Saya dan suami kadang ta’jub dengan kebesaran Allah mengatur rizki. Kadang disaat berbincang berdua, atau melihat anak-anak kami terlelap, atau menyapu pandangan kesekeliling rumah kontrakan kami, kami bernostalgia betapa ‘nekatnya’ kami memulai pernikahan ini.
Suami pernah bertanya “ Kok dulu Umi mau ya? Padahal abi dulu cuma bawa berapa ratus ribu di dompet setelah menikah. Haa..ha..tapi seingatku aku gak pernah minta Bapak (mertua saya,ed) lho, ya secara langsung gak pernah” katanya sok PD
“ Ya…itulah kelebihanku haa.ha.. mau menerima ‘ mahasiswa luar negri nekat ’ yang pulang ke Indonesia cuma buat nyari Istri. Setelah itu ditinggal pula” jawabku bangga.
“ Aku juga nggak pernah tuh seingatku minta Abah sepeserpun sejak menikah. Bahkan kakak juga ya yang bayar registrasi kuliahku tepat dua hari setelah nikah” lanjutku. Dan orangtua saya pun sejak putrinya dilamar oleh seorang ‘mahasiswa nekat’ itu sampai dengan hari ini tidak pernah menanyakan apa pekerjaan calon suami putrinya, penghasilan, atau dengan bahasa ekstrim akan kau beri makan apa anakku hai calon menantu? Itu juga yang membuat suamiku salut pada orangtua saya .he..he..
Perbincangan tentang kenekatan-kenekatan (atau lebih tepatnya ‘tawakkal’ aja ya?) dalam hal rezeki sering kami bahas dan sering kami buktikan bahwa rezeki benar-benar bukan semata hasil kita mengucurkan keringat.
Saat kami akhirnya memutuskan mengontrak sendiripun, suami saya adalah seorang lulusan universitas luar negeri yang baru meraba-raba rezeki di negeri sendiri. Beliau pun ‘orang baru’ di lingkunganku. Tapi entahlah, keyakinan pada pertolongan Allah bahwa kami akan meretas sukses itu lebih kuat. Saya juga tidak pernah merasa risau dengan uang belanja yang diberikan suami.he..he.. Ini sebenarnya ‘rahasia dapur’ tapi saya banyak melihat para istri yang terlalu cemas dengan pemberian suami entah merasa tidak cukup, atau ya... karena terlalu banyak keinginan. Apakah saya juga tidak? Ha..ha.. bukan begitu.
Saya pun seperti kebanyakan perempuan, senang dengan pemberian lebih suami. Namun rasanya kalau sampai terlalu menuntut suami belum pernah saya lakukan. Ya…kalau sekedar ‘sindiran-sindiran’ halus bernada guyon pernah saya lakukan. Tapi ada satu pujian yang saya rasakan tulus dari suami yang hingga kini menjadikan saya GR dan optimis bahwa saya masih dalam frame ‘istri yang bersyukur’ (he..he.. GR sekali ) ya. Begini kata suamiku “ Abi salut lho, Umi gak pernah terlihat cemas dengan ‘uang didompet’ umi –yang pasti jumlahnya tidak banyak- bahkan saat Abi berada diluar kota”. Hm.. itu yang membuat saya selalu percaya bahwa saya akan dicukupkan oleh Allah.
Benarlah saat Rasulullah mengatakan bahwa menikahlah maka kau akan kaya. Atau jaminan Allah tentang rizqi yang Dia sebarkan bagi siapa saja. Kecemasan tentang rizqi secara berlebihan akan menipiskan tawakkal kita pada Allah.
Entahlah, pernikahan mengajarkan pada saya untuk mempercayai bahwa rizqi yang mengalir pada kita berbanding lurus dengan usaha dhohir (nyata, contoh: bekerja) maupun non-dhohir. Rizqi kita dan keluarga kita kadang perlu ‘dipancing’ dengan amalan-amalan dan niat yang benar-benar lurus bahwa ada fadhilah-fadhilah (keutamaan) yang akan kita dapatkan dari amal ringan yang kita lakukan.
Memancing rizqi dengan banyak bersedekah, memberi makan orang-orang yang meminta pada kita, berbuat baik pada pembantu dan sesekali melebihkan upah mereka dengan niat sedekah kami lakukan untuk ‘membersihkan’ siakpa kita yang mungkin menyinggung mereka. Begitu pula dengan memperhatikan orang-orang lemah disekitar kita dengan memudahkan urusan mereka. Saya dan suami sering mencoba-coba begitu. Disaat kami dalam keadaan keuangan yang ‘tipis’ dan kami justru memberi atau membantu orang yang tiba-tiba datang dan meminta tolong, subhanallah! Allah menggantinya dengan cara yang unik dan lebih baik.
Begitu pula kami sering mengatakan bahwa hidup kami ini ‘pas-pasan’ he..he… Artinya ‘pas kami butuh, pas ada’. Luar biasa. Allah memang menjamin setiap kebutuhan kita. Yang harus kita lakukan hanyalah berikhtiar dan tidak malas serta bersyukur. Rizqi dirumah kita pun bermacam bentuknya. Mungkin kita tidak punya uang cash yang cukup banyak di dompet kita, atau tabungan yang besar di rekening bank. Tapi lihatlah, saat anak-anak kita sehat, tumbuh cerdas, suami kita bertanggungjawab, kita pun sehat dan dapat merawat keluarga?! Apakah itu bukan rizqi yang besar? Sementara mungkin kita melihat saudara-saudara kita diuji dengan anak yang sakit, kendaraan yang rusak atau ujian yang menyebabkan rizki ‘dhohir’ yang kita sebut ‘uang’ itu keluar untuk pembiayaan.
Sungguh…menikah adalah pelajaran luar bisa tentang menjaga izzah dan keberanian untuk menghadapi hidup kita sendiri, menciptakan keberkahan dari dalam rumah kita melalui kerjakeras dan syukur. Selamat berjuang!
Blog untuk menuangkan ide-ide segar, benar dan wajar untuk kaum perempuan. Blog pribadi ini saya dedikasikan untuk berbagi inspirasi, semangat, dan cita-cita untuk berbagai peran perempuan sebagai anak, sebagai istri,sebagai ibu, sebagai sahabat, dan pegiat kebaikan di masyarakatnya. Selamat bersinergi agar energi keperempuanan kita mencerdaskan semesta!
Kamis, 28 Januari 2010
Minggu, 20 Desember 2009
Tahun Baru Hijriyah : Ibrah bagi Aktifis Dakwah
Kita adalah umat yang sering diperintahkan Allah untuk mengambil pelajaran dari semua peristiwa. Karenanya Allah sering memantik rasa dan kecerdasan kita dengan 'agar kamu ingat', 'agar kalian berpikir', 'agar kalian mengambil pelajaran'. Sungguh itupun terjadi dalam peringatan-peringatan hari-hari besar Islam, apakah Idul Adha yang barusaja berlalu atau Tahun Baru Hijriyah yang akan kita jelang. Taka ada larangan dalam MEMPERINGATINYA namun mungkin kita tak perlu melakukan perayaan-perayaan sebagaimana kaum lain merayakan tahun baru mereka. Sebab, sangat dimungkinkan perayaan itu menghilangkan esensi dari peristiwanya.Dan akhirnya kita hanya terjebak pada euphoria perayaannya. itu sja prolog tulisan ini
LATAR BELAKANG TAHUN HIJRIYAH
Khalifah Umar Ibnul Khattabb (al-Faruq) adalah kholifah yang banyak melahirkan produk-produk baru dalam pemerintahannya.Pada masa pemerintahan beliau, kekuasaan Islam sudah mencapai 1/3 bagian dunia. Namun umat Islam yang telah memiliki kekuasaan itu, belummemiliki sistem penanggalannya sendiri. Pada saat itu yang berlaku adalah penanggalan Romawi, Tahun Gajah, penanggalan-penanggalan jahiliyyah.Itulah yang dipertanyakan dan diusulkan oleh salah satu gubernur Al-Faruq diangkat menjadyang bernama Abu Musa al-Asy'ari. Maka ia mengusulkan pada Umar tentang penanggalan Islam.
Mulailah Umar ra mengumpulkan para shabat dan sharing ide dengan mereka. Mana tahu ada usulan-usulan pun muncul. Ada yang usulan dari para sahabat tntang kapan dimulainya penanggalan Islam. Maka berbagai usul muncul. Ada yang berpatokan pada peristiwa Fathkhu Mekkah, ada yang usul saat Rasulullah mulai diangkat menjadi Rasul, Bahkan ada yang usul hr kematian Rasulullah.
Akhirnya umar cenderung kepada usulan Ali bin abu thalib. Ali mengusulkan bahwa peristiwa Hijrah sangat layak menjadi awal di penanggalan itu. Bahwa hijrah menjadi peristiwa yang membuktikan orang-orang yang telah lulus dalam turbulensi dakwah di Mekkah dan membuktikan loyalitasnya pada Islam dan pada perintah Allah dengan adanya peristiwa Hijrah....
HAKIKAT HIJRaH
Hijrah secara maknawiyah memang berarti meninggalkan apa-apa yang diarang Allah dan menimbulkan dosa. Hijrah juga dapat bermakna bahw akita diberi kesempatana oleh Allah untuk mengarungi bumi Allah yang luas, dimanapun kita melangkah, ada banyak peluang kebaikan. Kitapun diseru untuk menyebar diseluruh bumi, mencari penghidupan dan mnyebarkan syiar Islam.
IBRAH KHUSUS HIJRAH : PROFIL dan Karakter Pendukung Setia Dakwah
Peristiwa hijrah bukanlah peristiwa perjalanan yang menyenangkan.Umat Islam pada saat itu tidak dalam kondisi ayang aman.Tak heran jika peristiwa Hijrah itu memiliki keutamaan yang besar disisi Allah.Namun para sahabta utama memberikah teladan dalam mengarungi ujian dakwah dan pembuktian ketaatan itu
1. Pelajaran dari Keberanian UMAR Ibnul Khattab
Umar melakukan hijrah dengan cara berbeda. Disaat para sahabat yang lain melakukan hijrah dengan sembunyi2, maka Umar dengan menyadari kekuatan dirinya justru mengumumkan terang-terangan hijrahnya dengan 'menatang' penduduka Makkah : "siapa yang ingin istrinya menjadi janda dan anaknya jadi yatim,maka silakan menemuiku dibalik bukit ini"
dan benarlah. Semua penduduk Makkah tidak bergeming. membiarkan Umar berhijrah dengan mulus. Apa ibrahnya? Apakah ini kesombongan Umar? Sekali-kali tidak! Umar sedang mengajarkan pada kita bagaimana sebuah keberanian itu lahir dari kemampuan mengukur potensi diri, kesiapan diri. Keberanian bukanlah kenekatan. Umar sangat tau dan dapat mengukur potensi, peluang dan akhirnya menjahrkan hijrahnya. Begitupula kita sebagai aktifis dakwah, jika memang kita telah percaya diri dengan kekuatan kita, optimis dan yakin dengan kebenaran yang kita bawa, maka tidak adaalasana kita terus 'bersembunyi' dalam syiar-syiar dakwah kita
2. Kesetiaan dan Kepedulian Abu Bakar Ash-shidiq pada Qiyadahnya (pemimpinnya)
Siapa tak mengenal sosok ini? dari awal hingga akhir ia menjadi sosok pembela Rasulullah. dia yang menemani Rasulullah dalam perjalanan hijrah yang tidak mudah.Menemani bersembunyi di gua Tsur yang menurut shiroh terdapat banyak lubang ular dan goa itu sangat sempit. Sehingga dengan sangat khawatir trehadap keselamatan Murabbinya, Abu Bakar mengetakan "Wahai Rasulullah bagaimana jika mereka melihat kaki kita?" Dan rasulullah menjawab : " Bagaimana jika ada tiga dan yang satu Allah? Sesungguhnya Allah bersama kita"
Bahkan Abubakar merelakan pahanya digigit ular demi menjaga agar RAsulullah tidak terbangun dari tidur beliau yang bersandarkan pahanya.Luar biasa
Didalam dakwah, ksetiaan dan kepedulian kita pada qiyadah, pemimpin sangat penting. Janganlah kita selalu menuntut bahwa murabbi, pemimpin kita selalu peduli kita namun kita jarang peduli terhadap kondisi murabbi, naqib, pemimpin kita dalam dakwah
3. Pengorbanan Ali untuk Qiyadahnya
Malam itu, siapa sosok yang telah siap mati terbunuh menggantikan Rasulullah?Dialah Ali bin Abu Thalib. Rencana pembunuhan Rasulullah oleh para pemuda Quraisy telah final dimalam itu. Ali pun telah siap tidur berselimut jubah Rasulullah untuk menggantikan nyawa Rasulullah.
pengorbanan yang sangat-sangat menyentuh wilayah pribadi. Ini bukan hanya berkorban untuk seruan dakwah yang umum. ini berkorban nyawa untuk seorang pemimpin. Sungguh, jika tidak ada kecintaan, loyalitas dan rasa bela, hal ini mustahil dilakukan. Kesadaran bahwa dakwah memerlukan Rasulullah lebih besar daripada kecintaan Ali terhadap dirinya. Kita sebagai kader dakwah mungkin belum sampai pada pengorbanan yang menyentuh wilyah pribadi. Kita belum diminta mengorbankan anak kita sebagaimana Ibrahim, kita belum diminta menggantikan qiyadah untuk misi bertaruh nyawa. Namun kita masih sering menolak untuk tugas-tugas dan taklimat dakwah yang sebenarnya bisa kita lakukan seandainya kita tak mengajukan banyak alasan.
4. Kreatifitas dan Kesungguhan Putra Putri Abu Bakar
Dalam momentum hijrah, putra putri Abu Bakar layak menjadi kader-kader muda brilian. Abdullah bin Abu Bakar dengan cerdas memainkan peran 'intelejen' yang cerdik. Di pagi dan siang hari Abdullah dengan sangat cool mengikuti forum-forum Quraisy, menyaring segala informasi, ikut 'nimbrung' dalam diskusi-diskusi mereka seolah-olah taka ada apa-apa. Dan dimalam harinya Abdullah melaporkan pada ayahandanya dan Rasulullah di goa Tsur.Rapi dan cerdik.
begitu pula Asma' dan Aisyuah yang diusai belia mereka sudah menunjukkan loyalitas dan besarnya peran perempuan dalam dakwah.tugas membawa dan mengantarkan bekal untuk Rasulullah dan ayah merak tent bukan tanpa resiko. perempuan-perempuan yang digembleng oleh dakwah generasi awal itu teguh, pemberani, sangat besarpengorbanannya. ide membagi dua ikat pinggang yang dilakukan Asma' menunjukkan kreatifitas dan kecakapan
ibrah : dakwah memerlukan kader-kader yang kreatif, jeli, teliti dan siap berkorban untuk misi dakwah. Tua, muda semua melakukan peran-peran yang mampun mereka lakukan. Tidak ad alasan bagi para kader dan aktivis dakwah untuk 'duduk-duduk' dan bersantai sebabb pkerjaan dawah ini sangat banyak!
IBRAH UMUM
secara Umum, hijrah Rasulullah memberikan ibrah sebagai berikut
1. Pengorbanan dan Keikhlasan
ditunjukkan oleh Muhajirin dan Anshor yang mereka dijaminkan kemuliaan karena pengorbanan mereka. kaum muhajirin meninggalkan apa-apa yang mereka punya di kampunghalamannya (harta, keluarga, jabatan, kenyamanan) dan Kaum Anshor rela berbagi apapun yang mereka miliki untuk saudara-saudara mereka kaum Muhajirin. Padahal kaum Anshorpun bukan orang-orang kaya.
bahwa sebagai aktivis dakwah kita harus mampun memunculkan keikhlasan dan pengorbanan yang mungkin menyentuh wilayah-wilayah pribadi kita.
2. Kreatifitas dan Optimis
Hijrah memberikan ibrah bahwa kita para aktivis dakwah harus selalu optimis dan kreatif dalam memunculkan ide-iede baru dan semangat dalam mengelola dakwah ini. Jangan hanya mengalir dan puas menjadi penonton sja. Kreatifitas menghadapi objek dakwah yang berbeda kultur, usi adan latarbelakang menjadikan kita terus berpikr memenangkan dakwah.
3. Kerjakeras dan Tawakkal
Mengapa Hijrah Rasulullah tidak bergelimang fasilitas padahal Rsulullah diberi fasilitas Bouraq pada saat isra' mi'raj? :) Mengapa Rasulullah tidak meminta kemudahan dri Allah?
Luar biasa. Hijrah dn prosesnya menunjukkan pada kita bahwa setiap hal dalam dakwah ini sangat memerlukan kerja keras. proses dan ikhtiar mendahului tawakkal. rasulullah mengatur strategi, menyewa penunjuk jalan dan menyuruhnya berputar, bersembunyi 3 hari agar jejakmereka tertiup angin, para sahabat diatas dengan perannya masing-masing mensukseskan proyek hijrah dengan sungguh-sungguh. Dan Allahpun memberikan pertolongan-pertolongan yang bukan 'sim salabim'.
inilah pelajaran bahwa kita harus terus bekerja keras dalam dakwah. Tidak boleh kita mendahulukan 'tawakkal' dan menggantungkan pada hal-hal yang kbetulan. Sifat 'njagakne' danseenaknya dalam dakwah tidak akan mendatangkan kebaikan apalagi pertolongan Allah. Pertolongan Allah harus kita upayakan agar kita pantas mendapatkannya
demikian rangkuman dari kajian menjelang tahun baru ijriyah yang mampu saya serap dan saya 'tularkan' kembali semoga menjadi inspirasi dan semnagt baru, khususnya untuk diri saya. Maaf jika terlalu panjang...Maturnuwun kepada Ust. Hatta Syamsuddin, Lc :) atas kajiannya sore itu.
LATAR BELAKANG TAHUN HIJRIYAH
Khalifah Umar Ibnul Khattabb (al-Faruq) adalah kholifah yang banyak melahirkan produk-produk baru dalam pemerintahannya.Pada masa pemerintahan beliau, kekuasaan Islam sudah mencapai 1/3 bagian dunia. Namun umat Islam yang telah memiliki kekuasaan itu, belummemiliki sistem penanggalannya sendiri. Pada saat itu yang berlaku adalah penanggalan Romawi, Tahun Gajah, penanggalan-penanggalan jahiliyyah.Itulah yang dipertanyakan dan diusulkan oleh salah satu gubernur Al-Faruq diangkat menjadyang bernama Abu Musa al-Asy'ari. Maka ia mengusulkan pada Umar tentang penanggalan Islam.
Mulailah Umar ra mengumpulkan para shabat dan sharing ide dengan mereka. Mana tahu ada usulan-usulan pun muncul. Ada yang usulan dari para sahabat tntang kapan dimulainya penanggalan Islam. Maka berbagai usul muncul. Ada yang berpatokan pada peristiwa Fathkhu Mekkah, ada yang usul saat Rasulullah mulai diangkat menjadi Rasul, Bahkan ada yang usul hr kematian Rasulullah.
Akhirnya umar cenderung kepada usulan Ali bin abu thalib. Ali mengusulkan bahwa peristiwa Hijrah sangat layak menjadi awal di penanggalan itu. Bahwa hijrah menjadi peristiwa yang membuktikan orang-orang yang telah lulus dalam turbulensi dakwah di Mekkah dan membuktikan loyalitasnya pada Islam dan pada perintah Allah dengan adanya peristiwa Hijrah....
HAKIKAT HIJRaH
Hijrah secara maknawiyah memang berarti meninggalkan apa-apa yang diarang Allah dan menimbulkan dosa. Hijrah juga dapat bermakna bahw akita diberi kesempatana oleh Allah untuk mengarungi bumi Allah yang luas, dimanapun kita melangkah, ada banyak peluang kebaikan. Kitapun diseru untuk menyebar diseluruh bumi, mencari penghidupan dan mnyebarkan syiar Islam.
IBRAH KHUSUS HIJRAH : PROFIL dan Karakter Pendukung Setia Dakwah
Peristiwa hijrah bukanlah peristiwa perjalanan yang menyenangkan.Umat Islam pada saat itu tidak dalam kondisi ayang aman.Tak heran jika peristiwa Hijrah itu memiliki keutamaan yang besar disisi Allah.Namun para sahabta utama memberikah teladan dalam mengarungi ujian dakwah dan pembuktian ketaatan itu
1. Pelajaran dari Keberanian UMAR Ibnul Khattab
Umar melakukan hijrah dengan cara berbeda. Disaat para sahabat yang lain melakukan hijrah dengan sembunyi2, maka Umar dengan menyadari kekuatan dirinya justru mengumumkan terang-terangan hijrahnya dengan 'menatang' penduduka Makkah : "siapa yang ingin istrinya menjadi janda dan anaknya jadi yatim,maka silakan menemuiku dibalik bukit ini"
dan benarlah. Semua penduduk Makkah tidak bergeming. membiarkan Umar berhijrah dengan mulus. Apa ibrahnya? Apakah ini kesombongan Umar? Sekali-kali tidak! Umar sedang mengajarkan pada kita bagaimana sebuah keberanian itu lahir dari kemampuan mengukur potensi diri, kesiapan diri. Keberanian bukanlah kenekatan. Umar sangat tau dan dapat mengukur potensi, peluang dan akhirnya menjahrkan hijrahnya. Begitupula kita sebagai aktifis dakwah, jika memang kita telah percaya diri dengan kekuatan kita, optimis dan yakin dengan kebenaran yang kita bawa, maka tidak adaalasana kita terus 'bersembunyi' dalam syiar-syiar dakwah kita
2. Kesetiaan dan Kepedulian Abu Bakar Ash-shidiq pada Qiyadahnya (pemimpinnya)
Siapa tak mengenal sosok ini? dari awal hingga akhir ia menjadi sosok pembela Rasulullah. dia yang menemani Rasulullah dalam perjalanan hijrah yang tidak mudah.Menemani bersembunyi di gua Tsur yang menurut shiroh terdapat banyak lubang ular dan goa itu sangat sempit. Sehingga dengan sangat khawatir trehadap keselamatan Murabbinya, Abu Bakar mengetakan "Wahai Rasulullah bagaimana jika mereka melihat kaki kita?" Dan rasulullah menjawab : " Bagaimana jika ada tiga dan yang satu Allah? Sesungguhnya Allah bersama kita"
Bahkan Abubakar merelakan pahanya digigit ular demi menjaga agar RAsulullah tidak terbangun dari tidur beliau yang bersandarkan pahanya.Luar biasa
Didalam dakwah, ksetiaan dan kepedulian kita pada qiyadah, pemimpin sangat penting. Janganlah kita selalu menuntut bahwa murabbi, pemimpin kita selalu peduli kita namun kita jarang peduli terhadap kondisi murabbi, naqib, pemimpin kita dalam dakwah
3. Pengorbanan Ali untuk Qiyadahnya
Malam itu, siapa sosok yang telah siap mati terbunuh menggantikan Rasulullah?Dialah Ali bin Abu Thalib. Rencana pembunuhan Rasulullah oleh para pemuda Quraisy telah final dimalam itu. Ali pun telah siap tidur berselimut jubah Rasulullah untuk menggantikan nyawa Rasulullah.
pengorbanan yang sangat-sangat menyentuh wilayah pribadi. Ini bukan hanya berkorban untuk seruan dakwah yang umum. ini berkorban nyawa untuk seorang pemimpin. Sungguh, jika tidak ada kecintaan, loyalitas dan rasa bela, hal ini mustahil dilakukan. Kesadaran bahwa dakwah memerlukan Rasulullah lebih besar daripada kecintaan Ali terhadap dirinya. Kita sebagai kader dakwah mungkin belum sampai pada pengorbanan yang menyentuh wilyah pribadi. Kita belum diminta mengorbankan anak kita sebagaimana Ibrahim, kita belum diminta menggantikan qiyadah untuk misi bertaruh nyawa. Namun kita masih sering menolak untuk tugas-tugas dan taklimat dakwah yang sebenarnya bisa kita lakukan seandainya kita tak mengajukan banyak alasan.
4. Kreatifitas dan Kesungguhan Putra Putri Abu Bakar
Dalam momentum hijrah, putra putri Abu Bakar layak menjadi kader-kader muda brilian. Abdullah bin Abu Bakar dengan cerdas memainkan peran 'intelejen' yang cerdik. Di pagi dan siang hari Abdullah dengan sangat cool mengikuti forum-forum Quraisy, menyaring segala informasi, ikut 'nimbrung' dalam diskusi-diskusi mereka seolah-olah taka ada apa-apa. Dan dimalam harinya Abdullah melaporkan pada ayahandanya dan Rasulullah di goa Tsur.Rapi dan cerdik.
begitu pula Asma' dan Aisyuah yang diusai belia mereka sudah menunjukkan loyalitas dan besarnya peran perempuan dalam dakwah.tugas membawa dan mengantarkan bekal untuk Rasulullah dan ayah merak tent bukan tanpa resiko. perempuan-perempuan yang digembleng oleh dakwah generasi awal itu teguh, pemberani, sangat besarpengorbanannya. ide membagi dua ikat pinggang yang dilakukan Asma' menunjukkan kreatifitas dan kecakapan
ibrah : dakwah memerlukan kader-kader yang kreatif, jeli, teliti dan siap berkorban untuk misi dakwah. Tua, muda semua melakukan peran-peran yang mampun mereka lakukan. Tidak ad alasan bagi para kader dan aktivis dakwah untuk 'duduk-duduk' dan bersantai sebabb pkerjaan dawah ini sangat banyak!
IBRAH UMUM
secara Umum, hijrah Rasulullah memberikan ibrah sebagai berikut
1. Pengorbanan dan Keikhlasan
ditunjukkan oleh Muhajirin dan Anshor yang mereka dijaminkan kemuliaan karena pengorbanan mereka. kaum muhajirin meninggalkan apa-apa yang mereka punya di kampunghalamannya (harta, keluarga, jabatan, kenyamanan) dan Kaum Anshor rela berbagi apapun yang mereka miliki untuk saudara-saudara mereka kaum Muhajirin. Padahal kaum Anshorpun bukan orang-orang kaya.
bahwa sebagai aktivis dakwah kita harus mampun memunculkan keikhlasan dan pengorbanan yang mungkin menyentuh wilayah-wilayah pribadi kita.
2. Kreatifitas dan Optimis
Hijrah memberikan ibrah bahwa kita para aktivis dakwah harus selalu optimis dan kreatif dalam memunculkan ide-iede baru dan semangat dalam mengelola dakwah ini. Jangan hanya mengalir dan puas menjadi penonton sja. Kreatifitas menghadapi objek dakwah yang berbeda kultur, usi adan latarbelakang menjadikan kita terus berpikr memenangkan dakwah.
3. Kerjakeras dan Tawakkal
Mengapa Hijrah Rasulullah tidak bergelimang fasilitas padahal Rsulullah diberi fasilitas Bouraq pada saat isra' mi'raj? :) Mengapa Rasulullah tidak meminta kemudahan dri Allah?
Luar biasa. Hijrah dn prosesnya menunjukkan pada kita bahwa setiap hal dalam dakwah ini sangat memerlukan kerja keras. proses dan ikhtiar mendahului tawakkal. rasulullah mengatur strategi, menyewa penunjuk jalan dan menyuruhnya berputar, bersembunyi 3 hari agar jejakmereka tertiup angin, para sahabat diatas dengan perannya masing-masing mensukseskan proyek hijrah dengan sungguh-sungguh. Dan Allahpun memberikan pertolongan-pertolongan yang bukan 'sim salabim'.
inilah pelajaran bahwa kita harus terus bekerja keras dalam dakwah. Tidak boleh kita mendahulukan 'tawakkal' dan menggantungkan pada hal-hal yang kbetulan. Sifat 'njagakne' danseenaknya dalam dakwah tidak akan mendatangkan kebaikan apalagi pertolongan Allah. Pertolongan Allah harus kita upayakan agar kita pantas mendapatkannya
demikian rangkuman dari kajian menjelang tahun baru ijriyah yang mampu saya serap dan saya 'tularkan' kembali semoga menjadi inspirasi dan semnagt baru, khususnya untuk diri saya. Maaf jika terlalu panjang...Maturnuwun kepada Ust. Hatta Syamsuddin, Lc :) atas kajiannya sore itu.
Investasi Generasi : Sebuah Harapan Tawakkal
Program Investasi Generasi (mendapatkan buah hati): Pembuktian Tawakkal
Aku menikah di tahun 2004. Seperti kebanyakan pasangan, bayangan segera mempunyai generasi baru pasti menggebu. Akupun sering mndengarkan 'curhat' teman dan saudara tentang kegelisahan mereka menanti buah hati.Tapi Allah tentu lebih tau kesiapan kita. Aku sering mendengar orang-orang sekitar kita tanpa sadar ‘mendikte’ Allah dan menyinggung orang lain (biasanya sesama perempuan) meskipun dengan bercanda. Begini seringnya candaan mereka:
“ Kapan nih nikah? Kok nggak cepet-cepet nikah. Milih-milih ya?” Itu pada yang belum menikah. Lalu, selanjutnya
“ Aduh kapan nih rencana punya momongan. Tunggu apalagi? “ atau “Kok belum dapet ‘laba’ nih…belum rencana punya anak,ya?” itu pada yang sudah menikah tapi belum juga berputra. Begitu seterusnya kalau anak sudah ada, pertanyaan muncul kapan nambah lagi? Mungkin itu juga yang menjadi inspirasi sebuah iklan kontrasepsi di televisi.
Program investasi generasi. Begitu saya dan suami menamakan. Sebab memang anak, keturunan adalah sebuah ‘investasi’. Mereka bisa menguntungkan untuk dunia akhirat jika kita bisa dan benar merawatnya. Sebaliknya, bisa menjadi fitnah jika kita salah dalam orientasi memilikinya dan lalai dalam mendidiknya. Dan yang penting diingat : kita hanya bisa MERENCANAKAN dan memohon kepercayaan dari Allah. Kita tidak berhak mendikte Allah dan mendesak atau bahkan menyinggung orang-orang yang belum memilikinya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti diatas.
Saya sering menghibur teman-teman yang belum berputra dengan mengatakan " Allah masih menginginkanmu memberikan banyak sedekah waktu dan produktifitas amal yang belum tentu lho bisa kau lakukan saat sudah berputra.he..he..Berkhusnudhon saja ya...?"
Begitulah. Layaknya sebuah investasi, Allah menuntunkan kita benar-benar lurus dalam usaha menanamkan benih dirahim kita. Sejak awal hubungan biologis orang-orang beriman dituntunkan untuk berdo’a. Bismillahi Allahumma jannibnasy syaithon wajanibnasy syaithona maa razaqtana.
Begini terjemahan hadits lengkapnya. Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah bersabda:
“Sekiranya salah seorang diantara kalian menggauli istrinya lalu ia mengucapkan ‘Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami’, maka sekiranya Dia mengaruniakanseorang anak kepada keduanya, maka anaknya itu tidak akan dibahayakan oleh setan selama-lamanya “.
Sungguh sebuah amanah yang besar itu selayaknya pula dipersiapkan dengan tuntunan Allah. Tidak ada sebuah rencana bagi kita yang mengaku beriman ini tanpa melibatkan Allah dalam segala urusan dan hajat kita.
Program investasi generasi ini menurutku juga benar-benar akan menguji ketawakalan kita sebagai hamba. Bahwa kesenangan, harapan dan cita-cita mendapatkan anak yang sholeh, banyak dan sehat tentulah tidak cukup dengan persiapan dhohir dengan program-program makanan sehat, tips agar cepat mendapat keturunan, namun lebih dari itu.
Keyakinan bahwa Allah yang menjadikan benih itu tumbuh dirahim kita, Allah yang melahirkannya, termasuk Allah yang memilihkan jenis kelamin anak-anak kita, atau bahkan menjadikan kita tak berputra, harus terus kita pelihara. Semua itu agar tidak ada harapan yang pupus ataupun percaya diri berlebihan yang melahirkan sikap berbangga. Termasuk berbangga dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sungguh benar Allah berfirman dalam Q.S. Asy-Syura (42) : 49-50
“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, (QS.42 : 49)
“atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki.Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.(QS.42:50)
Ya, anak-anak kita adalah investasi generasi. Mari mempersiapkannya dan terus memohon kepada Allah agar kita ridho atas semua kehendak Allah atas kita,pasangan kita, dan anak-anak kita.Berdo'a dan bersabar akan datanganya amanah itu akan lebih baik daripada kita menebak-nebak. Wallahu a’lam bish shawwab
Aku menikah di tahun 2004. Seperti kebanyakan pasangan, bayangan segera mempunyai generasi baru pasti menggebu. Akupun sering mndengarkan 'curhat' teman dan saudara tentang kegelisahan mereka menanti buah hati.Tapi Allah tentu lebih tau kesiapan kita. Aku sering mendengar orang-orang sekitar kita tanpa sadar ‘mendikte’ Allah dan menyinggung orang lain (biasanya sesama perempuan) meskipun dengan bercanda. Begini seringnya candaan mereka:
“ Kapan nih nikah? Kok nggak cepet-cepet nikah. Milih-milih ya?” Itu pada yang belum menikah. Lalu, selanjutnya
“ Aduh kapan nih rencana punya momongan. Tunggu apalagi? “ atau “Kok belum dapet ‘laba’ nih…belum rencana punya anak,ya?” itu pada yang sudah menikah tapi belum juga berputra. Begitu seterusnya kalau anak sudah ada, pertanyaan muncul kapan nambah lagi? Mungkin itu juga yang menjadi inspirasi sebuah iklan kontrasepsi di televisi.
Program investasi generasi. Begitu saya dan suami menamakan. Sebab memang anak, keturunan adalah sebuah ‘investasi’. Mereka bisa menguntungkan untuk dunia akhirat jika kita bisa dan benar merawatnya. Sebaliknya, bisa menjadi fitnah jika kita salah dalam orientasi memilikinya dan lalai dalam mendidiknya. Dan yang penting diingat : kita hanya bisa MERENCANAKAN dan memohon kepercayaan dari Allah. Kita tidak berhak mendikte Allah dan mendesak atau bahkan menyinggung orang-orang yang belum memilikinya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti diatas.
Saya sering menghibur teman-teman yang belum berputra dengan mengatakan " Allah masih menginginkanmu memberikan banyak sedekah waktu dan produktifitas amal yang belum tentu lho bisa kau lakukan saat sudah berputra.he..he..Berkhusnu
Begitulah. Layaknya sebuah investasi, Allah menuntunkan kita benar-benar lurus dalam usaha menanamkan benih dirahim kita. Sejak awal hubungan biologis orang-orang beriman dituntunkan untuk berdo’a. Bismillahi Allahumma jannibnasy syaithon wajanibnasy syaithona maa razaqtana.
Begini terjemahan hadits lengkapnya. Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah bersabda:
“Sekiranya salah seorang diantara kalian menggauli istrinya lalu ia mengucapkan ‘Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami’, maka sekiranya Dia mengaruniakanseorang anak kepada keduanya, maka anaknya itu tidak akan dibahayakan oleh setan selama-lamanya “.
Sungguh sebuah amanah yang besar itu selayaknya pula dipersiapkan dengan tuntunan Allah. Tidak ada sebuah rencana bagi kita yang mengaku beriman ini tanpa melibatkan Allah dalam segala urusan dan hajat kita.
Program investasi generasi ini menurutku juga benar-benar akan menguji ketawakalan kita sebagai hamba. Bahwa kesenangan, harapan dan cita-cita mendapatkan anak yang sholeh, banyak dan sehat tentulah tidak cukup dengan persiapan dhohir dengan program-program makanan sehat, tips agar cepat mendapat keturunan, namun lebih dari itu.
Keyakinan bahwa Allah yang menjadikan benih itu tumbuh dirahim kita, Allah yang melahirkannya, termasuk Allah yang memilihkan jenis kelamin anak-anak kita, atau bahkan menjadikan kita tak berputra, harus terus kita pelihara. Semua itu agar tidak ada harapan yang pupus ataupun percaya diri berlebihan yang melahirkan sikap berbangga. Termasuk berbangga dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sungguh benar Allah berfirman dalam Q.S. Asy-Syura (42) : 49-50
“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, (QS.42 : 49)
“atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki.Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.(QS.42:50)
Ya, anak-anak kita adalah investasi generasi. Mari mempersiapkannya dan terus memohon kepada Allah agar kita ridho atas semua kehendak Allah atas kita,pasangan kita, dan anak-anak kita.Berdo'a dan bersabar akan datanganya amanah itu akan lebih baik daripada kita menebak-nebak. Wallahu a’lam bish shawwab
Dua Tahun Benih Cendekia : Tawaran Partisipasi
Rumah "BC" 2 Des 2007- 2 Desember 2009
Alhamdulillah.. meskipun masih tertatih mewujudkan idealisme, masih menjadi 'benih' yang mencoba tersemai dan tumbuh.Namun belajar adalah keniscayaan dan pantang menyerah adalah pena yang tak boleh mengering.Mengajak sahabat, teman, saudara yang memiliki kepedulian yang sama dalam meretas jalan mencerdaskan diri dan sesama dalam tawaran partisipasi Rumah Baca dan Rumah Karya kami di Tahun Kedua ini:
1. Books Box Drop Jauh Dekat
Program pengumpulan buku baru dan bekas baik buku pelajaran, buku-buku pendidikan (parenting), majalah, novel yang mendidik, buku-buku ketrampilan hidup,bundel majalah dan semua bahan bacaan yang bermanfaat untuk anak, remaja, perempuan, umum.
Kami juga berharap para penerbit buku untuk dapat menyumbangkan buku-buku pada kami baik secara langsung maupun bekerjasama dalam event-event tertentu.
Dapat dikirimkan ke : Rumah baca BENIH CENDEKIA d.a Bp/Ibu Hatta Syamsuddin Jl. s. Langkat no 11, Sawahan Sangkrah Rt.01/XI Pasarkliwon Solo 57119 Cp.081329460601
Jarak dekat (Kota Solo) kami bersedia mengambil kerumah/institusi Anda
2. Relawan Pendidikan
Anda seorang trainer?Pendongeng? Guru lukis? Apapun,siapapun Anda yang peduli pendidikan atau Berminat menjadi mentor sukarela dalam program pendampingan belajar SD? kami menunggu partisipasi Anda bergabung mencerdaskan generasi
3. Sumbangan Media Belajar dan Kreatifitas
Berupa sumbangan media belajar : crayon, cat lukis, kanvas, mainan edukatif (bekas atau baru), rak buku, papan tulis, gambar tempel dsb
4.Infaq Dana Kegiatan
Berupa infaq dana partisipasi untuk mensupport kegiatan kami.Dapat Dikirim ke Rekeneing BSM atas nama Robi'ah al Adawiyah No rekening 0120151625
5. Penyuluh Parenting
Anda dapat bergabung dalam program 'Penyuluhan Pendidikan Keluarga' yang memberikan penyuluhan pada ibu-ibu di kampung tentang pendidikan anak, komunikasi keluarga, kesehatan keluarga, dll
Program Kegiatan Andalan Kami Terbaru
1. Kursus Murah Bahasa Inggris Untuk SMP-SMU (sementara masih memerlukan Guru untuk SMU, jadi yang berjalan baru SMP) setiap rabu sore
2. Kelas Belajar Membaca Usia TK (persiapan SD)
hari: Jumat sore. masih membutuhkan relawan
3. Pendampingan Belajar untuk SD kelas 4,5,6 setiap kamis dan sabtu pk 14.30-16.00
4. Penyuluhan Pendidikan Keluarga (setiap bulan)
demikian catatan kecil ini semoga mengetuk hati siapapun yang bersemangat dalam menyemai benih-benih kebaikan.Amiin
Alhamdulillah.. meskipun masih tertatih mewujudkan idealisme, masih menjadi 'benih' yang mencoba tersemai dan tumbuh.Namun belajar adalah keniscayaan dan pantang menyerah adalah pena yang tak boleh mengering.Mengajak sahabat, teman, saudara yang memiliki kepedulian yang sama dalam meretas jalan mencerdaskan diri dan sesama dalam tawaran partisipasi Rumah Baca dan Rumah Karya kami di Tahun Kedua ini:
1. Books Box Drop Jauh Dekat
Program pengumpulan buku baru dan bekas baik buku pelajaran, buku-buku pendidikan (parenting), majalah, novel yang mendidik, buku-buku ketrampilan hidup,bundel majalah dan semua bahan bacaan yang bermanfaat untuk anak, remaja, perempuan, umum.
Kami juga berharap para penerbit buku untuk dapat menyumbangkan buku-buku pada kami baik secara langsung maupun bekerjasama dalam event-event tertentu.
Dapat dikirimkan ke : Rumah baca BENIH CENDEKIA d.a Bp/Ibu Hatta Syamsuddin Jl. s. Langkat no 11, Sawahan Sangkrah Rt.01/XI Pasarkliwon Solo 57119 Cp.081329460601
Jarak dekat (Kota Solo) kami bersedia mengambil kerumah/institusi Anda
2. Relawan Pendidikan
Anda seorang trainer?Pendongeng? Guru lukis? Apapun,siapapun Anda yang peduli pendidikan atau Berminat menjadi mentor sukarela dalam program pendampingan belajar SD? kami menunggu partisipasi Anda bergabung mencerdaskan generasi
3. Sumbangan Media Belajar dan Kreatifitas
Berupa sumbangan media belajar : crayon, cat lukis, kanvas, mainan edukatif (bekas atau baru), rak buku, papan tulis, gambar tempel dsb
4.Infaq Dana Kegiatan
Berupa infaq dana partisipasi untuk mensupport kegiatan kami.Dapat Dikirim ke Rekeneing BSM atas nama Robi'ah al Adawiyah No rekening 0120151625
5. Penyuluh Parenting
Anda dapat bergabung dalam program 'Penyuluhan Pendidikan Keluarga' yang memberikan penyuluhan pada ibu-ibu di kampung tentang pendidikan anak, komunikasi keluarga, kesehatan keluarga, dll
Program Kegiatan Andalan Kami Terbaru
1. Kursus Murah Bahasa Inggris Untuk SMP-SMU (sementara masih memerlukan Guru untuk SMU, jadi yang berjalan baru SMP) setiap rabu sore
2. Kelas Belajar Membaca Usia TK (persiapan SD)
hari: Jumat sore. masih membutuhkan relawan
3. Pendampingan Belajar untuk SD kelas 4,5,6 setiap kamis dan sabtu pk 14.30-16.00
4. Penyuluhan Pendidikan Keluarga (setiap bulan)
demikian catatan kecil ini semoga mengetuk hati siapapun yang bersemangat dalam menyemai benih-benih kebaikan.Amiin
Berdamai dengan si Sulung
Hari ini melelahkan. Dan aku yakin kemarin, besok, dan akan seterusnya begini. Anak-anak kita akan selalu mempunyai potensi konflik dengan kita. Hm…tentu saja sesuai dengan fase bertumbuh dan berkembang mereka. Aku baru saja memutuskan berdamai dengan anakku setelah bebrapa jam yang lalu ia benar-benar keras kepala.
Bagaimana tidak? Sepulang sekolah ia terus menerus melakukan hal-hal yang memantik emosi. Dari satu permintaan –pemaksaan- satu ke yang lain. Dan sungguh seperti yang kutulis kemarin : aku belum cukup sabar atau belum cukup bisa menahan diri .
Akhirnya aku memilih diam sejenak. Kupandangi sulungku yang merajuk karena permintaannya yang kesekian kali siang itu tidak kuturuti. Kali ini ia memintaku membelikan pensil warna yang baru karena sepulang sekolah tadi ia mendapatkan hadiah buku mewarnai yang ternyata sama dengan yang pernah ia punya. Alhasil ia merasa tidak ada sesuatu yang ‘baru’. Ditambah lagi seperti biasa, crayonnya yang lama hilang dan entah kemana. Segala argumen kuhiburkan, kuminta ia memakai sisa crayonnya yang lama. Dan tidak berhasil. Mulailah ia mengamuk,berteriak, berguling dilantai (khas anak-anak yang marah), mengatakan “Umi jahat” dan seterusnya.
Dan menurut teori yang kubaca, semakin tinggi volume suara kita saat anak marah ternyata semakin membuatnya bertahan dengan kemarahannya. Maka, akupun DIAM, Tanpa ekspresi.
“Nak....sini nak, umi tau kamu kecewa. .” akhirnya itu kalimat pertama yang kuucapkan setalah menghela nafas. Sulungku masih merajuk. Kurengkuh tubuhnya meski dia masih enggan
“Aku dapat hadiah buku yang sama, Mi. Aku sudah pernah punya. Lagipula Aku juga gak punya pensil warna…” anakku panjang lebar meluapkan kekesalannya. Masih dengan seragam sekolahnya. Aku mendengarkan dengan menatap matanya. Berusaha setulus mungkin!
“ Ya sudah… sekarang Maura ganti baju dulu, pipis,minum air putih, dan nanti kita coba cari lagi crayonmu ya? Kalau memang sudah saatnya beli pensil warna baru, Insya Allah Umi belikan. Tapi kita cari dulu crayonmu yang lama.”… beringsut sulungku mengangkat tangannya keatas, bersiap melepas seragamnya dan sterusnya. Pertanda bagus.
Aku benar-benar membantunya mencari crayonnya. Memang tidak mungkin ditemukan semua karena memang crayon itu sudah ‘habis’ ia pakai atau sebagiannya lagi tercecer kesana kemari. Aku pun sadar aku akan membelikan pensi warna baru di toko sebelah rumah sebab memang sebenarnya ia telah lama tidak lagi memilikinya. Tapi belum sekarang waktunya.
Kubantu putri sulungku mencari crayon yang masih tersisa. Sembari mencari, kunetralkan perasaannya.
“Sudah Nak? Sudah nggak marah kan? Bersyukur ya Nak, hadiah Bunda Dina kan sudah bagus. Malahan Maura bisa mewarnai lebih baik karena sudah pernah.” Putriku mengangguk pelan. Bagus. Marahnya reda
“ Aku sudah mau terima hadiah itu, Mi. Tapi aku ndak punya pensil warna lagi. Cuma ini, kan ndak banyak warnanya” Baiklah. Aku sudah berdamai dengannya.
Kemarahan yang luar biasa bisa kuredam dengan sedikit berempati dengan perasaannya. Perasaan kecewa, capek, frustasi. Aku tidak menjamin bisa setiap hari begitu. Kadang lelahku beradu dengan lelahnya, batas kesabaranku, beradu dengan ketidakpuasannya. Dan sebenarnya itulah yang kadang memicu kita ‘berperang’ dengan anak-anak kita.
Siang ini setidaknya aku ingin mengajarkan ia berdamai dengan perasaannya dahulu. Memang kadang kita terburu menghentikan rasa marahnya dengan salah : segera memberi apa yang ia minta. Ya, memang ia berhenti, namun dia sedang belajar ‘menjajah’ orang lain untuk menuruti segala permintaan dengan MARAH.
Siang itu setelah ia ‘berdamai dengan kemarahannya’, setelah ia mau mewarnai buku barunya dengan crayon seadanya, barulah kuberikan reward (penghargaan) padanya sekotak pensil warna yang memang tidak mahal...he..he... dan kurendahkan tubuhku lalu kubisikkan padanya : “ Ini untuk anak Umi yang bersyukur dengan pemberian, mau bersabar, dan mau mencari crayonnya...he..he..” Siang itu, aku berdamai dengan Si sulung. Meskipun akan selalu ada lagi ‘peperangan’ dan potensi konflik yang harus kita hadapi sebagai seorang ibu, tho?? Kita hanya harus bersiap untuk berdamai dengan benar dan mendidik.
Ishbir ya, Ummi!
Bagaimana tidak? Sepulang sekolah ia terus menerus melakukan hal-hal yang memantik emosi. Dari satu permintaan –pemaksaan- satu ke yang lain. Dan sungguh seperti yang kutulis kemarin : aku belum cukup sabar atau belum cukup bisa menahan diri .
Akhirnya aku memilih diam sejenak. Kupandangi sulungku yang merajuk karena permintaannya yang kesekian kali siang itu tidak kuturuti. Kali ini ia memintaku membelikan pensil warna yang baru karena sepulang sekolah tadi ia mendapatkan hadiah buku mewarnai yang ternyata sama dengan yang pernah ia punya. Alhasil ia merasa tidak ada sesuatu yang ‘baru’. Ditambah lagi seperti biasa, crayonnya yang lama hilang dan entah kemana. Segala argumen kuhiburkan, kuminta ia memakai sisa crayonnya yang lama. Dan tidak berhasil. Mulailah ia mengamuk,berteriak, berguling dilantai (khas anak-anak yang marah), mengatakan “Umi jahat” dan seterusnya.
Dan menurut teori yang kubaca, semakin tinggi volume suara kita saat anak marah ternyata semakin membuatnya bertahan dengan kemarahannya. Maka, akupun DIAM, Tanpa ekspresi.
“Nak....sini nak, umi tau kamu kecewa. .” akhirnya itu kalimat pertama yang kuucapkan setalah menghela nafas. Sulungku masih merajuk. Kurengkuh tubuhnya meski dia masih enggan
“Aku dapat hadiah buku yang sama, Mi. Aku sudah pernah punya. Lagipula Aku juga gak punya pensil warna…” anakku panjang lebar meluapkan kekesalannya. Masih dengan seragam sekolahnya. Aku mendengarkan dengan menatap matanya. Berusaha setulus mungkin!
“ Ya sudah… sekarang Maura ganti baju dulu, pipis,minum air putih, dan nanti kita coba cari lagi crayonmu ya? Kalau memang sudah saatnya beli pensil warna baru, Insya Allah Umi belikan. Tapi kita cari dulu crayonmu yang lama.”… beringsut sulungku mengangkat tangannya keatas, bersiap melepas seragamnya dan sterusnya. Pertanda bagus.
Aku benar-benar membantunya mencari crayonnya. Memang tidak mungkin ditemukan semua karena memang crayon itu sudah ‘habis’ ia pakai atau sebagiannya lagi tercecer kesana kemari. Aku pun sadar aku akan membelikan pensi warna baru di toko sebelah rumah sebab memang sebenarnya ia telah lama tidak lagi memilikinya. Tapi belum sekarang waktunya.
Kubantu putri sulungku mencari crayon yang masih tersisa. Sembari mencari, kunetralkan perasaannya.
“Sudah Nak? Sudah nggak marah kan? Bersyukur ya Nak, hadiah Bunda Dina kan sudah bagus. Malahan Maura bisa mewarnai lebih baik karena sudah pernah.” Putriku mengangguk pelan. Bagus. Marahnya reda
“ Aku sudah mau terima hadiah itu, Mi. Tapi aku ndak punya pensil warna lagi. Cuma ini, kan ndak banyak warnanya” Baiklah. Aku sudah berdamai dengannya.
Kemarahan yang luar biasa bisa kuredam dengan sedikit berempati dengan perasaannya. Perasaan kecewa, capek, frustasi. Aku tidak menjamin bisa setiap hari begitu. Kadang lelahku beradu dengan lelahnya, batas kesabaranku, beradu dengan ketidakpuasannya. Dan sebenarnya itulah yang kadang memicu kita ‘berperang’ dengan anak-anak kita.
Siang ini setidaknya aku ingin mengajarkan ia berdamai dengan perasaannya dahulu. Memang kadang kita terburu menghentikan rasa marahnya dengan salah : segera memberi apa yang ia minta. Ya, memang ia berhenti, namun dia sedang belajar ‘menjajah’ orang lain untuk menuruti segala permintaan dengan MARAH.
Siang itu setelah ia ‘berdamai dengan kemarahannya’, setelah ia mau mewarnai buku barunya dengan crayon seadanya, barulah kuberikan reward (penghargaan) padanya sekotak pensil warna yang memang tidak mahal...he..he... dan kurendahkan tubuhku lalu kubisikkan padanya : “ Ini untuk anak Umi yang bersyukur dengan pemberian, mau bersabar, dan mau mencari crayonnya...he..he..” Siang itu, aku berdamai dengan Si sulung. Meskipun akan selalu ada lagi ‘peperangan’ dan potensi konflik yang harus kita hadapi sebagai seorang ibu, tho?? Kita hanya harus bersiap untuk berdamai dengan benar dan mendidik.
Ishbir ya, Ummi!
Label:
anak kita,
Catatan Parenting
Menyebut Lengkap nama Pasangan
"I love you Robi'ah Al-Adawiyah"...sms itu membuat saya jengah. Diantara hiruk pikuk anak-anak disuatu sore. Sms itu datang sesaat saya 'curhat' pada suami tentang 'kebandelan' anak-anak selama Abi mereka mudik menjenguk mertuaku 2 hari 3 malam ini.Biasa, anak-anak selalu 'menguji kesabaran' terutama jika Abi mereka lebih dari sehari tidak terlihat. Caper gitu..Dan alhamdulillah..sore itu saya lolos (baca : mampu menaklukkan mereka) .he..he..
Kembali ke sms tadi. Mungkin Sederhana.Tapi entah kenapa sms itu menginspirasi saya tentang sesuatu.Menyirapkan perasaan bangga dan PD. Dasar saya, sms yang menurut saya romantis itu tidak saya biarkan begitu saja menjadi 'hanya' konsumsi pribadi karena ternyata ada sebuah 'analisis rasa' yang saya hasilkan.Karena menurut saya ada ibroh dari pernyataan singkat itu. Waduh...
Ya, begitulah. Entah apakah apa yang saya tuliskan ini Anda setujui atau tidak, Anda rasakan atau tidak, tapi satu hal yang sering saya pikirkan bahwa kita terlampau sering 'mengabaikan' panggilan-panggilan sayang, sapaan nama kita. Kita -terutama yang telah berputra- terlanjur menikmati diri kita dipanggil oleh pasangan dengan 'Bunda', 'Ayah', 'Umi', "Abi', 'Bune (heh..he..), mamah, 'Abah' . Atau Abu Maura, Ummu Hania, dan sederet panggilan yang tujuan awalnya 'membahasakan' panggilan itu untuk anak-anak kita. Bahkan, jangan-jangan pasangan kita lupa dengan nama lengkap kita? Nah looo(just kidding) Atau ..kita penganut "apalah arti sebuah nama? Yang jelas semua juga tau dia istriku/suamiku" lha???
Tapi ternyata, sesekali menyebutkan nama pasangan kita dengan nama lengkapnya, memberikan sebuah kesan tersendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan dan mungkin Anda bisa juga mencobanya. Dengan menyebutkan nama pasangan Anda seperti dalam contoh sms diatas atau dalam panggilan khas yang kita peruntukkan padanya, akan membuat pasangan kita -terutama mungkin para istri- merasa dicintai sebagai DIRINYA SENDIRI. bukan sebagai ibu atau ayah anak-anak Anda. Kadang itu perlu. Hal itu meneguhkan perasaan kita dan perasaannya. Seperti halnya mencoba meluangkan waktu 'berdua', mengungkapkan perasaan Anda bahwa Anda mencintainya sebagai seorang perempuan atau laki-laki menurut saya dapat membesarkan hatinya. Sebab kadang seorang individu tetap ingin dihargai sebagai DIRI SENDIRI.
Hiruk pikuk rumahtangga, kewajiban mengasuh anak-anak,kesibukan ditempat kerja, kadang melupakan kita akan hal-hal kecil bermakna besar. Mungkin termasuk mengekspresikan bahwa Anda mencintai seorang laki-laki atau perempuan bernama :................. yang menyebut / disebut namanya disaat akad nikah beberapa waktu yang lalu membuat Anda tergetar! Yang selama ini mendampingi Anda.
Ini hanya catatan kecil, tapi mungkin kita bisa memulai untuk tidak 'jaim' dan merasa 'untuk apa melakukannya?' hanya karena kita telah lama menikah.Ya, bukankah salah satu tanda cinta terhadap sesuatu adalah menyebutkan nama 'kekasih' kita dengan mantap dan tulus? Wallahu a'lam bishawwab...
Kembali ke sms tadi. Mungkin Sederhana.Tapi entah kenapa sms itu menginspirasi saya tentang sesuatu.Menyirapkan perasaan bangga dan PD. Dasar saya, sms yang menurut saya romantis itu tidak saya biarkan begitu saja menjadi 'hanya' konsumsi pribadi karena ternyata ada sebuah 'analisis rasa' yang saya hasilkan.Karena menurut saya ada ibroh dari pernyataan singkat itu. Waduh...
Ya, begitulah. Entah apakah apa yang saya tuliskan ini Anda setujui atau tidak, Anda rasakan atau tidak, tapi satu hal yang sering saya pikirkan bahwa kita terlampau sering 'mengabaikan' panggilan-panggilan sayang, sapaan nama kita. Kita -terutama yang telah berputra- terlanjur menikmati diri kita dipanggil oleh pasangan dengan 'Bunda', 'Ayah', 'Umi', "Abi', 'Bune (heh..he..), mamah, 'Abah' . Atau Abu Maura, Ummu Hania, dan sederet panggilan yang tujuan awalnya 'membahasakan' panggilan itu untuk anak-anak kita. Bahkan, jangan-jangan pasangan kita lupa dengan nama lengkap kita? Nah looo(just kidding) Atau ..kita penganut "apalah arti sebuah nama? Yang jelas semua juga tau dia istriku/suamiku" lha???
Tapi ternyata, sesekali menyebutkan nama pasangan kita dengan nama lengkapnya, memberikan sebuah kesan tersendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan dan mungkin Anda bisa juga mencobanya. Dengan menyebutkan nama pasangan Anda seperti dalam contoh sms diatas atau dalam panggilan khas yang kita peruntukkan padanya, akan membuat pasangan kita -terutama mungkin para istri- merasa dicintai sebagai DIRINYA SENDIRI. bukan sebagai ibu atau ayah anak-anak Anda. Kadang itu perlu. Hal itu meneguhkan perasaan kita dan perasaannya. Seperti halnya mencoba meluangkan waktu 'berdua', mengungkapkan perasaan Anda bahwa Anda mencintainya sebagai seorang perempuan atau laki-laki menurut saya dapat membesarkan hatinya. Sebab kadang seorang individu tetap ingin dihargai sebagai DIRI SENDIRI.
Hiruk pikuk rumahtangga, kewajiban mengasuh anak-anak,kesibukan ditempat kerja, kadang melupakan kita akan hal-hal kecil bermakna besar. Mungkin termasuk mengekspresikan bahwa Anda mencintai seorang laki-laki atau perempuan bernama :................. yang menyebut / disebut namanya disaat akad nikah beberapa waktu yang lalu membuat Anda tergetar! Yang selama ini mendampingi Anda.
Ini hanya catatan kecil, tapi mungkin kita bisa memulai untuk tidak 'jaim' dan merasa 'untuk apa melakukannya?' hanya karena kita telah lama menikah.Ya, bukankah salah satu tanda cinta terhadap sesuatu adalah menyebutkan nama 'kekasih' kita dengan mantap dan tulus? Wallahu a'lam bishawwab...
Menyebut Lengkap nama Pasangan
"I love you Robi'ah Al-Adawiyah"...sms itu membuat saya jengah. Diantara hiruk pikuk anak-anak disuatu sore. Sms itu datang sesaat saya 'curhat' pada suami tentang 'kebandelan' anak-anak selama Abi mereka mudik menjenguk mertuaku 2 hari 3 malam ini.Biasa, anak-anak selalu 'menguji kesabaran' terutama jika Abi mereka lebih dari sehari tidak terlihat. Caper gitu..Dan alhamdulillah..sore itu saya lolos (baca : mampu menaklukkan mereka) .he..he..
Kembali ke sms tadi. Mungkin Sederhana.Tapi entah kenapa sms itu menginspirasi saya tentang sesuatu.Menyirapkan perasaan bangga dan PD. Dasar saya, sms yang menurut saya romantis itu tidak saya biarkan begitu saja menjadi 'hanya' konsumsi pribadi karena ternyata ada sebuah 'analisis rasa' yang saya hasilkan.Karena menurut saya ada ibroh dari pernyataan singkat itu. Waduh...
Ya, begitulah. Entah apakah apa yang saya tuliskan ini Anda setujui atau tidak, Anda rasakan atau tidak, tapi satu hal yang sering saya pikirkan bahwa kita terlampau sering 'mengabaikan' panggilan-panggilan sayang, sapaan nama kita. Kita -terutama yang telah berputra- terlanjur menikmati diri kita dipanggil oleh pasangan dengan 'Bunda', 'Ayah', 'Umi', "Abi', 'Bune (heh..he..), mamah, 'Abah' . Atau Abu Maura, Ummu Hania, dan sederet panggilan yang tujuan awalnya 'membahasakan' panggilan itu untuk anak-anak kita. Bahkan, jangan-jangan pasangan kita lupa dengan nama lengkap kita? Nah looo(just kidding) Atau ..kita penganut "apalah arti sebuah nama? Yang jelas semua juga tau dia istriku/suamiku" lha???
Tapi ternyata, sesekali menyebutkan nama pasangan kita dengan nama lengkapnya, memberikan sebuah kesan tersendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan dan mungkin Anda bisa juga mencobanya. Dengan menyebutkan nama pasangan Anda seperti dalam contoh sms diatas atau dalam panggilan khas yang kita peruntukkan padanya, akan membuat pasangan kita -terutama mungkin para istri- merasa dicintai sebagai DIRINYA SENDIRI. bukan sebagai ibu atau ayah anak-anak Anda. Kadang itu perlu. Hal itu meneguhkan perasaan kita dan perasaannya. Seperti halnya mencoba meluangkan waktu 'berdua', mengungkapkan perasaan Anda bahwa Anda mencintainya sebagai seorang perempuan atau laki-laki menurut saya dapat membesarkan hatinya. Sebab kadang seorang individu tetap ingin dihargai sebagai DIRI SENDIRI.
Hiruk pikuk rumahtangga, kewajiban mengasuh anak-anak,kesibukan ditempat kerja, kadang melupakan kita akan hal-hal kecil bermakna besar. Mungkin termasuk mengekspresikan bahwa Anda mencintai seorang laki-laki atau perempuan bernama :................. yang menyebut / disebut namanya disaat akad nikah beberapa waktu yang lalu membuat Anda tergetar! Yang selama ini mendampingi Anda.
Ini hanya catatan kecil, tapi mungkin kita bisa memulai untuk tidak 'jaim' dan merasa 'untuk apa melakukannya?' hanya karena kita telah lama menikah.Ya, bukankah salah satu tanda cinta terhadap sesuatu adalah menyebutkan nama 'kekasih' kita dengan mantap dan tulus? Wallahu a'lam bishawwab...
Kembali ke sms tadi. Mungkin Sederhana.Tapi entah kenapa sms itu menginspirasi saya tentang sesuatu.Menyirapkan perasaan bangga dan PD. Dasar saya, sms yang menurut saya romantis itu tidak saya biarkan begitu saja menjadi 'hanya' konsumsi pribadi karena ternyata ada sebuah 'analisis rasa' yang saya hasilkan.Karena menurut saya ada ibroh dari pernyataan singkat itu. Waduh...
Ya, begitulah. Entah apakah apa yang saya tuliskan ini Anda setujui atau tidak, Anda rasakan atau tidak, tapi satu hal yang sering saya pikirkan bahwa kita terlampau sering 'mengabaikan' panggilan-panggilan sayang, sapaan nama kita. Kita -terutama yang telah berputra- terlanjur menikmati diri kita dipanggil oleh pasangan dengan 'Bunda', 'Ayah', 'Umi', "Abi', 'Bune (heh..he..), mamah, 'Abah' . Atau Abu Maura, Ummu Hania, dan sederet panggilan yang tujuan awalnya 'membahasakan' panggilan itu untuk anak-anak kita. Bahkan, jangan-jangan pasangan kita lupa dengan nama lengkap kita? Nah looo(just kidding) Atau ..kita penganut "apalah arti sebuah nama? Yang jelas semua juga tau dia istriku/suamiku" lha???
Tapi ternyata, sesekali menyebutkan nama pasangan kita dengan nama lengkapnya, memberikan sebuah kesan tersendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan dan mungkin Anda bisa juga mencobanya. Dengan menyebutkan nama pasangan Anda seperti dalam contoh sms diatas atau dalam panggilan khas yang kita peruntukkan padanya, akan membuat pasangan kita -terutama mungkin para istri- merasa dicintai sebagai DIRINYA SENDIRI. bukan sebagai ibu atau ayah anak-anak Anda. Kadang itu perlu. Hal itu meneguhkan perasaan kita dan perasaannya. Seperti halnya mencoba meluangkan waktu 'berdua', mengungkapkan perasaan Anda bahwa Anda mencintainya sebagai seorang perempuan atau laki-laki menurut saya dapat membesarkan hatinya. Sebab kadang seorang individu tetap ingin dihargai sebagai DIRI SENDIRI.
Hiruk pikuk rumahtangga, kewajiban mengasuh anak-anak,kesibukan ditempat kerja, kadang melupakan kita akan hal-hal kecil bermakna besar. Mungkin termasuk mengekspresikan bahwa Anda mencintai seorang laki-laki atau perempuan bernama :................. yang menyebut / disebut namanya disaat akad nikah beberapa waktu yang lalu membuat Anda tergetar! Yang selama ini mendampingi Anda.
Ini hanya catatan kecil, tapi mungkin kita bisa memulai untuk tidak 'jaim' dan merasa 'untuk apa melakukannya?' hanya karena kita telah lama menikah.Ya, bukankah salah satu tanda cinta terhadap sesuatu adalah menyebutkan nama 'kekasih' kita dengan mantap dan tulus? Wallahu a'lam bishawwab...
Label:
Catatan Keluarga SAMARADA
Langganan:
Postingan (Atom)
