Jumat, 30 Juli 2010

Tom Yam Kepala Ikan: Silakan Coba!

Jujur, ini terinspirasi Tom Yam kepala ikan warunge mas Agus Spesialis Gule dan Tom Yam Kepala ikan  di Jl. Perintis Kemerdekaan, Purwosari. Tempat saya mencicipinya pertama kali atas iming-iming  suami. Suami mengaku kenal menu ‘serba kepala’ ini  sejak kuliah di Sudan. Tom Yam jadi masakan khas  dari mahasiswa Malaysia dan Singapura di sana . Malah kata beliau di Sudan Kepala ikan  bisa untuk bersepuluh! huaaaaaw. Karena ikan diambil dari sungai Nil. Gedhe-gedhe banget, kata beliau  dan makannya harus dipotong-potong .

Nah, pagi tadi belanja dapetnya ikan nila. Ya udah ku fillet sendiri dan kusisakan kepala  sampe ‘kerangka’ tubuhnya hihihi. Menurutku, tom yam di Mas Agus  kok berasa kare ya? tapi tanpa lombok, berkuah, plus ada sereh. Akhirnya inilah resep coba-coba dan baru ku share karena  udah ‘ketemu’ rasa yang pas, dan udah lulus uji coba untuk ‘pelanggan tetapku’ : suami n anak-anak, hehe. Semoga resep ini bermanfaat ya.Bisa juga buat  referensi menu sahur atau buka

Bahan
2 ekor Ikan (Kakap atau Nila) ukuran sedang, boleh dipotong-potong atau di fillet dan sisakan kepala sampai dagunya hehe
1 buah Tomat  merah ukuran sedang Diparut lembut/ diblender
Belimbing sayur kalau suka
Daun Kemangi
Air 500 cc
jeruk nipis
Bumbu:
Bawang bombay ukuran sedang 1 butir
Bawang putih 5 siung
Bawang merah 2 siung (yang agak besar)
Lada ½ sendok teh
Jintan ½ sendok teh  disangrai, tumbuk
Ketumbar ½ sendok the, sangrai, tumbuk
Pala 1butir atau setengahnya
Kapulaga bulat 3butir (geprek)
Cengkeh 4 butir
Sereh ukuran besar 1 umbi (geprek)
Daun jeruk 3 lembar
Jahe  5cm
Kunyit 1 ruas haluskan  atau kalo bubuk ya ½ sendok teh
Kelabet (biar agak kental)
Kayu manis 10cm, potong kecil-kecil
Gula sedikit
Garam secukupnya
Tambahkan saus tiram
Pelengkap:
Sambal , Kerupuk

Caranya
Siapkan ikan, lumuri air jeruk nipis agar tidak amis
Iris halus semua jenis ‘bawang”, tumis sampe harum
Tambahkan bumbu- bumbu lain, tumis lagi, tambahkan air sampai mendidih dan bumbu-bumbu keluar rasa dan aromanya, masukkan
Masukkan ikan, sekitar 10 -15 menit, tambahkan tomat pure, saos tiram, daun kemangi
Hidangkan panas, dengan nasi putih, lebih  segeerrr ditambah sambal

Tips: masukkan ikan atau daging saat  bahan kuah benar2 sudah mendidih agar tidak amis

Sop Roti Telur Puyuh Roti Tawar: Hidangan Selingan , atau Sarapan

Kemaren gak sengaja bikin sup minimaliiiiis banget. Karena Abi ada jadwal harus ngisi pengajian siang, persiapannya dari pagi, jadinya agenda nganter belanja sekalian sepekan  belum terlaksana. Ada kentang, ada telur puyuh, kol (kubis) ya udah bikin sup aja tapi dibumbu kayak sup matahari di walimah-walimah itu lho prend.
            Tiba-tiba, lihat sisa  roti tawar tadi pagi masih sepuluh sisir. Wah ada ide nih. kalo dimakan pake sup enak kayaknya. dan akhirnya kucobakan pada dua ‘pelanggan’ masakanku. Kakak Maura dan Haniyya katanya:” enak Mi, kayaknya kalao dikasih lagi aku mau deh!”
 Halaaah…Hm…kayaknya (lagi) kalau aku buat lebih komplit pasti lebih zeeeen (enak). Kapan-kapan deh. Nah ini resepnya ‘komplit’ tapi fotonya edisi minalis itu. gak papa ya, udah pengen share soalnya J. Yah…cuman sop sih frend, semua juga bisa masaknya tapi semoga bermanfaat ya!

Bahan
  • Sayur mayur yang lazim buat sup ( wortel, kentang, kol, jagung manis, kacang polong) kalau telaten dan pas niat banget biasanya wortel aku buat bunga, kentang diiris pake piso bergelombang. biar anak-anak tertarik aja
  • Daging giling atau daging ayam suwir atau bakso, telur puyuh, sosis etc pokoknya yang buat ‘amis-amis’. Kalau punya daging giling, bagus tuh dicampur tepung kanji dikit, dibola2 atau dicetak pake cetakan kue kering, dan dibumbui lada dam bawang putih , masukkan ke air mendidih (kalau banyak kan lumayan airnya buat kaldu, bu)
  • Roti tawar boleh tanpa pinggiran, boleh yang konvensional J
  • Air 500cc buat kuah

Bumbu
Bagiku, sop itu masakan paling gampang tapi kok rasanya bisa beda2 yaa. Ini aku pake perpaduan sop biasa dengan tomyan yaaa… Dicoba ajja. Ingat, ini resep  idealisnya hehe
Bawang putih 5 siung (aku suka bawang putih karena bisa mengganti MSG looh)
Bawang Bombay 1 siung
Bawang merah 6siung
jahe sedikit
Sereh satu umbi
cengkeh 3 butir
pala 1 atau ½ buah
tomat bisa di blender atau dipotong aja
garam & gula secukupnya (aku gak pernah pakai vetsin, sodara-sodara. kalau garam n gula pas udah sama deh ama penyedap rasa)

Cara masak
Semua bumbu dihaluskan kecuali bawang bombay, pala, sereh dan cengkeh
Tumis semua bumbu, masukkan ayam atau daging dan masukkan air atau kaldu. tunggu sampai mendidih
masukkan sayur mayur dantunggu sampe lunak tapi jangan terlalu ya
Siapkan roti tawar , susun ‘isi’ sop diatasnya, baru siram dengan kuah
Silakan menikmati untuk sarapan, hidangan anget2an.. atau selingan
Yah…cuman sop sih frend, tapi semoga menginspirasi

Selasa, 27 Juli 2010

Srikandi Kampung


Namanya Sukini. Ya, hanya Sukini. Perawakannya kecil, tidak banyak bicara, dan sangat rendah hati. Khas perempuan Jawa yang santun. Hm.. aku mengenalnya sekitar sebulan setelah kami menjadi warga kampung ini. Ia bekerja sebagai sales kosmetika, suaminya bekerja sebagai pelukis baju borongan, dia juga melukis dan punya banyak talenta ketrampilan.Hm..perempuan yang kreatif. Seperti juga bu Sukini, pak Sudirman juga bukan laki-lak yang banyak bicara. Meskipun tidak banyak bicara, tapi dia seorang wanita yang membuatku salut.

     Dia satu dari 12 orang ibu-ibu pertama  yang menjadikanku nyaman dilingkungan ini. Kutemukan ia sebagai ibu biasa yang bergabung dalam majelis ta’lim pertama yang ku handle di lingkungan baru, kontrakan pertamaku. Tapi jangan salah, semakain aku mengenalnya, kutemukan hal-hal menarik dan potensial dalam dirinya.

     Saat aku memutuskan untuk terbuka dengan pandangan politik yang kuyakini dan aktivitas Partai Dakwah  (PKS) yang kukenalkan, dia adalah perempuan pertama yang tanpa ragu mendukungku. Saat itu penghujung tahun 2007. Aku menawarinya menjadi koordinator Pos Wanita Keadilan, sebuah pusat pelayanan untuk perempuan. Tanpa ragu bu Sukini menyanggupinya. Dan iapun menunjukkan komitmen dakwah yang luar biasa untuk ukuran seorang ibu-ibu kampung biasa yang mungkin tak pernah terjun intens dalam kegiatan-kegiatan politik praktis. Ini percakapanku dengannya

“ Kok njenengan mau tho bu bergabung dengan kami? Kan banyak ibu-ibu yang enggan dekat-dekat dengan partai, apalagi terang-terangan” pancingku
“ Saya ini orang biasa bu Vida, tapi saya punya banyak cita-cita untuk masyarakat saya. Saya sering prihatin dengan kondisi sekitar saya...” Jawabnya. Ia berhenti sejenak. Lalu sambungnya
“....Saya Cuma punya cita-cita, impian, tapi saya tidak punya modal besar untuk memberi lebih banyak. Maka saat saya melihat njenengan (anda, ed) saya berpikir apa salahnya saya bergabung supaya saya bisa lebih banyak memberi untuk sekitar saya. Kalau jalannya memang lewat partai ya ndak papa tho bu? Yang penting manfaat” Dia menjawab dengan tenang, sungguh-sungguh. Sebuah visi yang jelas.Alhamdulillah, partner seperti ini yang saya cari! Syukur saya.

“ Tapi bu, kadang perempuan kan punya ganjalan dengan keluarga. Suami misalnya. Apa Pak Dirman ndak keberatan tho Bu?” sambungku

“ Suami saya itu ngerti sekali dengan kepinginan saya Bu. Lagipula, kami ini orang-orang kecil, bu, yang sudah kenyang dengan janji-janji” Kebetulan suaminya adalah 'mantan' satgas sebuah parpol yang 'menguasai' kota kami (Solo) hehehe.Kemudian beliau memilih keluar karena sudah tak lagi sesuai dengan 'nurani' wong cilik, kata mereka.

     Bu Sukini pernah kupancing untuk menuliskan cita-citanya. Darinya aku belajar bahwa orang yang telaten, ulet dan mau bergerak dapat mengalahkan orang yang pintar, berpendidikan namun tidak memiliki spirit melayani dan hanya banyak berkomentar serta sibuk dengan urusan pribadinya.

     Hampir setiap kegiatan kelurahan diikutinya, dia yang selalu diajukan untuk banyak tanggungjawab kegiatan kampung ini. Jujur, tidak main belakang, setia, dan mau mengambil resiko. Bahkan para ‘Bapak RT’, dan para laki-laki birokrasi kampung pun segan dengannya. Darinya saya belajar juga bagaimana berhadapan dengan masyarakat, tidak terpancing emosi massa dan tetap teguh dalam cita-cita.

     Sampai hari ini yang saya kenal, bu Sukini adalah penggerak hampir di setiap ‘program kemajuan dan kebaikan’ yang kami tawarkan atau ditawarkan oleh Kelurahan. Saya yang memiliki ide bejibun ini sangat terbantu dan tersemangati dengan beliau yang orang lapangan. Saya banyak belajar darinya. Saat ia memberikan penyuluhan tentang pendidikan keluarga, saya dibuatnya takzim. Sungguh, sosok sederhana yang hanya mengaku lulus SMP itu tak pernah saya sepelekan. Bagi saya ia adalah asset dakwah yang harus kita up grade. Apapun tugas yang diberikan padanya, selalu disanggupinya dan…TERLAKSANA!

     Kini, suaminya terpilih menjadi Ketua RW, otomatis ia pun berjuluk ‘bu RW’. Dan bersamaam saya pun harus berpindah kerumah orangtua yang tak terurus dikelurahan lain dan memang masih terhitung dekat. Namun..lagi-lagi saya melihat komitmen dan kesetiaannya. Dengan tulus ia tetap mengelola rumah baca yang kami rintis didaerah itu. Bahkan kami tetap berhubungan dan terus bercita-cita menghidupkan kampung itu dengan suasana yang maju dan religius.

     Sungguh, saya belajar bahwa tarbiyah dan pembinaan yang tulus, mengenali potensi seseorang dan memberikan kepercayaan kepada orang untuk  berkembang dengan potensinya itu akan melejitkan ‘orang-orang biasa’ menjadi luar biasa. Semoga dimasyarakat banyak bermunculan pendukung-pendukung dakwah seperti bu Sukini, yang mampu memenangkan nurani dan melakukan satu demi satu perubahan dimasyarakatnya. Maka, mari bekerja! Bersama kita lanjutkan kerja dan menyedikitkan bicara, dan yakin bahwa kita akan menemukan pendukung-pendukung dakwah yang tulus. Insya Allah!

Minggu, 25 Juli 2010

Inspirasi 'Parenting' dari Pria Bertopi Kuning




Pernah nonton serial kartun TV Curious George? Jika belum, Anda bisa mulai melihatnya di ANTV setiap pukul 7.00 di hari senin sampai jumat atau pukul 06.30 pagi di hari  sabtu. Jamnya kadang berubah sih hehe. Awalnya saya tidak sengaja melihatnya . Saat itu pagi-pagi saya berkunjung kerumah ortu , saat adek-adek saya tengah ‘wedangan’ pagi  menontonnya dan  mendiskusikannya.  Lama kelamaan serial TV ini menjadi tayangan favorit saya dan anak-anak saya. Biasanya sembari menunggu waktu berangkat sekolah mereka kuperbolehkan melihatnya setelah mandi dan sarapan, tentunya.

Di serial itu saya ‘berkenalan’ dengan si Pria bertopi Kuning dan kera lucu nan cerdas, George. Tingkah Goerge  yang penuh kelucuan, kreatif, sedikit ‘usil’ (namanya juga monyet), kocak, bikin gregetan membuat saya dan dua putri saya kadang ‘menterjemahkan’ bahasa george yang hanya ‘aaa, oooh, uuh.hahaa, ahaa’ dan mengomentari tingkahnya hehe. Kami pun tidak bosan melihat film itu meskipun diulang-ulang pemutarannya. George, kera cerdas dengan rasa ingin tahu itu kerapkali menguji kesabaran namun juga membuat kami ‘sayang’ hehe. Simak saja,  

Dalam sebuah episode tentang 100 lusin donat. Suatu hari si Pria yang secara tidak sengaja mengajarkan pada George tentang ‘angka nol’ kena batunya. Pagi itu George mengambil kesimpulan  bahwa dengan menambahkan ‘nol’ dibelakang sebuah angka dia akan mendapatkan banyak hal dalam jumlah banyak. Maka pagi itu si Pri menyuruh George membeli donat dengan menuliskan kalimat 1 lusin donat. George dengan penuh semangat berlari ke toko donut bersama Charky, anjing tetangganya. Sesampainya di toko donat George yang berselera makan itu membayangkan ia akan mendapatkan banyak donut dari si Pria. Namun, betapa heran George karena Pria hanya menuliskan ‘1’ di kertas pesanan, mana tahu george bahwa didekat angka satu ada kata ‘lusin’ bukan? Maka pikiran monyetnya segera menyuruhnya menambahkan ‘0’ didekat satu. Jika ia menambah satu ‘0’ maka ia akan mendaptkan 10 donat, dan jika menambahkan  dua ‘0’ maka 100 donut! aha!George tidak tau bahwa menambahkan dua ‘0’ berarti 100 lusin donat!!!! Bisa Kalian tebak kan kesudahannya? Sang pemilik toko senang karena disangkanya akan ada pest donat. Hahaaaa. Kesudahan episode ini, George bingung dan menyembunyikan donat-donat itu diseluruh sudut dirumah. Dan pada akhirnya si Pria mengetahuinya dan mengajak George membagi-bagikan donat kesemua orang. Hhhfffff...

Bagaimana? Jika Anda jadi Pria Bertopi Kuning dan George adalah anak kiat? Pasti kita akan panik, marah, kesal, dan mengomeli anak kita habis-habisan. hmmm boleh jadi karena Pria sadar bahwa George ‘hanya’ monyet maka ia bisa menahan amarah. Tapi,ada beberapa pelajaran  yang dengan senyum simpul saya catat dari si Pria setiap kali film ini berakhir.
1. Pria Bertopi Kuning tidak pernah MARAH
            Hehe, seperti yang saya tulis, boleh jadi Pria menyadari bahwa George hanya seekor kera. Namun ia tidak pernah marah. Seusil apapun George dan saat George melakukan kesalahan dan berakibat sangat ekstrim pun , Pria selalu tenang dan berusaha memberikan kalimat positif atau membesarkan hati George . Biasanya ia berkata “ Oooh George, kau mungkin belum tau tentang ini”, “Hmm..Aku belum mengajarkanmu tentang ini,ya?”, ‘Baiklah George, mungkin lain kali kau bisa bertanya sebelum kau melakukan ini” Luar biasa kan? Tekni REDAM AMARAH dipraktekkan oleh Pria bertopi kuning dan akhirnya ia dapat sangat bijak mengatasi semua akibat ulah George.
 2. Pria Pendengar Yang baik
            Meskipun hanya kera, Pria memperlakukan George seperti balita. Pria selalu bertanya, mendengarkan alasan George, dan memahami keingintahuan (curiousity) George. Bagaimana dengan kita? Mungkin dengan lebih banyak mendengar, kita juga akan memahami bahwa balita /anak-anak kita punya potensi luar biasa.

3. Pria Selalu Melibatkan George, Memberi Kesempatan dan Mempercayai
            Pria bertopi kuning selalu mengajak George disemua petualangan. Ke desa, memancing, berpetualang, melakukan penelitian, berkunjung ke semua orang, mengenalkan pada semua. Pria selalu memberi George kesempatan mengenali bentuk, makanan, proses pembuatan sesuatu, kesempatan untuk memilih sehingga George menjadi monyet yang cerdik. Pria bertopi kuning juga mempercayai George dengan membiarkan George ‘berpetualang’, menyelesaikan masalah, pergi ketempat asing. Pria mempercayai George untuk bergabung dengan banyak orang. Kata-kata Pria yang saya sukai adalah “Ingat, Jadilah Monyet yang baik, George” hehe itu diucapkan saat Pria membiarkan George ‘pergi sendiri’. Kata-kata penuh kepercayaan ini saya contoh untuk anak saya ketika ia pergi kesekolah, ikut pergi bersama orang lain. Saya mengubahnya dengan  jadilah anak yang Sholihah, dan baik hati,Nak!
            Mungkin masih banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari Pria bertopi Kuning dan monyetnya, George. Tapi silakan Anda mengamatinya. Jika seekor monyet dapat begitu cerdas dan punya rasa empati yang tinggi dengan cara pendidikan demikian, Maka….. anak-anak kita tentu lebih berhak mendapatkannya. Salam Inspiratif!


Kamis, 22 Juli 2010

Adil Pada Anak : Bahkan Saat Mereka Berbeda dan Tak Sempurna!

1.                
Mengamati mereka tumbuh menjadikanku bersyukur. Keunikan mereka menjadikanku ta’jub pada Penciptanya. Kedua putri yang sama-sama kulahirkan memiliki hal-hal berbeda. Si Sulung,Maura  yang saat aku menulis ini berusia empat tahun lebih, dan si tengah , Salma,yang usianya dua tahun lebih dua bulan. Dan anak ketiga kami yang saat naskah  buku ini  selesai kubuat ia sedang menikmati  3 pekan  didunia, kelak keunikannya pasti juga berbeda.

Hari ini, aku begitu tersentuh dan terhenyak. Si Sulung barusaja bertengkar dengan adiknya, Salma. Biasaa, mereka berebut. Kemarahannya membuatnya mencakar adiknya. Terus terang aku tak lagi bisa menahan amarah sebab kutanamkan  aturan pada mereka : Umi benar-benar  marah saat kalian sudah saling melukai dan menyakiti oranglain.

Disela penyesalannya dan tangisnya karena terpaksa kumarahi. Tiba-tiba Maura berkata  “ Semua orang tidak ada yang memanggilku cantik. Tadi aku diluar dipanggil gendut, gemuk. Aku mau dipanggil M A U R A...” Aku tercekat. Aku ikut menangis kupeluk sulungku dengan tulus. Naluri keibuanku merasakan gelisahnya. Mungkin kemarahannya tadi adalah pelampiasan. Kubelai rambutnya. Kutenangkan dia kukatakan padanya

“Nak, kamu cantik. Bagi umi kamu cantik...cantik sekali. Mungkin mereka memanggilmu gemuk karena gemas padamu, dan belum tau namamu, sayang. Besok kalau ada yang memanggilmu si gemuk lagi, perkenalkan namamu,ya! “ Maura masih menangis kecil dan masih terisak mengatakan dia tidak cantik

“Nak, yang penting kamu berakhlak baik. Sehat. Gemuk tapi baik hati itu lebih baik daripada kamu cantik tapi nakal. Makanya Maura yang sholihah ya, sayang sama adik, baik hati, ramah, tidak suka berkata jelek, itu semua lebih baik nak..Umi dan Abi bangga kok sama Maura. Kalau Umi dan Abi marah, dan menegur Maura karena kesalahan, itu agar Maura jadi anak yang baik dan Abi Umi tetap sayang. Sekarang, Minta maaflah sama adikmu  sayang “ Entahlah. Aku memang kesulitan megatasi sulungku yang sangat dominan, teguh pendiriannya, cerdas dan ‘kuat’ postur tubuhnya itu. Tapi dia sangat sensitif dan pemikir

Begitulah. Orang-orang dewasa disekitar anak-anak kita ( semoga tidak termasuk kita orangtua mereka)   sering menjadikan perbedaan-perbedaan menjadi sesuatu yang berlebihan dan tak jarang tanpa mereka sadari meruntuhkan atau mengurangi self esteem  (harga diri) anak-anak. Dari perbedaan fisik, prestasi belajar, sifat, bahkan selera! Ternyata menghargai keunikan dan pilihan anak-anak ataupun keadaan mereka apa adanya perlu kesabaran dan kebesaran jiwa.

Anak-anak yang tumbuh dalam suasana pembedaan atas mereka dengan anak lain (baik saudara kandung maupun teman-teman sebayanya) menyerap dan menyingkirkan dirinya dari optimisme. Betapa ‘ganasnya’ sikap membedakan anak-anak dapat menjadi boomerang bagi kita, para orangtua. Saya pernah mendengar cerita seorang teman yang selalu ‘menomorsatukan’ anak sulung mereka. Si tengah yang dari kecil merasa terpinggir, kalah, diacyuhkan,  tumbuh menjadi pribadi yang berkebalikan dimasa SMP. Ia jadi agresif, suka marah dan memanfaatkan ‘ketakutan’ ayah ibunya untuk menuntut sesuatu.

Sungguh, menghargai anak-anak kita sebagai ‘manusia’ seutuhnya adalah keharusan. Meraba potensinya, melihat kelebihannya, menikmati keragaman karakternya menjadikan kita lebih bijak bersikap. Kita, orang-orang yang beriman diperintahkan untuk bersikap adil pada anak-anak kita. Bahkan saat mereka tak sempurna sekalipun! Jangan pernah memperlakukan mereka berbeda. Saya pernah melihat cuplikan film dokumenter di sebuah kajian motivasi. Seorang anak yang menderita kelainan otak hingga tak bisa menggerakkan sebagian besar tubuhnya tetap diajak ‘hidup normal’ oleh ayahnya. Ia diajarkan berenang, diajak mengikuti lebih dari 900 event olahraga bersama sang ayah, dan dia menyelesaikan kuliahnya! Sang ayah memperlakukannya dengan adil dalam kehidupan. Subhanallah

Adil, mari kita adil pada anak-anak kita. Tak harus selalu memberikan sesuatu yang sama pada tiap anak, namun memperlakukan mereka dengan sama, apapun kelebihan dan kekuarangannya serta mendidik mereka untuk menghargai perbedaan diantara mereka sendiri. Tanamkan pada diri kita bahwa hukuman, hadiah, tutur kata harus selalu mencerminkan keadilan dan kasihsayang kita kepada mereka. Bahkan pada saat kita menghukum mereka, iringi dengan sikap bijak setelahnya. Agar ruh keadilan dan kasihsayang itu bersinergi menjadi kesan indah dalam kehidupan anak-anak kita kelak., dan menuntunnya menjadi manusia yang demikian pula : Adil sekaligus  penuh kasih. Wallahu a’alm bishawwab

Sabtu, 17 Juli 2010

Aku Sabar Aku Dapat!, Aku Sabar Tetap semangat!



            Hari sekolah sudah dekat. Si Sulung mulai masuk TK A (kecil) setelah sebelumnya dia telah masuk PAUD di dekat rumah. Si tengah mulai masuk PAUD tempat kakaknya dahulu bersekolah. Sengaja kami pisahkan tahun ini karena beberapa pertimbangan salah satunya karena si tengah suka ‘nyusul’ kekelas kakak Maura saat hari mulai siang hehehe.

            Dan cerita ini mengenai... S E PA TU BARU. Kebetulan di sekolah kak Maura yang sekarang ada peraturan bahwa semua siswa harus ‘seragam’ untuk sepatunya. Hitam, tidak boleh ada lampu yang berkedip-kedip, tidak boleh aneh-aneh lah pokoknya. Bagus juga maksudnya agar tidak ada acara pamer-pameran, yang berujung rengekan-rengekan pada orangtua. Mungkin.

            Kebetulan, saya dan suami memang belum menyempatkan membelikan sepatu untuk kakak. toh masih bisa pakai sepatu lama yang memang secara model simple, sepatu model Warior hitam dengan tali. Dan masih bisa dipakai kok kalau talinya dilonggarkan. Selain itu, kami sebenarnya sangat apreciate dengan anak-anak yang tidak pernah terlalu ‘risau’ dengan sepatu baru. Kukatakan dengan jujur bahwa Umi dan Abi Insya Allah akan belikan sepatu tapi belum saat ini. Kalau kalian sabar, pasti dapat yang terbaik. Dan anak-anakpun enjoy, karena semangat sekolah mereka luar biasa.  Si adek Salma malah dengan penuh semangat mengatakan “ Aku pake sepatu kakak yang pink ya kak? kan aku cukup nih” kakaknya menyahut , “Boleh, aku juga pake yang item tali.Aku kan TK ya mi, sekolahku sekarang gak boleh lho pake sepatu warna warni”. Hmm... itulah yang membuatku PD aja belum membelikan sepatu diawal masuk sekolah. Hehe... meskipun, biasaaa emak-emak tetep aja ‘ribut’ nyindir-nyindir sama Abi “kapan ya kita punya waktu nih belikan sepatu buat kakak”hihihihi

            Nah, saudara-saudara. Di hari ketiga sekolah mulailah sebuah ‘pelajaran’ kecil kudapatkan. Tiba-tiba sahabatku yang anaknya satu sekolah dengan si sulung kebetulan menelepon dan diakhir perbincangan kami, ia mengatakan padaku “Eh, bu Vida PR dari guru sekolah Maura udah dibilangin ke njenengan (kamu, ed)? coba deh ditanya hehe. Tadi pas mau pulang gurunya mbisikin dia.Coba deh ditanya” aku menebaknya pasti masalah sepatu karena kemarin si sulung sudah sambil lalu bilang “ Mi, kata buguru aku suruh mbelikan sepatu”. Akhirnya saat kutanya, Maura malah cengar cengir.

            Olalala.....ternyata si guru membisikkan pada anakku “ Dapat PR dari bu Guru ya, bilang sama Umi ya suruh belikan sepatu” akupun sebenarnya jengah. Ah, biasa aja pikirku. Sampai sore harinya kukatakan pad suamiku dan mulailah tema diskusi yang tak kuduga. Begini kata Abinya

“hm.. bersyukur ya Mi, kita punya anak-anak yang tidak patah semangat hanya karena belum dibelikan sepatu. Abi malah berpikir gurunya kurang tepat tuh masak bilang gitu ke anaknya, mestinya ke kita dong” kata suamiku sambil duduk santai menikmati wedangan sore.

“Hmmm..Iya juga ya, kan ada buku penghubung, atau bisa pakae surat, sms atau telpon kita kalau memang itu jadi sesuatu yang penting. Iya ya, Umi nangkep maksud Abi. Coba kalau anak kita mentalnya kecil, minder, pasti udah mogok sekolah ya!” aku merasa ini pelajaran berharga
“ Iyalah, tapi coba, dengan kita kemaren bilang bahwa kita belum bisa belikan sepatu saat ini,anak-anak sudah enjoy.Kita padahal kan sedang masukkan nilai sabar, qona’ah, kepercayaan diri.Gurunya gak ngerti soalnya ya hehehe” .

Maka kupanggil kedua putriku dan kami berbincang
“Maura, sepatu maura itu emang udah sempit banget ya? Tadi bu guru ya yang make’in sepatu?” aku tau sebenarnya talinya yang bikin kadang sepatu terasa sesak
“ Ndak kok mi, mungkin bu guruku itu kurang lebar mi mbukanya, jadi susah”
“ Ooo….atau mungkin disekolah gak ada yang pake sepatu begitu ya. mm… Maura masih bisa sabar kan nunggu Umi dan Abi belikan sepatau? Insya Allah Minggu depan Maura sudah pake sepatu yang hitam dan tidak pake tali seperti yang di peraturan sekolah. Hitam dan tidak bertali”.
“ Iya Mi, gak papa aku sabar kok. Kan kalau sabar kita dapat yang baik kan mi?”
"Iya dan masih banyak anak-anak yang tidak bisa beli sepatu namun mereka tetap semangat belajar, Maura"
“ Aku juga sabal Mi…aku sepatu sandal ya mi? kan aku sekolah bisa pake sepatu kakak” si tengah nimbrung
“ Subhanallah yaaa anak-anak Umi hebat. Abi dan Umi kan selalu tepat janji ya? Kalian percaya kan?”
“ Oooo tentuuu Hahahaa. ” Kata kakak dengan gayanya kemayu meniru presenter cilik di TV

Akhirnya, Sabtu sore kuluangkan waktu bareng suami membelikan sepatu hitam, simple, berperekat, ringan untuk si sulung dan sepatu model sandal untuk si tengah yang memang masih bebas pakai sepatu model apa aja. Sore itu mereka merasa begitu puas. Aku buatkan kalimat afirmatif untuk mereka : Aku Sabar Aku Dapat, Aku Sabar , Tetap Semangat! Kukatakan pada putri-putriku
“ Terimaksih ya anak-anak sabar, Umi senang kalian tetap semangat sekolah, meskipun belum dapat sepatu. Oke yuk kita bareng-bareng bersyukur dan bilang Alhamdulillah, aku dapat sepatu. Aku sabar aku dapat, Aku sabar tetap semangat!”
Jadilah sejak sore kemarin hingga siang ini mereka ‘fashion show’ dengan sepatu masing-masing , dan terus bertanya ‘ini hari apa? besok hari Senin? Aku sudah bisa pakai sepatu baru…” Alhamdulillah Nak!



Jumat, 16 Juli 2010

Susu Segar Moeria Kudus : Ternak Sapi di Tengah Kota

Pulang ke kampung halaman suami selalu membuat saya menemukan hal-hal unik. Kali ini sengaja menyempatkan diri menjenguk mertua dan adik ipar kami mumpung liburan. Kudus, kalau bagi kami berdua, pulang kekudus adalah ‘rehat sejenak’ dari segala kepenatan dan padatnya aktifitas pikir dan fisik di Solo sekaligus menjadi kesempatan untuk birrul walidain. Ditambah lagi, kepulangan kali ini berbarengan dengan kakak ipar kami yang tinggal di Bandung. Jadilah event empat hari di kudus menjadi agenda berbagi cerita dan bertemu keponakan-keponakan.
            
Cerita ini bermula saat saya dan suami yang hampir sebulan ini mengganti susu formula kedua putri kami dengan susu segar. Jadi setiap sore di solo kami berlangganan susu segar. Di Kudus, kami sepakat mencari di warung-warung susu. Salah satu yang sering kami lewati namun belum pernah kami coba masuk kedalamnya adalah perusahaan susu segar Muria Kudus. Saya pikir ah pasti itu perusahaan susu biasa karena dari luar ada gerbang tinggi. Saya hanya tau bahwa disana memang menyediakan susu segar 24 jam. Nah, suatu pagi suami yang asli Kudus itu mencoba membeli susu segar di SUSU MURIA KUDUS di Jalan Pemuda  itu . Kata suami saya seumur-umur baru kali ini beliau masuk ke ‘depot susu segar  yang ternyata  sekaligus peternakan’ itu. Jadilah keesokan harinya saya pun berdua kesana lalu  hari berikutnya kami beserta ponakan-pnakan dan kakak ipar ‘menyerbu’ tempat itu


   Apa yang unik? Saya menemukan keunikan dengan melihat puluhan sapi yang diternak di sebuah areal rumah berhalaman luaas. Bukan halaman padang rumput. Gerbang masuk yang dekat ke jalan raya kemudian untuk mencapai ‘tempat nongkrong’ kami harus berjalan masuk, memesan susu dengan pilihan rasa dan memilih makanan kecil , bayar, antri mengambil segelas besar susu panas dan susu cup untuk anak-anak, lalu kami duduk melingkari meja yang telah kami booking. Meja-meja lain telah penuh terisi pagi itu. “Hm… ini pilihan sarapan sehat “ komentar saya.. Bagaimana tidak, segelas susu dan beberapa pangananan kue atau jajanan pagi, cukup untuk mengisi pereut dipagi hari. Kami pun melihat berbagai macam kalangan dan kelompok usia. Ada anak-anak muda atau ABG yang pulang lari pagi, ada mbah-mbah yang memesan susu mad dan telur, ada keluarga kecil yang ‘mampir’ sebelum berangkat sekolah dan bekerja lengkap dengan seragam mereka, ada pula yang sekedar membeli susu untuk dibawa pulang.
          
Kalau saya taksir, pastilah pemilik perusahaan dan peternakan ini orang yang sangat ulet. Dia mampu memberi alternatif ‘sehat’ untuk masyarakat kota Kudus. Bahkan menurut suami saya, ini sudah puluhan tahun sejak beliau kecil. Hmmm… uniknya, sapi-sapi  yang diternak terlihat enjoy meski tidak di habitat aslinya hehee. Mereka ditempatkan di sebuah kandang yang luas, lengkap dengan karpet ternak hygienis dan persediaan rumput gajah yang memadai untuk makanan mereka. Anak-anakpun senang mendapat alternatif liburan dan membuat mereka lebih semangat minum susu karena melihat langsung produsennya.
          
Entah menurut Anda, tapi menurut saya peternakan dan perusahaan susu segar Muria Kudus ini sip banget. Ia mampu menciptakan peluang bisnis sehat di tengah kota. Pagi hari saya jadi lebih fresh dan sehat. Jadi, jika Anda berkesempatan pergi ke Kudus, mungkin Susu Segar Muria Kudus di Jalan pemuda (Depan toko Gaya Busana hehhe komplit) bisa jadi alternatif  kuliner sehat dan lezat Selain Soto Kudus ‘Jatmi’ dan Garang asem Sari Rasa. Selamat Mencoba!