Sabtu, 22 Desember 2012

Mengembalikan Fitrah Keibuan : Pengasih, Pengasuh dan Pengasah

Kasih Ibu kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa...
Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai Sang Surya Menerangi Dunia....

Bagaimana jika  Anda mencoba menyanyikan lagu itu lamat-lamat? Bahkan saat mengetiknya untuk tulisan ini pun saya sudah mulai menangis. Lagu sederhana itu selalu membuat kita bersyukur bahwa ada perempuan hebat yang melahirkan dan mengasihi kita didunia ini. Perumpamaan ‘Sang Surya’ bagi sosok ibu menjadikan figur ibu memang begitu abadi sepanjang masa. Bagaimana tidak?Sang Surya menerangi dunia di siang hari dan dimalam hari  ia masih memberikan sinarnya kepada bulan untuk tetap menerani semesta yang gulita. Hampir tidak beristirahat bukan? Hanya mengalihkan sinarnya.

              Masa berganti dan kita pun bertumbuh menjadi calon-calon ibu dan kini menjadi seorang ibu. Melantunkan lagu masa kanak-kanak itu menjadikan kita kini berpikr ulang apakah anak-anak kita pun akan merasakan hal yang sama saat menyanyikannya untuk kita? Apakah benar kita telah menjadi Sang Sang surya dihati mereka?
                Ditengah gerusan hiruk pikuk kehidupan sarat materialisme, kebutuhan hidup yang merunyak hebat, waktu yang cepat berlalu berkejaran dengan kesibukan kita yang tak berjeda, peran-peran fitrah  keibuan terancam rusak dan tak lagi sempurnah. Tak ayal, fitrah –fitrah keibuan harus segera dikembalikan lagi pada nurani para ibu yang masih ingin merasa lagu mesra diatas dinyanyikan untuknya. Mungkin tiga fitrah keibuan dibawah ini membantu kita mendapatkan kembali energi sebagai pendidik utama.

1.       Ibu yang Pengasih
Perempuan memiliki  naluri dasar untuk mengasihi keluarganya, pasangan hidup dan anak-anaknya. Modal naluri keibuan berupa rasa kasih sayang inilah yang menjadikan perempuan (ibu) mampu terus menerus memberikan energi kasih sayang karena bagi seorang ibu pengasih, anak adalah anugrah yang telah dititipkan dalam rahimnya untuk dikasihi sejak ia belum dilahirkan. Kasus- kasus kekerasan pada anak-anak, kematian anak-anak  ditangan ibu atau orangtuanya memiriskan nurani kita bahwa mungkin ada yang  tergerus dalam jiwa para ibu yang kalap itu, sebab tak mungkin fitrah mengasihi ini hilang tanpa sebab. Ibu-ibu yang jenuh, frustasi dan merasa tidak mendapatkan timbal balik kasih sayang dari pasangannya akan terancam kehilangan fitrh ini.
                Pun demikian, seorang ibu pengasih pun harus mampu mengasihi anak-anaknya dengan kasih sayang yang adil dan benar.Kasih sayang yang adil adalah kasih sayang yang pada tempatnya. Seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya dengan adil dan benar tidak harus menuruti semua kehendak dirinya dan atau anaknya secara berlebihan hingga menjerumuskan anak-anaknya tanpa sadar atas nama cinta.

2.       Ibu yang Pengasuh
Fitrah berikutnya yang sejatinya tak boleh hilang dalam diri seorang ibu adalah fitrah mengasuh anak-anak mereka. Interaksi dan kuantitas pertemuan antara ibu (dan ayah) bersama anak-anaknya pada satu masa tertentu sebenarnya tidak dapat tergantikan. Tidak dipungkiri dengan banyaknya tuntutan pekerjaan, kesibukan banyak orangtua yang memilih menyerahkan atau lebih halusnya ‘mendelegasikan’peran-peran pengasuhan pada pihak ketiga. Tempat penitipan anak, kakek nenek dan pembantu memang menjadi fasilitas yang tampak membantu para orangtua mengasuh anak-anaknya.
Namun, yang tidak boleh hilang dan diserahkan pada pihak lain adalah POLA ASUH yang benar yang dimiliki seorang ibu atau ayah sebelum menyerahkan tugas pengasuhan pada pihak lain. Pola asuh yang benar yang tidak dimiliki oleh seorang ibu, akan memberi dampak sesal dan menyalahkan pihak lain.
Seorang ibu pengasuh akan menggali ilmu pengasuhan anak-anak sesuai dengan tahap perkembangan mereka, memiliki komitmen dan disiplin untuk mengenalkan aturan-aturan dasar (keimanan,ibadah,  etika/akhlak, budaya, dan bahasa) pada anak-anak mereka.
Ibu yang pengasuh menjadi pusat dan tempat kembali anak-anak mereka untuk tetap mempercayai mereka sebagai seorang ibu yang hangat dan bijak.Pihak ketiga dalam pola asuh anak-anak semestinya menjadi pendukung pola asuh yang benar itu sehingga para ibu tidak menyesal dikemudian hari.
3.       Ibu yang Pengasah
Fitrah ketiga dalam membersamai anak-anak bertumbuh adalah menjadi ibu yang pengasah. Anak-anak tak mungkin kita biarkan hanya dengan kasih sayang dan kita asuh selamanya. Ibu yang pengasah mengerti bahwa anak-anak mereka harus bersiap memikul tanggungjawab, harus tumbuh dengan kedewasaan yang sesuai dengan usianya, harus benar dalam pola pikir dan akidahnya.Pun ibu yang pengasah tau, bahwa anak-anak mereka pun akan menjadi calon orang tua.
Maka, seorang ibu yang pengasah akan sangat jeli menyeranta potensi anak-anaknya dan mengusahakan untuk mengasahnya secara optimal. Seorang ibu yang pengasah tidak menjadi pendikte masa depan dan kesuksesan anak-anaknya, akan tetapi menggali cita-cita dan harapan mereka dan mendampingi anak-anak mereka meraih sukses yang sesuai dengan potensinya dan membekali anak-anak mereka dengan ketrampilan hidup, bukan sekedar pendidikan tinggi dengan serentetan gelar. Tak lupa, seorang ibu pengasah mampu mengenalkan anak-anak mereka sejak dini pada tanggungjwab sosial dan menyemangati mereka untuk memberikan sesuatu untuk masyarakatnya. Ibu pengasah paham benar bahwa ia memiliki tanggungjawab untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah baik akidah, akhlak dan masa depan finansial anak-anaknya

Begitulah.Mungkin jika ketiga Fitrah keibuan itu kembali kita hayati dan kita lakukan sesegera mungkin, akan lebih banyak lagu indah tercipta untuk kita para ibu dan orangtua.Mungkin akan lebih banyak anak-anak yang semakin mencintai keluarganya. Dan yang terpenting, kita akan menghadap Allah sebagai para ibu yang telah optimal menunaikan amanah terbesar : menjadi madrasah utama generasi.Selamat Hari Ibu!


[i] Penulis adalah Pegiat Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) ‘BENIH’ Solo, merintis klub dan sekolah pengasuhan anak, mengisi training keperempuanan dan keluarga, tinggal di Solo Jawa Tengah.cp 081329460601,FB: Vida Robi'ah Al Adawiyah

Sabtu, 13 Oktober 2012

"Aku dan Ayahbunda" , Bundel Tua Ayahbunda : Warisan Cinta Mama

Nama majalah tumbuh kembang Ayahbunda sudah begitu familiar ditelingaku. Jika dihitung sejak aku intens  ‘mengenal’ buku, aku telah akrab dengan majalah tumbuh kembang itu sejak usia 6 tahun. Almarhumah mamaku telah berlangganan sejak tahun 1980, sedangkan aku lahir di tahun 1981. Tepatnya sejak edisi tahun 1984 beliau mulai mengumpulkan  dan menyuruh tukang jilid langganannya untuk membuat bundel  Ayahbunda.


Aku masih ingat masa kecil sepulang sekolah atau sambil main di restoran mamaku aku menantikan Ayahbunda edisi terbaru datang , aku langsung membaca bonus anak BUNCIL. Ada cerita si Tongki bebek, Keluarga Sayur, Koko dan Moni yang suka usil dan Moko yang baik hati, juga ceita bergambar serta pelajaran-pelajaran sambil bermain yang kini banyak didapat di PAUD.  
Meskipun kala itu tampilan Ayahbunda masih sederhana, namun jika kubaca lagi saat ini aku salut bahwa  di tahun 80’an, Ayahbunda sudah memperkenalkan banyak ilmu pengasuhan anak yang bermanfaat.

 Begitulah, Ayahbunda menjadi bacaan kami. Mungkin saat kecil kami ( saya dan dua adikku) hanya menikmati bonus anak  Buncil. Tapi seiring waktu  aku mulai membaca banyak pengetahuan tentang tumbuh kembang anak, psikologi, bahkan cerita bersambung  novel  Totto Chan pun kutemukan di Ayahbunda edisi ‘jadul ‘ itu. Uniknya, booklet kecil berisi panduan untuk orangtua yang berisi apa yang harus dilakukan orangtua saat mendampingi anak-anak membaca Buncil. Keren khan?

Lomba dan Kompetisi Kreatif Sudah diperkenalkan Ayahbunda sejak dulu lhoo.Seperti yang ini nih Lomba Resep Makanan Bayi tahun1986! Keren khan??


Kenanganku bersama mama dan Ayahbunda  tak pernah terlupa. Aku ingat sekali, saat usiaku enam tahun.Tepatnya di tahun 1986.Aku berjingkrak melihat foto mama terpampang disalah satu  edisi Ayahbunda. Foto 10 Finalis Lomba Resep Makanan Bayi. Menemani mama ke Jakarta dimasa kecil saat itu begitu berkesan. Aku lupa di gedung mana event itu tapi aku masih sangat ingat mama naik kepanggung, bersama para finalis yang lain. Meskipun tak menjadi juaranya namun mama begitu bahagia. Dikemudian hari, resep makanan ciptaan beliau dari aneka kacang-kacangan ini beliau kembangkan dan beliau ujicobakan pada beberapa bayi prematur disekitar kami  yang mengalami kelambatan tumbuh kembang
Tiga dari 4 anakku masih bisa "menikmati" Bundel tua Ayahbunda
yang  dijilid mulai edisi tahun 1984!
 Majalah Ayahbunda ‘warisan’mama selalu menjadi bacaan yang menyenangkan. Saat aku menginjak SMP aku suka sekali kolom ‘Opini Anak’.Kolom ini kreatif dan unik. Berisi tentang pendapat anak-anak tentang tema-tema tertentu. Kolom ini menurutku sangat mencerdaskan karena melatih anak-anak usia SD kelas empat  sampai enam mengemukakan pendapat. Tema-temanya pun unik. Misal tentang apakah mereka senang dengan nama pemberian orangtua, atau apa alasan mereka menyukai pelajaran favoritnya. Sekali lagi, di tahun 1980-an pun Ayahbunda telah memiliki ide cerdas dan lengkap mengemas kebutuhan wawasan keluarga. 


  Waktu terus berjalan, Ayahbunda ‘warisan’ mama itu setia menemaniku sejak awal menikah. Bundel majalah Ayahbunda tua itu memberiku bekal  bahkan sebelum aku melahirkan anak-anakku. Secara isi bahkan tak jauh berbeda dengan majalah tumbuh kembang saat ini. Tapi aku begitu bangga setiap kali membaca bundel Ayahbunda ‘tua’ itu. Ada kenangan tentang  mamah,seorang ibu yang bersemangat belajar,dan betapa mama begitu telaten mengumpulkan majalah yang tergolong ‘mewah’ di masa kecilku. Bundel tua ayahbunda itu memberiku pelajaran bahwa mengasuh dan mendidik anak tidak bisa semaunya. Bundel tua ayahbunda itu mengingatkanku pada semangat almarhumah mamaku mengasuh kami.
         
 Kini aku telah memiliki empat orang anak yang lucu, sehat dan cerdas. Memang aku tak lagi berlangganan edisi cetak Ayahbunda karena zaman ‘online’ telah memudahkan segalanya. Sambil  mengasuh anak-anak, aktif di LSM Perempuan dan Anak, membuat artikel dan buku serta mengelola usaha rumahan , aku tetap setia dengan website Ayahbunda yang memberiku banyak informasi tentangpengasuhan anak dan kesehatan keluarga. Pun begitu, bundel majalah  tua warisan mama  masih setia kubaca, bahkan anak-anakku masih bisa menikmati cerita Buncil didalamnya, mewarnai dan belajar dari majalah tua itu. Kepada mereka aku berkata “ Kita rawat majalah ini ya, karena ini hadiah dari Nani (nenek) agar Umi pintar mengasuh kalian”. Terimakasih Ayahbunda, telah menjadi jembatan rindu dan cinta keluarga kami.Semoga selalu menginspirasi  keluarga Indonesia.

tulisan ini disertakan dalam kompetisi blog Ayahbunda.



Jumat, 12 Oktober 2012

Sekolah Ibu Mengasuh Anak : Meretas Cita-Cita Sekolah Orangtua

SIMAK : Sekolah Ibu Mengasuh Anak, Program LSM Kami
 Saat masih menjadi lajang atau masih memiliki anak satu saya pikir mengasuh anak-anak sepertinya tinggal mengambil saja apa yang baik dari orangtua kita. Ternyata saat anak-anak mulai bertumbuh dan bersosialisasi, bergaul dan mengenal tempat lain selain rumahnya, persoalan mulai bermunculan. Anak-anak mulai heran dengan apa yang tak pernah ia terima dan dengar dirumahnya. Selanjutnya anak-anak cerdas kita mulai mempraktekkan apa yang ia lihat dan menarik hatinya dirumah.Tak perlu benar, karena bahasa anak-anak Balita dan Batita adalah :suka dan tidak suka, menyenangkan dan tidak menyenangkan.

Mulailah pola asuh yang berbeda-beda bertemu dalam sebuah tempat tak steril bernama : sekolah, rumah tetangga atau ruamh nenek.Hahaha... Dari mulai malas mengucap maaf lagi, sampai belajar menangis yang gayanya tak biasa, sampai belajar memukul dirumah sebagai pembalasan yang tak bisa dilakukan anak-anak disekolahnya. Sungguh, saya tidak sedang menghakimi institusi bernama sekolah.

Setelah persoalan-persoalan pengasuhan itu saya alami sendiri. Dan betapa seringnya keluhan mengasuh anak begitu memeningkan kepala. Maka LSM kami KPPA Benih sejak tahun 2011 mantap memilih jalur pembinaan keluarga dan mengajak para ibu (dan elemen pengasuhan lain) untuk belajar ilmu parenting. Maka kamipun memulai dengan mengajak sekolah anak-anak kami membuat klub ataupengajian khusus pengasuhan anak-anak. Dan kamipun secara rutin membuat Sekolah Ibu Mengasuh Anak setiap pekan. Tak muluk-muluk, kami hanya berharap dengan lebih banyak orang tua dalama sebuah komunitas yang sama memiliki pemahaman pola asuh dan cara mendidik anak yang benar maka akan lebih mudah meminimalisir perilaku-perilaku negatif mereka secara kompak.

Kurikulum
Sekolah mengasuh anak sederhana ini memiliki kurikulum wajib dan tambahan. Kami menyebutnya 'Tema Belajar". Misalnya di pekan pertama kami belajar tentang Parenting Skill, pekan kedua kesehatan keluarga dan nutrisi, pekan ketiga Character Building For Kids, pekan keempat Mother's Corner berisi tentang kebutuhan-kebutuhan wawasan untuk para ibunya.
Tema belajar akan dipandu seorang fasilitator (pembicara, ed) yang sesuai dengan bidangnya. Sedang tema belajar yang bersifat tambahan misalnya gathering, membuat event yang bermanfaat, ketrampilan dan memasak

Mimpi kami dengan menggandeng semua elemen dan komunitas sosial, sekolah-sekolah pengasuhan anak yang sederhana namun istiqomah akan membantu para orangtua mempunyai perasaan tulus, penuh semanagt dan juga mempunyai ilmu dalam mengasuh anak-anak mereka.Maka kami membuka diri untuk sama belajar dan merintis klub parenting dan kajian-kajian peolo dan pengasuhan anak di Solo dan sekitarnya.

Sabtu, 19 November 2011

Cake Karamel Kukus

Lama nggak posting-posting di blog. Gak tau yak  kok agak-gak males gitu menulis di blog, hahah kata suamiku aku lagi jadi 'blogger galau'. Well ini resep sore tadi, barusan searching, dapat resep kue sakura, karena dicetak kecil-kecil. Tapi karena udah sore dan keknya males aja cari cetakan2 kecil, pake loyang tullban plastik aja. Sedikit kumodifikasi, dan namanya kuberi cake karamel kukus, dimakan dengan taburan kelapa, di foto taburannnya sedikit eheeheh .enaak.

Bahan
350gr tepung terigu serbaguna
150 gr gula pasir
4butir telur
1sdt baking powder
1sdt soda kue
1/2 sdt bubukkayu manis
Garam halus 1/2 sdt (dikira-kira aja lah...)
Karamel:
100gr gula pasir
100gr mentega dicairkan
100gr susu kental manis (aku pake sachetan 2sachet, jadi gak nyampe 100gr)
CAra membuatnya
1. Campur rata terigu, soda kue, baking powder, garam, ayak, sisihkan
2. Buat karamel : panaskan diapi sedang gula pasir, setelah kecoklatan (jangan gosong) masukkan air panas, aduk rata, masukkan margarin dan susu kental manis, dinginkan
3. Kocok telur dan gula sampai gula larut (pake kocokan biasa aja)
4. MAsukkan campuran tepung ke kocokan telur, aduk arat, tambahkan karamel, aduk arata
5. Msukkan kedalam cetakan (akau pakae loyang plastik tullband diameter 20cm), kukus 20-25 menit lakukan tes tusuk. Oaya, pabaskan dulu panci kukusan sampai air mendidih, baru masukkan adonan. Dan bungkus penutup panci pengukus dengan serbet bersih
6. Setelah matang, potong-potong, taburi kelapa parut/keju/ gula halus

Rabu, 05 Oktober 2011

Cake Tape Lapis Pandan

sudah lama ini rumah pemikiran tak kuiisi. Buat pemanasan, biarin yak posting resep-resep dulu. Kebetulan beberapa pekan ini banyak pesenan. Salah satunya dari  sahabat saya, mbak Intan Nurlaili, untuk jamuan tamu di Solo Pos bebrapa waktu lalu. acak-lacak, buka-buka resep, kayaknya ini resep pas n enak
     Awalnya, liat resep ini di booklet Bogasari, ee pas googling ada  web yang memuat resep dan foto yang miriiiip banget sama di booklet . Karena bi  lagi diluar kota, gak bisa moto hasil karya deeh (HP ku jeleek hihihi)ya udah buat ilustrasi aku pasang fotonya disamping, yang penting udah nyantumin web sumbernya yaa.Buatanku ya mirip deh cuma toppingnya keju cheddar.Soal rasa, alhamdulillah mbak intan puas, anak-anak ku yang jadi tester juga pada lahap. Oke dengan sedikit modifikasi, ini dia resepnya.Mudah banget terutama yang gak punya oven:)

Bahan
250 gr tape singkong, buang seratnya
150 Ml santan kental (aku tambahin dikit)
200gr tepung terigu
100gr gula pasir (bis aditambah kalo suka manis)
100gr margarin cair (aku ganti 150-200 ml minyak sayur)
20gr susu bubuk/kental manis
7butir kuning telur
5 butir putih telur
Pasta pandan /air daun suji
garam 1sdt
baking powder 1sdt
Emulsifier ovalet/TBM/SP 1/2 sdt (asal semua telur segar, pengadukan sempurna dan sampe ngembang, aku lebih memilih tidak pake emulsifier)
Topping:
Keju cheddar , butter cream

Cara buatnya
1. Siapkan panci kukusan 15 menit sebelumnya, Blender sampe halus tape singkong dengan santan kental sampai lembut, buang serat
2. Kocok telur, gula dan emulsifier (kalao pake) sampai mengembang dengan kecepatan tinggi
3. Masukkan  tepung, susu, baking poder, garam yang sudah diayak jadi satu kedalam campuran telur
4. masukkan tape , kemudian minyak, aduk rata
5. Bagi adonan menjadi 2 bagian, beri satu bagian warna hijau (pastan padan/daun suji+pandan)
6. Masukkan adonan putih terlebih dahulu ke loyang yang sudah diolesi minyak, kukus 15 menit
7.Setelah 15 menit, masukkan adonan warna hijau, kukus lagi 15-20 menit.
8 Dinginkan, oles dengan topping

Tips : air kukusan HARUS mendidih, dan tutup panci kukus harus diberi serbet agar air tidak menetes.Simpan didalam kulkas jika belums empet ngabisin :)Selamat mencoba ya!
BAgi yang gak sempet buat, boleh deh pesen hehee kalo mini cakenya Rp.1700, pesanan loyang ukuran diatas Rp.45.000,- Murah. sehat, halal. Ayooo!!!!

Kamis, 25 Agustus 2011

MUDIK tanpa PANIK

Sambut lebaran, pengen nih nulis beberapa moment luar rumah yang sering bikin kita GGrrrhhh.tapi enggak lah ya. yuk mulai pagi ini kita simak. Tulisan-tulisan ini ada di buku terbaru saya BUKAN SEPASANG MALAIKAT. Semoga bermanfaat

MUDIK 
Ini dia momen yang paling sering melibatkan semua anggota keluarga. Saya lebih menekankan momen ini pada ‘proses’ di perjalanan. Seringkali momen pergi ke luar kota menjadi perjalanan yang awalnya menyenangkan, namun menjadi menjenuhkan saat anak-anak mulai panas, mabuk perjalanan, atau ngambek.
Kita harus menyiapkan banyak kemungkinan. Mulai dari anak yang satu tak mau memakai AC, yang satu tak mau berbagi tempat duduk (pengalaman saat pergi menumpang mobil kakak ipar), anak yang tiba-tiba muntah dan terpaksa berhenti, atau berebut bekal dan makanan kecil. Wadduuuuh .... L Untuk itu, lakukan beberapa persiapan sebelum bepergian bersama anak-anak.
  1. Tetapkan aturan perjalanan di awal
Ini adalah poin pentingnya. Ajarkan pada anak-anak kita bahwa perjalanan ke luar kota adalah perjalanan yang melatih kesabaran. Bahwa mereka harus dapat berbagi (bekal, tempat duduk, dll). Mereka tidak boleh merusak suasana agar perjalanan menyenangkan. Ajarkan adab-adab perjalanan, seperti berdoa, tidak banyak bergurau, berdzikir, dan tidak banyak mengeluh.

2. Memilih waktu perjalanan
Perjalanan di pagi –setelah subuh-  saat udara sejuk adalah pilihan bagus, tergantung berapa lama perjalanan yang akan ditempuh. Pengalaman saya mudik ke tempat mertua yang hanya memakan waktu tiga jam, kami lebih senang melakukan perjalanan sepagi mungkin. Perjalanan menjelang malam hari jika tidak benar-benar dikondisikan akan membuat anak-anak rewel. Namun, jika naik mobil pribadi dan perjalanan Anda semisal Solo-Jakarta, memang lebih enak memilih perjalanan senja atau subuh. Begitupun dengan kereta. Kami pernah mengalami perjalanan pagi hari dengan kereta dan itu menyenangkan.

3. Siapkan bekal yang cukup
Belajar dari kakak ipar saya yang berputra empat, beliau selalu ‘belanja’ berbagai makanan ringan dan minuman untuk bekal yang cukup. Jangan banyak membawa makanan yang membuat mudah haus. Jika memungkinkan, siapkan bekal sendiri. Persediaan air minum, juice, buah-buahan, puding dengan rasa yang segar, akan lebih bermanfaat. Hindari membawa susu kemasan karena akan memancing mual. Sediakan air panas di termos jika kita memiliki Balita atau Batita yang sudah minum susu formula. Air hangat juga diperlukan saat kita ingin menyibin anak kita saat berhenti untuk istirahat.

4.Jangan malas berhenti sejenak
Ini penting. Anak-anak tidak sanggup bertahan lama dalam perjalanan. Apalagi jika kita menggunakan kendaraan pribadi. Usahakan untuk berhenti sejenak. Pilih tempat berhenti ‘langganan’ yang nyaman, tersedia toilet yang bersih, mushala, dan mungkin tempat makan. Biarkan anak-anak keluar mobil, bermain sejenak, buang air kecil, dan bahkan mandi jika memungkinkan! Ini penting juga untuk suami atau sopir Anda yang menyetir mobil.

5. Siapkan obat-obatan pribadi dan cadangan baju ganti
Obat anti mual yang diminumkan sebelum perjalanan boleh juga. Siapkan juga obat-obat pribadi, seperti minyak gosok, kantung plastik, tissue basah, wash lap di tempat yang terjangkau di dalam kendaraan. Kalau perlu, di dalam tas utama yang Anda bawa. Begitu juga baju ganti. Sangat tidak lucu mengubek-ubek bagasi saat di tengah jalan hanya untuk mengambil baju ganti ketika anak kita tiba-tiba muntah, kan? Ini pengalaman pribadi. Oke, sudah panjang, ya? Selanjutnya terserah Anda! Have a nice trip!

Minggu, 14 Agustus 2011

Buku Baruku BUKAN SEPASANG MALAIKAT

Apa kabar pernikahan kita?
Mari kita membayangkan bagaimana rasanya berjalan ke suatu tempat yang jauh tanpa berhenti untuk beristirahat. Tanpa membawa bekal, tanpa membuat rencana-rencana di mana saja kita akan singgah selama perjalanan kita, dan tanpa membawa peta perjalanan yang sesekali dapat kita tilik sebagai panduan. Ditambah lagi, kita tak dapat berkomunikasi dengan baik dan menyenangkan dengan teman seperjalanan. Pff … pasti kita merasa begitu jenuh, lelah, dan segala perasaan tidak nyaman lainnya. Akibatnya? Boleh jadi kita akan sampai meskipun dengan sisa tenaga dan kelelahan psikis yang luar biasa. Atau kita 'mutung' atau mogok di tengah jalan, kembali pulang. Kita malas melanjutkan perjalanan, kehilangan teman seperjalanan, dan kembali pulang dengan … sepi.
Begitu pula dengan pernikahan kita. Dia adalah perjalanan panjang dalam satu fase hidup seseorang. Ia berpotensi menjadi perjalanan yang menyenangkan, ditempuh dengan penuh gairah, penuh rencana-rencana sehingga setiap tapak langkahnya menjadi pemicu menuju tujuan akhir dari pernikahan itu sendiri. Setiap halangan dalam menempuhnya tetap dilakoni dengan penuh kerelaan. Sebab, kita dan 'teman seperjalanan' kita menempuhnya dengan penuh cita-cita dan keyakinan yang sama. Namun, pernikahan dapat pula menjadi seperti gambaran perjalanan di atas yang membuahkan kebosanan, kemandegan, hilangnya gairah, menurunnya potensi diri dan –yang lebih menyedihkan- pernikahan itu terhenti, gagal, rusak sebelum sampai pada tujuan akhirnya.
Kita dan pasangan kita adalah lakon dari perjalanan panjang bernama pernikahan yang telah kita sepakati untuk dijalani. Biduk yang telah kita tumpangi bersama itu akan berlabuh di samudra kehidupan yang penuh riak ombak maupun gelombang dan badai.
Pernikahan kita sepertinya perlu kita sapa kembali. Bagaikan biduk atau kapal tadi, pernikahan kita perlu dibersihkan, dicat kembali, diperiksa mesinnya, nahkoda dan seluruh awaknya harus mengevaluasi mana yang perlu diperbaiki, mengkomunikasikan semua hal yang dapat menghambat lajunya. Dan yang paling penting, jangan sampai para awak dalam kapal itu melubangi kapal sehingga air masuk dan menenggelamkannya! Ah … sudahlah kita berandai-andai tentang perumpamaan-perumpamaan tentang pernikahan.
Saya hanya ingin mengajak berbagi, bernostalgia, atau bahkan mengevalusi pernikahan kita yang berusia muda. Jika menyemangati untuk menikah muda telah banyak menjadi fenomena dan banyak terbahas di banyak buku, saya sepertinya tak ingin banyak menambah hal-hal idealis dalam pernikahan usia muda, meskipun tentu boleh-boleh saja saya mengulasnya sedikit sebagai pengingat.
 Banyak orang mengatakan pernikahan akan matang setelah lima tahun. Di usia itu, kata banyak orang, sebuah rumah tangga telah melewati 'fase aman' pertamanya. Pun begitu, ternyata tak semua orang mengamini pendapat tersebut. Karena semua sangat tergantung kesiapan dan pola komunikasi yang terbangun antarsuami istri. Ada pasangan yang dapat dengan cepat beradaptasi dan membangun komunikasi yang sehat. Sehinggga tak harus menanti hingga usia pernikahan yang kelima, mereka telah dapat beradaptasi. Demikian sebaliknya, betapa banyak pasangan yang hingga duapuluh lima tahun atau bahkan lebih usia pernikahannya, selalu merasa tidak 'bahagia' disebabkan karena kegagalan komunikasi atau timpangnya tuntutan hak dan kewajiban. Tentang ini, insya Allah saya ingin membaginya dalam salah satu bahasan di buku ini.
Pernikahan pun melahirkan relasi-relasi sosial yang unik. Sebagaimana keluarga adalah sebuah potret masyarakat terkecil, pernikahan menuntut keluwesan-keluwesan yang harus kita miliki dalam bergaul. Pernikahan melahirkan hak dan kewajiban tidak saja pada pasangan, namun juga pada keluarga besar, anak, tetangga, maupun masyarakat di sekitar kita. Pengalaman-pengalaman membina hubungan itulah yang ingin saya ceritakan di buku ini dan semoga memberi manfaat.