Selasa, 21 Desember 2010

Revitalisasi Peran- Peran Keibuan: Sebuah Kontemplasi Hari Ibu




kasih Ibu, kepada beta 
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi takharap kembali
bagai sang surya menyinari dunia

Rasanya sendu menyanyikan lagu itu.Dalam dan penuh ketulusan. Kita yang kini berdiri sebagai orang-orang dewasa dan telah memegang peran apapun di kehidupan ini takkan pernah lupa pada sosok ibu. Pewarisan siakp, moral, karakter, kecerdasan seorang ibu melekat pada diri kita semua. Tak ayal bahwa pengasuhan seorang ibulah yang akan benar-benar terpatri dalam jiwa kank-kanak kita hingga kini. dahsyatnya, kita pun terus akan meniru model-model pengasuhan ibu kita pada anak-anak kita. Disinilah proses kontemplasi dan evaluasi terhadap pola pengasuhan ibu kita dimasa lalu layak kita mulai. 

Hari ini banyak sekali problematika anak dan remaja mendera masyarakat kita. Anak- anak dan remaja duduk sebagai pelaku ataupun korban kekerasan, kejahatan, pelecehan seksual, pergaulan bebas dan sederet problem kategori kenakalan remaja dan anak. Solusi dengan penegakan hukum, himbauan-himbauan dan penyuluhan di sekolah-sekolah ternyata tak terlalu mempan mengatasi problematikan mereka. Alih-alih menyelesaikan masalah, para remaja seolah mencibir upaya-upaya formalitas bertajuk penyuluhan dan pendampingan oleh banyak pihak itu. Lalu apa yang mungkin terabaikan? 

Mungkin, ada spirit yang terlupa bahwa ikatan batin (bonding) anak-anak kita ada orangtuanya menjadi fitrah tak tergantikan. Padahal, bukan rahasia jika kini ikatan batin itu merenggang. Dahulu, mungkin kita masih mengalami para orangtua kita yang dengan kesedrhanaan mereka memberikan dekap dan geguritan penuh filosofis tentang harapan mereka. Lantunan syahdu ibu kita dalam gendongan tradisional dan elusan para ayah diatas kepala anak-anaknya menjadi sinyal dan investasi kenangan yang hingga kini desirnya masih kita rasakan. 

Kapitalisme dan Peran-Peran Keibuan yang Tergantikan
Modernitas dan kehidupan yang serba parkatis seolah tak mau berkompromi . Sebut saja, sejak bayi lahir, para ibu tak lagi dipusingkan dengan harus menyusui bayinya. Kampanye bahwa ASI ekslusif  memberi selaksa manfaat ternyata tak sepenuhnya diperjuangkan oleh para ibu muda. Banyak diantara mereka menyerah dengan alasan air susu yang tidak lancar, bekerja dan banyak lagi. Lalu serta merta mereka gantikan peran-peran menyusui dengan susu formula bahkan sejak bayi lahirpun banyak oknum bidan dan dokter berlomba menawarkan susu formula dagangan mereka.

Demikian pula rutinitas mengganti popok yang dahulu dilakukan ibu-ibu kita untuk bangun tengah malam, mengalahkan kantuk dan menimang anak-anaknya yang menangis karena mengompol sambil mengelus dan mendoakan kini tergantikan oleh diapers yang tahan sampai beberapa kali basahan. Diapers bukan lagi digunakan pada ’saat-saat darurat’ namun digunakan hampir disetiap hari dan berjam-jam anak-anak balita  sehingga jangan salahkan anak kita jika ia tak lagi teratur dan mahir mengendalikan hasrat buang air kecilnya. Makanan-makanan bayi dan balita kita? Dengan enteng diserahkan pada berbagai produk susu dan makanan instan dari yang ’biasa’ hingga yang –katanya- mampu menggantikan makanan padat. Jadi, janagan salahakan anak yang enggan makan karena terbiasa kenyang susu dan ogah mengunyah makanannya. padahal, dahulu ibu kita sangat bersemangat mengetim sendiri  nasi untuk kita, menghaluskan semua makanan bergizi untuk kita.

Belum cukup, kini banyak para ayah dan ibu bekerja dan menyerahkan pengasuhan anak-anak pada pembantu, embah,  bahkan pada channel Teve. Atau kalaupun diasuh oleh ibunya sendiri, maka ibu-ibu mereka enggan mencari ilmu pengasuhan yang benar. Ya,ya,ya. dengan alasan ’yang penting kualitas pertemuan’ maka anak-anak jarang bertemu orangtuanya. Maka, jangan salahkan jika disekolah dan dimana mereka berada, masalah selalu timbul darinya. Dari bicara tak sesuai usia, menyanyikan lagu dewasa, hingga melakukan kekerasan kecil-kecilan hingga kriminal yang mencengangkan. 

Peran-peran keibuan yang tergantikan itu mungkin yang tak bisa diseminarkan. Pelukan dan segala macam naluri keibuan itu harus dimunculkan kembali. Jika mungkin telah terlanjur, mungkin hari ini kita bisa kembali ’mencobanya’. Mengganti popok anak-anak kita, mencuci kotorannya, meninabobokkannya hingga memasakkan snediri makanan mereka. Ya, mari kita tumbuhkan lagi naluri keibuan itu di hati kita. Menghayatinya dan ikhlas menjalankannya. Semua itu agar jadi kenangan indah dihati mereka serta kita pantas mendapatkan do’a dari anak-anak kita hingga ke surga. Selamat Hari Ibu!












Jumat, 17 Desember 2010

JUJUL (UANG KEMBALIAN)


Darimana karakter korupsi tercipta? Dari sebuah keterbiasaan mengambil yang sedikit. Aku ingin berbagi cerita, semoga bisa menginspirasi.

Adalah kami sekeluarga-terutama suamiku- adalah penggemar pisang goreng. Tak ayal, setiap pisng goreng yang kami temui akan kami beli. Di sebuah warung hik tak seberapa jauh dari rumah kami ada seorang penjual pisang goreng yang menjadi langganan suamiku. Pisang gorengnya enak. Disinilah persoalan bermula. Setiap kami membeli pisang goreng delapan buah, dan membayar dengan uang limaribuan maka kami tidak menerima uang kembalian sebesar Rp.200,- padahal, pernah kami sengaja membeli 9  pisang goreng, harganya Rp.5600,-. Kesimpulannya, pisang goreng tersebut sebnarnya seharga 600/buah. Ya, ya,ya.... penjual pisang itu merasa kami paling juga ’mengikhlaskan’ uang kembalian 200 rupiah itu. Sepele bukan?

Cerita kedua. Hari ketiga lebaran kemarin saya dan suami pergi ke Toko Rabbani Kudus (ketauan deh beli baju )hehe. Nah, pas udah di kasir, uang kembalian kami ternyata masih 200 rupiah dan di kasir gak ada recehan. Dan dengan rama petugas kasir berkata,
”Ibu, maaf, kami tidak ada uang kembalian 200 rupiah, kalau bapak ibu ada recehan 800 rupiah bisa kami kembalikan seribu, tapi jika tidak ada, mungkin kami mohon keikhlasan untuk uang kembalian bisa masuk kotak infak ini...” kami pun tersenyum. Sebuah pelayanan dan permintaan maaf yang manis. Bukan karena tidak mau berinfak, tapi ternyata ada uang 800 rupiah hehe dan uang kamipun kembali dengan..seribu rupiah

Cerita ketiga. Seorang kakak kelas saya di kampus dahulu bertandang kerumah pada suatu pagi. Dia sedang menjalankan tugas sebagai staff Depkumham untuk acara pembahasan RPP Kawasan ekonomi khusus disebuah hotel. Menjelang pulang, kakak tingkat saya memborong buku-buku parenting dagangan saya. Itung-itung harga total plus diskon Rp.240.000 dengan menyodorkan uang sebanyak Rp.250.000. Saat saya mau mengambilkan uang kembalian, begini katanya:

”Udahlah Vid, gak usah kamu kemabliin. Malu saya nerima uang Rp.10000,-.. hehe” Glek!Malu? saya tau dia polos dan tulus.Mungkin maksudnya buat bonus saya hihi
” Malu mbak? wah mbak, jangan merusak mental dagangku dong. hhehe. 10.000 itu besar mbak bagi banyak orang. Kau aja ngumpul-ngumpulin lho mbak. Tau nggak mbak, dari hal-hal kecil itu sebuah mental jadi rusak. (sayapun menceritakan kisah pisang goreng). Uang kembalian itu cerminan mental mbak. mentalku bisa jadi njagakne/ ngarep lho kalo ntar ada orang yang uang kembaliannya 2000, 3000, 5000. Rusaklah mentalku mbak haha” kakak tingkat saya tadi tercenung
”Wah, aku jadi tersadar banget Vid. Iya ya, aku dulu pernah juga ditegur begini sam atemanku. Kalu masalah ngasih laen lagi, tapi kalo emang kembalian ya diterima aja.”
“Betul, karena ntar sama pembeli lain akan begitu. yah itu kasu penjual pisang goreng.hhehe” termasuk suka kasih kembalian permen, gak bagus tuh batinku.

Begitulah. tiga cerita itu mungkin mewakili tema tulisan ini. Bahwa dari hal-hal kecil, sebuah karakter bermula.  Rasa kasihan tidak selamanya bisa mendidik, termasuk juga ’merelakan’ kembalian tidak selamanya baik. Justru darisana akan timbul mentalitas ’njagakne’ atau mengharap-harap. Sering bukan kita menjumpai saat kita hanya butuh membeli satu barang, hanya karena si penjual tidak punya kembalian dia bilang ”sekalian aja ya mbak? ” padahal boleh jadi kita tidak membutuhkannya. Hmm.... korupsi kecil-kecilan lewat uang kembalian mestinya menjadi sebuah ’keberanian’ kita untuk memulai. Jika memang kita tidak merasa perlu merelakannya, ya terima saja kembalian meskipun hanya seratus rupiah. sebab betapa banyak orang yang untuk mencari seratus rupiah itu mereka harus berpanas-panas bekerja (bekerja lho ya, bukan mennengadahkan tangan padahal masih sehat bugar hehe). Semoga ada ibrahnya. Silakan komentar, semoga dari komentar panjenengan (anda) banyak inspirasi tercipta!

MUNDUR ISIN

Ini istilah bahasa Jawa yang populer. Untuk  seseorang yang terlanjur melakukan kesalahan  tapi enggan untuk mengakui kebenaran yang datang . Banyak sebab, mungkin gengsi, tengsin atau emang jengah dan malu.

Saya senang sekali dengan istilah ini heehe. Saya pernah mengalaminya kok, meskipun mungkin tidak sengaja, tapi malu mengakui kesalahan dan memperbaikinya termasuk dalam kategori ini. Sayapun sering kali melihat karakter ini disekitar kita. Orangtua yang mundur isin lalu memarahi anaknya, pengendara yang nyelonong nyebrang dan mundur isin kemudian pasang tampang  sok sangar, atau pura-pura cuek, guru yang mundur isin lalu menghukum muridnya, 

Mungkin istilah yang hampir mirip adalah buruk muka cermin dibelah kali ya. Kita perlu menghindari karakter buruk ini karena dia adalah awal mula dari sikap tidak ksatria,  lelamisan (bahasa indonesia: menjilat). Karakter mundur isin yang dipelihara akan melahirkan sikap-sikap tidak simpati lain diantaranya tidak berani menghadapi resiko dan gemar menyalahkan orang lain /keadaan.

Lalu, bagaimana terapinya? Membiasakan meminta maaf dan mengakui kesalahan adalah sikap bijak agar kita tak terjebak dengan karakter buru ini. Sejak dini tanamkan bahwa seseorang yang melakukan kesalahan adalah biasa namun seseorang yang tidak mau mengakui kesalahan apalagi melemparkan kesalahan pada oranglain itu lebih memalukan. Mari berkaca diri, semoga karakter ini tidak kita miliki atau segera kita enyahkan jika bibit-bibitnya mulai muncul  Salam inspiratif!

Minggu, 28 November 2010

Menjadi Perempuan Hebat dengan Ber- Internet Sehat



      Perkenalan saya dengan internet bermula saat masih kuliah. Masih lugu. Sekedar punya e-mail, chat, dan sedikit-sedikit mengirimkan tulisan ke website-website majalah online. Termasuk juga browsing untuk keperluan skripsi dan menulis buku pertamaku. Setelah menikah dan memiliki satu putri  intensitas saya ke warnet lebih sering. Maklum long distance love kami jalani saat itu. Suami yang menempuh kuliah di Sudan membuat  kami punya jadwal nge –date untuk chatting. Sederhananya, saya bersyukur teknologi internet bisa saya kenal. Setelah kami berkumpul kembali di akhir  tahun 2006 dan mulai mengontrak rumah kecil dipinggiran kota kami, internet mulai menjadi kebutuhan.

Pekerjaan saya  dan suami sebagai penulis serta hobby gadget suami menjadikan kami memutuskan mengakses internet dan hingga kini kami sudah memasang speedy dirumah. Jujur, saya sangat terbantu dengan fasilitas ini. Pilihan saya untuk tidak bekerja diluar rumah dan menunda kuliah lagi  sampai anak-anak kami berusia diatas lima tahun membuat saya berkomitmen untuk menjadikan rumah kami menjadi home office. Saya menulis, menjalankan aktivitas di rintisan LSM dan rumah baca kami, mengasuh anak-anak dan sesekali memenuhi undangan bedah buku serta mengisi training atau kajian. Tentu saja semua membutuhkan wawasan yang up to date.
Beruntung saya memiliki pasangan hidup yang berwawasan, tidak gaptek (hehee) dan sangat akomodatif terhadap semua  cita-cita saya. Dukungan beliau diwujudkan dengan memberikan fasilitas internet 24 jam dirumah kami. Berinternet sehat menjadi aktifitas kami sehai-hari. Kini dengan belajar dari suami saya bisa mengelola blog, memanfaatkan facebook dan twitter, mengakses informasi dari berbagai website.

      Tentu saja, saya menyadari bahwa teknologi bernama internet itu sangat mudah pula membuat penggunanya menilik hal-hal berbau porno atau tidak bermanfaat.Tapi itulah teknologi, itulah alat, itulah dunia. Selalu ada dua sisi yang memberikan kita pilihan. Baik buruk, manfaat – mudhorot. Dan kita punya hati dan pikiran untuk menyaringnya. Kampanye berinternet sehat menjadi salah satu cara kita berupaya mengajak para pengguna internet agar memanfaatkan teknologi ini dengan lebih bijak dan penuh manfaat. Sebagai perempuan khususnya, saya banyak mengambil manfaat dari interaksi dan ’persahabatan’ saya dengan internet sehat agar saya belajar jadi ’perempuan hebat’ hehe. Setidaknya ada empat hal yang ingin saya bagi, semoga menginspirasi:

Satu : Internet Sehat Meluaskan Wawasan Perempuan         


Suatu hari, saya dan suami menunggu pemberangkatan bus ke kota Kudus, saat itu seorang loper koran menjajakan dagangannya. Saat melewati kami berdua maka ia menyodorkan koran ’serius’ dan harian nasional pada suami saya, dan pada saya? Ia menyodorkan beberapa harian dan tabloid gosip.Saya sempat tersinggung tapi kemudian saya tersenyum kecil, mungkin memang itulah imej kita, kaum perempuan secara umum : suka berita gosip, fashion, gak suka berita yang ’berat-berat’. hehee.Mungkin.

         Begitupun dalam era internet saat ini. Mungkin masih jarang kaum perempuan memanfaatkan si mesin pencari ’mbah Google’ untuk meluaskan wawasan atau semoga saja internet bukan hanya dimanfaatkan untuk pengisi senggang. Perempuan hebat dalam cita-cita saya adalah perempuan yang mampu memanfaatkan teknologi untuk keluasan wawasannya. Bayangkan saat ini tidak ada satu informasi pun yang tidak terakses. Jika kita mampu meluaskan cakrawala wawasan kita, apalagi kita yang beruntung telah mengenal teknologi ini, maka setiap hari adalah waktu-waktu belajar yang menyenangkan. Kita-perempuan- dengan segala peran dan potensi kita akan memiliki wawasan yang selalu bertambah dan akan membuat kita mampu mengikuti segala kemajuan zaman.

 Dua : Internet Sehat Meluweskan Pergaulan dan Menambah Jaringan
Luas dalam wawasan harus didukung dengan luwes dalam pergaulan. Tidak lagi dinafikan bahwa jejaring sosial seperti facebook dan twitter membuat seseorang mampu melipatgandakan jaringan pertemanan.
            Saya sendiri sangat mensyukuri ini. Dengan facebook saya menemukan teman-teman lama saya, pembaca buku-buku saya, bergaul dan berkenalan denganteman-teman baru orang-orang yang secara jarak  mungkin saya belum tentu bisa bertemu. Sikap luwes dan ’apa adanya’ juga saya terapkan meskipun hanya didunia maya. Namun saya yakin saat kita mampu mengelola interaksi dengan para sahabat kita di jejaring sosial, bersikap jujur dan apa adanya, maka persahabatan itu dapat terjalin seolah-olah kita sudah lama mengenal. Jaringan itulah yang dapat kita menfaatkan untuk menawarkan usaha, menangkap peluang bisnis dan bahkan dapat saling memberikan informasi yang dibutuhkan oleh para sahabat kita. Bergabung dengan grup-grup minat, bisnis, blog walking, dan sekedar berkomentar yang santun dan positif dapat menjadikan kita sahabat untuk teman-teman kita

Tiga : Internet Sehat Membuat kita Kreatif dan Sehat

Teman saya pernah berkomentar , ” Alamak, sekarang mau bikin sambal bajak acar pake nyari di internet” Haha sekilas selorohan teman saya itu bernada menyindir tapi saya menangkap sisi lain bahwa betapa mudah hidup ini.  Bagi saya sendiri, untuk menjadi istri, isbu dan kelak nenek harus memiliki wawasan yang luas dan inovasi kreatif.

Perempuan hebat mampu memanfaatkan teknologi dan memberdayakan potensi akalnya untuk kreatif. Berinternet sehat membantu untuk itu. Saya memanfaatkan sebaik-baiknya segala macam informasi mulai dari resep masakan,tips  mendekorasi ruangan, membuat makanan bayi sendiri, membuat berbagai kerajinan tangan, berolahraga praktis dirumah, sampai tips cara menjahit pakaian. Saya jadi lebih kreatif dan bersemangat menerapkan hal-hal baru. Bayangkan, sekali duduk saya mendapatkan beragam informasi yang bisa saya terapkan dan saya modifikasi tiap pekan.

Bagi fulltime mom seperti saya, berinternet sehat membantu saya belajar hidup lebih sehat. Anak-anak saya pun saya libatkan dalam mencari informasi. Sering putri sulung saya bercerita pada temannya ”Umiku kan belajar dari internet, kata umiku kita bisa tambah kreatif dan pintar” .Ya,ya,ya... sekali lagi, teknologi dan informasi adalah ’bahan makanan’ yang bisa kita olah menjadi masakan yang lezat dan bergizi.

Empat :. Menjadi Pribadi  Bermanfaat dengan Internet Sehat

Saya selalu salut dengan orang-orang yang sangat rajin dan profesional mengelola blog atau website-website yang bermanfaat. Blog-blog dan  website-website bermutu itu dikunjungi ratusan bahkan ribuan orang tiap hari. Dengan logika akal , tentu dia memberi banyak manfaat dengan tulisan dan pemikirannya, dengan logika yang lebih agamis, jika si pembuat blog dan website atau catatan-catatan di facebook itu bermanfaat dan diamalkan banyak orang dan meniatkannya untuk itu, berapa banyak pahala amal jariyah yang mereka dapat?

Jujur, itulah yang menginspirasi saya untuk lebih giat menulis catatan-catatan, bertekad lebih sungguh-sungguh mengelola blog saya tentang dunia perempuan dan pengasuhan anak, dan menjadikannya sebagai lahan amal sholeh. Bukankan sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat untuk orang lain? Bukankah setiap amal kita dapat menjadi sedekah yang menjadi pemberat timbangan di hari akhir? Saya banyak belajar dari orang-orang inspiratif yang saya temui melalui facebook, blog dan pertemanan di dunia maya. Saya yakin mereka adalah orang-orang berdedikasi yang mau membagi ilmunya. Ya! Berinternet sehat memberi kita peluang untuk lebih bermanfaat dengan ilmu kita, dengan profesi kita, dengan ketrampilan kita. Perempuan hebat tentu akan mengambil peluang itu: menebar benih manfaat untuk semua orang, disemua tempat.

Akhirnya, mari kita manfaatkan segala kemudahan yang dianugerahkan Allah pada kita. Kita manfaatkan teknologi sebagai bentuk kemudahan itu untuk menjadi ’sahabat’ kita dalam mencapai kebaikan-kebaikan yang bermanfaat untuk diri kita, orang-orang disekitar kita dan untuk dunia akherat kita. Selamat berinternet sehat, sahabat!     

Kamis, 25 November 2010

Sebulan Tanpa ‘Budhe’: Rupa-rupa Hikmah


            Sudah sebulan  ini kami tidak lagi memakai asisten rumahtangga (prt, khadimat, etc). Kami biasa memanggilnya ‘budhe’. Keputusan yang lumayan perlu adaptasai setelah selama satu setengah tahun ini bersama beliau. Banyak kebaikan dan loyalitas beliau yang masih selalu saya ingat. Tapi memang, ada beberapa hal prinsip yang akhirnya membuat saya sedikit terpaksa memberhentikannya. Selain karena SWOT saya atas manfaat dan mudhorotnya ternyata tidak lagi imbang, saya juga merasa hubungannya dengan anak-anak sudah tidak lagi sehat, plus keluhan sakit yang sering ia lontarkan secara ‘halus’ dan sering pula ia seolah menolak jika harus berhenti secara sukarela padahal saya sering merasa beliau tak lagi nyaman ( mungkin dalam 6 tahun pernikahan saya ganti khadimah 5 kali, jadi udah hafal tanda-tanda mereka udah gak tune in) hehe. Jadi sedikit curhat nih critanya. Well, pun begitu saya benar-benar seolah terlahir kembali.

Ya,ya,aya memang capek karena pekerjaan istri dan ibu itu 24 jam. Tapi sepenggal inspirasi dari seorang sahabat saya yang juga penulis, Jazimah al-Muhyi membuat saya merasa mampu menjalani ini. Apakah saya sesabar Fatimah Az-zahra yang meminta Rasulullah memberinya khadimah? Belum. Saya masih sesekali bersuara tinggi saat anak-anak benar-benar tak lagi bisa ditegur  dengan nada do re mi fa sol ( sebutan saya untuk ‘tahapan’ nada suara menegur anak-anak, agar tidak segera marah). Bahkan saat ayahanda saya tau saya tak lagi punya khadimat, beliau berkata : “Allah ingin kamu jadi ibu yang sebenarnya”. Subhanallah . Begitupun komentar suami saya, “Umi akan lebih mantap menyampaikan kajian-kajian parenting dan kerumahtanggan, kemuslimahan. Umi akan lihat hasil didikan umi yang sebenarnya ya saat kita tidak ada pembantu. Tapi kalau umi mau tetap cari, silakan.Abi Cuma tidak ingin umi kecapekan dan akhirnya mempengaruhi emosi. hehe” Subhanallah, saya pun akhirnya memilih tidak pake dulu kecuali mungkin sesekali memanggil pocokan ( khadimat paru waktu yang tidak tiap hari) untuk membantu membersihan rumah total atau menyetrika. Dan beberapa hikmah itu ingin saya bagi disini, boleh ya?!

Satu : Saya menjadi satu-satunya ‘model’ untuk anak-anak saya
Ya, ya.. saya merasa 1,5 tahun ini anak-anak sering mengadopsi beberapa akhlak yang kurang pas dari si ‘budhe’. Memang, saya juga bukan manusia sempurna. Namun target-target pengasuhan anak yang saya harapkan sepertinya mulai jauh. Mereka mulai sering bicara keras, ogah minta maaf (krena kata pengasuhnya: udah, gak perlu minta maaf udah dimaafin, walah. Atau: ah kalian banyak omong , saat anak-anak bercerita atau mengemukakan pendapat )Hff.. dengan menghandle sendiri anak-anak, setidaknya saya tidak lagi bisa mencari kambing hitam atas prilaku buruk anak-anak. Saya pun berusaha dan terus belajar agar saya menjadi ‘model’ dan contoh yang baik. Anak- anak juga mulai bisa kembali pada aturan main. Memang masih harus terus dilatih, tapi setidaknya saya merasa lebih hati-hati dengan ucapan dan prilaku saya, Insya Allah, amin.

Dua : Saya Belajar memberdayakan anak-anak saya

Salah satu yang saya yakini dari sebuah proses mendidik adalah menjadikan anak-anak kita mampu memberdayakan dirinya dan terampil dalam lingkungan. Tanpa asisten rumahtangga saya menjadi belajar memaknai kehadiran mereka yang luar biasa. Saat kesadaran bahwa mereka adalah-anak yang luar biasa dan hebat itu kita tularkan pada mereka, kita ungkapkan, maka kita dapati mereka menjadi anak-anak yang siap membantu dan dengan senang hati mengerjakan tugas-tugas sederhana. Pemberian tanggung jawab itu yang menjadikan mereka merasa seperti ‘orang dewasa’.

            Saya masih ingat sejenak setelah pengasuhnya berhenti dan saya katakan ” Kita sudah tidak punya pembantu, budhe istirahat. Jadi...umi akan kerjakan sendiri semua pekerjaan rumah...” Eee.si sulung tiba-tiba nyeletuk

” Umi... pembantunya Umi ya anak-anaknya ini.Aku bisa bantu umi gantiin celana adek kan kalo ngompol” saya langsung terharu! Saya tidak menyangka kalimat itu muncul dari anak yang hampir lima tahun. Spontan kami bertiga (Saya, Maura dan Salma) berpelukan. Dan kamipun mengucapkan password kesukaan kami : karena kita bersaaatuuuu. Indah. Lagi-lagi ini pun perlu pembiasaan. anak-anak hanya perlu dijaga moodnya, dipuji kelebihannya, dipercayai, maka kita akan dapatkan ketaatan mereka. Suami saya sering mengingatkan saya tentang hal itu saat saya mulai jenuh dan bahkan sudah mulai bernada tinggi.hehe

Tiga :Saya Belajar Memenej Waktu
Ini yang bener-benar membuat saya kadang terengah-engah. Hihihi. Jujur, saya bukan tipikal orang yang runtut dalam mengerjakan sesuatu. Tapi subhanallah... tanpa khadimat saya jadi punya radar bahwa saatnya ini, saatnya itu, jangan menunda, jangan menumpuk pekerjaan. Maka sayapun memanfaatkan segala teknologi untuk menimba ilmu memenej waktu. Dari tulisan-tulisan teman, dari web, dari tanya-tanya. Hasilnya lumayan meskipun kadang masih ada yang tertunda terutama setrikaan dan kadang memasak juga agak keteteran karena si Farwah udah mulai butuh pengawasan serius  kalau tidak mau dia merayap sampai kamar mandi! haha. Begitupun belanja yang sebelumnya bisa diantar suami ke pasar tiga hari sekali dengan meninggalkan anak dirumah, kini saya harus terbiasa belanja seadanya di warung terdekat dan membawa bayi saya sekalian jalan pagi .sesuatu yang sejak lama jarang saya lakukan,

 Saya pun harus rela bangun lebih pagi agar lebih bisa melakukan banyak hal. Atau tidur malam lebih awal dengan mengeloni dan membacakan cerita untuk  anak-anak kemudian bangun lagi dan mengerjakan beberapa pekerjaan (terutama beberes  dan ngepel agar esok pagi lantai rumah siap lagi jadi arena bermain ). Saya belum begitu berhasil tapi setidaknya saya mulai bisa menghargai waktu untuk lebih produktif.

 Empat :. Saya Belajar Kreatif Mengerjakan Banyak Hal

Saya sejak lama mengamati dan mensyukuri bahwa perempuan adalah makhluk hebat. Biar kata ’hanya’ diberi satu akal dan 9 perasaan hehe, tapi itu semua dapat dipergunakannya untuk melakukan banyak hal. Apalagi kalau akalnya pas ’jalan’ dan perasaannya pas sehat dan  penuh optimis, maka Perempuan dapat melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu!

Menghandle pekerjaan rumah sendiri membuat kita kreatif dan peka. Kita selalu ppunya cara untuk menyelesaikannya. Anak nangis bersamaan, saya pake cara shabat saya, Jazimah dengan meninggalkan mereka sendiri dan keluar dari arena konflik (kalo kasusnya bertengkar) lalu ngadem, ternyata mereka jadi bisa menyelesaikan maslah mereka. Saya juga jadi penuh inisiatif. Beberes ini di hari ini, bersihin dapur total dihari ini, dan semua hal kreatif ternyata dapat sedikit mengalihkan capek. Apaka saya selalu bisa? Hahaa tidak juga. Anak-anakpun jadikreatif. Ikut memotong sayur sementara saya menggoreng ikan, walaupun dengan potongan yang sebisanya, toh sangat membantu. Termasuk saya jadi kreatif membuat mainan-mainan dari barang-barang seadanya.

Lima : Saya Jadi Lebih Sering Bermain dan Berkreasi Bareng anak-anak

Saat ada pembantu, saya menetapkan pukul 9 pagi sebagai ’jam kerja  saya’ saya menulis, atau melakukan kegiatan diluar rumah. Komputer menyala dari jam 9 pagi dan kadang saya biarkan menyala karena anak-anak pulang sekolah. Bahkan saya kadang hanya bersay hello dengan bayi saya sebentar saja. Meskipun tugas memandikan dan menyuapi tetap saya. Akibatnya? Anak-anak sering bermain dengan pengasuhnya. Dan semakain lama ternyat ada efek  yang membuat hati saya tak berkenan.

Kini saya merubah jam-jam aktifitas saya. Saya turuti permintaan kak maura untuk tidak menyalakan komputer dan internet jika mereka tidak tidur atau mereka sedang sekolah. termasuk, karena Haniyya hanya sekolah 2hari sekali maka saya pun off dari komputer saat dia dirumah.

Selama sebulan ini saya banyak membari kesempatan bermain dengan anak2. Meskipun-jujur- saya pun masih sering bercuap-cuap agar mereka juga nurut aturan, membereskan mainan, dan merapikan mainan yang terdahulu sebelum pindah mainan lain.Walhasil saya jadi ‘bermain lagi’. Saya mengajari anak2 ‘engklek’, ‘ meronce’, mengajak masak, membiarkan mereka bermain semprot air, dan mengajak mereka menciptakan puisi dan mengubah lagu. Saya menemukan lagi rasa yang dulu ibu saya pernah menceritakan pada saya : “kamu akan menjadi perempuan bahagia saat melihat anak-anakmu tumbuh dalam dekapanmu. Sabarlah karena saat itu hanya sebentar”
 
Enam : Saya Sedang Belajar Untuk Ikhlas
Saya bukan orang yang bisa berbasa-basi. Siapa yang tidak merasakan capek menjadi ibu rumahtangga? saya tidak membayangkan yang masih ditambah bekerja diluar rumah. Saya bukan tipe istri dan umi yang cukup ’sabar’ dalam artian mampu menahana emosi negatif. Meskipun aku sudah dikit-dikit praktek melepaskan emosi negatif dengan lebih ’cool’ toh aku masih kadang ’iri’ mengapa suamiku dapat sejenak  terlelap sepulang kerja? huuuh. tapi sebuah ucapan suamiku yang singkat, padatm jelas dan membuatku tersipu adalah : ”umi, tidak ada yang menafikan semua pekerjaan umi. Kita sama-sama bekerja berat tiap hari.Di jalan itu punya kelelahan sendiri. Bedanya, abi tidak pernah mengeluh dengan segala tugas dan kewajiban abi sebagai suami. hehhe” Glek!

Ya,ya,ya. Saya belajar untuk memaknai keikhlasan lebih sering. Meskipun sekali lagi, saya MASIH BELAJAR. Saya hanya perlu terus menancapkan tekad bahwa Allah akan melihat segala amal kita dan kita diberi banyak

Tujuh : Saya Tidak Lagi Tertekan
Saya merasa menjadi ’new mom’ . Saat saya berinteraksi dengan khadimah saya yang terakhir ini, begitu banyak tekanan pikiran dan perasaan. Saya bebasa menentukan semua target dirumah. Seacra fisik memang capek. Tapi hati dan pikiran saya lumayan bebas. Saya bebas membuat ’acara’ dan bagaimana cara membereskan rumah. Saya tidak harus berulangkali menegur dan menahan napas (karena udah nyerah, negur berulangkali). Saya menurunkan standar saya tentang hal-hal idealis yang belum saya capai. Saya tidak lagi tertekan karena volume keras budhe yang kadang membuat anak-anak saya meniru. Pfff..intinya saya kembali menjadi ’kepala urusan rumahtangga’ di negara kedaulatan saya dan suami hihihi

Delapan : Saya Belajar Tetap Menjadi Ibu ’Aktif dan Produktif’
Saya pernah ’sesumbar’ –semoga diampuni Allah- bahwa saya tidak akan ’turun mesin’ setelah menikah dan punya anak. Artinya, meskipun tentu tidak lagi sama saat lajang, tapi saya tidak mau ketinggalan dengan aktifitas produktif. Idealisme memadukan ranah domestik dan publik membuat saya –memang- harus rela bangun lebih awal dan tidur lebih sedikit. Saya menancapkan azzam(tekad) bahwa saya harus tetap menyempatkan membaca apa saja yang bermanfaat (satu halaman buku atau satu dua artikel dalam satu hari ), saya harus komitmen menjaga stamina menulis dengan menulis catatan di facebook atau posting blog, saya harus tetap mengisi kajian atau mendatangi kajian rutin pekanan, saya harus bisa berinteraksi dengan tetangga dan masyarakat saya. Saya sedang belajar, ya, b e  l a j a r.

            Memang, saya tidak lagi bisa pergi ‘sorangan wae’ saat mengisi kajian atau acara diluar rumah. Saya harus membwa minimal anak terkecil –karena kakak2nya kadang ikut tanteku- saya harus menyiapkan bekal, ASI perah dan mampu menjaga stamina. Tapi toh saya enjoy. pernah suatu hari saya membawa si Farwah mengisi kajian di kampus UNS, semua mata melihat padaku. Mahasiswa, dosen, karyawan menatap aneh bahwa pembicara bedah bukunya bawa anaka dan tas bayi yang besar. Ternyata setelah hampir lima tahun tidak begitu (terakhir saya lakukan saat maura berumur 5bulan) saya bisa dan bayi saya pun dapat bekerjasama.

Sembilan : Saya Belajar Membuat Prioritas dan Bargaining Saat harus Mengisi Acara di Luar rumah
Ini yang harus saya terima dengan legawa. Saat tidak ada khadimat dengan tiga anak seperti sekarang saya harus mampu membuat prioritas. Suami saya pun akhirnya memabantu saya ’menegaskan’ untuk membuat prioritas dengan membuat aturan jika saya harus mengisi kajian atau acara diluar rumah yang dimulai pk.08.00 maka saya sudah harus kembali kerumah sekitar pk.11.00 dan itu berarti saya harus membuat bargaining dengan panitia yang biasanya ’molor’.

Saya mulai belajar  berkata ”saya hanya bisa sampai jam11.00 jadi tolong tepat waktu ya mbak, gimana?” atau saya mulai terbiasa berkata ”Maaf, saya tidak bisa karena hari itu saya sudah ada acara keluar rumah, saya tidak bisa membuat acara dua kali dalam satu hari” atau ”Saya tidak punya acara hari itu, tapi saya izin suami dulu,ya!” atau  ” maaf, saya harus membawa bayi saya, apakah ada panitia yang bersedia membantu saya selama acara berlangsung?”  terus terang itu semua membuat saya belajar berkata tidak atau belajar membuat keputusan yang ’save’ untuk semua. Pernah saya keluar rumah dengan perhitungan waktu yang meleset dan saya menyesalinya karena ada hak suami dan anak-anak yang terabaikan hari itu.

Selain itu, saya mulai mengenalkan pada dua putri tertua saya bagaimana sikap yang sebaiknya mereka punya saat harus ikut acara ’serius’ bersama saya. Misalnya saya akan mengkondisikan mereka tidak merusak konsentrasi oranglain, membawakan mereka bekal,baju ganti,  alat gambar, buku, kertas lipat,gunting , lem dsb  hehee. Ternyata anak-anak semakin paham juga kalao kita libatkan

Sepuluh : Saya Kembali Bertawakkal Pada Allah
Diatas semua hikmah, saya menempatkan ini di penutup meskpun inilah justru yang utama. Sekedar info, sejak menikah dan memutuskan mengontrak, saya telah berganti 5 khadimat dalam jarak 4bulan sekali. Baru yang terakhir ini ikut lama banget 1,5 tahun. Saya justru merasa selama ini mungkin ’terlena’. Saya mengambil hikmah bahwa tanpa khadimat, saya kembali bertwakkal pada Allah bahwa Allah akan menurunkan pertolongan. Ketergantungan saya pada Allah jadi semakin tebal karena benar-benar pertolongan Allah itu dekat.

Apakah pertolongan Allah itu hanya sekedar mengirimkan pembantu pengganti? Tidak selalu. pertolongan Allah itu dapat berwujud dengan anak-anak yang seharian kadang bisa nuruuuut banget, atau berujud dari terjaganya kesehatan anak-anak, kesabaran suami, kadang pertolongan itu berwujud dari kesiapan kita untuk menerima ’kehirukpikukan’ dan keberantakan dengan lapang dan sabar. Kini saya hanya sesekali memanggil orang untuk membantu menyetrika saat saya sudah benar-benar lelah, dengan niat tetap menjaga stamina hehe

Sungguh, saya pun masih  berencana kelak punya khadimat/pembantu yang bisa saya ajak mendidik anak-anak saya dan mengatur rumah. tapi tidak sekarang. Mungkin ini saatnya saya mendidik dan menempa diri saya bahwa menjadi istri dan ibu itu adalah kesempatan untuk memohon pertolongan Allah dan membuktikannya saat letih dan lelah menandak-nandak ditubuh kita dan benar-benar tidak ada yang menolong selain Dia. Semoga menginspirasi!          

Senin, 01 November 2010

Apa Yang Sebaiknya Ada di Lemari Dapur dan Kulkas Kita ?



            Ini catatan  ringan aja. Pengen berbagi buat temen-temen yang mungkin sibuk kerja dan atau buat mamah-mamah muda yang pengen berusaha ‘bikin apa-apa’ sendiri. Daripada beli jajan diluaran dan bahan-bahan ‘persiapan’ kala hujan dan anak-anak merengek pengen sesuatu. Atau…. saat anak-anak uring-uringan , mungkin memasak bersama bisa meredakan emosi.
            Gak semua bahan-bahan ini ada didapurku sob, cuman memang kuusahakan ada biar kalau pengen bikin apa-apa siap. Yuk mulai
  • Aneka Tepung
Aku suka beli macam-macam tepung. Terigu protein sedang (segitiga biru) untuk macam-macam gorengan dan kue, tepung sagu untuk campuran membuat bakso atau dibuat bubur, tekstur dan fungsinya mirip dengan tepung  tapioka atau kanji. Sssst..tepung kanji ini juga berguna saat lem kertas habis hihihihi tinggal bikin lem untuk main  tempel2 an
Tepung Maizena  ada juga. Tepung lembut ini berguna untuk membuat vla, bubur bayi dan campuran membuat kue kering agar teksturnya lebih lembut
Tepung Beras untuk bikin aneka penganan seperti bubur sumsum, nagasari atau untuk campuran bikin adonan saat bikin gorengan bersama si terigu dan kanji.
Tepung Roti untuk baluran, untuk celupan bikin kroket lah, bikin risoles lah
  • Aneka Bumbu Halus & Rempah
Yang ini ikut-ikutan almh. mamah . Didapur selalu ada segala macam bumbu halus  dan rempah. Pokoknya bumbu-bumbu untuk Kare deh hehhee.. kan itu komplit rempahnya. Selain itu bawang merah, bawang bombay, bawang putih jangan sampai kehabisan jeng. Karena semua masakan butuh itu.
Dulu almh mamah suka pesen, sediakan cabe merah, cabe rawit. Cabe merah direbus, dinginkan, blender dan masukkan freezer, kalau butuh tinggal sendok deh (cermat ya ibuku, maklum pernah punya 3 rumah makan, boo)

  • Bahan-bahan kue dan panganan
Yang ini kadang bikin budget belanja agak mengembang hehehe. Mungkin kalau dipikir-pikir diawal bulan jadi ‘boros’ tapi ternyata menghemat sekian rupiah untuk jajan anak lho! Jujur, sejak Maura masuk playgroup dan kenal pelajaran memasak, aku lebih senang mengajak dia bikin makanan atau jajanan sendiri. Memang sih gak tiap hari, karena kadang si jajanan itu sudah datang dari pembantu, tanteku atau mbah putrinya yang weleh2 kalau ngirim snack, jadilah aku ‘ngumpetin’ snack2 toko itu dan memberikannya hanya sebagai reward.
            Telur : wajib nih, karena dengannya aku bisa bikin orak arik, pancake dan rupa2 lauk/kue
Essense: yang biasanya sih coklat, pandan atau cocopandan pasta. dengan ini, aku bisa bikin makanan beraroma atau kadang bikin simple syrup sendiri
            Margarin/mentega: nah ini wajib ada. Menumis, campuran adonan kue pasti pakai bahan ini
            Keju : meski gak tiap hari ada, kadang aku beli yang mini, jaga2 untuk taburan
            Meises: berguna buat taburan pancake atau donat
            TBM/ovalet: ini pengemulsi, jeng. Berguna untuk bikin bolu kukus,misalnya
            Ragi/Fermipan: Ini bahan untuk mengembangkan adonan. Bahan utama bikin donat
            Baking Powder: Fungsinya sama untuk pengembang kue/roti tapi biasanya untuk yang kering. aku biasa kasih sedikit BP untuk merenyahkan gorengan juga
            Mayonaise: Beli aja yang ukuran kecil karena termasuk bahan yang ‘awet’ dan jarang dipakai tapi sesekali pengen. Bisa untuk olesan, cocolan
            Bihun Jagung dan Misoa: hehe ini sih kadang bia untuk bikin bihun goreng dan vermiseli (lihat resep rumahan) .Tapi aku stop mi instan berbumbu masuk ke dapurku
            Roti Tawar: ini juga gak setiap hari ada karena juga harus segera habis, jadi belinya kalau pas ada order dari anak-anak atau abinya untuk bikin roti bakar
            Santan Instan atau Kelapa Parut : kalau santan instan biasanya Cuma untuk sesekali. nah kelapa parut ini bisa awet jika disimpan di freezer. saat ingin pakai, keluarkan dan ‘cairkan’ dulu esnya, jadikan suhu ruang, baru itambah air untuk memeras santannya. Oya, ada tips, santan yang udah diperas bisa dimasak sampe mateng, dinginkan dan simpan di kulkas, kalau mau pakai tinggal ambil aja.
            Gula Jawa: Bahan yang satu ini penting karena hampir semua makanan memakainya
           
           

  • Sayuran Beku & Bahan Mentah
Jagung Manis /Kernel Corn:  ini berguna untuk bikin penganan atau bakwan jagung , jagung manis susu, puding jagung
Sayuran Beku            : Nah ini kadang sisa banyak hehe,sayuran beku ini bisa untuk campuran nasi goreng, sop atau hidangan penutup lain
Pisang Kepok/raja     : karena hampir semua penghuni suka pisang goreng, maka buah ini meskipun tidak tiap hari, tapi seneng kalo punya
Kacang ijo : hehe ini favorit suamiku. bikin kacang ijo biasanya juga dipesen dulu sama beliau, habis kadang lupa hehe
Daging/ seafood: Biasanya kami belanja 3hari sekali/ pekanan untuk daging dan ikan. Di freezer aja sebelum dipakai. bisa awet dan tinggal dimasak apalagi untuk daging, kalau udah direbus, simpan kaldunya dalam tempat terpisah, simpan di kulkas dagingnya, olah sesuai kebutuhanJ
Susu Segar dan Kental Manis
            Sejak 6 bulan lalu anak-anakku kuhentikan dari susu formula. Selain aku semakin mengerti bahwa susu formula nyaris tak benar- benar ’sehat’, aku juga sedang melepas ketergantungan si tengah dengan susu dan menggantinya dengan makan. Akhirnya susu segar jadi stok yang bisa dimanfaatkan untuk campuran masakan begitupun susu kental manis yang kugunakan untuk campuran bikin penganan atau masakan.

yah, itu beberapa bahan makanan yang mungkin saya rekomendasikan untuk ada di dapur.Sekali lagi, sesuaikan dengan anggaran. Tak harus komplit bisa di atur sesuai menu.Yang jelas benar-benar membantu untuk bisa menyiapkan menu sarapan dan cemilan. Just share, semoga bermanfaat!

Sabtu, 23 Oktober 2010

Totto Chan : gadis Cilik di Jendela: Novel Inspiratif untuk Para pendidik

aku membaca novel ini secara berseri dari bundel majalah Ayahbunda Tahun 1985 milik almh. ibuku. Beruntung aku membacanya meskipun hingga kini aku masih mencari novel nya . masih terbit gak ya?? dan aku mencari resensi  buku ini  untuk kalian semua semoga terinspirasi.
*****
BUKU Totto-chan Gadis Cilik di Jendela ini memang bukan terbilang buku baru. Tapi jika ditilik isinya, buku ini tidak mengenal kata out of date. Tetsuko Kuroyanagi sangat piawai dalam mengemas kisah pengalaman hidupnya menjadi sebuah cerita yang lucu dan sarat makna.

Buku ini bercerita tentang Totto-chan, gadis cilik yang harus dikeluarkan dari sekolahnya di usia 7 tahun. Keingintahuannya yang besar tentang sesuatu, membuat Totto-chan kecil berbeda dan dipandang aneh jika dibandingkan dengan teman-temannya. Mulai dari memanggil pengamen jalanan untuk memainkan musiknya di dalam kelas, sampai berbicara dengan burung Walet yang bertengger di pohon samping kelasnya. Alhasil, Totto-chan dikeluarkan dari sekolahnya. Kemudian, oleh ibunya ia dimasukkan ke sekolah Tomoe Gakuen yang didirikan oleh Sosaku Kobayashi.

Sekolah yang berlambang dua simbol kuno berbentuk koma yang berwarna hitam dan putih ini memang lain dari sekolah yang lain. Kegiatan belajar mengajar berlangsung di dalam gerbong kereta api yang sudah tidak dipakai lagi.

Jumlah siswanya hanya sekitar lima puluh orang. Sekolah ini juga tidak mengharuskan siswanya memakai seragam yang rapi dan bersih, malah sebaliknya sekolah ini menganjurkan untuk memakai pakaian yang sudah usang untuk pergi ke sekolah.

Bersekolah di sana adalah hal yang menyenangkan bagi Totto-chan dan kawan-kawannya. Jika di sekolah lain setiap anak diberi jatah duduk di satu kursi tertentu, maka di Tomoe, mereka bebas memilih di mana me-reka akan duduk.

Sekolah ini memberikan kebebasan kepada siswanya untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Setiap siswa bebas memilih pelajaran apa yang ingin dipelajarinya lebih dulu pada hari itu. Ada yang memilih membuat puisi dan ada juga yang melakukan eksperimen fisika. Metode ini memudahkan guru untuk mengetahui bidang apa yang diminati muridnya, termasuk mengetahui karakter siswa.

Belajar di Tomoe benar-benar menarik dan menyenangkan. Untuk makan siang saja harus ada ”sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan” agar anak-anak makan dengan gizi seimbang. Selain itu, jika sebelum makan orang-orang Jepang selalu mengucapkan kata ”Ittadakimasu” yang artinya selamat makan, maka di Tomoe sebelum makan mereka menyanyikan lagu ”Yuk kunyah-kunyah baik-baik semua makananmu” baru setelah itu mereka mengucapkan ”Ittadakimasu”.

Setelah makan siang, biasanya mereka berjalan-jalan. Kemudian, ketika mereka melewati kebun bunga, guru akan menceritakan kepada mere-ka bagaimana bunga-bunga sawi bisa bermekaran.

Tomoe mengajarkan banyak hal kepada anak-anak. Dengan berenang bersama tanpa busana, kepala sekolah ingin mereka paham bahwa semua tubuh itu indah. Jika mereka yang bertubuh cacat ikut berenang, maka rasa malu akan kekurangannya, akan hilang sedikit demi sedikit.

Selain itu, Kepala Sekolah juga memberikan motivasi kepada anak yang tidak mampu bercerita tentang suatu hal sampai akhirnya anak itu mampu bercerita. Beliau juga mampu meyakinkan anak-anak bahwa mereka adalah anak yang baik dengan selalu mengucapkan ”Kau anak yang benar-benar baik, kau tahu kan?”.

Kepala Sekolah Kobayashi menghargai sesuatu yang bersifat alamiah dan ingin karakter anak-anak berkembang secara alami. Beliau sangat yakin bahwa seorang anak dilahirkan dengan watak baik. Oleh sebab itu, Kepala Sekolah Kobayashi berusaha menemukan hal itu dan mengembangkannya agar anak-anak dapat tumbuh dengan kepribadian yang khas.

Kehidupan sehari-hari Tomoe juga mengajarkan bersikap sopan kepada orang lain dan tidak boleh melakukan hal yang membuat orang lain kesal. Bahkan, membuang sampah di tempat yang benar pun dipelajari dari Tomoe.

Buku Totto-chan menggambarkan dunia anak-anak yang penuh dengan kepo-losan dalam memandang suatu hal. Bahasa yang digunakan lugas dan khas anak-anak. Ketika kepala sekolah mengatakan bahwa akan datang gerbong kereta baru untuk kelas mereka, mereka berpikir akan dibuat rel sehingga gerbong itu sampai di sekolah me-reka. Padahal sebenarnya gerbong itu diangkut oleh trailer yang ditarik oleh traktor. Ketika mereka belajar bagaimana bunga sawi mekar, mereka mengatakan, ”Ternyata benang sari tidak mirip benang ya?”.

Buku yang merupakan kritik terhadap sistem pendidikan yang keras di Jepang ini, berhasil merebut perhatian sebagian besar masyarakat Jepang. Pada tahun pertama buku ini diterbitkan, buku ini terjual hingga 4.500.000 eksemplar. Dalam buku ini dijelaskan bahwa sistem pendidikan di Jepang yang terkenal keras dan disiplin, bukanlah jaminan bahwa seorang anak akan berkembang dengan baik. Bahkan, bisa jadi seseorang yang tidak kuat dengan sistem tersebut akan mengalami tekanan mental dan bisa menjadi depresi.

Begitu juga dengan sekolah konvensional di Indonesia yang mengharuskan siswa hadir pada pukul 07.00 tepat dan pulang pada waktu yang ditentukan. Sistem ini juga belum tentu akan menghasilkan output yang baik. Banyak siswa yang merasa tertekan dengan apa yang dilakukan oleh sekolah dan standar kelulusan yang semakin merangkak naik dari tahun ke tahun. Jika dulu, ketika kita duduk di bangku sekolah, kita lupa mengerjakan PR atau nilai ulang-an jelek, maka kita akan mendapatkan hukuman. Sangat berbeda dengan Tomoe yang membiarkan muridnya berkembang de-ngan sendirinya sesuai minat yang dimiliki.

Sekolah konvensional dinilai tidak dapat meng-akomodasi semua kecerdasan yang dimiliki siswa. Bahkan, seringkali sekolah konvensional mematikan kecerdasan siswa yang luar biasa. Dalam hal ini, Sekolah Tomoe membiarkan siswanya berkembang sesuai dengan apa yang dimiliki. Selain membuat siswa merasa nyaman, kecerdasan yang mereka miliki dari lahir akan semakin terasah.

Sumber Majalahopini 35

Kamis, 21 Oktober 2010

i am a Dreamer

Perkenalkan Aku : Pemimpi
Namaku robi’ah al adawiyah, biasa disapa Vida. Tidak nyambung memang, tapi begitulah. Sapaan itu melekat padaku sejak kecil , ternyata mamaku ngefans dengan dokter kandungannya yang baik hati, Alm.dr.Hafidz Zaini, SpOG hehe. Tapi Apa daya, kakekku terlanjur urun nama yang akhirnya kusyukuri, Robi’ah Al adawiyah. Aku lahir dari pasangan hebat, mamahku : Aisyah dan Ayahku , M. Farzan Ali, lelaki yang kunobatkan sebagai orang paling optimis yang pernah kukenal .  Kini aku berusia 29 tahun  dan memiliki tiga putra putri yang sehat dan cerdas, suami yang medukung setiap ide kebaikan yang lahir dariku. Insya Allah.
            Aku selalu bersyukur dilahirkan dari kedua orangtua yang sangat menghargai segala keadaan kami. Abah  dan almarhumah mamaku selalu menjadi dua orang terpenting dalam hidupku. Aku benar-benar seorang pemimpi, cerewet  dan punya banyak minat. Mencoba resep masakan, belanja berjudul-judul buku, membuat kerajinan, jalan-jalan, bertemu orang-orang baru.Pff...sepertinya ini menurun dari ibuku .
            Aku tau kekuatan mimpi adalah sebuah sunatullah. Aku tidak mau takut bermimpi, meskipun kadang aku juga terjangkiti rasa pesimis. Aku seorang yang tak bisa diam saat sebuah ide mengelebat dalam saujana pikir dan renungku. Walaupun hanya sebuah rasa penasaran  mencoba gaya menjahit model kuno, misalnya. Aku tidak takut bermimpi, sebab aku membuktikan bahwa mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari.
            Aku pernah membaca tulisan suamiku di sebuah Jurnal Mahasiswa saat beliau kuliah di Sudan.Tulisan itu  tentang sejarah cita-cita dan kesuksesan. Seorang yang sukses pasti mempunyai ‘sejarah’ dan pembentuk mental suksesnya. Suamiku mencontohkan seorang Khalid bin Walid, pahlawan perang Yarmuk dan panglima perang termasyhur dalam sejarah Islam. Ternyata, kesuksesan Khalid membawa panji-panji kemenangan Islam bukan datang secara tiba-tiba. Kemenangan di Yarmuk, boleh jadi  sebuah puncak dari kegemarannya bermain perang-perangan saat masa kanak-kanak dan remaja di lembah Yarmuk! Luar biasa. Masih adalagi, ternyata kemenangan Afghanistan sebagai satu-satunya negri yang tak pernah tertundukkan –meskipun tetap diperangi oleh berbagai bangsa mulai dri Jengis Khan, Soviet dan kini Amerika- karena konon kabarnya rakyat Afghanistan adalah  anak turun Khalid bin Walid. Luar biasa bukan? Dan aku ingin menjadi salah satu perempuan pemimpi yang melahirkan anak turun yang sukses dunia dan akhirat.Amin

Kroket Makaroni Labu Kuning

Ceritanya, kemaren hujan deres dan anak-anak kayaknya masih pengen kudapan , sekalian bikin snack buat Abinya. Kebetulan ada labu kuning rebus sisa bikin makanan bayi dek Farwah. Ada makaroni yang udah kurebus. Tadinya mau nyoba praktek resep booklet Bogasari: Makaroni goreng . Oke karena bahan-bahan di kulkas memenuhi syarat untuk bikin korket, saatnya ajak nona-nona manis cooking together (hayah) dengan sedikit naik kursi kecil mereka, kuajak mereka pura-pura ikut praktek masak (begaya kaya chef di Koki Cilik atau di acara-acara masak)
Maura: ” Jadi ini bahan-bahannya ya bu’.Namanya apa ya bu masakan kita ini?” kata maura begaya nanya kayak bintang tamu
Umi: ”Iya Jeng, ini kita mau bikin kroket makaroni labu kuning”
Salma: ”Kami ikut-ikut ya bu, ngaduk ini ya bu” hayah, Salma sih kadang cuma ikut-ikutan pupuk bawang gitu. Kalau kakaknya udah benar-benar lumayan bisa diberdayakan  J
Singkat cerita, kroket lumayan enak (uji layak makan oleh dua putriku dan suami) dan ini kami bagi resepnya yaa.Oya, fotonya ini cuma ilustrasi karena udah tandas sebelum dipoto untuk upload :D
Bahan
Makaroni rebus 100gr
Tepung Terigu 150gr
Telur 1 butir
Margarin 3sdm
Air /kaldu 250cc
Labu kuning 100gr (bisa diganti dengan kentang) kukus, blender dengan air/kaldu
Sosis sapi potong kecil-kecil /daging ayam suwir/
Daun bawang,wortel
Tepung roti/panir
Minyak goreng
Bumbu:
3 siung bawang merah, haluskan
5siung bawang putih haluskan
½ sdt garam
½ sdt mrica bubuk
½ butir pala , haluskan
2sdm saus tiram /kaldu bubuk
gula sedikit aja
Cara buatnya
  • Kukus labu kuning, blender bersama air kaldu, masukkan bumbu2, panaskan diatas api kecil matikan saat hampir mendidih masukkan margarin, tepung terigu sambil diaduk rata hingga kalis,matikan
  • Masukkan saus tiram, makaroni rebus, sosis/daging, daun bawang, gula, telur kocok
  • Aduk rata adonan hingga bisa dipulung bulat-bulat/ lonjong, gulingkan diatas tepung roti, goreng sampai kekuningan dan matang
  • Makan dengan cocolan mayonaise atau sambal botol
  • Tips: adonan ini bisa disimpan dalam lemari es dalam keadaan udah dibulet2 dan digoreng saat mau disuguhkan
Selamat mencoba ya!

Selasa, 19 Oktober 2010

(Moms Go Blogging- “Memupuk Kecerdasan Bahasa Balita Kami: Sebuah Proses Menakjubkan”



Mengamati perkembangan anak-anak kami, menghayati mereka bertumbuh, menjadikan rasa syukur kami selalu mengalir. Tiga orang anak menjadi sebuah amanah bagi kami untuk mendidik mereka. Ya, karena menjadi seorang ibu, tidak berhenti pada melahirkan semata namun meniatkan mendidik mereka seoptimal mungkin. Perkenankan saya memperkenalkan mereka ya! Si sulung Kuni Maura Ahna, Desember tahun ini usianya 5 taun, si tengah Salma Haniyya Oktober kemarin genap 3 tahun dan putra ketiga kami Farwah Awwab Hafidz yang baru berusia 9 bulan. Puji syukur mereka lahir dan tumbuh dalam keadaan sehat.

            Bagi saya sendiri, mengasuh anak berarti mempersiapkan mereka agar dapat menghadapi kehidupan dengan penuh semangat, ketegaran dan ketrampilan. Karenanya selain memupuk kecerdasan spiritual dan moral, ketrampilan berbahasa menjadi salah satu perhatian kami. Sejak dalam kandungan saya sesering mungkin mengajak mereka bercerita, membaca Al Quran atau mengelusnya. Saat lahir sampai dengan 5 bulan pertama menjadi masa-masa pendekatan yang berarti. Pelukan, segera merespon tangisan dan melatih indra dengar dan penglihatan mereka adalah penting. Sejak usia 4bulan dan memasuki usia 7bulan (pengenalan makanan pertama, karena semuanya ASI sampai 6 bulan)  putra putri kami sudah kami kenalkan dengan bahasa-bahasa yang jelas. Kata ‘makan’ , ‘minum’, ‘umi/mama’, ‘abah/abi’ kami kenalkan dengan jelas tanpa cedal. Kami tidak mau mengajarkan kata-kata cedal, termasuk kami katakan pada pengasuh dan keluarga dekat, tetangga agar mengatakan kata-kata yang benar dan jelas saat berkomunikasi dengan anak-anak kami. Hasilnya? Dua putri tertua kami sudah dapat mengucapkan kata-kata dan kalimat dengan jelas.

            Memupuk kecerdasan berbahasa diusia diatas satu tahun saya upayakan agar mereka akrab dengan banyak kata-kata, mengenalkan  mengenalkan buku, membacakan cerita, bercakap-cakap –meskipun mereka baru merespon dengan tatapan mata dan  suara bayi- harus dilakukan. Bayi kami Farwah, bahkan kini sudah familiar saat abinya membaca Qur’an di pagi hari dan merespon dengan antusias. Manfaat memupuk kecerdasan bahasa sejak dini benar-benar menakjubkan. Dua putri kami –Maura dan Salma- kini sudah dapat saling membacakan cerita, bercakap-cakap, mengenali dan mengungkapkan perasaan (sedih, gembira, kecewa, marah, terharu), bahkan ‘memprotes’ dan mengkritik saat saya melakukan sesuatu yang salah atau lupa. Maura –menurut bunda di sekolahnya- mampu menceritakan dengan runtut kejadian dari pulang sekolah hingga berangkat sekolah keesokan harinya. Kadang cerita gurunya disekolah membuat saya terharu.Termasuk saat Maura menegur teman-temannya untuk  mendengarkan bunda/guru yang sedang bercerita. Ternyata sikap kami untuk menghargainya saat bercerita dan memancingnya dengan pertanyaan-pertanyaan ‘apa pendapatmu, mengapa, apa yang kamu rasakan’ sangat berguna melatih keruntutan berpikirnya. Kemampuan bahasa verbal ini akan terus saya asah dan akan saya lanjutkan kelak dengan mengajarkannya menulis (agar mengikuti jejak orangtuanya  yang penulis hehe)

            Pun demikian, anak-anak kami bukanlah anak ‘steril’. Anak-anak kamipun seperti anak-anak lain yang berinteraksi dengan teman, pembantu, tetangga, bahkan keluarga besar yang tidak semua memberikan pengaruh baik dari aspek bahasa. Dimasa-masa meniru seperti saat ini, pengaruh bahas burauk, sedikit nylene dan bahkan bahsa yang kasar pun pernah mereka ucapkan. Namun reaksi wajar, bijaksana dan pelurusan yang penuh kasihsayang serta terus menerus akan membuat anak lambat laun mengikuti nasehat kita. Ya...jalan masih begitu panjang untuk mengasuh anak-anak kita. Yang perlu kita lakukan sebagai ibu adalah terus belajar dan mensyukuri setiap pertumbuhan dan perkembangan mereka. Semoga catatan kecil ini menginspirasi ayah dan bunda.

Kamis, 14 Oktober 2010

BUKU-BUKU PARENTING LUXIMA

Dear All…. Assalamu’alaikum. Mendidik anak dan mengasuhnya butuh ilmu. Untuk itulah kami menyediakan buku-buku parenting dan buku anak. Kali ini dari Penerbit Luxima. Silakan pilih dan segera pesan J Harga-harga dibawah ini sudah termasuk DISKON namun belum termasuk ongkos kirim ya. Cara pemesanan
  • Kirimkan Judul Buku pesanan ke FB atau sms ke 081329460601
  • Alamat lengkap , no HP
  • Transfer  Pembayaran buku + ongkos kirim ke Bank Syariah Mandiri Cabang Solo no rekening 0120151625 atas nama Robi’ah al-adawiyah
  • Setelah transfer harap konfirmasi, buku segera kami kirim setelah transfer

Daftar judul dan Harga Buku
1. SERI NEW MOM
JUDUL                                                           Harga Satuan (Sudah diskon)
a. Becoming New Mom                                                Rp. 52.000
b. Baby’s Corner                                                          Rp. 45.000
c. 20 Panduan Memilih Mainan Terbaik                        Rp. 75.000
Harga Pembelian PAKET (3buku ) Rp. 172.000                 

2. SERI PARENTING
            JUDUL                                                            Harga Satuan
a. 27 Cara mengatasi Emosi anak                               Rp.38.000
b.  Kamus Bergambar 3Bahasa   Rp. 67.000
d. Ordinary Mom                                                    Rp.28.000
e. Quantum Reading For Kids: Agar Anak Gila Baca Rp. 25.000
Harga Pembelian Paket SERI PARENTING ( 4 buku) Rp.158.000,-

Rabu, 06 Oktober 2010

Suatu Siang Bersama Prof. Wakitri : Belajar Tentang Spirit Mengabdi & Mendidik Generasi

 Siang itu aku bersiap meninggalkan rumah untuk bersilaturahim ke rumah seorang murid senior kakekku di MTA, bu Ummi Salamah namanya. Dengan sangat berniat, aku berangkat bersama aunty Maya (hehehe bulikku) kami memang klik banget karena telah merencanakannya beberapa waktu lalu. Perjalanan ke daerah Nusukan pun kami jalani dengan bersepeda motor. Sampailah kami di sebuah rumah di sekitar pasar meuble Nusukan . Rumah joglo yang kini jarang ada. Halaman yang luas dan masih ada tanah yang tak berbatu kerikil. Khas rumah-rumah kampung dimasa kecil saya. Pohon srikaya, mangga dan suasana adem membuat saya menikmati sembari menunggu ’eyang putri’. Suasana ’jadul’ tambah lengkap dengan alunan musik tetangga yang menyetel radio ’ABC’ Solo dengan lagu-lagu dangdut dan pop yang populer tahun 87 an.

            Sebenarnya, tulisan ini akan saya jadikan dua. Sebab hari itu saya bertemau dua ’eyang putri’ yang luar biasa hari itu. Asyik mengobrol dengan bu Ummi Salamah, tanpa saya duga saya bertemu dengan ’eyang putri’ satu lagi. Dengan usia yang sepuh, baju gamis dan jilbab lebar  bersahaja, perempuan tersebut ikut menemani kami mengobrol. Ternyata, hari itu saya benar-benar beruntung . Perempuan lanjut usia yang masih bernas itu bernama Profesor Wakitri, nama yang sering disebut-sebut Almarhumah ibu saya untuk contoh seorang perempuan berpendirian kukuh dan idealis, namun baru hari itu saya bertemu. Subhanallah, ternyata beliau adalah kakak bu Ummi Salamah. Saya baru tahu hari itu.

Beliau seorang guru besar UNS, seorang yang sepanjang kami mengobrol menunjukkan stamina pemikiran yang luar biasa. Jadilah siang itu saya seumpama peserta tutorial gratis dari seorang guru besar. Dari mulai mengobrol konsep pendidikan, PAUD, menyarankan saya kuliah S2 Psikologi atau PAUD sampai menawarkan saya berdiskusi lebih lanjut di lain hari. Beberapa penggal ‘kuliah’ dan obrolan penuh keakraban itu saya tuliskan ulang. Tentunya dengan bahasa yang lebih dinamis.Semoga menginspirasi. Terutama untuk semua orang yang peduli dengan dunia pendidikan, untuk para Guru. Bagi saya pribadi, bertemu dengan beliau adalah kesempatan memompa spirit mengabdi dan semangat belajar

Profesor (PW)  : “ Saya dari TK Bakti, Jeng.... ada halal bihalal. Ini Mbak Mayah ya, ”
Tante Mayah    : Iya Prof lama tidak berjumpa, dan ini cucu Ustadz yang mbarep, Robi’ah. Mau ngangsu Kawruh dan silaturahim biar belajar dari generasi sepuh.
Sayapun menjabat tangan beliau yang telah sepuh namun saya masih merasakan energinya
Saya                 : ”Wah, masih ada waktu prof untuk mengurusi TK. Masih semangat ya Prof, Subhanallah”
Profesor           : “ Wah kalau waktu, saya bisa saja  bilang tidak punya waktu.Tapi mereka butuh saya, dan saya masih punya ilmu. Jadi untuk apa saya tolak? Saya masih memberikan pengarahan untuk TK Surya Mentari, TK Bakti, saya masih memberi kuliah di Muhammadiyah Magelang. Kalau di TK saya bilang ke mereka, saya tidak usah dibayar tapi terserah saya mau datang kapan. Cukup fair kan Jeng? Toh saya ini tinggal mengisi KMS (Kartu Menuju Surga) dan tinggal mencari SMS (Sarana Menuju Surga) “ dan kamipun tertawa.

1. Pelajaran Tentang Semangat, Tekad dan Kemandirian

Saya     : "Ke Magelang (Univ Muhammadiyah Magelang) di jemput  Prof? " tanya saya
PW      : " Tadinya dijemput sampai kesini. Tapi suatu hari saya tanya sopirnya, dia ternyata harus bangun pukul 3 dini hari  kalau pas tugas jemput saya, ambil mobil di kampusnya, dan berangkat ke solo.Saya tanya subuhan dimana? Jawabnya di Meguwo. Wah kejam sekali saya kalau membiarkan orang kecil harus demikian susah. Akhirnya saya minta dia untuk menjemput saya di Ringroad saja, dekat agen travel melati."
Saya     : "Lalu profesor ke Jogja dengan travel?"
Prof      : "Saya naik bis Sumber Kencono, atau Bis Surabaya –Jogja kan banyak, jeng"
 HA?????!!!!! Saya membayangkan tubuh renta itu menaiki bus. Saya termangu. Pelajaran rendah hati yang manis.
Saya     : ”Subhanallah....Salut prof. Maaf ...usia profesor berapa, terlihat masih semangat lho prof, wah saya mesti dibagi resepnya” Dasar saya, biar kata didepan guru besar, asal dia udah sepuh dan suasana akrab sudah tercipta, saya mulai suka ’usil’ hihihi.Dan ternyata selera humor Profesor boleh juga

Prof      : ” Usia saya rokok Djarum, Jeng ( 76, pembaca.hehe) . Tapi saya selalu berkata pada diri saya bahwa saya bisa, bisa dan bisa. Allah pasti akan menolong saya. Sampai usia ini saya sehat. Baru- baru saja saya dibilang dokter ada sedikit masalah di kesehatan dan itupun hanya kalau saya banyak pikiran. Saya tidak mau ngoyo.”
            Obrolan itu membuat saya tersirap. Bagaimana masa tua saya kelak ya? Mampukah saya menjadi lansia yang terus bersemangat dan mandiri

2. Pelajaran Tentang Idealisme, Cita-cita dan Pengabdian

Bercerita tentang pengabdiannya sebagai guru, Profesor wakitri sangat terlihat menikmati, menghayati.
“ Orang tidak akan menyangka jika orangtua saya hanya guru biasa. Kami bertujuh toh bisa mengenyam pendidikan. Saya sendiri nyambi mengajar saat masih SMA. Hasil dari mengajar saya belikan batik halus, saya simpan , lama-kelamaan jadi satu almari.Dan Jeng tau? Untuk melanjutkan kuliah doktor saya, batik halus satu lemari dan satu kalung sebagai biayanya. Jeng, saya selalu optimis saya bisa sekolah sampai tinggi. Saya pernah berdoa disuatu malam, memohon kapankah orangtua saya tidak usah lagi membiayai sekolah saya. “
 Saya hanya terus merekam semua detil ucapan beliau dengab semampu memori saya. Seandainya saya tau bahwa rencana wawancara saya dengan bu Ummi tentang awal berdiri MTA akan seberuntung ini dengan bonus bertemu Profesor Wakitri, tentulah saya membawa handrecord dan kawan-kwannya untuk membantu saya merekam semuanya.

 Saya                : “ Apa kesan profesor tentang seorang Guru? Mengapa Profesor masih terus semangat memajukan diri dan orang lain?”

Profesor           : ”Mbak, guru itu model. Seorang guru harus dapat menjadi model kebikan. Mengapa? Karena mereka akan bertemu dengan anak-anak didiknya. Jeng tau, di TK kami guru haruslah menyenangkan, tidak boleh terlalu gemuk, atau merengut.Hehehe. Biarpun gemuk tapi dia harus menarik. Mengapa? Karena anak-anak yang senang melihat gurunya dia akan meneladani. ...Guru harus dapat mengasah dan mengasuh.

Saya                 : ”Profesor tampak mencintai pekerjaan sebagai pendidik, guru , dosen ya Prof..” beliau menatap saya dan tersenyum

Profesor           : ”Jeng, saya dulu saat pembentukan UNS, saya satu-satunya dosen yang dulu menentang digabungkannya universitas2 swasta menjadi UNS. Mungkin saya sombong, tapi saya merasa tidak level saat itu, merasa lulusan Gajahmada.(beliau tertawa) Saya pun enggan mengajar di Universitas swasta karena gaji saya tidak dianatar.Memangnya siapa saya? Disuruh ambil gaji ke kantor. Saya tidak mau.  Ini guyonan Jeng. Tapi itulah. Mengajar bukan semata-mata mencari Gaji. Jeng harus ingat. Kalau Anda bekerja pertama kali, carilah JENENG dulu, jangan cari JENANG.Artinya, anda harus bersungguh-sungguh agar orang melihat hasil kerja anda secara memuaskan. Uang, gaji (jenang istilahnya) akan mengikuti jika kita profesional dan tekun.
Sungguh, saya hanya bisa mengangguk, mencatat dalam memori saya, mengingat semua nasehat dan ’tutorial’ siang itu. Menghayati setiap petuah yang dituturkan oleh sang Eyang Profesor”

 3. Pelajaran Tentang Pendidikan Usia Dini
            Meskipun usia beliau telah kepala tujuh, namun yang membuat saya salut adalah dedikasi beliau untuk tetap membina beberapa TK Islam di Solo. Mengisi seminar untuk guru-gurunya dan membersamai mereka. TK –TK dibawah bimbingan beliau pun terus mengalami kemajuan.

Saya                 : “Apa pendapat Profesor tentang.... mendidik. Prof, kebetulan saya punya tiga balita dan saya ingin sekali membuat buku tentang kecerdasan bahasa. Saya senang hari ini dapat bertemu dengan Anda, jadi tambah referensi” Beliau tersenyum. Sungguh, kata tanteku ini kesempatan langka dimana beliau dengan sukarela menjawab semua pertanyaan saya, menceritakan pengalaman-pengalaman beliau dari jaman dulu2 hehehe

Profesor           : “Jeng, itu tema bagus. Jeng bisa mulai dari belajar psikologi perkembangan. Anak-anak di masa emas akan meniru. Untuk apa kita mendidik ? Bukankah kita ingin mereka segera bisa melakukan hal-hal yg dilakukan orang dewasa dengan baik dan benar? Mendidik adalah menjadikan anak didik kita mengerti apa-apa yang benar, jeng. Anda tau, tetangga saya yang anak kecil, Unet namanya jadi objek penelitian saya tentang bahas. Baru 1,5 tahun tapi dia sudah dapat mengapresiasi. Mengapa? karena saya melibatkan dia dalam keseharian. Saya sering mengajaknya jalan-jalan, mengenalkan padanya tentang semua hal di jalan.” (Lalu profesor memanggil Unet, gadis kecil itu memang bermata cerdas, apresiasi dan ekspresinya bagus)
Jeng bisa melanjutkan kuliah di S2 PAUD atau lansgung Psikologi saja. Karena Anda seorang praktisi ”
Saya terinspirasi. Eyang-eyang saja semangat ngajarin anak kecil berbahasa dan berkarakter baik apalagi kita???

Saya                 : ” Kurikulum apa yang menurut Profesor harus dikembangkan dalam pendidikan usia dini?”

Profesor           : ” Basic moral. Agama. Jeng tau multiple intelegence? Di Eropa danm Barat hanya da 8 kecerdasan, tapi Indonesia satu-satunya yang menambahkan spiritual dalam kecerdasan majemuk. Tapi masyarakat kita ini malas menggali nilai-nilai spiritualitas itu. Jeng tadi di komite TK  X ya? (maaf saya tidak sebutkan namanya) saya jadi ingat TK  BM ( maaf inisial. karena menyangkut nama) TK tersebut jadi seerti TK nya si Tokoh, bukan TK oraganisasi pegayomnya. Mengapa? Karena banyak sekolah yg menuruti tokoh bukan basic spiritual dimana mereka dilahirkan. TK yang baik adalah masuk dan menanamkan nilai pada anak didik dari otak kanan dulu, dari nilai-nilai basic, akhlak. Bukan mengejar kemampuan kognisi saja”

            Percakapan dua jam itu begitu membuat saya berasa ‘cerah’. Bahasa beliau yang 'tinggi' , pengalaman beliau bergaul dengan para ningrat dan guru besar serta orang-orang berilmu membuat beliau berbahasa dengan budaya tinggi. "Kita harus berbahasa dengan orang lain sesuai dengan budaya dan lingkungan mereka. Itulah mengapa saya memanggil para Guru besar yang keturunan kraton dengan 'panjenengan ndalem', misalnya. Hmm... itulah mengapa beliau juga memanggil saya dengan  "jeng'. Ngajeni aja kedengarannya saya senang deh hehe.  Jika bukan karena anak-anak telah saya tinggal lama, mungkin saya masih betah mendengarkan ilmu dari beliau. Saya masih punya banyak poin ‘ibrah’ untuk ditulis sebenarnya.Tapi ini pun sudah sangat panjang ya?!

Saya                 : “Profesor, terimakasih banyak atas ilmunya. Saya jadi kuliah privat nih prof”
Profesor           : “ Boleh, boleh... Jeng datang saja, kita janjian dulu nanti kita mulai dari Psikologi perkembangan ya? Saya senang bisa berbagi ilmu. Jeng telpon saja kerumah. Saya tidak mau bawa HP jeng, HP bikin kemrungsung, saya tidak boleh kemrungsung biar tetap sehat dan bisa memberi manfaat” Lalu beliau pamit sholat dhuhur. Saya pun merencanakan  membuat ‘jadwal’ untuk mendengar lagi kuliah beliau dirumahnya hehe. Sebentar kemudian beliau pun keluar lagi dengan membawa modul Diklat Pendidikan Profesi Guru .Beliau meminjamkannya pada saya.

            Sungguh, tak pernah lekang semangat bagi orang-orang yang memiliki spirit pengabdian. Sebagai apapun, kita harus berangkat dari sebuah kesadaran akan peran kita. Dari kesadaran dan semangat belajar yng terus kita pelihara, kita akan menjadi orang-orang yang terus menerus menularkan semangat untuk belajar, untuk memberi dan memberi apa yang kita punya. Salam inspiratif!