih untuk benar-benar telaten menggarap sesi awal yang menentukan ini. Tapi… dengan suksesnya sesi ini proses dialog, menggali motivasi, mengenali karakter awal masing-masing peserta benar-benar membuat saya terkesan. Saat saya menjadi peserta training PII hingga dua kali mengolah forum batra, sebagai inlok dan observer saat masih mahasiswa awal2 dulu, saya merasakan hikmah dari proses ini.
                Setidaknya sampai saya menjadi mahasiswa, saya mulai mengerti bahwa ide dan sebuah amal kebersamaan itu harus didukung tim yang solid dan kemampuan mempertahankannya. Saya pun belajar untuk menerima bahwa ada banyak hal berbeda diluar diri kita.Selanjutnya? Ternyata analogi kapal dan pulau harapan itu kedepan menguak hikmah lebih banyak tentang sebuah…AMAL JAMA’I (kerja tim) dikehidupan saya..13 tahun kemudian (weiitz).see you next J.Salam inspiratif!

Kamis, 24 Februari 2011

Ya, Saya ‘Orang PKS’, So What? (Catatan Partisipasi MUKERNAS PKS JOGJA 2011)






Orang 1 : “ Oooo ternyata kamu anak  PK tho, Vid? Penampilanmu beda ya! Keseret juga ya ke partai” sindir teman saya itu, saat itu masih kuliah dan saya ‘masih hijau’ dalam barisan ini. lalu diapun tak lagi ‘hangat’ pada saya. Dahulu, masih PK.Ucapannya selalu sinis. Lha saya? biasa aja  toh orang-orang yang ‘menyeret’ saya juga dikenal orang-orang yan baik dan santun?! hehe


Orang 2: “Mbak  Vida  aktivis PKS juga tho ternyata? Saudara saya juga lho mbak, trus pas saya pindah ke Medan, ternyata guru ngaji saya juga PKS...” dia –juga teman saya- meskipun usianya lebih muda. Gadis muda itu,meskipun  menurutnya pemahaman Islmanya ‘biasa’ aja, tapi dia juga oke-oke saja saat tau saya –critanya- kader PKS


Orang 3: “Subhanallah Vida, kowe tuh caleg PKS juga tho kemaren. Sayang ya Vid, aku di Jakarta.  Waduh bapakku sih karena walikota dia milih Jokowi, nyontrengnya ya partainya Jokowi Vid, gak ngerti sih kalo  pemilihannya beda. tapi  seneng lho Vid sama anak2 PKS dari di kampus emang kliatan ya?” Dan sahabat saya yang selalu mengucap ‘subhanallah’ itupun selalu bersemangat setiap kali saya direct selling saat pemilu. Dan hingga kini,persahabatan kami sehangat mentari haha.


Orang 4: “Saya ini orang bodho, bu Vida. Sejak dahulu saya cuma tergerak kalau ada yang ngajak berbuat untuk masyarakat. Suami saya keluar dari satgas P***, lha sudah ndak gathuk (tidak matching) sama nuraninya. Sekarang, saya mungkin cuma punya semangat, PKS menyambut baik dan menghargai potensi saya. Monggo mbak, yang penting kita berbuat untuk masyarakat.” Dia perempuan lulusan SMP, itu ucapannya saat pertama kali saya ngontrak di kawasan Sangkrah, dan dengan percaya diri dia ‘babat alas’, keluar dari kebiasaan kampungnya yang ‘merah’, membantu kerja-kerja kami melalui PWK,hingga kini. Kini dia dan suaminya menjadi Pak dan Bu RW dan tidak ada jawaban selain kata : ya , bu! setiap kali saya ajak ‘bergerak’ hehe


Orang 5 : “Kamu jangan sampai nyebut atau ketauan kalo kader PKS lho, nanti pada ndak mau ikut pengajian, takut dijak milih PKS. “ hehehe.ini yang agak lucu menurut saya. Lha wong partai yang tidak ada bau-bau Islamnya aja bikin pengajian ndak pada ribut, kok PKS yang emang kerjaannya bikin pengajian dibikin ribut.Aneh juga.


Orang ke-6:” Ustadzah –hayah saya paling tidak sreg dipanggil ustadzah, yaaah mungkin karena saya dianggap istri ‘Ustadz’. Begini ust, gimana tentang tawaran kami untuk ikut Lokakarya Mubalighah se-Jawatengah? Tapi syaratnya memang harus setuju dengan khilafah syar’iyah ustadzah” hehee saya tersenyum. 
“Siapa yang ndak mendukung khilafah syar’iyah  Bu? jawab saya guyon, Tapi kami hanya memilih lewat jalur partai. Lha terserah panjenengan dan teman-teman, saya kan cuma diundang.Cuma mungkin kendala saya diwaktu Bu, apalagi kalo  harus di luar kota, saya ndak bisa ninggal tiga anak” dan ibu muda yang pernah bertetangga  dengan sayapun sampai hari ini tetap ‘istiqomah’ dan pantang menyerah memberi saya undangan-undangan acara harakahnya, atau mengisi pelatihan menulis untuk akhwat harakahnya. Sayapun menghadirinya jika tidak bebarengan dengan acara saya.


Begitulah. Pilihan berada dalam jalur dakwah siyasi bukan sebuah kebetulan. Komentar dan tanggapan orang terhadap Partai Dakwah ini beserta kader dan simpatisanya pun beragam. Tulisan ini sungguh bukan sebuah upaya menyombongkan diri. Apalah kita ini. Tulisan ini hanya sebagai bentuk partisipasi saya dalam rangka Mukernas PKS di Joga. Spirit ”Bekerja untuk Indonesia” sejak Munas yang lalu menginspirasi saya. Pun begitu, justru melalui tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua yang ’terlanjur’, ’sengaja’, atau ’tidak sengaja’ dianggap sebagai ’orang PKS’ untuk memuhasabahi diri. Mengapa? Sebelum kita terlalu overestimate menganggap diri kita seorang ’kader’. Dan Sebelum orang lain overestimate pula terhadap kita, mungkin beberapa hal dibawah ini bisa menjadi bahan menakar kepantasan kita sebagai kader, pegiat partai dakwah ini


1. Memahami: Jalan Panjang Menguatkan Komitmen
Tarbiyah mengajarkan kita memaknai setiap proses perubahan dalam diri kita. Kita mungkin sama ingat bagaimana para murabbiyah, ustadz-ustadzah kita, orang-orang awal dalam dakwah ini meretas dakwah dalam setiap masa. Apa yang menjadikan mereka taft dalam dakwah ini dan tetap ada disini? Ya, PEMAHAMAN yang utuh terhadap manhaj dakwah Rasulullah dan jama’ah ini. Pemahaman itu yang menghindarkan kita dari jebakan-jebakan apatis dan sinisme tanpa ujung pangkal.
Pemahaman itu yang menjadikan kita bertumbuh dalam nuansa kritik membangun yang hangat , mencerdaskan, tegas dan sekaligus mesra dalam persaudaraan. Pemahaman yang akan membuat kita tegar menghadapi orang-orang tipikal pertama diatas. Saya juga masih belajar. Untuk tidak reaktif (apalagi dengan karakter saya yang meletup-letup hehe). Namun satu hal yang hingga kini saya syukuri, bahwa saya tidak ingin memberikan loyalitas saya tanpa pemahaman. Saya akan kejar pemahaman untuk hal-hal prinsip agar kita tidak menjadi barisan orang yang berkerumun, meskipun perjuangan dan gerakan perbaikan kadang tak menyisakan waktu bagi orang-orang yang hanya terus bertanya. Kita tidak boleh lagi menjawab ’tidak tahu’ pada orang-orang yang bertanya, sinis dan mendebat. Pemahaman menjadikan kita orang-orang yang siap menjadi humas untuk gerakan dakwah ini. Bagaimana?


2. Membuktikan Profesionalitas
Kita sama tau bahwa dakwah ini bergerak dinamis, menyentuh semua ranah profesi, kalangan dan semuanya. Pilihan politikpun sebenarnya tak lagi terlalu dikotomis. Kita yang mengaku atau diakui sebagai ’orang PKS’ ini harus mampu membuktikan bersikap profesional dibidangnya. Kita dapat mengerjakan secara sungguh-sungguh setiap amanah yang dibebankan dan melekat pada diri kita. Apapun peran kita. Bahkan saya yang iburumahtangga ini harus selalu profesional mengurus rumah, dakwah, bertetangga, dan semuanya. 
Profesionalisme adalah kunci menghadapi orang-orang bertyipikal 2, 3 dan 4 diatas. Orang-orang yang melihat PKS sebagai kumpulan orang-orang yang memang ‘berkarakter’ pekerja dan pegiat kebaikan. Belajar , mengerti strategi, mantap dan merencanakan dan melakukan evaluasi adalah niscaya. Kita tidak boleh lagi terjebak pada ’kerja-kerja dadakan’, tanpa alur dan latah. Masih banyak maksud dari poin ini namun apatah saya?Mungkin Anda bisa sangat panjang menambahkan


3. Membuktikan Tetap Bersih
Ujian yang sering kita hadapi dalam iklim politik negri ini adalah cibiran tanpa ampun terhadap korupsi dan segala manifestasinya. sebagai partai dengan jargon bersih, peduli dan profesional, Kader-kader PKS dituntunt untuk selalu teliti dan tidak terlalu ’lugu’. Mungkin banyak orang pandai disekitar kita namun terlalu ’lugu’. Jebakan-jebakan yang merusak upaya untuk menjaga kebersihan dakwah dan pelakunya dalam bentuk materi, money politics dan segala bentuknya harus terus dikawal
Saudara-saudara kita yang sangat terpilih dan –saya percaya- mampu menjaga amanah yang dibebankan dipundak mereka di tempat-tempat ’basah’ dan licin harus selalu kita jaga agar tidak tergelincir.Termasuk, berhati-hati dalam pengajuan dan pencairan dana-dana, proposal dan tender-tender yang tidak jelas. Bukan kemresik kata orang Jawa (sok bersih).Tapi marilah kita yakini bahwa berhati-hati dalam hal materi itu menentramkan.Mari kita terus belajar dan mencari hujjah yang jelas dalam perkara ini. Bagaiamana syar’inya? Bagaimana mashlahatnya. Mungkin begitu kira-kira.


4. Membuktikan Tetap Peduli
Tarbiyah benar-benar merangsang kita untuk peka terhadap persoalan. Ini yang harus kita buktikan. Hari ini, dengan berbagai pesrsoalan yang ada, masyarakat kita tetap haus kepedulian. Tetap peduli dan membuktikannya tanpa pamrih tetap menjadi keniscayaan. Kepedulian kita yang menggerakkan orang-orang berpotensi baik dimasyarakat untuk tergerak dan mendukung kita
Seperti orang ke-6 yang saya tulis diatas.Namanya bu Sukini. Banyak orang-orang baik dan memiliki potensi kepedulian yang bisa kitafasilitasi. Soal kemenangan, suara dan segala hal politis menurut saya itu bonus dari Allah. Jika kemenangan hanya diukur dengan angka-angka, mungkin hari ini kita tak mungkin tetap ada. Kepedulian adalah etos kita untuk mengasuh oarang-orang yang telah mendukung, ingin mendukung atau yang kurang mendukung. Kepedulian menjadikan kita pantas mendapatkan kerinduan dari masyarakat. Termasuk kita merawat kantung-kantung pendukung dakwah yang telah kita bina .Entah apalagi, semoga temans semua bisa menambahkan 
5. Membuktikan Kita Dapat Bersinergi dengan Luas, Luwes dan Diplomatis
Ini yang harus kita buktikan selanjutnya. Saya masih sangat ingat, saat pileg beberapa waktu yang lalu, PKS di daerah kontrakan saya tiba-tiba mendapat suara signifikan.Urutan ketiga setelah D******* dan P*** hawa ’panas’ sangat terasa. Spanduk Pos Wanita Keadilan ditembok rumah saya tiba-tiba tersobek dan raib, para ’pembesar’ partai lain di kampung yang kalah memberenguti saya dan kawan-kawan.Hehhe. Namun saat pemilihan walikota dan PKS berkoalisi dengan partainya Joko Widodo, walikota kami, hawa persahabatn itu menyeruak. Saya dan suami sampai dibuat salting karena mereka sangat hangat menyambut kader-kader PKS yang hendak memilih. Ya, ya, ya politik memang unpredictible.Tapi bukan itu yang saya  maksud di poin ini.


Kita harus buktikan bahwa ’orang PKS’ mampu berpikir global dan bertindak local. Kita mampu menjalin sinergi kebaikan dengan siapapun, harakah manapun (tipikal orang ke-6 diatas), jama’ah manapun, partai manapun. Kita bisa dan mampu menjadi orang dengan pemahaman Islam dan budaya yang luas, memberi kemudahan, tidak kaku dan sempit.Kita mampu menembus batas-batas SARA dan budaya. Kita mampu, ya kita mampu bersikap luwes dalam berkomunikasi, simpati dalam sikap, luas dalam cakrawala wawasan. 
Pun kita bisa juga berdiplomasi dalam menjawab kritikan, hujatan dan mampu cool and confident. Diplomasi dan kecerdasan bertindak dan berkomunikasi menjadikan kita mampu menjadi humas dakwah ini. Sinergi dengan banyak pihak dan banyak oarang akan melatih kita menjadi orang-orang yang opend mind, mau belajar dari oranglain, tidak gegabah, berpikir strategis, sabar, teguh dan ikhlas. Semoga.


6. Membuktikan Kita Selalu Optimis dan Kreatif
Saya sedang selalu belajar untuk optimis bersama dakwah ini. Belajar. Sebab semangat adalah sesuatu yang dapat turun naik, seperti juga iman. Pun dengan keegoisan saya yang mungkin masih menyeruak. Maafkan. Sebelum kita menyebarkan dakwah ini, bergiat dengan banyak rencana, mungkin kita harus mencitrakan diri kita-dan benar-benar membuktikannya- untuk menjadi barisan orang yang optimis terhadap dakwah siyasi ini. Optimis bahwa kita akan mampu membuktikan ketidakmungkinan. Optimis bahwa kita bisa membuka lahan-lahan dakwah baru, berkenalan dan menebar kebaikan pada orang-orang baru. Optimis bahwa kita dapat meng-up grade kemampuan maknawiyah dan fikriyah kita
Optimisme itu akan melahirkan hentakan-hentakan kreatifitas yang dahsyat. Optimisme akan melahirkan pikiran dan ide-ide ceremlang untuk terus membuat kreasi-kreasi dakwah yang manis dan mencerdaskan bahkan ide itu terus merunyak saat kita sudah akan beranjak tidur! Saya sedang sangat suka dengan kalimat  ”mewakafkan diri dan waktu untuk dakwah”. Entahlah, yang saya rasakan kalimat itu seolah membuat saya berhenti dari menasihani diri sendiri. Kalimat itu menjadikan saya istri yang siap melepas suaminya segera pergi untukkerja-kerja dakwah ini, siap menghandle anak-anak dan rumahtangganya. Inilah optimisme. Apa hubungannya? Optimisme kita dan kratifitas kita akan menjadikan kita mampu menjadi figur teladan untuk masyarakat kita. Kitapun akan malu bermalas-malasan karena kita harus membuktikan semangat itu terlebih dahulu.


7 . Membuktikan Bahwa Kita TETAP BEKERJA!
Seperti yang saya sebut diawal, saya suka dengan motto ”Bekerja untuk Indonesia” yang digulirkan PKS sejak munas. Kalimat afirmatif ini perlu. Kalimat yang mengisyaratkan bahwa kita tidak lagi bisa hanya meladeni omong kosong tentang cibiran dan sinisme serta apatisme yang sama sekali tidak produktif. Bekerja sepertihalnya Allah isyaratkan dalam ayat 
Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu (9:105) 
Amal menjadi penjawab paling mujarab. Mari bekerja. Dari manapun kita, mari bekerja untuk negri ini. Dimulai dengan kerja-kerja kecil yang riil. Maka, tak elok rasanya kita dianggap ’orang PKS’ sementara kita tak pernah menyapa tetangga, berkumpul dengan mereka. Tak elok sepertinya saat orang sudah antusias mengharap peran-peran keumatan dan kenegarawanan, kita masih sibuk meladeni kritikan, takut menampakkan identitas dan mengelak dari amanah-amanah dakwah ini. Jika begitu, ucapkan selamat tinggal kejayaan.


Begitulah. tulisan saya selesaikan tepat setelah rangkaian pembukaan Mukernas PKS di Jogja usai semalam (meskipun saya tidak sempat mengikutinya lewat televisi, maklum,  nyambi menghantarkan tidur anak-anak, ed). Bukan bermaksud berlebihan. Tapi tulisan ini pengingat diri sendiri. Selain itu menulis adalah sebuah hentakan luarbiasa dan bentuk kepedulian saya terhadap segala peristiwa. Mungkin bberapa poin diatas dapat menjadikan kita lebih optimis dan pede  mengatakan ”Ya, saya kader PKS, mari kita bekerja bersama untuk Indonesia!” Selamat Mengikuti Mukernas PKS  di Jogjakarta. Darimanapun kita, mari bekerja untuk Indonesia! Salam inspiratif! Wallahu a’lam bishawwab

Selasa, 27 Juli 2010

Srikandi Kampung


Namanya Sukini. Ya, hanya Sukini. Perawakannya kecil, tidak banyak bicara, dan sangat rendah hati. Khas perempuan Jawa yang santun. Hm.. aku mengenalnya sekitar sebulan setelah kami menjadi warga kampung ini. Ia bekerja sebagai sales kosmetika, suaminya bekerja sebagai pelukis baju borongan, dia juga melukis dan punya banyak talenta ketrampilan.Hm..perempuan yang kreatif. Seperti juga bu Sukini, pak Sudirman juga bukan laki-lak yang banyak bicara. Meskipun tidak banyak bicara, tapi dia seorang wanita yang membuatku salut.

     Dia satu dari 12 orang ibu-ibu pertama  yang menjadikanku nyaman dilingkungan ini. Kutemukan ia sebagai ibu biasa yang bergabung dalam majelis ta’lim pertama yang ku handle di lingkungan baru, kontrakan pertamaku. Tapi jangan salah, semakain aku mengenalnya, kutemukan hal-hal menarik dan potensial dalam dirinya.

     Saat aku memutuskan untuk terbuka dengan pandangan politik yang kuyakini dan aktivitas Partai Dakwah  (PKS) yang kukenalkan, dia adalah perempuan pertama yang tanpa ragu mendukungku. Saat itu penghujung tahun 2007. Aku menawarinya menjadi koordinator Pos Wanita Keadilan, sebuah pusat pelayanan untuk perempuan. Tanpa ragu bu Sukini menyanggupinya. Dan iapun menunjukkan komitmen dakwah yang luar biasa untuk ukuran seorang ibu-ibu kampung biasa yang mungkin tak pernah terjun intens dalam kegiatan-kegiatan politik praktis. Ini percakapanku dengannya

“ Kok njenengan mau tho bu bergabung dengan kami? Kan banyak ibu-ibu yang enggan dekat-dekat dengan partai, apalagi terang-terangan” pancingku
“ Saya ini orang biasa bu Vida, tapi saya punya banyak cita-cita untuk masyarakat saya. Saya sering prihatin dengan kondisi sekitar saya...” Jawabnya. Ia berhenti sejenak. Lalu sambungnya
“....Saya Cuma punya cita-cita, impian, tapi saya tidak punya modal besar untuk memberi lebih banyak. Maka saat saya melihat njenengan (anda, ed) saya berpikir apa salahnya saya bergabung supaya saya bisa lebih banyak memberi untuk sekitar saya. Kalau jalannya memang lewat partai ya ndak papa tho bu? Yang penting manfaat” Dia menjawab dengan tenang, sungguh-sungguh. Sebuah visi yang jelas.Alhamdulillah, partner seperti ini yang saya cari! Syukur saya.

“ Tapi bu, kadang perempuan kan punya ganjalan dengan keluarga. Suami misalnya. Apa Pak Dirman ndak keberatan tho Bu?” sambungku

“ Suami saya itu ngerti sekali dengan kepinginan saya Bu. Lagipula, kami ini orang-orang kecil, bu, yang sudah kenyang dengan janji-janji” Kebetulan suaminya adalah 'mantan' satgas sebuah parpol yang 'menguasai' kota kami (Solo) hehehe.Kemudian beliau memilih keluar karena sudah tak lagi sesuai dengan 'nurani' wong cilik, kata mereka.

     Bu Sukini pernah kupancing untuk menuliskan cita-citanya. Darinya aku belajar bahwa orang yang telaten, ulet dan mau bergerak dapat mengalahkan orang yang pintar, berpendidikan namun tidak memiliki spirit melayani dan hanya banyak berkomentar serta sibuk dengan urusan pribadinya.

     Hampir setiap kegiatan kelurahan diikutinya, dia yang selalu diajukan untuk banyak tanggungjawab kegiatan kampung ini. Jujur, tidak main belakang, setia, dan mau mengambil resiko. Bahkan para ‘Bapak RT’, dan para laki-laki birokrasi kampung pun segan dengannya. Darinya saya belajar juga bagaimana berhadapan dengan masyarakat, tidak terpancing emosi massa dan tetap teguh dalam cita-cita.

     Sampai hari ini yang saya kenal, bu Sukini adalah penggerak hampir di setiap ‘program kemajuan dan kebaikan’ yang kami tawarkan atau ditawarkan oleh Kelurahan. Saya yang memiliki ide bejibun ini sangat terbantu dan tersemangati dengan beliau yang orang lapangan. Saya banyak belajar darinya. Saat ia memberikan penyuluhan tentang pendidikan keluarga, saya dibuatnya takzim. Sungguh, sosok sederhana yang hanya mengaku lulus SMP itu tak pernah saya sepelekan. Bagi saya ia adalah asset dakwah yang harus kita up grade. Apapun tugas yang diberikan padanya, selalu disanggupinya dan…TERLAKSANA!

     Kini, suaminya terpilih menjadi Ketua RW, otomatis ia pun berjuluk ‘bu RW’. Dan bersamaam saya pun harus berpindah kerumah orangtua yang tak terurus dikelurahan lain dan memang masih terhitung dekat. Namun..lagi-lagi saya melihat komitmen dan kesetiaannya. Dengan tulus ia tetap mengelola rumah baca yang kami rintis didaerah itu. Bahkan kami tetap berhubungan dan terus bercita-cita menghidupkan kampung itu dengan suasana yang maju dan religius.

     Sungguh, saya belajar bahwa tarbiyah dan pembinaan yang tulus, mengenali potensi seseorang dan memberikan kepercayaan kepada orang untuk  berkembang dengan potensinya itu akan melejitkan ‘orang-orang biasa’ menjadi luar biasa. Semoga dimasyarakat banyak bermunculan pendukung-pendukung dakwah seperti bu Sukini, yang mampu memenangkan nurani dan melakukan satu demi satu perubahan dimasyarakatnya. Maka, mari bekerja! Bersama kita lanjutkan kerja dan menyedikitkan bicara, dan yakin bahwa kita akan menemukan pendukung-pendukung dakwah yang tulus. Insya Allah!

Minggu, 04 Juli 2010

Pelajar Islam Indonesia : Sebuah Cerita tentang tempat Bermula

Kusempatkan menulis ini. Ini tulisan sederhana, tentang sebuah tempat dimana saya menemukan sesuatu yang berbeda, diusia belia, 17 tahun. Tentang sebuah tempat yang banyak ‘tetua’ dan tokoh negri ini telah terlebih dahulu merasakan ruh bangkitnya. tentang sebuah tempat dimana setidaknya untuk saya sampai hari ini, bisa merasakan hawa kebebasan berpikir, kegelisahan untuk terus berproses, dan cikal dari saya memahami bahwa kesempurnaan pemahaman Islam adalah amal, toleransi, pergerakan, dakwah dan kesederhanaan. Ingat... ini bukan sebuah ‘kefanatikan’, ini hanya MENURUT saya. Yang mungkin sedikit melankolis sebab bertumbuhnya semangat saya tidak lepas dari tempat ini. Ya, ini hanya sebuah tulisan tanda terimakasih seorang kader yang tak ingin lupa pada kulitnya, seperti apapun ia sekarang, meski kadang tak lagi dapat bersua..... mari kukenalkan tempat itu

BATRA SOLO 1998
Saat itu aku berusia 17 tahun tepatnya kelas dua SMU. Jenuh saya melihat teman-teman saya yang begitu-begitu saja. Sekolah, nilai, ulangan, OSIS , majalah sekolah, beruntung saat itu saya sudah tidak tinggal di asrama sekolah saya.. Sampai suatu saat, seorang teman saya mengajak saya ke sebuah training pelajar. Hmmm Boleh juga, batin saya. Saat itu rasanya biasa saja. Sebelumnya, saya pernah mendengar kata PII, dan sempat ingin bergabung namun selalu tak sampai. saat itu bulan ramadhan.

Aku mengikuti sebuah training berbeda, ini bukan sebuah pesantreen kilat.Bukan. Ini lebih hebat. Itulah awal aku dan segala kegelisahanku menuntunku ke tempat training : Gedung Islamic Center DDII Pabelan kartasura. hahaha... dasar aku, perjalanan yang dulu sudah kuanggap ‘jauh’ dari rumahku itu kulampaui dengan bis kota tepat ditepi jalan raya. Dan anehnya aku dan seorang sahabat terbaikku (izinkan aku memanggilnya Yunda, panggilan ‘asing’ yang akhirnya biasa kudengar di sana, maknanya akrab dan sederhana) namanya Ayun ehm..Yunda Ayun Nurul Maqbullah Dahlan. Senja kami sampai ke gedung itu.

Nuansa berbeda segera kurasa. Aku menemukan para ‘mbak2’ berjilbab lebar, bergamis, tersenyum ramah menyapaku yang kala itu masih bercelana panjang dan berhem lengan panjang pokoknya ‘pii’ banget deh (yang ini plesetan, yang kepanjangannya menjadi ‘pelajar imut imut’). Tak ada tatapan 'aneh', tak ada justifikasi, semua ramah, sederhana.Saya segera mendapat teman-teman baru, baik yang telah lama bergabung, maupun yang baru saya kenal. Izinkan saya menyebutkan mereka yang banyak berjasa menjadi teman belajar saya : Almira dan kakaknya Iin Hasanah, Ayun, Ulfa Diena, Ellen, fatimah Zahriyah, Kartini, Kak Inoki, Cak Narto, Kak Hanang, Yu Isti, Yu Sri, Mbak yayuk, Kang Jazin, Yu Efi, Kang Ridho, Kang Iqbal, Ridho Amiruddin, Mukti Imawan, Mbak Isma) dan entah berapa orang lagi yang kami kenal.

Unik. Training itu bernama Basic Training (BATRA), training keanggotaan awal yang selama sepekan saya merasa terkesan. Sampai hari ini, saya belum menemukan training pelajar yang sedemikian ‘mencandu’(ini meniru teman training Intermediate PII yang saya ikuti di Bekasi tahun 2001, katanya training PII itu candu. Waduh dan memang benar). Di PII, basic trainingnya kereeen!!! Pelajar yang ikut dijamin bakal ‘pinter’! gimana enggak?? Kami yang masih sekul itu, yang minimal kelas 3 SMP sudah diajarkan bagaimana materi-materi tentang Aqidah, Dienul Islam, Ibadah, wawasan Islam, Komunikasi, Ideologi2 Dunia, dan banyak lgi deh. Dan hebatnya lagi para instruktur kami sama sekali tidak pernah ‘memaksa’. Mereka memberi ‘pancingan’ dengan materi awal, kemudian mereka memancing pemahaman2 awal kami. Target di basic training sampai dengan hari ketiga adalah :enjoy your local, ukhuwah, mengikuti training sampai selesai dan dapat berkomunikasi dan mengeluarkan pendapat! di hari ketiga, kami dari 4 kelas (local) dikelompokkan menjadi tiga kelompok untuk local change. Upper untuk yang memiliki keberanian berpendapat tinggi, wawasan yang lumayn, dan berani BICARA, Middle untuk yang ‘biasa saja’, mau bicara namun harus ditunjuk, dsb. Dan Lower untuk yang benar2 pasif. dan hebatnya, di masing2 kriteria itu nantinya ada ‘PERUBAHAN POSITIF’ saat kembali ke lokal semula. Yang upper semakin bagus, yang midle jadi lebih upper, dan yang lower lumayan percaya diri. Wuuuuuiiiiih keren dah!

Sepulang dari Batra, semangat saya besaar sekali. Dan ini hebatnya -lagi- selama tujuh hari, kami alumni batra disuruh pulang ke daerah masing-masing (kalau beragam daerah) dan mebuat ‘proyek dakwah’ di PII Daerah. Subhanallah. Saat itu saya kelas dua SMU! Sejak hari itu, saya justru banyak ‘ngetem’ di sekertariat PII di Gedung Umat Islam Kartopuran, Solo. Bertemu dengan pelajar-pelajar Islam dari sekolah yang berbeda. Bahkan kami justru sangat menikmati pertemanan daripada dengan teman sekolah kami. Belajar bersama, membuat kajian-akajian dan kursus untuk pelajar. Luar biasa, kalau kini biasanya aktivis bermula di kampus, di PII kecil2 udah trainer !hehehe

INTRA 2001
Singkat cerita, saya ikut Intermediate training di Bekasi, tepatnya di desa Ujung Harapan hhee. lagi-lagi saya mendapat banyak manfaat. Saya menemukan lagi nuansa ‘kesedrhanaan’. Saat itu kami berdelapan dari solo, dengan semangat ngebis, dan ‘ditampung’ di markas PB PII di Menteng. Pfff…..capek juga. malam kami harus wawancara, mempresentasikan makalah yang harus kami buat. Tas yang kami bawapun 2 macam. satu tas berisi baju, dan satu tas berisi buku2 yang wajib kami bawa untuk ‘perpustakaan’ kelas /lokal yang semua bisa saling baca. Hebat kan??? Teman s\termuda saat itu baru kelas 2 SMU tapi cerdasnya luar biasa. Sungguh di PII tidak ada sekat usia saat kita sudah ‘belajar’ dan berproses. Tujuh hari yang mencerahkan. Kami turun kemasyarakat. Target Intra di PII adalah kita dapat MENULIS kan apa yang kita pikirkan dan menuliskan apa yang menjadi pemikiran kiat. (Batra Mengungkapkan, intra menuliskan)

ADVANCED dan PELATIHAN INSTRUKTUR
Saya mengikuti advanced training di Semarang. Waaah tempatnya saya lupa. Tapi seingat saya saya baru sampai dilokasi pukul 10 malam pakai macet lagi di Salatiga! saya sempat heran sampai sekarang kenapa kok ya mau-maunya sampai ketempat yang begitu asing, naik turun bis...

di Advanced kami hanya sekitar 5 hari kalau tidak salah, target nya sudah lebih ‘mature’ kita harus membuat proyek untuk dakwah pelajar secara luas. Kita membuat polling, masih saya ingat berkeliling antara tugu Muda, Lawang sewu, mampir ke SMU Don Bosco, cari-cari pelajar untuk wawncara. Naik turun angkot dan bis di sekitar Semarang , banyak teman seingat saya sekelompok dengan Yu Iin dari kendal. Sungguh saya tidak tau bagaimana saya bisa meluakan sebuah kesan itu.

Pelatihan Instruktur kami ikuti bersambung setelah Advanced. Mumpung pas diadakan bareng. Di PI (pelatihan Instruktur) kami ditraining bagaimana menganalisis ‘input’ atau potensi awal dan riwayat para peserta, kemudian menentukan ‘kurikulum materi dan semua metode penyampaianannya sampai mentargetkan output.Luar biasa!!!! Jujur, untuk ukuran pelajar, training di PII sangat ideologis, penuh skill dan wawasan yang luas. Mungkin saya tidak bisa memaparkannya tapi sungguh, ada kerinduan merangkum kembali training PII agar bisa dinikmati banyak aktivis pelajar.

Penutup
Saat saya OSPEK, seorang kakak tingkat saya di Fakultas Hukum UNS , anak GMNI bilang begini : “ Heh, kamu pasti anak PII yo? Anak buahe Yayuk tho? (Yunda Rahayu, sekarang beliau di Depkeh, dulu beliau aktif di PD PT PII Solo, bendahara Dewan Mahasiswa saat saya baru masuk sebagai mahasiswa FHUNS 1999) .” Iya, saya anak PII…” maklum mahasiswa baru “Kok tau ya kalau saya PII” batin saya. ternyata menurut kakak tingkat saya itu anak PII khas gitu looh hehe gak tau apanya mungkin ‘ngeyelnya’ ya atau gak tau apanya
Yang jelas sampai hari ini saya tidak bisa melupakan tempat bermula saya itu. Saya ingat ayah saya sering mengatakan bahwa saya boleh berorganisasi , berpolitik, apapun dan dimanapun saya memilih untuk berkiprah, agar saya mengerti persoalan, belajar berkomunikasi dan menghargai perbedaan. Satu hal , saya memang mungkin sangat terkesan dengan format training pelajar di PII dan saya masih punya kerinduan menularkan ‘esensinya’ pada semua teman pelajar di kampus, di sekolah-sekolah agar training , up grading pengurus, ataupun pesantren kilat bukan saja sebuah ‘acra meninap’ atau rutinitas tahunan sebuah organisasi, tetapi punya ruh perubahan.
Selamat harba PII ke 63, semoga kita dapat berbuat banyak untuk umat, dimanapun kita berada kini. dan semoga PII terus menjadi tempat pembinaan pelajar Islam dengan segala inovasi yang harus terus dikembangkan.Wallahu a’lam bishawwab