Selasa, 27 Juli 2010

Srikandi Kampung


Namanya Sukini. Ya, hanya Sukini. Perawakannya kecil, tidak banyak bicara, dan sangat rendah hati. Khas perempuan Jawa yang santun. Hm.. aku mengenalnya sekitar sebulan setelah kami menjadi warga kampung ini. Ia bekerja sebagai sales kosmetika, suaminya bekerja sebagai pelukis baju borongan, dia juga melukis dan punya banyak talenta ketrampilan.Hm..perempuan yang kreatif. Seperti juga bu Sukini, pak Sudirman juga bukan laki-lak yang banyak bicara. Meskipun tidak banyak bicara, tapi dia seorang wanita yang membuatku salut.

     Dia satu dari 12 orang ibu-ibu pertama  yang menjadikanku nyaman dilingkungan ini. Kutemukan ia sebagai ibu biasa yang bergabung dalam majelis ta’lim pertama yang ku handle di lingkungan baru, kontrakan pertamaku. Tapi jangan salah, semakain aku mengenalnya, kutemukan hal-hal menarik dan potensial dalam dirinya.

     Saat aku memutuskan untuk terbuka dengan pandangan politik yang kuyakini dan aktivitas Partai Dakwah  (PKS) yang kukenalkan, dia adalah perempuan pertama yang tanpa ragu mendukungku. Saat itu penghujung tahun 2007. Aku menawarinya menjadi koordinator Pos Wanita Keadilan, sebuah pusat pelayanan untuk perempuan. Tanpa ragu bu Sukini menyanggupinya. Dan iapun menunjukkan komitmen dakwah yang luar biasa untuk ukuran seorang ibu-ibu kampung biasa yang mungkin tak pernah terjun intens dalam kegiatan-kegiatan politik praktis. Ini percakapanku dengannya

“ Kok njenengan mau tho bu bergabung dengan kami? Kan banyak ibu-ibu yang enggan dekat-dekat dengan partai, apalagi terang-terangan” pancingku
“ Saya ini orang biasa bu Vida, tapi saya punya banyak cita-cita untuk masyarakat saya. Saya sering prihatin dengan kondisi sekitar saya...” Jawabnya. Ia berhenti sejenak. Lalu sambungnya
“....Saya Cuma punya cita-cita, impian, tapi saya tidak punya modal besar untuk memberi lebih banyak. Maka saat saya melihat njenengan (anda, ed) saya berpikir apa salahnya saya bergabung supaya saya bisa lebih banyak memberi untuk sekitar saya. Kalau jalannya memang lewat partai ya ndak papa tho bu? Yang penting manfaat” Dia menjawab dengan tenang, sungguh-sungguh. Sebuah visi yang jelas.Alhamdulillah, partner seperti ini yang saya cari! Syukur saya.

“ Tapi bu, kadang perempuan kan punya ganjalan dengan keluarga. Suami misalnya. Apa Pak Dirman ndak keberatan tho Bu?” sambungku

“ Suami saya itu ngerti sekali dengan kepinginan saya Bu. Lagipula, kami ini orang-orang kecil, bu, yang sudah kenyang dengan janji-janji” Kebetulan suaminya adalah 'mantan' satgas sebuah parpol yang 'menguasai' kota kami (Solo) hehehe.Kemudian beliau memilih keluar karena sudah tak lagi sesuai dengan 'nurani' wong cilik, kata mereka.

     Bu Sukini pernah kupancing untuk menuliskan cita-citanya. Darinya aku belajar bahwa orang yang telaten, ulet dan mau bergerak dapat mengalahkan orang yang pintar, berpendidikan namun tidak memiliki spirit melayani dan hanya banyak berkomentar serta sibuk dengan urusan pribadinya.

     Hampir setiap kegiatan kelurahan diikutinya, dia yang selalu diajukan untuk banyak tanggungjawab kegiatan kampung ini. Jujur, tidak main belakang, setia, dan mau mengambil resiko. Bahkan para ‘Bapak RT’, dan para laki-laki birokrasi kampung pun segan dengannya. Darinya saya belajar juga bagaimana berhadapan dengan masyarakat, tidak terpancing emosi massa dan tetap teguh dalam cita-cita.

     Sampai hari ini yang saya kenal, bu Sukini adalah penggerak hampir di setiap ‘program kemajuan dan kebaikan’ yang kami tawarkan atau ditawarkan oleh Kelurahan. Saya yang memiliki ide bejibun ini sangat terbantu dan tersemangati dengan beliau yang orang lapangan. Saya banyak belajar darinya. Saat ia memberikan penyuluhan tentang pendidikan keluarga, saya dibuatnya takzim. Sungguh, sosok sederhana yang hanya mengaku lulus SMP itu tak pernah saya sepelekan. Bagi saya ia adalah asset dakwah yang harus kita up grade. Apapun tugas yang diberikan padanya, selalu disanggupinya dan…TERLAKSANA!

     Kini, suaminya terpilih menjadi Ketua RW, otomatis ia pun berjuluk ‘bu RW’. Dan bersamaam saya pun harus berpindah kerumah orangtua yang tak terurus dikelurahan lain dan memang masih terhitung dekat. Namun..lagi-lagi saya melihat komitmen dan kesetiaannya. Dengan tulus ia tetap mengelola rumah baca yang kami rintis didaerah itu. Bahkan kami tetap berhubungan dan terus bercita-cita menghidupkan kampung itu dengan suasana yang maju dan religius.

     Sungguh, saya belajar bahwa tarbiyah dan pembinaan yang tulus, mengenali potensi seseorang dan memberikan kepercayaan kepada orang untuk  berkembang dengan potensinya itu akan melejitkan ‘orang-orang biasa’ menjadi luar biasa. Semoga dimasyarakat banyak bermunculan pendukung-pendukung dakwah seperti bu Sukini, yang mampu memenangkan nurani dan melakukan satu demi satu perubahan dimasyarakatnya. Maka, mari bekerja! Bersama kita lanjutkan kerja dan menyedikitkan bicara, dan yakin bahwa kita akan menemukan pendukung-pendukung dakwah yang tulus. Insya Allah!

3 komentar:

  1. belum tuntas kita berkarya di sangkrah, ada banyak janji dan cita yang belum tertunai di sana .. semoga ada waktu untuk kembali berkhidmat di kampung ya

    BalasHapus
  2. Endang Widihati28 Juli 2010 22.02

    Berkaryalah terus pejuang2 masyarakat, trimakasih Tuhan, kau telah mempertemukan aku dengan seorang inspirator (penulis). aku berharap bisa sedikit saja ikut merealisasikan mimpinya.

    BalasHapus
  3. Abi: Yah, tapi kita harus terus menjadi benih yangsiap tersemai dan tumbuh dimanapun. Ingat awal2 kita ngontrak..subhanallah kita bisa banyak belajar rill 'bermasyarakat' bersama bu Sukini dkk

    Bu Endang: Subhanallah bu...bersyukur saya dipertemukan juga dengan bu Endang dengan semangat yang luar biasa

    BalasHapus