Ads 468x60px

Sabtu, 29 Maret 2014

Menitip Harapan Perubahan Pada Caleg Perempuan


Pemilu tinggal sepuluh hari.Amanah menjadi salah satu caleg perempuan sebuah partai politik, sejak awal sudah saya niatkan tidak akan menggunakan cara-cara caleg kebanyakan : hanya pasang-pasang banner, bikin spanduk besar-besar.Untungnya lagi, di partai pengusung kami semua caleg tidak ada persaingan sebab semua caleg memiliki visi utama : meraih suara  untuk partai sebanyak mungkin,soal siapa yang nantinya terbanyak dipilih masyarakat, itulah yang mengemban amanah.  Tak muluk yang saya lakukan selain memperbanyak silaturahim, memperbanyak datang langsung ke kantung-kantung konstituen. Dan apa yang saya temukan? Ternyata pemilih terbesar, yaitu kaum perempuan justru tidak banyak yang tertarik memilih karena mereka apatis dan –mungkin- lelah dengan  pemilihan-pemilihan  pemimpin maupun anggota dewan yang menurut mereka tidak banyak memberi manfaat langsung bagi mereka.

tidak dapat disalahkan.Masyarakat hanyalah para penonton media yang disuguhi berbagai drama politik di negri ini.Namun jika saya ditanya mengapa masih mau dijadikan ‘caleg’ oleh partai politik yang saya usung sekarang?Mengapa harus banyak caleg perempuan yang nantinya menjadi anggota legeslatif (aleg) ?  Saya masih memiliki rasa optimisme terhadap caleg perempuan. Ditengah keapatisan masyarakat di negri ini, sejatinya para  perempuan yang benar-benar loyal dan tulus, akan mampu memberi perubahan dan suasana baru didalam dan diluar gedung dewan.Para caleg perempuan harus memenuhi jumlah yang  telah ditetapkan. Setidaknya ada tiga alasan mengapa caleg perempuan harus banyak dipilih masyarakat (terutama pemilih perempuan itu  sendiri).Ada harapan-harapan perubahan yang bisa diwujudkan oleh caleg permpuan
1.       1.Harapan Perbaikan Moral dan Mental Wakil Rakyat
Sekali lagi, tidak dipungkiri kekecewaan masyarakat terhadap tingkah polah para wakil yang telah dipilih mengemban amanah sebagai anggota dewan yang terhormat, ternyata sebagian dari mereka (yang terekspose, atau yang belum) menoreh kekecewaan di hati pemilihnya.Skandal moral para wakil rakyat yang begitu komplit di gedung dewan menggelisahkan masyarakatdan menerbitkan ketidakpercayaan. Disini tantangan para caleg perempuan untuk memberi kontribusi amar ma’ruf nahi mungkar dilingkungan parlemen jika ia terpilih menjadi salahsatu penghuni gedung perwakilan rakyat baik di pusat atau daerah.
Perempuan memiliki modal naluriah sebagai seorang istri dan ibu, banyaknya caleg perempuan yang mumpuni,vokal dan siap berjuang akan memberi harapan perbaikan moral dalam parlemen terkait perselingkuhan,korupsi dan penyimpangan-penyimpangan moral anggota Dewan
2.       2.Harapan Keberpihakan Regulasi Ramah Perempuan
Harapan kedua terhadap caleg perempuan tentu saja terkait tugas anggota parlemen untuk membuat dan menegakkan regulasi yang berpihak pada perempuan dalam semua permasalahan mereka. persoalan perempuan begitu banyak dan berkait kelindan dengan banyak pihak (suami,anak,masyarakat) membutuhkan aturan dan undang-undang yang melindungi perempuan secara adil dan tidak ambigu. Disini peran para aleg untuk memahami persoalan dan memberi kontribusi ide,pemikiran serta keberanian menyuarakannya. Untuk itulah perlunya caleg perempuan memiliki ilmu, kedalaman analisis, dan kemampuan memberikan solusi,bukan hanya ikut dan turut saja dengan apa yang diperintahkan fraksi/parpol pendukung. Setelah menjadi aleg, sejatinya para anggota dewan –khususnya- aleg perempuan adalah ‘milik rakyat’ dan konstituen yang diwakilinya, maka perlu keberanian menyuarakan keberpihakan pada kepentingan rakyat, khususnya perempuan sebagai basis konstituen.
3.       3.Harapan Advokasi Masalah-masalah Perempuan Oleh Anggota Dewan Perempuan
Ini harapan yang perlu sedikit konsistensi dan memerlukan keberanian. Para caleg perempuan sejatinya juga memiliki sensitifitas diluar gedung parlemen untuk mengadvokasi kebijakan pemerintah terkait masalah-masalah perempuan, atau memiliki kemampuan advokasi untuk persoalan perempuan dilapangan sehingga produk yang ia perjuangkan di parlemen dari pusat sampai daerah memiliki validitas. Dengan banyaknya caleg perempuan di dewan, ada harapan untuk saling bersinergi menuntaskan persoalan-persoalan perempuan di masyarakat.
So, jika pemilu sudah ada dihitungan jari dan kita peduli, mari bersinergi. Para caleg perempuan dan konstituennya harus sedekat dua jari, karena mereka akan saling melengkapi. Para caleg perempuan yang akan memenuhi gedung dewan pun bukan hanya pemenuh quota tanpa aksi nyata, bersinergi adalah cara ampuh mewujudkan harapan perbaikan negri melalui gedung-gedung perwakilan rakyat dan para caleg perempuan memiliki peluang untuk itu, Insya Allah.
READ MORE - Menitip Harapan Perubahan Pada Caleg Perempuan

Minggu, 23 Maret 2014

Dicari : Caleg Perempuan Layak Pilih dan Siap Berjuang

Pemilu dan gegap gepitanya tinggal menunggu hari. Saya menjadi saksi bagaimana para pemilih dimasyarakat sebenarnya banyak yang merasa apatis dan memilih golput.Mereka enggan memilih karena tidak mengenal para caleg, kecewa dan merasa partai politik tidak banyak yang memasang caleg yang benar-benar kapabel .  Memang jika kita amati, kini pemilu sebenarnya menggiring masyarakat untuk memiliki wakil yang mereka kenal, digiring untuk menjadi sistem distrik dengan harapan-mungkin- agar para caleg benar-benar mengenal wilayah pemilihnya.
                Jika ditanya mengapa pilih caleg perempuan? Pertama, Jelas bahwa kesempatan kuota 30 persen menjadi alasan partai politik harus memasukkan  perempuan dalam daftar caleg mereka. Alasan yang lebih penting sebenarnya menurut saya, karena persoalan perempuan dan anak dimasyarakat begitu kompleks. Dari balita, anak-anak, perempuan muda, iburumahtangga, istri,bahkan lansia memiliki spesifikasi masalah yang berbeda dan jika kita menilik 3 fungsi dewan yaitu regulasi, penganggaran dan advokasi, maka masalah-masalah perempuan dan anak (dalam semua fase usianya) membutuhkan aturan,penganggaran dan advokasi yang berpihak pada mereka.
                Persoalan yang lebih penting selanjutnya adalah, apakah para caleg perempuan itu layak dipilih oleh masyarakat? Sebab, jamak diketahui bahwa euforia politik menggiring para caleg untuk mengandalkan apa yang mereka punya. Jabatan sebelumnya, keturunan, basis massa dukungan, bahkann wajah cantik menawan pun bisa dijadikan alasan para caleg untuk memikat pemilih. Pun dngan para caleg perempuan, masyarakat kita –mungkin- akan terpesona dengan segala alasan lahiriah mereka memilih para caleg, misalnya karena cantik atau keren. Namun, tantangan terbesar para caleg,khususnya caleg perempuan adalah bagaimana menjadikan dirinya dipilih karena kapabilitas internal, eksternal, dan keberlanjutan perannya setelah pesta demokrasi usai. Maka, agar para caleg perempuan tidak meragukan,mungkin harus ada beberapa parameter yang perlu dia miliki, agar layak dan pantas mewakili masyarakat pemilihnya
1.       1.Integritas Moral dan Daya Dukung Keluarga
Meskipun para caleg bukan malaikat, namun setidaknya para caleg perempuan khususnya memiliki track record moral yang baik di masyarakatnya. Caleg perempuan yang layak dipilih juga harus mengupayakan kesolidan keluarga dan telah mengkondisikan seluruh keluarga intinya untuk mendukung perannya di publik. Hubungannya dengan anak-anak, suami,bahkan pembantu dan tetangga haruslah terjalin dengan harmonis dan solid.
 Sebab, sebagaimana kita tahu, tugas aleg (anggota legislatif) memmerlukan waktu yang banyak diluar rumah, jika caleg perempuan tidak mengkondisikan keluarganya menjadi pendukung utama perannya di dewan, dan kurang sukses menjadi istri dan ibu yang teruji kualitasnya, maka keluarganya akan menjadi taruhan yang terlalu berharga untuk dikorbankan :’(
2.       2.Kapabilitas Intelektual dan Penguasaan Isue Lokal/Regional/Nasional
Caleg perempuan yang layak dipilih adalah caleg yang memiliki kapabilitas intelektual yang prima.Rasanya konstituen akan merasa terbohongi jika para caleg hanya cantik diluar dan memikat saat kampanye, namun kosong secara intelektual. Selain itu, caleg perempuan harus mengerti betul persoalan-persoalan lokal/regional/nasional yang berkaitan dengan perempuan, anak, pendidikan, kesehatan agar fungsi utama anggota dewan sebagai pembuat regulasi (aturan) mampu diembannya dengan profesional. Sungguh memalukan jika para caleg perempuan nantinya ternyata hanya menjadi pemanis ruangan sidang, pendiam dan tak punya semangat juang untuk kaumnya.Apalagi jika hanya semangat saat kunjungan kerja, nglencer dan merumpi bak ibu-ibu sosialita, namun tak berani berteriak lantang untuk penegakan aturan yang memihak perempuan
3.       3.Kemampuan Berkomunikasi Massa
Anggota dewan adalah 'komunikator' dan mediator bagi konstituennya. Ia harus dapat mengkomunikasikan kebutuhan, aspirasi, gagasan politik baik kepada lawan politik, kepada masyarakat dan kepada semua pihak dengan cara yang cerdas, elegan sekaligus bermutu.
Kemampuan berkomunikasi baik secara lesan dan tulisan menurut saya menjadi keahlian yang harus terus diasah. Seorang anggota dewan harus mampu memanfaatkan media menjadi partner dalam menyampaikan gagasan, menangkap persoalan masyarakat

4.       4.Semangat Melayani Yang Prima &Berkelanjutan
Sejatinya para anggota dewan adalah pelayan yang terus menerus bahkan semestinya memberi pelayanan yang semakin baik setelah ia duduk di kursi legeslatif.Pemilu hanyalah cara menjaring suara. Setelah pemilu para caleg akan mengalami tantangan riil dimasyarakat. Bagi yang kurang beruntung duduk sebagai anggota dewan, ketulusan melayani akan teruji Inilah hal penting yang kadang terlupakan.
Apatisme masyarakat menjadi sesuatu yang lumrah manakala pada kenyataan terdahulu setelah pemilu banyak para caleg yang terpilih dan menjadi anggota dewan melupakan basis massa dukungannya. Alasan sibuk dan sebagainya tentu tidak dapat menjadi pemaaf. Pemilih perempuan  adalah basis massa yang nyata. Pembinaan berkelanjutan untuk pemilih perempuan harus dilakukan oleh anggota dewan perempuan.Maka, sebaiknya para caleg perempuan menawarkan program-program dimasa kampanye ini, bukan malah sibuk memberi ini itu, menjanjikan ini itu.Sebab caleg yang memiliki program pembinaan untuk pemilihnya, akan tetap melayani mereka, meskipun mungkin gagal menuju gedung DPR RI/DPRD. Inilah sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat pemilih: caleg yang tetap berjuang bersama mereka meskipun pemilu telah usai
So, pemilu tinggal menghitung hari. Jadikan pemilu kali ini momentum mencerdaskan masyakarat.Pilih Caleg Perempuan Layak Pilih, Menjadi Wakil Anda!
READ MORE - Dicari : Caleg Perempuan Layak Pilih dan Siap Berjuang

Sabtu, 06 April 2013

Cara Smart 'Menikmati' Kehamilan Berjarak Dekat

Saira, anak keempat saat 8 bulan.Dari setiap anak saya belajar banyak hal
Tulisan ini sengaja saya tunda penulisannya sampai saya  merasa benar-benar menjalani kehamilan kelima ini dengan benar-benar tulus, Insya Allah. Saya dedikasikan tulisan ini untuk banyak ibu muda dan para suami atau keluarga mereka (orangtua/mertua), bahkan teman dan tetangga yang masih galau dan terus menerus risau dengan istilah 'kesundulan' yang kadang tidak nyaman bagi yang mengalami (si ibu).Sengaja saya tulis untuk menyemangati diri sendiri dan membuktikan bahwa segala skenario Allah untuk kita adalah..... TERBAIK .

Kehamilan adalah sebuah proses alami yang kita nantikan. Tapi tak jarang kehamilan yang berjarak dekat atau -bahkan- terlalu dekat menjadi sebuah hentakan psikologis untuk banyak ibu/pasangan dan juga orang-orang disekitarnya (yang kadang justru lebih heboh dalam merespon hee....). Tak berbeda dengan saya dikehamilan kelima ini. Rasa kaget dan bingung tetap menyergap saya tetapi Alhamdulillah saya , suami dan orang-orang sekitar menjadi sebuah tim yang membahagiakan untuk melanjutkan perjuangan selanjutnya : melahirkan! ,Mungkin sedikit sharing ini membantu sahabat yang mengalami peristiwa 'besar' ini. :).

Dan jika dalam tulisan ini ada bahasa yang lugas bahkan vulgar, ya mohon disikapi secara ilmiah, dan memang beginilah 'gaya ' saya dalam menulis :). AKhirnya, dari hasil 'mengunyah' hikmah, ada tiga tahapan Smart menghadapi Kelahiran Berjarak Dekat

1. Tahap 1 =Berdamai Dengan Rasa Shock
    Tidak ada yang perlu saya tutupi dalam tulisan edisi 'berbagi' ini. Saya akan mencoba meniatkan tulisan ini untuk menjadi 'healing' bagi para ibu yang masih cemas dan 'pekewuh' dengan kehamilan berjarak dekat. Mengetahui bahwa saya mengandung lagi , saat itu usia si nomor 4 masih 3bulan tentu sempat membuat kami (saya dan suami) kaget juga. Sebab pada anak-anak sebelumnya jaraknya ideal (menurut kami heheh , tepat berjarak 2 tahun.meskipun bagi sebagian orang jarak 2 tahun masih saja dibilang kesundulan, walah), jadi persepsi kesundulan bagi setiap orang memang berbeda-beda , tho? cateet!
   Nah, pada hari itu rasanya yang ada hanya perasaan bersalah pada si kecil. Naluri keperempuanan dan keibuan saya merasakan sinyal ada yang berbeda dalam diri saya. Dan memastikan bahwa saya benar-benar mengandung dengan jarak yang dekat benar-benar pengalaman yang baru. Lalu bagaimana cara kami (saya dan suami) mengatasi perasaan dan akhirnya justru kompak menjalani semua sknerio Allah ini?
a. Berempati pada istri
   Saat itu suami sangat-sangat sabar menghadapi letupan shock saya , hehehe...Cool dan sangat berempati. Namun beliau bukan tipikal suami yang membiarkan saya terus menerus galau dan 'manja' tanpa batas. Saya masih ingat kata-kata beliau "Ya, umi pasti terkejut, abi juga. Boleh, karena toh memang ini diluar kemampuan kita menolaknya.Tapi, mari kita sabar dan syukur. Silakan untuk shock, tapi 3 hari saja ya maksimal, setelah itu, mari kita mencari ilmu yang terbaik untuk umi, si kecil dan calon bayi." Rasa empati pasangan akan sangat membantu kita mengatasi dan berdamai dengan rasa shock.
b. Menyelaraskan Hawa nafsu dengan Keimanan
   Ingat tidak bagaimana Maryam saat tiba-tiba mengandung Isa as? hehhe meskipun memang berbeda, tapi bolehlah kita ambil pelajarannya. Logika kita (manusia) harus segera kita selaraskan dengan keimanan manakala kita menghadapi sesuatu yang menurut kita tidak/kurang ideal. Bahwa apapun yang terjadi pada kita tidak mungkin luput dari kehendak Allah. Bahwa Allah punya rencana besar yang baik untuk kita.Bahwa kita adalah hamba-Nya, maka kita tidak akan mungkin ditinggalkan Allah dalam segala persoalan kita, asal kita RIDHO dengan skeario-Nya. Ajaib, subhanallah. Saat tahap  ini sudah mampu kita hadirkan. rasanya optimis sekali kita.PD.Lagi-lagi semangat Maryam membuat saya tiba-tiba merasa kuat. Bahwa calon janin ini akan membawa kebaikan, keberkahan dan calon pembela agama Allah, Insya Allah (maaf saya mewek nih nulisnya)

c. Mengafirmasi Diri sendiri
  Ini cara jitu berdamai denga rasa shock. Mengafirmasi diri sendiri. mengatakan hal-hal positif pada diri sendiri. Bhawa kita dipilih Allah untuk menjalani ini, bahwa kita diberi anak-anak yang sehat, bahwa kita diberi rahim yang sehat, bahwa kita bisa menjalani semua amanah yang dipercayakan Allah pada kita.Bahwa kita akan menjadi ibu yang hebat dan sabar. Bahwa memang kami tidak menggunakan kontrasepsi apapun, jadi wajar jika setelah ikhtiar kami mengatur jarak kelahiran pun ,Allah berkehendak mempercepat menambahkannya hehe. Memang terkesan menghibur diri , dan itulah gunanya afirmasi diri. Ucapkan berulang-ulang. Makaa.....subhanallah kita seolah selalu energik dan penuh cinta

d. Diam Sejenak, Terapi untuk Yang Belum Siap mendengar (hehe)
   Seperti prolog diatas, ternyata kadang lingkungan, orangtua, tetangga justru merasa belum siap melihat kita mengadung lagi dengan jarak yang sangat dekat. Mungkin memang mereka kahawatir. Nah, cara yang saya pakai, saya tidak mengabarkan kehamilan saya pada orang-orang yang menurut pengamatan saya 'belum siap' atau cenderung berkomentar pesimis, negatif atau  sinis (ada khan) haha. Saya hanya mengabarkan kabar gembira ini saat saya sudah mantap di option abc diatas. Hanya orang-orang tertentu yang saya pandang optimis, mendukung saya dan bisa mensupport yang saya kabari.Hasilnya? saya lebih tenang dan percaya diri

2. Tahap 2 = Hunting Ilmu Supaya Lebih Smart dan Semangat!
   Lagi-lagi lakukan tahap ini bersama suami. Dan justru suami saya yang diam-diam searching banyak hal tentang kehanilan berjarak dekat ini. Saya sampai surprise. Misinya hanya ini : umminya sehat, bayi kecil sehat, janin dikandungan sehat, menyusui dan melahirkan sehat! Ada tiga 'ilmu' yang saya terus pelajari selama kehamilan kelima ini
a. Tentang Nursing while pregnancy (NWP)
   Beruntung saya bergabung di beberapa group di FB. Group ibu rumahtanga, gentle birth, group tentang ASI. Semua  memberi saya support ilmu yang menenangkan dan memberi sy dukungan moral dari teman-teman sesama ibu yang selalu optimis. Kita akan berhadapan dengan orang-orang sekitar yang bertanya " Anakmu tetap kau susui?", atau "eh mbak, gak papa ya hamil sambil menyusui?", "KAsian lho bayinya kan udah 'basi' ASI nya" hehe... Alhamdulillah, semua pertanyaan dan keraguan seputar menyusui saat hamil bisa saya jawab dan meyakinkan mereka bahwa everything is okay. Semua karena ilmu, ketenangan dan keyakinan kita yag berdasar ilmu akan membuat kita lebih percaya diri. Daan... lagi-lagi saya membuktikan Allah Maha Hebat. Dia mengatur semua 'rezeki' makhluknya yang sedang kita susui, dan sedang di kandungan. dan sayapun membuktikan ASI eksklusif tetap bisa saya jalankan untuk Saira (sekarang 10 bulan, masih minum ASI, dan sudah saya beri makan tambahan dan susu tambahan, tentang keputusan saya akhirnya memberi tambahan sufor sejak Saira 9 bulan, saya akan tulis dikesempatan lain)

b. Tentang Tandem Nursing After Birth
  ini yang sering saya katakan bahwa kehamilan kali ini, yang jaraknya lebih dekat daripada sebelumnya, memberi saya kesempatan untuk belajar hal-hal yang sebelumnya tak terpikirkan. Allah memberi saya kesempatan learning by doing. Termasuk belajar bahwa nanti setelah melahirkan, niat tetap menyusui Saira bisa tetap saya laksanakan sambil tetap menyusui adiknya :) . Hasil bertanya pada dokter anak, dokter kandungan serta teman-teman yang berpengalaman lapangan (hehe) membuat saya banyak menimba ilmu dan berpikiran terbuka

c. Menimba ilmu (lagi) tentang Kelahiran Alami dan 'Lembut' (Gentlebirth)
  Subhanallah, sungguh, kehamilan, kelahiran yang kita hadapi dengan ikhlas, semangat dan optimis akan membukakan ilmu-ilmu baru. Saya bergabung di group Gentlebirth Untuk Semua (silakan cari sendiri yah tentang istilah gentlebirth ini), saya menemukan ibu-ibu hebat, bidan-bidan berkomitmen terhadap proses kelahiran yang sehat dan alami. Saya dan suami jadi lebih banyak ilmu untuk memiliki pengalaman menyambut putra kami berikutnya ini dengan rasa tenang, tawakkal, sealami mungkin. Motivasi berolahraga lebih rajin, latihan pernafasan, merawat diri dan janin serta bayi sebelumnya dengan naluri keibuan yang prima.Semangat

3. Tahap 3 = Tahap tetap produktif dan Membangun Tim Sukses Jelang kelahiran
Sehat Ibu, Sehat Janin, sehat si Kecil . Yup! Itu yang harus senantiasa kita upayakan. Saya selalu yakin bahwa sedikit saja pikiran dan perasaan saya 'rusak' dengan hal-hal sepele yang membuat geram, maka bangunan kasih sayang, ketulusan dan semua hal positif dalam diri saya dan keluarga saya akan ikut terkontaminasi (hee..). Maka, setelah dua tahap diatas, saya mencoba untuk tetap produktif dalam kegiatan positif, mencintai suami dengan setulus-tulusnya, menjalin kekompakan dengan beliau dalam mengasuh anak-anak yang lebih tua, menjalin kedekatan dengan mereka agar juga siap dan bahagia menyambut 'adik baru'. Justru dengan menyadari bahwa tugas dan peranan saya sebagai istri dan ibu bertambah 'berat' maka suami lebih banyak lagi membantu saya memberikan perhatian pada para kakak (anak2  kami tertua).

Hal lain yang perlu kita lakukan untuk menyambut kelahiran berikutnya adalah membentuk 'tim sukses' apakah itu anak-anak, khadimat (pembantu), saudara yang dekat, orangtua, mertua, bahkan tetangga. Menurut saya, mereka adalah tim sukses yang akan membantu kita menyongsong proses kelahiran dan membantu kita mengasuh anak-anak yang bertambah. Maka, hilangkan hal-hal yang 'meruesak' hubungan baik, dan settinglah hati kita untuk BAHAGIA, meskipun kadang tak ada gading yang tak retak dalam hubungan antar manusia. Alhamdulillah, sejauh ini saya belajar 'mengikhlaskan' saja apa yang kita hadapi, dan sesegera mungkin merecovery hal-hal yang tidak mengenakkan, demi kesehatan kita dan anak-anak kita.

Sudah cukup panjang..semoga tulisan ini menginspirasi dan membawa manfaat! Semangat, Ibu dan Bayi sehat!
READ MORE - Cara Smart 'Menikmati' Kehamilan Berjarak Dekat

Sabtu, 22 Desember 2012

Mengembalikan Fitrah Keibuan : Pengasih, Pengasuh dan Pengasah

Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa...
Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai Sang Surya Menerangi Dunia....

Bagaimana jika  Anda mencoba menyanyikan lagu itu lamat-lamat? Bahkan saat mengetiknya untuk tulisan ini pun saya sudah mulai menangis. Lagu sederhana itu selalu membuat kita bersyukur bahwa ada perempuan hebat yang melahirkan dan mengasihi kita didunia ini. Perumpamaan ‘Sang Surya’ bagi sosok ibu menjadikan figur ibu memang begitu abadi sepanjang masa. Bagaimana tidak?Sang Surya menerangi dunia di siang hari dan dimalam hari  ia masih memberikan sinarnya kepada bulan untuk tetap menerani semesta yang gulita. Hampir tidak beristirahat bukan? Hanya mengalihkan sinarnya.

              Masa berganti dan kita pun bertumbuh menjadi calon-calon ibu dan kini menjadi seorang ibu. Melantunkan lagu masa kanak-kanak itu menjadikan kita kini berpikr ulang apakah anak-anak kita pun akan merasakan hal yang sama saat menyanyikannya untuk kita? Apakah benar kita telah menjadi Sang Sang surya dihati mereka?
                Ditengah gerusan hiruk pikuk kehidupan sarat materialisme, kebutuhan hidup yang merunyak hebat, waktu yang cepat berlalu berkejaran dengan kesibukan kita yang tak berjeda, peran-peran fitrah  keibuan terancam rusak dan tak lagi sempurnah. Tak ayal, fitrah –fitrah keibuan harus segera dikembalikan lagi pada nurani para ibu yang masih ingin merasa lagu mesra diatas dinyanyikan untuknya. Mungkin tiga fitrah keibuan dibawah ini membantu kita mendapatkan kembali energi sebagai pendidik utama.

1.       Ibu yang Pengasih
Perempuan memiliki  naluri dasar untuk mengasihi keluarganya, pasangan hidup dan anak-anaknya. Modal naluri keibuan berupa rasa kasih sayang inilah yang menjadikan perempuan (ibu) mampu terus menerus memberikan energi kasih sayang karena bagi seorang ibu pengasih, anak adalah anugrah yang telah dititipkan dalam rahimnya untuk dikasihi sejak ia belum dilahirkan. Kasus- kasus kekerasan pada anak-anak, kematian anak-anak  ditangan ibu atau orangtuanya memiriskan nurani kita bahwa mungkin ada yang  tergerus dalam jiwa para ibu yang kalap itu, sebab tak mungkin fitrah mengasihi ini hilang tanpa sebab. Ibu-ibu yang jenuh, frustasi dan merasa tidak mendapatkan timbal balik kasih sayang dari pasangannya akan terancam kehilangan fitrh ini.
                Pun demikian, seorang ibu pengasih pun harus mampu mengasihi anak-anaknya dengan kasih sayang yang adil dan benar.Kasih sayang yang adil adalah kasih sayang yang pada tempatnya. Seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya dengan adil dan benar tidak harus menuruti semua kehendak dirinya dan atau anaknya secara berlebihan hingga menjerumuskan anak-anaknya tanpa sadar atas nama cinta.

2.       Ibu yang Pengasuh
Fitrah berikutnya yang sejatinya tak boleh hilang dalam diri seorang ibu adalah fitrah mengasuh anak-anak mereka. Interaksi dan kuantitas pertemuan antara ibu (dan ayah) bersama anak-anaknya pada satu masa tertentu sebenarnya tidak dapat tergantikan. Tidak dipungkiri dengan banyaknya tuntutan pekerjaan, kesibukan banyak orangtua yang memilih menyerahkan atau lebih halusnya ‘mendelegasikan’peran-peran pengasuhan pada pihak ketiga. Tempat penitipan anak, kakek nenek dan pembantu memang menjadi fasilitas yang tampak membantu para orangtua mengasuh anak-anaknya.
Namun, yang tidak boleh hilang dan diserahkan pada pihak lain adalah POLA ASUH yang benar yang dimiliki seorang ibu atau ayah sebelum menyerahkan tugas pengasuhan pada pihak lain. Pola asuh yang benar yang tidak dimiliki oleh seorang ibu, akan memberi dampak sesal dan menyalahkan pihak lain.
Seorang ibu pengasuh akan menggali ilmu pengasuhan anak-anak sesuai dengan tahap perkembangan mereka, memiliki komitmen dan disiplin untuk mengenalkan aturan-aturan dasar (keimanan,ibadah,  etika/akhlak, budaya, dan bahasa) pada anak-anak mereka.
Ibu yang pengasuh menjadi pusat dan tempat kembali anak-anak mereka untuk tetap mempercayai mereka sebagai seorang ibu yang hangat dan bijak.Pihak ketiga dalam pola asuh anak-anak semestinya menjadi pendukung pola asuh yang benar itu sehingga para ibu tidak menyesal dikemudian hari.
3.       Ibu yang Pengasah
Fitrah ketiga dalam membersamai anak-anak bertumbuh adalah menjadi ibu yang pengasah. Anak-anak tak mungkin kita biarkan hanya dengan kasih sayang dan kita asuh selamanya. Ibu yang pengasah mengerti bahwa anak-anak mereka harus bersiap memikul tanggungjawab, harus tumbuh dengan kedewasaan yang sesuai dengan usianya, harus benar dalam pola pikir dan akidahnya.Pun ibu yang pengasah tau, bahwa anak-anak mereka pun akan menjadi calon orang tua.
Maka, seorang ibu yang pengasah akan sangat jeli menyeranta potensi anak-anaknya dan mengusahakan untuk mengasahnya secara optimal. Seorang ibu yang pengasah tidak menjadi pendikte masa depan dan kesuksesan anak-anaknya, akan tetapi menggali cita-cita dan harapan mereka dan mendampingi anak-anak mereka meraih sukses yang sesuai dengan potensinya dan membekali anak-anak mereka dengan ketrampilan hidup, bukan sekedar pendidikan tinggi dengan serentetan gelar. Tak lupa, seorang ibu pengasah mampu mengenalkan anak-anak mereka sejak dini pada tanggungjwab sosial dan menyemangati mereka untuk memberikan sesuatu untuk masyarakatnya. Ibu pengasah paham benar bahwa ia memiliki tanggungjawab untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah baik akidah, akhlak dan masa depan finansial anak-anaknya

Begitulah.Mungkin jika ketiga Fitrah keibuan itu kembali kita hayati dan kita lakukan sesegera mungkin, akan lebih banyak lagu indah tercipta untuk kita para ibu dan orangtua.Mungkin akan lebih banyak anak-anak yang semakin mencintai keluarganya. Dan yang terpenting, kita akan menghadap Allah sebagai para ibu yang telah optimal menunaikan amanah terbesar : menjadi madrasah utama generasi.Selamat Hari Ibu!


[i] Penulis adalah Pegiat Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) ‘BENIH’ Solo, merintis klub dan sekolah pengasuhan anak, mengisi training keperempuanan dan keluarga, tinggal di Solo Jawa Tengah.cp 081329460601,FB: Vida Robi'ah Al Adawiyah
READ MORE - Mengembalikan Fitrah Keibuan : Pengasih, Pengasuh dan Pengasah