Kamis, 21 April 2011

Analogi Sebuah Kapal dan Pulau Harapan : Sebuah Pelajaran Tentang Amal Jama’I ( bagian 2)


                Sambungan note saya sebelumnya dengan judul yang sama.
                Mungkin orang sedikit menganggap saya berlebihan mengapresiasi tentang training di Pelajar Islam Indonesia (PII) yang saya sudahi tahapannya sampai dengan Pelatihan Instruktur di sekitar tahun 2000 kalau tidak salah. Termasuk suami saya  yang sering menselorohi saya ini  suka bernostalgia (hehe padahal beliau juga pernah mencicipi training PII di SMU 1 Kudus). It’s oke. Tapi menurut saya, ini awal saya menghargai kerja-kerja tim.Karena persiapan training di PII bisa memakan waktu tiga bulan dan selama itu kami harus siap bolak balik Solo/Kota lain-Semarang

                Saya menyadari, teman-teman kami di PII kini telah memilih ‘kapal’ masing-masing. Itulah uniknya, kami di PII tidak pernah merasa harus menghakimi pilihan.  Ada yang ngaku ikut aliran kiri,kanan, tengah (asal gak aliran sesat aja heheh)milih bisnis, LSM, lembaga penelitian, jalur partai, ngurusin pondok, semua pilihan kapal itu tetap menjadikan kami berasa ‘weton’ PII. Keislaman, kepelajaran, keindonesiaan menjadi tiga manifestasi visi dakwah yang manis.Oke, selesai sampai disini cerita ‘pengantar ‘ saya tetang asbabul wurud saya mendapatkan analogi kapal dan pulau harapan itu.
                Episode Selanjutnya, 13 tahun setelah Basic training itu, saya pun bertumbuh dengan segala idealisme. Setelah mahasiswa,dikampus saya berkenalan dan terbina dengan sebuah gerakan dakwah tarbiyah,hingga akhirnya dengan percaya diri saya pun tak malu-malu mengakui menempuh jalur kepartaian. Inilah kapal saya, kapal kami. Analogi kapal dan pulau harapan pun semakin utuh saya pahami sebagai salah satu jalan  menganalogikan  amal jama’I .
                Dakwah  seperti kapal yang didalamnya berisi banyak awak dan penumpang. Layarnya kadang terkembang kokoh dan kadang tertiup angin kencang serta sedikit tercabik. Kerja-kerja dakwah yang besar ini adalah upaya melajukan kapal ini menuju harapan terbesar manusia : Ridho Allah. Didalamnya ada perencanaan, kerja-kerja kebersamaan, dan evaluasi. Apakah selalu sempurna? Tidak! Sebab sunatullah sebuah pekerjaan besar yang dikerjakan banyak orang adalah kekhilafan, kecemasan akan kegagalan dan tuaian kritik.
                Kapal ini akan berjalan, dan ditengah-tengah samudra banyak pulau-pulau persinggahan atau kapal-kapal yang lebih menarik. Atau… didalam kapal kita pun ada sekoci-sekoci yang bisa kita pakai jika kita ingin menyelamatkan diri sendiri.
                Amal jama’I ini sebuah perjalanan yang sungguh menguji kesabaran. Seperti awak kapal dan penumpang yang harus menjaga ketsiqohan untuk tetap dalam kebersamaan sampai ke pulau harapan. Apakah tak mungkin kapal itu bocor? Mungkin saja. Apakah tak mungkin ada penumpang yang ingin coba-coba ‘melubangi’ kapal walaupun tak sengaja? Juga mungkin. Atau…apakah tidak mungkin sampah-sampah laut, pasir dan antukan karang menjadikan kapal kita sedikit kotor, kumuh dan oleng?Ya, sangat bisa!
                Namun pilihan sikap ada pada awak kapal dan penumpangnya. Jika kita tak puas, tidak sabar dengan nakhkoda dan cemas, reaktif dengan lubang-lubang kapal yang tiba-tiba kita temukan, maka kita bisa saja mengambil sekoci dan dengan penuh kemarahan kita memisahkan diri, naik sekoci dan bahkan mengajak penumpang lain ‘ikut’ dengan kita.  Ya,ya,ya mungkin kita selamat dan puas. Namun kita tak akan pernah merasakan kenikmatan orang-orang yang bekerja keras dan sabar dalam kepanikan dan ujian itu. Kemenangan dan keberkahan ada dalam sebuah jama’ah, dalam kerja-kerja yang tak pernah terusik oleh hasutan dan hawa nafsu kedirian.Amal jama’I adalah ujian ketaatan, ketelitian, kemampuan mengevaluasi dan memperbaiki diri dengan tetap optimis dan solid.
                Saya teringat kisah pasca perang Uhud yang diceritakan suami saya beberapa waktu lalu. Saat itu Rasulullah mengumpulkan kembali sisa pasukan setelah kekalahan di bukit Uhud yang memilukan. Rasulullah mengajak kaum muslimin untuk kembali mengejar musuh. Banyak kaum muslimin yang sebelumnya  tidak ikut berperang sebelumnya menawarkan diri untuk menambah kekuatan.Tapi apa jawab Rasulullah ? “Hanya prajurit yang turut berperang sebelumnya dan mengalami kekalahan di bukit Uhud yang boleh ikut serta..”
                Luarbiasa. Hikmah dari ucapan Rasulullah itu adalah bahwa hanya orang-orang yang pernah rekoso, jatuh, kalah, tercaci, terfitnah, bekerja keras dan sabar dalam barisan yang berhak dan layak untuk menikmati kemenangan-kemenangan. Dan tentu kita belum menerima sedikitpun ujian seberat Rasul dan sha habat bukan? Maka, jika kapal dakwah dengan segala pernak pernik tribulansinya, tantangan dan ujiannya ini menjadikan awak dan penumpang yang mampu menutup lobang-lobang kapal dengan sabar, membersihkan kapal dengan bersemangat, tetap merengkuh para ‘peragu’ dalam kapal dan meneguhkannya kembali untuk tetap dalam kebersamaan menuju ‘pulau harapan’, mungkin janji Allah akan layak kita dapatkan : sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Wallahu a’lam bishawwab.*)
*) sebuah nasehat untuk diri sendiri.

Analogi Kapal dan Pulau Harapan : Pelajaran Tentang Amal Jama'i (1)


Kalau tidak salah ingat, diusia 17 tahun saya merasa beruntung ada di forum itu. Saat itu-kalau ini insya Allah benar- saya duduk di kelas 2 SMU. Tepatnya di gedung DDII Islamic Center Pabelan Kartasura, saat Ramadhan. Perjalanan dari rumah saya tempuh dengan bis kota bersama sahabat karib saya, Ayun Nurul Maqbullah. Sempat kesasar, hingga akhirnya menjelang buka kami baru sampai. Saya bertemu dengan teman-teman pelajar yang lebih dahulu bergabung dengan komunitas pelajar yang lumayan bergengsi kala itu, PII. Kakak beradik Almira dan Iin Hasanah, Ridho Amiruddin, Rifqoh, teman-teman sesama peserta baru dan banyak lagi yunda dan kanda di PII. Aku mengikuti Basic Training PII.
                Oke, lanjut. Tulisan ini tentang sebuah awalan training yang membuatku merasa dari sinilah kelebihan training-training PII dibanding-maaf- training pengkaderan organisasi pelajar atau mahasiswa yang biasanya hanya 3hari. Di PII , basic training harus kami lalui 1 pekan stelah sebelumnya  biasanya  minimal sebulan sebelum BATRA kami –para peserta- mengikuti pra Batra selama 3 hari dengan kegiatan yang lebih ringan dan fun. Ya, harus satu pekan, tidak boleh izin meninggalkan arena kecuali dengan alasan yang sangat-sangat darurat. Bagaimana mungkin? Di PII mungkin.
Dihari pertama training ada sesi EXPECTATION (penggalian harapan) dan kontrak forum. Disini kuncinya. Saat saya masih menjadi peserta training paling dasar hingga Pelatihan Instruktur, ini session paling menegangkan. Mitosnya- dan ini benar- kalau sesi ini sukses, maka kemungkinan sukses sebuah training akan besar.Maka tak heran jika para instruktur disetiap lokal (satu lockl/kelas maksimal 12 orang) sangat telaten dan benar-benar diuji kesabarannya.Juga peserta, mereka mulai diuji kesolidan, argumentasi, dan kemampuan ‘membujuk’ teman yang ada tanda-tanda mau pulang di tengah training.hihi.Dan analogi sebuah kapal dan pulau harapanpun menjadi sebuah perumpamaan yang pas.
                Setelah perkenalan peserta , instruktur lokal memberi selembar kertas dan selotip untuk peserta, biasanya dia menyuruh peserta menuliskan harapan mereka satu persatu terhadap training ini.Lalu kami para peserta menempelkan harapan-harapan kami di dinding. Lalu instruktur lokal dibantu observer mulai menggali kami pada harapan, motivasi dan mengajak kami berkomitmen ‘mempertahankan’ komposisi local dari hari pertama hingga hari ketujuh nanti. Dan inilah kurang lebih bahasa umum para instruktur hehe
“ Bagaimana kalau kita ibaratkan local kita ini…sebuah kapal yang akan menuju sebuah Pulau Harapan yang berisi harapan-harapan kita  seperti di dinding itu.Kita akan berlayar bersama kesana. Setuju?”
“Setuju..”
“Mah kira-kira apa ayang akan membuat kitaterhambat sampai kepulau Harapan”
“ Angin kencang, kang, layarnya lepas” satu peserta menjawab
“ Kapalnya bocor, ada yang melubangi kapal”
“Ada yang pengen kembali, kang. Gak kuat berlayar lagi”
                Dan banyak lagi alasan yang mungkin  menghambat training tergali satu demi satu . Dan begitulah, terkadang sampai dengan sore satu lokal baru bisa ‘selesai’ sesi ini karena ternyata ada peserta yang berencana cuma ikut empat harilah, ada yang tiba-tiba hilang mood, ada yang gak suka dengan suasana. Para instruktur sudah terlatih untuk benar-benar telaten menggarap sesi awal yang menentukan ini. Tapi… dengan suksesnya sesi ini proses dialog, menggali motivasi, mengenali karakter awal masing-masing peserta benar-benar membuat saya terkesan. Saat saya menjadi peserta training PII hingga dua kali mengolah forum batra, sebagai inlok dan observer saat masih mahasiswa awal2 dulu, saya merasakan hikmah dari proses ini.
                Setidaknya sampai saya menjadi mahasiswa, saya mulai mengerti bahwa ide dan sebuah amal kebersamaan itu harus didukung tim yang solid dan kemampuan mempertahankannya. Saya pun belajar untuk menerima bahwa ada banyak hal berbeda diluar diri kita.Selanjutnya? Ternyata analogi kapal dan pulau harapan itu kedepan menguak hikmah lebih banyak tentang sebuah…AMAL JAMA’I (kerja tim) dikehidupan saya..13 tahun kemudian (weiitz).see you next J.Salam inspiratif!

Kamis, 14 April 2011

Mengakrabi Semangat Sang Raden Ajeng : 3 Inspirasi Untuk Kartini Era Digital!


                Panggil Aku Kartini Saja,  buku karya Pramoedya Ananta Toer itu saya baca di usia yang masih ranum, 19 tahun.Saat itu saya adalah :seorang anak perempuan, gadis muda dengan banyak cita-cita. Buku  yang entah  bagaimana membuat saya ‘jatuh cinta’ pada Sang Raden Ajeng. Selanjutnya, saya semakin intens menelusuri banyak buku, tulisan dan beberapa artikel tentang Kartini.Ya, tentang semangat dan pemikirannya.
                Waktu berjalan dan saat ini  usia saya menjelang 30 tahun. Kini saya telah menjadi seorang istri dan ibu dari tiga anak balita. Namun toh  saya tetap seorang perempuan. Dan saya tidak mau ‘turun mesin’ dalam cita-cita dan idealisme seperti keluhan banyak perempuan saat telah menjadi istri dan ibu. Bagi saya, Sang Raden Ajeng menjadi salah satu perempuan inspiratif yang mampu menyikapi segala perubahan budaya, peran, status, dengan tetap menghidupkan idealismenya sebagai perempuan bercita-cita luhur ditengah bangsa dan budaya terjajah.
                Perjalanan saya ‘mengakrabi’ sosok Kartini, justru tidak membentuk saya selalu menuntut persamaan hak. Itu sudah selesai. Wacana tentang tuntutan kebebasan, peluang, kesempatan meraih kemajuan sudah sejak lama kita genggam. Justru, telaah saya terhadap sosok Sang Raden Ajeng mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa RA. Kartini adalah perempuan sederhana yang sadar terhadap fitrahnya sebagai istri dan ibu namun menyimpan semangat  kemajuan yang melampaui adatnya. Sang Raden Ajeng  bagi saya justru menyemaikan beberapa inspirasi dan kesadaran yang tak lekang kapanpun. Inspirasi yang akan menjadikan peringatan kelahiran beliau –semoga- bukan lagi peringatan simbolik, bukan lagi diperingati dengan peragaan trend-trend busana kebaya terbaru,misalnya J
                Maka,dalam konteks kekinian,dimana teknologi dan informasi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, izinkan saya memaparkan setidaknya tiga inspirasi dari Sang Raden Ajeng Kartini bagi kita, perempuan Indonesia di era digital untuk memberdayakan diri, keluarga dan masyarakatnya.
Inspirasi Pertama : Kesadaran Menjadi  Perempuan Pembelajar
                Kartini seorang pembelajar. Semangat pembelajar itu yang membawa Kartini pada kesadaran untuk mengakses  informasi dan terus mengikutinya dari semua kalangan. Semangat belajar itulah yang mengeluarkan Kartini dari sekat-sekat budaya dan keterbatasan. Kesadaran belajar itu pulalah yang menggiring Kartini mengakrabi kembali ajaran Al-Qur’an dan menjadikannya seorang perempuan kritis yang akhirnya menemukan bahwa agamanya mengajarkan persamaan hak belajar dan hak-hak kemanusiaan yang sama untuk laki-laki dan perempuan. Kesadaran itulah yang membentuk kesadaran moral bagi Kartini untuk mencerahkan kaumnya.Luarbiasa !
Kita, perempuan Indonesia masa kini semestinya lebih mampu memompa semangat belajar. Era digital  didepan mata, mengajak kita menjadi pemilih teknologi dan informasi yang cerdas. Segala hal dapat kita akses, segala ketrampilan dapat kita pelajari dan segala ilmu dapat kita perdalam hanya dengan menggerakkan jari. Apapun profesi dan kegiatan perempuan saat ini, ia harus dapat belajar menemukan hal baru yang dapat meningkatkan kualitas aktifitasnya.
Hal itu benar-benar saya coba patrikan dalam diri. Bahwa saya bangga berprofesi dan berkegiatan utama sebagai istri dan ibu rumahtangga. Namun saya harus mampu meningkatkan kualitas saya dalam mengasuh anak-anak, memenej rumahtangga, berinteraksi sehat serta berpartner dengan suami dan orang-orang disekitar saya. Lewat teknologi internet saya dapat meluaskan wawasan saya, melejitkan potensi , bahkan ‘bersekolah’ online dari rumah. Perempuan pembelajar mampu mengatasi keterbatasan menjadi sebuah energi positif untuk lebih maju.Ya,seperti sang Raden Ajeng.
Inspirasi Kedua: Kemampuan Bersinergi dan Berkepedulian Sosial
                Hal lain yang saya temukan dalam sosok Raden Ajeng Kartini adalah kemampuan beliau untuk membuat sinergi dengan orang lain, dengan orang terdekat dan dengan masyarakatnya. Beliau –dengan spirit moral dan karakter pembelajarnya- mampu meyakinkan suaminya untuk mendukung cita-citanya, pun beliau mampu menjalin komunikasi efektif dan sinergis dengan sahabat Belanda beliau pasangan suami istri J.H Abendanon dan sahabat penanya yang lain,  Estelle "Stella" Zeehandelaar, untuk bertukar pikiran, saling mendukung dan mensinergikan cita-cita luhurnya. Tak heran jika dimasa itu, justru suami beliau mendukung keinginannya untuk membuka sebuah sekolah bagi kaum perempuan, sebuah dukungan berharga dan diluar kebiasaan kala itu.
                Itulah yang harus kita ejawantahkan saat ini. Kasus-kasus kekerasan, perkosaan, kasus sosial ,keluarga, anak dan semua yang terkait dengan dunia keperempuanan hanya bisa diselesaikan dengan sinergi para perempuan sendiri. Kita para perempuan Indonesia dapat menyuarakan segala persoalan dan mencari solusi dengan memanfaatkan jejaring sosial,media dan semua akses teknologi. Maka, tidak ada lagi alasan untuk bersikap acuh dan hidup dalam kepentingan diri. Sebab Kartini dan para pejuang bukan sosok yang hidup untuk dirinya sendiri.
Inspirasi Ketiga : Kemampuan Mendokumentasikan dan Menebar  Pemikiran/Ide
                Boleh jadi, Cut nya’ Dien adalah pahlawan perempuan yang lebih dahulu terjun dengan heroik di Tanah Rencong. Pun seorang Dewi Sartika lebih dahulu membuka Sekolah Istri sebagai kepeduliannya terhadap kemajuan kaum perempuan bumiputera.Namun, mengapa Kartini memiliki ide yang terus hidup, diperingati dan menyejarah??
                Jawabnya karena kartini MENULIS! Inspirasi terakhir dan menjadi terpenting dalam tulisan ini adalah bahwa Sang Raden Ajeng Kartini mampu mendokumentasikan pemikiran dan cita-citanya. Kegemaran korespondensi beliau dengan sahabat pena di Belanda, tulisan-tulisan beliau kepada Nyonya Abendanon menjadi kumpulan pemikiran yang tak lekang.
                Belajar dari semangat Kartini untuk menggunakan pena dalam memperjuangkan cita-citanya, maka saya mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk belajar ‘bersuara’ melalui tulisan. Sebab menulis akan menyalurkan ketulusan , kepedulian serta  energy positif kita. Menulis akan mengasah kemampuan kita untuk memandang persoalan dengan banyak sudut pandang, menulis mampu mempengaruhi pemikiran dan menyentuh perasaan.
Kemampuan mendokumentasikan pemikiran dan ide inilah yang kelak akan menjadikan kita perempuan yang memiliki rekam jejak dan sejarah cita-cita. Apalagi di era digital, tulisan kita di facebook, blog ataupun website menjadi sebuah sebaran pemikiran yang luarbiasa. Kesuksesan-kesuksesan kecil dan pemikiran-pemikiran –yang mungkin kita anggap sederhana- namun kita dokumentasikan melalui tulisan, kelak akan menjadi inspirasi bagi banyak orang, dan jika itu membawa kebaikan maka kita akan mampu menawarkan perubahan sikap dan perilaku yang luarbiasa. Ya,ya,ya!Maka inilah salah satu cara saya mendokumentasikan ‘perkenalan’ saya dengan Sang Raden Ajeng, dengan menuliskannya untuk Anda!
Demikian tulisan ini, semoga menjadi renungan dan inspirasi dari sosok yang tentunya tak ingin dirinya hanya menjadi sebuah simbol tanpa makna. Maka, mari kita coba menanyakan pada diri, apakah benar kita pantas menjadi ‘Kartini’ Digital masa kini? Mari memulainya hari ini!
*tulisan ini saya sertakan dalam kompetisi menulis blog ‘Kartini Digital’ oleh XL dan forum Indonesia Berprestasi. Mohon koment dari teman dan sahabat.Silakan berkunjung ke rumah pemikiran kami,  di  http://penaperempuan.blogspot.com untuk tulisan-tulisan seputar dunia perempuan dan keluarga .Salam Inspiratif!
Info Kompetisi Menulis Blog dan Kompetisi lain silakan klik http://xlcsr.com/kartinidigital/lomba-menulis-blog/


Sabtu, 09 April 2011

Keluar Rumah Tanpa Resah

Pernah melakukan aktifitas diluar rumah dengan ‘resah?’ Jujur saya akui, Saya pernah. Saya keluar rumah sementara saya merasa bersalah karena meninggalkan anak-anak saya tanpa persiapan yang prima. Masak seadanya, perasan ASI saya tidak optimal, sementara saya sudah dijemput untuk mengisi acara. Apalagi saat pertamakali saya mengontrak rumah dan saya masih gagap mengatur waktu. Saya memang tidak bekerja diluar rumah yang menghabiskan waktu lebih dari enam jam diluar rumah. Sayapun bukan pegawai sebuah perusahaan manapun yang pulang disore hari. Saya hanya keluar rumah untuk urusan aktifitas social dan dakwah. Tapi, tetap saja, keluar rumah tanpa persiapan akan menjadikan sebagian hati kita terasa terburu dan ketenangan kita terganggu.
                Oya, mari kita sepakati terlebih dahulu bahwa dalam tulisan ini, persoalan tujuan kita keluar rumah dan keridhoan suami  atas keperluan kita diluar rumah sudah selesai. Artinya, kita memang keluar rumah insya Allah tidak untuk bermaksiyat dan suamipun ridho. Persoalannya , kita adalah panglima untuk ‘pasukan’ kita (anak-anak dan pembantu) serta  manajer untuk rumahtangga kita. Maka, mari kita pastikan bahwa rumah kita dan pasukan kita dalam keadaan aman terkendali selama kita diluar rumah. Saya pun masih selalu belajar, namun setelah tujuh tahun menikah dan sedikit demi sedikit belajar bersama suami, pembantu dan anak-anak kami, saya menemukan beberapa pola dalam mengasuh anak-anak dan memenej rumah, termasuk agar aktifitas diluar rumah kita tidak mengabaikan hak-hak anak-anak dan tidak menerbitkan kemrungsung. Bismillah, mari kita mulai!
1.Menyampaikan Tujuan Kita dengan Tepat
                Anak-anak harus mengerti aktifitas kita dan manfaatnya. Saya biasa mengajak anak-anak berdiskusi dan melibatkan mereka dengan perbincangan-perbincangan yang memancing mereka berpendapat. Saya ibu rumahtangga yang tidak bekerja diluar rumah, maka saya benar-benar tekankan pada anak-anak bahwa jika uminya keluar rumah maka pasti ada keperluan yang penting. Saya sering katakan pada mereka  “umi punya banyak waktu bersama kalian dirumah.jadi kalau umi pas pergi, insya Allah itu benar-benar ada perlu.Umi mungkin belanja, berbagi ilmu dengan oranglain, pengajian dan keperluan lain.Jadi kalian bisa ya bersabar dirumah?” Saya pun mulai mengenalkan fadhilah atau keutamaan membagi ilmu pada oranglain, mendatangi majelis ilmu dan apapun aktifitas saya.Mungkin terkesan serius tapi tak apa, bagi saya anak-anak akan memahami kita hanya jika mereka dimengertikan
                Hidari pemahaman yang salah pada anak. Misalnya, untuk orangtua yang bekerja, saya sering mendengar kalimat yang akan menjadi boomerang begini : “Ayah/Ibu bekerja untuk cari uang, nanti kan kalu udah dapat uang bisa untuk beli mainan buat adek/kakak, Ya? “ atau “Ibu pergi dulu ya, gak usah nangis nanti kalau ibu pulang kan ibu bawakan oleh-oleh?”   Apa akibat dari dua pernyataan itu? Anak akan salah memahami bahwa bekerja hanya untuk cari uang dan beli mainan.Anak juga akan merasa ‘harus’ dibawakan oleh-oleh saat ayah/ibunya keluar rumah. Bagaimana?Mari mulai belajar menyampaikan pemahaman yang benar pada anak-anak ya bund, ayah!
2. Mempersiapkan Kebutuhan Anak dan Suami
                Kita-perempuan- diberi anugrah alam/fitrah  (Ratna mengawangi menyebutnya female modesty) untuk melayani, mengayomi dan mampu melakukan banyak aktifitas sebagai istri dan ibu. Naluri bertanggungjawab inilah yang harus kita penuhi. Persiapkan kebutuhan anak-anak dan suami sebelum kita keluar rumah. Mungkin ini akan sangat terasa bagi kaum perempuan yang berkarier diluar rumah.
                Saat saya mempunyai agenda keluar rumah diatas satu jam, maka saya harus menyiapkannya seprima mungkin. Dan itu saya awalai dengan bangun lebih pagi! Jika saya keluar rumah pukul 8, misalnya maka saya akan berusaha bangun pukul 3.30 dini hari.Dan sejak jam itu sampai dengan asisten rumahtangga saya datang,  Saya mencuci, memeras ASI (terutama saat masih member ASI ekslusif)menyicil menyapu rumah, menyiapkan seragam atau baju kerja anak-anak dan suami, menyiapkan bahan sarapan atau memasak satu sayur untuk seharian hehe, mencatat apa yang harus dilakukan asisten, memandikan anak-anak yang akan sekolah. Nanti saat asisten saya datang, dia tinggal memandikan anak bungsu saya dan saya bersiap.Atau jika hari libur,maka saya melonggarkan waktu mandi pagi. Persiapan tersebut melegakan saya.Setidaknya saya tidak membiarkan anak-anak kelaparan saat pulang sekolah.
3. Mendelegasikan Pekerjaan dengan Tepat Selama di Luar Rumah
                Saya memang sangat membutuhkan asisten rumahtangga terutama untuk menjaga anak-anak saya selama saya melakukan aktifitas luar rumah. Maka sejak awal saya tidak membebankan semua pekerjaan rumah pada pembantu (khadimat). Saat haru s pergi, Saya memberikan tugas yang focus pada khadimat saya, yaitu menjaga anak-anak. Apalagi jika semua anak terpaksa saya tinggal dan kita hanya punya satu asisten. Itulah sebabnya saya mengerjakan beberapa pekerjaan rumahtangga, sebelum keluar rumah, agar selama saya pergi khadimat saya focus menjaga anak-anak
                Jika kita bekerja seharian, lebih baik kita memberikan catatan pada khadimat, apa yang harus dikerjakannya dan yang harus dilakukannya dengan anak-anak. Jika asisten sudah terbiasa, maka kita hanya tinggal mengeceknya. Jangan membebani khadimat dengan hal-hal yang belum mampu ia kerjakan atau membebani terlalu banyak pekerjaan.
4. Tetap Menjalin komunikasi
                Komunikasi hangat dengan anak-anak  menjadi hal yang paling melegakan. Jalinlah komunikasi dengan anak-anak dan khadimat selama bepergian. Tidak usah terlalu sering tapi cukup mengingatkan jam-jam makan, mandi, sholat atau sekedar say hello. Komunikasi juga akan memberikan kesan dekat dan akan membuat anak-anak merasa diperhatikan.
                Bagus juga saat kita pergi, sesekali kita memberi aktifitas yang prestatif dan kita tanyakan saat menelepon.Apakah itu berbentuk pekerjaan ringan (membantu mbak, membereskan mainan, menjaga adek), ataukah sikap positif (tidak bertengkar, makan dengan tertib,sholat,) atau sekedar mewarnai, membuat kreatifitas dari play dough yang akan mereka tunjukkan pada kita. Berikan reward kejutan.Tak harus mahal.Bahkan saya kadang hanya member reward pelukan atau memasang karya mereka dikamar kami, itu membanggakan.
5.Tetap Bersemangat dan Ceria saat Kembali Pulang
                Bekerja atau beraktifitas beberapa lama diluar rumah pasti melelahkan.Tapi, mari kita tetap antusias dan bersemangat saat masuk rumah. Segera peluk anak-anak,  segeralah bergabung dengan mereka, tanggapi dulu cerita mereka yang pasti sangat bertubi-tubi hehe. Jangan memasang wajah lelah, apalagi mengatakan “ah, nanti saja ya, ibu capek nih” . Kitalah yang harus membayar kerinduan itu. Jika anak-anak telah kita sambut dan kita perhatikan, minta waktu pada mereka untuk sholat, mandi,atau beristiraat sejenak. “ Oke, gimana kalau Umi mandi, ganti baju, sholat, nah nanti kita lanjutkan ya main-mainnya?” Lalu, kembalilah merengkuh mereka. Ya,ya,ya…mereka sudah sangat bersabar menanti kita bukan?
Begitulah. Semoga apapun aktifitas sarat manfaat diluar sana yang kita jalani, memberikeberkahan.Semoga kita masih tetap dapat memberikan hak anak-anak kita.Agar kita menjadi orangtua yang senantiasa dirindukan. Salam inspiratif!

Senin, 28 Maret 2011

Mengkondisikan Anak di Forum/Acara ‘Serius’


kasus 1 :
 ”prang!!!!” tutup toples itu akhirnya pecah oleh anak seorang temanku.Sebelumnya si anak mengaduk-aduk isi toples, berpindah dari satu hidangan ke hidangan lain, tanpa dihabiskan! Kami yang dari tadi miris dan melihat si empunya rumah juga ’cemas’ namun pekewuh negur  akhirnya hanya bisa saling pandang dan menggelengkan kepala. Teguran kami sedari tadi tak meredakan tingkah super ngglidisnya, sedang ibunya? hanya berkomentar ”Nah, mbak nana ( bukan nama sebenarnya), pecah kan?Maaf ya Bu...” Dari tadi ngapain aja buuu??? Ada lagi yang curhat, tanaman hias kesayangannya tercabik-cabik karena tamu kecilnya tidak dihandle dengan baik oleh ibunya.
kasus 2:
Dari tadi beberapa anak  itu kok gak bisa diam ya. Naik turun panggung, mengganggu pembicara (ustadz) Sang ustadz sampai agak jengah dan  wajar jika kehilangan mood dan konsentrasi. Forum yang tadinya menjadi harapan kami menimba ilmu dan merefresh ruhiyah kami, sontak menjadi ajang teriakan, lari-larian. Sebalnya, orangtua anak-anak itu –padahal datang berdua- tidak aada yang beranjak dan mengajak anaknya menjauhi arena atau memberi kegiatan ’alihan’. Diam, hanya ragu-ragu dan memanggil-manggil, atau –bahkan- asyik mengobrol. Ndilalahnya (solo banget) selalu mereka yang jadi ’bintang panggung’.Hiiiih kalau saya orangtuanya, sudah saya angkat anak itu dan saya korbankan tempat duduk saya.Resiko mengajak anak kan?
kasus 3:
Diacara pernikahan seorang kerabat. Seorang anak memaki anak-anak saya dengan berteriak-teriak .”Ini kursiku semua, jangan duduk disitu!!! Jelek kamu”. Selanjutnya si anak tadi meneriaki ibunya, membuat onar, mengacak-acak sup. Ibunya yang malu semakin  panik. Saya hanya memberi isyarat anak-anak untuk diam dan pindah.Jujur saya malas menegur. Anak saya yang memang dari siang sudah saya kondisikan jika  jadi ikut, untuk  duduk ditempat yang lapang, dideretan belakang dan ambil kursi dekat meja agar bisa makan dengan santai. Anak-anak heran dan berbisik ”mungkin dia tadi belum dikasih tau  mamahnya ya, Mi?” Yang tengah berkata ”Kok dia gitu  ya mi, itu mamahnya kan malu ya. ini kan kursinya bukan punya dia ya, kan bukan rumahnya” hehe

    Begitulah.Itu tiga kasus paling sering saya jumpai. Anak-anak di forum serius orangtua.Apakah rapat sekolah, acara-acara pengajian pekanan, seminar (kecuali yang emang boleh bawa anak), undangan pernikahan atau sekedar bertamu. Yah sebenarnya ini secara umum tentang mengajak anak bepergian dan bertandang diluar rumah, tapi saya senang memakai judul diatas
    Sebenarnya, anak-anak memiliki dunia bermain dan waktu konsentrasi yang bisa kita pelajari dan kita kondisikan. Sikap dan attitude diluar rumah pun bisa kita biasakan. Mengajak anak-anak di forum yang ’bukan’ milik mereka menawarkan konsekuwnsi yang mestinya telah kita prediksikan. Bukan untuk kenyamanan kita saja, tentunya, tapi untuk orang lain di forum yang sama. Ya, Saya pun sadar, mungkin kita terpaksa mengajak anak-anak di forum yang serius dan penting  karena tidak ada pihak lain yang bisa kita titipi selama kita pergi. It’s oke sebenarnya, itu pilihan namun sangat perlu kita persiapkan. Semoga sharing pengalaman ini sedikit membantu
1. Pra kondisi itu perlu
    Sebelum mengajak anak-anak, pastikan bahwa mereka mengetahui acara yang akan mereka datangi. Beri gambaran, kemudian beri pilihan. Jangan mendadak mengajak atau juga meninggalkan mereka. Maaf, biasanya saya memberi tahu jadwal acara keluar rumah pada anak-anak sehari sebelumnya. Anak-anak mengerti bahwa saya pengajian pekanan di hari Senin, rapat sekolah mereka, tugas di Posyandu, pergi dengan abi dan semua kegiatan saya. Saya mencoba mendiskripsikan satu-satu dan mengusahakan memberi mereka pilihan. Tidak setiap saat karena sekarang anak-anak sudah ngerti bahwa mereka bisa ikut atau tidak.
    Misal jika saya pengajian pekanan. Saya bilang ke mereka begini
Saya:”Umi besok pengajian, halaqoh”
Anak-anak:”Liqo’ ya mi? Dirumah sini atau di rumah teman umi?”
Saya: ”Dirumah teman umi ?”
Anak-anak :”Rumahnya luas atau tidak? Kalau rumahnya luas, kami boleh ikut kan kata umi?Kalau rumahnya kecil ya..kami gak ikut”
Saya: “Ya, boleh.Jika kamu ikut, adek umi tinggal sama mbak ros (atau pengasuh), dan kalian bersiap karena umi tidak mau terlambat. Tapi sampai hampir maghrib lho acaranya dan disana ada aturan, kalian tidak mengganggu umi ataupun ibu-ibu yang lain. Karena umi disana mengaji, bukan bermain santai. Kalian bawa persiapan yang biasa kalian bawa untuk mengisi waktu. “ Maaf saya memang terbiasa mengajak anak2  berbicara’ serius untuk hal serius
Anak-anak “Hm... sampai maghrib ya.Berarti aku gak bisa nonton TV champion Zona Juara ya? Trus kalo misalnya aku gak ikut? “
Saya:“Ya, kalian bisa membuat snack sore ( dengan bahan seadanya.Biasanya minimal saya mnyediakan nutrijel ), mandi agak nanti, iqro’ dengan mbak Ros, nonton Zona Juara, atau jika Yangti Lia (tantenya Suami)nanti datang dan mengajak kalian ke alun-alun, kalian boleh juga ikut, asal tidak sampai maghrib.Gimana? Silakan aja pilih”
    Biasanya si sulung memilih stay at home, sitengah juga ikut kakaknya. Atau ikut saya. Sayapun siap dengan pilihan anak-anak. Jika mereka akhirnya ikut dan ‘bosan’ mereka akan ingat aturan saya dan biasanya lumayan bisa agal bersabar.Yah, semua pilihan ada akibatnya itu prinsip saya. Itu selalu begitu dalam tiap acara yang saya ikuti.
2. Persiapan
    Saya terinspirasi dengan seorang teman mengaji saya. Ia seorang dokter.Saat itu seingat saya, putranya yang sebaya dengan sulung saya berusia 2 tahun dan si sulungnya berusia 5 tahun (kalau tidak salah). Saat pengajian beliau membawa bekal makan sore lengkap nasi dan sayurnya, dengan sendok dibungkus kantong plastik, terlihat higienis dam cermat. Saya senang melihatnya dan saya ingat-ingat terus. Ternyata, itu adalah cara beliau untuk menjaga ’jadwal makanan’ anak-anak. Luar biasa. Begini jelas beliau setelah sekian lama saya ingatkan lagi peristiwa itu, ”anak-anak usia dibawah 7atau 8 tahun umumnya belum bisa menahan lapar, bu.Jadi jika tidak terpaksa, jangan mengajak pergi menabrak jam makan. Jika itu terjadi, bawakan bekal, agar jadwal makannya tidak terganggu” Itu salah satu ilmu yang saya dapat dari ibu-ibu yang cermat. Pun  demikian ada pula –pelajaran – sebaliknya. Saya pernah melakukan ketidaktelitian dalam mempersiapkan anak-anak saya keluar rumah, saya lupa membawa baju ganti.
    Ya, jika memang kita memilih anak-anak ikut ke forum dan acara kita, persiapan yang cermat akan membantu kita untuk tenang. Perlengkapan pribadi (baju ganti, popok/diapers/celana cadangan, tisue basah, handukkecil, obat-obatan sederhana , minyak telon, bekal makanan-minuman), perlengkapan mengisi waktu ( buku cerita, majalah, buku gambar dan crayon, kertas lipat, lem, gunting, play dough, plastisin, dll)
    Siapkan pula kemungkinan terburuk jika pra kondisi tidak berhasil ditengah acara. Misalnya, cepatlah membuat anak tenang dan atau carilah tempat duduk yang memungkinkan kita segera mengajak anak keluar arena saat mereka bosan
3. Menghandle Anak Bersama
    Jika kita memang datang di acara tersebut berdua, dan memang telah disepakati untuk tidak menitipkan anak-anak pada pihak lain (hehe) ya semestinya kita dan pasangan dapat bekerjasama. Terus terang, saya dan suami biasa melihat substansi acara untuk memutuskan mengajak anak-anak atau tidak. Jika kami memiliki pengasuh, atau tante kami longgar dan bersedia mengajak dua putri tertua kami, ya kami memilih tidak membawa mereka. Bukan apa-apa, kami mencoba mempertimbangkan apakah forum ini bisa ’dinikmati’ anak2 atau tidak. Apakah kami bisa menghandle ank-anak atau tidak, apakah kehadiran anak-anak kami mengganggu forum atau tidak.
    Atau...jika kami memang harus membawa anak ke sebuah forum, semua persiapan harus prima dan kami harus bekerjasama menghandle mereka. Saya kadang gemas melihat suami istri, membawa anak –lebih dari satu- dan hanya si ibu yang repot dan kalangkabut saat anak-anak mereka rewel. Sang ayah hanya duduk bersedekap atau bahkan tidak hafal tangisan dan amukan anaknya hehe.
    Kadang-juga- orangtua tidak peka bahwa ke’aktifan’ anak-anak mereka sebenarnya mengganggu orang lain. Mungkin, mereka anggap ini sebuah bentuk ’keberanian’, kreatif atau lucu. Padahal, anak-anak mulai usia 2tahun sudah dapat diberi tahu tentang adab dan kesopanan. Saya termasuk yang sering risih dengan pemandangan hiruk pikuk anak-anak di forum serius meskipun tentunya saya harus menahan diri.Orangtua harus jeli saat membawa anak-anak apakah tingkah anak mereka membahayakan, merisihkan atau bahkan membuyarkan konsentrasi. Apalagi jika mereka memilih tidak menitipkan anak-anak ke tempat hadhonah atau children area.Sejauh ini  selalu saya tanamkan pada anak-anak bahwa setiap tempat memiliki aturan, jadi jika mereka ikut acara kami  mereka tau apa yang harus mereka jaga ditempat berbeda. Hal itu sangat kami ingatkan terus. Biasanya kami pun memberi 'reward' jika mereka bersikap disiplin dan menyenangkan, mentaati perjanjian hehe
 
4. Hadhonah dan Children Area : Rekomendasi Untuk Penyelenggara
    Anak-anak dibawah lima tahun memang tak bisa berkonsentrasi dalam waktu lama. Maka jika kita menyelenggarakan acara atau dapat mengusulkan pada penyelenggara, jasa hadhonah (penitipan anak dan pengasuhan) dan children area mestinya harus diprioritaskan. Sebab, saya menyadari semua orang ingin datang kesebuah acara penting dan memang tidak semuanya bisa meninggalkan anak-anak dirumah. Maka tim menghandle anak-anak disebuah acara (misal daurah, seminar, atau pengajian bahkan) harus ada.
    Suami saya pernah dengan tegas meminta panitia dan para orangtua disebuah acara untuk menghandle dan menenangkan anak-anak. Secara, sesion beliau mengisi waktunya siang hee. Ya,ya... penyelenggara yang profesional akan mencoba memfasilitasi children area di forum serius. Lalu bagaimana dengan orangtua yang –maaf- kadang ngeyel untuk tetap mengajak anaknya didalam forum? Orangtua sebenarnya bisa memasukkan poin ini pada tahap ’pra kondisi’ dengan mengatakan pada anak-anak ”jika kamu  mau ikut, nanti disana ada tempat untuk anak-anak kamu disana ya atau jika tetap ingin sama umi kamu bisa tenang” dan jika kita akan menitipkan anak-anak di children area atau hadhonah, usahakan datang lebih awal agar anak enjoy dahulu dan tidak kaget

Begitulah, mungkin tulisan ini terkesan ih mau ajak anak aja kok ribet. Tapi jujur, tulisan ini sudah mengendap beberapa waktu. Terus terang dengan sangat jujur saya akui saya sering merasa terganggu dengan acara yang sudah dipersiapkan, kita dapat amenggali ilmu, pembicara pun sudah didatangkan jauh-jauh dan tentu sudah mempersiapkan diri, ternyata nuansa tholabul ilminya gak dapat dan bahkan rusak karena teriakan anak-anak. Semoga ini nasehat untuk diri saya sendiri.Salam inspiratif!

Kamis, 17 Maret 2011

Sebab inilah Kampusku Seumur Hidup!

Sarjana Rumah Tangga. Itu gelar baruku sejak tujuh tahun yang lalu. Kuliah seumur hidup . Setara dengan S1, S2, S3 bahkan nantinya. Dimana kampusku?  Dirumah. Teman belajar dan dosen-dosenku ku adalah suami, anak-anak, mertua, orangtua, ipar, tetangga, tukang sayur, tukang ikan, bahkan pembantu. Keputusan yang kuambil sejak aku masih nikah nyambi kuliah. Dari sinilah cerita ini bermula. 

           Aku seorang anak perempuan yang biasa-biasa saja, namun aku bangga bahwa abah dan mamah ku tidak pernah membuatku patah asa. Siapa yang tak bangga pada orangtuanya? Jika ada semoga itu bukan anda dan saya. Dibesarkan sebagai sulung aku menjadi sangat dekat dengan mamah. Beliau  seorang pekerja keras dan selalu kreatif. Pembelajar otodidak yang bangkit dari harapannya untuk sekolah lebih tinggi dari sekedar SMA. Aku menikmati masa kecil yang indah karena memang aku belum mengenal beban hidup. Baru aku tau cerita-cerita sedih dan keprihatinan saat aku menginjak remaja. Haha. Sejak usia SD –seingatku- ibuku mengelola rumahmakan yang akhirnya berkembang pesat. Tapi sejak saat itu ada sebersit  sedih tiap aku pulang sekolah : rumahku gembokan. Kunci dititipkan ke tetangga, atau aku pulang  dulu kerumah nenek, atau aku menyusul ke rumah makan ibuku yang memang tak terlalu jauh jaraknya. Tapi itu membekas. Sampai tiga rumah makan sukses dikelola ibuku. Aku bangga karena ibuku tetap profil hebat dalam kenanganku. Mama saya punya berjuta ide yang terus membelah dan beliau seorang yang selalu mendukung cita-cita kami.Tapi, tetap saja kenangan masa kecil sampai remaja itu membekas.Salah satu yang turut  Mengkristalkan cita-cita yang benar-benar saya yakini:        Aku tak mau bekerja diluar rumah, kelak!
        Begitulah. Seolah takdir memang menuntunku  pada pilihan itu. Menjadi ibu rumah tangga. Menikah saat masih skripsi, begitu awalnya. Saya bahkan sempat tidak enak hati saat ayah saya secara ‘terselubung’ sebenarnya masih ingin anak sulungnya ini meniti karier profesional sesuai ilmu hukum yang ia punya. Mungkin ayah saya pengen lihat putrinya yang ‘aktivis’ ini jadi pengacara, atau notaris begitu . Tapi setelah menikah, saya bertekad bahwa saya akan sukses dengan menulis, mengasuh anak-anak, mendukung karier dan dakwah suami saya. Saya yakinkan abah dan mamah saya bahwa saya akan terus berkarya, menulis dan sukses dengan cara yang lain

       Setelah menikah saya masih sempat merasakan sisa-sisa semangat dan idealisme masa muda hehe. Saya masih ingin tetap beraktivitas diluar rumah, mengisi kajian-kajian, kesana kemari sambil membawa anak pertama saya. Apalagi setelah menikah dan melahirkan, saya sempat berpisah dengan suami yang menempuh kuliahnya di Sudan. Tapi setelah kelahiran anak kedua dan mengontrak rumah sendiri, saya mulai merasakan nuansa berbeda. Saya sudah mulai menyadari bahwa ada peran dan target berbeda, ada amanah dan fokus berbeda, pun ada peran dakwah berbeda pula saat kita telah menjadi seorang ibu dan istri. pomah, begitu orang Jawa bilang.Saya mulai menikmati ada dirumah, ngurus anak-anak dan segala hiruk pikuknya.

         Saya juga mulai bermasyarakat, membuka rumah baca, mengasuh anak-anak saya dan belajar sedikit demi sedikit mengatur rumahtangga saya. Saya benar-benar belajar mandiri, menyelami problematika rumahtangga dan berinteraksi dengan banyak pihak. Saya pun belajar benar tentang bagaimana bertawakkal, belajar qona’ah, menjaga izzah suami dan keluarga saya. Ya, memang kadang sempat terbersit mengapa ya saya hanya dirumah, tidak berpenghasilan, sementara cita-cita saya banyak sekali, haha. Tapi, saya segera dapat mengubah pikiran-pikiran negatif itu menjadi lebih positif. 

Inilah Kampusku
Saat menjelang kelahiran anak ketiga saya benar-benar merasakan puncak semangat sebagai ibu dan istri. Mungkin karena kata orang, memiliki anak lebih dari dua berarti kita benar-benar jadi ‘orangtua’.Ya, karena kita tak lagi bisa bawa anak satu-satu dengan suami, hehe. Kita harus bisa mengatur segalanya seluwes mungkin, menghayati perbedaan karakter anak-anak kita. Terlebih saat anak ketiga lahir, dengan penuh ketulusan suami saya menawarkan beberapa pilihan apakah saya ingin sekolah lagi, berbisnis toko kue atau saa ingin aktif di LSM sambil mengasuh anak-anak? Intinya suami dan saya berkomitmen untuk ’istirahat’ dulu , hehe apalagi persalinan cesar anak ketiga kami memang mengharuskan saya istrirahat dulu. Dan saya memilih yang ketiga : meretas KPPA Benih, LSM yang saya rintis bersama teman-teman saya, fokus mengasuh anak-anak dan menulis sebagai refreshing intelektual saya, serta 'cuap-cuap' membagi ilmu pengasuhan anak yang saya tularkan ke kampung-kampung.sederhana alasananya : karena mengasuh anak benar-benar investasi masa depan.

Ya, ini pilihan yang membahagiakan saya. Saya memang memiliki keinginan besar untuk kuliah lagi atau berbisnis kecil-kecilan. Tapi semua saya tunda. Saya melihat bahwa mengasuh anak-anak kita sampai dengan karakter dasar mereka terbentuk tidak dapat setengah-setengah. Saya mungkin belum menjadi ibu yang hebat.Tapi setidaknya menurut saya, senantiasa ada saat anak-anak memanggil dan membutuhkan saya adalah suatu masa yang tidak akan dapat saya tukar dan ulang lagi. Mungkin saya juga belum menjadi ibu yang sabar, tidak pemarah dan kadang pun masih bete dengan kejenuhan. Tapi, saya benar-benar belajar dari rumahtangga saya ibarat seorang ’murid’ atau mahasiswa. Tiap hari mata kuliah baru dalam hal pengasuhan dan manajemen rumahtangga saya dapatkan justru dari anak-anak saya. Saya belajar dari rumah. Dan inilah ’aktivitas’ kuliah saya dirumah





1. Saya  dan  ’Civitas Akademika’ di Kampus saya


            Di Universitas rumah tangga saya berteman sekaligus menimba ilmu dari semua. anak-anak saya, suami, pembantu, mertua, adik ipar, kakak ipar, penjual sayur, penjual ikan, tetangga dan guru-gur u anak saya. Yang paling utama ya keluarga inti : anak-anak, suami dan pembantu.


            Saya menikmati hari-hari saya bersama mereka sebab tiap hari ada mata kuliah baru yang saya dapatkan. Stay at home mom adalah pilihan saya untuk terus belajar setiap hari dan waktu.Tidak ada hari libur, yang ada aktifitas belajar tanpa jeda. Mengenal dan terus memperbarui rasa cinta pada ’civitas akademika’ saya adalah kunci dari semangat saya untuk tetap ada disini : dirumah

2. Membuat Jadwal Kuliah dan Skill Aktivity

            Saya terinspirasi dengan tulisan sahabat saya, Jazimah al- Muhyi yang suatu hari menulis sebuah catatan tentang jadwal sehari-harinya bersama anak-anak dan sebagai istri. Saya senang karena dari sana sebenarnya hikmah tentang kata ’belajar’ itu kita dapat.

            Para ibu yang tetap dirumah memiliki rutinitas yang hebat, 24 jam nonstop. Saya merasakan itu. Jadwal-jadwal kuliah di ’universitas’ saya ini kami buat sendiri. Saya harus berkomitmen. Awalnya saya memang belum bisa mengatur ritme. Jujur, saat pertamakali menikah sayapun harus beradaptasai (kayak ospek eheh). Memilih menjadi stay at home mom berarti siap untuk menghadapi rutinitas yang –kadang- menjemukan.
            Namun seperti halnya ’ngampus’, saya tidak mau menjadikan rutinitas itu sebagai pekerjaan.Namun sya menjadikannya kerier,jenjang-jenjang dan kualitasnya  harus saya lampaui dengan manis dan terus bertambah baik , meskipun ’pekerjaan’ dan aktivitasnya sama tiap hari.

            Sayapun mulai mengatur jadwal mata kuliah tiap hari. Misal untuk mata kuliah ’nutrisi’, maka saya setiap hari harus menyusun menu yang baik dan bergizi selain lezat. Saya harus memasak dengan kualitas yang bertambah baik dengan pengetahuan yang semakin baik pula tentang masak, memasak. Itu misalnya. Setiap hari dosen-dosen kecil saya dan segala peristiwa dirumah dan sekitarnya pasti menjanjikan mata pelajaran baru. Dan...saya mencoba lulus dengan baik!

3. Mencari Referensi ’Kuliah’ : Memanfaatkan Teknologi dan Jaringan

            Siapa bilang ibu-ibu kuper? Saya mencoba  tidak. Mmeutuskan menjadi stay at home mom, tidak menjadikan saya katak dalam tempurung. Saya tetap mengakses informasi, menjalin hubungan dengan dunia luar yang positif. Untuk referensi ’kuliah’ dirumah, suami saya menyediakan fasilitas internet. Saya pun memiliki teman-teman yang luar biasa.

            Berkumpul dan berbicara bagi seorang perempuan adalah setengah dari solusi segala permasalahan. Saya bertemu dengan ibu-ibu hebat berkat teknologi dan jejaring sosial. Saya membuat pengajian dirumah, berbagi dengan ibu-ibu dikampung.Saya cari refernsi agar ilmu mengasuh anak, memenej rumahtangga dan menjadi perempuan yang tetap berkarya serta melek wawasan selalu berjalan seiring.Saya tau, saya harus terus menyegarkan intelektual, ruhiyah dan berbagi pengalaman dan itu saya lakukan bersama banyak perempuan dan ibu-ibu hebat : sahabat-sahabat saya.

4. Praktikum : Memasak,  Membuat Mainan, Membuat Jadwal Micro teaching, Outing Class

            Di kampus rumahtangga ini saya belajar tentang banyak hal, mempraktekkan ilmu dari  mencoba aneka resep masakan, membuatkan mainan anak-anak saya dengan barang-barang bekas, membuat jadwal belajar anak-anak, mempraktekkan teknik-teknik pengasuhan anak (parenting) dan bagaiamana mengatur detil-detil urusan rumah

            Sayapun berpartner dengan asisten rumahtangga untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang tak berjeda ini. Rumah bersih, anak-anak sehat dan bebas berekspresi dirumah, agar tidak berulah diluaran, hehe

            Sesekali kami lakukan outing class : mudik, jalan-jalan diluar rutinitas, mengunjungi teman-teman, pengajian. Intinya, hampir 80% ilmu kita dipraktekkan dirumah. Bagaimana kita bersikap, mengendalikan emosi, adil, toleransi dengan tetangga, saling memberi hadiah pada anak-anak dan para sahabat, membagi masakan kita, bersedekah, mengajarkan anak-anak baik buruk dan berbagai ketrampilan hidup. Itu semua adalah pelajaran berharga untuk kita. Kita pun akan semakin terampil

5. Menulis Resume Aktivitas , Nge- Blog dan Membuat buku: Refreshing Intelektual, Berkah Ilmu
        Setiap orang harus menjadi penulis. Itu menurut saya. Tak terkecuali ibu rumahtangga. Menulis mendokumentasikan pengalaman dan prestasi kta sekaligus sebagai bahan evaluasi sejauh mana kita berproses. Setiap hari aktifitas menulis harus saya lakukan.
            Senang rasanya saat kita menuliskan banyak hal, karya dan bisa bermanfaat bagi banyak orang. Saya berkomitmen untuk me-refresh pikiran saya dengan menulis. Menulis di facebook, blog atau menulis buku menjadi sebuah jalan bagi saya berbagi berkah ilmu. Maka saya mengajak para emak untuk menulis. Ya, ya ya..universitas rumahtangga menjadi bahan penulisan yang kaya dan selalu segar.Maka, bagi saya menuliskannya  adalah keniscayaan agar saya semakin mencintai tempat belajar saya ini : rumah saya.


Begitulah, saya selalu optimis untuk  menjadi perempuan yang mencintai kariernya sebagai ibu rumahtangga, sebab pilihan menjadi istri /ibu yang tetap dirumah dan produktif akan menjadi  sebuah prestasi dihadapan anak, suami dan Sang Maha Mencintai : Allah SWT saat kita tulus, sadar dan mau terus memperbaiki diri. Dan jika sudah begitu, keberkahan semoga dapat kita sebar di jagad semsta ini. Amiin.

Sabtu, 05 Maret 2011

Puding Pisang Creakers Rasa Coklat Rempah

        Ini resep  gampang sebenarnya. Ada sisa creakers (kita dirumah turun menurun nyebutnya 'gabin' heheh) atau bisa tuh pake roma malkist. Trus pas ada pisang buah gak tau nih namanya jenis apa, ya sebenarnya agak sepet pisangnya kalo dimasak.Tapi kok ajib ya pas udah jadi gak terasa. So, direbus dulu ternyata kuncinya. Dan masih dengan nuansa rempah tentunya

       Pas udah jadi ternyata tandas dalam sesore. Untungnya udah sempet diabadikan. Oke mungkin resep simple ini boleh dicoba buat makanan selingan atawa desert, disajikan dingin agak2 padet gitu lebih enak, kaya es krim kata anak-anak. hehe.Di foto itu penampakan bolak baliknya prends

Bahan
2 bks nutrijel coklat (kalo pake jeli tuh teksturnya lembut. kalo agar-agar kok kayaknya keras ya)
1 liter susu segar
gula pasir 150gr atau sesuai selera
Pisang kepok kuning atau raja 3 buah dipotong bulat-bulat atau sesuai selera yang penting tipis
Creakers 7 keping atau sampai memenuhi dasar  loyang 20 x20 cm (aku pakai Khong Guan atau Roma Malkist yang plain)
1sdm margarin
1 kuning telur, kocok
1sdt garam
10 cm kayu manis
4 cengkeh
air 200cc untuk rebusan pisang

Cara buatnya:
1. Rebus potongan pisang dengan 200 cc air, kayu manis, gula 50gr, cengkeh sampai layu
2. Tata didasar loyang berurutan : pisang rebus, lalu creakers diatasnya
3. Campurkan nutrijel coklat, susu segar, sisa gula, garam, rebus. Setelah mendidih, campurkan sedikit ke kocokan telur, satukan
4. Campurkan margarin
5. Tuang sesendok sayur, rebusan puding, tunggu sebentar, lanjutkan sesendok2 (jangan langsung dituang ya...ntar jadi ngambang deh pisang n creackersnya
6. kalo udah 15 menit, baru tuang semua adonan puding
7.Biar kan dingin dan padat, masukkan lemari es
8.Potong-potong dan sajikan sebagai makanan selingan atau penutup