Minggu, 04 Juli 2010

Sebentar Ya : Pelajaran dari Si Sulung

Seperti catatan-catatanku terdahulu, kali ini aku lagi-lagi belajar dari guru kecilku yang sering membuatku speechless menghadapi kekritisannya...tapi memang, adil mengakui kebenaran itu harus kita mulai meskipun dari kejujuran seorang bocah. Ini ceritaku beberapa hari lalu, semoga menginspirasi

Suatu sore di hari Sabtu, 8 Mei 2010
Kubiarkan anak-anak bermain air dihalaman samping rumah. Basah, ya tentu. Kotor? pasti karena mereka membuat bubur pasir dan yah begitulah. Awalnya permainan itu ‘tenang’ sampai pada suatu saat seperti biasanya ada keisengan-keisengan si kakak Maura yang memecah tangis si tengah, Salma. Dan seperti biasa pula, si budhe (khadimat) dengan serta merta hheboh melerai . Kali ini maura mengguyur air kekepala adiknya yang memang ‘sebel ‘ dengan acara keramas. halaah.. Salma yang akhirnya sekalian mandi sudah diamankan budhe. Sementara si sulung masih asyik dengan adonan pasir dan baju basah kuyupnya. Hmm..aku yang hendak bersiap mandi dan berangkat ke kajian pekanan terpaksa mengalah untuk bernegosiasi dengan si sulung. Sebab, biasanya dia akan mengada-ada (minta dimandikan, minta ini itu saat saya sudah siap berangkat).

“Hmmm, Nak, Salma tadi diguyur ya...?” tanyaku sambil memperhatikannya yang mondar mandir mengambil air dan pasir
“ iya, salah sendiri anak kok cengeng gitu aja nangis.Ya tak goda aja sekalian…” hihihi, jadi sodara-sodara, sulungku akhir-akhir ini banyak mengadopsi gaya dan perkataan ‘maskulin’ dari teman-teman lelakinya disekolah. Apalagi didukung postur tubuhnya yang ‘gagah’ kadang aku kewalahan juga meredakan emosinya
“Ooo… tapi jangan gitu nho kak. Ingat kan cerita nabi Sulaiman? Orang yang kuat ndak boleh menyakiti yang lemah. Haniyya (Salma Haniyya, ed) kan emang paling takut diguyur kak.” dia menggumam sambil masih sibuk

“Oke kak, ini Umi mau liqo’ (ngaji) dan umi mau siap-siap . Kak Maura mau dimandikan umi apa budhe? “
“Umi aja yang madikan (agak ketus sambil masih sibuk mengaduk pasir)”

“Kalau Umi yang mandikan, sekarang ya jadi nanti kalau Uminya Aziz jemput umi, kan umi udah siap. Mandi sekarang yuk!”

“Sebentar..Umi tunggu dulu.aku aja baru ngerjakan ini kok” alah-alah...gayanya itu lho frend
“oooo....lha apa umi mandi dulu kalau maura udah selesai ntar tak mandikan. gitu pie?”kataku masih berusaha ‘sabar’ hehe lebih tepat menahan emosi ding.

“ Aduuh Umi ini, S E B E N T A AR...tho.! Lha wong orang-orang tua aja bisa bilang sebentar kok kalo disuruh anak kecil .masak anak kecil ndak boleh? Orang-orang tua lagi, sebentarnya lama lho Mi...”

Masya Allah!!!! Aku terhenyak. terhenyak, geli, takjub, bangga, Subhanallah!!! Ini adalah bahasa diplomatis Sulungku yang luar biasa sore ini. Aku hanya mengangguk-angguk dan membenarkannya

“ Oooo....iya-iya, umi ngerti. Baiklah, Umi akan tunggu sampai maura selesai. Umi kan harus SABAR ya nak, gitu? Tapi Maura sebentarnya cepat ya hehehe kan Umi juga mau ngaji...”
Akhirnya dia kumandikan, meskipun masih bersungut-sungut dan masih menggumam-menggumam suruh sebentar aja kok ya Umi itu lho ndak sabar...

Sepanjang perjalanan kerumah teman, aku memikirkan kata-kata Maura tadi. Kalimat yang jujur, lugas dan ‘kaya’ akan tumpukan pengalaman anak-anaknya mungkin . Akhirnya akupun menyimpannya. Dan aku pulang mengaji sudah lewat maghrib, maklum rumah kawanku agak jauh. Sampai dirumah aku sholat, menyimaknya baca ‘ iqra’ dan menunggu waktu tidur setelah isyak. Anak-anakku sudah tidur maksimal jam 19.30 karena siang mereka tidak terbiasa tidur. Singkatnya sekitar pukul 21.00 maura bangun dan menghampiriku yang sedang didepan komputer. Di mendekati meja dan stengah ngantuk dia bilang

“Umi, aku mau minum air putih dan susu....” katanya
“ ooo iya nak, air putih dulu atau susu dulu?” kataku sambil menatapnya
“ Air putih dulu....”
“Hmm...oke baik, S E BENTAR YA, sayang....umi simpan dulu dan umi sekalian matikan komputernya. Sabar ya?’
“ Ah umi..kalau anaknya minta air putih atau susu itu kan langsung berdiri bisa kan mi? Komputernya kan bisa nanti lagi….” Hah????? Kena lagi aku!

“ Oooo iya sayang, Ya Allah…umi minta maaf ya. Oke –oke “ Aku serta merta berdiri. Sambil mengaduk susu, aku memikirkan kata-katanya hari ini yang berhubungan. aku mencari-cari hikmah sebelum aku menulis catatan ini. Aku mendapt pelajaran lagi darinya.

“Ini nak susunya, Bismillah dulu. Trimakasih ya, umi tadi diingatkan. Tapi lebih baek lagi kalau kakak juga belajar sabar .Kita sama-sama ya Maura? “ Akupun mengajaknya pipis lalu mengantarnya tidur lagi.

Luar biasa. Anak-anak kita adalah peniru ulung yang detil dan pemberi kritik yang jujur. Kita yang harus membahaskan, terus memberi mereka kesempatan untuk berkata jujur dengan tidak merendahkan pendapatnya. Akhirnya dari kejadian hari itu, ini beberapa ibrah (pelajaran) yang kuambil

1. Bahwa kata SEBENTAR bagi anak-anak adalah isyarat tertundanya kebutuhan mereka. Meskipun kita harus pula mengajarkan makna ‘sabar’ namun bagi alam kanak-kanak mereka seringnya kita mengatakan ‘sebentar ya’ meskipun dengan kata-kata yang halus adalah bentuk ketidakpedulian kita pada mereka

2. Bahwa bisa jadi ketaatan anak-anak kita terbentuk karene terpenuhinya KEBUTUHAN mereka dengan segera dan tulus (ingat, bukan terpenuhinya keinginan, namun kebutuhan).Mislanya mereka sudah bilnag ‘lapar’, minta dibersihkan saat pup, minta minum, mengeluh sakit dsb. Saya jadi ingat kata seorang teman bahwa saat kita bersegera memenuhi kebutuhan anak kita, mereka akan belejar memahami aktivitas dan kebutuhan kita pula. Mungkin jika sampai hari ini anak-anak kta masih ‘malas’ dan kurang taat bisa jadi karena kita mengabaikan kebutuhan mereka dan menunda-nunda.

3. Bahwa ternyata, mengajak berdiskusi, memahami alam berpikir anak-anak akan menjadikan mereka menjadi anak-anak yang cerdas dan jujur. lagi-lagi mendidik dan mengasuh adalah persoalan memahami dan memberi teladan.
4. Masa meniru gaya, kata, aksen, dan sikap di usia kanak-kanak begitu dahsyat, sehingga mengucapkan kata-kata , bersikap semestinya menjadi sesuatu yang sangat kita jaga didepan anak-anak kita

Akhirnya, sejak hari itu saya berjanji pada diri sendiri akan meminimalkan kata SEBENTAR saat anak-anak saya sudah menyampaikan kebutuhannya. Saya pun mengajak pembantu saya begitu. “ Mbak, saat Maura dan Salma sudah minta makan, minta dicebokin saat pipis, atau sudah minta sesuatu yang penting, tolong segera penuhi ya…agar mereka juga manut dan tidak pemarah.” Dan benar, sayapun masih berlatih terus. Jika itu kita lakukan (termasuk segera memenuhi janji kita pada anak sekecil apapun) anak-anak kita akan belajar lebih sabar , Insya Allah.

Hmm.. masih panjang jalan mengasuh anak-anak kita. Sayapun yakin teman-teman punya banyak pengalaman yang dapat sama kita bagi untuk memperkaya kreatifitas kita. Menghantarkan diri kita sendiri untuk lebih sabar dan konsisten terhadap nilai sehingga saat kita mendidik anak kita tak ada lagi beban bahwa kita belum melakukannya. Sulit memang bahkan sampai hari inipun saya masih terus mencoba. Semoga Allah mencintai kita dan keluarga kita dan memudahkan kita mendidik amanah-Nya.

pesan sponsor: Note ini termasuk Hak Kekayaan Intelektual hehehe Silakan menshare note ini atau semua tulisan di penaperempuan.blogspot.com
dengan tidak mengeditnya serta mencantumkan nama penulis dan sumbernya.Terimakasih…

Pelajar Islam Indonesia : Sebuah Cerita tentang tempat Bermula

Kusempatkan menulis ini. Ini tulisan sederhana, tentang sebuah tempat dimana saya menemukan sesuatu yang berbeda, diusia belia, 17 tahun. Tentang sebuah tempat yang banyak ‘tetua’ dan tokoh negri ini telah terlebih dahulu merasakan ruh bangkitnya. tentang sebuah tempat dimana setidaknya untuk saya sampai hari ini, bisa merasakan hawa kebebasan berpikir, kegelisahan untuk terus berproses, dan cikal dari saya memahami bahwa kesempurnaan pemahaman Islam adalah amal, toleransi, pergerakan, dakwah dan kesederhanaan. Ingat... ini bukan sebuah ‘kefanatikan’, ini hanya MENURUT saya. Yang mungkin sedikit melankolis sebab bertumbuhnya semangat saya tidak lepas dari tempat ini. Ya, ini hanya sebuah tulisan tanda terimakasih seorang kader yang tak ingin lupa pada kulitnya, seperti apapun ia sekarang, meski kadang tak lagi dapat bersua..... mari kukenalkan tempat itu

BATRA SOLO 1998
Saat itu aku berusia 17 tahun tepatnya kelas dua SMU. Jenuh saya melihat teman-teman saya yang begitu-begitu saja. Sekolah, nilai, ulangan, OSIS , majalah sekolah, beruntung saat itu saya sudah tidak tinggal di asrama sekolah saya.. Sampai suatu saat, seorang teman saya mengajak saya ke sebuah training pelajar. Hmmm Boleh juga, batin saya. Saat itu rasanya biasa saja. Sebelumnya, saya pernah mendengar kata PII, dan sempat ingin bergabung namun selalu tak sampai. saat itu bulan ramadhan.

Aku mengikuti sebuah training berbeda, ini bukan sebuah pesantreen kilat.Bukan. Ini lebih hebat. Itulah awal aku dan segala kegelisahanku menuntunku ke tempat training : Gedung Islamic Center DDII Pabelan kartasura. hahaha... dasar aku, perjalanan yang dulu sudah kuanggap ‘jauh’ dari rumahku itu kulampaui dengan bis kota tepat ditepi jalan raya. Dan anehnya aku dan seorang sahabat terbaikku (izinkan aku memanggilnya Yunda, panggilan ‘asing’ yang akhirnya biasa kudengar di sana, maknanya akrab dan sederhana) namanya Ayun ehm..Yunda Ayun Nurul Maqbullah Dahlan. Senja kami sampai ke gedung itu.

Nuansa berbeda segera kurasa. Aku menemukan para ‘mbak2’ berjilbab lebar, bergamis, tersenyum ramah menyapaku yang kala itu masih bercelana panjang dan berhem lengan panjang pokoknya ‘pii’ banget deh (yang ini plesetan, yang kepanjangannya menjadi ‘pelajar imut imut’). Tak ada tatapan 'aneh', tak ada justifikasi, semua ramah, sederhana.Saya segera mendapat teman-teman baru, baik yang telah lama bergabung, maupun yang baru saya kenal. Izinkan saya menyebutkan mereka yang banyak berjasa menjadi teman belajar saya : Almira dan kakaknya Iin Hasanah, Ayun, Ulfa Diena, Ellen, fatimah Zahriyah, Kartini, Kak Inoki, Cak Narto, Kak Hanang, Yu Isti, Yu Sri, Mbak yayuk, Kang Jazin, Yu Efi, Kang Ridho, Kang Iqbal, Ridho Amiruddin, Mukti Imawan, Mbak Isma) dan entah berapa orang lagi yang kami kenal.

Unik. Training itu bernama Basic Training (BATRA), training keanggotaan awal yang selama sepekan saya merasa terkesan. Sampai hari ini, saya belum menemukan training pelajar yang sedemikian ‘mencandu’(ini meniru teman training Intermediate PII yang saya ikuti di Bekasi tahun 2001, katanya training PII itu candu. Waduh dan memang benar). Di PII, basic trainingnya kereeen!!! Pelajar yang ikut dijamin bakal ‘pinter’! gimana enggak?? Kami yang masih sekul itu, yang minimal kelas 3 SMP sudah diajarkan bagaimana materi-materi tentang Aqidah, Dienul Islam, Ibadah, wawasan Islam, Komunikasi, Ideologi2 Dunia, dan banyak lgi deh. Dan hebatnya lagi para instruktur kami sama sekali tidak pernah ‘memaksa’. Mereka memberi ‘pancingan’ dengan materi awal, kemudian mereka memancing pemahaman2 awal kami. Target di basic training sampai dengan hari ketiga adalah :enjoy your local, ukhuwah, mengikuti training sampai selesai dan dapat berkomunikasi dan mengeluarkan pendapat! di hari ketiga, kami dari 4 kelas (local) dikelompokkan menjadi tiga kelompok untuk local change. Upper untuk yang memiliki keberanian berpendapat tinggi, wawasan yang lumayn, dan berani BICARA, Middle untuk yang ‘biasa saja’, mau bicara namun harus ditunjuk, dsb. Dan Lower untuk yang benar2 pasif. dan hebatnya, di masing2 kriteria itu nantinya ada ‘PERUBAHAN POSITIF’ saat kembali ke lokal semula. Yang upper semakin bagus, yang midle jadi lebih upper, dan yang lower lumayan percaya diri. Wuuuuuiiiiih keren dah!

Sepulang dari Batra, semangat saya besaar sekali. Dan ini hebatnya -lagi- selama tujuh hari, kami alumni batra disuruh pulang ke daerah masing-masing (kalau beragam daerah) dan mebuat ‘proyek dakwah’ di PII Daerah. Subhanallah. Saat itu saya kelas dua SMU! Sejak hari itu, saya justru banyak ‘ngetem’ di sekertariat PII di Gedung Umat Islam Kartopuran, Solo. Bertemu dengan pelajar-pelajar Islam dari sekolah yang berbeda. Bahkan kami justru sangat menikmati pertemanan daripada dengan teman sekolah kami. Belajar bersama, membuat kajian-akajian dan kursus untuk pelajar. Luar biasa, kalau kini biasanya aktivis bermula di kampus, di PII kecil2 udah trainer !hehehe

INTRA 2001
Singkat cerita, saya ikut Intermediate training di Bekasi, tepatnya di desa Ujung Harapan hhee. lagi-lagi saya mendapat banyak manfaat. Saya menemukan lagi nuansa ‘kesedrhanaan’. Saat itu kami berdelapan dari solo, dengan semangat ngebis, dan ‘ditampung’ di markas PB PII di Menteng. Pfff…..capek juga. malam kami harus wawancara, mempresentasikan makalah yang harus kami buat. Tas yang kami bawapun 2 macam. satu tas berisi baju, dan satu tas berisi buku2 yang wajib kami bawa untuk ‘perpustakaan’ kelas /lokal yang semua bisa saling baca. Hebat kan??? Teman s\termuda saat itu baru kelas 2 SMU tapi cerdasnya luar biasa. Sungguh di PII tidak ada sekat usia saat kita sudah ‘belajar’ dan berproses. Tujuh hari yang mencerahkan. Kami turun kemasyarakat. Target Intra di PII adalah kita dapat MENULIS kan apa yang kita pikirkan dan menuliskan apa yang menjadi pemikiran kiat. (Batra Mengungkapkan, intra menuliskan)

ADVANCED dan PELATIHAN INSTRUKTUR
Saya mengikuti advanced training di Semarang. Waaah tempatnya saya lupa. Tapi seingat saya saya baru sampai dilokasi pukul 10 malam pakai macet lagi di Salatiga! saya sempat heran sampai sekarang kenapa kok ya mau-maunya sampai ketempat yang begitu asing, naik turun bis...

di Advanced kami hanya sekitar 5 hari kalau tidak salah, target nya sudah lebih ‘mature’ kita harus membuat proyek untuk dakwah pelajar secara luas. Kita membuat polling, masih saya ingat berkeliling antara tugu Muda, Lawang sewu, mampir ke SMU Don Bosco, cari-cari pelajar untuk wawncara. Naik turun angkot dan bis di sekitar Semarang , banyak teman seingat saya sekelompok dengan Yu Iin dari kendal. Sungguh saya tidak tau bagaimana saya bisa meluakan sebuah kesan itu.

Pelatihan Instruktur kami ikuti bersambung setelah Advanced. Mumpung pas diadakan bareng. Di PI (pelatihan Instruktur) kami ditraining bagaimana menganalisis ‘input’ atau potensi awal dan riwayat para peserta, kemudian menentukan ‘kurikulum materi dan semua metode penyampaianannya sampai mentargetkan output.Luar biasa!!!! Jujur, untuk ukuran pelajar, training di PII sangat ideologis, penuh skill dan wawasan yang luas. Mungkin saya tidak bisa memaparkannya tapi sungguh, ada kerinduan merangkum kembali training PII agar bisa dinikmati banyak aktivis pelajar.

Penutup
Saat saya OSPEK, seorang kakak tingkat saya di Fakultas Hukum UNS , anak GMNI bilang begini : “ Heh, kamu pasti anak PII yo? Anak buahe Yayuk tho? (Yunda Rahayu, sekarang beliau di Depkeh, dulu beliau aktif di PD PT PII Solo, bendahara Dewan Mahasiswa saat saya baru masuk sebagai mahasiswa FHUNS 1999) .” Iya, saya anak PII…” maklum mahasiswa baru “Kok tau ya kalau saya PII” batin saya. ternyata menurut kakak tingkat saya itu anak PII khas gitu looh hehe gak tau apanya mungkin ‘ngeyelnya’ ya atau gak tau apanya
Yang jelas sampai hari ini saya tidak bisa melupakan tempat bermula saya itu. Saya ingat ayah saya sering mengatakan bahwa saya boleh berorganisasi , berpolitik, apapun dan dimanapun saya memilih untuk berkiprah, agar saya mengerti persoalan, belajar berkomunikasi dan menghargai perbedaan. Satu hal , saya memang mungkin sangat terkesan dengan format training pelajar di PII dan saya masih punya kerinduan menularkan ‘esensinya’ pada semua teman pelajar di kampus, di sekolah-sekolah agar training , up grading pengurus, ataupun pesantren kilat bukan saja sebuah ‘acra meninap’ atau rutinitas tahunan sebuah organisasi, tetapi punya ruh perubahan.
Selamat harba PII ke 63, semoga kita dapat berbuat banyak untuk umat, dimanapun kita berada kini. dan semoga PII terus menjadi tempat pembinaan pelajar Islam dengan segala inovasi yang harus terus dikembangkan.Wallahu a’lam bishawwab

Suami Saya Sudah Mati

Sebuah kisah nyata, kutulis di salah satu bab naskah bukuku, sengaja dishare untuk direnungi.semoga bermanfaat

Perempuan itu kukenal sekitar empat tahun lalu. Tepatnya, tiba-tiba kukenal. Sebab ia datang dan pergi tiba-tiba.Perempuan itu datang pertamakali padaku saat ia mengandung 9bulan dan aku barusaja melahirkan putri pertamaku.Dia meminta pekerjaan kala itu. Dan perempuan itu membuat banyak orang hampir-hampir bosan dan jengah dengan kehadirannya. Di benak banyak orang, ia selalu ‘mengeluh dan meminta bantuan’. Sebab ia memang mendatangi beberapa orang yang kebetulan juga kukenal. Duuuh...

Suatu hari diawal tahun ini, tiba-tiba dia datang kepadaku. Saat itu kebetulan aku dan beberapa ibu-ibu sudah bersiap hendak memulai rapat. Dia datang hendak menunjukkan hasil tulisannya di media lokal. Dia memang melakukan apa saja untuk menyambung hidup. Suaminya sakit diabetes dan kudengar kabar bahwa suaminya sempat buta. Kabar berikutnya kudengar darinya enam bulan lalu suaminya dirawat dikota kelahirannya dengan biaya ditanggung oleh saudara-saudara suaminya yang ternyata berpunya. Dan, beberapa waktu lalu, seorang kerabatku pernah bercerita kalau si perempuan itu datang padanya dan mengatakan : suaminya sudah M A T I !

Maka hari itupun kesempatanku mentabayyunkan kepadanya.
“ Mbak, maaf ya sebelum kita bicara yang lain-lain, saya mau tanya, apa iya sih suami njenengan (kamu, ed) meninggal? Bukannya terakhir ketemu saya mbak bilang suaminya pulang kekota asal untuk diobatkan dan mulai membaik??“ sejurus kemudian perempuan itu berusaha mengatasi keterkejutannya atas pertanyaan saya.

“ Saya mengatakan itu saat kondisi saya benar-benar tertekan. Maaf...” jawabnya lirih.
“ Tapi masak mbak tega bilang suaminya mati. Kenapa mbak? bukankah Allah sudah menyembuhkannya? Mengembalikan penglihatannya?” aku terus menatap dan menyelidik.

“ hhh…ya..memang. Suami saya sudah sembuh fisiknya. Tapi jiwanya, mentalnya,semangatnya rusak, rapuh! Kalau sudah begitu apa tidak sama dengan mati., mbak Vida? Tiap hari kerjanya Cuma tidur dimasjid, tidak punya semangat hidup, tidak mau berusaha bangkit. Sementara saya lelah! Menghidupi diri dan empat orang anak sampai meminta-minta pun saya lakukan. Mbak Vida tau sendiri saya sampai minta nasi dan lauk pada njenengan kan??? Saya mencoba menyelesaikan hutang-hutang saya dengan banyak orang meskipun sangat perlahan. Itulah mengapa saya sudah merasa jadi ‘janda’ sejak setahun lalu” Saya membiarkannya mengeluarkan semua keluhnya.Saya biarkan ia menatap nanar dan memainkan ujung bajunya. Teman-teman saya yang sedianya akan rapat pun ikut tertegun. HENING

“Mbak....saya mengerti kesulitan njenengan..Tapi, Allah yang memberi njenengan ‘penghidupan’ mbak. Mungkin Allah masih memberi nejenengan jalan rizki –meskipun mungkin dengan segala cara termasuk meminjam, meminta- itu semua pertolongan Allah mbak. Mungkin juga bukan semata karena usaha njenengan. Tapi karena orang-orang lemah disekitar nejenengan. Suami yang sakit, anak-anak yang masih kecil. Istighfar mbak….” sebisa mungkin kuberi dia masukan. Yah mumpung ketemu.
Perempuan itu kemudian mengendur ketegangannya. Dia menghela nafas, dan menitipkan naskah cerpennya untuk kutanggapi. Kemudian dia pamit. kami masih terpana dengan kejadian sekitar limabelas menit itu.

Seharian saya berpikir kejadian siang itu. Suami saya sudah mati… kalimat itu terngiang lagi. Disatu sisi saya sangat sedih dengan ‘rasa tega’ si Mbak itu terhadap suaminya. Betapa menyedihkan menganggap seorang belahan jiwa telah meninggal. Disisi lain lagi, saya dapat memahami kepenatannya menghadapi persoalan ekonomi yang begitu-begitu saja. Saya menjadi saksi betapa ia berusaha melakukan apa saja untuk : b e k e r j a. Menulis cerpen dimedia cetak, menjual buku-buku bekas dan majalah. Semua dia lakukan.

Saya mengambil pelajaran bahwa kejenuhan menghadapi banyak persoalan rumahtangga dan ketidaksiapan (terutama suami) untuk melakukan perubahan-perubahan dan lompatan usaha bagi kesejahteraan keluarga menjadikan banyak istri menjadi ‘mati rasa’ dan mencampakkan rasa hormat pada suami. Bukan, ini bukan hanya bisa dihakimi dan distempel dengan ah, istrinya gak qona’ah, ah…Cuma gitu aja kok sudah mengeluh dan sebagainya.

Ternyata memang masalah kejenuhan yang kita bahas diawal bab ini akan memicu banyak masalah. Ketimpangan inisiatif untuk melakukan perbaikan keluarga juga begitu. Maka, mungkin lebih bijak bagi kita menjadi suami/istri yang seimbang dalam menuntut hak dan kewajiban. Sebab...keletihan, keguncangan jiwa, kefakiran, menjerumuskan akal, menggerus rasa cinta. Astaghfirullah...

*****
dan KEMARIN, Sabtu 1Mei 2010 aku mendengar kabar dari suamiku BAHWA...suami perempuan itu benar-benar meninggal hari rabu yang lalu di Kota kelahirannya.Innalillahi wainnailaihi raji'un.Aku terhenyak dan bergegas merasa perlu menshare tulisan yang kutulis beberapa bulan lalu ' ini.Semoga bermanfaat

Seperti baju yang dipakai Ibunya temanku ....

Adalah mengamati tingkah polah anak-anak menjadikanku banyak belajar. merenung, mengambil pelajaran. Aku dikaruniai dua putri tertua dengan usia mereka yang belum lagi lima tahun. Izinkan aku memperkenalkan ‘guru-guru’ kecilku itu, sebab dari mereka aku mengambil pelajaran. si sulung bernama KUNI MAURA AHNA, desember tahun ini usianya akan genap 5 tahun. dan si tengah bernama SALMA HANIYYA Oktober tahun ini baru genap 3tahun. Bukannya pamer, anak-anakku memiliki daya serap bahasa yang lumayan bagus. sehingga aku kini lebih berhati-hati ‘memilih’ diksi (pilihan kata) untuk mereka. begitu pula khadimat (prt) yang kuajarkan untuk mulai berhati-hati dalam berkosakata.kali ini aku belajar tentang membahasakan 'adab berpakaian' padanya. Selamat menikmati

Suatu hari, seperti biasa aku menyelesaikan ‘pekerjaan’ku menulis didepan komputer. sambil membersamai mereka main di ruang tengah kontrakan lamaku.Saat itu kalau tidak salah aku tengah mengandung anak ketiga sekitar 5 bulan. Sesekali aku ‘menyahut’ saat mereka bermain peran. begitulah. aku tau, banyak cara orangtua menemani anaknya bermain, termasuk ‘nyambi’ ngetik.Kujadikan diriku sesuai peran yang mereka inginkan. Hari itu aku diberi peran oleh Kakak Maura sebagai ‘petugas dibank,karena aku ‘bernegosiasi’ untuk tetap didepan komputer .

“ Ya wes, kalo Umi Vida mau tetep ngetik, umi jadi mbak yang kerja di Luwes apa di bank ya Mi’?” katanya
“Oke-oke, umi mauuuuu” kataku bersemangat

Mulailah mereka mengacak rumah. Maen Rumah2an. mengatur kursi seumpama kamar, mengatur sofa yang mereka bilang ‘mobil’ dan menggelar semua kain2 disepanjang ruang tamu. Kubiarkan. Pembantuku yang sudah mulai ‘menyemprit dan melarang’ kubisiki
“ biarkan dulu lah mbak, nanti kita ajak bersihkan, oke mbak? maaf ya” hehe

Tibalah si mamah Maura akan mengajak pergi anaknya ‘haniyya’ untuk kondangan. tiba-tiba ia muncul dengan penampilan ‘luarbiasa’. bibirnya di olesi spidol merah! dan tiba-tiba ia teriak
“Umiiiii, pake’in baju ini lho... “ katanya dari dalam kamar
Ha???!!!!! aku heran, kaget, campur geli
“Kenapa bibirnya, bu Maura? kok pada merah gitu sih?”aku agak kaget
“Umi sih, gak pernah pake liftik, Yangti Lia (tante suamiku) dan Mbah Uti (ibu mertuaku) kalau mau pergi itu pake liftik (lipstik maksud dia). Umi aja yang gak punya. semua ibu temanku itu punya lho mi’...”
“oooo......” hanya iitu jawabku. aku tergeli2. kelucuan hari itu. baiklah.
“hm…oo gitu ya…tapi kan spidol merah pait, Kak…adek Haniyya juga.Nanti segera dihapus ya?biar kalau makan ndak ketelen.pie?” mereka setuju.Belum selesai…
“nah..sekarang, umi pakekan Maura baju yang ini ya…” aku melihat baju2 yang ia keluarkan. Baju ‘longdres mainnya yang selutut lengan pendek, kaos lengan panjang yang sudah agak ketat (karena dia gemuk) lalu celana panjang, jilbab kecil.
“ Mi, ini bajunya yang kaos panjang didalem, terus luarnya dikasih baju daster ini mi…nah baru pakae celana panjang, jilbabnya ini diiket gini lho mi…” aku hanya ‘melongo’ ck..ck..ck…
“ooh…gitu lha kok bajunya dimodel gitu kenapa nak?”
“Aaah…umi…ini KEREN lho,model gitu looooh-katanya kemayyu- (glek) ini kan kayak ibunya temen2ku mik…pada pake baju pendek, dalemnya kaos ketat gini. Umi sih…bajunya panjang-panjang terus. Gamis ya mi nama bajunya Umi? .Umi juga jilbabnya gitu terus, ibunya temen2ku itu jilbabnya gini lho mi…” Masya Allah….disisi lain aku ta’jub dengan kejeliannya mengamati. Maura memang punya kelebihan dengan pengamatannya terhadap ‘detil’ sesuatu.Bahkan Bunda disekolahnya pernah cerita, dia bisa hafal ‘tari aceh’ hanya dengan tiap hari melihat kelas anak-anak yg lebih besar melakukannya. Tapi disisi lain…aku mendapat pelajaran tentang betapa perlunya anak-anak kita melihat figur yang benar, baik dalam berpakaian, bertutur.

Memang, kita tak boleh reaktif. Pengamatan anak, peniruan-peniruan mereka adalah sebuah indikasi kecerdasan. Ekspresi mereka terhadap sesuatu lahir dari ruang pikir mereka yang murni. Namun, tugas kita-orangtua dan keluarga- adalah membahasakan prinsip, kebenaran, dan keteguhan dengan cara yang sederhana, manis, namun berkesan dalam dihatinya. Jadilah kumaknai ekspresi sulungku hari itu sebagai sebuah materi MEMBAHASAKAN AURAT dan pakaian yang ‘syar’I’ padanya…

“hhh..mmmm.. Oooo..maura niru mamanya temanmu itu ya (dia sempat menyebut nama temannya yang ibunya berpakaian begitu). Umi juga tau…emang sih banyak yang pakai.Kalau maura mau nyoba pakai begitu boleh saja, karena sekarang maura masih kecil. Tapi kalau maura sudah besar nanti…maura mau kan pahalanya lebih besar lagi dari Allah?”
“Emang kenapa?kalo pakai baju begitu pas udah gede, pahalanya dikit?”
“yah...gitu deh... kalau nanti maura udah besar, wah...tubuh maura ini AURAT.., ingat kan aurat? Umi pernah cerita ya? AURAT itu kan mahaaaaal banget apalagi kan ntar kalo gedhe, maura tambah cantik, makanya pakaiannya gak boleh yang ketat-ketat nak, jilbabnya juga.Bajunya orang muslim yang perempuan ya begini, harus longgar dan menutup semua AURAT, ya..karena kan kalo lebih sempurna Allah akan lebih sayang.Gimana?”

“Hmmm. Ya aku tapi mau nyoba pake ini dulu ya Mi? Nanti Aku mau bilang si Chika ah (nama samaran) biar dia bilang sama mamahnya, bajunya yang longgar, menutup AURAT biar gak malu dan disayang Allah.Gitu yaMi?. baju begini kan buat anak yang masih kecil..”

“Hehehe....yah boleeeh.....mungkin mamanya Chika belum tau. Ntar pasti mamahnya Chika mau kok pakai baju yang lebih longgar.Tapi Maura bilangnya baik-baik aja ya?”kataku setengah berbisik dan memasang mimik lucu. Dia tersenyum mengangguk. Emang dia tampak 'lucu' tapi biar saja.karena memang untuk anak kecil pakaian begitu 'lucu' dan tidak masalah kan? Kalau kata ibu saya 'belum kena hukum syar'i " hehehe

Pff…..bayangkan moms, bunda, ibu, ayah…bagaimana coba bila kita tadi langsung bilang “ Dosa itu!”, “Pakaian gak Islami”,” atau alaaah…kayak gitu kok ditiru sih???” maka pemahamanitu tak pernah bisa kita sampaikan, iapun akan mudah menjustifikasi seseorang
Memang, sampai hari ini pun ananda ku itu masih meniru cara bicara, gaya, hal-hal yang mungkin membuat kami ‘beristighfar’…tapi biarlah itu menjadi mata pelajaran bagi kita bagaimana membahasakan prinsip. Semoga bermanfaat, tunggu note berikutnya tentang ‘membahasakan’ prinsip pada anak-anak

NB:
note ini dan sejenisnya Insya Allah diposting pula dalam blog penaperempuan.blogspot.com
Silakan share atau mengcopy tapi mohon dicantumkan alamat blog atau penulisnya ini yaa hehe.demi 'hak paten' orisinalitas ide. Maaf dan Terimakasih

Oleh-oleh seminar Miracle at Home

Adalah disuatu hari yang berharga aku dan teman-teman dari KPPA BENIH menyelenggarakan seminar kecil ‘Miracle at Home’ bersama dokter Zulaehah Hidayati, pemilik Rumah parenting Bandung yang kukenal pertama kali melalui facebook (tengkyu ya facebook). Selama ini teori-teori dan diskusi-diskusi mengasuh anak memang sudah sering saya lakukan dengan suami, sahabat, tante atau membaca buku.
Awalnya, seminar parenting yang ‘hanya’ berpengikut 20 orang itu adalah usaha ‘memanfaatkan waktu’ beliau yang tengah berkunjung kerumah orangtua di daerah Baki , sukoharjo, selatan kota Solo. Namun luar biasa, efeknya pada saya dan keduapuluh teman. Semoga saya tidak overestimate, tapi kesan dari diskusi-diskusi dan koment di facebook membuat saya memiliki satu kesan tentang beliau: telaten merespon, telaten membuka ruang konsultasi di facebook, inbox atau telepon. Semoga selalu begitu meskipun sudah semakin ‘terkenal’ ya dokter. Kebetulan-lagi- beliau adalah tetangga kakak ipar saya di Bandung. Klop deh. lanjuut

Diawal pelatihan, dokter Zule memaparkan betapa pentingnya sebuah paradigma baru mengasuh anak. Dinukil dari Buku beliau “miracle at Home’ yang oleh Mizan diterbitkan dengan judul “ Anak Saya Tidak Nakal, Kok!”, maka bergulirlah tips praktis diawali dari pengumpulan masalah-masalah yang kami alami. Anak mengamuk, berkelahi, berbohong, memanipulasi, memilih-milih makanan dan sebagainya. memang yang saya rasakan, dokter Zule begitu sederhana saja memaparkan tipsnya. Buku yang akhirnya kami beli itu pun sederhana sekali pembahasaannya hingga kami merasa terpandu sesampai dirumah.
PARENTING di Rumah Parenting dituliskan dengan huruf kapital yang kepanjangannya menjadi sebuah ‘proses’ dan teknik mengasuh anak yang –menurut kesimpulan saya- memang harus diawali dengan ‘membereskan’ dulu diri kita, emosi kita. Setidaknya ini beberapa teknik yang kutulis dengan pemahamanku (semoga dokter Zule dan Rumah Parenting berkenan)

P untuk Pengasuhan anak yang benar(perubahan paradigma dari konvesnsional menjadi cara mendidik anak yang benar),

A untuk Anak adalah anugrah (sebuah kesadaran bahwa mereka adalah amanah, kebanggan, anugrah yang tidak semua orang ternayat memilikinya, sehingga kita harus mendidiknya, mengasuhnya dengan cinta),

R untuk Redam amarah (bahwa marah hanya akan membuat masalah menjadi tidak selesai, dan menambah masalah baru, marah akan membuat kita menumpulkan kreatifitas anak),

E untuk Empati mendengarkan ( empati mendengarkan menjadikan kita mampu memahami maksud anak yang kdang justru bermaksud baik, tulus, luarbiasa dan jauh dari yang kita sangka).

N untuk notifiaksi pembicaraan dan tindakan (teknik ini mengajarkan kita untuk tidak gegabah dalam merespon perilaku buruk anak, dan mengajarkan pada kita untuk ‘memilih’ sikap yang bijak seiring dengan teknik ‘R’ dan ‘E’) .

T untuk Tanamkan nilai positif ( teknik ini mengajarkan kita untuk tetap menanamkan energi positif, menghindari kata-kata buruk, merendahkan, menghina dan menstempel anak dengan gelar yang buruk. memuji, meyakinkan anak dengan hal2 yang baik akan membuat mereka sebaik yang kita inginkan, bahkan lebih).

I untuk istiqamah (bahwa mengasuh dan mendidik anak membutuhkan kesabaran, ketegasan, konsistensi agar anak mengrti maksud baik kita dan menghargainya. Istiqamah juga menjadikan kita tegas namun penuh kasih sayang). Dan

NG untuk meNGadakan time out ( time out adalah konsekuensi yang harus diterima anak akibat perilaku buruk yang ia lakukan berulang dan tidak ada perubahan, meskipun telah kita peringatkan. teknik time out banyak deh bunda.saya juga lagi belajar..hehe)

Nah…subhanallah, saat pulang, ternyata bekal teknik PARENTING itu membantu sekali. saya sengaja baru menuliskannya setelah sepekan. Karena sepekan ini, meskipun sedikit demi sedikit saya mampu meredam amarah saya. Saya berkomitmen bahwa saya akan memperbaiki diri dan cara mengasuh anak-anak saya dengan merubah diri sendiri dahulu. Tak mudah, tapi Insya Allah bisa.

Baru dengan me Redam amarah saja, sepekan ini saya merasa sedikit ‘berbeda’. Meminjam istilah Ustadz Fauzil Adhim, ternyata menjadi orangtua ‘sumbu pendek’ sangat merugi. Saya berkomitmen tidak lagi mau ‘mengomel’ atau berteriak, melotot (apalagi memukul) untuk menghentikan perilaku buruk mereka. Memang...masih panjang jalan mengasuh anak-anak, ini bukan sulapan mejik, euy. Apalagi seorang ibu yang selalu 'dianggap' paling bertanggungjawab atas perilaku anak-anak, tentu mengasuh anak menjadi tanggungjawab besar. Mereka baru lima tahun,3tahun, dan semakin kita mendapatkan ilmu baru, justru ‘ujian’ kesabaran kita semakin besar... ini saja dulu ya teman, sahabatku, bunda, ayah... semoga note2 selanjutnya tentang ‘tema’ ini bisa saya buat setelah saya melakukannya. (malu dong kalao udah nulis belum praktek....) thanks to rumah Parenting, dan 20 teman rintisan RP Solo yang bersemangat...kita buat lagi ya tanggal 29 mei agar manfaat yang kita rasakan dirasakan oleh para orangtua lain. BISMILLAH!

Ya Allah Mudahkanlah Aku mendidik Mereka !

Ternyata yang dikatakan prestasi bukan hanya melahirkan anak-anak kita, namun mendidiknya. Begitu kata seorang adik ibuku. Aku sangat setuju. Kita tidak pernah bisa menjamin bahwa stiap detik dan jam, hari dan bulan serta tahun akan menjanjikan hal-hal yang ‘baik-baik saja’ pada anak-anak kita.
Hari ini, banyak orangtua termasuk aku yang sudah merasa begitu takut dan khawatir tidak dapat mendidik mereka. Bukan hanya menunggu mereka tumbuh besar. Bukan, bukan itu. Itu bisa kita lakukan dengan memberikan makanan, minuman bahkan ada orangtua yang menganggap bahwa ukuran sukses adalah tumbuh ‘gemuk’ dan sehat saja.

Tapi kita harus M E N D I D I K mereka. Ya, Mendidik bukan mengajar. Mendidik bukan ‘menyekolahkan’. Mendidik adalah membina. Seperti kita menyemai benih-benih tumbuhan yang berkualitas lalu kita memupuk, menyiram dan memantau perkembangannya. Mendidik tidak mensyaratkan kenaikan angka-angka tapi meningkatnya kesadaran dan kemauan untuk menjadi lebih baik. Dan sungguh, itu tidak mudah. Namun karena kita ‘pendidik’ dan bukan ‘pengajar’ maka kita harus optimis bahwa kita Insya Allah bisa mendidik anak-anak kita dengan anugrah kasihsayang (rahim).

Hari ini, anak-anak kita memiliki peluang untuk lebih menurut pada apa-apa yang dikatakan oleh orang lain, bukan orangtuanya. Maka kita para orangtua ternyata benar-benar tak bisa berbuat apa-apa tanpa do’a dan ilmu. Aku jadi ingat bagaimana almarhumah ibuku membisikkan kata-kata ‘ajaib’ ditelingaku sejak aku beranjak remaja saat aku akan keluar rumah “ Mamah hanya bisa mengawasimu sampai kau keluar dari pintu itu, nok...Selebihnya, takutlah pada Allah.Sebab, mamah ndak tau tapi Allah Maha Tau nak..”
Aku haru jika mengingatnya. Betapa kekhawatiran seorang ibu berpadu dengan ketegaran, keteguhan, optimisme, dan keyakinan bahwa hanya Allah yang bisa melindungi anak-anaknya. Kata-kata itu pula yang membuatku sangat menjaga kepercayaannya, bertanggungjawab dan tidak tergoda untuk neko-neko. Pada akhirnya, aku merasa ‘aman’ menceritakan segalanya pada mamah dan aku tumbuh sebagai seorang perempuan yang percaya diri (ini rasa syukur lho, bukan GR).

Itulah yang ingin kutransfer pada anak-anakku sejak kini. Bahwa penting bagi mereka menyadari dan percaya bahwa Allah Maha Melihat, bahwa ibunya mempercayai mereka, bahwa jiwa raga mereka begitu berharga.

Pada Hari ini....tak ada yang tak mungkin mempelajari apapun dari siapapun dan hanya pada Allah kita memohon kesabaran, nafas panjang, ilmu, keteguhan, ketegasan, cinta dan semua hal yang baik untuk bekal kita mendidik mereka.
Sungguh ya Allah...kami ini lemah tanpa pertolongan Engkau. Sejak Kau karuniakan mereka tumbuh dirahim kami, mereka lahir, tumbuh didunia ini...Ah....rasanya terlalu sombong jika kami tidak melibatkan Engkau dalam setiap fase kami mendidik mereka. Maka...mudahkanlah kami mendidiknya ya Allah, sebagai amanah-Mu didunia dan akherat. Amin.

Audisi Pembantu Rumah Tangga


Saat menulis bagian ini saya sedang telah mengalami banyak hal berhubungan dengan seseorang dalam rumah tangga kita: Khadimat, pembantu, rewang (bahasa jawa,ed)dan semacamnya.Ya..ya…ternyata
banyak pengalaman yang sebenarnya aku alami dengan 'para khadimat' yang silih berganti hadir dalam kehidupanku he..he… tentu saja sejak aku kecil.Mengapa juga khadimat menjadi bagian yang aku rasa penting dalam diary pernikahan kita? Entah. Namun setahu dan serasaku, kebutuhan akan khadimat sangat sulit dipisahkan dalam rumahtangga kita.

Tulisan ini akan sangat panjang, sebab segala yang berhubungan dengan si khadimat akan aku tulis sejujurnya. Di tulisan pertamaku tentang mereka, kubagi beberapa tips untuk memilihnya atau sebelum kita memutuskan untuk ya atau tidak menerimanya di istana kita.Tak selalu mulus, tapi semoga bermanfaat.
a. Memilihnya Dengan Prioritas Kebutuhan Kita

Suatu hari, aku merasa begitu tertarik dan tercerahkan dengan perbincangannku dengan seorang teman.Aku bercerita begitu sulitnya mencari khadimat yang dapat 'diandalkan'.
"…..saat kita udah cocok sama kerjaannya, e…. dia punya sifat yang nggak menyenangkan dan sifat itu menjadi karakter yang membuat kita tidak nyaman,tidak aman" begitu kataku
"He..he.. iya sih Vid (sapaanku, ed) tapi aku punya nasihat bagus dari ibuku.Kta beliau,pembantu itu ada tipe-tipenya.." katanya sambil senyum simpul
"O ya? Menarik tuh pie mbak?" tanggapku
" Ada yang pekerjaannya oke, tapi dia enggak care sama anak-anak kita dan nggak bisa diajak bicara seperti teman…" hmm…aku menyimak dan iapun melanjutkan
"Ada yang care sama anak-anak kita, ana kita terurus dengan baik, dia sabar, ngemong, tapi dari sisi pekerjaan rumahnya nggak memuaskan…Dan yang terakhir…he he.. Ada khadimat yang yah… Cuma bisa kita andalkan sebagai 'teman bicara',bisa menjadi poendengar tapi pekerjaan dan cara mendidik anak-anak kita dia pas pasan.." dan temanku itu menghela nafas…"so.. tergantung kita sebenarnya apakah kita mau memilih khadimat untuk pekerjaan rumah kita, anak kita, atau hanya sebagai 'teman'.Begitu vid…." Diapun tersenyum

Ini yang sekarang saya hadapi. setelah berpetualang dengan berganti-ganti khodimat (pembantu, rewang, ‘asissten rumah tangga, apapun sebutannya) sampai tulisan ini kubuat saya selalu ingat nasehat teman saya itu. Memang sulit. Akhirnya kita memang harus benar-benar sadar khadimat bukan malaikat poenolong atau bahwa romusha yang kita kerja paksa. Akhirnya saya membuat prioritas bahwa saya memilihnya untuk melancarkan aktivitas dakwah. Sehingga, ada kalanya ia ‘hanya’ menjaga anak-anak ketika saya pergi keluar rumah, dan berlapang dada jika karenanya pekerjaan lain sedikit kurang sempurna

b. Berterus Terang Di awal tentang GAJI

Ada pepatah Arab yang sering dikatakan suami saya fish shorohah, rohah artinya : dalam keterusterangan ada ketenangan. Nah,gaji adalah salah satu yang menuntut keterusterangan kita diawal mereka ‘melamar’ pekerjaan.

Pengalaman saya, membicarakan gaji untuk khadimat diawal itu lebih baik. Artinya, sama-sama sepakat. carilah informasi upah standar untuk pembantu yang pulang sore (jawa: pocokan) atau yang menginap (jawa: ngebleng). Biasanya pembantu yang menginap gajinya lebih murah karena dia tidak memikirkan transpot, menginap dirumah kita, makan dan tidur juga bersama kita. Tapi kalau saya sama saja karena meskiupun menginap, justru tugasnya kadang lebih banyak kan?

Setelah kita tau upah standar, mulailah mennayakan pada calon khodimat apakah ia ingin gajinya diambil pekanan, bulanan, dua mingguan atau malah..harian?? ini penting agar kita siap anggaran. Selain itu, jangan sampai kita menunda upah yang mereka butuhkan, kecuali dengan ridho mereka.

Selain itu, tak ada salahnya jika kita membuat kesepakatan kapan gajinya dipotong, atau kapan ia bisa menerima ‘bonus’. Mislanya jika ia pocokan (tidak menginap) upahnya dihitung sesuai masuknya dia. Kalau saya, saya akan lihat komitmennya. kalau khadimat kita tipe orang yang memang ‘butuh’ bekerja, ia akan selalu masuk. Ia akan memprioritaskan pekerjaan dirumah kita.maka untuk yang begini, saya tidak akan pernah memmotong gajinya karena ia pasti bener-bener ada keperluan saat tak masuk. Sayapun tidak pernah memotong gaji harian pembantu yang tidak masuk karena sakit, baik dia atau keluarganya. Tapi ada juga pembantu pocokan yang sering tidak masuk, nah kita perlu memberi ‘warning’ dengan aturan gaji sesuai kedatangannya.

Yang jelas, gajilah pembantu dengan layak. Apalagi jika ia seorang yang loyal pada kita, berilah bonus atau hadiah yang menyenangkan hatinya, meskipun tak harus selalu berbentuk uang. Ingat, jangan terlalu pelit namun juga tetap profesional

c. Mintalah Komitmen Kerjanya dan Buat Aturan Kerja yang Jelas

ya, ini benar-benar pengalaman berharga. Saya pernah mengalami berganti khadimat setiap 3 bulan! Entahlah, saya sampai risih dengan komentar beberapa tetangga “kok ganti lagi, Bu Vida”. Kesannya saya ini orang yang ‘sulit. hehe. Padahal, hampir semua pembantu yang keluar kebanyakan karena problem mereka sendiri dan yang membuat saya jengah, mereka biasanya tiba-tiba tidak masuk beberapa hari tanpa kabar dan tiba-tiba..keluar! Bahkan saya pernah sedikit malu karena khadimat saya meninggalkan ‘hutang’ pada tetangga dan pada saya (yang ini sih udah diikhlaskan kok, tapi tetap ditulis untuk ambil pelajaran, gak papa doong) .he..he.Ya sudahlah. Semoga Allah memberinya jalan keluar dari kesulitannya.

So, dari sinilah saya semakin teliti dalam menyeleksi khadimat. komitmen untuk masuk tiap hari saya letakkan diurutan ketiga setelah : ia muslim dan sholat, dia jujur dapat dipercaya. Barulah yang ketiga: bersedia masuk setiap hari dan tidak sedikit-sedikit membolos. Karena, meskipun saya dirumah full, saya kadang saya harus keluar rumah, menulis buku, dan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan 'pihak' ketiga untuk membantu saya.Alhamdulillah setelah lima kali saya mendapatkannya.Meskipun lagi-lagi tak ada orang yang sempurna. Saya tetap menemukan kekurangannya. Namun kriteria utama dan prioritas , segera membuat saya ‘beradaptasi’ dengan kekurangannya dan mengingat segala potensi baiknya.

Aturan kerja yang jelas itu penting. Apakah ia hanya mengasuh anak, ataukah ia hanya mengerjakan pekerjaan rumah, atau keduanya? Buat aturan juga kapan boleh nonton TV, apa yang boleh ia tonton bersama anak-anak kita,adab berpakaiannya, dan hal-hal yang menjadikan kita sreg jika ia melakukannya, sangat penting kita komunikasikan. Bukan apa-apa, kita turut bertanggungjawab juga kan terhadap kebaikan siapapun yang ada dirumah kita bukan?
d. menginap/ setengah hari?
Setiap pilihan ada konsekuensi. Kadang yang menjadi pilihan kita tak selamanya menyenangkan. Saya tidak pernah mempunyai pembantu menginap. Namun sejak saya akan melahirkan anak ketiga kami yang akhirnya harus cesar, saya meminta khodimat saya menginap. Awalnya saya terbantu karena saya foskus mengurus si kecil.Namun lama kelamaan saya seperti kehilangan anak-anak tertua saya. Saya mulai jarang membacakan cerita dimalam hari, mereka juga sering terpengaruh bicara si 'budhe' pengasuh yang kadang bikin hati saya kurang sreg, atau budhe pengasuh yang karena lelah jadi sering 'cuek', sedikit 'galak' dengan saya hehe.
Akhirnya tepat dua bulan, saya memilih mempekerjakannya setengah hari atau karena rumah beliau dekat, beliau ringan hati untuk pulang agak malam saat saya harus ada acara dimalam hari.Subhanallah, meskipun capek, tapi anak-anak saya 'kembali' ke pangkuan saya. dan Allah mudahkan...mereka kini sudah punya 'jam biologis' kapan tidur malam dan tidak sering terbangun dimalam hari. Itulah mengapa saya tetap cenderung menyarankan khodimat tidak menginap agar kita tetap punya 'kedaulatan' dirumah kita sendiri dan tidak terlalu 'bergantung' pada pembantu yang kadang justru menimbulkan masalah dikemudian hari

Tentang pengalaman mencoba ‘beradaptasi’ dan sabar itu...mungkin akan saya tulis berikutnya,ya! Insya Allah