Sabtu, 19 November 2011

Cake Karamel Kukus

Lama nggak posting-posting di blog. Gak tau yak  kok agak-gak males gitu menulis di blog, hahah kata suamiku aku lagi jadi 'blogger galau'. Well ini resep sore tadi, barusan searching, dapat resep kue sakura, karena dicetak kecil-kecil. Tapi karena udah sore dan keknya males aja cari cetakan2 kecil, pake loyang tullban plastik aja. Sedikit kumodifikasi, dan namanya kuberi cake karamel kukus, dimakan dengan taburan kelapa, di foto taburannnya sedikit eheeheh .enaak.

Bahan
350gr tepung terigu serbaguna
150 gr gula pasir
4butir telur
1sdt baking powder
1sdt soda kue
1/2 sdt bubukkayu manis
Garam halus 1/2 sdt (dikira-kira aja lah...)
Karamel:
100gr gula pasir
100gr mentega dicairkan
100gr susu kental manis (aku pake sachetan 2sachet, jadi gak nyampe 100gr)
CAra membuatnya
1. Campur rata terigu, soda kue, baking powder, garam, ayak, sisihkan
2. Buat karamel : panaskan diapi sedang gula pasir, setelah kecoklatan (jangan gosong) masukkan air panas, aduk rata, masukkan margarin dan susu kental manis, dinginkan
3. Kocok telur dan gula sampai gula larut (pake kocokan biasa aja)
4. MAsukkan campuran tepung ke kocokan telur, aduk arat, tambahkan karamel, aduk arata
5. Msukkan kedalam cetakan (akau pakae loyang plastik tullband diameter 20cm), kukus 20-25 menit lakukan tes tusuk. Oaya, pabaskan dulu panci kukusan sampai air mendidih, baru masukkan adonan. Dan bungkus penutup panci pengukus dengan serbet bersih
6. Setelah matang, potong-potong, taburi kelapa parut/keju/ gula halus

Rabu, 05 Oktober 2011

Cake Tape Lapis Pandan

sudah lama ini rumah pemikiran tak kuiisi. Buat pemanasan, biarin yak posting resep-resep dulu. Kebetulan beberapa pekan ini banyak pesenan. Salah satunya dari  sahabat saya, mbak Intan Nurlaili, untuk jamuan tamu di Solo Pos bebrapa waktu lalu. acak-lacak, buka-buka resep, kayaknya ini resep pas n enak
     Awalnya, liat resep ini di booklet Bogasari, ee pas googling ada  web yang memuat resep dan foto yang miriiiip banget sama di booklet . Karena bi  lagi diluar kota, gak bisa moto hasil karya deeh (HP ku jeleek hihihi)ya udah buat ilustrasi aku pasang fotonya disamping, yang penting udah nyantumin web sumbernya yaa.Buatanku ya mirip deh cuma toppingnya keju cheddar.Soal rasa, alhamdulillah mbak intan puas, anak-anak ku yang jadi tester juga pada lahap. Oke dengan sedikit modifikasi, ini dia resepnya.Mudah banget terutama yang gak punya oven:)

Bahan
250 gr tape singkong, buang seratnya
150 Ml santan kental (aku tambahin dikit)
200gr tepung terigu
100gr gula pasir (bis aditambah kalo suka manis)
100gr margarin cair (aku ganti 150-200 ml minyak sayur)
20gr susu bubuk/kental manis
7butir kuning telur
5 butir putih telur
Pasta pandan /air daun suji
garam 1sdt
baking powder 1sdt
Emulsifier ovalet/TBM/SP 1/2 sdt (asal semua telur segar, pengadukan sempurna dan sampe ngembang, aku lebih memilih tidak pake emulsifier)
Topping:
Keju cheddar , butter cream

Cara buatnya
1. Siapkan panci kukusan 15 menit sebelumnya, Blender sampe halus tape singkong dengan santan kental sampai lembut, buang serat
2. Kocok telur, gula dan emulsifier (kalao pake) sampai mengembang dengan kecepatan tinggi
3. Masukkan  tepung, susu, baking poder, garam yang sudah diayak jadi satu kedalam campuran telur
4. masukkan tape , kemudian minyak, aduk rata
5. Bagi adonan menjadi 2 bagian, beri satu bagian warna hijau (pastan padan/daun suji+pandan)
6. Masukkan adonan putih terlebih dahulu ke loyang yang sudah diolesi minyak, kukus 15 menit
7.Setelah 15 menit, masukkan adonan warna hijau, kukus lagi 15-20 menit.
8 Dinginkan, oles dengan topping

Tips : air kukusan HARUS mendidih, dan tutup panci kukus harus diberi serbet agar air tidak menetes.Simpan didalam kulkas jika belums empet ngabisin :)Selamat mencoba ya!
BAgi yang gak sempet buat, boleh deh pesen hehee kalo mini cakenya Rp.1700, pesanan loyang ukuran diatas Rp.45.000,- Murah. sehat, halal. Ayooo!!!!

Kamis, 25 Agustus 2011

MUDIK tanpa PANIK

Sambut lebaran, pengen nih nulis beberapa moment luar rumah yang sering bikin kita GGrrrhhh.tapi enggak lah ya. yuk mulai pagi ini kita simak. Tulisan-tulisan ini ada di buku terbaru saya BUKAN SEPASANG MALAIKAT. Semoga bermanfaat

MUDIK 
Ini dia momen yang paling sering melibatkan semua anggota keluarga. Saya lebih menekankan momen ini pada ‘proses’ di perjalanan. Seringkali momen pergi ke luar kota menjadi perjalanan yang awalnya menyenangkan, namun menjadi menjenuhkan saat anak-anak mulai panas, mabuk perjalanan, atau ngambek.
Kita harus menyiapkan banyak kemungkinan. Mulai dari anak yang satu tak mau memakai AC, yang satu tak mau berbagi tempat duduk (pengalaman saat pergi menumpang mobil kakak ipar), anak yang tiba-tiba muntah dan terpaksa berhenti, atau berebut bekal dan makanan kecil. Wadduuuuh .... L Untuk itu, lakukan beberapa persiapan sebelum bepergian bersama anak-anak.
  1. Tetapkan aturan perjalanan di awal
Ini adalah poin pentingnya. Ajarkan pada anak-anak kita bahwa perjalanan ke luar kota adalah perjalanan yang melatih kesabaran. Bahwa mereka harus dapat berbagi (bekal, tempat duduk, dll). Mereka tidak boleh merusak suasana agar perjalanan menyenangkan. Ajarkan adab-adab perjalanan, seperti berdoa, tidak banyak bergurau, berdzikir, dan tidak banyak mengeluh.

2. Memilih waktu perjalanan
Perjalanan di pagi –setelah subuh-  saat udara sejuk adalah pilihan bagus, tergantung berapa lama perjalanan yang akan ditempuh. Pengalaman saya mudik ke tempat mertua yang hanya memakan waktu tiga jam, kami lebih senang melakukan perjalanan sepagi mungkin. Perjalanan menjelang malam hari jika tidak benar-benar dikondisikan akan membuat anak-anak rewel. Namun, jika naik mobil pribadi dan perjalanan Anda semisal Solo-Jakarta, memang lebih enak memilih perjalanan senja atau subuh. Begitupun dengan kereta. Kami pernah mengalami perjalanan pagi hari dengan kereta dan itu menyenangkan.

3. Siapkan bekal yang cukup
Belajar dari kakak ipar saya yang berputra empat, beliau selalu ‘belanja’ berbagai makanan ringan dan minuman untuk bekal yang cukup. Jangan banyak membawa makanan yang membuat mudah haus. Jika memungkinkan, siapkan bekal sendiri. Persediaan air minum, juice, buah-buahan, puding dengan rasa yang segar, akan lebih bermanfaat. Hindari membawa susu kemasan karena akan memancing mual. Sediakan air panas di termos jika kita memiliki Balita atau Batita yang sudah minum susu formula. Air hangat juga diperlukan saat kita ingin menyibin anak kita saat berhenti untuk istirahat.

4.Jangan malas berhenti sejenak
Ini penting. Anak-anak tidak sanggup bertahan lama dalam perjalanan. Apalagi jika kita menggunakan kendaraan pribadi. Usahakan untuk berhenti sejenak. Pilih tempat berhenti ‘langganan’ yang nyaman, tersedia toilet yang bersih, mushala, dan mungkin tempat makan. Biarkan anak-anak keluar mobil, bermain sejenak, buang air kecil, dan bahkan mandi jika memungkinkan! Ini penting juga untuk suami atau sopir Anda yang menyetir mobil.

5. Siapkan obat-obatan pribadi dan cadangan baju ganti
Obat anti mual yang diminumkan sebelum perjalanan boleh juga. Siapkan juga obat-obat pribadi, seperti minyak gosok, kantung plastik, tissue basah, wash lap di tempat yang terjangkau di dalam kendaraan. Kalau perlu, di dalam tas utama yang Anda bawa. Begitu juga baju ganti. Sangat tidak lucu mengubek-ubek bagasi saat di tengah jalan hanya untuk mengambil baju ganti ketika anak kita tiba-tiba muntah, kan? Ini pengalaman pribadi. Oke, sudah panjang, ya? Selanjutnya terserah Anda! Have a nice trip!

Minggu, 14 Agustus 2011

Buku Baruku BUKAN SEPASANG MALAIKAT

Apa kabar pernikahan kita?
Mari kita membayangkan bagaimana rasanya berjalan ke suatu tempat yang jauh tanpa berhenti untuk beristirahat. Tanpa membawa bekal, tanpa membuat rencana-rencana di mana saja kita akan singgah selama perjalanan kita, dan tanpa membawa peta perjalanan yang sesekali dapat kita tilik sebagai panduan. Ditambah lagi, kita tak dapat berkomunikasi dengan baik dan menyenangkan dengan teman seperjalanan. Pff … pasti kita merasa begitu jenuh, lelah, dan segala perasaan tidak nyaman lainnya. Akibatnya? Boleh jadi kita akan sampai meskipun dengan sisa tenaga dan kelelahan psikis yang luar biasa. Atau kita 'mutung' atau mogok di tengah jalan, kembali pulang. Kita malas melanjutkan perjalanan, kehilangan teman seperjalanan, dan kembali pulang dengan … sepi.
Begitu pula dengan pernikahan kita. Dia adalah perjalanan panjang dalam satu fase hidup seseorang. Ia berpotensi menjadi perjalanan yang menyenangkan, ditempuh dengan penuh gairah, penuh rencana-rencana sehingga setiap tapak langkahnya menjadi pemicu menuju tujuan akhir dari pernikahan itu sendiri. Setiap halangan dalam menempuhnya tetap dilakoni dengan penuh kerelaan. Sebab, kita dan 'teman seperjalanan' kita menempuhnya dengan penuh cita-cita dan keyakinan yang sama. Namun, pernikahan dapat pula menjadi seperti gambaran perjalanan di atas yang membuahkan kebosanan, kemandegan, hilangnya gairah, menurunnya potensi diri dan –yang lebih menyedihkan- pernikahan itu terhenti, gagal, rusak sebelum sampai pada tujuan akhirnya.
Kita dan pasangan kita adalah lakon dari perjalanan panjang bernama pernikahan yang telah kita sepakati untuk dijalani. Biduk yang telah kita tumpangi bersama itu akan berlabuh di samudra kehidupan yang penuh riak ombak maupun gelombang dan badai.
Pernikahan kita sepertinya perlu kita sapa kembali. Bagaikan biduk atau kapal tadi, pernikahan kita perlu dibersihkan, dicat kembali, diperiksa mesinnya, nahkoda dan seluruh awaknya harus mengevaluasi mana yang perlu diperbaiki, mengkomunikasikan semua hal yang dapat menghambat lajunya. Dan yang paling penting, jangan sampai para awak dalam kapal itu melubangi kapal sehingga air masuk dan menenggelamkannya! Ah … sudahlah kita berandai-andai tentang perumpamaan-perumpamaan tentang pernikahan.
Saya hanya ingin mengajak berbagi, bernostalgia, atau bahkan mengevalusi pernikahan kita yang berusia muda. Jika menyemangati untuk menikah muda telah banyak menjadi fenomena dan banyak terbahas di banyak buku, saya sepertinya tak ingin banyak menambah hal-hal idealis dalam pernikahan usia muda, meskipun tentu boleh-boleh saja saya mengulasnya sedikit sebagai pengingat.
 Banyak orang mengatakan pernikahan akan matang setelah lima tahun. Di usia itu, kata banyak orang, sebuah rumah tangga telah melewati 'fase aman' pertamanya. Pun begitu, ternyata tak semua orang mengamini pendapat tersebut. Karena semua sangat tergantung kesiapan dan pola komunikasi yang terbangun antarsuami istri. Ada pasangan yang dapat dengan cepat beradaptasi dan membangun komunikasi yang sehat. Sehinggga tak harus menanti hingga usia pernikahan yang kelima, mereka telah dapat beradaptasi. Demikian sebaliknya, betapa banyak pasangan yang hingga duapuluh lima tahun atau bahkan lebih usia pernikahannya, selalu merasa tidak 'bahagia' disebabkan karena kegagalan komunikasi atau timpangnya tuntutan hak dan kewajiban. Tentang ini, insya Allah saya ingin membaginya dalam salah satu bahasan di buku ini.
Pernikahan pun melahirkan relasi-relasi sosial yang unik. Sebagaimana keluarga adalah sebuah potret masyarakat terkecil, pernikahan menuntut keluwesan-keluwesan yang harus kita miliki dalam bergaul. Pernikahan melahirkan hak dan kewajiban tidak saja pada pasangan, namun juga pada keluarga besar, anak, tetangga, maupun masyarakat di sekitar kita. Pengalaman-pengalaman membina hubungan itulah yang ingin saya ceritakan di buku ini dan semoga memberi manfaat.

Rabu, 27 Juli 2011

Carrot Cake

Masih seputar cake berbahan sayur. Ini branding LEZATI.Kali ini carrot cake, cake wortel. Rasanya sip banget deh. Dulu, waktu gak ada oven aku pernah bikin dikukus,enak juga. Nah aku pake resep mbak Ferona Cakefever, kayak biasa. Coba-coba modif sedikit dan tarraaaa jadilah cake legit dengan rasa wortel yang gak langu.

Kubawa ke gladi resik persiapan seminar kemaren. Enyaaaaak.... kata bberapa sohib plus si sulung Maura yang lidahnya sensitif banget soal rasa hehe.Jadi pede nih. Yang mau coba resepnya silakan yang mau pesen, hayuk. Bulan Ramadhan ini beharap bisa bikin versi cup cake untuk ta'jil. Hmmm sehat dan lezaat. Ini paduan antara resep asli di cakefever.com sama ijtihadku sendiri hehe

Bahan
Wortel 400gr ( kupas parut halus, jangan buang airnya, aku pake parutan keju biar agak kasar & bertekstur)
Tepung 260gr
Gula halus 300gr (aku cuma 250, dicampur gula palem atau gula jawa disisir aluus)
250gr telur (kira-kira 4-5 butir)
garam 2gr (kira-kira satu sendok teh)
cinnamon bubuk  1gr (kayu manis bubuk. aku pake bumbu spekuk kira-kira 1sdt peres ajah)
baking powder 1/2 sdt
soda kue 1/2 sdt
minyak sayur 150cc
keju parut untuk taburan

Caranya
1. Kocok telur,gula garam sampai kental dan berjejak, gunakan kecepatan tinggi
2. Diwadah lain campur dan ayak tepung terigu, setengah takaran bubuk kayu manis, baking powder dan soda kue
3. Campurkan adonan tepung ke adonan telur, aduk dengan kecepatan rendah aja
4. masukkan parutan wortel yang sudah dicampur dengan sisa bubuk kayu manis
5. masukkan minyak sayur, aduk lipat dengan spatula
6. masukkan ke loyang ukuran 22cm yg sudah dioles margarin dan kertas roti didasarnya, taburi keju
7 panggang 20-30 menit, lakukan tes tusuk

NB; kalau mau dikukus, wortel diparut kasar aja untuk mengurangi kadar airnya.Pastikan air kukusan mendidih.Kalau dioven, panaskan dulu oven agar panasnya optimal dan cake mengembang sempurna.Parutan keju bisa ditaburkan setelah cake matang

Selasa, 26 Juli 2011

Aku, Suamiku dan Istri Pertamanya

 Sejak aku mengenalnya, aku tau aku harus siap berbagi dengan istri pertamanya. Segalanya dan lahir batin. Bagaimana tidak? Istri pertamanya itu lebih dahulu dikenalnya dan banyak memberinya kenyamanan jiwa. Sebaimana istri, belahan jiwa, istri pertamanya itu adalah bagian hidup suamiku. Suamiku mengenalnya dan berinteraksi mesra dengannya jauh sebelum mengenalku.JAdi, aku memang harus tau diri dan menaruh takzim.

 Suamiku mengenalku saat aku berusia ranum, 23 tahun.Sebelum itu, suamiku sudah mengikat janji dengan istri pertamanya. Akupun mengenal suamiku dengan perantara istri pertamanya itu,jadi sekali lagi, bagaimana aku bisa menghalangi suamiku dating dan memenuhi panggilan istri pertamanya setiap detik, menit, jam, hari pekan ,bulan bahkan tahun? Aku sudah menetapkan hatiku :aku ini hanya istri kedua setelah dia. Tulus dan tanpa paksaan.

                Hari berganti hari, dan kini usia pernikahan kami tujuh tahun. Selama itu pula aku, suamiku, dan istri pertamanya semakin akur saja. Semua berjalan dengan sangat romantis. Romantis yang berbeda, bukan mellow atau possessive. Aku,suamiku dan istri pertamanya itu saling menguatkan. Ya, panggilan-panggilan dari istri pertamanya selalu kulempangkan jalannya. Kubiarkan suamiku memenuhi kewajibannya pada istri pertamanya dengan tanpa beban, tanpa kureweli dan kukondisikan anak-anakku sejak dini untuk memahami belahan jiwa ayah mereka yang lain. Dan meskipun masih anak-anak, aku yakin mereka akan bertumbuh dengan keyakinan sama denganku, toh ayah mereka adalah seorang ayah yang berusaha membagi waktu dengan adil. Cinta yang bervisi surga, begitu mimpi kami.

  Aku sering berseloroh dengan suamiku “aku ini hanya istri kedua setela dia.begitu juga istri-istri berikutnya , jika tidak bisa berinteraksi dengan istri pertamamu, lebih baik jangan nambah, hahaha…” dan entahlah, kami tidak pernah merasa jengah dan tabu berbicara tentang momok pernikahan bagi para istri : POLIGAMI. Karena bagi kami semua itu ada waktunya, ada aturan dan ada standarnya.Jadi, aku dan istri pertamanya dan suamiku sudah saling memahami hanya tinggal kehendak Allah bukan? Mau ditambah lagi atau tidak  hehehe

                Aku tau semakin bertambah usia pernikahan kami, istri pertamanya akan semakin banyak meminta perhatian, konsentrasi, pemikiran dan bahkan waktu suamiku. Karena istri pertamanya itu bukan sesuatu yang biasa-biasa saja.Aku bahkan merasa nyaman berinteraksi dengannya. Aku ,suamiku , dan istri pertamanya telah sama menemukan belahan jiwa, bukan cinta fisik yang berbatas usia, tapi romantisme heroic yang saling memotivasi untuk semakin teguh dijalan ini. Ya,ya,ya…sejak semua cinta bermula pada suamiku, aku sudah meneguhkan diriku :aku ini istri kedua setelahJAMA’AH dan amanah Dakwah yang lebih dulu dicintainya.Salam Inspiratif!

Senin, 25 Juli 2011

Muffin Pisang Kremes

Ini dia upaya penyelamatan pisang ambon yang masih tersisa dan mulai tua. Diantara pilihan membuat banana cake atau muffin. Aku ketemu resep pisang muffin keju tapi ada crum (krenyes)nya diatas. Hmm langsung aja aku mix antara resep banana muffin high rise –nya mbak Ferona Cakefever.com (tempat aku belajar online bikin kue )hehee yang udah kucoba kelezatannya  dipadu  resep crumb yg aku nemu di blog ini. Tapi kurubah-rubah dikit.Misal mbak Ferona pakai gula palm, berhubung gak punya dan gula JAwaku pun tandas pas bikin carrot cake kemaren, jadilah hanya pakai gula putih. Ku juga gak pake butter unsalted dan yoghurt (gak punya J).Trus karena di resep mbak Fe pake ukuran cup, aku kira-kira aja dengan gram J.Alla kulli hal ini dia jadinya.
 Yah lagi-lagi emang kameraku pake hape seadanya jadi yaaa harap maklum. Emang sih crumbnya ternyata lebih asyik pake tepung ruti yg kasar aja kali yaseperti diresepku ini aku modif pake tepung roti,karena kalo pake crum yang diresep ini aja, salah takaran malah jadi leleh diatas muffinnya hehe
Postingan ini sekaligus promosi mana tau ada yang mau pesen buat ta’jil  selain resep cake buah dan sayur yang pernah kuposting.selamat mencoba resepnya, ya!
BahanMuffin
1.       4-5 pisang ambon ukuran sedang
2.       400gr tepung serbaguna (aku pake sriboga)
3.       Baking soda ½ sendok teh
4.       Baking powder  3sendok teh (peres aja yah, kalau kebanyakan jadinya pait)
5.       Garam 2sendokteh, keju 100 gr parut kasar

6.       Gula pasir 100gr
7.       Margarin lelehkan, dinginkan 75gr
8.       Minyak sayur 75gr (ijtihadku sendiri hehe)
9.       Susu cair/segar 1cangkir 250-300cc
10.   Telur utuh 2butir
11.   Kuning telur 1 butir
Bahan Crumb
4sdm tepung terigu
2sdm mentega
1sendok teh bubuk kayu manis (dikira-kira.aku pake bumbu spekuk)
Gula pasir 80gr
Atau pake tepung panir kasar/bread crumb langsung juga oke
Caranya
1.       Panaskan oven sebelum mencampur adonan, fungsinya biara panasnya atas bawah mak nyos.kata mbak ferona, ini penting biar muffin membumbung
2.       CAmpur semua bahan kering 2-5 diwadah, ayak.
3.       MAsukkan semua bahan cair kedalam adonan kering
4.       Masukkan pisang yang sudah dicincang kasar atau dipenyet2 aja pake garpu ampe lumat
5.       Masukkan ke cetakan muffin
6.       Untuk crumb, kalau buat sendiri campur semua bahan crumb sampe berbutir2, taburkan diatas adonan muffin.kalu pake bread crum ya uwes, taburkan langsung
7.       Panggang sampai membumbung, lakukan tes tusuk.kalo udah gak ada adonan menempel digarpu ya udah mateng deh!
Note: atasnya emang agak coklat kan crumbnya pake kayumanis n gula pasir, jadilah kayak caramelJ oya kalo kebanyakan baking soda/powder bisa agak kurang sip lho rasanya

Selasa, 19 Juli 2011

Anak-anak ku Sedang Belajar tentang ‘Perpisahan’

Dua hari ini ketiga krucilku sangat ekstrim tingkahnya. Si sulung Maura sangat sering tiba-tiba memarahi kami semua, kasar dan suka memanas-manasi adik-adinya (termasuk menjahili dan membuat saya memakai nada ‘si’ untung menegur, atau jika emosi saya sedang lumayan terkontrol, saya hanya diam bersila didepan si Teguh Pendirian yg sedang uring-uringan sambil memandanginya, beristighfar lirih dan jika ia benar-benar ‘tantrum’ ekstrim, saya bisa sampai melelehkan airmata dengan posisi itu tapi ajaibnya tidak marah). Farwah, sejak abinya pergi dan lalu mbah Kung nya pamit pulang juga marah dan menangis memilukan.Hayah. Hanya si Tengah Salma yang lumayan biasa aja tapi juga sedikit-sedikit rewel dan mudah menjerit, heheh.
Sebenarnya, ini diam-diam berhubungan dengan kepergian si Abi ke Taiwan dua bulan kedepan. Pengkondisian terhadap moment ini sudah kami lakukan sebulan lalu, kami juga sudah melengkapi sarana komunikasi dan webcame dirumah agar perpisahan ini tidak membuat anak-anak kehilangan sosok idolanya (walaupun kak Maura sering ‘jaim’ didepan abinya karena kemiripan sifat kali ya hihihi).Tapi, toh anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka belum mampu menyeranta perasaannya. Meskipun mereka sudah sering ditinggal keluar kota, moment ini pasti berbeda.Mereka tau bahwa 2 bulan itu lebih lama dari dua hari atau dua malam,batas biasanya mereka menanyakan “abi kapan pulang?”.
Luarbiasa. Abi. Sosok yang ternyata mereka idolakan lho.Karena meskipun abinya sering pergi dan padat aktifitas, anak-anak suka pada ngeriyung saat beliau stay at home. Main tebak kata, tebak gerak, tebak kesukaan.Abi juga tidak mudah marah, gak seperti Umi yang ‘banyak menegur’ (bahasa halus dari cerewet hihihi) .Farwah apalagi, sejak bisa jalan sendiri, dia yang paling ‘romantis’ sama abi. Paling semangat mengantar abi sampai ke pintu, paling semangat pula menyambut abi pulang, paling ‘caper’ dan mesra panggilannya “Abiii’…(sambil diam, melirik kemaki dan menggemaskan)”
Begitulah. Pekan ini dan dua bulan kedepan anak-anak akan sangat belajar bahwa mereka mencintai abi.Perpisahan sejenak pernah kami lakukan pada dua putri kami sesekali. KAmi meninggalkan mereka bersama tante kami dan ART untuk pergi ke Kudus selama dua hari.Kami pergi hanya dengan ‘paket kecil’ : saya, abinya dan si bungsu, Farwah.Itu bermanfaat, karena mereka jadi mengerti apa itu amanah saat abi dan umi tidak dirumah.Mereka jadi tau apa arti kebersamaan dan saling membutuhkan. Pekan ini adalah adaptasi terpenting bagi anak-anak. Saya pun berusaha kompak dengan asisten yang menginap dirumah selama abi pergi, juga dengan tante kami yang biasa mengantar jemput mereka sekolah.
Anak-anak harus kita bantu memaknai perpisahan sebagai sebuah bagian dari kehidupan.Perpisahan dan pertemuan karena Allah akan menjadikan kita kompak. Password andalan yang kami ciptakan: karena kita bersaaaatuuuu yang kami ucapkan sambil menautkan jari/tangan kami menjadi yel-yel memperbarui semangat. Selalu begitu saat saya ingin membangun kerjasama dengan mereka. Anak-anak tidak dapat berpisah dari ayah bundanya, itu pasti. Namun kita harus pula mengajarkan ketegaran dan menularkan semangat-semangat para keluarga pejuang dijalan Allah dimana saat bersama dan berpisahnya begitu berkualitas. Mungkin bagi saya ini long distance love yang sudah biasa. Tapi tidak bagi anak-anak. Maka kitalah yang harus lebih memahami bahwa segala ekspresi mereka tentang perpisahan harus kita apresiasi dengan penuh empati meskipun tidak harus berlebihan dan meruntuhkan ketegaran.
Ekspresi keberatan itu akan muncul dari bahasa penolakan, pelanggaran aturan, atau perilaku fisik yang menguji kesabaran. Tapi inilah kita : seorang I B U.Seseorang yang harus mampu mempelajari banyak bahasa jiwa dan kasih untuk mendidik anak-anak yang unik. Mengajari mereka tentang sikap tegar dan tidak merubah mereka menjadi malaikat yang selalu sempurna. Jika sedang marah,biarkan mereka marah, arahkan dan gali keinginannya.JIka sedang menyenangkan, beri pujian wajar dan menentramkan.Mereka manusia kecil yang perasaan dan pribadinya akan terpahat melalui kita.Jadi, mari mengenali perasaan mereka dan menyambungkan dengan naluri kita, lalu membina mereka berproses menjadi anak-anak bermental kuat , empatik dan berjiwa pejuang . Dan kali ini dari sebuah moment PERPISAHAN.Insya Allah!

Rabu, 22 Juni 2011

Perkenalan Lezati

Awalnya iseng-iseng aja pengen punya toko kue. Apalagi anak-anak memang tidak terlalu kubiasakan jajan. Kuusahakan bikin sendiri, sesekali jajan yang uminya gak bisa bikin bolehlah,hehehe. Tahun 2007 awal, sempat bikin usaha snack ringan dengan label Lezati tapi trus berhenti karena anak kedua lahir dan abinya makin sibuk

Ternyata keinginan bikin bisnis kecil-kecilan berupa makanan masih tersemai. Ya udah kemaren abinya kasih lampu hijau. Kupilih branding snack sehat berbahan buah dan sayuran, berbentuk cake, cupcake, muffin atau pastry sderhana. Baru nyoba-nyoba. Insya Allah ni lagi bulan-bulan promosi sambil memantapkan produk. Andalanku Pastel pisang coklat keju, Cake apel,cake wortel, muffin pisang,dll. Bentuknya muffin, cupcake atau cake ukuran standar.

Mungkin sementara baru akan terima-terima pesanan, nitip-nitip di toko kueh yang banyak banget disekitarku dan juli nanti aku mau 'serbu' sekolah-sekolah untuk kampanye sayur dan buah dalam bentuk cake/snack sehat.Bismillah, doakan yah.
Thanks to Cakefever.com tempatku belajar dan mencoba-coba resep-resep enak dan sehat.Juga emak-emak di group IBU RUMAHTANGGA yang selalu kasih support dan sharing.Yang pengen pesen, silakan call me 081329460601

Pastel Pisang Coklat Keju


Tadinya aku memilih nama 'Pia' pisang tapi karena bentuknya kayak prastel tapi gak kukasih hiasan dipinggarnnya ya sudah pastel pisang aja. Ini resep sederhana kok. Awalnya kupadukan adonan kulit bolen/molen yang dikasih temanku, trus aku modifikasi dengan bahan puff pastry. Hmmm.. enak sih kata teman-teman.Setelah eberapa kali nyoba bikin bolen/molen tapi bentuknya gak memuaskan, aku turuti usulan suami. Bikin betuk yang kayak pia ajah. Hm..jadilah seperti disamping.

 Itu pesanan pertama sahabatku, dr. Annta. Seeneng ternyata dapat pesanan hehe...berasa kayak ikut TV champion, kata maura karena harus bikin 25 Pastel pisang dengan isi dan bentuk yang harus sama dan mencoba rapi. Yah walopun masih ada yag agak coklat tua (bilanga ja gosong2 dikit) hehehe... Ini kue kalo pemanggangannya rata, tanak, bisa awet sepekanan deh dalam kulkas. Oya aku pilih bahan yang kualitas. Pengalaman, pas bikin kulit gak pake mentega Blueband juga rasanya kok beda. Aku bagi resepnya deeh atas permintaan beberapa teman.

Kulit
500 gr Tepung terigu protein tinggi
2kuning telur
200gr margarin
2sdm shortening (mentega putih)
Air es secukupnya
Gula 100gr
garam secukupnya
Maizena 1sdm
Susu bubuk15gr

Isi
Pisang raja suluh yang mateeng ukuran sedang, potong kecil2 atau bundar2 tebal 1,5cm
2sdm margarin
gula bubuk secukupnya
Meises
Coklat masak , potong kecil-kecil
Keju chedar potong kecil2atau tipis-tipis atau parut

Olesan: kuning telur campur denga sedikit garam, Keju parut untuk taburan
Cara Buatnya
1. Campur semua bahan isi kecuali keju dan coklat masak (compound), pisang diiring kasar, ditumis dengan margarin dan kaumanis, taburi gula halus atau meises.
2. Kulit : Campur semua bahan  kulit, aduk hingga kalis, masukkan ke lemari pendingin 15 menit, keluarkan ,gilas, diinginkan lagi 15 menit, gilas-lipat.masukkan dan siap dipakai
3. Ambil adonan isi, tipiskan beri isi, lipat berbentuk pastel, oles dengan bahan oles, taburkan keju, panggang 30-45 menit dengan api sedang (jangan gosong ya)

Jumat, 10 Juni 2011

Liburan Anak-anak , awas Jangan Malah Stress!

Ini celetukan jujur ibu-ibu muda pas terima raport (termasuk  kadang saya)
“Weess liburan aku malah stress, lha pie ndak mandeg mandeg lho maunya.Kalao udah pergi ke neneknya lumayan” jiaah. Ada lagi
 “Lha pie kalo mereka libur kita ndak libur kerja, trus budget jadi bengkak, yang bikin sebel, kita tambah stress karena gak bisa ajak mereka main juga, antara kasian dan gak berdaya” hiks hiks
Tidak dipungkiri, moment liburan menjadi saat yang kini justru tidak terlalu menyenangkan. Tepatnya mencemaskan bagi orang tua. Banyak kemungkinan sebab. Mungkin, karena saat liburan anak-anak para orangtua tidak libur, terutama yang keduanya bekerja. Padahal, mereka  biasa menitipkan anak-anak disekolah atau tempat penitipan anak seharian.Lha kalu libur? Stress juga kan?Kedua, bagi ibu-ibu yang tidak bekerja seperti saya, jujur lho ya, kadang kita tidak ‘siap’ membersamai anak-anak dirumah lebih lama, biasanya kita bisa sedikit lega saat mereka sekolah meskipun hanya sampai siang.Lha kalu liburan? Bisa-bisa seharian kita teriak-teriak. Masya Allah hehe
Ya, mungkin tulisan ini sekedar  pengingat diri sendiri . Sedikit tips aja, yang ingin saya cobakan untuk liburan beberapa hari lagi. Supaya saya yang sehari-hari memang bekerja dirumah ini juga bisa benar-benar ‘membersamai’ anak-anak tidak sekedar ‘nyambi’ nemeni mereka.
1.Apa yang KITA lakukan, musyawarah yuk!
Mengajak anak-anak merencanakan liburan mereka sendiri akan membantu kita menyiapkan apa yang mereka mau. Toh ini adalah hak mereka untuk menikmati waktu dirumah. Kegiatan apa yang akan kita lakukan bersama, dimana bagaimana, dan berapa anggarannya. Tidak harus  berlibur ketempat-tempat yang mahal dan keluar rumah. Merencanakan liburan dirumah tapi dengan kegiatan yang variatif asyik juga.
Yang harus kita siapkan adalah : enjoy dan menghargai pilihan mereka. Katakan saja jika memang kita hanya memiliki anggaran terbatas. Kalau saya, ingin mengajak anak-anak menata ulang kamar mereka, mengecat kaleng-kaleng bekas jadi aneka wadah pernik dan membuat kue, dan mengunjungi rumah baca di rumah kontrakan lama kami ,insya Allah.
2. Jika memang Anda Tidak LIBUR
Mungkin memang rasanya serba salah, tapi bagaimana lagi. Jika memang anda adalah orangtua bekerja yang tidak libur, mungkin memang harus menyempatkan waktu sedikit lebih banyal Atau, biarkan mereka ke rumah nenek atau paman, atau beri kepercayaan mereka berlibur dengan teman sebaya jika memang sudah bisa dilepas. Jika tempat bekerja kita fleksibel dan anak-anak bisa kita kondisikan untuk ikut ke kantor/tempat kerja bagus juga. Biasanya dengan begitu mereka akan lebih berempati dengan pekerjaan kita. Jika ini yang anda pilih, siap-siaplah untuk mengenalkan anak pada teman-teman anda, atasan, atau bahkan satpam, dan pilihlah di hari-hari yang tidak terlalu sibuk.
Jika pilihan jatuh pada berlibur dirumah nenek atau kerabat, bersiap-siaplah dengan beberapa pola yang mungkin akan melonggar, atau bekerjasamalah dengan pihak-pihak ‘tuan rumah’ untuk menjaga pola dan aturan yang berhubungan dengan waktu makan, sholat, menonton Televisi. Upayakan anak bermain aktif, tidak didepan televisi atau game.Ini berlaku pula jika anak hanya dirumah dengan pengasuh. Oya, bisa juga membuat family gathering dengan anak-anak teman, siapa tau justru menjadi awal yang baik untuk kegiatan positif mereka dihari-hari selanjutnya
3. Hindari terlalu banyak JANGAN, Libatkan saja!
Mungkin yang menjadikan bertambah stress karena kita tidak siap berbagi waktu.Kalau sudah begini, sungguh kita bisa sangat menghargai guru-guru dan pengasuh anak-anak kita di TK, PAUD, sekolah fullday atau tempat penitipan. Disaat liburan, anak-anak cenderung ingin melakukan apa yang kita lakukan, sebenarnya. Sayangnya, kita-orang dewasa- disekitar mereka belum siap. Maka terjadilah teriakan-teriakan larangan “Huuh…jangan begitu, jangan begini. Sudah-sudah tidak usah ikut-ikutan, tuh kaaan apa ibu bilang, pecah kan? Suruh liat tivi aja gak mau sih. Sudah kamu nonto VCD aja ya?Atau sudah kamu ajak adik main ya?ibu mau beberes” Fiiuuuh….jujur, saya pernah begitu
Tapi kemudian, saya tau ini sebenarnya waktu mereka untuk belajar bersama kita. Maka yang kita harus lakukan sebenarnya adalah : mengajak mereka bekerjasama. Hasilnya? Putri tertua saya sudah mulai bisa membantu saya dan mbak pengasuh mencuci piring, sudah mulai ‘peka’ bahwa kamarnya kotor harus ditata ulang, sudah mulai punya usul untuk menyortir mainan. Ya ya, libatkan saja. Banyak melarang bukan hanya menjadikan mereka agresif negative tapi juga melelahkan kita.
4. Jangan Nyambi, mak!
Mak, bund, umi, mama, ibu, mungkin kita-kita yang dirumah ini sering punya waktu banyak tapi hambar dimata anak-anak. Makanya, mungkin kita harus mengusahakan untuk sedikit ‘menjamu’ mereka yang sedang liburan itu. Membersamai mereka bukan sekedar ada. MAtikan computer, FB, minimalkan telpon-telponan, BB an saat sedang bersama anak.
Saya bukan ibu yang sempurna. Saya pernah diprotes anak-anak sampai akhirnya saya putuskan tidak abai terhadap waktu bersama. Ya, memang dengan membersamai mereka, ada nilai-nilai yang bisa kita masukkan lewat cerita, gerak dan lagu, tebak kata, mencipta puisi dan saling bercerita. Semoga.
5.Siapkan anggarannya
Mungkin memang anggaran liburan anak-anak harus kita rencanakan. Bukan hanya untuk belanja, senang-senang, makan-makan diluar. Dirumah pun kita harus punya anggaran. Sederhananya, jika liburan ini saya ingin mengajak anak-anak membuat handycraft, mengecat kaleng, membuat kue, saya pun harus mempersiapkan anggaran. Hehe jer basuki mowo bea, iya kan? Mungkin sekali lagi, tak harus selalu mengakomodir keinginan anak-anak. Oya, jangan banyak menuruti hasrat jajan anak-anak disaat liburan ya .
Oke semoga liburan kali ini bisa menjadi refreshing dan berkesan, mendidik, buat mereka juga buat kita, jangan malah stress. Have a nice holiday!

Rabu, 08 Juni 2011

Memaknai Taushiyah Terakhir Ibunda Kita : “…we must Keep The Mission ON !

Hari itu, rasa hati masih berdesir-desir sedih saat suami saya memperlihatkan  taushiyah terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh (allahu yarhamha) via video streaming yang direkam pada 17 mei 2011,3hari sebelum beliau wafat. Seperti biasa, wajah penuh semangat dan senyuman khas itu membuat saya terugu didepan layar PC saya. Membuat pena yang saya gerakkan untuk merangkum taushiyahnya, tertetesi air mata yang entah mengapa sampai hari ini masih sering merembes, meski hanya sekedar melihat foto atau membaca tulisan-tulisan tentang beliau. Mungkin memang karena saya ini sangat mudah menangis, cengeng ya!
Saya pribadi pernah dibuatnya terkagum-kagum dan GR saat dipertemuan terakhir dengan beliau-saat pemakaman almh. Istri pertama Ustadz Hidayat Nurwahid, di Klaten- beliau masih mengingat saya dengan sangat akrab,padahal saat itu sudah berjarak dua tahun kami bertemu disebuah seminar, entah saya lupa, sepertinya saya pernah bersms dengan beliau untuk sebuah acara dan penulisan. “Robi’ah , ya Dari Solo?Apa buku terbarunya, Robi’ah? Terus menulis ya Robi’ah…” Sungguh, saya menemukan sosok perempuan sibuk yang tetap care, padahal, siapalah saya dibandingkan ribuan orang yang ditemuinya?Dan sapaan tulus itu masih saya ingat benar intonasinya, jabat erat tangan beliau, ah…
Hari ini, saya ingin menulis tentangnya lagi. Sosok yang mendesirkan hati saya, menggugah saya setiap saya hendak bermalasan.Saya pun tidak akan menulis lengkap isi taushiyah terakhir itu karena semua orang dapat melihatnya dan mendengarnya . Tapi izinkan saya mengutip beberapa poin yang mungkin dapat menjadi sedikit rangkuman melalui tulisan ini.dan sekali lagi, maafkan saya, anak bawang dalam barisan ini jika salah memaknai dan merenungi taushiyah yang membuat saya tak bisa berhenti memikirkannya sejak mendengarnya hingga hari ini.
1.       Bahwa Dakwah ini Berisi SUKA dan DUKA
Ibunda kami mengingatkan bahwa dakwah ini pasti ada suka dan duka. Sukanya insya Allah lebih banyak. Dan apapun yang kita alami bersama dakwah ini (suka dan duka itu) maka ‘argonya’ tetap jalan, begitu kata beliau. Sungguh, ini sebuah keyakinan tentang jalan hidup yang teguh. Bahwa dakwah semestinya menjadi nafas dari kita, para kader dakwah dan dengan menyadari itu, maka kita tidak pernah putus asa saat dakwah ini diterpa guncangan dan tidak pula cepat puas dan jumawa saat kemudahan ada didepan kita.Begitu mungkin hikmah yang bisa saya maknai. Seorang kader dakwah tidak mudah berputar haluan saat dakwah ini menempatkannya dalam suka, maupun duka.
2.       Bahwa Kita Harus Berdakwah dengan Menghargai Sunnatullah
Dalam taushiyahnya, Ustadzah Yoyoh menyampaikan bahwa dalam berdakwah kita harus tetap mempertimbangkan sunnatullah yang ada pada objek dakwah. Sunnatullah disini maksudnya adalah kondisi dimana setiap orang berbeda. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang senior,ada yang yunior.
Maka hendaklah seorang kader dakwah menghargai sunatullah itu. Berdakwah dengan kepekaan terhadap keadaan objek dakwah, adalah kecerdasan tersendiri menurut saya. Beliau sampaikan bahwa kita harus menghormati yang tua, menyayangi yang muda, kaya dan miskin mendapat apresiasi yang positif,karena kita akan berhadapan dengan banyak orang dan keadaannya. begitu kira-kira. Semoga kita menjadi kader dakwah yang luwes dan tawadhu’, ya!

3.       Bahwa Kita Harus Meningkatkan Integritas Pribadi Sebagai Seorang Muslim
Menarik poin ini. Mengemban dakwah bukan sebuah pekerjaan tanpa bukti nyata. Ustadazh Yoyoh mengingatkan kita, yang Allah perkenankan menjadi bagian dari kader dakwah ini untuk menjaga integritas pribadi kita sebagai seorang muslim. Sederhana contoh yang beliau berikan.Seingat saya ada dua hal .Jika kita berjanji pada orang lain kita harus berusaha menepatinya, jika kita mendapatkan sesuatu kebaikan dari orang lain kita berupaya/berusaha untuk membalasnya.
Ikhwah…sungguh sebuah taushiyah yang harus kita perhatikan. Dakwah dengan wajihah partai politik dan memasuki birokrasi tentulah berdekatan sekali dengan janji, sikap dan komitmen. Taushiyah beliau semoga menjadikan kita ingat bahwa kita adalah kader dakwah yang bukan sekedar actor politis.integritas seorang muslim, ya, ya, mungkin ini menjadi penyentil diri kita untuk ‘risih’ saat kata tak sejalan dengan amal,semoga

4.       Bahwa  “if we are realize that we are on mission, we must keep the mission on”
Kalimat ini yang akhirnya saya camkan dalam benak saya. Pantas saja ibunda kita ini tak pernah kehabisan semangat.Pantas saja hidupnya begitu produktif baik kapasitasnya sebagai istri, ibu, anggota DPR RI, kader dakwah.Subhanallah
Kuncinya adalah ON MISSION dan menjaga Misi tetap ON. Sebagai apapun, dimanapun kata beliau, kita harus tetap on mission. Di birokrasi, pemerintahan, sebagai professional, kita mengemban misi (dakwah) itu

Ikhwah, sungguh saya terhentak dengan poin ini. Mari kita rasakan, sejauh mana kita merasa bahwa kita seorang pembawa misi dakwah?Sikap sadar terhadap misi dan menjaga agar misi itu tetap ‘on’ adalah sebuah kesiagaan yang luarbiasa. Saya merasakan kalimat ini sebagai sebuah kalimat afirmasi yang kokoh. Pantas saja, beliau memiliki ketangguhan dan tekad yang kuat.Orang-orang yang selalu siap dengan misi dakwahnya tak pernah berhenti berpikir untuk dakwah. Waktunya,keluarganya, hidupnya, matinya diwakafkan untuk misi itu. Sekali lagi, pantas saja, beliau menjadi ‘ghuraba’ , orang yang langka.

Sungguh, almarhumah bunda kita itu Perempuan pembelajar dan pemberi semangat yang konsisten. Sikap on mission ini pula yang akan melahirkan kreatifitas-kreatifitas dakwah yang cerdas dan mencerahkan. Sikap on mission ini akan membangunkan kemalasan dan kemanjaan serta sikap terlalu mengasihani diri sendiri.

Subhanallah, semoga dengan memaknai taushiyah itu sebagai ‘wasiat’ beliau pada para kader dakwah, kita dapat terus menjaga stamina pergerakan kita. Sehingga, jika kita telah bersungguh-sungguh dengan jalan ini, surge adalah tempat berkumpul yang aling kita nantikan. Seperti beliau menutup taushiyah terakhirnya itu seolah berpamitan “Insya Allah kita bertemu di surga narookum fil jannah (kami melihat kalian di surga). Salam rindu, ustadzah…

Sabtu, 04 Juni 2011

It’s About Sense of Belonging


1.Sepasang suami istri muda beranak satu memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah. Kecil dan sederhana. Rumah ‘tua’ yang sederhana itu diperbaikinya, dibuatnya senyaman mungkin, mereka perbaiki kamar madinya, instalasi listriknya yang kurang aman,dan beberapa bagiannya. meski letaknya ada dipinggiran dan rawan banjir . Banyak tetangga bertanya ,”Mbak kok rumah kontrakan aja dibagusin ampe segitunya. Kan bukan rumah sendiri. Enak dong ya yang punya rumah”. Jawab sepasang suami istri itu ringan dan santai , “Ya, karena sekarang kami ada disini, tinggal disini, dan dua tahun ini rumah ini MILIK KAMI, bu. Kenyamanannya juga untuk kami sendiri, kan?”

2.Suatu hari saya merasa sedikit kesal dengan ART saya yang memang masih remaja. Setiap kali saya ajarkan bagaimana merawat kain-kain lap, dan merapikan apa-apa yang tersebar dirumah ini dia lupa. Bagusnya, dia enggak pernah marah saat saya menegurnya. Hari itu saya tidak mau banyak bicara. Saya rapikan lap-lap dan kain-kain pel yang sudah berhari-hari dia jemur (sampe keriiing), saya benahi sendiri dapur dan beberapa hal detil. Lalu dia berkata “Aduh bu, maaf ya, kok  jadi ibu yang beres-beres…Iya itu lapnya kok gak saya ambilin ya buPadahal saya juga tiap hari ngeliat loh.’ Jawab saya, “Yah…ini kan memang rumah saya, ini semua memang pekerjaan saya.Memang seseorang yang belum merasa memiliki, dia kurang bisa peka, Ros.Padahal lihatlah rumah besar ini, bagaimana jika ini rumahmu?Apa yang kau inginkan?” Saya menjawabnya dengan santai, tidak marah dan sedikit bercanda
“Saya ingin rumah ini selalu rapi, bersih dan barang-barangnya awet. Iya bu…benar kata ibu kemarin,saya aja gak merawat dengan baik sepeda saya, apalagi rumah sebesar ini , kalu saya tidak merasa memiliki ya saya rasanya malas ya bu” ….

Begitulah…saat rasa memiliki (yang bukan posesif) ada dalam diri kita, maka kepekaan akan muncul. Jika kepekaan muncul, maka kita akan semakin kreatif untuk menjadikan apapun yg ‘kita miliki’ itu menjadi lebih baik, bermanfaat, lebih berkualitas.

Betapa banyak para orangtua yang dikaruniai anak tidak merasa memiliki anak-anak mereka. Dibiarkannya anak-anak mereka besar dalam asuhan oranglain tanpa seleksi dan evaluasi. Dibiarkannya anak-anak mereka pergi sampai malam-malam, tidur diluar rumah dengan santai.Dibiarkannya anak-anak mereka mengumbar aurat tanpa mengingatkan tentang ‘rasa memiliki’ terhadap tubuh mereka yang ranum dan semestinya terjaga.
Padahal, rasa memiliki terhadap anak-anak kita yang kita maknai secara sehat dan adil, akan memberitanggungjawab pada kita untuk membersamainya, menyeranta potensinya, menjadikannya sahabat bagi kita, memepersiapkan mereka untuk hidup di zaman mereka kelak dengan siap dan sikap mental yang tangguh.
Betapa banyak para karyawan yang hilang rasa memilikinya hingga ia merasa hanya ‘bekerja’ , bukan memiliki dan turut menjaga kualitas perusahaannya. Akibatnya?Spirit melayani memudar karena merasa ini perusahaan bukan miliknya. Sekanjutnya? Ia lambat laun menghancurkan citra baik pimpinan dan kualitas produknya.
Rasa memiliki menjadikan seseorang mampu melakukan apa yang mustahil dilakukan oleh oranglain.

 Sebaliknya, hilangnya sense of belonging menjadikan orang enggan dan tidak mau melakukan apa-apa yang sebenarnya bisa ia lakukan. Menjadi produktif dalam kerja, dalam dakwah, dalam peran-eran kita ternyata erat terhubung dengan sense of belonging itu. Kreatifitas dan stamina piker yang terus bernas juga ada pada orang-orang yang memiliki sifat setia (wafa’) , cinta, dan loyal pada apa-apa yang menjadi tanggungjawabnya.

Sungguh, Allah memberikan kita motifasi dengan  Laqod kholaqnal insaanu fii ahsani taqwiim –Sungguh telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk-(At-Tiin:4).Maka, jika rasa memiliki  terhadap wujud terbaik  itu kita syukuri, sejak hari ini semoga kita tidak lagi abai pada sikap TERBAIK untuk peran-peran kita.Mari kita sertakan perasaan memiliki dan peduli terhadap semua peran-peran kita agar kita tidak bekerja sak-sake (asal-asalan) dan agar kita lebih ikhlas serta puas.Tentunya, ini akan memiliki efek positif, bukan hanya untuk kita, tapi orang-orang disekitar kita. Wallahu a’lam bishawwab.Salam inspiratif!

Kamis, 02 Juni 2011

Cake Putih Telur Pandan

Masih dalam rangka memanfaatkan oven pinjaman tanteku, bikin aku beberapa hari ini semangat praktek macam-macam resep. Setelah muffin pisang dan bolen, kali ini cake. Biasanya aku pakai baking pan atau panggangan alternatif .hasilnya cake gak memuaskan, selalu bantat.Oooh. Nah ini crita kemaren sore, pas si Ros asistenku gak masuk tapi anak-anak tetep pengan dibuatkan kue. Kebetulan ada sisa putih telur sekitar 300cc lah, sisa bikin bolen dan cake pisang kemaren.

Googling resep cake putih telur paling simple, nemulah disini . Karena cuma punya 300 cc jadi aku kira-kira sendiri deh bahan-bahan lain. Kebetulan emang ini bener-bener memanfaatkan semua sisa bahan, hehe.Tepung juga kebetulan tinggal dikit, margarin juga habis. Coba-coba kuganti pake minyak sayur, enak juga. Well intinya hasil lumayanlah. Secara rasa, gak gitu manis, anak suami muji udah cukuplah hehe.Secara tekstur, ini cake paling sukses yang pernah kubuat.Mungkin karena emang pake oven beneran, trus teknik ngaduknya juga kuhati-hati, trus emang si putih telur itu bener-bener bikin tekstur jadi nyepons. Pagi tadi si cake itu masih nemenin kami wedangan pagi.Hmm...Oya itu taburan kacang tanahnya kok jadi pink yah xixix

Bahan:

300cc putih telur (resep aslinya yg kukutip itu 400cc)
100gr tepung terigu (ini juga karena emang cuma punya segitu hihihi, aslinya 175gr)
50gr tepung maizena (aslinya cuma 25gr)
100gr Gula pasir (resep aslinya 175-200gr)
1sdt emulsifier (TBM)
garam dikit
Minyak sayur 200cc (Aslinya margarin cair 200gr) aku merasa kebanyakan hehe mestinya kukurangi
susu bubuk 2sdm (ini tambahanku)
pasta pandan kurleb 1sdm (optional bisa diganti essens lain)
Taburan kenari atau kacang tanah

Step by step
1. Panaskan oven, siapkan loyang 22cm alas kertas roti dan semir margarin.Nah, karena gak punya kertas roti aku cuman semir margarin
2. Aduk putih telur, emulsifier, gula sampe putih, kaku
3. Campurkan terigu, garam dan susu bubuk disatu wadah, trus ayak diadonan putih telur.Sungguh, harus diayak deh, biar rata, aduk dengan teknik aduk lipat smbil masukkan pasta pandan( teknik mengaduk lihat disini, web ini bikin aku belajar banyak soal bikin kue)
4. masukkan adonan ke loyang, panggang sampai matang


Belajar dari pengalaman, bagi tips yah
  • Aku pernah baca, kalau putih telur udah dilemari es, keluarkan dahulu sebelum diolah, sehingga sesuai dengan suhu ruang.Ini pengaruh banget biar dia ngembang sempurna
  • Mengaduk lipat akan membantu 'mengeluarkan' udara dalam adonan
  • Tepung jangan langsung dimasukkan tapi ayak merata sambil diaduk agar tidak ada gumpalan
  • Jika mengganti margarin cair dengan minyak sayur, tambahkan sedikit garam agar gurih.Minyak sayur menurutku juga lebih 'ringan' dan ekonomis

Bolen Pisang Simple

Udah lama banget penasaran bikin pisang bolen. tapi ya itu harus menahan keinginan karen abelum ada oven . Nah bebrapa hari ini dapat pinjeman oven tangkring punya nenek xixixi. Pas banget dapat resep pisang bolen yang simple banget. Gak pake dioles-oles korsvet. Critanya ekonomis gitu kata temanku yang kasih resep ini jadi bisa ditularkan ke ibu-ibu dikampung. Baiklah.


Percobaan pertama beberapa hari lau, lumayan sih jadinya secara rasa, tapi pakenya pisang ambon karena muter ke warung-warung gak ada, kata mereka jarang dan jelek (aku malas nyari ke pasar). Hasilnya kayak yang diphoto itu, teksturnya dari luar kering tapi kulitnya empuuk. Tapi dipercobaan pertama, pisangnya kurang penuh, jadi ya gitu deh agak bolong tengahnya hehe

Percobaan kedua , masih dengan sisa kulit  di percobaan pertama tapi kali ini pake pisang raja yang udah mateng dan dikasih coklat pasta didalamnya. Hmmm... better than yesterday.Pisangnya aku sengaja kasih agak penuh jadi pas digigit langsung kerasa. Ukurannya juga gak besar. Ini bener-bener simple aja, kulitnya gak kayak puff pastri yang kalo dipanggang jadi berlapis-lapis  gitu, mulus aja.Selamat membayangkan. Nih kubagi resepnya, tapi ini untuk satu kilogram biar gampang takarannya ya, kemaren aku nyoba setengahnya semoga temenku yang kasih resep simple ini dapat barakahnya, laris bisnisnya hihi.

Bahan Kulit
Tepung terigu (temenku recomendasi pake cakra, aku pake biasa aja he2) 1kg
Kuning Telur  4butir
Margarin 500gr
Garam 1sdm (peres, atau pake feeling, hee)
Gula 100gr (atau pke feeling juga)
Susu bubuk (ini aku sendiri)
Air es 400 cc (pokoknya kalo udah bisa kalis, udah)
Bahan Isi
Pisang raja matang pohon
Coklat, keju
Olesan: kuning telur kocong dengan sedikit air

Cara Buat
1. Campur Bahan-bahan kering (tepung, gula, garam,susu bubuk dan margarin) sampai berbutir-butir, masukkan air es sedikit demi sedikit sambil terus diaduk, masukkan kuning telur
2. Aduk sampai kalis dan rata
3. Simpan dalam lemari es sekitar 15 menit (aku lebih)
4. Keluarkan, giling dan potong 10x10c atau 8x8cm
5.Masukkan pisang yang udah dipotong, belah dua, selipkan keju, coklat (sesuai selera), gulung dan tutupkearah bawah ,atau dibentuk amplop juga boleh
6. Oles atasnya dengan kuning telur,taburi keju, panggang dengan api kecil-sedang sampai 60menit kurang lebih.

Tips:
* Agar pisangnya kesat pilih yang matang
* Untuk kulit bolen yang 'berlapis' saat kering, terletak disaat menggiling.Kalau telaten, ulangi simpan adonan kulit tiap 15menit giling, oles mentega,masukkan lagi ke kulkan, giling lagi
* Ternyata, semakin lama dikulkas kulit bolen bolen semakin enak karena minyak dari margarin lebih banyak
*Bakar dengan api sedang dan usahakan benar2 'tanak' agar awet sekitar 8 hari

Antara Bu Guru TK dan ‘ART’ ku

“ Gaji saya Cuma 200ribu bu Vida, kata suami saya mending saya ngopeni anak sendiri. Gaji tidak sebanding dengan waktu anak  yang saya korbankan ..” jawab seorang guru TK dimana saya mengisi kajian parenting pada suatu hari. Saya memang menanyakan hal sensitive itu sebagai survey pada beberapa guru TK.

“Lalu, kenapa njenengan tidak keluar saja?” kata saya. Jujur, saya  selalu gemas mendengar ‘curhat’ betapa minim gaji guru TK, PAUD terutama swasta dan sedihnya dibawah yayasan Islam
“Yah, bu Vida… lha wong kata ibu mertua saya, perempuan itu kalau kerja tetep ‘gagah’. Njenengan tau, ada lho Bu TK di yayasan kami ini yang cuma dikasih 50 ribu tiga hari. Karena meskipun TK dibawah organisasi kami  ini banyak, tapi tingkat kesejahteraan dan kualitasnya berbeda-beda. Itulah kenapa untuk bensin saja tidak cucuk (tidak sebanding, ed).Mungkin gaji kami dengan rewangnya (PRT)  bu Vida besar rewangnya bu Vida per bulan.Saya tetap punya tekad keluar bu, meskipun kadang tidak tega lihat anak-anak kecil ini…”
…..
Itu baru satu guru. Ada yang mengatakan pada saya lagi, bahwa untuk dapat tunjangan-tunjangan bonus di Diknas aja harus dipotong ini itu. Ada lagi yang curhat “PAUD kami ya Cuma mengandalkan dana operasional  dari orang tua, Umi…” Ada lagi yang membuat saya merasa aneh, di sebuah Yayasan Besar  dikota saya, disalah satu TK nya, gaji seorang satpam pun harus ditanggung kas komite, para gurunya yang bergaji tidak lebih dari 500 ribu (itupun yang sudah kepala sekolah) harus kuliah PGTK dengan biaya sendiri. Padahal, kita sama taulah berapa ‘income’ sebuah Yayasan yang cabangnya ratusan, yang pemasukan dari sector pendidikannya begitu besar. Belum lagi sangat disayangkan anak-anak pengurusnya justru bersekolah di TK-TK mahal dengan alasan ‘kebutuhan’ survey dan studi banding. Olala…
Jika dihitung, banyak guru TK dan PAUD swasta atau rintisan di RW-RW yang gaji awalnya tidak lebih dari 400ribu bahkan ‘gratis’.Apalagi jika belum lama dan kondisi TK tidak terlalu ‘kaya’. Sedangkan gaji asisten rumahtangga saya setiap bulan sekitar 480 ribu dengan tugas  rumahtangga yang dibagi dengan saya. Tentu bukan bermaksud merendahkan, justru ini suara keprihatinan saya terhadap guru-guru TK yang mungkin gajinya tidak cukup untuk menjadi penopang kebutuhan rumahtangga, apalagi untuk sekolah lagi. Wajar jika kadang mutu pendidikan pun tak terlalu bersemangat peningkatannya karena rasa kemanusiaan untuk ‘jeleh’ (bosan) bisa mengikis keikhlasan dan etos kerja. Akhirnya, seperti celetuk suami salah satu guru TK diatas “mending kamu ngurusi anakmu sendiri, saya tambah uang belanjamu, bu..’
Sungguh, kesejahteraan para guru TK itu membuat saya menarik kesimpulan bahwa pengabdian menjadi sebuah motivasi yang melampaui nilai nominal. Tapi apa iya para guru yang setiap pagi sudah bersiap menyambut anak-anak kita, kadang meninggalkan anak-anak balitanya sendiri, mengasuh, menghadapi kerewelan anak-anak, harus melatih kemampuan anak-anak kita, harus tetap ceria ditengah persoalan mereka, membuat peraga-peraga yang kadang butuh ketelatenan, melatih motorik halus dan kasar anak-anak, menghadapi ‘hasil’ didikan orangtua yang tak semuanya santun. Ya,ya,ya.. profesi guru TK /Play group yang jika kita renungkan merupakan ‘bagi tugas’ pengasuhan yang semestinya banyak dihandle orangtua, ternyata tak mendapatkan penghargaan materi yang selayaknya. Belum lagi tuntutan saat ini dimana kebanyakan orangtua dan beberapa SD mensyaratkan bahwa lulusan TK harus dapat membaca. Hasilnya? Mohon maaf, anak-anak tak lagi menemukan sekolah TK zaman kita dahulu yang benar-benar hanya bermain. Guru TK pun akhirnya bekerja keras mengajar membaca.
Entah apa pesan dari tulisan ini. Namun jika boleh saya menyuarakan ‘ngudo roso’ para guru yang sempat saya dengar, sepertinya sangat mulia jika Yayasan , atau pengelola-pengelola TK, PAUD swasta mulai memperhatikan kesejahteraan pendidiknya. Insya Allah dengan terperhatikannya –minimal- gaji pokok mereka, etos kerja akan semakin baik. Sekali lgi, ini tentu bukan tentang spirit ikhlas dan tidak ikhlas, sebab saya yakin menjadi guru TK adalah pilihan bagi orang-orang tulus dan cinta anak-anak. Ini soal penghargaan profesionalitas. Wallahu a’lam bishawwab. Salam Inspiratif!

Kamis, 26 Mei 2011

Lha Emang Ini kerjaan Kita, Kok!

Kamu nyetrika, Da?lha khadimatmu ngapain?” sms dari tanteku di ibukota, kami biasa berdiskusi tentang banyak hal.
“Mbak  Vida kok nyapu halaman, rewangnya gak masuk ya?” selidik tetanggaku saat aku nyapu halaman total sambil nyabutin rumput2
“Lha rewangmu penak nho mbak, pekerjaannya apa kok belonjo , masak panjenengan juga” kata temannya ibuku, ketemu ditukang sayur.

            Hmmm.Sebenarnya pertanyaan wajar, tapi apa salahnya? Bukankah ini rumah kita? Ini masakan untuk keluarga kita? Baju-baju itu juga begitu puas jika kita melihatnya rapi terpakai sang buah hati dan suami dari hasil setrikaan kita? Bukankah semua-muanya di setiap sudut ruang rumah ini awalnya adalah P E K E R J A A N  kita? Amanah kita? Lalu, Rewang, pembantu, khadamat, asisten rumahtangga, atau apalah namanya datang menawarkan jasanya? Membantu sebagian dari pekerjaan kita dan kita mengupahi tenaga dan waktunya? Lalu, apakah orang yang hanya membantu itu tiba-tiba harus mengambil alih semua pekerjaan kita? Lalu kita? Mungkin  keenakan ini yang membuat kita kembali lunglai saat si ART tidak masuk/keluar tiba-tiba.

            Saya sering melihat gambaran kurang menyenangkan tentang pembantu rumahtangga. Dalam sebuah rumah seorang pembantu seperti mesin pekerja yang begitu kelebihan beban. Dari Pagi hingga malam mereka harus bekerja cepat dan beres. Tidak dan tidak untuk kami. Sedari kecil, ibu saya memiliki banyak ’asisten’ atau  pembantu. Dari yang pocokan sampai yang sangat cerdas,loyal dan sanggup melaksanakan apa yang ibu saya mau hanya dengan membaca catatan ibu saya (bahkan hanya saya, mbak Waqi’ah itu dan dua orang lagi yang bisa membaca tulisan latin mamah saya yang kadang masih ejaan lama, wkkk). Tapi almh.mamah selalu berkata pada saya ”mereka hanya membantu, nok. kitalah lakonnya”. Saya masih ingat bagaimana mamah saya menempel banyak tulisan peringatan, peraturan di tempat-tempat tertentu agar tiak banyak omong, katanya.Bahkan sampai kini ada 'asisten' almarhumah mamah saya yang masih sering main kerumah dan tiba-tiba memasakkan saya dengan masakan setara katering, hmmm (yang ini namanya Mbak Parmi) heheh jadi seneng.

            Saat ini banyak keluhan ibu-ibu bahwa khadimat / prt/art/rewang semkain susah dicari. Kalau ada,kadang kerjaan gak beres, kalu masih muda gak terampil, kalau udah berumur susah dikasih masukan. Kalau udah lama ikut, eee...ngelunjak. Astaghfirullah, alamaak. Tapi...apa iya semua semata-mata karena si ART?Jangan-jangan karena kita emang belum lihai berinteraksi sehat dengannya lahir batin hihihi

         Tujuh tahun pernikahan saya sudah berganti sekitar 8 orang prt, termasuk yang terakhir ini-semoga betah-. Dari berbagai tipe saya alami. Dari mulai yang suka klepto, galak dan bahkan kasar sama anak (syukurlaah akhirnya saya memiliki  rasa 'tega' untuk memberhentikannya karena benar-benar sudah tidak dapat saya tolerir), ada yang sakit-sakitan, baik hati tapi gak bisa kerja berat, dll.

Detil is Our Duty, moms!
Syukurlah justru dari mereka  saya mengambil pelajaran bahwa kitalah yang harus benar-benar menghandle hal-hal detil atau tak terpikirkan olehnya, hehe Membersihkan bak kamarmandi sampai bersih dan menggosok lantainya yg kadang licin karena tumpukan sabun, mengurasnya dengan benar, menyetrika baju-baju suami , baju pergi saya dan anak-anak, mengoperasi bersih dapur, kamar anak-anak, mensortir barang-barang, memasak, membersihkan kamar saya, bahkan sesekali mengelap semua perabot dan membersihkan kipas angin disetiap kamar adalah  TUGAS SAYA. asisten saya kadang hanya saya suruh melihat ! ”lihat ibu melakukannya, ros.Lalu jika suatu saat ibu meminta tolong melakukan ini, lakukan dengan begini ya?!” hasilnya saya tidak pernah makan hati dengan asisten, atau lebih tepatnya jarang :).

            Ya,ya, ya. Hal-hal detil tidak mungkin dilakukan pembantu kita. Begitu kata ayah saya pada suatu hari. Betul juga. Kecuali kita mendaptkan yang cerdas, terlatih dan loyal. Dan itu sulit. Dan jika kita tidak mau memendam perasaan sebal, tidak ingin ribut dan sudah berulangkali prt melakukan pekerjaan detil itu dengan ’salah’, maka... kerjakan saja sendiri, bu!

            Ini saya pelajari dan akhirnya saya coba  menikmati. Tidak ada ketergantungan, saat mereka datang kita syukuri sebagai bentuk pertolongan Allah atas pekerjaan rumah yang tak berjeda.Saat mereka tidak datang atau bahkan tiba-tiba keluar tanpa pamit kita juga tidak panik, tinggal sadari saja ’pekerjaan kita kembali kesemula :banyak’ dan pahala kita utuh (hihi gak dibagi ama pembantu soalnya). Yang bisa dikerjakan ya dikerjakan, yang belum bisa yaah tunda dulu gak masalah. Capek istirahat, anak-anak dikondisikan.Dibikin santai. Nyatanya dengan menasehati diri sendiri dan benar-benar meyakini bahwa hal-hal detil memang harus kita yang melakukan, saya merasa lebih baik. Kini saya mempunyai asisten yang masih remaja, yaah memang masih harus selalu mengingatkan tapi saat saya sudah malas menegur dan contoh-contoh saya ’lupa’ dikerjakannya. Lakukan sendiri! Contoh lebih mengena, dan biasanya si dia (ART) cengar cengir dan merasa salting. Jadi mulailah menyadari bahwa detil is our duty.
Apakah hal-hal detil yang tak terpikirkan oleh ART kita itu?Tunggu saja catatan berikutnya.Okay emak-emak semangat!!

Jumat, 20 Mei 2011

Okonomiyaki : satu lagi cara 'menyembunyikan' sayuran

Melihat acara TV champion2 di MNC TV jadi aktivitas saya tiap sore bersama anak-anak.Awalnya tidak sengaja tapi saya suka. Tiap hari ada kreasi-kreasi kreatif dari orang-orang Jepang dalam menghasilkan karya unik. Ini pelajaran bagi anak-anak, juga saya. Tak jarang saya mempraktekkan acara 'mbuat-mbuat' (kata anak-anak menyebutnya) itu.

Seperti bebrapa edisi yang lalu adalah lomba membuat okonomiyaki ,  makanan Jepang yang terdiri dari campuran tepung, air, dashi (kaldu) dan rupa-rupa isi (terutama kol/kubis) serta topping. Yaah ada yang nyebut pancake jepang. Lha saya, pertama embuatnya jadi kayak bakwan hehehe. Saya langsung googling aja biar tau artinya. Karena, Maura itu sering nanya-nanaya kenapa makanan dinamakan ini itu. Hff...Ternyata, Sejarahnya, okonomiyaki dibuat oleh pelaut Jepang yang pengen makan pizza kayak di Italia. Trus lagi, ternyata kata okonomi artinya suka-suka. heheh mungkin karena isinya suka-suka ya mau kita kasih apa , sedang kata yaki  artinya dipanggang dengan sedikit minyak. Dan ada dua cara.Kalau daerah Kansai, kubisnya dicampur jadi satu, kalau daerah Hiroshima, kubis ditarus diatas adonan sebelum dipanggang. Hmm...

Nah, bagi saya sendiri, makanan ini bisa jadi cara baru menyembunyikan segala macam sayuran dan membersihkan 'sisa' bahan makanan yang ada dikulkas. Karena pancake dan kue dadar sudah jadi alternatif sarapan pagi, maka bahan-bahan lumayan ada.Makanan begini nih yang biasanya jadi pilihan saat saya kemrungsung atau ada acara pagi hari sementara saya tidak punya banyak waktu untuk menyediakan sarapan yang pating clekenik. Bisa untuk selingan, snack untuk mengganjal. Atau jika memang diniatkan untuksarapan, tambahkan bahan berkalori dan berserat.Ubi jalar bisa dikukus, dilumatkan dan dicampur. Selain jadi lebih 'berat' teksturnya jadi lembut.
Bahan
Kol/kubis iris tipis, atau cincang kasar
kentang, parut atau iris tipis (kalau mau dicampur diparut kasar pake parutan keju, kalau mau dipakai toping, iris tipis aja)
wortel
kapri
umbi jalar kukus,parut.
bakso/sosis/daging cincang/ebi/dll
tepung terigu 10 sdm
air 1/2 gelas atau air kaldu
keju parut (bisa dicampur atau untuk toping)
Telur (kalau mau seperti sponge, pisah putih dan kuningnya, setelah semua bahan tercampur,kocok putih telur sampai kaku, campurkan sebelum dipanggang)
baking powder 1/2 sdt
garam 1/2 sdt
saus tiram secukupnya dicampur dengan saos tomat (dan sambal jika ingin pedas)
Cara Buatnya
1. Campur rata semua bahan, jika kubis ingin dibuat toping, taburkan saat bahan sudah dituang diwajan datar atau teflon
2.panggang dengan apisedang dan sedikit minyak/margarin bolak bali sampai matang rata
3.oleskan dengan campuran saos tiram dan saos tomat, semprotkan mayonaise, taburi keju jika suka
4.Hidangkan saat fresh from oven :)

OPOR AYAM SUNGGINGAN : Opor Unik Kota Kretek

Selasa pagi yang lalu, kami menghirup udara pagi dikota mertua :Kudus, setelah Senin siangnya agak nekat juga berangkat dengan ‘paket kecil’ untuk kedua kalinya. Ya, hanya saya, suami dan si bungsu.Nekat karena kami hanya dua hari, menuruti rasa kangen pada ibu dan bapak, nostalgia ke Kudus dengan bis. Meminjam motor Bapak,  menyusuri kota kecil ini membuat kami selalu ingat masa lalu manten anyar. Saya yang hanya tau bahwa kami mau mampir di Panjunan, tempat jajan pagi di Kudus tak menyangka suami membelokkan arah ke warung yang sudah lama  membuat kami ‘penasaran’ . Bahkan suami saya yang asli Kudus belum pernah mampir , Warung Opor Ayam  Sunggingan. Tapi sesampainya disana belum buka penuh. Pelayan belum siap katanya. Kata supir becak yang mangkal didekat situ “jam 6.35 mas bukanya “ haha hapal benar dia. Baiklah…. Kami mengisi waktu menunggu dengan berkunjung sebentar ke rumah budhe dan tantenya suami

Pas saat perut lapar kami kembali ke Warung Opor Sunggingan dan …sudah penuh antrian. Sebenarnya kunjungan  ini niat banget saya pakai bahan nge-blog hihihi. Selain itu, kabar enak  sudah santer terdengar sejak beberapa kali selama saya jadi istri orang Kudus (kebangetan baru kesampaian mampir). Apalagi saat tetangga ibu yang kebetulan mampir dan tengah dikunjungi si Bango selera nusantra wkkk ibu mertua saya tambah santer promosinya. Recomended gitu maksudnya. Karena saya dan suami  punya kesimpulan : Jangan mampir makan ditempat-tempat yang belum teruji dan direkomendasikan, kecuali emang niat jadi penglaris dan siap kecewa dengan harga dan rasa.hahaha Baiklah akhirnya kamipun masuk ke warung makan yang hommi itu .

Saat duduk, hal pertama yang unik kami lihat dari si pelayan yang tadi bikin kami menunggu. Dua bapak berpawakan tinggi kurus dan berpawakan sedang, berpakaian rapi, baju dimasukkan, sisiran rapi  standby di meja layan makanan. Hahaha.Salah satunya berbekal gunting ditangan, memotong cekatan daging ayam. Cethak cethek cethak cethek lincah sekali . Lalu sambil melihat kearah kami salah satunya berkata “doble ya Om?” suami saya mengangguk. Saat jatah suami saya datang, naluri kuliner saya segera meneliti konten si Nasi Opor. Suami yang tanggap dengan rasa lapar sayapun mengalah “Umi duluan deh” hihihi lalu si pelayan Tanya lagi “ibunya juga dobel?” saya main angguk aja. Hmmm… maksudnya dobel tuh porsinya. Kalo ‘single’ emang agak sedikit.

Langsung saya menemukan hal unik soal tampilannya. Opor sunggingan ini terdiri dari nasi gurih pulen (tapi gak terlalu gurih), tahu potong kecil-kecil yang lebih mirip dibumbu kecap agak pedas, daging ayam, dan kuah opor diatasnya. Nah, mungkin ini yang bikin khas dan unik : dagingnya yang dipanggang. Lho??

Iyya, jadi pembaca  –izinkan saya sok tau dan sok bergaya pak Bondan atau presenter kuliner di tipi-tipi yang sok-sok ‘menikmati’ suapannya- menurut saya ini ayam kampungnya di bumbu opor dulu sampai empuk dan meresap ( seumur-umur saya ke Kudus, TIDAK PERNAH saya bertemu dengan masakan ayam yang pake ayam boiler, kata ibu mertua saya disini hamper gak ada ayam potong, jarang. Pantees suami saya agak ilfil karena di Solo kebalikannya : ayam kampung harus pesan). 

Naaaah si daging ayam yang udah dimasak empuk  itu kemudian dibakar sodar-sodara, lalu saat dihidangkan diatas nasi, dipotong kecil-kecil pake gunting  (biar cepet kali ya), lalu diguyur kuah opornya yang warnanya putih bukan kuning, rasanya murni gurih. Masakan ini gak manis, jadi emang sip bagi yang gak begitu suka manis. Rasa manis diambil dari tahu masak kecap tadi. Lalu, seperti makan lentog (ini kapan-kapan ya liputannya) dimakan sambil nyeplus lombok rawit ijo yang udah dikukus/rebus. Jadi gak pake sambel. Oiyaaa satu lagi : dimakannya pake suru (sendok dari daun pisang yang dilipat) tapi saya pake sendok ajalah sambil nyuapin si kecil. Perpaduan ayam panggang dan kuah opor itu yang bikin unik kali ya. Sedikit ngelantur, kok saya jadi inget pernah bikin ayam taliwang yang dioles bumbu santan, kemiri, terasi tapi udah dicampur sambal pedas lalu dibakar. Hmmmm. Kok cepat sekali ya habisnya hiihi maklum sudah nahan lapar.

Alhamdulillah, sarapan yang lumayan lezat, plus dapat bahan postingan untuk blog. Oh yaa untuk harga, nasi opor ini dihargai sekitar Rp.8000 – Rp.15.000 tergantung porsinya tadi, doble atau single J.Diperjalanan pulang, saya bertemu dengan warung pinggir jalan yang membuat ‘spanduk’ Nasi Opor Ayam Panggang. Hehehe saya nyeletuk pada suami “Tuh bi, bener kan udah ada kompetitor-nya sunggingan mungkin dengan harga kaki lima. Opor Ayam panggang “.  Sayapun begitu , sudah niat nyoba juga dirumah. Begitulah traveling note saya di Kudus pekan ini. Jika berkesempatan ke kota Kretek, silakan mampir di Jalan Nitisemito no 9-12. Mungkin bisa jadi alternatif sarapan selain lentog dan soto Kudus. Salam Inspiratif!