Rabu, 08 Juni 2011

Memaknai Taushiyah Terakhir Ibunda Kita : “…we must Keep The Mission ON !

Hari itu, rasa hati masih berdesir-desir sedih saat suami saya memperlihatkan  taushiyah terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh (allahu yarhamha) via video streaming yang direkam pada 17 mei 2011,3hari sebelum beliau wafat. Seperti biasa, wajah penuh semangat dan senyuman khas itu membuat saya terugu didepan layar PC saya. Membuat pena yang saya gerakkan untuk merangkum taushiyahnya, tertetesi air mata yang entah mengapa sampai hari ini masih sering merembes, meski hanya sekedar melihat foto atau membaca tulisan-tulisan tentang beliau. Mungkin memang karena saya ini sangat mudah menangis, cengeng ya!
Saya pribadi pernah dibuatnya terkagum-kagum dan GR saat dipertemuan terakhir dengan beliau-saat pemakaman almh. Istri pertama Ustadz Hidayat Nurwahid, di Klaten- beliau masih mengingat saya dengan sangat akrab,padahal saat itu sudah berjarak dua tahun kami bertemu disebuah seminar, entah saya lupa, sepertinya saya pernah bersms dengan beliau untuk sebuah acara dan penulisan. “Robi’ah , ya Dari Solo?Apa buku terbarunya, Robi’ah? Terus menulis ya Robi’ah…” Sungguh, saya menemukan sosok perempuan sibuk yang tetap care, padahal, siapalah saya dibandingkan ribuan orang yang ditemuinya?Dan sapaan tulus itu masih saya ingat benar intonasinya, jabat erat tangan beliau, ah…
Hari ini, saya ingin menulis tentangnya lagi. Sosok yang mendesirkan hati saya, menggugah saya setiap saya hendak bermalasan.Saya pun tidak akan menulis lengkap isi taushiyah terakhir itu karena semua orang dapat melihatnya dan mendengarnya . Tapi izinkan saya mengutip beberapa poin yang mungkin dapat menjadi sedikit rangkuman melalui tulisan ini.dan sekali lagi, maafkan saya, anak bawang dalam barisan ini jika salah memaknai dan merenungi taushiyah yang membuat saya tak bisa berhenti memikirkannya sejak mendengarnya hingga hari ini.
1.       Bahwa Dakwah ini Berisi SUKA dan DUKA
Ibunda kami mengingatkan bahwa dakwah ini pasti ada suka dan duka. Sukanya insya Allah lebih banyak. Dan apapun yang kita alami bersama dakwah ini (suka dan duka itu) maka ‘argonya’ tetap jalan, begitu kata beliau. Sungguh, ini sebuah keyakinan tentang jalan hidup yang teguh. Bahwa dakwah semestinya menjadi nafas dari kita, para kader dakwah dan dengan menyadari itu, maka kita tidak pernah putus asa saat dakwah ini diterpa guncangan dan tidak pula cepat puas dan jumawa saat kemudahan ada didepan kita.Begitu mungkin hikmah yang bisa saya maknai. Seorang kader dakwah tidak mudah berputar haluan saat dakwah ini menempatkannya dalam suka, maupun duka.
2.       Bahwa Kita Harus Berdakwah dengan Menghargai Sunnatullah
Dalam taushiyahnya, Ustadzah Yoyoh menyampaikan bahwa dalam berdakwah kita harus tetap mempertimbangkan sunnatullah yang ada pada objek dakwah. Sunnatullah disini maksudnya adalah kondisi dimana setiap orang berbeda. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang senior,ada yang yunior.
Maka hendaklah seorang kader dakwah menghargai sunatullah itu. Berdakwah dengan kepekaan terhadap keadaan objek dakwah, adalah kecerdasan tersendiri menurut saya. Beliau sampaikan bahwa kita harus menghormati yang tua, menyayangi yang muda, kaya dan miskin mendapat apresiasi yang positif,karena kita akan berhadapan dengan banyak orang dan keadaannya. begitu kira-kira. Semoga kita menjadi kader dakwah yang luwes dan tawadhu’, ya!

3.       Bahwa Kita Harus Meningkatkan Integritas Pribadi Sebagai Seorang Muslim
Menarik poin ini. Mengemban dakwah bukan sebuah pekerjaan tanpa bukti nyata. Ustadazh Yoyoh mengingatkan kita, yang Allah perkenankan menjadi bagian dari kader dakwah ini untuk menjaga integritas pribadi kita sebagai seorang muslim. Sederhana contoh yang beliau berikan.Seingat saya ada dua hal .Jika kita berjanji pada orang lain kita harus berusaha menepatinya, jika kita mendapatkan sesuatu kebaikan dari orang lain kita berupaya/berusaha untuk membalasnya.
Ikhwah…sungguh sebuah taushiyah yang harus kita perhatikan. Dakwah dengan wajihah partai politik dan memasuki birokrasi tentulah berdekatan sekali dengan janji, sikap dan komitmen. Taushiyah beliau semoga menjadikan kita ingat bahwa kita adalah kader dakwah yang bukan sekedar actor politis.integritas seorang muslim, ya, ya, mungkin ini menjadi penyentil diri kita untuk ‘risih’ saat kata tak sejalan dengan amal,semoga

4.       Bahwa  “if we are realize that we are on mission, we must keep the mission on”
Kalimat ini yang akhirnya saya camkan dalam benak saya. Pantas saja ibunda kita ini tak pernah kehabisan semangat.Pantas saja hidupnya begitu produktif baik kapasitasnya sebagai istri, ibu, anggota DPR RI, kader dakwah.Subhanallah
Kuncinya adalah ON MISSION dan menjaga Misi tetap ON. Sebagai apapun, dimanapun kata beliau, kita harus tetap on mission. Di birokrasi, pemerintahan, sebagai professional, kita mengemban misi (dakwah) itu

Ikhwah, sungguh saya terhentak dengan poin ini. Mari kita rasakan, sejauh mana kita merasa bahwa kita seorang pembawa misi dakwah?Sikap sadar terhadap misi dan menjaga agar misi itu tetap ‘on’ adalah sebuah kesiagaan yang luarbiasa. Saya merasakan kalimat ini sebagai sebuah kalimat afirmasi yang kokoh. Pantas saja, beliau memiliki ketangguhan dan tekad yang kuat.Orang-orang yang selalu siap dengan misi dakwahnya tak pernah berhenti berpikir untuk dakwah. Waktunya,keluarganya, hidupnya, matinya diwakafkan untuk misi itu. Sekali lagi, pantas saja, beliau menjadi ‘ghuraba’ , orang yang langka.

Sungguh, almarhumah bunda kita itu Perempuan pembelajar dan pemberi semangat yang konsisten. Sikap on mission ini pula yang akan melahirkan kreatifitas-kreatifitas dakwah yang cerdas dan mencerahkan. Sikap on mission ini akan membangunkan kemalasan dan kemanjaan serta sikap terlalu mengasihani diri sendiri.

Subhanallah, semoga dengan memaknai taushiyah itu sebagai ‘wasiat’ beliau pada para kader dakwah, kita dapat terus menjaga stamina pergerakan kita. Sehingga, jika kita telah bersungguh-sungguh dengan jalan ini, surge adalah tempat berkumpul yang aling kita nantikan. Seperti beliau menutup taushiyah terakhirnya itu seolah berpamitan “Insya Allah kita bertemu di surga narookum fil jannah (kami melihat kalian di surga). Salam rindu, ustadzah…

1 komentar: