Minggu, 04 Juli 2010

Audisi Pembantu Rumah Tangga


Saat menulis bagian ini saya sedang telah mengalami banyak hal berhubungan dengan seseorang dalam rumah tangga kita: Khadimat, pembantu, rewang (bahasa jawa,ed)dan semacamnya.Ya..ya…ternyata
banyak pengalaman yang sebenarnya aku alami dengan 'para khadimat' yang silih berganti hadir dalam kehidupanku he..he… tentu saja sejak aku kecil.Mengapa juga khadimat menjadi bagian yang aku rasa penting dalam diary pernikahan kita? Entah. Namun setahu dan serasaku, kebutuhan akan khadimat sangat sulit dipisahkan dalam rumahtangga kita.

Tulisan ini akan sangat panjang, sebab segala yang berhubungan dengan si khadimat akan aku tulis sejujurnya. Di tulisan pertamaku tentang mereka, kubagi beberapa tips untuk memilihnya atau sebelum kita memutuskan untuk ya atau tidak menerimanya di istana kita.Tak selalu mulus, tapi semoga bermanfaat.
a. Memilihnya Dengan Prioritas Kebutuhan Kita

Suatu hari, aku merasa begitu tertarik dan tercerahkan dengan perbincangannku dengan seorang teman.Aku bercerita begitu sulitnya mencari khadimat yang dapat 'diandalkan'.
"…..saat kita udah cocok sama kerjaannya, e…. dia punya sifat yang nggak menyenangkan dan sifat itu menjadi karakter yang membuat kita tidak nyaman,tidak aman" begitu kataku
"He..he.. iya sih Vid (sapaanku, ed) tapi aku punya nasihat bagus dari ibuku.Kta beliau,pembantu itu ada tipe-tipenya.." katanya sambil senyum simpul
"O ya? Menarik tuh pie mbak?" tanggapku
" Ada yang pekerjaannya oke, tapi dia enggak care sama anak-anak kita dan nggak bisa diajak bicara seperti teman…" hmm…aku menyimak dan iapun melanjutkan
"Ada yang care sama anak-anak kita, ana kita terurus dengan baik, dia sabar, ngemong, tapi dari sisi pekerjaan rumahnya nggak memuaskan…Dan yang terakhir…he he.. Ada khadimat yang yah… Cuma bisa kita andalkan sebagai 'teman bicara',bisa menjadi poendengar tapi pekerjaan dan cara mendidik anak-anak kita dia pas pasan.." dan temanku itu menghela nafas…"so.. tergantung kita sebenarnya apakah kita mau memilih khadimat untuk pekerjaan rumah kita, anak kita, atau hanya sebagai 'teman'.Begitu vid…." Diapun tersenyum

Ini yang sekarang saya hadapi. setelah berpetualang dengan berganti-ganti khodimat (pembantu, rewang, ‘asissten rumah tangga, apapun sebutannya) sampai tulisan ini kubuat saya selalu ingat nasehat teman saya itu. Memang sulit. Akhirnya kita memang harus benar-benar sadar khadimat bukan malaikat poenolong atau bahwa romusha yang kita kerja paksa. Akhirnya saya membuat prioritas bahwa saya memilihnya untuk melancarkan aktivitas dakwah. Sehingga, ada kalanya ia ‘hanya’ menjaga anak-anak ketika saya pergi keluar rumah, dan berlapang dada jika karenanya pekerjaan lain sedikit kurang sempurna

b. Berterus Terang Di awal tentang GAJI

Ada pepatah Arab yang sering dikatakan suami saya fish shorohah, rohah artinya : dalam keterusterangan ada ketenangan. Nah,gaji adalah salah satu yang menuntut keterusterangan kita diawal mereka ‘melamar’ pekerjaan.

Pengalaman saya, membicarakan gaji untuk khadimat diawal itu lebih baik. Artinya, sama-sama sepakat. carilah informasi upah standar untuk pembantu yang pulang sore (jawa: pocokan) atau yang menginap (jawa: ngebleng). Biasanya pembantu yang menginap gajinya lebih murah karena dia tidak memikirkan transpot, menginap dirumah kita, makan dan tidur juga bersama kita. Tapi kalau saya sama saja karena meskiupun menginap, justru tugasnya kadang lebih banyak kan?

Setelah kita tau upah standar, mulailah mennayakan pada calon khodimat apakah ia ingin gajinya diambil pekanan, bulanan, dua mingguan atau malah..harian?? ini penting agar kita siap anggaran. Selain itu, jangan sampai kita menunda upah yang mereka butuhkan, kecuali dengan ridho mereka.

Selain itu, tak ada salahnya jika kita membuat kesepakatan kapan gajinya dipotong, atau kapan ia bisa menerima ‘bonus’. Mislanya jika ia pocokan (tidak menginap) upahnya dihitung sesuai masuknya dia. Kalau saya, saya akan lihat komitmennya. kalau khadimat kita tipe orang yang memang ‘butuh’ bekerja, ia akan selalu masuk. Ia akan memprioritaskan pekerjaan dirumah kita.maka untuk yang begini, saya tidak akan pernah memmotong gajinya karena ia pasti bener-bener ada keperluan saat tak masuk. Sayapun tidak pernah memotong gaji harian pembantu yang tidak masuk karena sakit, baik dia atau keluarganya. Tapi ada juga pembantu pocokan yang sering tidak masuk, nah kita perlu memberi ‘warning’ dengan aturan gaji sesuai kedatangannya.

Yang jelas, gajilah pembantu dengan layak. Apalagi jika ia seorang yang loyal pada kita, berilah bonus atau hadiah yang menyenangkan hatinya, meskipun tak harus selalu berbentuk uang. Ingat, jangan terlalu pelit namun juga tetap profesional

c. Mintalah Komitmen Kerjanya dan Buat Aturan Kerja yang Jelas

ya, ini benar-benar pengalaman berharga. Saya pernah mengalami berganti khadimat setiap 3 bulan! Entahlah, saya sampai risih dengan komentar beberapa tetangga “kok ganti lagi, Bu Vida”. Kesannya saya ini orang yang ‘sulit. hehe. Padahal, hampir semua pembantu yang keluar kebanyakan karena problem mereka sendiri dan yang membuat saya jengah, mereka biasanya tiba-tiba tidak masuk beberapa hari tanpa kabar dan tiba-tiba..keluar! Bahkan saya pernah sedikit malu karena khadimat saya meninggalkan ‘hutang’ pada tetangga dan pada saya (yang ini sih udah diikhlaskan kok, tapi tetap ditulis untuk ambil pelajaran, gak papa doong) .he..he.Ya sudahlah. Semoga Allah memberinya jalan keluar dari kesulitannya.

So, dari sinilah saya semakin teliti dalam menyeleksi khadimat. komitmen untuk masuk tiap hari saya letakkan diurutan ketiga setelah : ia muslim dan sholat, dia jujur dapat dipercaya. Barulah yang ketiga: bersedia masuk setiap hari dan tidak sedikit-sedikit membolos. Karena, meskipun saya dirumah full, saya kadang saya harus keluar rumah, menulis buku, dan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan 'pihak' ketiga untuk membantu saya.Alhamdulillah setelah lima kali saya mendapatkannya.Meskipun lagi-lagi tak ada orang yang sempurna. Saya tetap menemukan kekurangannya. Namun kriteria utama dan prioritas , segera membuat saya ‘beradaptasi’ dengan kekurangannya dan mengingat segala potensi baiknya.

Aturan kerja yang jelas itu penting. Apakah ia hanya mengasuh anak, ataukah ia hanya mengerjakan pekerjaan rumah, atau keduanya? Buat aturan juga kapan boleh nonton TV, apa yang boleh ia tonton bersama anak-anak kita,adab berpakaiannya, dan hal-hal yang menjadikan kita sreg jika ia melakukannya, sangat penting kita komunikasikan. Bukan apa-apa, kita turut bertanggungjawab juga kan terhadap kebaikan siapapun yang ada dirumah kita bukan?
d. menginap/ setengah hari?
Setiap pilihan ada konsekuensi. Kadang yang menjadi pilihan kita tak selamanya menyenangkan. Saya tidak pernah mempunyai pembantu menginap. Namun sejak saya akan melahirkan anak ketiga kami yang akhirnya harus cesar, saya meminta khodimat saya menginap. Awalnya saya terbantu karena saya foskus mengurus si kecil.Namun lama kelamaan saya seperti kehilangan anak-anak tertua saya. Saya mulai jarang membacakan cerita dimalam hari, mereka juga sering terpengaruh bicara si 'budhe' pengasuh yang kadang bikin hati saya kurang sreg, atau budhe pengasuh yang karena lelah jadi sering 'cuek', sedikit 'galak' dengan saya hehe.
Akhirnya tepat dua bulan, saya memilih mempekerjakannya setengah hari atau karena rumah beliau dekat, beliau ringan hati untuk pulang agak malam saat saya harus ada acara dimalam hari.Subhanallah, meskipun capek, tapi anak-anak saya 'kembali' ke pangkuan saya. dan Allah mudahkan...mereka kini sudah punya 'jam biologis' kapan tidur malam dan tidak sering terbangun dimalam hari. Itulah mengapa saya tetap cenderung menyarankan khodimat tidak menginap agar kita tetap punya 'kedaulatan' dirumah kita sendiri dan tidak terlalu 'bergantung' pada pembantu yang kadang justru menimbulkan masalah dikemudian hari

Tentang pengalaman mencoba ‘beradaptasi’ dan sabar itu...mungkin akan saya tulis berikutnya,ya! Insya Allah

Rabu, 24 Februari 2010

Mengenangnya Mendidik Kami: Catatan Rindu untuk Mama

Kepergian seorang ibu, menyisakan desir rindu yang menandak-nandak.Setiap sudut rumah ini, menerbitkan rindu padanya.Ya...R I N D U. Ibu meninggal karena komplikasi diabetesnya yang sudah tak lagi teratasi. Perjuangan yang lebih dari cukup untuk menahan lelah, penat dan ikhtiar manusiawi untuk berobat membuat beliau masuk keluar RS. Tapi kali ini...akhir Februari tahun lalu..ah rasanya masuk rumah sakit yang ini begitu 'berbeda' dalam rasa kami. 23 tahun dengan diabetesnya, mamahku terbilang ‘penderita cerdas’ begitu istilahnya. Namun, gempuran sakit yang bertubi, tekanan psikis dan lelahnya jiwa mungkin tak lagi bisa menawar takdir. Akhirnya, 4Maret 2009…Allah lebih Maha Tahu bagaimana mencintai perempuan luarbiasa itu. Mamaku, Meninggal dalam keadaan koma. Semoga Allah menempatkan beliau pada tempat yang mulia disisi-Nya.

Dan hari ini, Aku hanya ingin mengenang kebaikan mamah kepada kami. Agar kami terus merasa beruntung pernah diperjuangkan olehnya menatap dunia. Keunikan-keunikan beliau dalam mengasuh kami, kecerdasan dan ketegaran serta semangat hidup yang luarbiasa. Semangat belajar beliau tentang banyak hal dan cita-citanya yang begitu banyak, sempat membuat kami, anak-anaknya terlambat mengikuti alur keinginannya.

Aku sulung yang beruntung. Meskipun mamah dan abahku belum dapat dikatakan ‘mapan’ dalam hal ekonomi saat aku lahir tapi mamah bersungguh-sungguh dalam mengasuhku. Maklum, menurut cerita beliau, sebuah keajaiban bahwa beliau dapat segera hamil lagi setelah keguguran ‘kakak sulungku’ dalam usia kandungan 6 bulan. Beliau harus menjalani kuret. Katanya kakak ku itu laki-laki. Hm… “ Aku memberinya nama : Adam” begitu beliau kala itu sering bercerita.

Ibuku seorang yang keras hati dan multi talenta. Kemauannya, cita-citanya menembus batas-batas kebiasaan. Semangat belajarnya tentang sesuatu menuntunnya menjadi seorang yang telaten dan kadang seolah ingin mencurahkan semua cita-citanya. Memasak, mendesain, menghias kue. belajar herbal, melukis,menulis, semua pernah beliau coba

Ibuku pernah bercerita bahwa dia segera menabung uang jajan yang didapatnya dari menjual agar-agar di warung sayur saat mendengar manfaat apel merah dari siaran radiao BBC London *_* . “Apel saat itu buah mewah, Nok! Mamah Cuma bisa beli berapa biji dari hasil menabung. Dan mamah memakannya sendiri setiap pagi...biar sehat dan.cantik!” haha lalu kami tertawa bersama. Ya,selera humor ibuku lumayan.

Kehidupan sebagai sulung ditengah keluarga yang tidak bisa dikatakan kaya, memaksa ibuku memenggal banyak cita-citanya. “aku pernah dijanjikan melanjutkan sekolah oleh kakekmu tapi tak pernah terwujud. Kakekmu saat itu masih merintis dakwah dikota ini. Kata kakekmu banyak orang terkenal dan sukses tanpa sekolah tinggi. Ah,…meskipun itu sempat menghiburku tapi aku menyesal. Teman-temanku sudah banyak yang sukses dengan pendidikan mereka. Aku? Cita-citaku menjadi ahli gizi kandas!” jika sudah bercerita tentang itu, kami berpelukan.Lalu beliau selalu berkata
"Mungkin...kalau cita-citaku kandas...aku bisa mengantarkan kalian sukses ya nok!"
" Insya Allah Mah...mamah itu ibu luarbiasa" indah. Indah sekali jika kami sudah saling bertukar ide.Saat itu ...ya..saat mamah masih memiliki semangat hidup meskipun sakit demi sakit sudah dialaminya.
"Nok, aku pengen bikin karikatur: seorang ibu yang mulutnya panjaaaang banget.trus diatas mulut yang panjang itu berjejer seorang penulis kayak kamu, seorang guru bahasa inggris yang punya sekolah bahasa, kayak cita-citane Mira, seorang penyiar hebat kayak Iqbal, atao ustadz, dokter, insinyur..." kata ibuku.
"Artinya...seorang ibu itu meskipun 'cerewet, tapi dari kecerewetannya itu lahir anak-anak yang sholeh, sukses. Kalau ibunya terlalu 'menengan' (pendiam), anaknya salah didiemin, ya...anak-anaknya jadi gak punya aturan dan bodoh.Ya tho?" aku tertawa dan mengangguk.Aku terenyuh mengenangnya. Betapa mamahku selalu ingat dan jeli terhadap keinginan dan cita-cita anak-anaknya

Itulah sebabnya ibuku belajar otodidak tentang semua hal terutama tentang makanan, nutrisi, herbal. Tak sia-sia... ibuku pernah masuk 10 finalis lomba kraesi makanan bayi yang diselenggarakan oleh sebuah majalah parenting terkenal dinegri ini. Hm...aku masih ingat dalam memori kanak-kanakku bagaimana ibuku datang ke Jakarta untuk menghadiri acara itu dengan mengajakku.Saat itu mungin usiaku sekita 6 atau 7tahun

Untuk ukuran ibu-ibu dimasa 80-an ibuku sangat modern dalam hal mendidik anak-anak. Ibuku berlangganan majalah Ayahbunda dan membundelnya dengan telaten (bahkan masih bisa kunikmati hingga kini), semangat membacanya yang dahsyat dan minatnya didunia kesehatan membuatnya berlangganan beberapa majalah kesehatan populer.

Aku masih ingat banyak hal tentang perjuangan ibuku mendidik kami. Ibuku bukan perempuan manja. Ayahku yang sejak kami kanak-kanak telah berwirausaha diluar kota bahkan diluar pulau, keadaan itu membuat ibuku tegar dan mandiri. Ibuku yang pernah sukses mengelola rumah makan itu selalu mendahulukan semua kepentingan sekolah kami. Subhanallah. Aku dan adik-adikku disaat itu telah menikmati antar jemput sekolah dengan becak langganan. Uang bayaran sekolah selalu dibayar tepat bahkan kadang 1 tahun kontan! Apa kata beliau ? “ Aku pernah merasakan betapa malunya terlambat membayar uang sekolah yang menumpuk. Aku pernah dipermalukan oleh guruku”

Dari Ibuku aku belajar keadilan dan kasih sayang. Aku ingat sekali. Ibu selalu membeli semua barang untuk anak-anaknya yang tiga orang. Tempat minum, gelas yang berbeda-beda warna, pensil, semua berjumlah tiga. Sampai saat ibu sudah meninggal, aku menemukan beliau menyimpan tiga patung anak burung dan induknya berjumlah tiga! Disebuah kardus bertuliskan : Vida, Iqbal dan Mira. Aku sempat tersedu. Aku rindu. Meskipun kata ibuku, adil tak harus selalu sama. Ibu memperlakukan kami sangat manusiawi dan adil. Sangat adil

Ibuku sangat memperhatikan masalah gizi kami. Ide-ide kreatif selalu muncul agar kami cukup mengkonsumsi makanan sehat. Bahkan ibu pernah membuat jus sayuran yang beliau campurkan dengan madu yang entah kenapa rasanya jadi lezat agar kami tidak susah memakan sayuran.

Ibuku sangat kreatif, ide makanan bayi yang beliau ciptakan untuk kami dimasa kecil bahkan kupakai untuk anak-anakku. Taukah kau sobat apa nama makanan bayinya? FIVE NUT SONGS! Nyanyian 5 kacang! Yah pokoknya gitu deh terjemahannya menurut ibuku. Intinya, ramuan 5 jenis kacang-kacangan yang diblender dan dicampurkan pada bubur bayi atau ditambahkan buah-buahan. Hmm.. lezat! Luar biasa! Ibuku pernah memberikannya pada anak tetangga kami yang lahir premature dan si bayi mengalami pertambahan berat yang menyehatkan. Jadilah itu ‘proyek sosial’ ibuku dan ditularkannya pada kerabat dan tetangga.

Ibuku mengajarkanku berbagi. Aku masih ingat, saat aku duduk di TK besar, ibu pernah mengatakan padaku “ Berbuat baik pada teman akan banyak pahala. Kalau vida punya makanan, temannya dibagi ya nak…” Selang beberapa hari, ibuku membeli apel merah Washington dan dicarinya apel itu keesokan harinya. Sepulang sekolah dengan riang gembira dan penuh semangat aku menghampiri ibuku
“ Mah, Hari ini aku berbuat baik! Aku membagi-bagikan buah apel pada teman-temanku. Kan kata Mamah kita harus berbagi jika punya sesuatu. ..” kataku polos (menurut cerita mamah)
Ha..ha... Ibuku hanya bisa mengangguk dengan setengah terkejut. Tapi..ibuku tidak marah! Ibuku hanya berkata
“oh....ya, ya....bagus...iya.. itu baik sayang, tapi lain kali Vida kasih tau mamah ya...?” dan ibuku pun tak pernah lagi mengungkitnya bahkan sebenarnya beliau bangga bahwa pelajaran berbagi itu ‘nyanthel’ juga dikepalaku.

Ibuku mengajarkanku tentang kejujuran. Kata beliau “ Nok, orang yang bohong itu salahnya dua. Dia melakukan kesalahan yang ditutupinya, dan kedua dia bohong pula. Jangan pernah bohong ya...Sepahit apapun kejujuran itu lebih terhormat. “ kata-kata itu yang kini kutanamkan pada anak-anakku tentu saja dengan bahasa yang mereka pahami.

Masih banyak kesan-kesan yang kusimpan dari cara ibu mendidik kami. Kusimpan dalam jiwa, sebab ilmunya tak pernah mati.Kepergiannya merupakan kehilangan terbesar dalam hidupku. Sampai hari ini aku masih berdesir dalam kerinduan yang sangat. kerinduan yang melahirkan do'a do'a.Namun aku selalu ingat kata-kata ayahku disuatu malam, sehari setelah wafatnya mama,kurang lebih begini : “ Kita telah kehilangan sesuatu paling berharga didunia ini. Setelah ini, kita akan lebih kuat iman dan lebih siap kehilangan hal-hal duniawi yang lain. Mamah tak tergantikan dalam hidup kita. Tapi kita harus melanjutkan kehidupan.”

Subhanallah. Ayahku dengan ketegarannya selalu mengajarkan optimisme memandang kehidupan. Ayahku pun seorang yang berjiwa besar, penuh semangat dan sangat bersahabat. Aku sangat yakin setiap kita akan bersyukur terhadap ibu dan ayah kita. Sebuah kesyukuran yang akhirnya mendorongku mewujudkan banyak cita-cita beliau yang belum tersampai..Allahummaghfirl
aha warhamha wa’afinii wa’fu anha.

Kamis, 18 Februari 2010

Cita Sebuah Keniscayaan Saat Allah Menjadi Tujuan

Tiba-tiba kata-kata itu muncul di up date status adik dari sahabat lama saya, hari ini. Saya mendengarnya sekitar 8 atau 9 tahun lalu dari sahabat saya itu.Hm, kata-kata yang entah darimana ia mendapatkannya tapi luar biasa maknanya.
Saya sendiri menghubung-hubungkan bahwa Allah benar-benar mengijabahi segala cita-cita kita bahkan mungkin jika ia hanya berupa desir keinginan. Allah pasti mengetahuinya. Itulah mungkin hikmah kenapa kita harus selalu berkhusnudhon kepada Allah atas segala hal yang terjadi pada kita.
Cita-cita dan harapan kita bukan sebuah khayal kosong. Kalau bahasa suami saya, cita-cita adalah sesuatu yang akan kita capai dengan sebuah 'sejarah prestasi yang panjang'. Thukul menyebutnya 'kristlisasi keringat'! hehe... Tidak mungkin seorang yang kini 'besar' tiba-tiba saja meraihnya. Hanya orang-orang yang dapat undian berhadiah yang tiba-tiba mendapatkan apa yang diinginkannya.
Saat saya berbincang dengan suami disudut rumah kontrakana kami beberapa bulan lalu (sebelum kami pindah), saya berkata kepadanya "Lihat tulisan sanggar baca benih cendekia itu, Kak.Aku membuatnya dari gabus saat aku masih SMU.hanya diruang tamu.Aku punya cita-cita punya perpustakaan ,rumah baca dirumah kita. ternyata kesampaiannya juga. Rumah baca itu kita sudah merintisnya". Kini pun,kami memutuskan kembali kerumah orangtua yang telah lama tak terurus.Kamipun berniat membuat lagi sebuah nuansa keilmuan di rumah itu. Dan kini tahapannya sedang berlangsung: sebuah perpustakaan keluarga yang bergabung dengan rintisan kantor sebuah pusat kajian siroh nabi.Insya Allah

ALLAH: sebuah orientasi Maha Dahsyat!
Baiklah. kembali pada cita-cita. Ternyata, perbedaan cita-cita orang beriman dengan tidak beriman adalah pada niat dan orientasi. Betul? Seorang mu'min yang memiliki cita-cita dengan niat yang kuat dan bersih, akan menggiringnya pada sebuah ketulusan gerak, derap dan pemikiran. Niat tulus itu juga yang membuatnya tidak pernah padam semangat. Jika pun kadang sedikit lelah dalam perjalanan menempuhnya, orang yang niatnya bersih dan kuat akan segera menemukan lagi alasan untuk tidak berhenti. Dia bangkit, mengembalikan energinya, dan bergerak lagi!
Begitupun dengan orientasi yang kekal, akan menumbuhkan dan mengakarkan sebuah cita hingga ia tak berputus asa. Allah adalah orientasi Maha Kekal dan Maha Dahsyat. Orientasi cita-cita kita kepada-Nya, akan menjadikan cita-cita kita seumpama energi yang terus menyala. Mungkin energi itu berubah bentuk sesuai peran-peran yang kita jalani. Tapi ia TIDAK MATI. Apa lagi yang tidak akan mati kecuali ALLAH?
Benarlah bahwa seseorang yang yakin pada pertolongan dan keMaha Baikan Allah, ia tidak pernah berhenti bercita-cita. Ia akan terus bermohon agar cita-citanya tercapai sesuai dengan sunnatullah : berusaha, dan berproses. Selain itu, bersyukur adalah sebuah jeda yang hebat untuk menyadari bahwa Allah sampai hari ini begitu baik dengan mengabulkan cita-cita kita sedikit demi sedikit. Maka..FAIDZA FARGHTA FANSHOB, wa Ila RABBIKA FARGHOB. benar-benar bahwa Allah menjamin bahwa seorang mukmin yang bersegera dengan tahapan-tahapan kebaikan yang telah terbentang dihadapannya, ia akan menemukan dirinya berenergi untuk citanya!
ya, Cita adalah Keniscayaan jika ALLAH menjadi tujuan.Wallahu a'lam bishawwab

Kamis, 28 Januari 2010

Memancing Rizki di Rumah Kita

Saya dan suami kadang ta’jub dengan kebesaran Allah mengatur rizki. Kadang disaat berbincang berdua, atau melihat anak-anak kami terlelap, atau menyapu pandangan kesekeliling rumah kontrakan kami, kami bernostalgia betapa ‘nekatnya’ kami memulai pernikahan ini.
Suami pernah bertanya “ Kok dulu Umi mau ya? Padahal abi dulu cuma bawa berapa ratus ribu di dompet setelah menikah. Haa..ha..tapi seingatku aku gak pernah minta Bapak (mertua saya,ed) lho, ya secara langsung gak pernah” katanya sok PD

“ Ya…itulah kelebihanku haa.ha.. mau menerima ‘ mahasiswa luar negri nekat ’ yang pulang ke Indonesia cuma buat nyari Istri. Setelah itu ditinggal pula” jawabku bangga.
“ Aku juga nggak pernah tuh seingatku minta Abah sepeserpun sejak menikah. Bahkan kakak juga ya yang bayar registrasi kuliahku tepat dua hari setelah nikah” lanjutku. Dan orangtua saya pun sejak putrinya dilamar oleh seorang ‘mahasiswa nekat’ itu sampai dengan hari ini tidak pernah menanyakan apa pekerjaan calon suami putrinya, penghasilan, atau dengan bahasa ekstrim akan kau beri makan apa anakku hai calon menantu? Itu juga yang membuat suamiku salut pada orangtua saya .he..he..
Perbincangan tentang kenekatan-kenekatan (atau lebih tepatnya ‘tawakkal’ aja ya?) dalam hal rezeki sering kami bahas dan sering kami buktikan bahwa rezeki benar-benar bukan semata hasil kita mengucurkan keringat.

Saat kami akhirnya memutuskan mengontrak sendiripun, suami saya adalah seorang lulusan universitas luar negeri yang baru meraba-raba rezeki di negeri sendiri. Beliau pun ‘orang baru’ di lingkunganku. Tapi entahlah, keyakinan pada pertolongan Allah bahwa kami akan meretas sukses itu lebih kuat. Saya juga tidak pernah merasa risau dengan uang belanja yang diberikan suami.he..he.. Ini sebenarnya ‘rahasia dapur’ tapi saya banyak melihat para istri yang terlalu cemas dengan pemberian suami entah merasa tidak cukup, atau ya... karena terlalu banyak keinginan. Apakah saya juga tidak? Ha..ha.. bukan begitu.

Saya pun seperti kebanyakan perempuan, senang dengan pemberian lebih suami. Namun rasanya kalau sampai terlalu menuntut suami belum pernah saya lakukan. Ya…kalau sekedar ‘sindiran-sindiran’ halus bernada guyon pernah saya lakukan. Tapi ada satu pujian yang saya rasakan tulus dari suami yang hingga kini menjadikan saya GR dan optimis bahwa saya masih dalam frame ‘istri yang bersyukur’ (he..he.. GR sekali ) ya. Begini kata suamiku “ Abi salut lho, Umi gak pernah terlihat cemas dengan ‘uang didompet’ umi –yang pasti jumlahnya tidak banyak- bahkan saat Abi berada diluar kota”. Hm.. itu yang membuat saya selalu percaya bahwa saya akan dicukupkan oleh Allah.

Benarlah saat Rasulullah mengatakan bahwa menikahlah maka kau akan kaya. Atau jaminan Allah tentang rizqi yang Dia sebarkan bagi siapa saja. Kecemasan tentang rizqi secara berlebihan akan menipiskan tawakkal kita pada Allah.

Entahlah, pernikahan mengajarkan pada saya untuk mempercayai bahwa rizqi yang mengalir pada kita berbanding lurus dengan usaha dhohir (nyata, contoh: bekerja) maupun non-dhohir. Rizqi kita dan keluarga kita kadang perlu ‘dipancing’ dengan amalan-amalan dan niat yang benar-benar lurus bahwa ada fadhilah-fadhilah (keutamaan) yang akan kita dapatkan dari amal ringan yang kita lakukan.

Memancing rizqi dengan banyak bersedekah, memberi makan orang-orang yang meminta pada kita, berbuat baik pada pembantu dan sesekali melebihkan upah mereka dengan niat sedekah kami lakukan untuk ‘membersihkan’ siakpa kita yang mungkin menyinggung mereka. Begitu pula dengan memperhatikan orang-orang lemah disekitar kita dengan memudahkan urusan mereka. Saya dan suami sering mencoba-coba begitu. Disaat kami dalam keadaan keuangan yang ‘tipis’ dan kami justru memberi atau membantu orang yang tiba-tiba datang dan meminta tolong, subhanallah! Allah menggantinya dengan cara yang unik dan lebih baik.

Begitu pula kami sering mengatakan bahwa hidup kami ini ‘pas-pasan’ he..he… Artinya ‘pas kami butuh, pas ada’. Luar biasa. Allah memang menjamin setiap kebutuhan kita. Yang harus kita lakukan hanyalah berikhtiar dan tidak malas serta bersyukur. Rizqi dirumah kita pun bermacam bentuknya. Mungkin kita tidak punya uang cash yang cukup banyak di dompet kita, atau tabungan yang besar di rekening bank. Tapi lihatlah, saat anak-anak kita sehat, tumbuh cerdas, suami kita bertanggungjawab, kita pun sehat dan dapat merawat keluarga?! Apakah itu bukan rizqi yang besar? Sementara mungkin kita melihat saudara-saudara kita diuji dengan anak yang sakit, kendaraan yang rusak atau ujian yang menyebabkan rizki ‘dhohir’ yang kita sebut ‘uang’ itu keluar untuk pembiayaan.

Sungguh…menikah adalah pelajaran luar bisa tentang menjaga izzah dan keberanian untuk menghadapi hidup kita sendiri, menciptakan keberkahan dari dalam rumah kita melalui kerjakeras dan syukur. Selamat berjuang!

Minggu, 20 Desember 2009

Tahun Baru Hijriyah : Ibrah bagi Aktifis Dakwah

Kita adalah umat yang sering diperintahkan Allah untuk mengambil pelajaran dari semua peristiwa. Karenanya Allah sering memantik rasa dan kecerdasan kita dengan 'agar kamu ingat', 'agar kalian berpikir', 'agar kalian mengambil pelajaran'. Sungguh itupun terjadi dalam peringatan-peringatan hari-hari besar Islam, apakah Idul Adha yang barusaja berlalu atau Tahun Baru Hijriyah yang akan kita jelang. Taka ada larangan dalam MEMPERINGATINYA namun mungkin kita tak perlu melakukan perayaan-perayaan sebagaimana kaum lain merayakan tahun baru mereka. Sebab, sangat dimungkinkan perayaan itu menghilangkan esensi dari peristiwanya.Dan akhirnya kita hanya terjebak pada euphoria perayaannya. itu sja prolog tulisan ini

LATAR BELAKANG TAHUN HIJRIYAH

Khalifah Umar Ibnul Khattabb (al-Faruq) adalah kholifah yang banyak melahirkan produk-produk baru dalam pemerintahannya.Pada masa pemerintahan beliau, kekuasaan Islam sudah mencapai 1/3 bagian dunia. Namun umat Islam yang telah memiliki kekuasaan itu, belummemiliki sistem penanggalannya sendiri. Pada saat itu yang berlaku adalah penanggalan Romawi, Tahun Gajah, penanggalan-penanggalan jahiliyyah.Itulah yang dipertanyakan dan diusulkan oleh salah satu gubernur Al-Faruq diangkat menjadyang bernama Abu Musa al-Asy'ari. Maka ia mengusulkan pada Umar tentang penanggalan Islam.

Mulailah Umar ra mengumpulkan para shabat dan sharing ide dengan mereka. Mana tahu ada usulan-usulan pun muncul. Ada yang usulan dari para sahabat tntang kapan dimulainya penanggalan Islam. Maka berbagai usul muncul. Ada yang berpatokan pada peristiwa Fathkhu Mekkah, ada yang usul saat Rasulullah mulai diangkat menjadi Rasul, Bahkan ada yang usul hr kematian Rasulullah.

Akhirnya umar cenderung kepada usulan Ali bin abu thalib. Ali mengusulkan bahwa peristiwa Hijrah sangat layak menjadi awal di penanggalan itu. Bahwa hijrah menjadi peristiwa yang membuktikan orang-orang yang telah lulus dalam turbulensi dakwah di Mekkah dan membuktikan loyalitasnya pada Islam dan pada perintah Allah dengan adanya peristiwa Hijrah....

HAKIKAT HIJRaH
Hijrah secara maknawiyah memang berarti meninggalkan apa-apa yang diarang Allah dan menimbulkan dosa. Hijrah juga dapat bermakna bahw akita diberi kesempatana oleh Allah untuk mengarungi bumi Allah yang luas, dimanapun kita melangkah, ada banyak peluang kebaikan. Kitapun diseru untuk menyebar diseluruh bumi, mencari penghidupan dan mnyebarkan syiar Islam.

IBRAH KHUSUS HIJRAH : PROFIL dan Karakter Pendukung Setia Dakwah

Peristiwa hijrah bukanlah peristiwa perjalanan yang menyenangkan.Umat Islam pada saat itu tidak dalam kondisi ayang aman.Tak heran jika peristiwa Hijrah itu memiliki keutamaan yang besar disisi Allah.Namun para sahabta utama memberikah teladan dalam mengarungi ujian dakwah dan pembuktian ketaatan itu

1. Pelajaran dari Keberanian UMAR Ibnul Khattab

Umar melakukan hijrah dengan cara berbeda. Disaat para sahabat yang lain melakukan hijrah dengan sembunyi2, maka Umar dengan menyadari kekuatan dirinya justru mengumumkan terang-terangan hijrahnya dengan 'menatang' penduduka Makkah : "siapa yang ingin istrinya menjadi janda dan anaknya jadi yatim,maka silakan menemuiku dibalik bukit ini"

dan benarlah. Semua penduduk Makkah tidak bergeming. membiarkan Umar berhijrah dengan mulus. Apa ibrahnya? Apakah ini kesombongan Umar? Sekali-kali tidak! Umar sedang mengajarkan pada kita bagaimana sebuah keberanian itu lahir dari kemampuan mengukur potensi diri, kesiapan diri. Keberanian bukanlah kenekatan. Umar sangat tau dan dapat mengukur potensi, peluang dan akhirnya menjahrkan hijrahnya. Begitupula kita sebagai aktifis dakwah, jika memang kita telah percaya diri dengan kekuatan kita, optimis dan yakin dengan kebenaran yang kita bawa, maka tidak adaalasana kita terus 'bersembunyi' dalam syiar-syiar dakwah kita

2. Kesetiaan dan Kepedulian Abu Bakar Ash-shidiq pada Qiyadahnya (pemimpinnya)

Siapa tak mengenal sosok ini? dari awal hingga akhir ia menjadi sosok pembela Rasulullah. dia yang menemani Rasulullah dalam perjalanan hijrah yang tidak mudah.Menemani bersembunyi di gua Tsur yang menurut shiroh terdapat banyak lubang ular dan goa itu sangat sempit. Sehingga dengan sangat khawatir trehadap keselamatan Murabbinya, Abu Bakar mengetakan "Wahai Rasulullah bagaimana jika mereka melihat kaki kita?" Dan rasulullah menjawab : " Bagaimana jika ada tiga dan yang satu Allah? Sesungguhnya Allah bersama kita"
Bahkan Abubakar merelakan pahanya digigit ular demi menjaga agar RAsulullah tidak terbangun dari tidur beliau yang bersandarkan pahanya.Luar biasa

Didalam dakwah, ksetiaan dan kepedulian kita pada qiyadah, pemimpin sangat penting. Janganlah kita selalu menuntut bahwa murabbi, pemimpin kita selalu peduli kita namun kita jarang peduli terhadap kondisi murabbi, naqib, pemimpin kita dalam dakwah

3. Pengorbanan Ali untuk Qiyadahnya

Malam itu, siapa sosok yang telah siap mati terbunuh menggantikan Rasulullah?Dialah Ali bin Abu Thalib. Rencana pembunuhan Rasulullah oleh para pemuda Quraisy telah final dimalam itu. Ali pun telah siap tidur berselimut jubah Rasulullah untuk menggantikan nyawa Rasulullah.

pengorbanan yang sangat-sangat menyentuh wilayah pribadi. Ini bukan hanya berkorban untuk seruan dakwah yang umum. ini berkorban nyawa untuk seorang pemimpin. Sungguh, jika tidak ada kecintaan, loyalitas dan rasa bela, hal ini mustahil dilakukan. Kesadaran bahwa dakwah memerlukan Rasulullah lebih besar daripada kecintaan Ali terhadap dirinya. Kita sebagai kader dakwah mungkin belum sampai pada pengorbanan yang menyentuh wilyah pribadi. Kita belum diminta mengorbankan anak kita sebagaimana Ibrahim, kita belum diminta menggantikan qiyadah untuk misi bertaruh nyawa. Namun kita masih sering menolak untuk tugas-tugas dan taklimat dakwah yang sebenarnya bisa kita lakukan seandainya kita tak mengajukan banyak alasan.

4. Kreatifitas dan Kesungguhan Putra Putri Abu Bakar
Dalam momentum hijrah, putra putri Abu Bakar layak menjadi kader-kader muda brilian. Abdullah bin Abu Bakar dengan cerdas memainkan peran 'intelejen' yang cerdik. Di pagi dan siang hari Abdullah dengan sangat cool mengikuti forum-forum Quraisy, menyaring segala informasi, ikut 'nimbrung' dalam diskusi-diskusi mereka seolah-olah taka ada apa-apa. Dan dimalam harinya Abdullah melaporkan pada ayahandanya dan Rasulullah di goa Tsur.Rapi dan cerdik.

begitu pula Asma' dan Aisyuah yang diusai belia mereka sudah menunjukkan loyalitas dan besarnya peran perempuan dalam dakwah.tugas membawa dan mengantarkan bekal untuk Rasulullah dan ayah merak tent bukan tanpa resiko. perempuan-perempuan yang digembleng oleh dakwah generasi awal itu teguh, pemberani, sangat besarpengorbanannya. ide membagi dua ikat pinggang yang dilakukan Asma' menunjukkan kreatifitas dan kecakapan

ibrah : dakwah memerlukan kader-kader yang kreatif, jeli, teliti dan siap berkorban untuk misi dakwah. Tua, muda semua melakukan peran-peran yang mampun mereka lakukan. Tidak ad alasan bagi para kader dan aktivis dakwah untuk 'duduk-duduk' dan bersantai sebabb pkerjaan dawah ini sangat banyak!

IBRAH UMUM

secara Umum, hijrah Rasulullah memberikan ibrah sebagai berikut
1. Pengorbanan dan Keikhlasan
ditunjukkan oleh Muhajirin dan Anshor yang mereka dijaminkan kemuliaan karena pengorbanan mereka. kaum muhajirin meninggalkan apa-apa yang mereka punya di kampunghalamannya (harta, keluarga, jabatan, kenyamanan) dan Kaum Anshor rela berbagi apapun yang mereka miliki untuk saudara-saudara mereka kaum Muhajirin. Padahal kaum Anshorpun bukan orang-orang kaya.
bahwa sebagai aktivis dakwah kita harus mampun memunculkan keikhlasan dan pengorbanan yang mungkin menyentuh wilayah-wilayah pribadi kita.

2. Kreatifitas dan Optimis

Hijrah memberikan ibrah bahwa kita para aktivis dakwah harus selalu optimis dan kreatif dalam memunculkan ide-iede baru dan semangat dalam mengelola dakwah ini. Jangan hanya mengalir dan puas menjadi penonton sja. Kreatifitas menghadapi objek dakwah yang berbeda kultur, usi adan latarbelakang menjadikan kita terus berpikr memenangkan dakwah.

3. Kerjakeras dan Tawakkal

Mengapa Hijrah Rasulullah tidak bergelimang fasilitas padahal Rsulullah diberi fasilitas Bouraq pada saat isra' mi'raj? :) Mengapa Rasulullah tidak meminta kemudahan dri Allah?
Luar biasa. Hijrah dn prosesnya menunjukkan pada kita bahwa setiap hal dalam dakwah ini sangat memerlukan kerja keras. proses dan ikhtiar mendahului tawakkal. rasulullah mengatur strategi, menyewa penunjuk jalan dan menyuruhnya berputar, bersembunyi 3 hari agar jejakmereka tertiup angin, para sahabat diatas dengan perannya masing-masing mensukseskan proyek hijrah dengan sungguh-sungguh. Dan Allahpun memberikan pertolongan-pertolongan yang bukan 'sim salabim'.

inilah pelajaran bahwa kita harus terus bekerja keras dalam dakwah. Tidak boleh kita mendahulukan 'tawakkal' dan menggantungkan pada hal-hal yang kbetulan. Sifat 'njagakne' danseenaknya dalam dakwah tidak akan mendatangkan kebaikan apalagi pertolongan Allah. Pertolongan Allah harus kita upayakan agar kita pantas mendapatkannya

demikian rangkuman dari kajian menjelang tahun baru ijriyah yang mampu saya serap dan saya 'tularkan' kembali semoga menjadi inspirasi dan semnagt baru, khususnya untuk diri saya. Maaf jika terlalu panjang...Maturnuwun kepada Ust. Hatta Syamsuddin, Lc :) atas kajiannya sore itu.

Investasi Generasi : Sebuah Harapan Tawakkal

Program Investasi Generasi (mendapatkan buah hati): Pembuktian Tawakkal

Aku menikah di tahun 2004. Seperti kebanyakan pasangan, bayangan segera mempunyai generasi baru pasti menggebu. Akupun sering mndengarkan 'curhat' teman dan saudara tentang kegelisahan mereka menanti buah hati.Tapi Allah tentu lebih tau kesiapan kita. Aku sering mendengar orang-orang sekitar kita tanpa sadar ‘mendikte’ Allah dan menyinggung orang lain (biasanya sesama perempuan) meskipun dengan bercanda. Begini seringnya candaan mereka:

“ Kapan nih nikah? Kok nggak cepet-cepet nikah. Milih-milih ya?” Itu pada yang belum menikah. Lalu, selanjutnya
“ Aduh kapan nih rencana punya momongan. Tunggu apalagi? “ atau “Kok belum dapet ‘laba’ nih…belum rencana punya anak,ya?” itu pada yang sudah menikah tapi belum juga berputra. Begitu seterusnya kalau anak sudah ada, pertanyaan muncul kapan nambah lagi? Mungkin itu juga yang menjadi inspirasi sebuah iklan kontrasepsi di televisi.

Program investasi generasi. Begitu saya dan suami menamakan. Sebab memang anak, keturunan adalah sebuah ‘investasi’. Mereka bisa menguntungkan untuk dunia akhirat jika kita bisa dan benar merawatnya. Sebaliknya, bisa menjadi fitnah jika kita salah dalam orientasi memilikinya dan lalai dalam mendidiknya. Dan yang penting diingat : kita hanya bisa MERENCANAKAN dan memohon kepercayaan dari Allah. Kita tidak berhak mendikte Allah dan mendesak atau bahkan menyinggung orang-orang yang belum memilikinya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti diatas.

Saya sering menghibur teman-teman yang belum berputra dengan mengatakan " Allah masih menginginkanmu memberikan banyak sedekah waktu dan produktifitas amal yang belum tentu lho bisa kau lakukan saat sudah berputra.he..he..Berkhusnu
dhon saja ya...?"

Begitulah. Layaknya sebuah investasi, Allah menuntunkan kita benar-benar lurus dalam usaha menanamkan benih dirahim kita. Sejak awal hubungan biologis orang-orang beriman dituntunkan untuk berdo’a. Bismillahi Allahumma jannibnasy syaithon wajanibnasy syaithona maa razaqtana.
Begini terjemahan hadits lengkapnya. Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah bersabda:

“Sekiranya salah seorang diantara kalian menggauli istrinya lalu ia mengucapkan ‘Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami’, maka sekiranya Dia mengaruniakanseorang anak kepada keduanya, maka anaknya itu tidak akan dibahayakan oleh setan selama-lamanya “.

Sungguh sebuah amanah yang besar itu selayaknya pula dipersiapkan dengan tuntunan Allah. Tidak ada sebuah rencana bagi kita yang mengaku beriman ini tanpa melibatkan Allah dalam segala urusan dan hajat kita.

Program investasi generasi ini menurutku juga benar-benar akan menguji ketawakalan kita sebagai hamba. Bahwa kesenangan, harapan dan cita-cita mendapatkan anak yang sholeh, banyak dan sehat tentulah tidak cukup dengan persiapan dhohir dengan program-program makanan sehat, tips agar cepat mendapat keturunan, namun lebih dari itu.

Keyakinan bahwa Allah yang menjadikan benih itu tumbuh dirahim kita, Allah yang melahirkannya, termasuk Allah yang memilihkan jenis kelamin anak-anak kita, atau bahkan menjadikan kita tak berputra, harus terus kita pelihara. Semua itu agar tidak ada harapan yang pupus ataupun percaya diri berlebihan yang melahirkan sikap berbangga. Termasuk berbangga dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sungguh benar Allah berfirman dalam Q.S. Asy-Syura (42) : 49-50

“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, (QS.42 : 49)
“atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki.Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.(QS.42:50)

Ya, anak-anak kita adalah investasi generasi. Mari mempersiapkannya dan terus memohon kepada Allah agar kita ridho atas semua kehendak Allah atas kita,pasangan kita, dan anak-anak kita.Berdo'a dan bersabar akan datanganya amanah itu akan lebih baik daripada kita menebak-nebak. Wallahu a’lam bish shawwab

Dua Tahun Benih Cendekia : Tawaran Partisipasi

Rumah "BC" 2 Des 2007- 2 Desember 2009
Alhamdulillah.. meskipun masih tertatih mewujudkan idealisme, masih menjadi 'benih' yang mencoba tersemai dan tumbuh.Namun belajar adalah keniscayaan dan pantang menyerah adalah pena yang tak boleh mengering.Mengajak sahabat, teman, saudara yang memiliki kepedulian yang sama dalam meretas jalan mencerdaskan diri dan sesama dalam tawaran partisipasi Rumah Baca dan Rumah Karya kami di Tahun Kedua ini:

1. Books Box Drop Jauh Dekat
Program pengumpulan buku baru dan bekas baik buku pelajaran, buku-buku pendidikan (parenting), majalah, novel yang mendidik, buku-buku ketrampilan hidup,bundel majalah dan semua bahan bacaan yang bermanfaat untuk anak, remaja, perempuan, umum.

Kami juga berharap para penerbit buku untuk dapat menyumbangkan buku-buku pada kami baik secara langsung maupun bekerjasama dalam event-event tertentu.

Dapat dikirimkan ke : Rumah baca BENIH CENDEKIA d.a Bp/Ibu Hatta Syamsuddin Jl. s. Langkat no 11, Sawahan Sangkrah Rt.01/XI Pasarkliwon Solo 57119 Cp.081329460601
Jarak dekat (Kota Solo) kami bersedia mengambil kerumah/institusi Anda

2. Relawan Pendidikan
Anda seorang trainer?Pendongeng? Guru lukis? Apapun,siapapun Anda yang peduli pendidikan atau Berminat menjadi mentor sukarela dalam program pendampingan belajar SD? kami menunggu partisipasi Anda bergabung mencerdaskan generasi

3. Sumbangan Media Belajar dan Kreatifitas
Berupa sumbangan media belajar : crayon, cat lukis, kanvas, mainan edukatif (bekas atau baru), rak buku, papan tulis, gambar tempel dsb

4.Infaq Dana Kegiatan
Berupa infaq dana partisipasi untuk mensupport kegiatan kami.Dapat Dikirim ke Rekeneing BSM atas nama Robi'ah al Adawiyah No rekening 0120151625
5. Penyuluh Parenting
Anda dapat bergabung dalam program 'Penyuluhan Pendidikan Keluarga' yang memberikan penyuluhan pada ibu-ibu di kampung tentang pendidikan anak, komunikasi keluarga, kesehatan keluarga, dll

Program Kegiatan Andalan Kami Terbaru
1. Kursus Murah Bahasa Inggris Untuk SMP-SMU (sementara masih memerlukan Guru untuk SMU, jadi yang berjalan baru SMP) setiap rabu sore

2. Kelas Belajar Membaca Usia TK (persiapan SD)
hari: Jumat sore. masih membutuhkan relawan

3. Pendampingan Belajar untuk SD kelas 4,5,6 setiap kamis dan sabtu pk 14.30-16.00

4. Penyuluhan Pendidikan Keluarga (setiap bulan)

demikian catatan kecil ini semoga mengetuk hati siapapun yang bersemangat dalam menyemai benih-benih kebaikan.Amiin