Senin, 28 Maret 2011

Mengkondisikan Anak di Forum/Acara ‘Serius’


kasus 1 :
 ”prang!!!!” tutup toples itu akhirnya pecah oleh anak seorang temanku.Sebelumnya si anak mengaduk-aduk isi toples, berpindah dari satu hidangan ke hidangan lain, tanpa dihabiskan! Kami yang dari tadi miris dan melihat si empunya rumah juga ’cemas’ namun pekewuh negur  akhirnya hanya bisa saling pandang dan menggelengkan kepala. Teguran kami sedari tadi tak meredakan tingkah super ngglidisnya, sedang ibunya? hanya berkomentar ”Nah, mbak nana ( bukan nama sebenarnya), pecah kan?Maaf ya Bu...” Dari tadi ngapain aja buuu??? Ada lagi yang curhat, tanaman hias kesayangannya tercabik-cabik karena tamu kecilnya tidak dihandle dengan baik oleh ibunya.
kasus 2:
Dari tadi beberapa anak  itu kok gak bisa diam ya. Naik turun panggung, mengganggu pembicara (ustadz) Sang ustadz sampai agak jengah dan  wajar jika kehilangan mood dan konsentrasi. Forum yang tadinya menjadi harapan kami menimba ilmu dan merefresh ruhiyah kami, sontak menjadi ajang teriakan, lari-larian. Sebalnya, orangtua anak-anak itu –padahal datang berdua- tidak aada yang beranjak dan mengajak anaknya menjauhi arena atau memberi kegiatan ’alihan’. Diam, hanya ragu-ragu dan memanggil-manggil, atau –bahkan- asyik mengobrol. Ndilalahnya (solo banget) selalu mereka yang jadi ’bintang panggung’.Hiiiih kalau saya orangtuanya, sudah saya angkat anak itu dan saya korbankan tempat duduk saya.Resiko mengajak anak kan?
kasus 3:
Diacara pernikahan seorang kerabat. Seorang anak memaki anak-anak saya dengan berteriak-teriak .”Ini kursiku semua, jangan duduk disitu!!! Jelek kamu”. Selanjutnya si anak tadi meneriaki ibunya, membuat onar, mengacak-acak sup. Ibunya yang malu semakin  panik. Saya hanya memberi isyarat anak-anak untuk diam dan pindah.Jujur saya malas menegur. Anak saya yang memang dari siang sudah saya kondisikan jika  jadi ikut, untuk  duduk ditempat yang lapang, dideretan belakang dan ambil kursi dekat meja agar bisa makan dengan santai. Anak-anak heran dan berbisik ”mungkin dia tadi belum dikasih tau  mamahnya ya, Mi?” Yang tengah berkata ”Kok dia gitu  ya mi, itu mamahnya kan malu ya. ini kan kursinya bukan punya dia ya, kan bukan rumahnya” hehe

    Begitulah.Itu tiga kasus paling sering saya jumpai. Anak-anak di forum serius orangtua.Apakah rapat sekolah, acara-acara pengajian pekanan, seminar (kecuali yang emang boleh bawa anak), undangan pernikahan atau sekedar bertamu. Yah sebenarnya ini secara umum tentang mengajak anak bepergian dan bertandang diluar rumah, tapi saya senang memakai judul diatas
    Sebenarnya, anak-anak memiliki dunia bermain dan waktu konsentrasi yang bisa kita pelajari dan kita kondisikan. Sikap dan attitude diluar rumah pun bisa kita biasakan. Mengajak anak-anak di forum yang ’bukan’ milik mereka menawarkan konsekuwnsi yang mestinya telah kita prediksikan. Bukan untuk kenyamanan kita saja, tentunya, tapi untuk orang lain di forum yang sama. Ya, Saya pun sadar, mungkin kita terpaksa mengajak anak-anak di forum yang serius dan penting  karena tidak ada pihak lain yang bisa kita titipi selama kita pergi. It’s oke sebenarnya, itu pilihan namun sangat perlu kita persiapkan. Semoga sharing pengalaman ini sedikit membantu
1. Pra kondisi itu perlu
    Sebelum mengajak anak-anak, pastikan bahwa mereka mengetahui acara yang akan mereka datangi. Beri gambaran, kemudian beri pilihan. Jangan mendadak mengajak atau juga meninggalkan mereka. Maaf, biasanya saya memberi tahu jadwal acara keluar rumah pada anak-anak sehari sebelumnya. Anak-anak mengerti bahwa saya pengajian pekanan di hari Senin, rapat sekolah mereka, tugas di Posyandu, pergi dengan abi dan semua kegiatan saya. Saya mencoba mendiskripsikan satu-satu dan mengusahakan memberi mereka pilihan. Tidak setiap saat karena sekarang anak-anak sudah ngerti bahwa mereka bisa ikut atau tidak.
    Misal jika saya pengajian pekanan. Saya bilang ke mereka begini
Saya:”Umi besok pengajian, halaqoh”
Anak-anak:”Liqo’ ya mi? Dirumah sini atau di rumah teman umi?”
Saya: ”Dirumah teman umi ?”
Anak-anak :”Rumahnya luas atau tidak? Kalau rumahnya luas, kami boleh ikut kan kata umi?Kalau rumahnya kecil ya..kami gak ikut”
Saya: “Ya, boleh.Jika kamu ikut, adek umi tinggal sama mbak ros (atau pengasuh), dan kalian bersiap karena umi tidak mau terlambat. Tapi sampai hampir maghrib lho acaranya dan disana ada aturan, kalian tidak mengganggu umi ataupun ibu-ibu yang lain. Karena umi disana mengaji, bukan bermain santai. Kalian bawa persiapan yang biasa kalian bawa untuk mengisi waktu. “ Maaf saya memang terbiasa mengajak anak2  berbicara’ serius untuk hal serius
Anak-anak “Hm... sampai maghrib ya.Berarti aku gak bisa nonton TV champion Zona Juara ya? Trus kalo misalnya aku gak ikut? “
Saya:“Ya, kalian bisa membuat snack sore ( dengan bahan seadanya.Biasanya minimal saya mnyediakan nutrijel ), mandi agak nanti, iqro’ dengan mbak Ros, nonton Zona Juara, atau jika Yangti Lia (tantenya Suami)nanti datang dan mengajak kalian ke alun-alun, kalian boleh juga ikut, asal tidak sampai maghrib.Gimana? Silakan aja pilih”
    Biasanya si sulung memilih stay at home, sitengah juga ikut kakaknya. Atau ikut saya. Sayapun siap dengan pilihan anak-anak. Jika mereka akhirnya ikut dan ‘bosan’ mereka akan ingat aturan saya dan biasanya lumayan bisa agal bersabar.Yah, semua pilihan ada akibatnya itu prinsip saya. Itu selalu begitu dalam tiap acara yang saya ikuti.
2. Persiapan
    Saya terinspirasi dengan seorang teman mengaji saya. Ia seorang dokter.Saat itu seingat saya, putranya yang sebaya dengan sulung saya berusia 2 tahun dan si sulungnya berusia 5 tahun (kalau tidak salah). Saat pengajian beliau membawa bekal makan sore lengkap nasi dan sayurnya, dengan sendok dibungkus kantong plastik, terlihat higienis dam cermat. Saya senang melihatnya dan saya ingat-ingat terus. Ternyata, itu adalah cara beliau untuk menjaga ’jadwal makanan’ anak-anak. Luar biasa. Begini jelas beliau setelah sekian lama saya ingatkan lagi peristiwa itu, ”anak-anak usia dibawah 7atau 8 tahun umumnya belum bisa menahan lapar, bu.Jadi jika tidak terpaksa, jangan mengajak pergi menabrak jam makan. Jika itu terjadi, bawakan bekal, agar jadwal makannya tidak terganggu” Itu salah satu ilmu yang saya dapat dari ibu-ibu yang cermat. Pun  demikian ada pula –pelajaran – sebaliknya. Saya pernah melakukan ketidaktelitian dalam mempersiapkan anak-anak saya keluar rumah, saya lupa membawa baju ganti.
    Ya, jika memang kita memilih anak-anak ikut ke forum dan acara kita, persiapan yang cermat akan membantu kita untuk tenang. Perlengkapan pribadi (baju ganti, popok/diapers/celana cadangan, tisue basah, handukkecil, obat-obatan sederhana , minyak telon, bekal makanan-minuman), perlengkapan mengisi waktu ( buku cerita, majalah, buku gambar dan crayon, kertas lipat, lem, gunting, play dough, plastisin, dll)
    Siapkan pula kemungkinan terburuk jika pra kondisi tidak berhasil ditengah acara. Misalnya, cepatlah membuat anak tenang dan atau carilah tempat duduk yang memungkinkan kita segera mengajak anak keluar arena saat mereka bosan
3. Menghandle Anak Bersama
    Jika kita memang datang di acara tersebut berdua, dan memang telah disepakati untuk tidak menitipkan anak-anak pada pihak lain (hehe) ya semestinya kita dan pasangan dapat bekerjasama. Terus terang, saya dan suami biasa melihat substansi acara untuk memutuskan mengajak anak-anak atau tidak. Jika kami memiliki pengasuh, atau tante kami longgar dan bersedia mengajak dua putri tertua kami, ya kami memilih tidak membawa mereka. Bukan apa-apa, kami mencoba mempertimbangkan apakah forum ini bisa ’dinikmati’ anak2 atau tidak. Apakah kami bisa menghandle ank-anak atau tidak, apakah kehadiran anak-anak kami mengganggu forum atau tidak.
    Atau...jika kami memang harus membawa anak ke sebuah forum, semua persiapan harus prima dan kami harus bekerjasama menghandle mereka. Saya kadang gemas melihat suami istri, membawa anak –lebih dari satu- dan hanya si ibu yang repot dan kalangkabut saat anak-anak mereka rewel. Sang ayah hanya duduk bersedekap atau bahkan tidak hafal tangisan dan amukan anaknya hehe.
    Kadang-juga- orangtua tidak peka bahwa ke’aktifan’ anak-anak mereka sebenarnya mengganggu orang lain. Mungkin, mereka anggap ini sebuah bentuk ’keberanian’, kreatif atau lucu. Padahal, anak-anak mulai usia 2tahun sudah dapat diberi tahu tentang adab dan kesopanan. Saya termasuk yang sering risih dengan pemandangan hiruk pikuk anak-anak di forum serius meskipun tentunya saya harus menahan diri.Orangtua harus jeli saat membawa anak-anak apakah tingkah anak mereka membahayakan, merisihkan atau bahkan membuyarkan konsentrasi. Apalagi jika mereka memilih tidak menitipkan anak-anak ke tempat hadhonah atau children area.Sejauh ini  selalu saya tanamkan pada anak-anak bahwa setiap tempat memiliki aturan, jadi jika mereka ikut acara kami  mereka tau apa yang harus mereka jaga ditempat berbeda. Hal itu sangat kami ingatkan terus. Biasanya kami pun memberi 'reward' jika mereka bersikap disiplin dan menyenangkan, mentaati perjanjian hehe
 
4. Hadhonah dan Children Area : Rekomendasi Untuk Penyelenggara
    Anak-anak dibawah lima tahun memang tak bisa berkonsentrasi dalam waktu lama. Maka jika kita menyelenggarakan acara atau dapat mengusulkan pada penyelenggara, jasa hadhonah (penitipan anak dan pengasuhan) dan children area mestinya harus diprioritaskan. Sebab, saya menyadari semua orang ingin datang kesebuah acara penting dan memang tidak semuanya bisa meninggalkan anak-anak dirumah. Maka tim menghandle anak-anak disebuah acara (misal daurah, seminar, atau pengajian bahkan) harus ada.
    Suami saya pernah dengan tegas meminta panitia dan para orangtua disebuah acara untuk menghandle dan menenangkan anak-anak. Secara, sesion beliau mengisi waktunya siang hee. Ya,ya... penyelenggara yang profesional akan mencoba memfasilitasi children area di forum serius. Lalu bagaimana dengan orangtua yang –maaf- kadang ngeyel untuk tetap mengajak anaknya didalam forum? Orangtua sebenarnya bisa memasukkan poin ini pada tahap ’pra kondisi’ dengan mengatakan pada anak-anak ”jika kamu  mau ikut, nanti disana ada tempat untuk anak-anak kamu disana ya atau jika tetap ingin sama umi kamu bisa tenang” dan jika kita akan menitipkan anak-anak di children area atau hadhonah, usahakan datang lebih awal agar anak enjoy dahulu dan tidak kaget

Begitulah, mungkin tulisan ini terkesan ih mau ajak anak aja kok ribet. Tapi jujur, tulisan ini sudah mengendap beberapa waktu. Terus terang dengan sangat jujur saya akui saya sering merasa terganggu dengan acara yang sudah dipersiapkan, kita dapat amenggali ilmu, pembicara pun sudah didatangkan jauh-jauh dan tentu sudah mempersiapkan diri, ternyata nuansa tholabul ilminya gak dapat dan bahkan rusak karena teriakan anak-anak. Semoga ini nasehat untuk diri saya sendiri.Salam inspiratif!

Kamis, 17 Maret 2011

Sebab inilah Kampusku Seumur Hidup!

Sarjana Rumah Tangga. Itu gelar baruku sejak tujuh tahun yang lalu. Kuliah seumur hidup . Setara dengan S1, S2, S3 bahkan nantinya. Dimana kampusku?  Dirumah. Teman belajar dan dosen-dosenku ku adalah suami, anak-anak, mertua, orangtua, ipar, tetangga, tukang sayur, tukang ikan, bahkan pembantu. Keputusan yang kuambil sejak aku masih nikah nyambi kuliah. Dari sinilah cerita ini bermula. 

           Aku seorang anak perempuan yang biasa-biasa saja, namun aku bangga bahwa abah dan mamah ku tidak pernah membuatku patah asa. Siapa yang tak bangga pada orangtuanya? Jika ada semoga itu bukan anda dan saya. Dibesarkan sebagai sulung aku menjadi sangat dekat dengan mamah. Beliau  seorang pekerja keras dan selalu kreatif. Pembelajar otodidak yang bangkit dari harapannya untuk sekolah lebih tinggi dari sekedar SMA. Aku menikmati masa kecil yang indah karena memang aku belum mengenal beban hidup. Baru aku tau cerita-cerita sedih dan keprihatinan saat aku menginjak remaja. Haha. Sejak usia SD –seingatku- ibuku mengelola rumahmakan yang akhirnya berkembang pesat. Tapi sejak saat itu ada sebersit  sedih tiap aku pulang sekolah : rumahku gembokan. Kunci dititipkan ke tetangga, atau aku pulang  dulu kerumah nenek, atau aku menyusul ke rumah makan ibuku yang memang tak terlalu jauh jaraknya. Tapi itu membekas. Sampai tiga rumah makan sukses dikelola ibuku. Aku bangga karena ibuku tetap profil hebat dalam kenanganku. Mama saya punya berjuta ide yang terus membelah dan beliau seorang yang selalu mendukung cita-cita kami.Tapi, tetap saja kenangan masa kecil sampai remaja itu membekas.Salah satu yang turut  Mengkristalkan cita-cita yang benar-benar saya yakini:        Aku tak mau bekerja diluar rumah, kelak!
        Begitulah. Seolah takdir memang menuntunku  pada pilihan itu. Menjadi ibu rumah tangga. Menikah saat masih skripsi, begitu awalnya. Saya bahkan sempat tidak enak hati saat ayah saya secara ‘terselubung’ sebenarnya masih ingin anak sulungnya ini meniti karier profesional sesuai ilmu hukum yang ia punya. Mungkin ayah saya pengen lihat putrinya yang ‘aktivis’ ini jadi pengacara, atau notaris begitu . Tapi setelah menikah, saya bertekad bahwa saya akan sukses dengan menulis, mengasuh anak-anak, mendukung karier dan dakwah suami saya. Saya yakinkan abah dan mamah saya bahwa saya akan terus berkarya, menulis dan sukses dengan cara yang lain

       Setelah menikah saya masih sempat merasakan sisa-sisa semangat dan idealisme masa muda hehe. Saya masih ingin tetap beraktivitas diluar rumah, mengisi kajian-kajian, kesana kemari sambil membawa anak pertama saya. Apalagi setelah menikah dan melahirkan, saya sempat berpisah dengan suami yang menempuh kuliahnya di Sudan. Tapi setelah kelahiran anak kedua dan mengontrak rumah sendiri, saya mulai merasakan nuansa berbeda. Saya sudah mulai menyadari bahwa ada peran dan target berbeda, ada amanah dan fokus berbeda, pun ada peran dakwah berbeda pula saat kita telah menjadi seorang ibu dan istri. pomah, begitu orang Jawa bilang.Saya mulai menikmati ada dirumah, ngurus anak-anak dan segala hiruk pikuknya.

         Saya juga mulai bermasyarakat, membuka rumah baca, mengasuh anak-anak saya dan belajar sedikit demi sedikit mengatur rumahtangga saya. Saya benar-benar belajar mandiri, menyelami problematika rumahtangga dan berinteraksi dengan banyak pihak. Saya pun belajar benar tentang bagaimana bertawakkal, belajar qona’ah, menjaga izzah suami dan keluarga saya. Ya, memang kadang sempat terbersit mengapa ya saya hanya dirumah, tidak berpenghasilan, sementara cita-cita saya banyak sekali, haha. Tapi, saya segera dapat mengubah pikiran-pikiran negatif itu menjadi lebih positif. 

Inilah Kampusku
Saat menjelang kelahiran anak ketiga saya benar-benar merasakan puncak semangat sebagai ibu dan istri. Mungkin karena kata orang, memiliki anak lebih dari dua berarti kita benar-benar jadi ‘orangtua’.Ya, karena kita tak lagi bisa bawa anak satu-satu dengan suami, hehe. Kita harus bisa mengatur segalanya seluwes mungkin, menghayati perbedaan karakter anak-anak kita. Terlebih saat anak ketiga lahir, dengan penuh ketulusan suami saya menawarkan beberapa pilihan apakah saya ingin sekolah lagi, berbisnis toko kue atau saa ingin aktif di LSM sambil mengasuh anak-anak? Intinya suami dan saya berkomitmen untuk ’istirahat’ dulu , hehe apalagi persalinan cesar anak ketiga kami memang mengharuskan saya istrirahat dulu. Dan saya memilih yang ketiga : meretas KPPA Benih, LSM yang saya rintis bersama teman-teman saya, fokus mengasuh anak-anak dan menulis sebagai refreshing intelektual saya, serta 'cuap-cuap' membagi ilmu pengasuhan anak yang saya tularkan ke kampung-kampung.sederhana alasananya : karena mengasuh anak benar-benar investasi masa depan.

Ya, ini pilihan yang membahagiakan saya. Saya memang memiliki keinginan besar untuk kuliah lagi atau berbisnis kecil-kecilan. Tapi semua saya tunda. Saya melihat bahwa mengasuh anak-anak kita sampai dengan karakter dasar mereka terbentuk tidak dapat setengah-setengah. Saya mungkin belum menjadi ibu yang hebat.Tapi setidaknya menurut saya, senantiasa ada saat anak-anak memanggil dan membutuhkan saya adalah suatu masa yang tidak akan dapat saya tukar dan ulang lagi. Mungkin saya juga belum menjadi ibu yang sabar, tidak pemarah dan kadang pun masih bete dengan kejenuhan. Tapi, saya benar-benar belajar dari rumahtangga saya ibarat seorang ’murid’ atau mahasiswa. Tiap hari mata kuliah baru dalam hal pengasuhan dan manajemen rumahtangga saya dapatkan justru dari anak-anak saya. Saya belajar dari rumah. Dan inilah ’aktivitas’ kuliah saya dirumah





1. Saya  dan  ’Civitas Akademika’ di Kampus saya


            Di Universitas rumah tangga saya berteman sekaligus menimba ilmu dari semua. anak-anak saya, suami, pembantu, mertua, adik ipar, kakak ipar, penjual sayur, penjual ikan, tetangga dan guru-gur u anak saya. Yang paling utama ya keluarga inti : anak-anak, suami dan pembantu.


            Saya menikmati hari-hari saya bersama mereka sebab tiap hari ada mata kuliah baru yang saya dapatkan. Stay at home mom adalah pilihan saya untuk terus belajar setiap hari dan waktu.Tidak ada hari libur, yang ada aktifitas belajar tanpa jeda. Mengenal dan terus memperbarui rasa cinta pada ’civitas akademika’ saya adalah kunci dari semangat saya untuk tetap ada disini : dirumah

2. Membuat Jadwal Kuliah dan Skill Aktivity

            Saya terinspirasi dengan tulisan sahabat saya, Jazimah al- Muhyi yang suatu hari menulis sebuah catatan tentang jadwal sehari-harinya bersama anak-anak dan sebagai istri. Saya senang karena dari sana sebenarnya hikmah tentang kata ’belajar’ itu kita dapat.

            Para ibu yang tetap dirumah memiliki rutinitas yang hebat, 24 jam nonstop. Saya merasakan itu. Jadwal-jadwal kuliah di ’universitas’ saya ini kami buat sendiri. Saya harus berkomitmen. Awalnya saya memang belum bisa mengatur ritme. Jujur, saat pertamakali menikah sayapun harus beradaptasai (kayak ospek eheh). Memilih menjadi stay at home mom berarti siap untuk menghadapi rutinitas yang –kadang- menjemukan.
            Namun seperti halnya ’ngampus’, saya tidak mau menjadikan rutinitas itu sebagai pekerjaan.Namun sya menjadikannya kerier,jenjang-jenjang dan kualitasnya  harus saya lampaui dengan manis dan terus bertambah baik , meskipun ’pekerjaan’ dan aktivitasnya sama tiap hari.

            Sayapun mulai mengatur jadwal mata kuliah tiap hari. Misal untuk mata kuliah ’nutrisi’, maka saya setiap hari harus menyusun menu yang baik dan bergizi selain lezat. Saya harus memasak dengan kualitas yang bertambah baik dengan pengetahuan yang semakin baik pula tentang masak, memasak. Itu misalnya. Setiap hari dosen-dosen kecil saya dan segala peristiwa dirumah dan sekitarnya pasti menjanjikan mata pelajaran baru. Dan...saya mencoba lulus dengan baik!

3. Mencari Referensi ’Kuliah’ : Memanfaatkan Teknologi dan Jaringan

            Siapa bilang ibu-ibu kuper? Saya mencoba  tidak. Mmeutuskan menjadi stay at home mom, tidak menjadikan saya katak dalam tempurung. Saya tetap mengakses informasi, menjalin hubungan dengan dunia luar yang positif. Untuk referensi ’kuliah’ dirumah, suami saya menyediakan fasilitas internet. Saya pun memiliki teman-teman yang luar biasa.

            Berkumpul dan berbicara bagi seorang perempuan adalah setengah dari solusi segala permasalahan. Saya bertemu dengan ibu-ibu hebat berkat teknologi dan jejaring sosial. Saya membuat pengajian dirumah, berbagi dengan ibu-ibu dikampung.Saya cari refernsi agar ilmu mengasuh anak, memenej rumahtangga dan menjadi perempuan yang tetap berkarya serta melek wawasan selalu berjalan seiring.Saya tau, saya harus terus menyegarkan intelektual, ruhiyah dan berbagi pengalaman dan itu saya lakukan bersama banyak perempuan dan ibu-ibu hebat : sahabat-sahabat saya.

4. Praktikum : Memasak,  Membuat Mainan, Membuat Jadwal Micro teaching, Outing Class

            Di kampus rumahtangga ini saya belajar tentang banyak hal, mempraktekkan ilmu dari  mencoba aneka resep masakan, membuatkan mainan anak-anak saya dengan barang-barang bekas, membuat jadwal belajar anak-anak, mempraktekkan teknik-teknik pengasuhan anak (parenting) dan bagaiamana mengatur detil-detil urusan rumah

            Sayapun berpartner dengan asisten rumahtangga untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang tak berjeda ini. Rumah bersih, anak-anak sehat dan bebas berekspresi dirumah, agar tidak berulah diluaran, hehe

            Sesekali kami lakukan outing class : mudik, jalan-jalan diluar rutinitas, mengunjungi teman-teman, pengajian. Intinya, hampir 80% ilmu kita dipraktekkan dirumah. Bagaimana kita bersikap, mengendalikan emosi, adil, toleransi dengan tetangga, saling memberi hadiah pada anak-anak dan para sahabat, membagi masakan kita, bersedekah, mengajarkan anak-anak baik buruk dan berbagai ketrampilan hidup. Itu semua adalah pelajaran berharga untuk kita. Kita pun akan semakin terampil

5. Menulis Resume Aktivitas , Nge- Blog dan Membuat buku: Refreshing Intelektual, Berkah Ilmu
        Setiap orang harus menjadi penulis. Itu menurut saya. Tak terkecuali ibu rumahtangga. Menulis mendokumentasikan pengalaman dan prestasi kta sekaligus sebagai bahan evaluasi sejauh mana kita berproses. Setiap hari aktifitas menulis harus saya lakukan.
            Senang rasanya saat kita menuliskan banyak hal, karya dan bisa bermanfaat bagi banyak orang. Saya berkomitmen untuk me-refresh pikiran saya dengan menulis. Menulis di facebook, blog atau menulis buku menjadi sebuah jalan bagi saya berbagi berkah ilmu. Maka saya mengajak para emak untuk menulis. Ya, ya ya..universitas rumahtangga menjadi bahan penulisan yang kaya dan selalu segar.Maka, bagi saya menuliskannya  adalah keniscayaan agar saya semakin mencintai tempat belajar saya ini : rumah saya.


Begitulah, saya selalu optimis untuk  menjadi perempuan yang mencintai kariernya sebagai ibu rumahtangga, sebab pilihan menjadi istri /ibu yang tetap dirumah dan produktif akan menjadi  sebuah prestasi dihadapan anak, suami dan Sang Maha Mencintai : Allah SWT saat kita tulus, sadar dan mau terus memperbaiki diri. Dan jika sudah begitu, keberkahan semoga dapat kita sebar di jagad semsta ini. Amiin.

Sabtu, 05 Maret 2011

Puding Pisang Creakers Rasa Coklat Rempah

        Ini resep  gampang sebenarnya. Ada sisa creakers (kita dirumah turun menurun nyebutnya 'gabin' heheh) atau bisa tuh pake roma malkist. Trus pas ada pisang buah gak tau nih namanya jenis apa, ya sebenarnya agak sepet pisangnya kalo dimasak.Tapi kok ajib ya pas udah jadi gak terasa. So, direbus dulu ternyata kuncinya. Dan masih dengan nuansa rempah tentunya

       Pas udah jadi ternyata tandas dalam sesore. Untungnya udah sempet diabadikan. Oke mungkin resep simple ini boleh dicoba buat makanan selingan atawa desert, disajikan dingin agak2 padet gitu lebih enak, kaya es krim kata anak-anak. hehe.Di foto itu penampakan bolak baliknya prends

Bahan
2 bks nutrijel coklat (kalo pake jeli tuh teksturnya lembut. kalo agar-agar kok kayaknya keras ya)
1 liter susu segar
gula pasir 150gr atau sesuai selera
Pisang kepok kuning atau raja 3 buah dipotong bulat-bulat atau sesuai selera yang penting tipis
Creakers 7 keping atau sampai memenuhi dasar  loyang 20 x20 cm (aku pakai Khong Guan atau Roma Malkist yang plain)
1sdm margarin
1 kuning telur, kocok
1sdt garam
10 cm kayu manis
4 cengkeh
air 200cc untuk rebusan pisang

Cara buatnya:
1. Rebus potongan pisang dengan 200 cc air, kayu manis, gula 50gr, cengkeh sampai layu
2. Tata didasar loyang berurutan : pisang rebus, lalu creakers diatasnya
3. Campurkan nutrijel coklat, susu segar, sisa gula, garam, rebus. Setelah mendidih, campurkan sedikit ke kocokan telur, satukan
4. Campurkan margarin
5. Tuang sesendok sayur, rebusan puding, tunggu sebentar, lanjutkan sesendok2 (jangan langsung dituang ya...ntar jadi ngambang deh pisang n creackersnya
6. kalo udah 15 menit, baru tuang semua adonan puding
7.Biar kan dingin dan padat, masukkan lemari es
8.Potong-potong dan sajikan sebagai makanan selingan atau penutup 



Sabtu, 26 Februari 2011

Carang Pedopo: Kreasi Lain dari Pisang

       Ini makanan selingan tapi berkalori tinggi. Pertama kenal makanan ini di Kudus, lagi-lagi pas awal nikah. Ibu mertua bikinnya sepanci besar.Hayah. Saya sih awalnya mbatin ini sih di Solo namanya carang gesing, cuman dibungkusin dan lebih padet kalo disolo. Tapi suamiku gak setuju.Yo wesss. Yang jelas ini dibilang kolak ya...bisa wong berkuah, tapi kalo dipadatkan jadi carang gesing hehe.Karena Mr.Hatta suka sekali aneka makanan berbahan pisang, maka sore ini kuputuskan membuat makanan ini. Menyambutnya pulang dari Jogja sore ini. Okay pulang dari nganter outbond si Salma, mampir warung masih dapat pisang kepok kuning, kubuat bat bet bat bet setelah selesai masak garang asem untuk makan siangnya. Siap deh. Tinggal posting resep. Met nyoba!!

Bahan
Pisang kepok kuni satu sisir atau pisang tanduk. Aku menghindari pake pisang raja, kadang malah sepet
Santan 1 liter ato lebih sesuai selera (aku pake 2 Santan KARA dicampur 5 gelas air  hari ini karena males meres. Meskipun menurutku kurang sedap sebenarnya)
Air /Santan encer 200cc
Kayu manis 2x 10cm
Cengkeh 5butir
Telur 1butir, kocok
Garam secukupnya
Vanilli secukupnya (boleh gak pake)
Gula merah 150gr
Gula pasir sesuai selera, penguat rasa aja

Cara Buat:
1. Potong pisang kecil kecil jangan terlalu tipis
2. Rebus pisang dengan air/santan encer, kayu manis, cengkeh, gula jawa, sampai lunak dan gulanya lumer.Api sedang.
3.Tambahkan santan sambil diaduk agar tidak pecah, kecilkan api. Tambahkan vanili, garam dan gula pasir sampe rasanya pas.
4.Saat hampir mendidih, masukkan telur kocok sambil terus diaduk, hingga telur terlihat berserabut
Hidangkan dingin lebih segar.

tips masakan 'daur ulang' hehe: kalau kuah dari makanan ini atau makanan ini sisa , dapat diolah jadi lebih smoothi. Caranya, tambahkan santan sangat kental, tepung terigu/ maizena cair, panaskan, aduk dan cetak dimangkuk, diinginkan.Yummy.Selamat mencoba, semoga bisa jadi  jajanan akhir pekan

Kamis, 24 Februari 2011

Ya, Saya ‘Orang PKS’, So What? (Catatan Partisipasi MUKERNAS PKS JOGJA 2011)






Orang 1 : “ Oooo ternyata kamu anak  PK tho, Vid? Penampilanmu beda ya! Keseret juga ya ke partai” sindir teman saya itu, saat itu masih kuliah dan saya ‘masih hijau’ dalam barisan ini. lalu diapun tak lagi ‘hangat’ pada saya. Dahulu, masih PK.Ucapannya selalu sinis. Lha saya? biasa aja  toh orang-orang yang ‘menyeret’ saya juga dikenal orang-orang yan baik dan santun?! hehe


Orang 2: “Mbak  Vida  aktivis PKS juga tho ternyata? Saudara saya juga lho mbak, trus pas saya pindah ke Medan, ternyata guru ngaji saya juga PKS...” dia –juga teman saya- meskipun usianya lebih muda. Gadis muda itu,meskipun  menurutnya pemahaman Islmanya ‘biasa’ aja, tapi dia juga oke-oke saja saat tau saya –critanya- kader PKS


Orang 3: “Subhanallah Vida, kowe tuh caleg PKS juga tho kemaren. Sayang ya Vid, aku di Jakarta.  Waduh bapakku sih karena walikota dia milih Jokowi, nyontrengnya ya partainya Jokowi Vid, gak ngerti sih kalo  pemilihannya beda. tapi  seneng lho Vid sama anak2 PKS dari di kampus emang kliatan ya?” Dan sahabat saya yang selalu mengucap ‘subhanallah’ itupun selalu bersemangat setiap kali saya direct selling saat pemilu. Dan hingga kini,persahabatan kami sehangat mentari haha.


Orang 4: “Saya ini orang bodho, bu Vida. Sejak dahulu saya cuma tergerak kalau ada yang ngajak berbuat untuk masyarakat. Suami saya keluar dari satgas P***, lha sudah ndak gathuk (tidak matching) sama nuraninya. Sekarang, saya mungkin cuma punya semangat, PKS menyambut baik dan menghargai potensi saya. Monggo mbak, yang penting kita berbuat untuk masyarakat.” Dia perempuan lulusan SMP, itu ucapannya saat pertama kali saya ngontrak di kawasan Sangkrah, dan dengan percaya diri dia ‘babat alas’, keluar dari kebiasaan kampungnya yang ‘merah’, membantu kerja-kerja kami melalui PWK,hingga kini. Kini dia dan suaminya menjadi Pak dan Bu RW dan tidak ada jawaban selain kata : ya , bu! setiap kali saya ajak ‘bergerak’ hehe


Orang 5 : “Kamu jangan sampai nyebut atau ketauan kalo kader PKS lho, nanti pada ndak mau ikut pengajian, takut dijak milih PKS. “ hehehe.ini yang agak lucu menurut saya. Lha wong partai yang tidak ada bau-bau Islamnya aja bikin pengajian ndak pada ribut, kok PKS yang emang kerjaannya bikin pengajian dibikin ribut.Aneh juga.


Orang ke-6:” Ustadzah –hayah saya paling tidak sreg dipanggil ustadzah, yaaah mungkin karena saya dianggap istri ‘Ustadz’. Begini ust, gimana tentang tawaran kami untuk ikut Lokakarya Mubalighah se-Jawatengah? Tapi syaratnya memang harus setuju dengan khilafah syar’iyah ustadzah” hehee saya tersenyum. 
“Siapa yang ndak mendukung khilafah syar’iyah  Bu? jawab saya guyon, Tapi kami hanya memilih lewat jalur partai. Lha terserah panjenengan dan teman-teman, saya kan cuma diundang.Cuma mungkin kendala saya diwaktu Bu, apalagi kalo  harus di luar kota, saya ndak bisa ninggal tiga anak” dan ibu muda yang pernah bertetangga  dengan sayapun sampai hari ini tetap ‘istiqomah’ dan pantang menyerah memberi saya undangan-undangan acara harakahnya, atau mengisi pelatihan menulis untuk akhwat harakahnya. Sayapun menghadirinya jika tidak bebarengan dengan acara saya.


Begitulah. Pilihan berada dalam jalur dakwah siyasi bukan sebuah kebetulan. Komentar dan tanggapan orang terhadap Partai Dakwah ini beserta kader dan simpatisanya pun beragam. Tulisan ini sungguh bukan sebuah upaya menyombongkan diri. Apalah kita ini. Tulisan ini hanya sebagai bentuk partisipasi saya dalam rangka Mukernas PKS di Joga. Spirit ”Bekerja untuk Indonesia” sejak Munas yang lalu menginspirasi saya. Pun begitu, justru melalui tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua yang ’terlanjur’, ’sengaja’, atau ’tidak sengaja’ dianggap sebagai ’orang PKS’ untuk memuhasabahi diri. Mengapa? Sebelum kita terlalu overestimate menganggap diri kita seorang ’kader’. Dan Sebelum orang lain overestimate pula terhadap kita, mungkin beberapa hal dibawah ini bisa menjadi bahan menakar kepantasan kita sebagai kader, pegiat partai dakwah ini


1. Memahami: Jalan Panjang Menguatkan Komitmen
Tarbiyah mengajarkan kita memaknai setiap proses perubahan dalam diri kita. Kita mungkin sama ingat bagaimana para murabbiyah, ustadz-ustadzah kita, orang-orang awal dalam dakwah ini meretas dakwah dalam setiap masa. Apa yang menjadikan mereka taft dalam dakwah ini dan tetap ada disini? Ya, PEMAHAMAN yang utuh terhadap manhaj dakwah Rasulullah dan jama’ah ini. Pemahaman itu yang menghindarkan kita dari jebakan-jebakan apatis dan sinisme tanpa ujung pangkal.
Pemahaman itu yang menjadikan kita bertumbuh dalam nuansa kritik membangun yang hangat , mencerdaskan, tegas dan sekaligus mesra dalam persaudaraan. Pemahaman yang akan membuat kita tegar menghadapi orang-orang tipikal pertama diatas. Saya juga masih belajar. Untuk tidak reaktif (apalagi dengan karakter saya yang meletup-letup hehe). Namun satu hal yang hingga kini saya syukuri, bahwa saya tidak ingin memberikan loyalitas saya tanpa pemahaman. Saya akan kejar pemahaman untuk hal-hal prinsip agar kita tidak menjadi barisan orang yang berkerumun, meskipun perjuangan dan gerakan perbaikan kadang tak menyisakan waktu bagi orang-orang yang hanya terus bertanya. Kita tidak boleh lagi menjawab ’tidak tahu’ pada orang-orang yang bertanya, sinis dan mendebat. Pemahaman menjadikan kita orang-orang yang siap menjadi humas untuk gerakan dakwah ini. Bagaimana?


2. Membuktikan Profesionalitas
Kita sama tau bahwa dakwah ini bergerak dinamis, menyentuh semua ranah profesi, kalangan dan semuanya. Pilihan politikpun sebenarnya tak lagi terlalu dikotomis. Kita yang mengaku atau diakui sebagai ’orang PKS’ ini harus mampu membuktikan bersikap profesional dibidangnya. Kita dapat mengerjakan secara sungguh-sungguh setiap amanah yang dibebankan dan melekat pada diri kita. Apapun peran kita. Bahkan saya yang iburumahtangga ini harus selalu profesional mengurus rumah, dakwah, bertetangga, dan semuanya. 
Profesionalisme adalah kunci menghadapi orang-orang bertyipikal 2, 3 dan 4 diatas. Orang-orang yang melihat PKS sebagai kumpulan orang-orang yang memang ‘berkarakter’ pekerja dan pegiat kebaikan. Belajar , mengerti strategi, mantap dan merencanakan dan melakukan evaluasi adalah niscaya. Kita tidak boleh lagi terjebak pada ’kerja-kerja dadakan’, tanpa alur dan latah. Masih banyak maksud dari poin ini namun apatah saya?Mungkin Anda bisa sangat panjang menambahkan


3. Membuktikan Tetap Bersih
Ujian yang sering kita hadapi dalam iklim politik negri ini adalah cibiran tanpa ampun terhadap korupsi dan segala manifestasinya. sebagai partai dengan jargon bersih, peduli dan profesional, Kader-kader PKS dituntunt untuk selalu teliti dan tidak terlalu ’lugu’. Mungkin banyak orang pandai disekitar kita namun terlalu ’lugu’. Jebakan-jebakan yang merusak upaya untuk menjaga kebersihan dakwah dan pelakunya dalam bentuk materi, money politics dan segala bentuknya harus terus dikawal
Saudara-saudara kita yang sangat terpilih dan –saya percaya- mampu menjaga amanah yang dibebankan dipundak mereka di tempat-tempat ’basah’ dan licin harus selalu kita jaga agar tidak tergelincir.Termasuk, berhati-hati dalam pengajuan dan pencairan dana-dana, proposal dan tender-tender yang tidak jelas. Bukan kemresik kata orang Jawa (sok bersih).Tapi marilah kita yakini bahwa berhati-hati dalam hal materi itu menentramkan.Mari kita terus belajar dan mencari hujjah yang jelas dalam perkara ini. Bagaiamana syar’inya? Bagaimana mashlahatnya. Mungkin begitu kira-kira.


4. Membuktikan Tetap Peduli
Tarbiyah benar-benar merangsang kita untuk peka terhadap persoalan. Ini yang harus kita buktikan. Hari ini, dengan berbagai pesrsoalan yang ada, masyarakat kita tetap haus kepedulian. Tetap peduli dan membuktikannya tanpa pamrih tetap menjadi keniscayaan. Kepedulian kita yang menggerakkan orang-orang berpotensi baik dimasyarakat untuk tergerak dan mendukung kita
Seperti orang ke-6 yang saya tulis diatas.Namanya bu Sukini. Banyak orang-orang baik dan memiliki potensi kepedulian yang bisa kitafasilitasi. Soal kemenangan, suara dan segala hal politis menurut saya itu bonus dari Allah. Jika kemenangan hanya diukur dengan angka-angka, mungkin hari ini kita tak mungkin tetap ada. Kepedulian adalah etos kita untuk mengasuh oarang-orang yang telah mendukung, ingin mendukung atau yang kurang mendukung. Kepedulian menjadikan kita pantas mendapatkan kerinduan dari masyarakat. Termasuk kita merawat kantung-kantung pendukung dakwah yang telah kita bina .Entah apalagi, semoga temans semua bisa menambahkan 
5. Membuktikan Kita Dapat Bersinergi dengan Luas, Luwes dan Diplomatis
Ini yang harus kita buktikan selanjutnya. Saya masih sangat ingat, saat pileg beberapa waktu yang lalu, PKS di daerah kontrakan saya tiba-tiba mendapat suara signifikan.Urutan ketiga setelah D******* dan P*** hawa ’panas’ sangat terasa. Spanduk Pos Wanita Keadilan ditembok rumah saya tiba-tiba tersobek dan raib, para ’pembesar’ partai lain di kampung yang kalah memberenguti saya dan kawan-kawan.Hehhe. Namun saat pemilihan walikota dan PKS berkoalisi dengan partainya Joko Widodo, walikota kami, hawa persahabatn itu menyeruak. Saya dan suami sampai dibuat salting karena mereka sangat hangat menyambut kader-kader PKS yang hendak memilih. Ya, ya, ya politik memang unpredictible.Tapi bukan itu yang saya  maksud di poin ini.


Kita harus buktikan bahwa ’orang PKS’ mampu berpikir global dan bertindak local. Kita mampu menjalin sinergi kebaikan dengan siapapun, harakah manapun (tipikal orang ke-6 diatas), jama’ah manapun, partai manapun. Kita bisa dan mampu menjadi orang dengan pemahaman Islam dan budaya yang luas, memberi kemudahan, tidak kaku dan sempit.Kita mampu menembus batas-batas SARA dan budaya. Kita mampu, ya kita mampu bersikap luwes dalam berkomunikasi, simpati dalam sikap, luas dalam cakrawala wawasan. 
Pun kita bisa juga berdiplomasi dalam menjawab kritikan, hujatan dan mampu cool and confident. Diplomasi dan kecerdasan bertindak dan berkomunikasi menjadikan kita mampu menjadi humas dakwah ini. Sinergi dengan banyak pihak dan banyak oarang akan melatih kita menjadi orang-orang yang opend mind, mau belajar dari oranglain, tidak gegabah, berpikir strategis, sabar, teguh dan ikhlas. Semoga.


6. Membuktikan Kita Selalu Optimis dan Kreatif
Saya sedang selalu belajar untuk optimis bersama dakwah ini. Belajar. Sebab semangat adalah sesuatu yang dapat turun naik, seperti juga iman. Pun dengan keegoisan saya yang mungkin masih menyeruak. Maafkan. Sebelum kita menyebarkan dakwah ini, bergiat dengan banyak rencana, mungkin kita harus mencitrakan diri kita-dan benar-benar membuktikannya- untuk menjadi barisan orang yang optimis terhadap dakwah siyasi ini. Optimis bahwa kita akan mampu membuktikan ketidakmungkinan. Optimis bahwa kita bisa membuka lahan-lahan dakwah baru, berkenalan dan menebar kebaikan pada orang-orang baru. Optimis bahwa kita dapat meng-up grade kemampuan maknawiyah dan fikriyah kita
Optimisme itu akan melahirkan hentakan-hentakan kreatifitas yang dahsyat. Optimisme akan melahirkan pikiran dan ide-ide ceremlang untuk terus membuat kreasi-kreasi dakwah yang manis dan mencerdaskan bahkan ide itu terus merunyak saat kita sudah akan beranjak tidur! Saya sedang sangat suka dengan kalimat  ”mewakafkan diri dan waktu untuk dakwah”. Entahlah, yang saya rasakan kalimat itu seolah membuat saya berhenti dari menasihani diri sendiri. Kalimat itu menjadikan saya istri yang siap melepas suaminya segera pergi untukkerja-kerja dakwah ini, siap menghandle anak-anak dan rumahtangganya. Inilah optimisme. Apa hubungannya? Optimisme kita dan kratifitas kita akan menjadikan kita mampu menjadi figur teladan untuk masyarakat kita. Kitapun akan malu bermalas-malasan karena kita harus membuktikan semangat itu terlebih dahulu.


7 . Membuktikan Bahwa Kita TETAP BEKERJA!
Seperti yang saya sebut diawal, saya suka dengan motto ”Bekerja untuk Indonesia” yang digulirkan PKS sejak munas. Kalimat afirmatif ini perlu. Kalimat yang mengisyaratkan bahwa kita tidak lagi bisa hanya meladeni omong kosong tentang cibiran dan sinisme serta apatisme yang sama sekali tidak produktif. Bekerja sepertihalnya Allah isyaratkan dalam ayat 
Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu (9:105) 
Amal menjadi penjawab paling mujarab. Mari bekerja. Dari manapun kita, mari bekerja untuk negri ini. Dimulai dengan kerja-kerja kecil yang riil. Maka, tak elok rasanya kita dianggap ’orang PKS’ sementara kita tak pernah menyapa tetangga, berkumpul dengan mereka. Tak elok sepertinya saat orang sudah antusias mengharap peran-peran keumatan dan kenegarawanan, kita masih sibuk meladeni kritikan, takut menampakkan identitas dan mengelak dari amanah-amanah dakwah ini. Jika begitu, ucapkan selamat tinggal kejayaan.


Begitulah. tulisan saya selesaikan tepat setelah rangkaian pembukaan Mukernas PKS di Jogja usai semalam (meskipun saya tidak sempat mengikutinya lewat televisi, maklum,  nyambi menghantarkan tidur anak-anak, ed). Bukan bermaksud berlebihan. Tapi tulisan ini pengingat diri sendiri. Selain itu menulis adalah sebuah hentakan luarbiasa dan bentuk kepedulian saya terhadap segala peristiwa. Mungkin bberapa poin diatas dapat menjadikan kita lebih optimis dan pede  mengatakan ”Ya, saya kader PKS, mari kita bekerja bersama untuk Indonesia!” Selamat Mengikuti Mukernas PKS  di Jogjakarta. Darimanapun kita, mari bekerja untuk Indonesia! Salam inspiratif! Wallahu a’lam bishawwab

Minggu, 20 Februari 2011

Bubur Rempah Beras Merah

    Alhamdulillah, ini kali ya yang namanya rezeki. Baru rencana beli beras merah, eeee si Tantenya suamiku dateng bawa dua bungkus beras merah organik hadiah cuma-cuma dari sebuah seminar kesehatan. Asyik nih. Tapi ya itu, sarat manfaat tapi kalau nggak dimasak dengan benar maka si beras merah hanya akan jadi keras (nglethis-jawa ed) atau juga baunya yang langu bikin kadang gak selera makan.

          Benarlah. Asistenku kurang tanak masaknya. Kurang air jadi enggak mengembang dan tidak pulen.  Nah, daripada dibuang sayang, ditanak lagi juga udah gak mood, mending dibikin makanan selingan .Pilihanku jatuh pada : bentuk bubur. Untuk menghilangkan rasa langu dan 'aneh'nya maka pilihan resep rempah jadi alternatif. Oya, selain bisa untuk sarapan, dengan membelendernya, resep ini pas banget untuk MP ASI bayi 6-8bulan. Buat yang udah tumbuh gigi, ya dibubur nasi begini ajah. Oke, ini resepnya

Bahan:
100 -125gr beras merah organik/biasa. rendam dengan air minimal 1 jam
air 500cc
susu segar 1liter / santan
margarin 2sdm

Bumbu rempah
kayu manis 10cm
kapulaga 4butir, ambil isinya
cengkeh 3 butir
gula jawa sesuai selera
garam sejimpit /sesuai selera
pandan

Cara membuat:
1.rebus semua bahan rempah dengan air sampai keluar sarinya, campurkan kedalam  beras merah, rebus lagi /dikaru dengan api sedang 
2. Jika sudah agak pecah dan agak lunak, masukkan susu segar atau santan, aduk terus sampai menjadi bubur dengan api kecil
3. Tambahkan margarin saat sudah masak, hidangkan hangat
 catatan: hidangan ini bisa ditambah kismis diatasnya. Jika ingin 'gurih' tidak usah ditambah gula tapi tambahkan garam dan santan lebih banyak..masakan ini bisa diblender lembut untuk bubur bayi usia 6-8 bulan

Menumbuhkan Karakter Kepemimpinan Rumahtangga



Saya tidak tau apakah judul diatas bisa ditangkap maksudnya. Tapi catatan ini saya buat dengan niat baik. Catatan yang saya buat berdasarkan pengamatan dan rasa gemas atas beberapa potensi kepemimpinan para ikhwan, pemuda atau apalah sebutannya  setelah menikah dan berumahtangga dan untuk para suami. Betapa banyak hal yang kadang menjadi hambatan dalam hubungan suami istri maupun dengan keluarga besar. Ditambah-kegemasan- bahwa sangat sedikit forum-forum pelatihan pranikah yang diikuti oleh para pemuda dan sebaliknya, lebih sering diminati dan diperuntukkan bagi para pemudi, akhwat. Yah..dasar saya, menulis bagi saya adalah senjata terampuh untukmeredakan kegemasan dan kegelisahan pikir  itu hehe.

Problem-problem yang sering dicurhatkan pasangan muda kesaya (hayah berasa tuwa padahal baru tujuhtahun menikah) diatranya: ”suami saya kurang komunikatif’, ’suami saya tidak bisa mengambil keputusan’, ”suami saya tidak tegas pada saya dan ibu mertua”, ”suami saya cuek”,”suami saya tidak care dengan keluarga besar saya”,”suami saya ternyata gak sehebat jaman dikampus”, ”suami saya selingkuh dengan teman SMUnya”, ”suami saya bla...bla..bla” 
 Memang tidak semua salah si suami, tapi untuk catatan ini mungkin pembahasan emang untuk para calon suami.Bahwa menjadi anak perempuan tidak mudah, bro! Setelah kalian menikah, maka sebenarnya hak penjenengan (anda) untuk membawa kemana istri dan rumahtanggamu. Masalahnya banyak para calon suami yang gagap dan enggan segera memulainya.Jadilah ada dua kutub ekstri: terlalu kaku pada istri dan keluarganya ATAU terlalu mengalah dan tertindas (hahah kasian banget) oleh istri dan keluarganya.So, catatan serius tapi santai ini semoga memberi masukan terutama bagi yang akan menikah tau yang sampai hari ini masih bermasalah dengan istri dan keluarganya. Oya, maafkan jika saya kadang menggunakan bahasa yang sedikit mbeling dan apa adanya.

1. Menjadi Decision Maker 
Jadilah pengambil keputusan yang jitu. Jangan pernah ragu dan bimbang. Kebimbangan anda akan sangat berpengaruh pada istri dan anak-anak. Saya amati, suami yang peragu hanya akan menjadikan rumahtangganya mengalir biasa saja. Mungkin benar, tanpa konflik tapi menurut saya tidak sehat. Para suami yang tidak dapat mengambil keputusan yang tepat akan lebih sering menjerumuskan rumahtangganya pada persoalan yang sama, berulang dan itu-itu saja. Menjenuhkan bukan? Awali dengan  JANGAN BERKATA TERSERAH pada istri anda saat ia meminta pendapat. Jika itu anda lakukan, bersiap-siaplah menjadi suami yang menjemukan. Parahnya, jika istri benar-benar melakukan terserah dia, dan salah langkah, berarti Anda pun harus siap dong? Beri pemantapan sebab kadang istri butuh jawaban tegas

2. Menjadi Pendengar Yang Baik
Ada seorang teman yang gak pernah bisa bicara dengan suaminya. Kenapa? karena suaminya selalu memotong pembicaraan saat teman saya sedang antusias bercerita. Hasilnya? teman saya mati rasa.Wegah crito sama suaminya. Hm...bapak-bapak, memang perempuan itu suka bercerita. Bagi mereka, dengan bercerita, maka 50 persen masalahnya teratasi.Jika istri adalah sahabat untuk Anda , mengapa tidak anda luangkan waktu menjadi teman bicaranya?

3. Pemimpin yang Tegas dan Diplomatis
Ini faktor penting. Hampir mirip dengan yang pertama tapi ini lebih pada pihak ketiga. Orangtua, mertua, ipar, adik kandung, keluarga besar, tetangga, dll. Banyak para suami yang takut istri, takut mertua, takut orangtua, akhirnya benar-benar ’menggantung’. Tidak bisa melobi untuk kepentingan kepemimpinanya dalam rumahtangganya. Akibatnya? dia tidak pernah bisa luwes dan tidak pernah pula bisa mempertahankan prinsip. Mengekor istri, terlalu manut mertua/orangtua, tidak punya keputusannya sendiri  dan mengorbankan rencana-rencana dan visi rumahtangganya (baca catatan saya: blueprint keluarga itu penting)

4. Pemimpin Yang Giat, Pemurah dan Optimis dalam hal Nafkah
Saya sangat beruntung menikah disaat ’belum mapan’. Masih kuliah, suami juga kuliah diluarnegri, dan saya jug a’gengsi’ minta ortu pasca menikah. Saya tunjukkan bahwa suami saya dan saya mampu qona’ah dan selalu merasa cukup. Memang siapa yang tidak punya hutang piutang? Hehe.Tapi seorang suami harus mampu menanamkan rasa optimis dan percaya diri pada istrinya. Mendidik istri disaat lapang dan sempit. Tidak pelit tapi juga mampu menanamkan sifat qona’ah pada istrinya. Apalagi saya memilih tidak bekerja diluar rumah tapi mencoba tetap berpenghasilan dengan menulis hehe. Suami yang optimis dan giat memberikan aura tersendiri pada keluarganya. Ini pelajaran yang saya ambil dari dua lelaki optimis dalam hidup saya: abah saya dan suami saya.
6. Pemimpin yang Hangat dan Ekspresif
Saya pernah katakan pada suami bahwa ekspresi itu penting. Mungkin tidak sellau kata. Tapi careness dan sikap gentle juga perlu. Pada anak, istri keluarga saya kadang katakan pada suamai” mungkin aku bisa memahamimu, tapi kadang oranglain membutuhkan ekspresi kita”. Ungkapkan penghargaan pada istri dan anak-anak agar mereka merasa berharga untuk Anda. Kepemimpinan yang sarat dengan penghargaan akan menjadikan keluarga kecil kita solid. Maka luangkan waktu untuk anak-anak sesibuk apapun. Sebab masa itu tak kan terulang. 

7. Pemimpin Yang Charming, Smart dan Good Looking
Hehehe. Maaf jika ini agak vulgar.Tapi jujur saya kadang merasa bahwa penampilan suami itu penting. Kalau saya yang tujuh tahun menikah ini kadang masih merasa ‘jatuh cinta’ pada suami saya. Mungkin beliau memang berbobot (hehe) tapi saya selalu menyarankan beliau memangkas pendek rambutnya agar lebih charming dan terlihat fresh. Pemimpin yang keren itu akan diidolakan istri dan anak-anaknya . Putri saya yang kedua, yang lebih ekspresif sangat biasa memuji abinya saat habis potong rambut atau pakai baju yang serasi “ Abi keren, nih” atau kadang si Abi minta pendapat kami tentang penampilannya hehhehe. Itu menyenangkan dan romantis! 
Ayah dan suami yang smart juga membanggakan. Saya belajar dari ayah saya yang selalu optimis, menguasai banyak ayat yang menguugah, kata-katanya selalu bersemangat dan penuh himmah dan hikmah. Begitupula dari suami saya. Saya belajar darinya ketelitian (saya agak slebor), saya belajar darinya tentang teknologi, memenej keuangan ( lumayan meskipun colut dari STAN), suami saya sering membuat saya salting karena saat saya gegap gepita bercerita tentang sesuatu ternayat beliau sudah tau lebih dahulu. Dan yang paling penting dari ke –smartannya, ayah dan suami saya mengerti betul tentang bagaimana Islam mengatur segala persoalan menjadi begitu mudah, jelas dan menenangkan. Pemimpin yang smart akan membuat kita mentaatinya dengan mantap dan berdasarkan pemahaman, bukan hanya taklid apalagi hanya taat karena ‘takut’.
Mungkin itu saja .Tujuh saja, karena saya sedang suka dengan angka tujuh. Sesuai dengan tujuh tahun pernikahan kami. Semoga catatan kecil ini menginspirasi untuk para suami dan calon suami.Wallahu a’lam bishawwab