Ads 468x60px

Sabtu, 06 April 2013

Cara Smart 'Menikmati' Kehamilan Berjarak Dekat

Saira, anak keempat saat 8 bulan.Dari setiap anak saya belajar banyak hal
Tulisan ini sengaja saya tunda penulisannya sampai saya  merasa benar-benar menjalani kehamilan kelima ini dengan benar-benar tulus, Insya Allah. Saya dedikasikan tulisan ini untuk banyak ibu muda dan para suami atau keluarga mereka (orangtua/mertua), bahkan teman dan tetangga yang masih galau dan terus menerus risau dengan istilah 'kesundulan' yang kadang tidak nyaman bagi yang mengalami (si ibu).Sengaja saya tulis untuk menyemangati diri sendiri dan membuktikan bahwa segala skenario Allah untuk kita adalah..... TERBAIK .

Kehamilan adalah sebuah proses alami yang kita nantikan. Tapi tak jarang kehamilan yang berjarak dekat atau -bahkan- terlalu dekat menjadi sebuah hentakan psikologis untuk banyak ibu/pasangan dan juga orang-orang disekitarnya (yang kadang justru lebih heboh dalam merespon hee....). Tak berbeda dengan saya dikehamilan kelima ini. Rasa kaget dan bingung tetap menyergap saya tetapi Alhamdulillah saya , suami dan orang-orang sekitar menjadi sebuah tim yang membahagiakan untuk melanjutkan perjuangan selanjutnya : melahirkan! ,Mungkin sedikit sharing ini membantu sahabat yang mengalami peristiwa 'besar' ini. :).

Dan jika dalam tulisan ini ada bahasa yang lugas bahkan vulgar, ya mohon disikapi secara ilmiah, dan memang beginilah 'gaya ' saya dalam menulis :). AKhirnya, dari hasil 'mengunyah' hikmah, ada tiga tahapan Smart menghadapi Kelahiran Berjarak Dekat

1. Tahap 1 =Berdamai Dengan Rasa Shock
    Tidak ada yang perlu saya tutupi dalam tulisan edisi 'berbagi' ini. Saya akan mencoba meniatkan tulisan ini untuk menjadi 'healing' bagi para ibu yang masih cemas dan 'pekewuh' dengan kehamilan berjarak dekat. Mengetahui bahwa saya mengandung lagi , saat itu usia si nomor 4 masih 3bulan tentu sempat membuat kami (saya dan suami) kaget juga. Sebab pada anak-anak sebelumnya jaraknya ideal (menurut kami heheh , tepat berjarak 2 tahun.meskipun bagi sebagian orang jarak 2 tahun masih saja dibilang kesundulan, walah), jadi persepsi kesundulan bagi setiap orang memang berbeda-beda , tho? cateet!
   Nah, pada hari itu rasanya yang ada hanya perasaan bersalah pada si kecil. Naluri keperempuanan dan keibuan saya merasakan sinyal ada yang berbeda dalam diri saya. Dan memastikan bahwa saya benar-benar mengandung dengan jarak yang dekat benar-benar pengalaman yang baru. Lalu bagaimana cara kami (saya dan suami) mengatasi perasaan dan akhirnya justru kompak menjalani semua sknerio Allah ini?
a. Berempati pada istri
   Saat itu suami sangat-sangat sabar menghadapi letupan shock saya , hehehe...Cool dan sangat berempati. Namun beliau bukan tipikal suami yang membiarkan saya terus menerus galau dan 'manja' tanpa batas. Saya masih ingat kata-kata beliau "Ya, umi pasti terkejut, abi juga. Boleh, karena toh memang ini diluar kemampuan kita menolaknya.Tapi, mari kita sabar dan syukur. Silakan untuk shock, tapi 3 hari saja ya maksimal, setelah itu, mari kita mencari ilmu yang terbaik untuk umi, si kecil dan calon bayi." Rasa empati pasangan akan sangat membantu kita mengatasi dan berdamai dengan rasa shock.
b. Menyelaraskan Hawa nafsu dengan Keimanan
   Ingat tidak bagaimana Maryam saat tiba-tiba mengandung Isa as? hehhe meskipun memang berbeda, tapi bolehlah kita ambil pelajarannya. Logika kita (manusia) harus segera kita selaraskan dengan keimanan manakala kita menghadapi sesuatu yang menurut kita tidak/kurang ideal. Bahwa apapun yang terjadi pada kita tidak mungkin luput dari kehendak Allah. Bahwa Allah punya rencana besar yang baik untuk kita.Bahwa kita adalah hamba-Nya, maka kita tidak akan mungkin ditinggalkan Allah dalam segala persoalan kita, asal kita RIDHO dengan skeario-Nya. Ajaib, subhanallah. Saat tahap  ini sudah mampu kita hadirkan. rasanya optimis sekali kita.PD.Lagi-lagi semangat Maryam membuat saya tiba-tiba merasa kuat. Bahwa calon janin ini akan membawa kebaikan, keberkahan dan calon pembela agama Allah, Insya Allah (maaf saya mewek nih nulisnya)

c. Mengafirmasi Diri sendiri
  Ini cara jitu berdamai denga rasa shock. Mengafirmasi diri sendiri. mengatakan hal-hal positif pada diri sendiri. Bhawa kita dipilih Allah untuk menjalani ini, bahwa kita diberi anak-anak yang sehat, bahwa kita diberi rahim yang sehat, bahwa kita bisa menjalani semua amanah yang dipercayakan Allah pada kita.Bahwa kita akan menjadi ibu yang hebat dan sabar. Bahwa memang kami tidak menggunakan kontrasepsi apapun, jadi wajar jika setelah ikhtiar kami mengatur jarak kelahiran pun ,Allah berkehendak mempercepat menambahkannya hehe. Memang terkesan menghibur diri , dan itulah gunanya afirmasi diri. Ucapkan berulang-ulang. Makaa.....subhanallah kita seolah selalu energik dan penuh cinta

d. Diam Sejenak, Terapi untuk Yang Belum Siap mendengar (hehe)
   Seperti prolog diatas, ternyata kadang lingkungan, orangtua, tetangga justru merasa belum siap melihat kita mengadung lagi dengan jarak yang sangat dekat. Mungkin memang mereka kahawatir. Nah, cara yang saya pakai, saya tidak mengabarkan kehamilan saya pada orang-orang yang menurut pengamatan saya 'belum siap' atau cenderung berkomentar pesimis, negatif atau  sinis (ada khan) haha. Saya hanya mengabarkan kabar gembira ini saat saya sudah mantap di option abc diatas. Hanya orang-orang tertentu yang saya pandang optimis, mendukung saya dan bisa mensupport yang saya kabari.Hasilnya? saya lebih tenang dan percaya diri

2. Tahap 2 = Hunting Ilmu Supaya Lebih Smart dan Semangat!
   Lagi-lagi lakukan tahap ini bersama suami. Dan justru suami saya yang diam-diam searching banyak hal tentang kehanilan berjarak dekat ini. Saya sampai surprise. Misinya hanya ini : umminya sehat, bayi kecil sehat, janin dikandungan sehat, menyusui dan melahirkan sehat! Ada tiga 'ilmu' yang saya terus pelajari selama kehamilan kelima ini
a. Tentang Nursing while pregnancy (NWP)
   Beruntung saya bergabung di beberapa group di FB. Group ibu rumahtanga, gentle birth, group tentang ASI. Semua  memberi saya support ilmu yang menenangkan dan memberi sy dukungan moral dari teman-teman sesama ibu yang selalu optimis. Kita akan berhadapan dengan orang-orang sekitar yang bertanya " Anakmu tetap kau susui?", atau "eh mbak, gak papa ya hamil sambil menyusui?", "KAsian lho bayinya kan udah 'basi' ASI nya" hehe... Alhamdulillah, semua pertanyaan dan keraguan seputar menyusui saat hamil bisa saya jawab dan meyakinkan mereka bahwa everything is okay. Semua karena ilmu, ketenangan dan keyakinan kita yag berdasar ilmu akan membuat kita lebih percaya diri. Daan... lagi-lagi saya membuktikan Allah Maha Hebat. Dia mengatur semua 'rezeki' makhluknya yang sedang kita susui, dan sedang di kandungan. dan sayapun membuktikan ASI eksklusif tetap bisa saya jalankan untuk Saira (sekarang 10 bulan, masih minum ASI, dan sudah saya beri makan tambahan dan susu tambahan, tentang keputusan saya akhirnya memberi tambahan sufor sejak Saira 9 bulan, saya akan tulis dikesempatan lain)

b. Tentang Tandem Nursing After Birth
  ini yang sering saya katakan bahwa kehamilan kali ini, yang jaraknya lebih dekat daripada sebelumnya, memberi saya kesempatan untuk belajar hal-hal yang sebelumnya tak terpikirkan. Allah memberi saya kesempatan learning by doing. Termasuk belajar bahwa nanti setelah melahirkan, niat tetap menyusui Saira bisa tetap saya laksanakan sambil tetap menyusui adiknya :) . Hasil bertanya pada dokter anak, dokter kandungan serta teman-teman yang berpengalaman lapangan (hehe) membuat saya banyak menimba ilmu dan berpikiran terbuka

c. Menimba ilmu (lagi) tentang Kelahiran Alami dan 'Lembut' (Gentlebirth)
  Subhanallah, sungguh, kehamilan, kelahiran yang kita hadapi dengan ikhlas, semangat dan optimis akan membukakan ilmu-ilmu baru. Saya bergabung di group Gentlebirth Untuk Semua (silakan cari sendiri yah tentang istilah gentlebirth ini), saya menemukan ibu-ibu hebat, bidan-bidan berkomitmen terhadap proses kelahiran yang sehat dan alami. Saya dan suami jadi lebih banyak ilmu untuk memiliki pengalaman menyambut putra kami berikutnya ini dengan rasa tenang, tawakkal, sealami mungkin. Motivasi berolahraga lebih rajin, latihan pernafasan, merawat diri dan janin serta bayi sebelumnya dengan naluri keibuan yang prima.Semangat

3. Tahap 3 = Tahap tetap produktif dan Membangun Tim Sukses Jelang kelahiran
Sehat Ibu, Sehat Janin, sehat si Kecil . Yup! Itu yang harus senantiasa kita upayakan. Saya selalu yakin bahwa sedikit saja pikiran dan perasaan saya 'rusak' dengan hal-hal sepele yang membuat geram, maka bangunan kasih sayang, ketulusan dan semua hal positif dalam diri saya dan keluarga saya akan ikut terkontaminasi (hee..). Maka, setelah dua tahap diatas, saya mencoba untuk tetap produktif dalam kegiatan positif, mencintai suami dengan setulus-tulusnya, menjalin kekompakan dengan beliau dalam mengasuh anak-anak yang lebih tua, menjalin kedekatan dengan mereka agar juga siap dan bahagia menyambut 'adik baru'. Justru dengan menyadari bahwa tugas dan peranan saya sebagai istri dan ibu bertambah 'berat' maka suami lebih banyak lagi membantu saya memberikan perhatian pada para kakak (anak2  kami tertua).

Hal lain yang perlu kita lakukan untuk menyambut kelahiran berikutnya adalah membentuk 'tim sukses' apakah itu anak-anak, khadimat (pembantu), saudara yang dekat, orangtua, mertua, bahkan tetangga. Menurut saya, mereka adalah tim sukses yang akan membantu kita menyongsong proses kelahiran dan membantu kita mengasuh anak-anak yang bertambah. Maka, hilangkan hal-hal yang 'meruesak' hubungan baik, dan settinglah hati kita untuk BAHAGIA, meskipun kadang tak ada gading yang tak retak dalam hubungan antar manusia. Alhamdulillah, sejauh ini saya belajar 'mengikhlaskan' saja apa yang kita hadapi, dan sesegera mungkin merecovery hal-hal yang tidak mengenakkan, demi kesehatan kita dan anak-anak kita.

Sudah cukup panjang..semoga tulisan ini menginspirasi dan membawa manfaat! Semangat, Ibu dan Bayi sehat!
READ MORE - Cara Smart 'Menikmati' Kehamilan Berjarak Dekat

Sabtu, 22 Desember 2012

Mengembalikan Fitrah Keibuan : Pengasih, Pengasuh dan Pengasah

Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa...
Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai Sang Surya Menerangi Dunia....

Bagaimana jika  Anda mencoba menyanyikan lagu itu lamat-lamat? Bahkan saat mengetiknya untuk tulisan ini pun saya sudah mulai menangis. Lagu sederhana itu selalu membuat kita bersyukur bahwa ada perempuan hebat yang melahirkan dan mengasihi kita didunia ini. Perumpamaan ‘Sang Surya’ bagi sosok ibu menjadikan figur ibu memang begitu abadi sepanjang masa. Bagaimana tidak?Sang Surya menerangi dunia di siang hari dan dimalam hari  ia masih memberikan sinarnya kepada bulan untuk tetap menerani semesta yang gulita. Hampir tidak beristirahat bukan? Hanya mengalihkan sinarnya.

              Masa berganti dan kita pun bertumbuh menjadi calon-calon ibu dan kini menjadi seorang ibu. Melantunkan lagu masa kanak-kanak itu menjadikan kita kini berpikr ulang apakah anak-anak kita pun akan merasakan hal yang sama saat menyanyikannya untuk kita? Apakah benar kita telah menjadi Sang Sang surya dihati mereka?
                Ditengah gerusan hiruk pikuk kehidupan sarat materialisme, kebutuhan hidup yang merunyak hebat, waktu yang cepat berlalu berkejaran dengan kesibukan kita yang tak berjeda, peran-peran fitrah  keibuan terancam rusak dan tak lagi sempurnah. Tak ayal, fitrah –fitrah keibuan harus segera dikembalikan lagi pada nurani para ibu yang masih ingin merasa lagu mesra diatas dinyanyikan untuknya. Mungkin tiga fitrah keibuan dibawah ini membantu kita mendapatkan kembali energi sebagai pendidik utama.

1.       Ibu yang Pengasih
Perempuan memiliki  naluri dasar untuk mengasihi keluarganya, pasangan hidup dan anak-anaknya. Modal naluri keibuan berupa rasa kasih sayang inilah yang menjadikan perempuan (ibu) mampu terus menerus memberikan energi kasih sayang karena bagi seorang ibu pengasih, anak adalah anugrah yang telah dititipkan dalam rahimnya untuk dikasihi sejak ia belum dilahirkan. Kasus- kasus kekerasan pada anak-anak, kematian anak-anak  ditangan ibu atau orangtuanya memiriskan nurani kita bahwa mungkin ada yang  tergerus dalam jiwa para ibu yang kalap itu, sebab tak mungkin fitrah mengasihi ini hilang tanpa sebab. Ibu-ibu yang jenuh, frustasi dan merasa tidak mendapatkan timbal balik kasih sayang dari pasangannya akan terancam kehilangan fitrh ini.
                Pun demikian, seorang ibu pengasih pun harus mampu mengasihi anak-anaknya dengan kasih sayang yang adil dan benar.Kasih sayang yang adil adalah kasih sayang yang pada tempatnya. Seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya dengan adil dan benar tidak harus menuruti semua kehendak dirinya dan atau anaknya secara berlebihan hingga menjerumuskan anak-anaknya tanpa sadar atas nama cinta.

2.       Ibu yang Pengasuh
Fitrah berikutnya yang sejatinya tak boleh hilang dalam diri seorang ibu adalah fitrah mengasuh anak-anak mereka. Interaksi dan kuantitas pertemuan antara ibu (dan ayah) bersama anak-anaknya pada satu masa tertentu sebenarnya tidak dapat tergantikan. Tidak dipungkiri dengan banyaknya tuntutan pekerjaan, kesibukan banyak orangtua yang memilih menyerahkan atau lebih halusnya ‘mendelegasikan’peran-peran pengasuhan pada pihak ketiga. Tempat penitipan anak, kakek nenek dan pembantu memang menjadi fasilitas yang tampak membantu para orangtua mengasuh anak-anaknya.
Namun, yang tidak boleh hilang dan diserahkan pada pihak lain adalah POLA ASUH yang benar yang dimiliki seorang ibu atau ayah sebelum menyerahkan tugas pengasuhan pada pihak lain. Pola asuh yang benar yang tidak dimiliki oleh seorang ibu, akan memberi dampak sesal dan menyalahkan pihak lain.
Seorang ibu pengasuh akan menggali ilmu pengasuhan anak-anak sesuai dengan tahap perkembangan mereka, memiliki komitmen dan disiplin untuk mengenalkan aturan-aturan dasar (keimanan,ibadah,  etika/akhlak, budaya, dan bahasa) pada anak-anak mereka.
Ibu yang pengasuh menjadi pusat dan tempat kembali anak-anak mereka untuk tetap mempercayai mereka sebagai seorang ibu yang hangat dan bijak.Pihak ketiga dalam pola asuh anak-anak semestinya menjadi pendukung pola asuh yang benar itu sehingga para ibu tidak menyesal dikemudian hari.
3.       Ibu yang Pengasah
Fitrah ketiga dalam membersamai anak-anak bertumbuh adalah menjadi ibu yang pengasah. Anak-anak tak mungkin kita biarkan hanya dengan kasih sayang dan kita asuh selamanya. Ibu yang pengasah mengerti bahwa anak-anak mereka harus bersiap memikul tanggungjawab, harus tumbuh dengan kedewasaan yang sesuai dengan usianya, harus benar dalam pola pikir dan akidahnya.Pun ibu yang pengasah tau, bahwa anak-anak mereka pun akan menjadi calon orang tua.
Maka, seorang ibu yang pengasah akan sangat jeli menyeranta potensi anak-anaknya dan mengusahakan untuk mengasahnya secara optimal. Seorang ibu yang pengasah tidak menjadi pendikte masa depan dan kesuksesan anak-anaknya, akan tetapi menggali cita-cita dan harapan mereka dan mendampingi anak-anak mereka meraih sukses yang sesuai dengan potensinya dan membekali anak-anak mereka dengan ketrampilan hidup, bukan sekedar pendidikan tinggi dengan serentetan gelar. Tak lupa, seorang ibu pengasah mampu mengenalkan anak-anak mereka sejak dini pada tanggungjwab sosial dan menyemangati mereka untuk memberikan sesuatu untuk masyarakatnya. Ibu pengasah paham benar bahwa ia memiliki tanggungjawab untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah baik akidah, akhlak dan masa depan finansial anak-anaknya

Begitulah.Mungkin jika ketiga Fitrah keibuan itu kembali kita hayati dan kita lakukan sesegera mungkin, akan lebih banyak lagu indah tercipta untuk kita para ibu dan orangtua.Mungkin akan lebih banyak anak-anak yang semakin mencintai keluarganya. Dan yang terpenting, kita akan menghadap Allah sebagai para ibu yang telah optimal menunaikan amanah terbesar : menjadi madrasah utama generasi.Selamat Hari Ibu!


[i] Penulis adalah Pegiat Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) ‘BENIH’ Solo, merintis klub dan sekolah pengasuhan anak, mengisi training keperempuanan dan keluarga, tinggal di Solo Jawa Tengah.cp 081329460601,FB: Vida Robi'ah Al Adawiyah
READ MORE - Mengembalikan Fitrah Keibuan : Pengasih, Pengasuh dan Pengasah

Sabtu, 13 Oktober 2012

"Aku dan Ayahbunda" , Bundel Tua Ayahbunda : Warisan Cinta Mama

Nama majalah tumbuh kembang Ayahbunda sudah begitu familiar ditelingaku. Jika dihitung sejak aku intens  ‘mengenal’ buku, aku telah akrab dengan majalah tumbuh kembang itu sejak usia 6 tahun. Almarhumah mamaku telah berlangganan sejak tahun 1980, sedangkan aku lahir di tahun 1981. Tepatnya sejak edisi tahun 1984 beliau mulai mengumpulkan  dan menyuruh tukang jilid langganannya untuk membuat bundel  Ayahbunda.


Aku masih ingat masa kecil sepulang sekolah atau sambil main di restoran mamaku aku menantikan Ayahbunda edisi terbaru datang , aku langsung membaca bonus anak BUNCIL. Ada cerita si Tongki bebek, Keluarga Sayur, Koko dan Moni yang suka usil dan Moko yang baik hati, juga ceita bergambar serta pelajaran-pelajaran sambil bermain yang kini banyak didapat di PAUD.  
Meskipun kala itu tampilan Ayahbunda masih sederhana, namun jika kubaca lagi saat ini aku salut bahwa  di tahun 80’an, Ayahbunda sudah memperkenalkan banyak ilmu pengasuhan anak yang bermanfaat.

 Begitulah, Ayahbunda menjadi bacaan kami. Mungkin saat kecil kami ( saya dan dua adikku) hanya menikmati bonus anak  Buncil. Tapi seiring waktu  aku mulai membaca banyak pengetahuan tentang tumbuh kembang anak, psikologi, bahkan cerita bersambung  novel  Totto Chan pun kutemukan di Ayahbunda edisi ‘jadul ‘ itu. Uniknya, booklet kecil berisi panduan untuk orangtua yang berisi apa yang harus dilakukan orangtua saat mendampingi anak-anak membaca Buncil. Keren khan?

Lomba dan Kompetisi Kreatif Sudah diperkenalkan Ayahbunda sejak dulu lhoo.Seperti yang ini nih Lomba Resep Makanan Bayi tahun1986! Keren khan??


Kenanganku bersama mama dan Ayahbunda  tak pernah terlupa. Aku ingat sekali, saat usiaku enam tahun.Tepatnya di tahun 1986.Aku berjingkrak melihat foto mama terpampang disalah satu  edisi Ayahbunda. Foto 10 Finalis Lomba Resep Makanan Bayi. Menemani mama ke Jakarta dimasa kecil saat itu begitu berkesan. Aku lupa di gedung mana event itu tapi aku masih sangat ingat mama naik kepanggung, bersama para finalis yang lain. Meskipun tak menjadi juaranya namun mama begitu bahagia. Dikemudian hari, resep makanan ciptaan beliau dari aneka kacang-kacangan ini beliau kembangkan dan beliau ujicobakan pada beberapa bayi prematur disekitar kami  yang mengalami kelambatan tumbuh kembang
Tiga dari 4 anakku masih bisa "menikmati" Bundel tua Ayahbunda
yang  dijilid mulai edisi tahun 1984!
 Majalah Ayahbunda ‘warisan’mama selalu menjadi bacaan yang menyenangkan. Saat aku menginjak SMP aku suka sekali kolom ‘Opini Anak’.Kolom ini kreatif dan unik. Berisi tentang pendapat anak-anak tentang tema-tema tertentu. Kolom ini menurutku sangat mencerdaskan karena melatih anak-anak usia SD kelas empat  sampai enam mengemukakan pendapat. Tema-temanya pun unik. Misal tentang apakah mereka senang dengan nama pemberian orangtua, atau apa alasan mereka menyukai pelajaran favoritnya. Sekali lagi, di tahun 1980-an pun Ayahbunda telah memiliki ide cerdas dan lengkap mengemas kebutuhan wawasan keluarga. 


  Waktu terus berjalan, Ayahbunda ‘warisan’ mama itu setia menemaniku sejak awal menikah. Bundel majalah Ayahbunda tua itu memberiku bekal  bahkan sebelum aku melahirkan anak-anakku. Secara isi bahkan tak jauh berbeda dengan majalah tumbuh kembang saat ini. Tapi aku begitu bangga setiap kali membaca bundel Ayahbunda ‘tua’ itu. Ada kenangan tentang  mamah,seorang ibu yang bersemangat belajar,dan betapa mama begitu telaten mengumpulkan majalah yang tergolong ‘mewah’ di masa kecilku. Bundel tua ayahbunda itu memberiku pelajaran bahwa mengasuh dan mendidik anak tidak bisa semaunya. Bundel tua ayahbunda itu mengingatkanku pada semangat almarhumah mamaku mengasuh kami.
         
 Kini aku telah memiliki empat orang anak yang lucu, sehat dan cerdas. Memang aku tak lagi berlangganan edisi cetak Ayahbunda karena zaman ‘online’ telah memudahkan segalanya. Sambil  mengasuh anak-anak, aktif di LSM Perempuan dan Anak, membuat artikel dan buku serta mengelola usaha rumahan , aku tetap setia dengan website Ayahbunda yang memberiku banyak informasi tentangpengasuhan anak dan kesehatan keluarga. Pun begitu, bundel majalah  tua warisan mama  masih setia kubaca, bahkan anak-anakku masih bisa menikmati cerita Buncil didalamnya, mewarnai dan belajar dari majalah tua itu. Kepada mereka aku berkata “ Kita rawat majalah ini ya, karena ini hadiah dari Nani (nenek) agar Umi pintar mengasuh kalian”. Terimakasih Ayahbunda, telah menjadi jembatan rindu dan cinta keluarga kami.Semoga selalu menginspirasi  keluarga Indonesia.

tulisan ini disertakan dalam kompetisi blog Ayahbunda.



READ MORE - "Aku dan Ayahbunda" , Bundel Tua Ayahbunda : Warisan Cinta Mama

Jumat, 12 Oktober 2012

Sekolah Ibu Mengasuh Anak : Meretas Cita-Cita Sekolah Orangtua

SIMAK : Sekolah Ibu Mengasuh Anak, Program LSM Kami
 Saat masih menjadi lajang atau masih memiliki anak satu saya pikir mengasuh anak-anak sepertinya tinggal mengambil saja apa yang baik dari orangtua kita. Ternyata saat anak-anak mulai bertumbuh dan bersosialisasi, bergaul dan mengenal tempat lain selain rumahnya, persoalan mulai bermunculan. Anak-anak mulai heran dengan apa yang tak pernah ia terima dan dengar dirumahnya. Selanjutnya anak-anak cerdas kita mulai mempraktekkan apa yang ia lihat dan menarik hatinya dirumah.Tak perlu benar, karena bahasa anak-anak Balita dan Batita adalah :suka dan tidak suka, menyenangkan dan tidak menyenangkan.

Mulailah pola asuh yang berbeda-beda bertemu dalam sebuah tempat tak steril bernama : sekolah, rumah tetangga atau ruamh nenek.Hahaha... Dari mulai malas mengucap maaf lagi, sampai belajar menangis yang gayanya tak biasa, sampai belajar memukul dirumah sebagai pembalasan yang tak bisa dilakukan anak-anak disekolahnya. Sungguh, saya tidak sedang menghakimi institusi bernama sekolah.

Setelah persoalan-persoalan pengasuhan itu saya alami sendiri. Dan betapa seringnya keluhan mengasuh anak begitu memeningkan kepala. Maka LSM kami KPPA Benih sejak tahun 2011 mantap memilih jalur pembinaan keluarga dan mengajak para ibu (dan elemen pengasuhan lain) untuk belajar ilmu parenting. Maka kamipun memulai dengan mengajak sekolah anak-anak kami membuat klub ataupengajian khusus pengasuhan anak-anak. Dan kamipun secara rutin membuat Sekolah Ibu Mengasuh Anak setiap pekan. Tak muluk-muluk, kami hanya berharap dengan lebih banyak orang tua dalama sebuah komunitas yang sama memiliki pemahaman pola asuh dan cara mendidik anak yang benar maka akan lebih mudah meminimalisir perilaku-perilaku negatif mereka secara kompak.

Kurikulum
Sekolah mengasuh anak sederhana ini memiliki kurikulum wajib dan tambahan. Kami menyebutnya 'Tema Belajar". Misalnya di pekan pertama kami belajar tentang Parenting Skill, pekan kedua kesehatan keluarga dan nutrisi, pekan ketiga Character Building For Kids, pekan keempat Mother's Corner berisi tentang kebutuhan-kebutuhan wawasan untuk para ibunya.
Tema belajar akan dipandu seorang fasilitator (pembicara, ed) yang sesuai dengan bidangnya. Sedang tema belajar yang bersifat tambahan misalnya gathering, membuat event yang bermanfaat, ketrampilan dan memasak

Mimpi kami dengan menggandeng semua elemen dan komunitas sosial, sekolah-sekolah pengasuhan anak yang sederhana namun istiqomah akan membantu para orangtua mempunyai perasaan tulus, penuh semanagt dan juga mempunyai ilmu dalam mengasuh anak-anak mereka.Maka kami membuka diri untuk sama belajar dan merintis klub parenting dan kajian-kajian peolo dan pengasuhan anak di Solo dan sekitarnya.
READ MORE - Sekolah Ibu Mengasuh Anak : Meretas Cita-Cita Sekolah Orangtua

Sabtu, 19 November 2011

Cake Karamel Kukus

Lama nggak posting-posting di blog. Gak tau yak  kok agak-gak males gitu menulis di blog, hahah kata suamiku aku lagi jadi 'blogger galau'. Well ini resep sore tadi, barusan searching, dapat resep kue sakura, karena dicetak kecil-kecil. Tapi karena udah sore dan keknya males aja cari cetakan2 kecil, pake loyang tullban plastik aja. Sedikit kumodifikasi, dan namanya kuberi cake karamel kukus, dimakan dengan taburan kelapa, di foto taburannnya sedikit eheeheh .enaak.

Bahan
350gr tepung terigu serbaguna
150 gr gula pasir
4butir telur
1sdt baking powder
1sdt soda kue
1/2 sdt bubukkayu manis
Garam halus 1/2 sdt (dikira-kira aja lah...)
Karamel:
100gr gula pasir
100gr mentega dicairkan
100gr susu kental manis (aku pake sachetan 2sachet, jadi gak nyampe 100gr)
CAra membuatnya
1. Campur rata terigu, soda kue, baking powder, garam, ayak, sisihkan
2. Buat karamel : panaskan diapi sedang gula pasir, setelah kecoklatan (jangan gosong) masukkan air panas, aduk rata, masukkan margarin dan susu kental manis, dinginkan
3. Kocok telur dan gula sampai gula larut (pake kocokan biasa aja)
4. MAsukkan campuran tepung ke kocokan telur, aduk arat, tambahkan karamel, aduk arata
5. Msukkan kedalam cetakan (akau pakae loyang plastik tullband diameter 20cm), kukus 20-25 menit lakukan tes tusuk. Oaya, pabaskan dulu panci kukusan sampai air mendidih, baru masukkan adonan. Dan bungkus penutup panci pengukus dengan serbet bersih
6. Setelah matang, potong-potong, taburi kelapa parut/keju/ gula halus
READ MORE - Cake Karamel Kukus

Rabu, 05 Oktober 2011

Cake Tape Lapis Pandan

sudah lama ini rumah pemikiran tak kuiisi. Buat pemanasan, biarin yak posting resep-resep dulu. Kebetulan beberapa pekan ini banyak pesenan. Salah satunya dari  sahabat saya, mbak Intan Nurlaili, untuk jamuan tamu di Solo Pos bebrapa waktu lalu. acak-lacak, buka-buka resep, kayaknya ini resep pas n enak
     Awalnya, liat resep ini di booklet Bogasari, ee pas googling ada  web yang memuat resep dan foto yang miriiiip banget sama di booklet . Karena bi  lagi diluar kota, gak bisa moto hasil karya deeh (HP ku jeleek hihihi)ya udah buat ilustrasi aku pasang fotonya disamping, yang penting udah nyantumin web sumbernya yaa.Buatanku ya mirip deh cuma toppingnya keju cheddar.Soal rasa, alhamdulillah mbak intan puas, anak-anak ku yang jadi tester juga pada lahap. Oke dengan sedikit modifikasi, ini dia resepnya.Mudah banget terutama yang gak punya oven:)

Bahan
250 gr tape singkong, buang seratnya
150 Ml santan kental (aku tambahin dikit)
200gr tepung terigu
100gr gula pasir (bis aditambah kalo suka manis)
100gr margarin cair (aku ganti 150-200 ml minyak sayur)
20gr susu bubuk/kental manis
7butir kuning telur
5 butir putih telur
Pasta pandan /air daun suji
garam 1sdt
baking powder 1sdt
Emulsifier ovalet/TBM/SP 1/2 sdt (asal semua telur segar, pengadukan sempurna dan sampe ngembang, aku lebih memilih tidak pake emulsifier)
Topping:
Keju cheddar , butter cream

Cara buatnya
1. Siapkan panci kukusan 15 menit sebelumnya, Blender sampe halus tape singkong dengan santan kental sampai lembut, buang serat
2. Kocok telur, gula dan emulsifier (kalao pake) sampai mengembang dengan kecepatan tinggi
3. Masukkan  tepung, susu, baking poder, garam yang sudah diayak jadi satu kedalam campuran telur
4. masukkan tape , kemudian minyak, aduk rata
5. Bagi adonan menjadi 2 bagian, beri satu bagian warna hijau (pastan padan/daun suji+pandan)
6. Masukkan adonan putih terlebih dahulu ke loyang yang sudah diolesi minyak, kukus 15 menit
7.Setelah 15 menit, masukkan adonan warna hijau, kukus lagi 15-20 menit.
8 Dinginkan, oles dengan topping

Tips : air kukusan HARUS mendidih, dan tutup panci kukus harus diberi serbet agar air tidak menetes.Simpan didalam kulkas jika belums empet ngabisin :)Selamat mencoba ya!
BAgi yang gak sempet buat, boleh deh pesen hehee kalo mini cakenya Rp.1700, pesanan loyang ukuran diatas Rp.45.000,- Murah. sehat, halal. Ayooo!!!!
READ MORE - Cake Tape Lapis Pandan

Kamis, 25 Agustus 2011

MUDIK tanpa PANIK

Sambut lebaran, pengen nih nulis beberapa moment luar rumah yang sering bikin kita GGrrrhhh.tapi enggak lah ya. yuk mulai pagi ini kita simak. Tulisan-tulisan ini ada di buku terbaru saya BUKAN SEPASANG MALAIKAT. Semoga bermanfaat

MUDIK 
Ini dia momen yang paling sering melibatkan semua anggota keluarga. Saya lebih menekankan momen ini pada ‘proses’ di perjalanan. Seringkali momen pergi ke luar kota menjadi perjalanan yang awalnya menyenangkan, namun menjadi menjenuhkan saat anak-anak mulai panas, mabuk perjalanan, atau ngambek.
Kita harus menyiapkan banyak kemungkinan. Mulai dari anak yang satu tak mau memakai AC, yang satu tak mau berbagi tempat duduk (pengalaman saat pergi menumpang mobil kakak ipar), anak yang tiba-tiba muntah dan terpaksa berhenti, atau berebut bekal dan makanan kecil. Wadduuuuh .... L Untuk itu, lakukan beberapa persiapan sebelum bepergian bersama anak-anak.
  1. Tetapkan aturan perjalanan di awal
Ini adalah poin pentingnya. Ajarkan pada anak-anak kita bahwa perjalanan ke luar kota adalah perjalanan yang melatih kesabaran. Bahwa mereka harus dapat berbagi (bekal, tempat duduk, dll). Mereka tidak boleh merusak suasana agar perjalanan menyenangkan. Ajarkan adab-adab perjalanan, seperti berdoa, tidak banyak bergurau, berdzikir, dan tidak banyak mengeluh.

2. Memilih waktu perjalanan
Perjalanan di pagi –setelah subuh-  saat udara sejuk adalah pilihan bagus, tergantung berapa lama perjalanan yang akan ditempuh. Pengalaman saya mudik ke tempat mertua yang hanya memakan waktu tiga jam, kami lebih senang melakukan perjalanan sepagi mungkin. Perjalanan menjelang malam hari jika tidak benar-benar dikondisikan akan membuat anak-anak rewel. Namun, jika naik mobil pribadi dan perjalanan Anda semisal Solo-Jakarta, memang lebih enak memilih perjalanan senja atau subuh. Begitupun dengan kereta. Kami pernah mengalami perjalanan pagi hari dengan kereta dan itu menyenangkan.

3. Siapkan bekal yang cukup
Belajar dari kakak ipar saya yang berputra empat, beliau selalu ‘belanja’ berbagai makanan ringan dan minuman untuk bekal yang cukup. Jangan banyak membawa makanan yang membuat mudah haus. Jika memungkinkan, siapkan bekal sendiri. Persediaan air minum, juice, buah-buahan, puding dengan rasa yang segar, akan lebih bermanfaat. Hindari membawa susu kemasan karena akan memancing mual. Sediakan air panas di termos jika kita memiliki Balita atau Batita yang sudah minum susu formula. Air hangat juga diperlukan saat kita ingin menyibin anak kita saat berhenti untuk istirahat.

4.Jangan malas berhenti sejenak
Ini penting. Anak-anak tidak sanggup bertahan lama dalam perjalanan. Apalagi jika kita menggunakan kendaraan pribadi. Usahakan untuk berhenti sejenak. Pilih tempat berhenti ‘langganan’ yang nyaman, tersedia toilet yang bersih, mushala, dan mungkin tempat makan. Biarkan anak-anak keluar mobil, bermain sejenak, buang air kecil, dan bahkan mandi jika memungkinkan! Ini penting juga untuk suami atau sopir Anda yang menyetir mobil.

5. Siapkan obat-obatan pribadi dan cadangan baju ganti
Obat anti mual yang diminumkan sebelum perjalanan boleh juga. Siapkan juga obat-obat pribadi, seperti minyak gosok, kantung plastik, tissue basah, wash lap di tempat yang terjangkau di dalam kendaraan. Kalau perlu, di dalam tas utama yang Anda bawa. Begitu juga baju ganti. Sangat tidak lucu mengubek-ubek bagasi saat di tengah jalan hanya untuk mengambil baju ganti ketika anak kita tiba-tiba muntah, kan? Ini pengalaman pribadi. Oke, sudah panjang, ya? Selanjutnya terserah Anda! Have a nice trip!

READ MORE - MUDIK tanpa PANIK