 |
| Saira, anak keempat saat 8 bulan.Dari setiap anak saya belajar banyak hal |
Tulisan ini sengaja saya tunda penulisannya sampai saya merasa
benar-benar menjalani kehamilan kelima ini dengan benar-benar tulus,
Insya Allah. Saya dedikasikan tulisan ini untuk banyak ibu muda dan para
suami atau keluarga mereka (orangtua/mertua), bahkan teman dan tetangga
yang masih galau dan terus menerus risau dengan istilah 'kesundulan'
yang kadang tidak nyaman bagi yang mengalami (si ibu).Sengaja saya tulis
untuk menyemangati diri sendiri dan membuktikan bahwa segala skenario
Allah untuk kita adalah..... TERBAIK .
Kehamilan adalah sebuah
proses alami yang kita nantikan. Tapi tak jarang kehamilan yang berjarak
dekat atau -bahkan- terlalu dekat menjadi sebuah hentakan psikologis
untuk banyak ibu/pasangan dan juga orang-orang disekitarnya (yang kadang
justru lebih heboh dalam merespon hee....). Tak berbeda dengan saya
dikehamilan kelima ini. Rasa kaget dan bingung tetap menyergap saya
tetapi Alhamdulillah saya , suami dan orang-orang sekitar menjadi sebuah
tim yang membahagiakan untuk melanjutkan perjuangan selanjutnya :
melahirkan! ,Mungkin sedikit sharing ini membantu sahabat yang mengalami
peristiwa 'besar' ini. :).
Dan jika dalam tulisan ini
ada bahasa yang lugas bahkan vulgar, ya mohon disikapi secara ilmiah,
dan memang beginilah 'gaya ' saya dalam menulis :). AKhirnya, dari hasil
'mengunyah' hikmah, ada tiga tahapan Smart menghadapi Kelahiran
Berjarak Dekat
1. Tahap 1 =Berdamai Dengan Rasa Shock
Tidak ada yang perlu saya tutupi dalam tulisan edisi 'berbagi' ini.
Saya akan mencoba meniatkan tulisan ini untuk menjadi 'healing' bagi
para ibu yang masih cemas dan 'pekewuh' dengan kehamilan berjarak dekat.
Mengetahui bahwa saya mengandung lagi , saat itu usia si nomor 4 masih
3bulan tentu sempat membuat kami (saya dan suami) kaget juga. Sebab pada
anak-anak sebelumnya jaraknya ideal (menurut kami heheh , tepat
berjarak 2 tahun.meskipun bagi sebagian orang jarak 2 tahun masih saja
dibilang kesundulan, walah), jadi persepsi kesundulan bagi setiap orang
memang berbeda-beda , tho? cateet!
Nah, pada hari itu rasanya yang
ada hanya perasaan bersalah pada si kecil. Naluri keperempuanan dan
keibuan saya merasakan sinyal ada yang berbeda dalam diri saya. Dan
memastikan bahwa saya benar-benar mengandung dengan jarak yang dekat
benar-benar pengalaman yang baru. Lalu bagaimana cara kami (saya dan
suami) mengatasi perasaan dan akhirnya justru kompak menjalani semua
sknerio Allah ini?
a. Berempati pada istri
Saat itu suami
sangat-sangat sabar menghadapi letupan shock saya , hehehe...Cool dan
sangat berempati. Namun beliau bukan tipikal suami yang membiarkan saya
terus menerus galau dan 'manja' tanpa batas. Saya masih ingat kata-kata
beliau "Ya, umi pasti terkejut, abi juga. Boleh, karena toh memang ini
diluar kemampuan kita menolaknya.Tapi, mari kita sabar dan syukur.
Silakan untuk shock, tapi 3 hari saja ya maksimal, setelah itu, mari
kita mencari ilmu yang terbaik untuk umi, si kecil dan calon bayi." Rasa
empati pasangan akan sangat membantu kita mengatasi dan berdamai dengan
rasa shock.
b. Menyelaraskan Hawa nafsu dengan Keimanan
Ingat
tidak bagaimana Maryam saat tiba-tiba mengandung Isa as? hehhe meskipun
memang berbeda, tapi bolehlah kita ambil pelajarannya. Logika kita
(manusia) harus segera kita selaraskan dengan keimanan manakala kita
menghadapi sesuatu yang menurut kita tidak/kurang ideal. Bahwa apapun
yang terjadi pada kita tidak mungkin luput dari kehendak Allah. Bahwa
Allah punya rencana besar yang baik untuk kita.Bahwa kita adalah
hamba-Nya, maka kita tidak akan mungkin ditinggalkan Allah dalam segala
persoalan kita, asal kita RIDHO dengan skeario-Nya. Ajaib, subhanallah.
Saat tahap ini sudah mampu kita hadirkan. rasanya optimis sekali
kita.PD.Lagi-lagi semangat Maryam membuat saya tiba-tiba merasa kuat.
Bahwa calon janin ini akan membawa kebaikan, keberkahan dan calon
pembela agama Allah, Insya Allah (maaf saya mewek nih nulisnya)
c. Mengafirmasi Diri sendiri
Ini cara jitu berdamai denga rasa shock. Mengafirmasi diri sendiri.
mengatakan hal-hal positif pada diri sendiri. Bhawa kita dipilih Allah
untuk menjalani ini, bahwa kita diberi anak-anak yang sehat, bahwa kita
diberi rahim yang sehat, bahwa kita bisa menjalani semua amanah yang
dipercayakan Allah pada kita.Bahwa kita akan menjadi ibu yang hebat dan
sabar. Bahwa memang kami tidak menggunakan kontrasepsi apapun, jadi
wajar jika setelah ikhtiar kami mengatur jarak kelahiran pun ,Allah
berkehendak mempercepat menambahkannya hehe. Memang terkesan menghibur
diri , dan itulah gunanya afirmasi diri. Ucapkan berulang-ulang.
Makaa.....subhanallah kita seolah selalu energik dan penuh cinta
d. Diam Sejenak, Terapi untuk Yang Belum Siap mendengar (hehe)
Seperti prolog diatas, ternyata kadang lingkungan, orangtua, tetangga
justru merasa belum siap melihat kita mengadung lagi dengan jarak yang
sangat dekat. Mungkin memang mereka kahawatir. Nah, cara yang saya
pakai, saya tidak mengabarkan kehamilan saya pada orang-orang yang
menurut pengamatan saya 'belum siap' atau cenderung berkomentar pesimis,
negatif atau sinis (ada khan) haha. Saya hanya mengabarkan kabar
gembira ini saat saya sudah mantap di option abc diatas. Hanya
orang-orang tertentu yang saya pandang optimis, mendukung saya dan bisa
mensupport yang saya kabari.Hasilnya? saya lebih tenang dan percaya diri
2. Tahap 2 = Hunting Ilmu Supaya Lebih Smart dan Semangat!
Lagi-lagi lakukan tahap ini bersama suami. Dan justru suami saya yang
diam-diam searching banyak hal tentang kehanilan berjarak dekat ini.
Saya sampai surprise. Misinya hanya ini : umminya sehat, bayi kecil
sehat, janin dikandungan sehat, menyusui dan melahirkan sehat! Ada tiga
'ilmu' yang saya terus pelajari selama kehamilan kelima ini
a. Tentang Nursing while pregnancy (NWP)
Beruntung saya bergabung di beberapa group di FB. Group ibu rumahtanga,
gentle birth, group tentang ASI. Semua memberi saya support ilmu yang
menenangkan dan memberi sy dukungan moral dari teman-teman sesama ibu
yang selalu optimis. Kita akan berhadapan dengan orang-orang sekitar
yang bertanya
" Anakmu tetap kau susui?", atau
"eh mbak, gak papa ya hamil sambil menyusui?", "KAsian lho bayinya kan udah 'basi' ASI nya" hehe...
Alhamdulillah, semua pertanyaan dan keraguan seputar menyusui saat
hamil bisa saya jawab dan meyakinkan mereka bahwa everything is okay.
Semua karena ilmu, ketenangan dan keyakinan kita yag berdasar ilmu akan
membuat kita lebih percaya diri. Daan... lagi-lagi saya membuktikan
Allah Maha Hebat. Dia mengatur semua 'rezeki' makhluknya yang sedang
kita susui, dan sedang di kandungan. dan sayapun membuktikan ASI
eksklusif tetap bisa saya jalankan untuk Saira (sekarang 10 bulan, masih
minum ASI, dan sudah saya beri makan tambahan dan susu tambahan,
tentang keputusan saya akhirnya memberi tambahan sufor sejak Saira 9
bulan, saya akan tulis dikesempatan lain)
b. Tentang Tandem Nursing After Birth
ini yang sering saya katakan bahwa kehamilan kali ini, yang jaraknya
lebih dekat daripada sebelumnya, memberi saya kesempatan untuk belajar
hal-hal yang sebelumnya tak terpikirkan. Allah memberi saya kesempatan
learning by doing.
Termasuk belajar bahwa nanti setelah melahirkan, niat tetap menyusui
Saira bisa tetap saya laksanakan sambil tetap menyusui adiknya :) .
Hasil bertanya pada dokter anak, dokter kandungan serta teman-teman yang
berpengalaman lapangan (hehe) membuat saya banyak menimba ilmu dan
berpikiran terbuka
c. Menimba ilmu (lagi) tentang Kelahiran Alami dan 'Lembut' (Gentlebirth)
Subhanallah, sungguh, kehamilan, kelahiran yang kita hadapi dengan
ikhlas, semangat dan optimis akan membukakan ilmu-ilmu baru. Saya
bergabung di group Gentlebirth Untuk Semua (silakan cari sendiri yah
tentang istilah gentlebirth ini), saya menemukan ibu-ibu hebat,
bidan-bidan berkomitmen terhadap proses kelahiran yang sehat dan alami.
Saya dan suami jadi lebih banyak ilmu untuk memiliki pengalaman
menyambut putra kami berikutnya ini dengan rasa tenang, tawakkal,
sealami mungkin. Motivasi berolahraga lebih rajin, latihan pernafasan,
merawat diri dan janin serta bayi sebelumnya dengan naluri keibuan yang
prima.Semangat
3. Tahap 3 = Tahap tetap produktif dan Membangun Tim Sukses Jelang kelahiran
Sehat
Ibu, Sehat Janin, sehat si Kecil . Yup! Itu yang harus senantiasa kita
upayakan. Saya selalu yakin bahwa sedikit saja pikiran dan perasaan saya
'rusak' dengan hal-hal sepele yang membuat geram, maka bangunan kasih
sayang, ketulusan dan semua hal positif dalam diri saya dan keluarga
saya akan ikut terkontaminasi (hee..). Maka, setelah dua tahap diatas,
saya mencoba untuk tetap produktif dalam kegiatan positif, mencintai
suami dengan setulus-tulusnya, menjalin kekompakan dengan beliau dalam
mengasuh anak-anak yang lebih tua, menjalin kedekatan dengan mereka agar
juga siap dan bahagia menyambut 'adik baru'. Justru dengan menyadari
bahwa tugas dan peranan saya sebagai istri dan ibu bertambah 'berat'
maka suami lebih banyak lagi membantu saya memberikan perhatian pada
para kakak (anak2 kami tertua).
Hal lain yang perlu kita lakukan
untuk menyambut kelahiran berikutnya adalah membentuk 'tim sukses'
apakah itu anak-anak, khadimat (pembantu), saudara yang dekat, orangtua,
mertua, bahkan tetangga. Menurut saya, mereka adalah tim sukses yang
akan membantu kita menyongsong proses kelahiran dan membantu kita
mengasuh anak-anak yang bertambah. Maka, hilangkan hal-hal yang
'meruesak' hubungan baik, dan settinglah hati kita untuk BAHAGIA,
meskipun kadang tak ada gading yang tak retak dalam hubungan antar
manusia. Alhamdulillah, sejauh ini saya belajar 'mengikhlaskan' saja apa
yang kita hadapi, dan sesegera mungkin merecovery hal-hal yang tidak
mengenakkan, demi kesehatan kita dan anak-anak kita.
Sudah cukup panjang..semoga tulisan ini menginspirasi dan membawa manfaat! Semangat, Ibu dan Bayi sehat!