Jumat, 30 Juli 2010

Tom Yam Kepala Ikan: Silakan Coba!

Jujur, ini terinspirasi Tom Yam kepala ikan warunge mas Agus Spesialis Gule dan Tom Yam Kepala ikan  di Jl. Perintis Kemerdekaan, Purwosari. Tempat saya mencicipinya pertama kali atas iming-iming  suami. Suami mengaku kenal menu ‘serba kepala’ ini  sejak kuliah di Sudan. Tom Yam jadi masakan khas  dari mahasiswa Malaysia dan Singapura di sana . Malah kata beliau di Sudan Kepala ikan  bisa untuk bersepuluh! huaaaaaw. Karena ikan diambil dari sungai Nil. Gedhe-gedhe banget, kata beliau  dan makannya harus dipotong-potong .

Nah, pagi tadi belanja dapetnya ikan nila. Ya udah ku fillet sendiri dan kusisakan kepala  sampe ‘kerangka’ tubuhnya hihihi. Menurutku, tom yam di Mas Agus  kok berasa kare ya? tapi tanpa lombok, berkuah, plus ada sereh. Akhirnya inilah resep coba-coba dan baru ku share karena  udah ‘ketemu’ rasa yang pas, dan udah lulus uji coba untuk ‘pelanggan tetapku’ : suami n anak-anak, hehe. Semoga resep ini bermanfaat ya.Bisa juga buat  referensi menu sahur atau buka

Bahan
2 ekor Ikan (Kakap atau Nila) ukuran sedang, boleh dipotong-potong atau di fillet dan sisakan kepala sampai dagunya hehe
1 buah Tomat  merah ukuran sedang Diparut lembut/ diblender
Belimbing sayur kalau suka
Daun Kemangi
Air 500 cc
jeruk nipis
Bumbu:
Bawang bombay ukuran sedang 1 butir
Bawang putih 5 siung
Bawang merah 2 siung (yang agak besar)
Lada ½ sendok teh
Jintan ½ sendok teh  disangrai, tumbuk
Ketumbar ½ sendok the, sangrai, tumbuk
Pala 1butir atau setengahnya
Kapulaga bulat 3butir (geprek)
Cengkeh 4 butir
Sereh ukuran besar 1 umbi (geprek)
Daun jeruk 3 lembar
Jahe  5cm
Kunyit 1 ruas haluskan  atau kalo bubuk ya ½ sendok teh
Kelabet (biar agak kental)
Kayu manis 10cm, potong kecil-kecil
Gula sedikit
Garam secukupnya
Tambahkan saus tiram
Pelengkap:
Sambal , Kerupuk

Caranya
Siapkan ikan, lumuri air jeruk nipis agar tidak amis
Iris halus semua jenis ‘bawang”, tumis sampe harum
Tambahkan bumbu- bumbu lain, tumis lagi, tambahkan air sampai mendidih dan bumbu-bumbu keluar rasa dan aromanya, masukkan
Masukkan ikan, sekitar 10 -15 menit, tambahkan tomat pure, saos tiram, daun kemangi
Hidangkan panas, dengan nasi putih, lebih  segeerrr ditambah sambal

Tips: masukkan ikan atau daging saat  bahan kuah benar2 sudah mendidih agar tidak amis

Sop Roti Telur Puyuh Roti Tawar: Hidangan Selingan , atau Sarapan

Kemaren gak sengaja bikin sup minimaliiiiis banget. Karena Abi ada jadwal harus ngisi pengajian siang, persiapannya dari pagi, jadinya agenda nganter belanja sekalian sepekan  belum terlaksana. Ada kentang, ada telur puyuh, kol (kubis) ya udah bikin sup aja tapi dibumbu kayak sup matahari di walimah-walimah itu lho prend.
            Tiba-tiba, lihat sisa  roti tawar tadi pagi masih sepuluh sisir. Wah ada ide nih. kalo dimakan pake sup enak kayaknya. dan akhirnya kucobakan pada dua ‘pelanggan’ masakanku. Kakak Maura dan Haniyya katanya:” enak Mi, kayaknya kalao dikasih lagi aku mau deh!”
 Halaaah…Hm…kayaknya (lagi) kalau aku buat lebih komplit pasti lebih zeeeen (enak). Kapan-kapan deh. Nah ini resepnya ‘komplit’ tapi fotonya edisi minalis itu. gak papa ya, udah pengen share soalnya J. Yah…cuman sop sih frend, semua juga bisa masaknya tapi semoga bermanfaat ya!

Bahan
  • Sayur mayur yang lazim buat sup ( wortel, kentang, kol, jagung manis, kacang polong) kalau telaten dan pas niat banget biasanya wortel aku buat bunga, kentang diiris pake piso bergelombang. biar anak-anak tertarik aja
  • Daging giling atau daging ayam suwir atau bakso, telur puyuh, sosis etc pokoknya yang buat ‘amis-amis’. Kalau punya daging giling, bagus tuh dicampur tepung kanji dikit, dibola2 atau dicetak pake cetakan kue kering, dan dibumbui lada dam bawang putih , masukkan ke air mendidih (kalau banyak kan lumayan airnya buat kaldu, bu)
  • Roti tawar boleh tanpa pinggiran, boleh yang konvensional J
  • Air 500cc buat kuah

Bumbu
Bagiku, sop itu masakan paling gampang tapi kok rasanya bisa beda2 yaa. Ini aku pake perpaduan sop biasa dengan tomyan yaaa… Dicoba ajja. Ingat, ini resep  idealisnya hehe
Bawang putih 5 siung (aku suka bawang putih karena bisa mengganti MSG looh)
Bawang Bombay 1 siung
Bawang merah 6siung
jahe sedikit
Sereh satu umbi
cengkeh 3 butir
pala 1 atau ½ buah
tomat bisa di blender atau dipotong aja
garam & gula secukupnya (aku gak pernah pakai vetsin, sodara-sodara. kalau garam n gula pas udah sama deh ama penyedap rasa)

Cara masak
Semua bumbu dihaluskan kecuali bawang bombay, pala, sereh dan cengkeh
Tumis semua bumbu, masukkan ayam atau daging dan masukkan air atau kaldu. tunggu sampai mendidih
masukkan sayur mayur dantunggu sampe lunak tapi jangan terlalu ya
Siapkan roti tawar , susun ‘isi’ sop diatasnya, baru siram dengan kuah
Silakan menikmati untuk sarapan, hidangan anget2an.. atau selingan
Yah…cuman sop sih frend, tapi semoga menginspirasi

Selasa, 27 Juli 2010

Srikandi Kampung


Namanya Sukini. Ya, hanya Sukini. Perawakannya kecil, tidak banyak bicara, dan sangat rendah hati. Khas perempuan Jawa yang santun. Hm.. aku mengenalnya sekitar sebulan setelah kami menjadi warga kampung ini. Ia bekerja sebagai sales kosmetika, suaminya bekerja sebagai pelukis baju borongan, dia juga melukis dan punya banyak talenta ketrampilan.Hm..perempuan yang kreatif. Seperti juga bu Sukini, pak Sudirman juga bukan laki-lak yang banyak bicara. Meskipun tidak banyak bicara, tapi dia seorang wanita yang membuatku salut.

     Dia satu dari 12 orang ibu-ibu pertama  yang menjadikanku nyaman dilingkungan ini. Kutemukan ia sebagai ibu biasa yang bergabung dalam majelis ta’lim pertama yang ku handle di lingkungan baru, kontrakan pertamaku. Tapi jangan salah, semakain aku mengenalnya, kutemukan hal-hal menarik dan potensial dalam dirinya.

     Saat aku memutuskan untuk terbuka dengan pandangan politik yang kuyakini dan aktivitas Partai Dakwah  (PKS) yang kukenalkan, dia adalah perempuan pertama yang tanpa ragu mendukungku. Saat itu penghujung tahun 2007. Aku menawarinya menjadi koordinator Pos Wanita Keadilan, sebuah pusat pelayanan untuk perempuan. Tanpa ragu bu Sukini menyanggupinya. Dan iapun menunjukkan komitmen dakwah yang luar biasa untuk ukuran seorang ibu-ibu kampung biasa yang mungkin tak pernah terjun intens dalam kegiatan-kegiatan politik praktis. Ini percakapanku dengannya

“ Kok njenengan mau tho bu bergabung dengan kami? Kan banyak ibu-ibu yang enggan dekat-dekat dengan partai, apalagi terang-terangan” pancingku
“ Saya ini orang biasa bu Vida, tapi saya punya banyak cita-cita untuk masyarakat saya. Saya sering prihatin dengan kondisi sekitar saya...” Jawabnya. Ia berhenti sejenak. Lalu sambungnya
“....Saya Cuma punya cita-cita, impian, tapi saya tidak punya modal besar untuk memberi lebih banyak. Maka saat saya melihat njenengan (anda, ed) saya berpikir apa salahnya saya bergabung supaya saya bisa lebih banyak memberi untuk sekitar saya. Kalau jalannya memang lewat partai ya ndak papa tho bu? Yang penting manfaat” Dia menjawab dengan tenang, sungguh-sungguh. Sebuah visi yang jelas.Alhamdulillah, partner seperti ini yang saya cari! Syukur saya.

“ Tapi bu, kadang perempuan kan punya ganjalan dengan keluarga. Suami misalnya. Apa Pak Dirman ndak keberatan tho Bu?” sambungku

“ Suami saya itu ngerti sekali dengan kepinginan saya Bu. Lagipula, kami ini orang-orang kecil, bu, yang sudah kenyang dengan janji-janji” Kebetulan suaminya adalah 'mantan' satgas sebuah parpol yang 'menguasai' kota kami (Solo) hehehe.Kemudian beliau memilih keluar karena sudah tak lagi sesuai dengan 'nurani' wong cilik, kata mereka.

     Bu Sukini pernah kupancing untuk menuliskan cita-citanya. Darinya aku belajar bahwa orang yang telaten, ulet dan mau bergerak dapat mengalahkan orang yang pintar, berpendidikan namun tidak memiliki spirit melayani dan hanya banyak berkomentar serta sibuk dengan urusan pribadinya.

     Hampir setiap kegiatan kelurahan diikutinya, dia yang selalu diajukan untuk banyak tanggungjawab kegiatan kampung ini. Jujur, tidak main belakang, setia, dan mau mengambil resiko. Bahkan para ‘Bapak RT’, dan para laki-laki birokrasi kampung pun segan dengannya. Darinya saya belajar juga bagaimana berhadapan dengan masyarakat, tidak terpancing emosi massa dan tetap teguh dalam cita-cita.

     Sampai hari ini yang saya kenal, bu Sukini adalah penggerak hampir di setiap ‘program kemajuan dan kebaikan’ yang kami tawarkan atau ditawarkan oleh Kelurahan. Saya yang memiliki ide bejibun ini sangat terbantu dan tersemangati dengan beliau yang orang lapangan. Saya banyak belajar darinya. Saat ia memberikan penyuluhan tentang pendidikan keluarga, saya dibuatnya takzim. Sungguh, sosok sederhana yang hanya mengaku lulus SMP itu tak pernah saya sepelekan. Bagi saya ia adalah asset dakwah yang harus kita up grade. Apapun tugas yang diberikan padanya, selalu disanggupinya dan…TERLAKSANA!

     Kini, suaminya terpilih menjadi Ketua RW, otomatis ia pun berjuluk ‘bu RW’. Dan bersamaam saya pun harus berpindah kerumah orangtua yang tak terurus dikelurahan lain dan memang masih terhitung dekat. Namun..lagi-lagi saya melihat komitmen dan kesetiaannya. Dengan tulus ia tetap mengelola rumah baca yang kami rintis didaerah itu. Bahkan kami tetap berhubungan dan terus bercita-cita menghidupkan kampung itu dengan suasana yang maju dan religius.

     Sungguh, saya belajar bahwa tarbiyah dan pembinaan yang tulus, mengenali potensi seseorang dan memberikan kepercayaan kepada orang untuk  berkembang dengan potensinya itu akan melejitkan ‘orang-orang biasa’ menjadi luar biasa. Semoga dimasyarakat banyak bermunculan pendukung-pendukung dakwah seperti bu Sukini, yang mampu memenangkan nurani dan melakukan satu demi satu perubahan dimasyarakatnya. Maka, mari bekerja! Bersama kita lanjutkan kerja dan menyedikitkan bicara, dan yakin bahwa kita akan menemukan pendukung-pendukung dakwah yang tulus. Insya Allah!

Minggu, 25 Juli 2010

Inspirasi 'Parenting' dari Pria Bertopi Kuning




Pernah nonton serial kartun TV Curious George? Jika belum, Anda bisa mulai melihatnya di ANTV setiap pukul 7.00 di hari senin sampai jumat atau pukul 06.30 pagi di hari  sabtu. Jamnya kadang berubah sih hehe. Awalnya saya tidak sengaja melihatnya . Saat itu pagi-pagi saya berkunjung kerumah ortu , saat adek-adek saya tengah ‘wedangan’ pagi  menontonnya dan  mendiskusikannya.  Lama kelamaan serial TV ini menjadi tayangan favorit saya dan anak-anak saya. Biasanya sembari menunggu waktu berangkat sekolah mereka kuperbolehkan melihatnya setelah mandi dan sarapan, tentunya.

Di serial itu saya ‘berkenalan’ dengan si Pria bertopi Kuning dan kera lucu nan cerdas, George. Tingkah Goerge  yang penuh kelucuan, kreatif, sedikit ‘usil’ (namanya juga monyet), kocak, bikin gregetan membuat saya dan dua putri saya kadang ‘menterjemahkan’ bahasa george yang hanya ‘aaa, oooh, uuh.hahaa, ahaa’ dan mengomentari tingkahnya hehe. Kami pun tidak bosan melihat film itu meskipun diulang-ulang pemutarannya. George, kera cerdas dengan rasa ingin tahu itu kerapkali menguji kesabaran namun juga membuat kami ‘sayang’ hehe. Simak saja,  

Dalam sebuah episode tentang 100 lusin donat. Suatu hari si Pria yang secara tidak sengaja mengajarkan pada George tentang ‘angka nol’ kena batunya. Pagi itu George mengambil kesimpulan  bahwa dengan menambahkan ‘nol’ dibelakang sebuah angka dia akan mendapatkan banyak hal dalam jumlah banyak. Maka pagi itu si Pri menyuruh George membeli donat dengan menuliskan kalimat 1 lusin donat. George dengan penuh semangat berlari ke toko donut bersama Charky, anjing tetangganya. Sesampainya di toko donat George yang berselera makan itu membayangkan ia akan mendapatkan banyak donut dari si Pria. Namun, betapa heran George karena Pria hanya menuliskan ‘1’ di kertas pesanan, mana tahu george bahwa didekat angka satu ada kata ‘lusin’ bukan? Maka pikiran monyetnya segera menyuruhnya menambahkan ‘0’ didekat satu. Jika ia menambah satu ‘0’ maka ia akan mendaptkan 10 donat, dan jika menambahkan  dua ‘0’ maka 100 donut! aha!George tidak tau bahwa menambahkan dua ‘0’ berarti 100 lusin donat!!!! Bisa Kalian tebak kan kesudahannya? Sang pemilik toko senang karena disangkanya akan ada pest donat. Hahaaaa. Kesudahan episode ini, George bingung dan menyembunyikan donat-donat itu diseluruh sudut dirumah. Dan pada akhirnya si Pria mengetahuinya dan mengajak George membagi-bagikan donat kesemua orang. Hhhfffff...

Bagaimana? Jika Anda jadi Pria Bertopi Kuning dan George adalah anak kiat? Pasti kita akan panik, marah, kesal, dan mengomeli anak kita habis-habisan. hmmm boleh jadi karena Pria sadar bahwa George ‘hanya’ monyet maka ia bisa menahan amarah. Tapi,ada beberapa pelajaran  yang dengan senyum simpul saya catat dari si Pria setiap kali film ini berakhir.
1. Pria Bertopi Kuning tidak pernah MARAH
            Hehe, seperti yang saya tulis, boleh jadi Pria menyadari bahwa George hanya seekor kera. Namun ia tidak pernah marah. Seusil apapun George dan saat George melakukan kesalahan dan berakibat sangat ekstrim pun , Pria selalu tenang dan berusaha memberikan kalimat positif atau membesarkan hati George . Biasanya ia berkata “ Oooh George, kau mungkin belum tau tentang ini”, “Hmm..Aku belum mengajarkanmu tentang ini,ya?”, ‘Baiklah George, mungkin lain kali kau bisa bertanya sebelum kau melakukan ini” Luar biasa kan? Tekni REDAM AMARAH dipraktekkan oleh Pria bertopi kuning dan akhirnya ia dapat sangat bijak mengatasi semua akibat ulah George.
 2. Pria Pendengar Yang baik
            Meskipun hanya kera, Pria memperlakukan George seperti balita. Pria selalu bertanya, mendengarkan alasan George, dan memahami keingintahuan (curiousity) George. Bagaimana dengan kita? Mungkin dengan lebih banyak mendengar, kita juga akan memahami bahwa balita /anak-anak kita punya potensi luar biasa.

3. Pria Selalu Melibatkan George, Memberi Kesempatan dan Mempercayai
            Pria bertopi kuning selalu mengajak George disemua petualangan. Ke desa, memancing, berpetualang, melakukan penelitian, berkunjung ke semua orang, mengenalkan pada semua. Pria selalu memberi George kesempatan mengenali bentuk, makanan, proses pembuatan sesuatu, kesempatan untuk memilih sehingga George menjadi monyet yang cerdik. Pria bertopi kuning juga mempercayai George dengan membiarkan George ‘berpetualang’, menyelesaikan masalah, pergi ketempat asing. Pria mempercayai George untuk bergabung dengan banyak orang. Kata-kata Pria yang saya sukai adalah “Ingat, Jadilah Monyet yang baik, George” hehe itu diucapkan saat Pria membiarkan George ‘pergi sendiri’. Kata-kata penuh kepercayaan ini saya contoh untuk anak saya ketika ia pergi kesekolah, ikut pergi bersama orang lain. Saya mengubahnya dengan  jadilah anak yang Sholihah, dan baik hati,Nak!
            Mungkin masih banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari Pria bertopi Kuning dan monyetnya, George. Tapi silakan Anda mengamatinya. Jika seekor monyet dapat begitu cerdas dan punya rasa empati yang tinggi dengan cara pendidikan demikian, Maka….. anak-anak kita tentu lebih berhak mendapatkannya. Salam Inspiratif!


Kamis, 22 Juli 2010

Adil Pada Anak : Bahkan Saat Mereka Berbeda dan Tak Sempurna!

1.                
Mengamati mereka tumbuh menjadikanku bersyukur. Keunikan mereka menjadikanku ta’jub pada Penciptanya. Kedua putri yang sama-sama kulahirkan memiliki hal-hal berbeda. Si Sulung,Maura  yang saat aku menulis ini berusia empat tahun lebih, dan si tengah , Salma,yang usianya dua tahun lebih dua bulan. Dan anak ketiga kami yang saat naskah  buku ini  selesai kubuat ia sedang menikmati  3 pekan  didunia, kelak keunikannya pasti juga berbeda.

Hari ini, aku begitu tersentuh dan terhenyak. Si Sulung barusaja bertengkar dengan adiknya, Salma. Biasaa, mereka berebut. Kemarahannya membuatnya mencakar adiknya. Terus terang aku tak lagi bisa menahan amarah sebab kutanamkan  aturan pada mereka : Umi benar-benar  marah saat kalian sudah saling melukai dan menyakiti oranglain.

Disela penyesalannya dan tangisnya karena terpaksa kumarahi. Tiba-tiba Maura berkata  “ Semua orang tidak ada yang memanggilku cantik. Tadi aku diluar dipanggil gendut, gemuk. Aku mau dipanggil M A U R A...” Aku tercekat. Aku ikut menangis kupeluk sulungku dengan tulus. Naluri keibuanku merasakan gelisahnya. Mungkin kemarahannya tadi adalah pelampiasan. Kubelai rambutnya. Kutenangkan dia kukatakan padanya

“Nak, kamu cantik. Bagi umi kamu cantik...cantik sekali. Mungkin mereka memanggilmu gemuk karena gemas padamu, dan belum tau namamu, sayang. Besok kalau ada yang memanggilmu si gemuk lagi, perkenalkan namamu,ya! “ Maura masih menangis kecil dan masih terisak mengatakan dia tidak cantik

“Nak, yang penting kamu berakhlak baik. Sehat. Gemuk tapi baik hati itu lebih baik daripada kamu cantik tapi nakal. Makanya Maura yang sholihah ya, sayang sama adik, baik hati, ramah, tidak suka berkata jelek, itu semua lebih baik nak..Umi dan Abi bangga kok sama Maura. Kalau Umi dan Abi marah, dan menegur Maura karena kesalahan, itu agar Maura jadi anak yang baik dan Abi Umi tetap sayang. Sekarang, Minta maaflah sama adikmu  sayang “ Entahlah. Aku memang kesulitan megatasi sulungku yang sangat dominan, teguh pendiriannya, cerdas dan ‘kuat’ postur tubuhnya itu. Tapi dia sangat sensitif dan pemikir

Begitulah. Orang-orang dewasa disekitar anak-anak kita ( semoga tidak termasuk kita orangtua mereka)   sering menjadikan perbedaan-perbedaan menjadi sesuatu yang berlebihan dan tak jarang tanpa mereka sadari meruntuhkan atau mengurangi self esteem  (harga diri) anak-anak. Dari perbedaan fisik, prestasi belajar, sifat, bahkan selera! Ternyata menghargai keunikan dan pilihan anak-anak ataupun keadaan mereka apa adanya perlu kesabaran dan kebesaran jiwa.

Anak-anak yang tumbuh dalam suasana pembedaan atas mereka dengan anak lain (baik saudara kandung maupun teman-teman sebayanya) menyerap dan menyingkirkan dirinya dari optimisme. Betapa ‘ganasnya’ sikap membedakan anak-anak dapat menjadi boomerang bagi kita, para orangtua. Saya pernah mendengar cerita seorang teman yang selalu ‘menomorsatukan’ anak sulung mereka. Si tengah yang dari kecil merasa terpinggir, kalah, diacyuhkan,  tumbuh menjadi pribadi yang berkebalikan dimasa SMP. Ia jadi agresif, suka marah dan memanfaatkan ‘ketakutan’ ayah ibunya untuk menuntut sesuatu.

Sungguh, menghargai anak-anak kita sebagai ‘manusia’ seutuhnya adalah keharusan. Meraba potensinya, melihat kelebihannya, menikmati keragaman karakternya menjadikan kita lebih bijak bersikap. Kita, orang-orang yang beriman diperintahkan untuk bersikap adil pada anak-anak kita. Bahkan saat mereka tak sempurna sekalipun! Jangan pernah memperlakukan mereka berbeda. Saya pernah melihat cuplikan film dokumenter di sebuah kajian motivasi. Seorang anak yang menderita kelainan otak hingga tak bisa menggerakkan sebagian besar tubuhnya tetap diajak ‘hidup normal’ oleh ayahnya. Ia diajarkan berenang, diajak mengikuti lebih dari 900 event olahraga bersama sang ayah, dan dia menyelesaikan kuliahnya! Sang ayah memperlakukannya dengan adil dalam kehidupan. Subhanallah

Adil, mari kita adil pada anak-anak kita. Tak harus selalu memberikan sesuatu yang sama pada tiap anak, namun memperlakukan mereka dengan sama, apapun kelebihan dan kekuarangannya serta mendidik mereka untuk menghargai perbedaan diantara mereka sendiri. Tanamkan pada diri kita bahwa hukuman, hadiah, tutur kata harus selalu mencerminkan keadilan dan kasihsayang kita kepada mereka. Bahkan pada saat kita menghukum mereka, iringi dengan sikap bijak setelahnya. Agar ruh keadilan dan kasihsayang itu bersinergi menjadi kesan indah dalam kehidupan anak-anak kita kelak., dan menuntunnya menjadi manusia yang demikian pula : Adil sekaligus  penuh kasih. Wallahu a’alm bishawwab

Sabtu, 17 Juli 2010

Aku Sabar Aku Dapat!, Aku Sabar Tetap semangat!



            Hari sekolah sudah dekat. Si Sulung mulai masuk TK A (kecil) setelah sebelumnya dia telah masuk PAUD di dekat rumah. Si tengah mulai masuk PAUD tempat kakaknya dahulu bersekolah. Sengaja kami pisahkan tahun ini karena beberapa pertimbangan salah satunya karena si tengah suka ‘nyusul’ kekelas kakak Maura saat hari mulai siang hehehe.

            Dan cerita ini mengenai... S E PA TU BARU. Kebetulan di sekolah kak Maura yang sekarang ada peraturan bahwa semua siswa harus ‘seragam’ untuk sepatunya. Hitam, tidak boleh ada lampu yang berkedip-kedip, tidak boleh aneh-aneh lah pokoknya. Bagus juga maksudnya agar tidak ada acara pamer-pameran, yang berujung rengekan-rengekan pada orangtua. Mungkin.

            Kebetulan, saya dan suami memang belum menyempatkan membelikan sepatu untuk kakak. toh masih bisa pakai sepatu lama yang memang secara model simple, sepatu model Warior hitam dengan tali. Dan masih bisa dipakai kok kalau talinya dilonggarkan. Selain itu, kami sebenarnya sangat apreciate dengan anak-anak yang tidak pernah terlalu ‘risau’ dengan sepatu baru. Kukatakan dengan jujur bahwa Umi dan Abi Insya Allah akan belikan sepatu tapi belum saat ini. Kalau kalian sabar, pasti dapat yang terbaik. Dan anak-anakpun enjoy, karena semangat sekolah mereka luar biasa.  Si adek Salma malah dengan penuh semangat mengatakan “ Aku pake sepatu kakak yang pink ya kak? kan aku cukup nih” kakaknya menyahut , “Boleh, aku juga pake yang item tali.Aku kan TK ya mi, sekolahku sekarang gak boleh lho pake sepatu warna warni”. Hmm... itulah yang membuatku PD aja belum membelikan sepatu diawal masuk sekolah. Hehe... meskipun, biasaaa emak-emak tetep aja ‘ribut’ nyindir-nyindir sama Abi “kapan ya kita punya waktu nih belikan sepatu buat kakak”hihihihi

            Nah, saudara-saudara. Di hari ketiga sekolah mulailah sebuah ‘pelajaran’ kecil kudapatkan. Tiba-tiba sahabatku yang anaknya satu sekolah dengan si sulung kebetulan menelepon dan diakhir perbincangan kami, ia mengatakan padaku “Eh, bu Vida PR dari guru sekolah Maura udah dibilangin ke njenengan (kamu, ed)? coba deh ditanya hehe. Tadi pas mau pulang gurunya mbisikin dia.Coba deh ditanya” aku menebaknya pasti masalah sepatu karena kemarin si sulung sudah sambil lalu bilang “ Mi, kata buguru aku suruh mbelikan sepatu”. Akhirnya saat kutanya, Maura malah cengar cengir.

            Olalala.....ternyata si guru membisikkan pada anakku “ Dapat PR dari bu Guru ya, bilang sama Umi ya suruh belikan sepatu” akupun sebenarnya jengah. Ah, biasa aja pikirku. Sampai sore harinya kukatakan pad suamiku dan mulailah tema diskusi yang tak kuduga. Begini kata Abinya

“hm.. bersyukur ya Mi, kita punya anak-anak yang tidak patah semangat hanya karena belum dibelikan sepatu. Abi malah berpikir gurunya kurang tepat tuh masak bilang gitu ke anaknya, mestinya ke kita dong” kata suamiku sambil duduk santai menikmati wedangan sore.

“Hmmm..Iya juga ya, kan ada buku penghubung, atau bisa pakae surat, sms atau telpon kita kalau memang itu jadi sesuatu yang penting. Iya ya, Umi nangkep maksud Abi. Coba kalau anak kita mentalnya kecil, minder, pasti udah mogok sekolah ya!” aku merasa ini pelajaran berharga
“ Iyalah, tapi coba, dengan kita kemaren bilang bahwa kita belum bisa belikan sepatu saat ini,anak-anak sudah enjoy.Kita padahal kan sedang masukkan nilai sabar, qona’ah, kepercayaan diri.Gurunya gak ngerti soalnya ya hehehe” .

Maka kupanggil kedua putriku dan kami berbincang
“Maura, sepatu maura itu emang udah sempit banget ya? Tadi bu guru ya yang make’in sepatu?” aku tau sebenarnya talinya yang bikin kadang sepatu terasa sesak
“ Ndak kok mi, mungkin bu guruku itu kurang lebar mi mbukanya, jadi susah”
“ Ooo….atau mungkin disekolah gak ada yang pake sepatu begitu ya. mm… Maura masih bisa sabar kan nunggu Umi dan Abi belikan sepatau? Insya Allah Minggu depan Maura sudah pake sepatu yang hitam dan tidak pake tali seperti yang di peraturan sekolah. Hitam dan tidak bertali”.
“ Iya Mi, gak papa aku sabar kok. Kan kalau sabar kita dapat yang baik kan mi?”
"Iya dan masih banyak anak-anak yang tidak bisa beli sepatu namun mereka tetap semangat belajar, Maura"
“ Aku juga sabal Mi…aku sepatu sandal ya mi? kan aku sekolah bisa pake sepatu kakak” si tengah nimbrung
“ Subhanallah yaaa anak-anak Umi hebat. Abi dan Umi kan selalu tepat janji ya? Kalian percaya kan?”
“ Oooo tentuuu Hahahaa. ” Kata kakak dengan gayanya kemayu meniru presenter cilik di TV

Akhirnya, Sabtu sore kuluangkan waktu bareng suami membelikan sepatu hitam, simple, berperekat, ringan untuk si sulung dan sepatu model sandal untuk si tengah yang memang masih bebas pakai sepatu model apa aja. Sore itu mereka merasa begitu puas. Aku buatkan kalimat afirmatif untuk mereka : Aku Sabar Aku Dapat, Aku Sabar , Tetap Semangat! Kukatakan pada putri-putriku
“ Terimaksih ya anak-anak sabar, Umi senang kalian tetap semangat sekolah, meskipun belum dapat sepatu. Oke yuk kita bareng-bareng bersyukur dan bilang Alhamdulillah, aku dapat sepatu. Aku sabar aku dapat, Aku sabar tetap semangat!”
Jadilah sejak sore kemarin hingga siang ini mereka ‘fashion show’ dengan sepatu masing-masing , dan terus bertanya ‘ini hari apa? besok hari Senin? Aku sudah bisa pakai sepatu baru…” Alhamdulillah Nak!



Jumat, 16 Juli 2010

Susu Segar Moeria Kudus : Ternak Sapi di Tengah Kota

Pulang ke kampung halaman suami selalu membuat saya menemukan hal-hal unik. Kali ini sengaja menyempatkan diri menjenguk mertua dan adik ipar kami mumpung liburan. Kudus, kalau bagi kami berdua, pulang kekudus adalah ‘rehat sejenak’ dari segala kepenatan dan padatnya aktifitas pikir dan fisik di Solo sekaligus menjadi kesempatan untuk birrul walidain. Ditambah lagi, kepulangan kali ini berbarengan dengan kakak ipar kami yang tinggal di Bandung. Jadilah event empat hari di kudus menjadi agenda berbagi cerita dan bertemu keponakan-keponakan.
            
Cerita ini bermula saat saya dan suami yang hampir sebulan ini mengganti susu formula kedua putri kami dengan susu segar. Jadi setiap sore di solo kami berlangganan susu segar. Di Kudus, kami sepakat mencari di warung-warung susu. Salah satu yang sering kami lewati namun belum pernah kami coba masuk kedalamnya adalah perusahaan susu segar Muria Kudus. Saya pikir ah pasti itu perusahaan susu biasa karena dari luar ada gerbang tinggi. Saya hanya tau bahwa disana memang menyediakan susu segar 24 jam. Nah, suatu pagi suami yang asli Kudus itu mencoba membeli susu segar di SUSU MURIA KUDUS di Jalan Pemuda  itu . Kata suami saya seumur-umur baru kali ini beliau masuk ke ‘depot susu segar  yang ternyata  sekaligus peternakan’ itu. Jadilah keesokan harinya saya pun berdua kesana lalu  hari berikutnya kami beserta ponakan-pnakan dan kakak ipar ‘menyerbu’ tempat itu


   Apa yang unik? Saya menemukan keunikan dengan melihat puluhan sapi yang diternak di sebuah areal rumah berhalaman luaas. Bukan halaman padang rumput. Gerbang masuk yang dekat ke jalan raya kemudian untuk mencapai ‘tempat nongkrong’ kami harus berjalan masuk, memesan susu dengan pilihan rasa dan memilih makanan kecil , bayar, antri mengambil segelas besar susu panas dan susu cup untuk anak-anak, lalu kami duduk melingkari meja yang telah kami booking. Meja-meja lain telah penuh terisi pagi itu. “Hm… ini pilihan sarapan sehat “ komentar saya.. Bagaimana tidak, segelas susu dan beberapa pangananan kue atau jajanan pagi, cukup untuk mengisi pereut dipagi hari. Kami pun melihat berbagai macam kalangan dan kelompok usia. Ada anak-anak muda atau ABG yang pulang lari pagi, ada mbah-mbah yang memesan susu mad dan telur, ada keluarga kecil yang ‘mampir’ sebelum berangkat sekolah dan bekerja lengkap dengan seragam mereka, ada pula yang sekedar membeli susu untuk dibawa pulang.
          
Kalau saya taksir, pastilah pemilik perusahaan dan peternakan ini orang yang sangat ulet. Dia mampu memberi alternatif ‘sehat’ untuk masyarakat kota Kudus. Bahkan menurut suami saya, ini sudah puluhan tahun sejak beliau kecil. Hmmm… uniknya, sapi-sapi  yang diternak terlihat enjoy meski tidak di habitat aslinya hehee. Mereka ditempatkan di sebuah kandang yang luas, lengkap dengan karpet ternak hygienis dan persediaan rumput gajah yang memadai untuk makanan mereka. Anak-anakpun senang mendapat alternatif liburan dan membuat mereka lebih semangat minum susu karena melihat langsung produsennya.
          
Entah menurut Anda, tapi menurut saya peternakan dan perusahaan susu segar Muria Kudus ini sip banget. Ia mampu menciptakan peluang bisnis sehat di tengah kota. Pagi hari saya jadi lebih fresh dan sehat. Jadi, jika Anda berkesempatan pergi ke Kudus, mungkin Susu Segar Muria Kudus di Jalan pemuda (Depan toko Gaya Busana hehhe komplit) bisa jadi alternatif  kuliner sehat dan lezat Selain Soto Kudus ‘Jatmi’ dan Garang asem Sari Rasa. Selamat Mencoba!

Minggu, 04 Juli 2010

Walimah atau Reunian ? Pesta Lajang ?

Ini catatan yang udah lama pengen saya buat. Secara pengalaman, saya pernah ngalamin dan rasanya gak enak bangget, habis pesta nikahan, eee banyak kerabat berkomentar :" wah itu tadi acaranya temannya pengantin putri thok. Mau foto-foto sampai gak bisa ". akhirnya dipernikahan adek saya, kita 'warning' dia, agar memprioritaskan mengundang temena-teman terdekat. emang apaan sih tema note ini?
Sssst..Sebenernya gak enak juga sih, tapi gimana doong ini jadi 'pergunjingan publik' hahaha.ini soal mengundang orang atau mendatangi walimah temen. gini sist, bro n semua-mua yang masih merasa 'aktivis', masih kuliah udah nikah, or semua lajangers . note ini untuk semua yang berniat melangsungkan pesta nikah (walimahan) atau untuk kalian yang mendatanginya. semoga tidak menyinggung yee.Tapi kalaupun ente pada tersinggung dan tersungging (karena emang benar adanya) syukur deh..semoga jadi pelajaran.

Gini, pernah gak merasa kalau pernikahan sohib kita atau pernikahan kita itu kepengennya ngundang temen2 kita dari bayi ampe sekarang (hayaah) bisa segedung sendiri dooong. Akibatnya??? you know lah gan, bro, sist, itu gedung isinya cekakak cekikik, cipika cipiki temen2 kita.dari yang kalem ampe yang nouraak abist. sampe para tetangga dan kerabat pada melongoh semua.emang sih, itu tandanya kalian cukup supel, banyak temen, fans, aktivis disana sini atau apalah namanya. tapi kayaknya..... semua budaya itu perlu diluruskan deeh. Secara akhlak (ciee) kita punya aturan maen saat mendatangi walimah. Secara budaya, ehm... setau saya, walimah, syukuran nikah, ngunduh temanten itu yg punya hajat kan para ortu n keluarga kita ya?? jadi??? yuuk kita bahas per poin . Lebih khusus nih tentang mengundang dan diundang di nikahan teman.

A. Kalo kalian mempelainya

1. Kalau kalian merencanakan acara walimah dan aqad nikah (eh kebalik yak? ya gitu deh) lebih baik musyawarahkan dengan calon pasangan kalian (dengan cara yang pantas dan tidak menyinggung tentunya) berapa tamu (teman) yang akan kalian undang masing-masing. ingat, harus JUMLAH RIIL jadi keluarga tidak kerepotan dengan serbuan teman-teman kita (pengalaman, kalau yang diundang misal "untuk BEM Fakultas...or Lembaga...." laaah yang dateng ampe puluhan jeeng!!! makanya kalau kalian tuh 'tenar banget' dikampus (buat yg aktivis or mantan aktivis) sebaiknya mulai lah 'tega' untuk menuliskan 'PERWAKILAN' pada masing-masing lembaga yang kalian undang. demi kebaikan bersama gitu (termasuk biar urusan logistik gak bikin deg-degan petugas katering or konsumsinyee hehe)

2. Kalau acara kalian ada dua kali atau bahkan ada yang tiga!!(hiyaah ini mah modalnya gede), ini lebih folus, undang teman-teman masing-masing di acara masing2. Misal (acara aqad dan walimah, undang temen2 pihak putri dan jangan satu RT jeng) dan acara unduh mantu di pihak putra undang teman-teman pihak mempelai pria. Atau kalau kalian merasa perlu dan mampu -saking banyak kolega (jiah kolega) atau sobat, mendingan kalian bikin acara 'khussus teman' deh supaya gak adujabrut plus bikin acara kleuarga jadi heboh dan mencengangkan (karena gak semua 'sesepuh' en tamu setuju dengan hiruk pikuk yg dibuat temen2 kite gitu) piss bagi yang udah terlanjur V^_^V

3. Ingat, setenar apapun Anda, walimah dan nikah sejatinya adalah 'hajatan' kedua orangtua dan keluarga, maka jangan sampai tamu-tamu kita MELEBIHI atau bahkan mengalahkan tamu-tamu orangtua dan kolega keluarga. Kalau perlu nih, berikan dulu kesempatan orangtua dan pihak keluarga untuk mengundang tetangga, sahabat ortu, kolega ortu dan sahabat dekat keluarga atau sahabat dekat dari kakak/adik anda. Memang, semua teman pasti sangat ingin datang di pesta anda (terutama yang masih 'bercokol' dikampus) tapi, ini akan menjadi 'bahan evaluasi' para tamu diakhir acara, akhirnya....ortu deh yang kena getahnya

4. Aturlah acara walimah sesuai dengan kesepakatan keluarga. Acara dadakan dari teman-teman, sebaiknya tidak mengganggu acara inti. Ingat, ini bukan acara pesta lepas lajang, jangan sampai kenyamanan tamu-tamu keluarga dan orangtua terganggu dengan acara-acara dadakan yang biasanya under control gitu looh.

Jika anda melibatkan teman-teman untuk jadi bagian dari acara dan kepanitiaan, kenalkan mereka pada pihak keluarga dan tetap harus DIPANDU oleh orang tua dari pihak keluarga, khususnya untuk penerima tamu, atau penghantar hidangan.

5. poto-poto? nah mulai lah list dari KELUARGA BESAN dulu.. trus keluarga inti kalian, dst, jangan dahulukan temen2 kalian yang sebarek2 itu. cukup minta perwakilan aja gitu. kalo perlu, biarkan acara2 poto poto yang 'resmi' itu bener2 dari keluarga n kolega ortu

6. Kalau kalian ingin MENDESAIN acara sesuai idelaisme kalian (misal pengen yang Islami, pake hijab untuk tamu,dandan yg sederhana, gak pake ningnong2, ato gak pake klenik2 gitu) SANGAT USAHAKAN memberi wacana dulu bro, sist, jangan maksa. kalao pengalaman ni ye... saya sering nyaranin ikhwan akhwan nyang gak pake 'pacaran' itu sejak 'dini' udah kasih wacana2 gitu.

Okelah bro, sist...intinya kalau kalian si mempelai. toloong banget deh kasih kesempatan keluarga untuk lebih banyak memilih tamu

NAAAAH...SEKARANg, ini YANG PENTING JUGA. yang DIUNDANG ato jadi tamu sepertinya usulan-usulan saya ini tolong banget diperhatikan yah...

Siapa sih yang gak pengan jadi 'saksi' sejarah sohib kita yang memulai hidup baru? Siapa juga yang gak seneng berangkat berombongan menuju pesta walimah teman apalagi kalau diluar kota??sekalian piknik gitu looh.Tapi kayaknya kita juga perlu 'berempati' bahwa sohib kita itu sedanga 'dilepas' keluareganya, maka pihak yang paling berkepentingan adalah keluarga besar dan sahabat2 terdekat.

1. PASTIKAN bahwa anda datang dengan UNDANGAN baik tertulis ataupun lesan. ini penting karena ada hadits Rasulullah yang melarang kita mendatangi walimah dengan tidak ada undangan, atau mengajak teman yang tak diundang.
"Barangsiapa masuk ke rumah seseorang tanpa diundang berarti masuk sebagaia pencuri (HR ABu DAwud ) hehe ngeri juga ya

"Rasulullah melarang apabila seseorang diundang untuk menghadiri suatu acara makan-makan lalu ia membawa serta oranglain, kecuali ia diperintahkan (diizinkan) oleh sohibul hajat 9tuan rumah)" HR.Tbrani dan al-Bazzar

Nah , gimana kasusnya kalau si teman itu mengundang teman-teman organisasinya? secara etika, kayaknya penting deh kalian 'membatasi' kuotanya. kirimkan perwakilan.itu lebih elegan

Why? maap-maap ni ye...biasanya, kita-kita yang masih lajang n merasa seperjuangan dengan mempelai, sohib, adek kelas, temen organisasi etc itu datang berombongan dan memenuhi semua 'wilayah' tempat duduk haha. alhasil, tamu-tamu ortu mempelai dan kerabat serta tetangga jadi rikuh. nah, kalao kalian menyerbu begitu, juga berefek pada 'urusan logistik lhoo' hehe. makanya, lebih baik mintalah batasan maksimal pada mempelai. TAPIIIIII jangan membuat si mempelai merasa sungkan hingga akhirnya hanya berkata 'terserah' .hihihihi

2. Jagalah adab bicara, bersenda gurau dan berbinang yang gak perlu. Ini pengalaman. pas ada walimah yang khusyuk, eeee teman-teman mempelai putri malah cekakak cekikik dan cipika cipiki temu kangen getoooo. wadduh....padahal acara lagi berlangsung.Ini mengundang decak tidak simpati para tamu. apalagi kalau kita 'aktivis dakwah' duuuh... malu n tengsin doong.

3. Jika memang kalian ingin memberi kejutan diacara walimah teman/sahabat, berkoordinasilah dengan pihak keluarga, jangan membuat acara dadakan ditengah acara yang telah tersusun rapih. ini membuat keluarga ,mempelai dan para tamu menjadi kurang nyaman lhooo. emang sih temantennya tetep senyum tapi juga gak enak lhoo sama keluarga n tamu2. KALAU PERLU, usulin aja bikin acara sendiri untuk lepas lajang atau perpisahan di jam atau hari lain. hehe

4.SETENAR apapun teman n sohib ANda, Aqad dan walimah itu adalah hajatan dari keluarga dan ortunya-khususnya- jadi jangan membuat sohibul hajat jadi tidak nyaman dengan 'serbuan' kalian.Izinlah jika membawa serta teman

5. POTO-POTO .nah..ini nih yang kadang bikin sebel (maap yee jujur banget)kalau poto kira-kira dong bro, sist..masak ortu mempelainya jadi kegencet2 gitu. jangan serombongan maju semua. elegan gitu.ini kan poto walimahan jadi yaa..biar agak enak dipandang.TRUUUSSSS.... jangan poto-poto sebelum keluarga mempelai dan kerabatnya. TAHAN lah hasrat ingin foto kalian.

6. SEGERA PULANG saat acara selesai kecuali anda diminta tinggal untuk foto atau untuk hal lain. Ingat, mempelai dan keluarganya masih punya serentetan acara dan mungkin sangat capai. foto-foto diakhir acarpun perlu diatur sedemikian rupa

7. Jika memang, kalian merasa SANGAT PERLU memeriahkan acara sohib atau teman sesama aktivis kampus itu, adakan aja acara sendiri yang santai, jangan merecoki acara walimah.Apalagi jika teman yang menikah itu banyak teman dan 'sangat tenar' dikampus halah-halaaaah...

yah,..capek juga nulisnya tapi pegimane lagi, ini sering jadi problem. Intinya sob, perhatikan aja masalah adab diundang dan mengundang. Hindari juga walimah dari kemubadziran.

Semoga note ini bermanfaat, maafkan jika 'kebetulan' ada yang tersinggung dan tersungging . Silakan share...jika bermanfaat heheh

Standar kemapanan Menikah : Renungan tuk para Orangtua

Para lajang itu berkumpul tiap pekan dirumah saya untuk pengajian. Sekitar 10- 12 orang. Sebenarnya ada yang sudah menikah, dua orang. Namun belum dikarunia putra. Seperti Ahad pagi kali ini, kami masuki awal tahun yang baru. Sayapun mengelola pengajian itu sesuai dengan ‘kebutuhan’ mereka. Tidak ada paksaaan. Semua berjalan dengan santai namun serius. Nilai-nilai Islam begitu luas dan luwes untuk dijabarkan dalam menjawab persoalan-persoalan kita.

Seperti pagi ini. Dengan usia sekitar 24 -26 tahun, apa yang paling diinginkan oleh para lajang yang sebagian telah memulai bekerja tetap itu? Ya, ya,,ya …menikah! Setiap kali pembahasan itu menyeruak, aku hanya bisa membesarkan hati mereka, membekali hal-hal yang mungkin mereka perlukan memulai sebuah hubungan yang halal dan syar’i. Jika harus mencarikan jodoh, sepertinya itupun agak sulit. Persoalan-persoalan sering mereka beberkan seputar pernikahan. Dari mulai jodoh yang tidak segera datang, kebimbangan dengan ‘perhatian’ dan hubungan dari seseorang yang tidak segara memberi kejelasan, sampai yang ini…: TUNTUTAN ORANG TUA terhadap kemapanan calon menantu mereka. Dan perbincangan sekaligus curhat dari salah satu binaan mengajiku itupun mengalir. Sebut saja namanya…Ana

“ Ayah saya selalu menganggap saya terlalu muda untuk menikah. Padahal saya punya target menikah di usia 24 tahun, mbak. “ Ana memulai ceritanya. Lalu lanjutnya,
“ Ayah saya selalu mengatakan apa saya sudah mantap? Apa saya tidak ingin bekerja dulu yang mapan? Padahal saya sudah jadi guru tetap dan akhirnya saya ingin tetap nekat bahwa saya akan menikah tahun ini. Usia saya sudah 26 tahun mbak! Saya punya rencana, saya juga memikirkan kalau saya menikah diusia menjelang kepala tiga, sementara nanti mungkin saya tidak segera dikaruniai anak, bukan kah itu jadi beban untuk saya? Sementara saya pun takut mengenalkan orang yang suadh berniat serius dengan saya pada Ayah. Saya takut ayah akan menyinggungnya, membuatnya mundur teratur…” Ana menceritakan dengan sedikit emosioanl. Aku berusaha meraba persoalannya. Benarkah hanya masalah itu? Ada apa dengan sang Ayah?

Ternyata, setelah sekian lama Ana menceritakan persoalannya, kami baru dapat menyimpulkan. Ayah Ana seorang duda sejak empat tahun lalu. Ibunya meninggal dunia dan karena suatu hal, Ana tinggal bersama keluarga besar ibunya dan Ayahnya tinggal dirumah yang berbeda, dikota tetangga. Kakak perempuan Ana sudah menikah dan menurut Ana, orangtuanya agak tidak sreg karena kakak perempuan Ana ternyata yang bekerja tetap sementara suaminya, masih serabutan. Dalam pandangan orangtua Ana, kakak perempuannya hidup dengan tidak ideal.

Kutemukan jawabnya. Pertama, Ayah Ana kesepian. Menduda selama empat tahun, dan bertemu dengan anak yang tidak setiap hari membuatnya amungkin cemas bahwa anak gadis keduanya pun akan ‘meninggalkannya’. Sungguh saya pun dapt berempati. Merawat ayah lebih sulit daripada merawat suami sebab kita harus lebih menjaga perasaan beliau. Kedua, Ayah Ana trauma dengan kehidupan pernikahan kakak perempuan Ana yang menurut pandangan sang Ayah kurang mapan dan kurang sejahtera. Meskipun menurut Ana sendiri itu agak berlebihan.

Maka untuk kasus Ana akhirnya kuberikan solusi bahwa harus ada pihak ketiga ( saudara atau sahabat sang ayah) yang menyampaikan keinginan Ana untuk segera menikah tanpa menyinggung perasaan Ayahnya. Ana dan calonnya pun harus dapat meyakinkan sang Ayah bahwa pernikahan mereka tidak akan menjadikan hubungan ayah-anak menjadi jauh. Perlu ‘kenekatan’ dan kerjakeras pula dari calon menantu untuk meraih hati sang ayah. Demikian pula tentang standar kemapanan dan kesejahteraan. Ana dan calonnya perlu membuktikan bahwa mereka dapat meretas sukses itu. Sentuh masa lalu ayah dengan mengingatkan bahwa setiap rumahtangga pasti ada masa prihatin.

STANDAR ORTU : Sebuah Evaluasi

Cerita Ana diatas mungkin terlalu panjang ya, untuk sebuah pengantar.Tapi saya yakin bukan itu saja yang dihadapi para gadis dan para jejaka saat akan menikah. Jika kecenderungan rasa sudah ada dan niat baik untuk menikah dengan menerima kondisi masing-msing sudah ada dalam hati. Eee… justru para orangtua yang kadang ‘rewel’ tentang kemapanan, pekerjaan, penghasilan calon menantu laki-laki mereka. Tak dapat dipungkiri memang. Hati orang tua mana yang tega melihat anak gadisnya menikah tanpa sebuah jaminan kesejahteraan yang riil? Parahnya lagi kadang dengan terang-terangan para orangtua sangat overestimate manakala anak gadisnya dilamar oleh seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Olala. Atau sebaliknya agak kurang 'optimis' dengan calon mantu yang belum berpenghasilan 'diatas 1j' perbulan (ada looh)

Padahal wahai orang tua para gadis, taukah Anda bahwa sebenarnya putri-putrimu lebih siap untuk mendampingi para suami yang mereka cintai dengan tulus. Jangan tanamkan keraguan atas rizki yang dijanjikan Allah melalui menikah dengan hitungan matematika kalian.

Wahai Ayah, Ibu, Saat ini betapa banyak lelaki bujangan yang memilih menunda menggenapkan separuh agama dengan menikah karena sudah merasa nyaman dengan kesendirian mereka dan menganggap para gadis cukup sebagai teman istimewa. Saat ini mungkin sedikit sekali para lelaki yang punya keberanian untuk mengambil tanggungjawab segera menikah dan menafkahi istrinya. Dan manakal laki-laki bertanggungjawab yang berjumlah sedikit itu memberanikan diri meminang anak gadis kalian, mengapa masih Ayah Ibu persulit hanya karena mereka belum memenuhi standar kemapanan kalian?

Sementara putri-putrimu semakin merambat usianya, semakin besar kegelisahannya, semakin ciut hatinya. Mengapa tidak memilih bersikap lebih bijaksana dengan membesarkan hati bahwa rizki Allah pasti begitu luas diberikan pada dua orang yang meniatkan menjaaga dirinya melalui hubungan yang halal ? Tidakkah ayah ibu tau bahwa putri-putri kalian hanya akan bahagia bersama laki-laki yang bagus agamanya? Yang bertanggungjawab? Yang mau terus bekerja keras dan tidak berleha-leha? Itu masih lebih baik meskipun mungkin kalian mencibir besarnya penghasilan calon menantu kalian.

Sikap inilah yang saya saluti dari ayah dan ibu saya. Sampai hari ini tak pernah terbersit ucapan atau kegelisahan -minimal tidak pernah diperlihatkan pada kami anak-anak perempuannya- tentang pekerjaan menantu laki-lakinya. Saat dahulu suami saya memberanikan diri mengkhitbah dan menikahi saya, tidak pernah ayah saya mennayakan 'kamu kerja apa? kamu udah berpenghasilan berapa?" atau lebih ekstrim sudah punya mobil, rumah, atau apa?

Ayah saya hanya yakin bahwa anak gadisnya ada disisi orang yang tepat ,mencintai putrinya, paham agama, dan bertanggungjawab. Saat itupun ternyata, almarhumah ibu saya yakin bahwa anak-anak gadisnya tidak akan 'KELAPARAN' jika mereka menikah dengan lelaki yang mencintai, bertanggungjawab, dan mau bekerja keras menafkahi keluarganya. Saya sering berseloroh pada suami saya " enak banget lhoo yang jadi menantu abah hehe, gampang ngelepas anak gadisnya, gak bertele-tele" ternyata sikap kedua orangtua saya tersebut diam-diam menuai salut dari bapak dan ibu mertua (kompak nih yee)


Begitulah. Semangat mengambil tanggungjawab menikah memang harus didukung dan dikondisikan oleh para orangtua juga. Jika diatas saya mengajak para orangtua para gadis agar tidak terlalau ‘pasang standar tinggi’ maka sayapun akan sedikit berbagi contoh tentang kesiapan orangtua pihak laki-laki untuk mensupport anak laki-laki mereka menikah dini. Ini tentang bapak ibu mertua saya sendiri. Memiliki empat orang anak laki-laki tentu menjadi sebuah tanggungjawab tersendiri. Saya pun menaruh simpati pada kedua mertua saya itu. Sejak kakak ipar sulung saya menikah yang saat itu barusaja menyelesaikan kuliahnya di STAN, mertua saya mensupport keinginan menikah dini anak-anaknya sampai dengan adik suami saya yang terkecil.

Bapak ibu mertua saya sukses menghantarkan kami sedikit demi sedikit menapaki kemandirian. Kami disapih dengan bantuan finansial yang ‘beristilah’ pinjaman baik yang sangat lunak (he..he.. artinya pemberian) sampai dengan pinjaman yang harus kami angsur tiap bulan seiring dengan ‘kemapanan’ kami berumahtangga. Ini bukan hanya tentang materi, namun mertua saya pun memberikan kepercayaan pada anak-anak lelaki mereka untuk menentukan pasangan hidupnya, menghargai kami sebagai menantu-menantu perempuan yang dianggap sebagai putri-putrinya, dan menghargai cara kami mendidik dan mempola keluarga kami sendiri.

Mungkin, para orangtua perlu kita ingatkan kembali betapa Allah memberikan jaminan bahwa sunnah bersejarah bertajuk pernikahan ini harus disegerakan, dan jaminan Allah atas rizki orang-orang yang menyegerakan proses pernikahan adalah mutlak. tentunya jaminan tersebut harus pula disertai usaha dhohir dengan BERUSAHA tetap BERPENGHASILAN :)

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara
kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba
sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN
MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas
(pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”
(An Nuur 32)

Jika Allah dalam ayat tersebut menyebutkan nuntuk menyegerakan mnikahkan 'hamba sahaya' sehingga menyandingkan kata miskin sebagai kekhawatiran atas keadaan pasca nikah. Bagaimana dengan kita yang tentu lebih 'kaya' dan tentu lebih mampu untuk menikah dan berusaha untuk merengkuh karuniaNya????

Itulah sedikit catatan kecil bahwa kerumitan tentang standar kemapanan harus disikapi secara arif dan bijak. Kita yang bercita-cita menikah juga harus mempersiapkan diri untuk bertanggungjawab, para orangtuapun harus arif bahwa kepercayaan bahwa putra putrinya dapat menapaki sukses dalam berumahtangga adalah kepercayaan yang menumbuhkan semangat pada anak dan menantu mereka. Wallahu a’lam bishawwab

Suatu Hari tentang pelajaran Solidaritas

Bagi banyak orang, mungkin mengajak anak-anak berdemonstrasi adalah sesuatu yang kurang bijaklah, tidak kasihan anaklah.Tapi bagiku pribadi..terkadang, jalanan mengajarkan tentang spirit luarbiasa, tentang solidaritas, kepedulian, pengorbanan, tergantung pada bagaimana kita membahasakan pada anak-anak tentang mengapa kita melakukannya.


Seperti jumat pagi itu aku dan sulungku berbincang tentang kasih sayang. Aku yang sejak tiga hari menonton berita tragedi Mavi marmara punya 'misi' untuk dua putri tertua kami.
" Umi mau demo untuk Palestina siang ini. Yah..sperti saudara-saudara kita tadi yang di TV" kataku .Aku sempat tidak membolehkanya ikut sebagai akibat dia 'memukul adeknya
" Anak Umi yang Sholihah tidak mukul, sebab Allah tidak memberi kita tangan untuk memukul. Jadi mungkin lebih baik kakak tidak ikut kalau belum minta maaf.” Mulailah ia merayu
" Mi., Aku sudah minta maaf. Aku ikut ya? Kan aku pengen tau, demo itu gimana, kan yang dulu umi demo aku ndak jadi ikut. Aku boleh ikut ya mi..." kata sulungku merayu. Baiklah.
"ya, boleh,adek Salma juga boleh ikut" toh aku merencanakan hari ini sejak dua hari lalu jadi kululuskan ia ikut.
Siang itu aku mempersiapkan diri.Aku 'briefing' anak-anakku dengan menonton berita tentang Palestina terlebih dahulu. Ini penting agar mereka terbiasa mengetahui untuk apa mereka melakukan sesuatu. Sambil kusuapi mereka makan siang, si sulung mulai tanya-tanya
"Maksudnya itu apa sih Mi? Dulu itu anak-anak palestina dibunuhi kan?Trus sekarang apa mi?? Memang ya...Israel itu kok kejam ya mi"
"Yaaa gitu deh. Nah, itu gini Maura, kapal itu isinya makanan, obat untuk saudara-saudara kita di Palestina. Itu tentara-tentara Israel mukulin saudara-saudara kita yang mau ngantar makanan itu. Padahal kan Allah nggak ngasih tangan untuk mukul apalagi nembak ya, Nak" kumasukkan 'review' tentang pelajaran tidak memukul. ia pun mengangguk malu-malu.Giliran si tengah Salma Haniyya menyahut
" Nhaa... tuh kayak kaka tadi mukul aku kan ndak boleh ya Mi..?" aku geli. Si kakak melanjutkan , ehm. biasa...mengalihkan pembicaraan saat mulai merasa bersalah hehehe
"oooo aku tau, jadi itu yang dipukul yang mau nolong ya mi, namanya apa mi kemaren..aku lupa"
"hehehe ..namanya R E L A W A N sayang" rupanya dia dengar saat aku dan suamiku menyebut-nyebut kata relawan

Sesaat kemudian RCTI menampilkan Rachel Corrie saat berusia 5 tahun, aku menceritakan ulang padanya
"Nah, anak kecil itu usianya 5 tahun, seumuran dengan Maura. Tapi dia sudah berani berpidato tentang cita-citanya menolong anak-anak yang kelaparan. Subhanallah...”
“aku juga mau ah, ngummpulin makanan buat orang yg gak bisa makan” timpalnya.Lalu berita selanjutnya tentang Rachel Corrie yang akhirnya menjadi martir
“Lho Mi’ mbak nya yang ngomong tadi itu mati? digilas tank?kasian ya Mi…”
“Maura, kadang orang harus mau berkorban untuk membela orang lain. Anak-anak palestina juga berani membela Islamnya, negrinya meskipun masih kecil..mereka tidak takut karena mereka benar”
“OOOO…mereka ndak takut ya mi sama Israel. Hanya takut pada Allah ya Mi? “ kubiarkan putri-putriku berkomentar dengan alam pikir kanak-kanaknya. Sedikit demi sedikit kutanamkan ‘perang ideologi’ biar saja.

Begitulah. Meskipun tak ikut longmarch dan hanya potong jalur nyegat ditempat finish (maklum, tak ada suami jadi berangkat Cuma sama anak-anak deh), sepanjang perjalanan berbecak kuceritakan pada putri-putriku siap Israel, kusebut-sebut Palestina sebagai saudara-saudara mereka. Kubiarkan mereka berkomentar lewat celoteh-celoteh mereka.

Akhirnya kami pun bergabung dengan para peserta aksi. Dia tampak heran melihat orang-orang bertakbir, bersemangat (maklum terakhir dia kuajak demo kalau tidak salah saat masih usia 2tahun!) hehe. Namun kemudian sorot mata sulungku berbinar dalam tanya. Kuajarkan ia mengepalkan tangannya, mengumandangkan yel-yel. Akhirnya sulungku bergabung dengan ayahnya.Si tengah tertidur dan akhirnya pulang bersama tanteku yang penasaran dengan aksi solidaritas palestina hehe

Terik siang itu memberiku sebuah nuansa. Bahwa solidaritas itu harus ditumbuhkan. Kepedulian itu harus ditularkan. Aku merenung dalam lautan sebagian manusia-manusia peduli dikota ini. Jika sampai hari ini musuh-musuh Islam telah sukses menanamkan permusuhan di hati bayi-bayi mereka, sukses memporak porandakan akidah dan kesatuan kita , sukses mencetuskan bara dalam hati para pemuda mereka dengan menawarkan kemerosotan moral pada para pemuda kita. Rasanya, tak ada yang salah mengajarkan pada anak-anak muslim didunia ini bahwa panasnya jalanan ini tak sebanding dengan peluru. Bahwa kasih sayang sesama muslim menembus batas-batas negri, menyusupi relung-relung hati saudara-saudara mereka melalui takbir yang membahana melewati angkasa. Bahwa persaudaraan tertinggi adalah mampu merasakan derita dan turut lega dalam bahagia sesama muslim.

Menjelang ashar….aksi pun berakhir. Si sulungku kembali bersamaku karena ayahnya akan mengambil motor dari masjid tempat aksi bermula. Kupandangi sulungku,kugandeng tangannya. Kuseka peluhnya.Aku ibunya, aku tau dia mengamati, merasakan ‘pelajaran’ dari jalanan siang itu. . Kuajak ia menyusuri jalan mencari becak untuk pulang.

“ Bagaimana mujahidah kecil? jadi bagaimana menurutmu tentang demo?Capek ya?””
“Asyik mi! Aku mau ikut lagi kapan-kapan. Memang capek mi, tapi aku kalau sudah besar mau ngumpulin makanan, uang mau tak kasihkan orang-orang yang kelaparan” hehe rupanya yang selalu menempel dibenaknya adalah bahwa peperangan itu : Kelaparan.
“ Kita berdoa untuk saudara-saudara kita di Palestina. Anak-anak disana lapar, kak. Panas , ditembakin, dijajah.Kasihan ya?”

“iya Mi...makanya kita harus bersyukur ya mi masih bisa makan, masih punya umi, keluarga” Duuuh...sulungku itu kalau pas keluar 'sulungnya', bicaranya gayaaa bangeet
Aku mengangguk...satu pelajaran lagi. Kali ini tentang solidaritas anak-anak yang tulus. Jalan masih panjang untuk memupuknya. Setidaknya aku bertekad bahwa aku akan menularkan energi ‘perlawanan’ itu perlahan tapi pasti! Sebelum musuh-musuh Allah itu merunyak, merusak pola pikir mereka, menggerus rasa sensitivitas aqidah dan persaudaraan. Allahu akbar!

Sebentar Ya : Pelajaran dari Si Sulung

Seperti catatan-catatanku terdahulu, kali ini aku lagi-lagi belajar dari guru kecilku yang sering membuatku speechless menghadapi kekritisannya...tapi memang, adil mengakui kebenaran itu harus kita mulai meskipun dari kejujuran seorang bocah. Ini ceritaku beberapa hari lalu, semoga menginspirasi

Suatu sore di hari Sabtu, 8 Mei 2010
Kubiarkan anak-anak bermain air dihalaman samping rumah. Basah, ya tentu. Kotor? pasti karena mereka membuat bubur pasir dan yah begitulah. Awalnya permainan itu ‘tenang’ sampai pada suatu saat seperti biasanya ada keisengan-keisengan si kakak Maura yang memecah tangis si tengah, Salma. Dan seperti biasa pula, si budhe (khadimat) dengan serta merta hheboh melerai . Kali ini maura mengguyur air kekepala adiknya yang memang ‘sebel ‘ dengan acara keramas. halaah.. Salma yang akhirnya sekalian mandi sudah diamankan budhe. Sementara si sulung masih asyik dengan adonan pasir dan baju basah kuyupnya. Hmm..aku yang hendak bersiap mandi dan berangkat ke kajian pekanan terpaksa mengalah untuk bernegosiasi dengan si sulung. Sebab, biasanya dia akan mengada-ada (minta dimandikan, minta ini itu saat saya sudah siap berangkat).

“Hmmm, Nak, Salma tadi diguyur ya...?” tanyaku sambil memperhatikannya yang mondar mandir mengambil air dan pasir
“ iya, salah sendiri anak kok cengeng gitu aja nangis.Ya tak goda aja sekalian…” hihihi, jadi sodara-sodara, sulungku akhir-akhir ini banyak mengadopsi gaya dan perkataan ‘maskulin’ dari teman-teman lelakinya disekolah. Apalagi didukung postur tubuhnya yang ‘gagah’ kadang aku kewalahan juga meredakan emosinya
“Ooo… tapi jangan gitu nho kak. Ingat kan cerita nabi Sulaiman? Orang yang kuat ndak boleh menyakiti yang lemah. Haniyya (Salma Haniyya, ed) kan emang paling takut diguyur kak.” dia menggumam sambil masih sibuk

“Oke kak, ini Umi mau liqo’ (ngaji) dan umi mau siap-siap . Kak Maura mau dimandikan umi apa budhe? “
“Umi aja yang madikan (agak ketus sambil masih sibuk mengaduk pasir)”

“Kalau Umi yang mandikan, sekarang ya jadi nanti kalau Uminya Aziz jemput umi, kan umi udah siap. Mandi sekarang yuk!”

“Sebentar..Umi tunggu dulu.aku aja baru ngerjakan ini kok” alah-alah...gayanya itu lho frend
“oooo....lha apa umi mandi dulu kalau maura udah selesai ntar tak mandikan. gitu pie?”kataku masih berusaha ‘sabar’ hehe lebih tepat menahan emosi ding.

“ Aduuh Umi ini, S E B E N T A AR...tho.! Lha wong orang-orang tua aja bisa bilang sebentar kok kalo disuruh anak kecil .masak anak kecil ndak boleh? Orang-orang tua lagi, sebentarnya lama lho Mi...”

Masya Allah!!!! Aku terhenyak. terhenyak, geli, takjub, bangga, Subhanallah!!! Ini adalah bahasa diplomatis Sulungku yang luar biasa sore ini. Aku hanya mengangguk-angguk dan membenarkannya

“ Oooo....iya-iya, umi ngerti. Baiklah, Umi akan tunggu sampai maura selesai. Umi kan harus SABAR ya nak, gitu? Tapi Maura sebentarnya cepat ya hehehe kan Umi juga mau ngaji...”
Akhirnya dia kumandikan, meskipun masih bersungut-sungut dan masih menggumam-menggumam suruh sebentar aja kok ya Umi itu lho ndak sabar...

Sepanjang perjalanan kerumah teman, aku memikirkan kata-kata Maura tadi. Kalimat yang jujur, lugas dan ‘kaya’ akan tumpukan pengalaman anak-anaknya mungkin . Akhirnya akupun menyimpannya. Dan aku pulang mengaji sudah lewat maghrib, maklum rumah kawanku agak jauh. Sampai dirumah aku sholat, menyimaknya baca ‘ iqra’ dan menunggu waktu tidur setelah isyak. Anak-anakku sudah tidur maksimal jam 19.30 karena siang mereka tidak terbiasa tidur. Singkatnya sekitar pukul 21.00 maura bangun dan menghampiriku yang sedang didepan komputer. Di mendekati meja dan stengah ngantuk dia bilang

“Umi, aku mau minum air putih dan susu....” katanya
“ ooo iya nak, air putih dulu atau susu dulu?” kataku sambil menatapnya
“ Air putih dulu....”
“Hmm...oke baik, S E BENTAR YA, sayang....umi simpan dulu dan umi sekalian matikan komputernya. Sabar ya?’
“ Ah umi..kalau anaknya minta air putih atau susu itu kan langsung berdiri bisa kan mi? Komputernya kan bisa nanti lagi….” Hah????? Kena lagi aku!

“ Oooo iya sayang, Ya Allah…umi minta maaf ya. Oke –oke “ Aku serta merta berdiri. Sambil mengaduk susu, aku memikirkan kata-katanya hari ini yang berhubungan. aku mencari-cari hikmah sebelum aku menulis catatan ini. Aku mendapt pelajaran lagi darinya.

“Ini nak susunya, Bismillah dulu. Trimakasih ya, umi tadi diingatkan. Tapi lebih baek lagi kalau kakak juga belajar sabar .Kita sama-sama ya Maura? “ Akupun mengajaknya pipis lalu mengantarnya tidur lagi.

Luar biasa. Anak-anak kita adalah peniru ulung yang detil dan pemberi kritik yang jujur. Kita yang harus membahaskan, terus memberi mereka kesempatan untuk berkata jujur dengan tidak merendahkan pendapatnya. Akhirnya dari kejadian hari itu, ini beberapa ibrah (pelajaran) yang kuambil

1. Bahwa kata SEBENTAR bagi anak-anak adalah isyarat tertundanya kebutuhan mereka. Meskipun kita harus pula mengajarkan makna ‘sabar’ namun bagi alam kanak-kanak mereka seringnya kita mengatakan ‘sebentar ya’ meskipun dengan kata-kata yang halus adalah bentuk ketidakpedulian kita pada mereka

2. Bahwa bisa jadi ketaatan anak-anak kita terbentuk karene terpenuhinya KEBUTUHAN mereka dengan segera dan tulus (ingat, bukan terpenuhinya keinginan, namun kebutuhan).Mislanya mereka sudah bilnag ‘lapar’, minta dibersihkan saat pup, minta minum, mengeluh sakit dsb. Saya jadi ingat kata seorang teman bahwa saat kita bersegera memenuhi kebutuhan anak kita, mereka akan belejar memahami aktivitas dan kebutuhan kita pula. Mungkin jika sampai hari ini anak-anak kta masih ‘malas’ dan kurang taat bisa jadi karena kita mengabaikan kebutuhan mereka dan menunda-nunda.

3. Bahwa ternyata, mengajak berdiskusi, memahami alam berpikir anak-anak akan menjadikan mereka menjadi anak-anak yang cerdas dan jujur. lagi-lagi mendidik dan mengasuh adalah persoalan memahami dan memberi teladan.
4. Masa meniru gaya, kata, aksen, dan sikap di usia kanak-kanak begitu dahsyat, sehingga mengucapkan kata-kata , bersikap semestinya menjadi sesuatu yang sangat kita jaga didepan anak-anak kita

Akhirnya, sejak hari itu saya berjanji pada diri sendiri akan meminimalkan kata SEBENTAR saat anak-anak saya sudah menyampaikan kebutuhannya. Saya pun mengajak pembantu saya begitu. “ Mbak, saat Maura dan Salma sudah minta makan, minta dicebokin saat pipis, atau sudah minta sesuatu yang penting, tolong segera penuhi ya…agar mereka juga manut dan tidak pemarah.” Dan benar, sayapun masih berlatih terus. Jika itu kita lakukan (termasuk segera memenuhi janji kita pada anak sekecil apapun) anak-anak kita akan belajar lebih sabar , Insya Allah.

Hmm.. masih panjang jalan mengasuh anak-anak kita. Sayapun yakin teman-teman punya banyak pengalaman yang dapat sama kita bagi untuk memperkaya kreatifitas kita. Menghantarkan diri kita sendiri untuk lebih sabar dan konsisten terhadap nilai sehingga saat kita mendidik anak kita tak ada lagi beban bahwa kita belum melakukannya. Sulit memang bahkan sampai hari inipun saya masih terus mencoba. Semoga Allah mencintai kita dan keluarga kita dan memudahkan kita mendidik amanah-Nya.

pesan sponsor: Note ini termasuk Hak Kekayaan Intelektual hehehe Silakan menshare note ini atau semua tulisan di penaperempuan.blogspot.com
dengan tidak mengeditnya serta mencantumkan nama penulis dan sumbernya.Terimakasih…

Pelajar Islam Indonesia : Sebuah Cerita tentang tempat Bermula

Kusempatkan menulis ini. Ini tulisan sederhana, tentang sebuah tempat dimana saya menemukan sesuatu yang berbeda, diusia belia, 17 tahun. Tentang sebuah tempat yang banyak ‘tetua’ dan tokoh negri ini telah terlebih dahulu merasakan ruh bangkitnya. tentang sebuah tempat dimana setidaknya untuk saya sampai hari ini, bisa merasakan hawa kebebasan berpikir, kegelisahan untuk terus berproses, dan cikal dari saya memahami bahwa kesempurnaan pemahaman Islam adalah amal, toleransi, pergerakan, dakwah dan kesederhanaan. Ingat... ini bukan sebuah ‘kefanatikan’, ini hanya MENURUT saya. Yang mungkin sedikit melankolis sebab bertumbuhnya semangat saya tidak lepas dari tempat ini. Ya, ini hanya sebuah tulisan tanda terimakasih seorang kader yang tak ingin lupa pada kulitnya, seperti apapun ia sekarang, meski kadang tak lagi dapat bersua..... mari kukenalkan tempat itu

BATRA SOLO 1998
Saat itu aku berusia 17 tahun tepatnya kelas dua SMU. Jenuh saya melihat teman-teman saya yang begitu-begitu saja. Sekolah, nilai, ulangan, OSIS , majalah sekolah, beruntung saat itu saya sudah tidak tinggal di asrama sekolah saya.. Sampai suatu saat, seorang teman saya mengajak saya ke sebuah training pelajar. Hmmm Boleh juga, batin saya. Saat itu rasanya biasa saja. Sebelumnya, saya pernah mendengar kata PII, dan sempat ingin bergabung namun selalu tak sampai. saat itu bulan ramadhan.

Aku mengikuti sebuah training berbeda, ini bukan sebuah pesantreen kilat.Bukan. Ini lebih hebat. Itulah awal aku dan segala kegelisahanku menuntunku ke tempat training : Gedung Islamic Center DDII Pabelan kartasura. hahaha... dasar aku, perjalanan yang dulu sudah kuanggap ‘jauh’ dari rumahku itu kulampaui dengan bis kota tepat ditepi jalan raya. Dan anehnya aku dan seorang sahabat terbaikku (izinkan aku memanggilnya Yunda, panggilan ‘asing’ yang akhirnya biasa kudengar di sana, maknanya akrab dan sederhana) namanya Ayun ehm..Yunda Ayun Nurul Maqbullah Dahlan. Senja kami sampai ke gedung itu.

Nuansa berbeda segera kurasa. Aku menemukan para ‘mbak2’ berjilbab lebar, bergamis, tersenyum ramah menyapaku yang kala itu masih bercelana panjang dan berhem lengan panjang pokoknya ‘pii’ banget deh (yang ini plesetan, yang kepanjangannya menjadi ‘pelajar imut imut’). Tak ada tatapan 'aneh', tak ada justifikasi, semua ramah, sederhana.Saya segera mendapat teman-teman baru, baik yang telah lama bergabung, maupun yang baru saya kenal. Izinkan saya menyebutkan mereka yang banyak berjasa menjadi teman belajar saya : Almira dan kakaknya Iin Hasanah, Ayun, Ulfa Diena, Ellen, fatimah Zahriyah, Kartini, Kak Inoki, Cak Narto, Kak Hanang, Yu Isti, Yu Sri, Mbak yayuk, Kang Jazin, Yu Efi, Kang Ridho, Kang Iqbal, Ridho Amiruddin, Mukti Imawan, Mbak Isma) dan entah berapa orang lagi yang kami kenal.

Unik. Training itu bernama Basic Training (BATRA), training keanggotaan awal yang selama sepekan saya merasa terkesan. Sampai hari ini, saya belum menemukan training pelajar yang sedemikian ‘mencandu’(ini meniru teman training Intermediate PII yang saya ikuti di Bekasi tahun 2001, katanya training PII itu candu. Waduh dan memang benar). Di PII, basic trainingnya kereeen!!! Pelajar yang ikut dijamin bakal ‘pinter’! gimana enggak?? Kami yang masih sekul itu, yang minimal kelas 3 SMP sudah diajarkan bagaimana materi-materi tentang Aqidah, Dienul Islam, Ibadah, wawasan Islam, Komunikasi, Ideologi2 Dunia, dan banyak lgi deh. Dan hebatnya lagi para instruktur kami sama sekali tidak pernah ‘memaksa’. Mereka memberi ‘pancingan’ dengan materi awal, kemudian mereka memancing pemahaman2 awal kami. Target di basic training sampai dengan hari ketiga adalah :enjoy your local, ukhuwah, mengikuti training sampai selesai dan dapat berkomunikasi dan mengeluarkan pendapat! di hari ketiga, kami dari 4 kelas (local) dikelompokkan menjadi tiga kelompok untuk local change. Upper untuk yang memiliki keberanian berpendapat tinggi, wawasan yang lumayn, dan berani BICARA, Middle untuk yang ‘biasa saja’, mau bicara namun harus ditunjuk, dsb. Dan Lower untuk yang benar2 pasif. dan hebatnya, di masing2 kriteria itu nantinya ada ‘PERUBAHAN POSITIF’ saat kembali ke lokal semula. Yang upper semakin bagus, yang midle jadi lebih upper, dan yang lower lumayan percaya diri. Wuuuuuiiiiih keren dah!

Sepulang dari Batra, semangat saya besaar sekali. Dan ini hebatnya -lagi- selama tujuh hari, kami alumni batra disuruh pulang ke daerah masing-masing (kalau beragam daerah) dan mebuat ‘proyek dakwah’ di PII Daerah. Subhanallah. Saat itu saya kelas dua SMU! Sejak hari itu, saya justru banyak ‘ngetem’ di sekertariat PII di Gedung Umat Islam Kartopuran, Solo. Bertemu dengan pelajar-pelajar Islam dari sekolah yang berbeda. Bahkan kami justru sangat menikmati pertemanan daripada dengan teman sekolah kami. Belajar bersama, membuat kajian-akajian dan kursus untuk pelajar. Luar biasa, kalau kini biasanya aktivis bermula di kampus, di PII kecil2 udah trainer !hehehe

INTRA 2001
Singkat cerita, saya ikut Intermediate training di Bekasi, tepatnya di desa Ujung Harapan hhee. lagi-lagi saya mendapat banyak manfaat. Saya menemukan lagi nuansa ‘kesedrhanaan’. Saat itu kami berdelapan dari solo, dengan semangat ngebis, dan ‘ditampung’ di markas PB PII di Menteng. Pfff…..capek juga. malam kami harus wawancara, mempresentasikan makalah yang harus kami buat. Tas yang kami bawapun 2 macam. satu tas berisi baju, dan satu tas berisi buku2 yang wajib kami bawa untuk ‘perpustakaan’ kelas /lokal yang semua bisa saling baca. Hebat kan??? Teman s\termuda saat itu baru kelas 2 SMU tapi cerdasnya luar biasa. Sungguh di PII tidak ada sekat usia saat kita sudah ‘belajar’ dan berproses. Tujuh hari yang mencerahkan. Kami turun kemasyarakat. Target Intra di PII adalah kita dapat MENULIS kan apa yang kita pikirkan dan menuliskan apa yang menjadi pemikiran kiat. (Batra Mengungkapkan, intra menuliskan)

ADVANCED dan PELATIHAN INSTRUKTUR
Saya mengikuti advanced training di Semarang. Waaah tempatnya saya lupa. Tapi seingat saya saya baru sampai dilokasi pukul 10 malam pakai macet lagi di Salatiga! saya sempat heran sampai sekarang kenapa kok ya mau-maunya sampai ketempat yang begitu asing, naik turun bis...

di Advanced kami hanya sekitar 5 hari kalau tidak salah, target nya sudah lebih ‘mature’ kita harus membuat proyek untuk dakwah pelajar secara luas. Kita membuat polling, masih saya ingat berkeliling antara tugu Muda, Lawang sewu, mampir ke SMU Don Bosco, cari-cari pelajar untuk wawncara. Naik turun angkot dan bis di sekitar Semarang , banyak teman seingat saya sekelompok dengan Yu Iin dari kendal. Sungguh saya tidak tau bagaimana saya bisa meluakan sebuah kesan itu.

Pelatihan Instruktur kami ikuti bersambung setelah Advanced. Mumpung pas diadakan bareng. Di PI (pelatihan Instruktur) kami ditraining bagaimana menganalisis ‘input’ atau potensi awal dan riwayat para peserta, kemudian menentukan ‘kurikulum materi dan semua metode penyampaianannya sampai mentargetkan output.Luar biasa!!!! Jujur, untuk ukuran pelajar, training di PII sangat ideologis, penuh skill dan wawasan yang luas. Mungkin saya tidak bisa memaparkannya tapi sungguh, ada kerinduan merangkum kembali training PII agar bisa dinikmati banyak aktivis pelajar.

Penutup
Saat saya OSPEK, seorang kakak tingkat saya di Fakultas Hukum UNS , anak GMNI bilang begini : “ Heh, kamu pasti anak PII yo? Anak buahe Yayuk tho? (Yunda Rahayu, sekarang beliau di Depkeh, dulu beliau aktif di PD PT PII Solo, bendahara Dewan Mahasiswa saat saya baru masuk sebagai mahasiswa FHUNS 1999) .” Iya, saya anak PII…” maklum mahasiswa baru “Kok tau ya kalau saya PII” batin saya. ternyata menurut kakak tingkat saya itu anak PII khas gitu looh hehe gak tau apanya mungkin ‘ngeyelnya’ ya atau gak tau apanya
Yang jelas sampai hari ini saya tidak bisa melupakan tempat bermula saya itu. Saya ingat ayah saya sering mengatakan bahwa saya boleh berorganisasi , berpolitik, apapun dan dimanapun saya memilih untuk berkiprah, agar saya mengerti persoalan, belajar berkomunikasi dan menghargai perbedaan. Satu hal , saya memang mungkin sangat terkesan dengan format training pelajar di PII dan saya masih punya kerinduan menularkan ‘esensinya’ pada semua teman pelajar di kampus, di sekolah-sekolah agar training , up grading pengurus, ataupun pesantren kilat bukan saja sebuah ‘acra meninap’ atau rutinitas tahunan sebuah organisasi, tetapi punya ruh perubahan.
Selamat harba PII ke 63, semoga kita dapat berbuat banyak untuk umat, dimanapun kita berada kini. dan semoga PII terus menjadi tempat pembinaan pelajar Islam dengan segala inovasi yang harus terus dikembangkan.Wallahu a’lam bishawwab

Suami Saya Sudah Mati

Sebuah kisah nyata, kutulis di salah satu bab naskah bukuku, sengaja dishare untuk direnungi.semoga bermanfaat

Perempuan itu kukenal sekitar empat tahun lalu. Tepatnya, tiba-tiba kukenal. Sebab ia datang dan pergi tiba-tiba.Perempuan itu datang pertamakali padaku saat ia mengandung 9bulan dan aku barusaja melahirkan putri pertamaku.Dia meminta pekerjaan kala itu. Dan perempuan itu membuat banyak orang hampir-hampir bosan dan jengah dengan kehadirannya. Di benak banyak orang, ia selalu ‘mengeluh dan meminta bantuan’. Sebab ia memang mendatangi beberapa orang yang kebetulan juga kukenal. Duuuh...

Suatu hari diawal tahun ini, tiba-tiba dia datang kepadaku. Saat itu kebetulan aku dan beberapa ibu-ibu sudah bersiap hendak memulai rapat. Dia datang hendak menunjukkan hasil tulisannya di media lokal. Dia memang melakukan apa saja untuk menyambung hidup. Suaminya sakit diabetes dan kudengar kabar bahwa suaminya sempat buta. Kabar berikutnya kudengar darinya enam bulan lalu suaminya dirawat dikota kelahirannya dengan biaya ditanggung oleh saudara-saudara suaminya yang ternyata berpunya. Dan, beberapa waktu lalu, seorang kerabatku pernah bercerita kalau si perempuan itu datang padanya dan mengatakan : suaminya sudah M A T I !

Maka hari itupun kesempatanku mentabayyunkan kepadanya.
“ Mbak, maaf ya sebelum kita bicara yang lain-lain, saya mau tanya, apa iya sih suami njenengan (kamu, ed) meninggal? Bukannya terakhir ketemu saya mbak bilang suaminya pulang kekota asal untuk diobatkan dan mulai membaik??“ sejurus kemudian perempuan itu berusaha mengatasi keterkejutannya atas pertanyaan saya.

“ Saya mengatakan itu saat kondisi saya benar-benar tertekan. Maaf...” jawabnya lirih.
“ Tapi masak mbak tega bilang suaminya mati. Kenapa mbak? bukankah Allah sudah menyembuhkannya? Mengembalikan penglihatannya?” aku terus menatap dan menyelidik.

“ hhh…ya..memang. Suami saya sudah sembuh fisiknya. Tapi jiwanya, mentalnya,semangatnya rusak, rapuh! Kalau sudah begitu apa tidak sama dengan mati., mbak Vida? Tiap hari kerjanya Cuma tidur dimasjid, tidak punya semangat hidup, tidak mau berusaha bangkit. Sementara saya lelah! Menghidupi diri dan empat orang anak sampai meminta-minta pun saya lakukan. Mbak Vida tau sendiri saya sampai minta nasi dan lauk pada njenengan kan??? Saya mencoba menyelesaikan hutang-hutang saya dengan banyak orang meskipun sangat perlahan. Itulah mengapa saya sudah merasa jadi ‘janda’ sejak setahun lalu” Saya membiarkannya mengeluarkan semua keluhnya.Saya biarkan ia menatap nanar dan memainkan ujung bajunya. Teman-teman saya yang sedianya akan rapat pun ikut tertegun. HENING

“Mbak....saya mengerti kesulitan njenengan..Tapi, Allah yang memberi njenengan ‘penghidupan’ mbak. Mungkin Allah masih memberi nejenengan jalan rizki –meskipun mungkin dengan segala cara termasuk meminjam, meminta- itu semua pertolongan Allah mbak. Mungkin juga bukan semata karena usaha njenengan. Tapi karena orang-orang lemah disekitar nejenengan. Suami yang sakit, anak-anak yang masih kecil. Istighfar mbak….” sebisa mungkin kuberi dia masukan. Yah mumpung ketemu.
Perempuan itu kemudian mengendur ketegangannya. Dia menghela nafas, dan menitipkan naskah cerpennya untuk kutanggapi. Kemudian dia pamit. kami masih terpana dengan kejadian sekitar limabelas menit itu.

Seharian saya berpikir kejadian siang itu. Suami saya sudah mati… kalimat itu terngiang lagi. Disatu sisi saya sangat sedih dengan ‘rasa tega’ si Mbak itu terhadap suaminya. Betapa menyedihkan menganggap seorang belahan jiwa telah meninggal. Disisi lain lagi, saya dapat memahami kepenatannya menghadapi persoalan ekonomi yang begitu-begitu saja. Saya menjadi saksi betapa ia berusaha melakukan apa saja untuk : b e k e r j a. Menulis cerpen dimedia cetak, menjual buku-buku bekas dan majalah. Semua dia lakukan.

Saya mengambil pelajaran bahwa kejenuhan menghadapi banyak persoalan rumahtangga dan ketidaksiapan (terutama suami) untuk melakukan perubahan-perubahan dan lompatan usaha bagi kesejahteraan keluarga menjadikan banyak istri menjadi ‘mati rasa’ dan mencampakkan rasa hormat pada suami. Bukan, ini bukan hanya bisa dihakimi dan distempel dengan ah, istrinya gak qona’ah, ah…Cuma gitu aja kok sudah mengeluh dan sebagainya.

Ternyata memang masalah kejenuhan yang kita bahas diawal bab ini akan memicu banyak masalah. Ketimpangan inisiatif untuk melakukan perbaikan keluarga juga begitu. Maka, mungkin lebih bijak bagi kita menjadi suami/istri yang seimbang dalam menuntut hak dan kewajiban. Sebab...keletihan, keguncangan jiwa, kefakiran, menjerumuskan akal, menggerus rasa cinta. Astaghfirullah...

*****
dan KEMARIN, Sabtu 1Mei 2010 aku mendengar kabar dari suamiku BAHWA...suami perempuan itu benar-benar meninggal hari rabu yang lalu di Kota kelahirannya.Innalillahi wainnailaihi raji'un.Aku terhenyak dan bergegas merasa perlu menshare tulisan yang kutulis beberapa bulan lalu ' ini.Semoga bermanfaat