Adalah mengamati tingkah polah anak-anak menjadikanku banyak belajar. merenung, mengambil pelajaran. Aku dikaruniai dua putri tertua dengan usia mereka yang belum lagi lima tahun. Izinkan aku memperkenalkan ‘guru-guru’ kecilku itu, sebab dari mereka aku mengambil pelajaran. si sulung bernama KUNI MAURA AHNA, desember tahun ini usianya akan genap 5 tahun. dan si tengah bernama SALMA HANIYYA Oktober tahun ini baru genap 3tahun. Bukannya pamer, anak-anakku memiliki daya serap bahasa yang lumayan bagus. sehingga aku kini lebih berhati-hati ‘memilih’ diksi (pilihan kata) untuk mereka. begitu pula khadimat (prt) yang kuajarkan untuk mulai berhati-hati dalam berkosakata.kali ini aku belajar tentang membahasakan 'adab berpakaian' padanya. Selamat menikmati
Suatu hari, seperti biasa aku menyelesaikan ‘pekerjaan’ku menulis didepan komputer. sambil membersamai mereka main di ruang tengah kontrakan lamaku.Saat itu kalau tidak salah aku tengah mengandung anak ketiga sekitar 5 bulan. Sesekali aku ‘menyahut’ saat mereka bermain peran. begitulah. aku tau, banyak cara orangtua menemani anaknya bermain, termasuk ‘nyambi’ ngetik.Kujadikan diriku sesuai peran yang mereka inginkan. Hari itu aku diberi peran oleh Kakak Maura sebagai ‘petugas dibank,karena aku ‘bernegosiasi’ untuk tetap didepan komputer .
“ Ya wes, kalo Umi Vida mau tetep ngetik, umi jadi mbak yang kerja di Luwes apa di bank ya Mi’?” katanya
“Oke-oke, umi mauuuuu” kataku bersemangat
Mulailah mereka mengacak rumah. Maen Rumah2an. mengatur kursi seumpama kamar, mengatur sofa yang mereka bilang ‘mobil’ dan menggelar semua kain2 disepanjang ruang tamu. Kubiarkan. Pembantuku yang sudah mulai ‘menyemprit dan melarang’ kubisiki
“ biarkan dulu lah mbak, nanti kita ajak bersihkan, oke mbak? maaf ya” hehe
Tibalah si mamah Maura akan mengajak pergi anaknya ‘haniyya’ untuk kondangan. tiba-tiba ia muncul dengan penampilan ‘luarbiasa’. bibirnya di olesi spidol merah! dan tiba-tiba ia teriak
“Umiiiii, pake’in baju ini lho... “ katanya dari dalam kamar
Ha???!!!!! aku heran, kaget, campur geli
“Kenapa bibirnya, bu Maura? kok pada merah gitu sih?”aku agak kaget
“Umi sih, gak pernah pake liftik, Yangti Lia (tante suamiku) dan Mbah Uti (ibu mertuaku) kalau mau pergi itu pake liftik (lipstik maksud dia). Umi aja yang gak punya. semua ibu temanku itu punya lho mi’...”
“oooo......” hanya iitu jawabku. aku tergeli2. kelucuan hari itu. baiklah.
“hm…oo gitu ya…tapi kan spidol merah pait, Kak…adek Haniyya juga.Nanti segera dihapus ya?biar kalau makan ndak ketelen.pie?” mereka setuju.Belum selesai…
“nah..sekarang, umi pakekan Maura baju yang ini ya…” aku melihat baju2 yang ia keluarkan. Baju ‘longdres mainnya yang selutut lengan pendek, kaos lengan panjang yang sudah agak ketat (karena dia gemuk) lalu celana panjang, jilbab kecil.
“ Mi, ini bajunya yang kaos panjang didalem, terus luarnya dikasih baju daster ini mi…nah baru pakae celana panjang, jilbabnya ini diiket gini lho mi…” aku hanya ‘melongo’ ck..ck..ck…
“ooh…gitu lha kok bajunya dimodel gitu kenapa nak?”
“Aaah…umi…ini KEREN lho,model gitu looooh-katanya kemayyu- (glek) ini kan kayak ibunya temen2ku mik…pada pake baju pendek, dalemnya kaos ketat gini. Umi sih…bajunya panjang-panjang terus. Gamis ya mi nama bajunya Umi? .Umi juga jilbabnya gitu terus, ibunya temen2ku itu jilbabnya gini lho mi…” Masya Allah….disisi lain aku ta’jub dengan kejeliannya mengamati. Maura memang punya kelebihan dengan pengamatannya terhadap ‘detil’ sesuatu.Bahkan Bunda disekolahnya pernah cerita, dia bisa hafal ‘tari aceh’ hanya dengan tiap hari melihat kelas anak-anak yg lebih besar melakukannya. Tapi disisi lain…aku mendapat pelajaran tentang betapa perlunya anak-anak kita melihat figur yang benar, baik dalam berpakaian, bertutur.
Memang, kita tak boleh reaktif. Pengamatan anak, peniruan-peniruan mereka adalah sebuah indikasi kecerdasan. Ekspresi mereka terhadap sesuatu lahir dari ruang pikir mereka yang murni. Namun, tugas kita-orangtua dan keluarga- adalah membahasakan prinsip, kebenaran, dan keteguhan dengan cara yang sederhana, manis, namun berkesan dalam dihatinya. Jadilah kumaknai ekspresi sulungku hari itu sebagai sebuah materi MEMBAHASAKAN AURAT dan pakaian yang ‘syar’I’ padanya…
“hhh..mmmm.. Oooo..maura niru mamanya temanmu itu ya (dia sempat menyebut nama temannya yang ibunya berpakaian begitu). Umi juga tau…emang sih banyak yang pakai.Kalau maura mau nyoba pakai begitu boleh saja, karena sekarang maura masih kecil. Tapi kalau maura sudah besar nanti…maura mau kan pahalanya lebih besar lagi dari Allah?”
“Emang kenapa?kalo pakai baju begitu pas udah gede, pahalanya dikit?”
“yah...gitu deh... kalau nanti maura udah besar, wah...tubuh maura ini AURAT.., ingat kan aurat? Umi pernah cerita ya? AURAT itu kan mahaaaaal banget apalagi kan ntar kalo gedhe, maura tambah cantik, makanya pakaiannya gak boleh yang ketat-ketat nak, jilbabnya juga.Bajunya orang muslim yang perempuan ya begini, harus longgar dan menutup semua AURAT, ya..karena kan kalo lebih sempurna Allah akan lebih sayang.Gimana?”
“Hmmm. Ya aku tapi mau nyoba pake ini dulu ya Mi? Nanti Aku mau bilang si Chika ah (nama samaran) biar dia bilang sama mamahnya, bajunya yang longgar, menutup AURAT biar gak malu dan disayang Allah.Gitu yaMi?. baju begini kan buat anak yang masih kecil..”
“Hehehe....yah boleeeh.....mungkin mamanya Chika belum tau. Ntar pasti mamahnya Chika mau kok pakai baju yang lebih longgar.Tapi Maura bilangnya baik-baik aja ya?”kataku setengah berbisik dan memasang mimik lucu. Dia tersenyum mengangguk. Emang dia tampak 'lucu' tapi biar saja.karena memang untuk anak kecil pakaian begitu 'lucu' dan tidak masalah kan? Kalau kata ibu saya 'belum kena hukum syar'i " hehehe
Pff…..bayangkan moms, bunda, ibu, ayah…bagaimana coba bila kita tadi langsung bilang “ Dosa itu!”, “Pakaian gak Islami”,” atau alaaah…kayak gitu kok ditiru sih???” maka pemahamanitu tak pernah bisa kita sampaikan, iapun akan mudah menjustifikasi seseorang
Memang, sampai hari ini pun ananda ku itu masih meniru cara bicara, gaya, hal-hal yang mungkin membuat kami ‘beristighfar’…tapi biarlah itu menjadi mata pelajaran bagi kita bagaimana membahasakan prinsip. Semoga bermanfaat, tunggu note berikutnya tentang ‘membahasakan’ prinsip pada anak-anak
NB:
note ini dan sejenisnya Insya Allah diposting pula dalam blog penaperempuan.blogspot.com
Silakan share atau mengcopy tapi mohon dicantumkan alamat blog atau penulisnya ini yaa hehe.demi 'hak paten' orisinalitas ide. Maaf dan Terimakasih
Blog untuk menuangkan ide-ide segar, benar dan wajar untuk kaum perempuan. Blog pribadi ini saya dedikasikan untuk berbagi inspirasi, semangat, dan cita-cita untuk berbagai peran perempuan sebagai anak, sebagai istri,sebagai ibu, sebagai sahabat, dan pegiat kebaikan di masyarakatnya. Selamat bersinergi agar energi keperempuanan kita mencerdaskan semesta!
Minggu, 04 Juli 2010
Oleh-oleh seminar Miracle at Home
Adalah disuatu hari yang berharga aku dan teman-teman dari KPPA BENIH menyelenggarakan seminar kecil ‘Miracle at Home’ bersama dokter Zulaehah Hidayati, pemilik Rumah parenting Bandung yang kukenal pertama kali melalui facebook (tengkyu ya facebook). Selama ini teori-teori dan diskusi-diskusi mengasuh anak memang sudah sering saya lakukan dengan suami, sahabat, tante atau membaca buku.
Awalnya, seminar parenting yang ‘hanya’ berpengikut 20 orang itu adalah usaha ‘memanfaatkan waktu’ beliau yang tengah berkunjung kerumah orangtua di daerah Baki , sukoharjo, selatan kota Solo. Namun luar biasa, efeknya pada saya dan keduapuluh teman. Semoga saya tidak overestimate, tapi kesan dari diskusi-diskusi dan koment di facebook membuat saya memiliki satu kesan tentang beliau: telaten merespon, telaten membuka ruang konsultasi di facebook, inbox atau telepon. Semoga selalu begitu meskipun sudah semakin ‘terkenal’ ya dokter. Kebetulan-lagi- beliau adalah tetangga kakak ipar saya di Bandung. Klop deh. lanjuut
Diawal pelatihan, dokter Zule memaparkan betapa pentingnya sebuah paradigma baru mengasuh anak. Dinukil dari Buku beliau “miracle at Home’ yang oleh Mizan diterbitkan dengan judul “ Anak Saya Tidak Nakal, Kok!”, maka bergulirlah tips praktis diawali dari pengumpulan masalah-masalah yang kami alami. Anak mengamuk, berkelahi, berbohong, memanipulasi, memilih-milih makanan dan sebagainya. memang yang saya rasakan, dokter Zule begitu sederhana saja memaparkan tipsnya. Buku yang akhirnya kami beli itu pun sederhana sekali pembahasaannya hingga kami merasa terpandu sesampai dirumah.
PARENTING di Rumah Parenting dituliskan dengan huruf kapital yang kepanjangannya menjadi sebuah ‘proses’ dan teknik mengasuh anak yang –menurut kesimpulan saya- memang harus diawali dengan ‘membereskan’ dulu diri kita, emosi kita. Setidaknya ini beberapa teknik yang kutulis dengan pemahamanku (semoga dokter Zule dan Rumah Parenting berkenan)
P untuk Pengasuhan anak yang benar(perubahan paradigma dari konvesnsional menjadi cara mendidik anak yang benar),
A untuk Anak adalah anugrah (sebuah kesadaran bahwa mereka adalah amanah, kebanggan, anugrah yang tidak semua orang ternayat memilikinya, sehingga kita harus mendidiknya, mengasuhnya dengan cinta),
R untuk Redam amarah (bahwa marah hanya akan membuat masalah menjadi tidak selesai, dan menambah masalah baru, marah akan membuat kita menumpulkan kreatifitas anak),
E untuk Empati mendengarkan ( empati mendengarkan menjadikan kita mampu memahami maksud anak yang kdang justru bermaksud baik, tulus, luarbiasa dan jauh dari yang kita sangka).
N untuk notifiaksi pembicaraan dan tindakan (teknik ini mengajarkan kita untuk tidak gegabah dalam merespon perilaku buruk anak, dan mengajarkan pada kita untuk ‘memilih’ sikap yang bijak seiring dengan teknik ‘R’ dan ‘E’) .
T untuk Tanamkan nilai positif ( teknik ini mengajarkan kita untuk tetap menanamkan energi positif, menghindari kata-kata buruk, merendahkan, menghina dan menstempel anak dengan gelar yang buruk. memuji, meyakinkan anak dengan hal2 yang baik akan membuat mereka sebaik yang kita inginkan, bahkan lebih).
I untuk istiqamah (bahwa mengasuh dan mendidik anak membutuhkan kesabaran, ketegasan, konsistensi agar anak mengrti maksud baik kita dan menghargainya. Istiqamah juga menjadikan kita tegas namun penuh kasih sayang). Dan
NG untuk meNGadakan time out ( time out adalah konsekuensi yang harus diterima anak akibat perilaku buruk yang ia lakukan berulang dan tidak ada perubahan, meskipun telah kita peringatkan. teknik time out banyak deh bunda.saya juga lagi belajar..hehe)
Nah…subhanallah, saat pulang, ternyata bekal teknik PARENTING itu membantu sekali. saya sengaja baru menuliskannya setelah sepekan. Karena sepekan ini, meskipun sedikit demi sedikit saya mampu meredam amarah saya. Saya berkomitmen bahwa saya akan memperbaiki diri dan cara mengasuh anak-anak saya dengan merubah diri sendiri dahulu. Tak mudah, tapi Insya Allah bisa.
Baru dengan me Redam amarah saja, sepekan ini saya merasa sedikit ‘berbeda’. Meminjam istilah Ustadz Fauzil Adhim, ternyata menjadi orangtua ‘sumbu pendek’ sangat merugi. Saya berkomitmen tidak lagi mau ‘mengomel’ atau berteriak, melotot (apalagi memukul) untuk menghentikan perilaku buruk mereka. Memang...masih panjang jalan mengasuh anak-anak, ini bukan sulapan mejik, euy. Apalagi seorang ibu yang selalu 'dianggap' paling bertanggungjawab atas perilaku anak-anak, tentu mengasuh anak menjadi tanggungjawab besar. Mereka baru lima tahun,3tahun, dan semakin kita mendapatkan ilmu baru, justru ‘ujian’ kesabaran kita semakin besar... ini saja dulu ya teman, sahabatku, bunda, ayah... semoga note2 selanjutnya tentang ‘tema’ ini bisa saya buat setelah saya melakukannya. (malu dong kalao udah nulis belum praktek....) thanks to rumah Parenting, dan 20 teman rintisan RP Solo yang bersemangat...kita buat lagi ya tanggal 29 mei agar manfaat yang kita rasakan dirasakan oleh para orangtua lain. BISMILLAH!
Awalnya, seminar parenting yang ‘hanya’ berpengikut 20 orang itu adalah usaha ‘memanfaatkan waktu’ beliau yang tengah berkunjung kerumah orangtua di daerah Baki , sukoharjo, selatan kota Solo. Namun luar biasa, efeknya pada saya dan keduapuluh teman. Semoga saya tidak overestimate, tapi kesan dari diskusi-diskusi dan koment di facebook membuat saya memiliki satu kesan tentang beliau: telaten merespon, telaten membuka ruang konsultasi di facebook, inbox atau telepon. Semoga selalu begitu meskipun sudah semakin ‘terkenal’ ya dokter. Kebetulan-lagi- beliau adalah tetangga kakak ipar saya di Bandung. Klop deh. lanjuut
Diawal pelatihan, dokter Zule memaparkan betapa pentingnya sebuah paradigma baru mengasuh anak. Dinukil dari Buku beliau “miracle at Home’ yang oleh Mizan diterbitkan dengan judul “ Anak Saya Tidak Nakal, Kok!”, maka bergulirlah tips praktis diawali dari pengumpulan masalah-masalah yang kami alami. Anak mengamuk, berkelahi, berbohong, memanipulasi, memilih-milih makanan dan sebagainya. memang yang saya rasakan, dokter Zule begitu sederhana saja memaparkan tipsnya. Buku yang akhirnya kami beli itu pun sederhana sekali pembahasaannya hingga kami merasa terpandu sesampai dirumah.
PARENTING di Rumah Parenting dituliskan dengan huruf kapital yang kepanjangannya menjadi sebuah ‘proses’ dan teknik mengasuh anak yang –menurut kesimpulan saya- memang harus diawali dengan ‘membereskan’ dulu diri kita, emosi kita. Setidaknya ini beberapa teknik yang kutulis dengan pemahamanku (semoga dokter Zule dan Rumah Parenting berkenan)
P untuk Pengasuhan anak yang benar(perubahan paradigma dari konvesnsional menjadi cara mendidik anak yang benar),
A untuk Anak adalah anugrah (sebuah kesadaran bahwa mereka adalah amanah, kebanggan, anugrah yang tidak semua orang ternayat memilikinya, sehingga kita harus mendidiknya, mengasuhnya dengan cinta),
R untuk Redam amarah (bahwa marah hanya akan membuat masalah menjadi tidak selesai, dan menambah masalah baru, marah akan membuat kita menumpulkan kreatifitas anak),
E untuk Empati mendengarkan ( empati mendengarkan menjadikan kita mampu memahami maksud anak yang kdang justru bermaksud baik, tulus, luarbiasa dan jauh dari yang kita sangka).
N untuk notifiaksi pembicaraan dan tindakan (teknik ini mengajarkan kita untuk tidak gegabah dalam merespon perilaku buruk anak, dan mengajarkan pada kita untuk ‘memilih’ sikap yang bijak seiring dengan teknik ‘R’ dan ‘E’) .
T untuk Tanamkan nilai positif ( teknik ini mengajarkan kita untuk tetap menanamkan energi positif, menghindari kata-kata buruk, merendahkan, menghina dan menstempel anak dengan gelar yang buruk. memuji, meyakinkan anak dengan hal2 yang baik akan membuat mereka sebaik yang kita inginkan, bahkan lebih).
I untuk istiqamah (bahwa mengasuh dan mendidik anak membutuhkan kesabaran, ketegasan, konsistensi agar anak mengrti maksud baik kita dan menghargainya. Istiqamah juga menjadikan kita tegas namun penuh kasih sayang). Dan
NG untuk meNGadakan time out ( time out adalah konsekuensi yang harus diterima anak akibat perilaku buruk yang ia lakukan berulang dan tidak ada perubahan, meskipun telah kita peringatkan. teknik time out banyak deh bunda.saya juga lagi belajar..hehe)
Nah…subhanallah, saat pulang, ternyata bekal teknik PARENTING itu membantu sekali. saya sengaja baru menuliskannya setelah sepekan. Karena sepekan ini, meskipun sedikit demi sedikit saya mampu meredam amarah saya. Saya berkomitmen bahwa saya akan memperbaiki diri dan cara mengasuh anak-anak saya dengan merubah diri sendiri dahulu. Tak mudah, tapi Insya Allah bisa.
Baru dengan me Redam amarah saja, sepekan ini saya merasa sedikit ‘berbeda’. Meminjam istilah Ustadz Fauzil Adhim, ternyata menjadi orangtua ‘sumbu pendek’ sangat merugi. Saya berkomitmen tidak lagi mau ‘mengomel’ atau berteriak, melotot (apalagi memukul) untuk menghentikan perilaku buruk mereka. Memang...masih panjang jalan mengasuh anak-anak, ini bukan sulapan mejik, euy. Apalagi seorang ibu yang selalu 'dianggap' paling bertanggungjawab atas perilaku anak-anak, tentu mengasuh anak menjadi tanggungjawab besar. Mereka baru lima tahun,3tahun, dan semakin kita mendapatkan ilmu baru, justru ‘ujian’ kesabaran kita semakin besar... ini saja dulu ya teman, sahabatku, bunda, ayah... semoga note2 selanjutnya tentang ‘tema’ ini bisa saya buat setelah saya melakukannya. (malu dong kalao udah nulis belum praktek....) thanks to rumah Parenting, dan 20 teman rintisan RP Solo yang bersemangat...kita buat lagi ya tanggal 29 mei agar manfaat yang kita rasakan dirasakan oleh para orangtua lain. BISMILLAH!
Label:
benih cendikia,
manajer rumah tangga
Ya Allah Mudahkanlah Aku mendidik Mereka !
Ternyata yang dikatakan prestasi bukan hanya melahirkan anak-anak kita, namun mendidiknya. Begitu kata seorang adik ibuku. Aku sangat setuju. Kita tidak pernah bisa menjamin bahwa stiap detik dan jam, hari dan bulan serta tahun akan menjanjikan hal-hal yang ‘baik-baik saja’ pada anak-anak kita.
Hari ini, banyak orangtua termasuk aku yang sudah merasa begitu takut dan khawatir tidak dapat mendidik mereka. Bukan hanya menunggu mereka tumbuh besar. Bukan, bukan itu. Itu bisa kita lakukan dengan memberikan makanan, minuman bahkan ada orangtua yang menganggap bahwa ukuran sukses adalah tumbuh ‘gemuk’ dan sehat saja.
Tapi kita harus M E N D I D I K mereka. Ya, Mendidik bukan mengajar. Mendidik bukan ‘menyekolahkan’. Mendidik adalah membina. Seperti kita menyemai benih-benih tumbuhan yang berkualitas lalu kita memupuk, menyiram dan memantau perkembangannya. Mendidik tidak mensyaratkan kenaikan angka-angka tapi meningkatnya kesadaran dan kemauan untuk menjadi lebih baik. Dan sungguh, itu tidak mudah. Namun karena kita ‘pendidik’ dan bukan ‘pengajar’ maka kita harus optimis bahwa kita Insya Allah bisa mendidik anak-anak kita dengan anugrah kasihsayang (rahim).
Hari ini, anak-anak kita memiliki peluang untuk lebih menurut pada apa-apa yang dikatakan oleh orang lain, bukan orangtuanya. Maka kita para orangtua ternyata benar-benar tak bisa berbuat apa-apa tanpa do’a dan ilmu. Aku jadi ingat bagaimana almarhumah ibuku membisikkan kata-kata ‘ajaib’ ditelingaku sejak aku beranjak remaja saat aku akan keluar rumah “ Mamah hanya bisa mengawasimu sampai kau keluar dari pintu itu, nok...Selebihnya, takutlah pada Allah.Sebab, mamah ndak tau tapi Allah Maha Tau nak..”
Aku haru jika mengingatnya. Betapa kekhawatiran seorang ibu berpadu dengan ketegaran, keteguhan, optimisme, dan keyakinan bahwa hanya Allah yang bisa melindungi anak-anaknya. Kata-kata itu pula yang membuatku sangat menjaga kepercayaannya, bertanggungjawab dan tidak tergoda untuk neko-neko. Pada akhirnya, aku merasa ‘aman’ menceritakan segalanya pada mamah dan aku tumbuh sebagai seorang perempuan yang percaya diri (ini rasa syukur lho, bukan GR).
Itulah yang ingin kutransfer pada anak-anakku sejak kini. Bahwa penting bagi mereka menyadari dan percaya bahwa Allah Maha Melihat, bahwa ibunya mempercayai mereka, bahwa jiwa raga mereka begitu berharga.
Pada Hari ini....tak ada yang tak mungkin mempelajari apapun dari siapapun dan hanya pada Allah kita memohon kesabaran, nafas panjang, ilmu, keteguhan, ketegasan, cinta dan semua hal yang baik untuk bekal kita mendidik mereka.
Sungguh ya Allah...kami ini lemah tanpa pertolongan Engkau. Sejak Kau karuniakan mereka tumbuh dirahim kami, mereka lahir, tumbuh didunia ini...Ah....rasanya terlalu sombong jika kami tidak melibatkan Engkau dalam setiap fase kami mendidik mereka. Maka...mudahkanlah kami mendidiknya ya Allah, sebagai amanah-Mu didunia dan akherat. Amin.
Hari ini, banyak orangtua termasuk aku yang sudah merasa begitu takut dan khawatir tidak dapat mendidik mereka. Bukan hanya menunggu mereka tumbuh besar. Bukan, bukan itu. Itu bisa kita lakukan dengan memberikan makanan, minuman bahkan ada orangtua yang menganggap bahwa ukuran sukses adalah tumbuh ‘gemuk’ dan sehat saja.
Tapi kita harus M E N D I D I K mereka. Ya, Mendidik bukan mengajar. Mendidik bukan ‘menyekolahkan’. Mendidik adalah membina. Seperti kita menyemai benih-benih tumbuhan yang berkualitas lalu kita memupuk, menyiram dan memantau perkembangannya. Mendidik tidak mensyaratkan kenaikan angka-angka tapi meningkatnya kesadaran dan kemauan untuk menjadi lebih baik. Dan sungguh, itu tidak mudah. Namun karena kita ‘pendidik’ dan bukan ‘pengajar’ maka kita harus optimis bahwa kita Insya Allah bisa mendidik anak-anak kita dengan anugrah kasihsayang (rahim).
Hari ini, anak-anak kita memiliki peluang untuk lebih menurut pada apa-apa yang dikatakan oleh orang lain, bukan orangtuanya. Maka kita para orangtua ternyata benar-benar tak bisa berbuat apa-apa tanpa do’a dan ilmu. Aku jadi ingat bagaimana almarhumah ibuku membisikkan kata-kata ‘ajaib’ ditelingaku sejak aku beranjak remaja saat aku akan keluar rumah “ Mamah hanya bisa mengawasimu sampai kau keluar dari pintu itu, nok...Selebihnya, takutlah pada Allah.Sebab, mamah ndak tau tapi Allah Maha Tau nak..”
Aku haru jika mengingatnya. Betapa kekhawatiran seorang ibu berpadu dengan ketegaran, keteguhan, optimisme, dan keyakinan bahwa hanya Allah yang bisa melindungi anak-anaknya. Kata-kata itu pula yang membuatku sangat menjaga kepercayaannya, bertanggungjawab dan tidak tergoda untuk neko-neko. Pada akhirnya, aku merasa ‘aman’ menceritakan segalanya pada mamah dan aku tumbuh sebagai seorang perempuan yang percaya diri (ini rasa syukur lho, bukan GR).
Itulah yang ingin kutransfer pada anak-anakku sejak kini. Bahwa penting bagi mereka menyadari dan percaya bahwa Allah Maha Melihat, bahwa ibunya mempercayai mereka, bahwa jiwa raga mereka begitu berharga.
Pada Hari ini....tak ada yang tak mungkin mempelajari apapun dari siapapun dan hanya pada Allah kita memohon kesabaran, nafas panjang, ilmu, keteguhan, ketegasan, cinta dan semua hal yang baik untuk bekal kita mendidik mereka.
Sungguh ya Allah...kami ini lemah tanpa pertolongan Engkau. Sejak Kau karuniakan mereka tumbuh dirahim kami, mereka lahir, tumbuh didunia ini...Ah....rasanya terlalu sombong jika kami tidak melibatkan Engkau dalam setiap fase kami mendidik mereka. Maka...mudahkanlah kami mendidiknya ya Allah, sebagai amanah-Mu didunia dan akherat. Amin.
Audisi Pembantu Rumah Tangga
Saat menulis bagian ini saya sedang telah mengalami banyak hal berhubungan dengan seseorang dalam rumah tangga kita: Khadimat, pembantu, rewang (bahasa jawa,ed)dan semacamnya.Ya..ya…ternyata
Tulisan ini akan sangat panjang, sebab segala yang berhubungan dengan si khadimat akan aku tulis sejujurnya. Di tulisan pertamaku tentang mereka, kubagi beberapa tips untuk memilihnya atau sebelum kita memutuskan untuk ya atau tidak menerimanya di istana kita.Tak selalu mulus, tapi semoga bermanfaat.
a. Memilihnya Dengan Prioritas Kebutuhan Kita
Suatu hari, aku merasa begitu tertarik dan tercerahkan dengan perbincangannku dengan seorang teman.Aku bercerita begitu sulitnya mencari khadimat yang dapat 'diandalkan'.
"…..saat kita udah cocok sama kerjaannya, e…. dia punya sifat yang nggak menyenangkan dan sifat itu menjadi karakter yang membuat kita tidak nyaman,tidak aman" begitu kataku
"He..he.. iya sih Vid (sapaanku, ed) tapi aku punya nasihat bagus dari ibuku.Kta beliau,pembantu itu ada tipe-tipenya.." katanya sambil senyum simpul
"O ya? Menarik tuh pie mbak?" tanggapku
" Ada yang pekerjaannya oke, tapi dia enggak care sama anak-anak kita dan nggak bisa diajak bicara seperti teman…" hmm…aku menyimak dan iapun melanjutkan
"Ada yang care sama anak-anak kita, ana kita terurus dengan baik, dia sabar, ngemong, tapi dari sisi pekerjaan rumahnya nggak memuaskan…Dan yang terakhir…he he.. Ada khadimat yang yah… Cuma bisa kita andalkan sebagai 'teman bicara',bisa menjadi poendengar tapi pekerjaan dan cara mendidik anak-anak kita dia pas pasan.." dan temanku itu menghela nafas…"so.. tergantung kita sebenarnya apakah kita mau memilih khadimat untuk pekerjaan rumah kita, anak kita, atau hanya sebagai 'teman'.Begitu vid…." Diapun tersenyum
Ini yang sekarang saya hadapi. setelah berpetualang dengan berganti-ganti khodimat (pembantu, rewang, ‘asissten rumah tangga, apapun sebutannya) sampai tulisan ini kubuat saya selalu ingat nasehat teman saya itu. Memang sulit. Akhirnya kita memang harus benar-benar sadar khadimat bukan malaikat poenolong atau bahwa romusha yang kita kerja paksa. Akhirnya saya membuat prioritas bahwa saya memilihnya untuk melancarkan aktivitas dakwah. Sehingga, ada kalanya ia ‘hanya’ menjaga anak-anak ketika saya pergi keluar rumah, dan berlapang dada jika karenanya pekerjaan lain sedikit kurang sempurna
b. Berterus Terang Di awal tentang GAJI
Ada pepatah Arab yang sering dikatakan suami saya fish shorohah, rohah artinya : dalam keterusterangan ada ketenangan. Nah,gaji adalah salah satu yang menuntut keterusterangan kita diawal mereka ‘melamar’ pekerjaan.
Pengalaman saya, membicarakan gaji untuk khadimat diawal itu lebih baik. Artinya, sama-sama sepakat. carilah informasi upah standar untuk pembantu yang pulang sore (jawa: pocokan) atau yang menginap (jawa: ngebleng). Biasanya pembantu yang menginap gajinya lebih murah karena dia tidak memikirkan transpot, menginap dirumah kita, makan dan tidur juga bersama kita. Tapi kalau saya sama saja karena meskiupun menginap, justru tugasnya kadang lebih banyak kan?
Setelah kita tau upah standar, mulailah mennayakan pada calon khodimat apakah ia ingin gajinya diambil pekanan, bulanan, dua mingguan atau malah..harian?? ini penting agar kita siap anggaran. Selain itu, jangan sampai kita menunda upah yang mereka butuhkan, kecuali dengan ridho mereka.
Selain itu, tak ada salahnya jika kita membuat kesepakatan kapan gajinya dipotong, atau kapan ia bisa menerima ‘bonus’. Mislanya jika ia pocokan (tidak menginap) upahnya dihitung sesuai masuknya dia. Kalau saya, saya akan lihat komitmennya. kalau khadimat kita tipe orang yang memang ‘butuh’ bekerja, ia akan selalu masuk. Ia akan memprioritaskan pekerjaan dirumah kita.maka untuk yang begini, saya tidak akan pernah memmotong gajinya karena ia pasti bener-bener ada keperluan saat tak masuk. Sayapun tidak pernah memotong gaji harian pembantu yang tidak masuk karena sakit, baik dia atau keluarganya. Tapi ada juga pembantu pocokan yang sering tidak masuk, nah kita perlu memberi ‘warning’ dengan aturan gaji sesuai kedatangannya.
Yang jelas, gajilah pembantu dengan layak. Apalagi jika ia seorang yang loyal pada kita, berilah bonus atau hadiah yang menyenangkan hatinya, meskipun tak harus selalu berbentuk uang. Ingat, jangan terlalu pelit namun juga tetap profesional
c. Mintalah Komitmen Kerjanya dan Buat Aturan Kerja yang Jelas
ya, ini benar-benar pengalaman berharga. Saya pernah mengalami berganti khadimat setiap 3 bulan! Entahlah, saya sampai risih dengan komentar beberapa tetangga “kok ganti lagi, Bu Vida”. Kesannya saya ini orang yang ‘sulit. hehe. Padahal, hampir semua pembantu yang keluar kebanyakan karena problem mereka sendiri dan yang membuat saya jengah, mereka biasanya tiba-tiba tidak masuk beberapa hari tanpa kabar dan tiba-tiba..keluar! Bahkan saya pernah sedikit malu karena khadimat saya meninggalkan ‘hutang’ pada tetangga dan pada saya (yang ini sih udah diikhlaskan kok, tapi tetap ditulis untuk ambil pelajaran, gak papa doong) .he..he.Ya sudahlah. Semoga Allah memberinya jalan keluar dari kesulitannya.
So, dari sinilah saya semakin teliti dalam menyeleksi khadimat. komitmen untuk masuk tiap hari saya letakkan diurutan ketiga setelah : ia muslim dan sholat, dia jujur dapat dipercaya. Barulah yang ketiga: bersedia masuk setiap hari dan tidak sedikit-sedikit membolos. Karena, meskipun saya dirumah full, saya kadang saya harus keluar rumah, menulis buku, dan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan 'pihak' ketiga untuk membantu saya.Alhamdulillah setelah lima kali saya mendapatkannya.Meskipun lagi-lagi tak ada orang yang sempurna. Saya tetap menemukan kekurangannya. Namun kriteria utama dan prioritas , segera membuat saya ‘beradaptasi’ dengan kekurangannya dan mengingat segala potensi baiknya.
Aturan kerja yang jelas itu penting. Apakah ia hanya mengasuh anak, ataukah ia hanya mengerjakan pekerjaan rumah, atau keduanya? Buat aturan juga kapan boleh nonton TV, apa yang boleh ia tonton bersama anak-anak kita,adab berpakaiannya, dan hal-hal yang menjadikan kita sreg jika ia melakukannya, sangat penting kita komunikasikan. Bukan apa-apa, kita turut bertanggungjawab juga kan terhadap kebaikan siapapun yang ada dirumah kita bukan?
d. menginap/ setengah hari?
Setiap pilihan ada konsekuensi. Kadang yang menjadi pilihan kita tak selamanya menyenangkan. Saya tidak pernah mempunyai pembantu menginap. Namun sejak saya akan melahirkan anak ketiga kami yang akhirnya harus cesar, saya meminta khodimat saya menginap. Awalnya saya terbantu karena saya foskus mengurus si kecil.Namun lama kelamaan saya seperti kehilangan anak-anak tertua saya. Saya mulai jarang membacakan cerita dimalam hari, mereka juga sering terpengaruh bicara si 'budhe' pengasuh yang kadang bikin hati saya kurang sreg, atau budhe pengasuh yang karena lelah jadi sering 'cuek', sedikit 'galak' dengan saya hehe.
Akhirnya tepat dua bulan, saya memilih mempekerjakannya setengah hari atau karena rumah beliau dekat, beliau ringan hati untuk pulang agak malam saat saya harus ada acara dimalam hari.Subhanallah, meskipun capek, tapi anak-anak saya 'kembali' ke pangkuan saya. dan Allah mudahkan...mereka kini sudah punya 'jam biologis' kapan tidur malam dan tidak sering terbangun dimalam hari. Itulah mengapa saya tetap cenderung menyarankan khodimat tidak menginap agar kita tetap punya 'kedaulatan' dirumah kita sendiri dan tidak terlalu 'bergantung' pada pembantu yang kadang justru menimbulkan masalah dikemudian hari
Tentang pengalaman mencoba ‘beradaptasi’ dan sabar itu...mungkin akan saya tulis berikutnya,ya! Insya Allah
Rabu, 24 Februari 2010
Mengenangnya Mendidik Kami: Catatan Rindu untuk Mama
Kepergian seorang ibu, menyisakan desir rindu yang menandak-nandak.Setiap sudut rumah ini, menerbitkan rindu padanya.Ya...R I N D U. Ibu meninggal karena komplikasi diabetesnya yang sudah tak lagi teratasi. Perjuangan yang lebih dari cukup untuk menahan lelah, penat dan ikhtiar manusiawi untuk berobat membuat beliau masuk keluar RS. Tapi kali ini...akhir Februari tahun lalu..ah rasanya masuk rumah sakit yang ini begitu 'berbeda' dalam rasa kami. 23 tahun dengan diabetesnya, mamahku terbilang ‘penderita cerdas’ begitu istilahnya. Namun, gempuran sakit yang bertubi, tekanan psikis dan lelahnya jiwa mungkin tak lagi bisa menawar takdir. Akhirnya, 4Maret 2009…Allah lebih Maha Tahu bagaimana mencintai perempuan luarbiasa itu. Mamaku, Meninggal dalam keadaan koma. Semoga Allah menempatkan beliau pada tempat yang mulia disisi-Nya.
Dan hari ini, Aku hanya ingin mengenang kebaikan mamah kepada kami. Agar kami terus merasa beruntung pernah diperjuangkan olehnya menatap dunia. Keunikan-keunikan beliau dalam mengasuh kami, kecerdasan dan ketegaran serta semangat hidup yang luarbiasa. Semangat belajar beliau tentang banyak hal dan cita-citanya yang begitu banyak, sempat membuat kami, anak-anaknya terlambat mengikuti alur keinginannya.
Aku sulung yang beruntung. Meskipun mamah dan abahku belum dapat dikatakan ‘mapan’ dalam hal ekonomi saat aku lahir tapi mamah bersungguh-sungguh dalam mengasuhku. Maklum, menurut cerita beliau, sebuah keajaiban bahwa beliau dapat segera hamil lagi setelah keguguran ‘kakak sulungku’ dalam usia kandungan 6 bulan. Beliau harus menjalani kuret. Katanya kakak ku itu laki-laki. Hm… “ Aku memberinya nama : Adam” begitu beliau kala itu sering bercerita.
Ibuku seorang yang keras hati dan multi talenta. Kemauannya, cita-citanya menembus batas-batas kebiasaan. Semangat belajarnya tentang sesuatu menuntunnya menjadi seorang yang telaten dan kadang seolah ingin mencurahkan semua cita-citanya. Memasak, mendesain, menghias kue. belajar herbal, melukis,menulis, semua pernah beliau coba
Ibuku pernah bercerita bahwa dia segera menabung uang jajan yang didapatnya dari menjual agar-agar di warung sayur saat mendengar manfaat apel merah dari siaran radiao BBC London *_* . “Apel saat itu buah mewah, Nok! Mamah Cuma bisa beli berapa biji dari hasil menabung. Dan mamah memakannya sendiri setiap pagi...biar sehat dan.cantik!” haha lalu kami tertawa bersama. Ya,selera humor ibuku lumayan.
Kehidupan sebagai sulung ditengah keluarga yang tidak bisa dikatakan kaya, memaksa ibuku memenggal banyak cita-citanya. “aku pernah dijanjikan melanjutkan sekolah oleh kakekmu tapi tak pernah terwujud. Kakekmu saat itu masih merintis dakwah dikota ini. Kata kakekmu banyak orang terkenal dan sukses tanpa sekolah tinggi. Ah,…meskipun itu sempat menghiburku tapi aku menyesal. Teman-temanku sudah banyak yang sukses dengan pendidikan mereka. Aku? Cita-citaku menjadi ahli gizi kandas!” jika sudah bercerita tentang itu, kami berpelukan.Lalu beliau selalu berkata
"Mungkin...kalau cita-citaku kandas...aku bisa mengantarkan kalian sukses ya nok!"
" Insya Allah Mah...mamah itu ibu luarbiasa" indah. Indah sekali jika kami sudah saling bertukar ide.Saat itu ...ya..saat mamah masih memiliki semangat hidup meskipun sakit demi sakit sudah dialaminya.
"Nok, aku pengen bikin karikatur: seorang ibu yang mulutnya panjaaaang banget.trus diatas mulut yang panjang itu berjejer seorang penulis kayak kamu, seorang guru bahasa inggris yang punya sekolah bahasa, kayak cita-citane Mira, seorang penyiar hebat kayak Iqbal, atao ustadz, dokter, insinyur..." kata ibuku.
"Artinya...seorang ibu itu meskipun 'cerewet, tapi dari kecerewetannya itu lahir anak-anak yang sholeh, sukses. Kalau ibunya terlalu 'menengan' (pendiam), anaknya salah didiemin, ya...anak-anaknya jadi gak punya aturan dan bodoh.Ya tho?" aku tertawa dan mengangguk.Aku terenyuh mengenangnya. Betapa mamahku selalu ingat dan jeli terhadap keinginan dan cita-cita anak-anaknya
Itulah sebabnya ibuku belajar otodidak tentang semua hal terutama tentang makanan, nutrisi, herbal. Tak sia-sia... ibuku pernah masuk 10 finalis lomba kraesi makanan bayi yang diselenggarakan oleh sebuah majalah parenting terkenal dinegri ini. Hm...aku masih ingat dalam memori kanak-kanakku bagaimana ibuku datang ke Jakarta untuk menghadiri acara itu dengan mengajakku.Saat itu mungin usiaku sekita 6 atau 7tahun
Untuk ukuran ibu-ibu dimasa 80-an ibuku sangat modern dalam hal mendidik anak-anak. Ibuku berlangganan majalah Ayahbunda dan membundelnya dengan telaten (bahkan masih bisa kunikmati hingga kini), semangat membacanya yang dahsyat dan minatnya didunia kesehatan membuatnya berlangganan beberapa majalah kesehatan populer.
Aku masih ingat banyak hal tentang perjuangan ibuku mendidik kami. Ibuku bukan perempuan manja. Ayahku yang sejak kami kanak-kanak telah berwirausaha diluar kota bahkan diluar pulau, keadaan itu membuat ibuku tegar dan mandiri. Ibuku yang pernah sukses mengelola rumah makan itu selalu mendahulukan semua kepentingan sekolah kami. Subhanallah. Aku dan adik-adikku disaat itu telah menikmati antar jemput sekolah dengan becak langganan. Uang bayaran sekolah selalu dibayar tepat bahkan kadang 1 tahun kontan! Apa kata beliau ? “ Aku pernah merasakan betapa malunya terlambat membayar uang sekolah yang menumpuk. Aku pernah dipermalukan oleh guruku”
Dari Ibuku aku belajar keadilan dan kasih sayang. Aku ingat sekali. Ibu selalu membeli semua barang untuk anak-anaknya yang tiga orang. Tempat minum, gelas yang berbeda-beda warna, pensil, semua berjumlah tiga. Sampai saat ibu sudah meninggal, aku menemukan beliau menyimpan tiga patung anak burung dan induknya berjumlah tiga! Disebuah kardus bertuliskan : Vida, Iqbal dan Mira. Aku sempat tersedu. Aku rindu. Meskipun kata ibuku, adil tak harus selalu sama. Ibu memperlakukan kami sangat manusiawi dan adil. Sangat adil
Ibuku sangat memperhatikan masalah gizi kami. Ide-ide kreatif selalu muncul agar kami cukup mengkonsumsi makanan sehat. Bahkan ibu pernah membuat jus sayuran yang beliau campurkan dengan madu yang entah kenapa rasanya jadi lezat agar kami tidak susah memakan sayuran.
Ibuku sangat kreatif, ide makanan bayi yang beliau ciptakan untuk kami dimasa kecil bahkan kupakai untuk anak-anakku. Taukah kau sobat apa nama makanan bayinya? FIVE NUT SONGS! Nyanyian 5 kacang! Yah pokoknya gitu deh terjemahannya menurut ibuku. Intinya, ramuan 5 jenis kacang-kacangan yang diblender dan dicampurkan pada bubur bayi atau ditambahkan buah-buahan. Hmm.. lezat! Luar biasa! Ibuku pernah memberikannya pada anak tetangga kami yang lahir premature dan si bayi mengalami pertambahan berat yang menyehatkan. Jadilah itu ‘proyek sosial’ ibuku dan ditularkannya pada kerabat dan tetangga.
Ibuku mengajarkanku berbagi. Aku masih ingat, saat aku duduk di TK besar, ibu pernah mengatakan padaku “ Berbuat baik pada teman akan banyak pahala. Kalau vida punya makanan, temannya dibagi ya nak…” Selang beberapa hari, ibuku membeli apel merah Washington dan dicarinya apel itu keesokan harinya. Sepulang sekolah dengan riang gembira dan penuh semangat aku menghampiri ibuku
“ Mah, Hari ini aku berbuat baik! Aku membagi-bagikan buah apel pada teman-temanku. Kan kata Mamah kita harus berbagi jika punya sesuatu. ..” kataku polos (menurut cerita mamah)
Ha..ha... Ibuku hanya bisa mengangguk dengan setengah terkejut. Tapi..ibuku tidak marah! Ibuku hanya berkata
“oh....ya, ya....bagus...iya.. itu baik sayang, tapi lain kali Vida kasih tau mamah ya...?” dan ibuku pun tak pernah lagi mengungkitnya bahkan sebenarnya beliau bangga bahwa pelajaran berbagi itu ‘nyanthel’ juga dikepalaku.
Ibuku mengajarkanku tentang kejujuran. Kata beliau “ Nok, orang yang bohong itu salahnya dua. Dia melakukan kesalahan yang ditutupinya, dan kedua dia bohong pula. Jangan pernah bohong ya...Sepahit apapun kejujuran itu lebih terhormat. “ kata-kata itu yang kini kutanamkan pada anak-anakku tentu saja dengan bahasa yang mereka pahami.
Masih banyak kesan-kesan yang kusimpan dari cara ibu mendidik kami. Kusimpan dalam jiwa, sebab ilmunya tak pernah mati.Kepergiannya merupakan kehilangan terbesar dalam hidupku. Sampai hari ini aku masih berdesir dalam kerinduan yang sangat. kerinduan yang melahirkan do'a do'a.Namun aku selalu ingat kata-kata ayahku disuatu malam, sehari setelah wafatnya mama,kurang lebih begini : “ Kita telah kehilangan sesuatu paling berharga didunia ini. Setelah ini, kita akan lebih kuat iman dan lebih siap kehilangan hal-hal duniawi yang lain. Mamah tak tergantikan dalam hidup kita. Tapi kita harus melanjutkan kehidupan.”
Subhanallah. Ayahku dengan ketegarannya selalu mengajarkan optimisme memandang kehidupan. Ayahku pun seorang yang berjiwa besar, penuh semangat dan sangat bersahabat. Aku sangat yakin setiap kita akan bersyukur terhadap ibu dan ayah kita. Sebuah kesyukuran yang akhirnya mendorongku mewujudkan banyak cita-cita beliau yang belum tersampai..Allahummaghfirl
aha warhamha wa’afinii wa’fu anha.
Kamis, 18 Februari 2010
Cita Sebuah Keniscayaan Saat Allah Menjadi Tujuan
Tiba-tiba kata-kata itu muncul di up date status adik dari sahabat lama saya, hari ini. Saya mendengarnya sekitar 8 atau 9 tahun lalu dari sahabat saya itu.Hm, kata-kata yang entah darimana ia mendapatkannya tapi luar biasa maknanya.
Saya sendiri menghubung-hubungkan bahwa Allah benar-benar mengijabahi segala cita-cita kita bahkan mungkin jika ia hanya berupa desir keinginan. Allah pasti mengetahuinya. Itulah mungkin hikmah kenapa kita harus selalu berkhusnudhon kepada Allah atas segala hal yang terjadi pada kita.
Cita-cita dan harapan kita bukan sebuah khayal kosong. Kalau bahasa suami saya, cita-cita adalah sesuatu yang akan kita capai dengan sebuah 'sejarah prestasi yang panjang'. Thukul menyebutnya 'kristlisasi keringat'! hehe... Tidak mungkin seorang yang kini 'besar' tiba-tiba saja meraihnya. Hanya orang-orang yang dapat undian berhadiah yang tiba-tiba mendapatkan apa yang diinginkannya.
Saat saya berbincang dengan suami disudut rumah kontrakana kami beberapa bulan lalu (sebelum kami pindah), saya berkata kepadanya "Lihat tulisan sanggar baca benih cendekia itu, Kak.Aku membuatnya dari gabus saat aku masih SMU.hanya diruang tamu.Aku punya cita-cita punya perpustakaan ,rumah baca dirumah kita. ternyata kesampaiannya juga. Rumah baca itu kita sudah merintisnya". Kini pun,kami memutuskan kembali kerumah orangtua yang telah lama tak terurus.Kamipun berniat membuat lagi sebuah nuansa keilmuan di rumah itu. Dan kini tahapannya sedang berlangsung: sebuah perpustakaan keluarga yang bergabung dengan rintisan kantor sebuah pusat kajian siroh nabi.Insya Allah
ALLAH: sebuah orientasi Maha Dahsyat!
Baiklah. kembali pada cita-cita. Ternyata, perbedaan cita-cita orang beriman dengan tidak beriman adalah pada niat dan orientasi. Betul? Seorang mu'min yang memiliki cita-cita dengan niat yang kuat dan bersih, akan menggiringnya pada sebuah ketulusan gerak, derap dan pemikiran. Niat tulus itu juga yang membuatnya tidak pernah padam semangat. Jika pun kadang sedikit lelah dalam perjalanan menempuhnya, orang yang niatnya bersih dan kuat akan segera menemukan lagi alasan untuk tidak berhenti. Dia bangkit, mengembalikan energinya, dan bergerak lagi!
Begitupun dengan orientasi yang kekal, akan menumbuhkan dan mengakarkan sebuah cita hingga ia tak berputus asa. Allah adalah orientasi Maha Kekal dan Maha Dahsyat. Orientasi cita-cita kita kepada-Nya, akan menjadikan cita-cita kita seumpama energi yang terus menyala. Mungkin energi itu berubah bentuk sesuai peran-peran yang kita jalani. Tapi ia TIDAK MATI. Apa lagi yang tidak akan mati kecuali ALLAH?
Benarlah bahwa seseorang yang yakin pada pertolongan dan keMaha Baikan Allah, ia tidak pernah berhenti bercita-cita. Ia akan terus bermohon agar cita-citanya tercapai sesuai dengan sunnatullah : berusaha, dan berproses. Selain itu, bersyukur adalah sebuah jeda yang hebat untuk menyadari bahwa Allah sampai hari ini begitu baik dengan mengabulkan cita-cita kita sedikit demi sedikit. Maka..FAIDZA FARGHTA FANSHOB, wa Ila RABBIKA FARGHOB. benar-benar bahwa Allah menjamin bahwa seorang mukmin yang bersegera dengan tahapan-tahapan kebaikan yang telah terbentang dihadapannya, ia akan menemukan dirinya berenergi untuk citanya!
ya, Cita adalah Keniscayaan jika ALLAH menjadi tujuan.Wallahu a'lam bishawwab
Kamis, 28 Januari 2010
Memancing Rizki di Rumah Kita
Saya dan suami kadang ta’jub dengan kebesaran Allah mengatur rizki. Kadang disaat berbincang berdua, atau melihat anak-anak kami terlelap, atau menyapu pandangan kesekeliling rumah kontrakan kami, kami bernostalgia betapa ‘nekatnya’ kami memulai pernikahan ini.
Suami pernah bertanya “ Kok dulu Umi mau ya? Padahal abi dulu cuma bawa berapa ratus ribu di dompet setelah menikah. Haa..ha..tapi seingatku aku gak pernah minta Bapak (mertua saya,ed) lho, ya secara langsung gak pernah” katanya sok PD
“ Ya…itulah kelebihanku haa.ha.. mau menerima ‘ mahasiswa luar negri nekat ’ yang pulang ke Indonesia cuma buat nyari Istri. Setelah itu ditinggal pula” jawabku bangga.
“ Aku juga nggak pernah tuh seingatku minta Abah sepeserpun sejak menikah. Bahkan kakak juga ya yang bayar registrasi kuliahku tepat dua hari setelah nikah” lanjutku. Dan orangtua saya pun sejak putrinya dilamar oleh seorang ‘mahasiswa nekat’ itu sampai dengan hari ini tidak pernah menanyakan apa pekerjaan calon suami putrinya, penghasilan, atau dengan bahasa ekstrim akan kau beri makan apa anakku hai calon menantu? Itu juga yang membuat suamiku salut pada orangtua saya .he..he..
Perbincangan tentang kenekatan-kenekatan (atau lebih tepatnya ‘tawakkal’ aja ya?) dalam hal rezeki sering kami bahas dan sering kami buktikan bahwa rezeki benar-benar bukan semata hasil kita mengucurkan keringat.
Saat kami akhirnya memutuskan mengontrak sendiripun, suami saya adalah seorang lulusan universitas luar negeri yang baru meraba-raba rezeki di negeri sendiri. Beliau pun ‘orang baru’ di lingkunganku. Tapi entahlah, keyakinan pada pertolongan Allah bahwa kami akan meretas sukses itu lebih kuat. Saya juga tidak pernah merasa risau dengan uang belanja yang diberikan suami.he..he.. Ini sebenarnya ‘rahasia dapur’ tapi saya banyak melihat para istri yang terlalu cemas dengan pemberian suami entah merasa tidak cukup, atau ya... karena terlalu banyak keinginan. Apakah saya juga tidak? Ha..ha.. bukan begitu.
Saya pun seperti kebanyakan perempuan, senang dengan pemberian lebih suami. Namun rasanya kalau sampai terlalu menuntut suami belum pernah saya lakukan. Ya…kalau sekedar ‘sindiran-sindiran’ halus bernada guyon pernah saya lakukan. Tapi ada satu pujian yang saya rasakan tulus dari suami yang hingga kini menjadikan saya GR dan optimis bahwa saya masih dalam frame ‘istri yang bersyukur’ (he..he.. GR sekali ) ya. Begini kata suamiku “ Abi salut lho, Umi gak pernah terlihat cemas dengan ‘uang didompet’ umi –yang pasti jumlahnya tidak banyak- bahkan saat Abi berada diluar kota”. Hm.. itu yang membuat saya selalu percaya bahwa saya akan dicukupkan oleh Allah.
Benarlah saat Rasulullah mengatakan bahwa menikahlah maka kau akan kaya. Atau jaminan Allah tentang rizqi yang Dia sebarkan bagi siapa saja. Kecemasan tentang rizqi secara berlebihan akan menipiskan tawakkal kita pada Allah.
Entahlah, pernikahan mengajarkan pada saya untuk mempercayai bahwa rizqi yang mengalir pada kita berbanding lurus dengan usaha dhohir (nyata, contoh: bekerja) maupun non-dhohir. Rizqi kita dan keluarga kita kadang perlu ‘dipancing’ dengan amalan-amalan dan niat yang benar-benar lurus bahwa ada fadhilah-fadhilah (keutamaan) yang akan kita dapatkan dari amal ringan yang kita lakukan.
Memancing rizqi dengan banyak bersedekah, memberi makan orang-orang yang meminta pada kita, berbuat baik pada pembantu dan sesekali melebihkan upah mereka dengan niat sedekah kami lakukan untuk ‘membersihkan’ siakpa kita yang mungkin menyinggung mereka. Begitu pula dengan memperhatikan orang-orang lemah disekitar kita dengan memudahkan urusan mereka. Saya dan suami sering mencoba-coba begitu. Disaat kami dalam keadaan keuangan yang ‘tipis’ dan kami justru memberi atau membantu orang yang tiba-tiba datang dan meminta tolong, subhanallah! Allah menggantinya dengan cara yang unik dan lebih baik.
Begitu pula kami sering mengatakan bahwa hidup kami ini ‘pas-pasan’ he..he… Artinya ‘pas kami butuh, pas ada’. Luar biasa. Allah memang menjamin setiap kebutuhan kita. Yang harus kita lakukan hanyalah berikhtiar dan tidak malas serta bersyukur. Rizqi dirumah kita pun bermacam bentuknya. Mungkin kita tidak punya uang cash yang cukup banyak di dompet kita, atau tabungan yang besar di rekening bank. Tapi lihatlah, saat anak-anak kita sehat, tumbuh cerdas, suami kita bertanggungjawab, kita pun sehat dan dapat merawat keluarga?! Apakah itu bukan rizqi yang besar? Sementara mungkin kita melihat saudara-saudara kita diuji dengan anak yang sakit, kendaraan yang rusak atau ujian yang menyebabkan rizki ‘dhohir’ yang kita sebut ‘uang’ itu keluar untuk pembiayaan.
Sungguh…menikah adalah pelajaran luar bisa tentang menjaga izzah dan keberanian untuk menghadapi hidup kita sendiri, menciptakan keberkahan dari dalam rumah kita melalui kerjakeras dan syukur. Selamat berjuang!
Suami pernah bertanya “ Kok dulu Umi mau ya? Padahal abi dulu cuma bawa berapa ratus ribu di dompet setelah menikah. Haa..ha..tapi seingatku aku gak pernah minta Bapak (mertua saya,ed) lho, ya secara langsung gak pernah” katanya sok PD
“ Ya…itulah kelebihanku haa.ha.. mau menerima ‘ mahasiswa luar negri nekat ’ yang pulang ke Indonesia cuma buat nyari Istri. Setelah itu ditinggal pula” jawabku bangga.
“ Aku juga nggak pernah tuh seingatku minta Abah sepeserpun sejak menikah. Bahkan kakak juga ya yang bayar registrasi kuliahku tepat dua hari setelah nikah” lanjutku. Dan orangtua saya pun sejak putrinya dilamar oleh seorang ‘mahasiswa nekat’ itu sampai dengan hari ini tidak pernah menanyakan apa pekerjaan calon suami putrinya, penghasilan, atau dengan bahasa ekstrim akan kau beri makan apa anakku hai calon menantu? Itu juga yang membuat suamiku salut pada orangtua saya .he..he..
Perbincangan tentang kenekatan-kenekatan (atau lebih tepatnya ‘tawakkal’ aja ya?) dalam hal rezeki sering kami bahas dan sering kami buktikan bahwa rezeki benar-benar bukan semata hasil kita mengucurkan keringat.
Saat kami akhirnya memutuskan mengontrak sendiripun, suami saya adalah seorang lulusan universitas luar negeri yang baru meraba-raba rezeki di negeri sendiri. Beliau pun ‘orang baru’ di lingkunganku. Tapi entahlah, keyakinan pada pertolongan Allah bahwa kami akan meretas sukses itu lebih kuat. Saya juga tidak pernah merasa risau dengan uang belanja yang diberikan suami.he..he.. Ini sebenarnya ‘rahasia dapur’ tapi saya banyak melihat para istri yang terlalu cemas dengan pemberian suami entah merasa tidak cukup, atau ya... karena terlalu banyak keinginan. Apakah saya juga tidak? Ha..ha.. bukan begitu.
Saya pun seperti kebanyakan perempuan, senang dengan pemberian lebih suami. Namun rasanya kalau sampai terlalu menuntut suami belum pernah saya lakukan. Ya…kalau sekedar ‘sindiran-sindiran’ halus bernada guyon pernah saya lakukan. Tapi ada satu pujian yang saya rasakan tulus dari suami yang hingga kini menjadikan saya GR dan optimis bahwa saya masih dalam frame ‘istri yang bersyukur’ (he..he.. GR sekali ) ya. Begini kata suamiku “ Abi salut lho, Umi gak pernah terlihat cemas dengan ‘uang didompet’ umi –yang pasti jumlahnya tidak banyak- bahkan saat Abi berada diluar kota”. Hm.. itu yang membuat saya selalu percaya bahwa saya akan dicukupkan oleh Allah.
Benarlah saat Rasulullah mengatakan bahwa menikahlah maka kau akan kaya. Atau jaminan Allah tentang rizqi yang Dia sebarkan bagi siapa saja. Kecemasan tentang rizqi secara berlebihan akan menipiskan tawakkal kita pada Allah.
Entahlah, pernikahan mengajarkan pada saya untuk mempercayai bahwa rizqi yang mengalir pada kita berbanding lurus dengan usaha dhohir (nyata, contoh: bekerja) maupun non-dhohir. Rizqi kita dan keluarga kita kadang perlu ‘dipancing’ dengan amalan-amalan dan niat yang benar-benar lurus bahwa ada fadhilah-fadhilah (keutamaan) yang akan kita dapatkan dari amal ringan yang kita lakukan.
Memancing rizqi dengan banyak bersedekah, memberi makan orang-orang yang meminta pada kita, berbuat baik pada pembantu dan sesekali melebihkan upah mereka dengan niat sedekah kami lakukan untuk ‘membersihkan’ siakpa kita yang mungkin menyinggung mereka. Begitu pula dengan memperhatikan orang-orang lemah disekitar kita dengan memudahkan urusan mereka. Saya dan suami sering mencoba-coba begitu. Disaat kami dalam keadaan keuangan yang ‘tipis’ dan kami justru memberi atau membantu orang yang tiba-tiba datang dan meminta tolong, subhanallah! Allah menggantinya dengan cara yang unik dan lebih baik.
Begitu pula kami sering mengatakan bahwa hidup kami ini ‘pas-pasan’ he..he… Artinya ‘pas kami butuh, pas ada’. Luar biasa. Allah memang menjamin setiap kebutuhan kita. Yang harus kita lakukan hanyalah berikhtiar dan tidak malas serta bersyukur. Rizqi dirumah kita pun bermacam bentuknya. Mungkin kita tidak punya uang cash yang cukup banyak di dompet kita, atau tabungan yang besar di rekening bank. Tapi lihatlah, saat anak-anak kita sehat, tumbuh cerdas, suami kita bertanggungjawab, kita pun sehat dan dapat merawat keluarga?! Apakah itu bukan rizqi yang besar? Sementara mungkin kita melihat saudara-saudara kita diuji dengan anak yang sakit, kendaraan yang rusak atau ujian yang menyebabkan rizki ‘dhohir’ yang kita sebut ‘uang’ itu keluar untuk pembiayaan.
Sungguh…menikah adalah pelajaran luar bisa tentang menjaga izzah dan keberanian untuk menghadapi hidup kita sendiri, menciptakan keberkahan dari dalam rumah kita melalui kerjakeras dan syukur. Selamat berjuang!
Langganan:
Postingan (Atom)



