Sabtu, 04 Februari 2017

Satu Jam yang Menyemangati, bersama Dr. Salim Segaf Al Jufri :
Teruslah Berkhidmat, dan Terus “Memenangkan /Menolong” Allah


Kemarin pagi, suami dan anak lelaki saya kemasjid untuk subuhan. Agak lebih lama dari biasa. Sesampainya di rumah , suami bilang “Malah ketemu Dr. Salim tadi di Assegaf (masjid jami’ di daerah Pasarkliwon, Solo). “Wah, Subhanallah. Aku baru mbatin, kalau pas ada khaul ustadz Salim mesti ke Solo. Gek kapan ketemu lagi sama beliau” tanggap saya sambil menyiapkan wedangan pagi. Terakhir mendengar taujih beliau saat menjelang Pilkada Solo . Dan pagi itu semua berjalan dengan kesibukan akhir pekan yang ternyata ‘padat’.
Tapi, mungkin saya GR sama Allah. Batin saya kemarin dikabulkan. Hehhe , sore kemarin,tanpa disangka saya dan beberapa ibu berkesempatan untuk silaturahim kerumah mertua Dr. Salim, dan bertemu dengan istri beliau, Ibu Zaenab . Bagi saya, bertemu dengan para Ustadz adalah rezeki karena Insya Allah akan mendapat tambahan ilmu. Makanya saya ‘perjuangkan’ apalagi ini dekeeet sekali dari rumah kami. Dalam suasana setelah hujan, kami berlima berkunjung ke rumah yang adem,luas, dengan aroma wangi khas rumah penduduk keturunan Arab yang memang banyak menghuni kecamatan kami, Pasarkliwon, Solo. Kebetulan, saya tinggal di kecamatan yang sama, tapi Subhanallah ya baru sore itu bisa ditakdirkan Allah bertemu dengan ibu Zaenab yang asli Solo. Kami pun disambut dengan ramah.
Karena Dr. Salim masih menjamu satu tamu diserambi, maka kami berlima ngobrol dengan ibu Zaenab ditempat yang tak jauh dari serambi depan. Karena ruangannya tidak bersekat, saya langsung dapat melihat bagaimana ustadz Salim yang selama ini hanya bisa say abaca dari tulisan-tulisan ikhwah lain. Saya saksikan betapa beliau melayani tamu dengan tenang, tidak banyak memotong pembicaraan.
Ketawadhukan lain yang saya saksikan adalah ketika tiba-tiba ada seseorang yang dengan pakaian sederhana, masuk dengan membawa surat (seemacam permohonan bantuan), menyampaikan hal nya, dan bersiap untuk duduk dilantai, ustadz Salim mengisyaratkan untuk duduk di kursi disebelah beliau “Jangan dibawah, ndak usah duduk bawah.Disini saja” kata beliau mempersilakan si Bapak tadi duduk disamping beliau. 
Lalu sang Tamu ditanya rumahnya dan sebagainya. Istri beliau segera masuk, mengambilkan sejumlah uang untuk sumbangan (mungkin sudah reflek ya hehe, istri mantan mensos) dan banyak gesture beliau yang walau hanya sekilas saya saksikan sebagai seorang Ustadz yang Tawadhu’ namun tegas. Istri beliau pun, adalah wanita ramah yang dengan gaya khas Solo dan keturunan Arab,komunikatif dan sangat menghormati tamu, membuat kami enjoy mengobrol. Saat ditanya “Ibu, apa resepnya ni mendampingi Ustadz yang sibuk dan amanahnya banyak. “ beliau menjawab dengan bergurau “ Ya kita ini kan ma’mum. Tinggal imamnya, kalau imamnya lurus, baik yang kita ikuti. Makmum juga akan lurus”
Tibalah giliran Dr. Salim menemui kami, bertanya kabar, menanyakan perkembangan dakwah di Solo. Lalu beliau sampaikan ‘taujih’ sore yang saya simak seksama (semoga tidak banyak tercecer) . Diantara poin yang Beliau sampaikan (judul poinnya saya buat macam poin rangkuman )

1. Berkhidmat tiada henti, Menghubungkan Kebaikan-kebaikan
“ Kita harus jadikan berkhidmat untuk rakyat, bukan sekedar tagline. Berkhidmat artinya melayani dengan sepenuh hati. Bagaimana dengan pelayanan yang terus menerus rakyat akan mengerti, mana yang mencintai mereka. Kalau masalah memenangkan partai, harus itu sudah wajar menjadi sebuah target. Sebuah partai kalau mau memimpin ya harus menang. Tapi melayani adalah kewajiban kita, terus menerus.” Beliau melanjutkan,

“ Banyak yang menganggap bahwa berkhidmat selalu berhubungan dengan fundrising, dana yang besar. Tidak harus. Coba kalau para ikhwan tiap waktu-waktu sholat bukakan pintu masjid, adzan, ngimami, itu khidmat. Para akhwat, ummahat, setiap hari berkeliling, masuk kerumah tetangga, lihat siapa yang sakit, siapa yang butuh kita sambungkan dengan pihak yang bisa membantu, itu khidmat, tidak perlu nunggu dana. Lagi, katakanlah dari 50-100 KK, pasti ada sekitar 7-10 yang dibawah kemiskinan, saya rasa orannag-orang yang mampu di kampong itu mau dan bisa menyisakan satu piring jatah nasi dan lauk untuk tetangganya, hanya saja butuh orang-orang yang mau ngantar, mau menjadi penghubung. Itu tugas kita. “ Sampai di poin ini saya merasa berdesir (mau mewek malu ). Betapa kebaikan itu simple sebenarnya.
Ya, kemenangan harus lahir dari rakyat yang mencintai kita, begitu yang saya simpulkan.

2. Intanshurullaha Yanshurkum; Apakah Allah Perlu Pertolongan?! Bagaimanan ‘ Memenangkan’ Allah
Poin taujih lain yang menyemangati saya sore kemarin adalah ketika Ustadz Dr. Salim Segaf memantik satu tema , “ Bagaimana kita memaknai Intanshurullaha yanshurkum ukhty? Saat ditanya apa maksudnya menolong Allah? Memenangkan Allah? Pasti kita sama yakin, dan memang betul ALLAH tidak perlu pertolongan kita, Allah Maha Penolong, Allah tidak perlu kita ‘menangkan’, ALLAH Pemilik Kemenangan. Lalu apa maknanya? “ Beliau melanjutkan,kurang lebih begini,

“Maka tafsir yang benar adalah bahwa Allah memang tidak memerlukan pertolongan kita. Namun dalam semua amal dakwah, berkhidmat, melayani umat, mendapatkan karunia jabatan, keberhasilan, kiat harus tetap ‘memenangkan’ Allah bukan hawa nafsu kita. Bukan karena kita, bukan untuk kita. Memenangkan Allah saatkita memilih antara Allah dan hawa nafsu kita, tetap Memenangkan Allah saat kita memilih antara Allah dan kepentingan lain. Jika sudah benar-benar kita bersungguh-sungguh dalam upaya memenangkan Allah, menolong Allah, maka PASTI kemenangan itu datang, pasti Allah menolong kita dengan pertolongan-Nya. ”
Di poin ini saya bergetar. Ini tentang orientasi dan keikhlasan yang terus menerus dibersihkan. Kesimpulan saya yang dhoif ini, memenangkan Allah, ‘menolong’ Allah bukan melulu tentang dakwah dan pihak yang memusuhi Allah dan Rasul secara nyata dan terang-terangan. Justru yang sangat berat adalah memenangkan Allah saat kita memilki orientasi lain, tergoda dngan orientasi selain Allah, disaat kita memiliki kesempatan dan fasilitas untuk disorientasi. Maka ayat ini begitu memotivasi dan bagi saya menyuntikkan optimism “SUNGGUH jika engkau menolong Allah ,maka (SANGAT PASTI) Allah akan menolongmu, dan MENEGUHKAN kedudukanmu”QS. Muhammad : 7 . Masya Allah semoga Allah karuniakan orientasi yang lurus, dan keikhlasan yang terus kita perbaiki, hingga akhir hayat. Aamiin
Masih ada beberapa poin taujih yang menyemangati, namun nampaknya tidak bisa saya share dalam satu tulisan. Satu jam pastilah tidak cukup untuk menggali inspirasi dari para Ustadz. Semoga Allah memberi para asatidz, para ulama, para da’I kesehatan…hingga kita bisa selalu menggali ilmu dan inspirasi dari para pembawa misi kenabian.
Aamiin

Jumat, 23 Oktober 2015

Saya Gak Muslim, Tapi Juga Pilih Anung Fajri, lho!



Proses memilih pemimpin daerah sedang menjadi ‘gawe’ warga Solo sampe 9 Desember nanti. Perjalanan kami dengan agenda direct selling ke rumah-rumah dan bertemu masyarakat memberi seabreg  pelajaran. Mblusuk kerumah-rumah dan bertemu masyarakat  bagaikan sales bukan ‘hal baru ‘ bagi kami kader PKS. Monggo saja dibilang ‘jualan’ partai, jualan pasangan calon hehehe… memang kami sedang mengenalkan apa yang kami anggap baik untuk masyarakat, kok!  MESKIPUN memang kami haqqul yakin  TIDAK ADA KESEMPURNAAN jika kita masih mengaku sebagai ciptaan Allah, apalagi Cuma partai  pasangan calon pemimpin dan sistem pemilu buatan manusia. Semua punya potensi buruk, salah, berlebihan, tidak akan menang, in itu semua pasti. Namun…bukan tidak ada postif dan kontribusi kebaikannya juga tho? heehe

Kembali ke masalah Pilkada dan menawarkan pilihan pada pasangan calon, tidak dipungkiri dan JUJUR sajalah ada dua pasangan yang akhirnya mengerucut pada pilihan muslim dan non muslim. Tidak perlu tabu membicarakan ini karena memang pasangan Anung- Fajri Muslim-muslim dan bapak FX Rudi- Purnomo Non Muslim-Muslim. Ini menarik dan tidak masalah. Isue agama adalah sah sebagai pertimbangan pemilih, asalkan fair dalam menyampaikan informasi tentang pasangan calon dan profilnya. Artinya, memang wajar dong  jika saudara-saudara yang Non- Muslim memilih FX Rudi tho? Atau jelas yang memahami bahwa seorang muslim wajib memilih pemimpin seakidah juga sangat wajar bukan jika memilih Anung – Fajri ?!  maka bagi yang mengatakan “jangan bawa-bawa agama di Pilkada ” yaa gimana yaa piye-piyeo (solo banget yak. bagaimanapun, ed) agama itu songgone wong urip (tiangnya orang hidup),wajar  orang akan lebih memilih orang yang seakidah lah untuk memimpinnya.Jadi melibatkan agamamu dalam segala selera hidupmu itu wajar kok, baik Anda Muslim maupun non Muslim.

Pun begitu, dari bincang-bincang dengan teman-teman, tetangga dan masyarakat yang saya temui ada pula yang tidak melulu memilih pasangan calon berdasarkan agama. Wajar kok. Selera tidak bisa dipaksakan. Seperti yang kita tahu, Koalisi Solo Bersama diusung beberapa partai yang tidak semua berbasis partai Islam. Maka disini menarik, saat saya tanya seorang teman dan warga yang kebetulan saya temui beberapa ( yang kebetulan non muslim) ternyata juga tidak selalu memilih berdasar agama.

 Beberapa menyatakan “Mbak…kita memilih pemimpin bukan hanya siapa dia tapi siapa yang mengusungnya. Meskipun saya bukan Muslim, saya memilih AFI, karena partai pendukungnya minimal tidak nggegirisi mbak…meskpun semua bukan jaminan tapi kita ingin bersama membangun Solo ini lebih baik bersama-sama, saya pikir Pak Anung dan Mas Fajri bisa mengayomi kami juga yang non –Muslim kok, pengalaman pak Anung di pmerintahan dan mas Fajri di masyarakat  juga lumayan. Semoga ya mbak, kita doakan agar Tuhan memberkati..” 

Semoga pilkada Solo sejuk dan mnyejukkan, damai dan mndamaikann. Tak perlu ada ancaman ketakutan, ancaman bakar-bakaran kalo pasangan tertentu tidak menang, atau budaya-budaya premanisme yang dihembuskan ke masyarakat, atau intimidasi ‘halus’ yang membuat masyarakat justru tidak menggunakan hak pilihnya, atau pembodohan opini. Biarkan masyarakat Solo memilih karena kesadarannya monggo apakah kesadaran religiusnya atau…kerinduan akan moralitas, budi dan pengayoman pemimpinnya, karena moralitas, budi dan pengayoman itu MILIK dan AJARAN SEMUA AGAMA .
****
“Apa Tidak ada NKRI di hati anda? Kok Bilang Berasa Gak Punya Presiden”
                menulis status tentang apa yang kita ‘pikirkan’ di sosmed  tentulah menawarkan dua pilihan saat ini : dibully atau dibela. Hm..bagi saya, itu tidak banyak berpengaruh. Kita harus belajar memaknai ‘kemerdekaan ‘ cipta, rasa dan karsa kita.
Tersebutlah saya, seorang warga negara biasa, yang juga ibu rumahtangga ini ‘lancang sekali’ menulis status tentang kabut asapngan ‘mennatang’ para pembela presiden dan kabinet HEBAT , yang saya anggap ini memang tugas negara doong melindungi warga.saya mungkin terlalu judes dengan ‘menantang’ para pemujua, pembela presiden dan kabinet HEBAT yang dulu suka dishare linknya, atau diposting kinerja2 hebatnya di awal. Nah…coba doong sekarang saya dikasih postingan2 tentang kinerja peme.ihhiirr…termasuk nyinyir bilang “ Saya memang berasa GAK PUNYA PRESIDEN” kok… ahhhay rupanya


Lembaran Triplek dan Mangga yang Ranum  : Bekal karakter ber- Amar Ma’ruf Nahy Mungkar

                Dua perumpamaan itu sangat saya sukai. Saya mendapatkan penjelasan keduanya dari sebuah kajian dimana ‘Ustadz Special’ yang saya cintai menyampaikannya. Pantesan nyantel..(nggak diing, jangan lihat siapa yang mengatakannya, tapi lihat apa yang dikatakannya kaaan kebetulan aja yang nyampekan kekasih hati) . Tulisan ini mengambil ‘referensi’ perumpamaan keduanya yang bagi saya inspiratif. Dan setiap saya hendak timbul malas…saya selalu mengulang merenunginya agar energi positif pendar kembali. Kali ini saya tuliskan agar pendar itu menyemangati kita semua.Yuk, Mari!
  Adalah kita, manusia laki-laki dan perempuan, memilih menjadi orang beriman dan pada akhirnya memilih dengan sadar atau bahkan ada yang awalnya ‘terpaksa terkondisikan’  menjadi ‘sebagian manusia’ yang memenuhi seruan Allah untuk melakukan amar ma’ruf nahy mungkar ( yuk buka QS.Ali Imran 104), maka kita tentu tak ingin menjadi seseorang penyeru kebaikan yang berilmu lemah, atau pencegah kemungkaran yang beringas dan kaku bukan? Amanah amar ma’ruf nahy mungkar yang disematkan Allah dalam misi agama ini begitu mulia dan terus menerus menjadi warosatul anbiyaa’ (warisan para nabi) hingga kita saat ini. Pembawa misi kebaikan tentulah harus berbekal banyak ketrampilan, ilmu dan kepribadian mempesona yang tulus dan benar-benar menjadi karakternya (bukan pencitraan, lhoo hihi)

1.       Lembaran Triplek : Luas dan Luwes
         Apakah kita pernah melihat dan menemukan secuil triplek? Bagaimana keadaannya? Apa yang bisa dibuat dari secuil triplek? Ya, ya..Secuil triplek tentu kaku, keras, tidak bisa dibentuk dan hanya bisa sedikit memberi manfaat. Tapi triplek lembaran? Yang lebar dan bahkan bisa digerak-gerakkan? Begitu luas, manfaatnya banyak, bisa jadi daun pintu, bisa jadi almari, meja dan sebagainya. Selembar triplek memberi ‘peluang’ untuk dijadikan apa saja yang memberi manfaat.
          Itulah manusia dan modal ilmunya. Seseorang, yang berilmu hanya secuil dan –lebih parah lagi- jika tidak mau menerima pelajaran dari orang lain biasanya berpotensi menjadi pribadi yang kaku, pedapatnya hanya satu sumber, sulit menerima perbedaan. Diperparah jika dengan ilmu yang secuil itu dia begitu percaya diri dan tidak mau belajar lagi.Apa yang terjadi?
           Sebaliknya, orang yang berilmu luas, memiliki semangat belajar dari siapa saja, mau menerima masukan, bersemangat mencari ilmu dan terus membagikan ilmunya menjadi seorang yang memiliki kapasitas dan bahkan expert di bidangnya biasanya bisa memahami perbedaan, opend mind, memegang perinsip namun bisa menerima hal yang berbeda, tidak surut dicela, tidak pongah dipuji.
           Karakter ‘lembaran triplek’ yang luas itu juga menjadikan seorang yang berilmu luas bisa luwes tanpa harus menyakiti orang lain dan tanpa harus ‘melacurkan’ keilmuan dan idealismenya.
Ilmu menjadi modal kita beramar ma’ruf nahy mungkar.Mari  mulai belajar bicara dengan data, mulai mengajak dengan pemahaman yang prima tentang apa yang kita seru, juga mencegah dengan cara yang baik, tau tahapan kapan harus bicara lembut kapan harus tegas. Sekali lagi ilmu yang luas seperti lembaran triplek,bisa juga lembaran kain atau apapun deh  yang luwes dan memberi manfaat lebih luas

2.       Mangga ranum : Disukai semua orang dan Mengundang Selera
           Ini karakter penyeru kebaikan dan pencegah kemungkaran yang satu lagi. Pernah kita lihat mangga mengkal yang muda? Sudah tumbuh besar tapi masih mengkal. mangga seperti itu siapa yang menyukainya? Tentulah ibu hamil yang suka nyidam yang asem-asem, atau tukang rujak. hehe..Mangga mengkal dan muda kadang juga bisa menyebabkan sakit perut jika dimakan tanpa batas. Intinya penyuka mangga muda itu terbatas, sist!
           Beda kan dengan mangga ranum, manis dan matang pohon pula. Semua orang di semua usia dan kondisi suka dan ingin memetiknya, ditawarin juga gak nolak, baunya harum rasanya manis, siapa gak kepingin?
            Begitulah kita, jika karakter kita seperti mangga muda dan mengkal maka kita hanya mampu masuk  dan diterima olah ‘segmen’ tertentu. Kita tidak bisa membaur, kita bahkan terlalu underestimate dengan orang-orang yang baru atau tidak kita kenal, akibatnya kita terkesan begitu ‘masam’ dan membosankan.      Pada akhirnya ya…kita hanya bisa diterima dikalangan terbatas dan bahkan banyak orang ‘mewarning’ orang lain tentang keberadaan kita, duuh…
             Sebaliknya, kita semestinya menjadi mangga ranum yang menyenangkan, bisa masuk pada semua kalangan, disukai karena memang kita begitu humble, hangat, ramah,apa adanya dan jujur dengan keadaan diri kita. Karakter mangga ranum itu menjadikan kita bisa berempati dan tepo sliro dengan hal-hal yang baru kita temui, atau tidak hanya cukup dengan menyenangkan banyak orang tapi kita juga bisa membawa mereka pada kebaikan-kebaikan yang kita tularkan. Hingga amar ma’ruf dari lisan dan sikap kita menjadi sebuah keistiqomahan, dan orang meninggalkan kemungkaran dengan penuh kesadaran karena si penyeru yang penuh kesabaran dan begitu mengesankan
          Ah…jika..jika dari keduanya saja kita bisa belajar, maka kita pasti akan mendapatkan energi keberkahan dari semua aktifitas menyeru pada kebenaran dan mencegah kemungkaran, dan janji Allah bahwa sebagian orang yang demikian adalah orang-orang yang beruntung akan kita raih dan rasakan.In syaaAllah. Semoga menginspirasi akhir pekan kita. Wallahu a’lam..

Sabtu, 29 Maret 2014

Menitip Harapan Perubahan Pada Caleg Perempuan


Pemilu tinggal sepuluh hari.Amanah menjadi salah satu caleg perempuan sebuah partai politik, sejak awal sudah saya niatkan tidak akan menggunakan cara-cara caleg kebanyakan : hanya pasang-pasang banner, bikin spanduk besar-besar.Untungnya lagi, di partai pengusung kami semua caleg tidak ada persaingan sebab semua caleg memiliki visi utama : meraih suara  untuk partai sebanyak mungkin,soal siapa yang nantinya terbanyak dipilih masyarakat, itulah yang mengemban amanah.  Tak muluk yang saya lakukan selain memperbanyak silaturahim, memperbanyak datang langsung ke kantung-kantung konstituen. Dan apa yang saya temukan? Ternyata pemilih terbesar, yaitu kaum perempuan justru tidak banyak yang tertarik memilih karena mereka apatis dan –mungkin- lelah dengan  pemilihan-pemilihan  pemimpin maupun anggota dewan yang menurut mereka tidak banyak memberi manfaat langsung bagi mereka.

tidak dapat disalahkan.Masyarakat hanyalah para penonton media yang disuguhi berbagai drama politik di negri ini.Namun jika saya ditanya mengapa masih mau dijadikan ‘caleg’ oleh partai politik yang saya usung sekarang?Mengapa harus banyak caleg perempuan yang nantinya menjadi anggota legeslatif (aleg) ?  Saya masih memiliki rasa optimisme terhadap caleg perempuan. Ditengah keapatisan masyarakat di negri ini, sejatinya para  perempuan yang benar-benar loyal dan tulus, akan mampu memberi perubahan dan suasana baru didalam dan diluar gedung dewan.Para caleg perempuan harus memenuhi jumlah yang  telah ditetapkan. Setidaknya ada tiga alasan mengapa caleg perempuan harus banyak dipilih masyarakat (terutama pemilih perempuan itu  sendiri).Ada harapan-harapan perubahan yang bisa diwujudkan oleh caleg permpuan
1.       1.Harapan Perbaikan Moral dan Mental Wakil Rakyat
Sekali lagi, tidak dipungkiri kekecewaan masyarakat terhadap tingkah polah para wakil yang telah dipilih mengemban amanah sebagai anggota dewan yang terhormat, ternyata sebagian dari mereka (yang terekspose, atau yang belum) menoreh kekecewaan di hati pemilihnya.Skandal moral para wakil rakyat yang begitu komplit di gedung dewan menggelisahkan masyarakatdan menerbitkan ketidakpercayaan. Disini tantangan para caleg perempuan untuk memberi kontribusi amar ma’ruf nahi mungkar dilingkungan parlemen jika ia terpilih menjadi salahsatu penghuni gedung perwakilan rakyat baik di pusat atau daerah.
Perempuan memiliki modal naluriah sebagai seorang istri dan ibu, banyaknya caleg perempuan yang mumpuni,vokal dan siap berjuang akan memberi harapan perbaikan moral dalam parlemen terkait perselingkuhan,korupsi dan penyimpangan-penyimpangan moral anggota Dewan
2.       2.Harapan Keberpihakan Regulasi Ramah Perempuan
Harapan kedua terhadap caleg perempuan tentu saja terkait tugas anggota parlemen untuk membuat dan menegakkan regulasi yang berpihak pada perempuan dalam semua permasalahan mereka. persoalan perempuan begitu banyak dan berkait kelindan dengan banyak pihak (suami,anak,masyarakat) membutuhkan aturan dan undang-undang yang melindungi perempuan secara adil dan tidak ambigu. Disini peran para aleg untuk memahami persoalan dan memberi kontribusi ide,pemikiran serta keberanian menyuarakannya. Untuk itulah perlunya caleg perempuan memiliki ilmu, kedalaman analisis, dan kemampuan memberikan solusi,bukan hanya ikut dan turut saja dengan apa yang diperintahkan fraksi/parpol pendukung. Setelah menjadi aleg, sejatinya para anggota dewan –khususnya- aleg perempuan adalah ‘milik rakyat’ dan konstituen yang diwakilinya, maka perlu keberanian menyuarakan keberpihakan pada kepentingan rakyat, khususnya perempuan sebagai basis konstituen.
3.       3.Harapan Advokasi Masalah-masalah Perempuan Oleh Anggota Dewan Perempuan
Ini harapan yang perlu sedikit konsistensi dan memerlukan keberanian. Para caleg perempuan sejatinya juga memiliki sensitifitas diluar gedung parlemen untuk mengadvokasi kebijakan pemerintah terkait masalah-masalah perempuan, atau memiliki kemampuan advokasi untuk persoalan perempuan dilapangan sehingga produk yang ia perjuangkan di parlemen dari pusat sampai daerah memiliki validitas. Dengan banyaknya caleg perempuan di dewan, ada harapan untuk saling bersinergi menuntaskan persoalan-persoalan perempuan di masyarakat.
So, jika pemilu sudah ada dihitungan jari dan kita peduli, mari bersinergi. Para caleg perempuan dan konstituennya harus sedekat dua jari, karena mereka akan saling melengkapi. Para caleg perempuan yang akan memenuhi gedung dewan pun bukan hanya pemenuh quota tanpa aksi nyata, bersinergi adalah cara ampuh mewujudkan harapan perbaikan negri melalui gedung-gedung perwakilan rakyat dan para caleg perempuan memiliki peluang untuk itu, Insya Allah.