Kamis, 14 April 2011

Mengakrabi Semangat Sang Raden Ajeng : 3 Inspirasi Untuk Kartini Era Digital!


                Panggil Aku Kartini Saja,  buku karya Pramoedya Ananta Toer itu saya baca di usia yang masih ranum, 19 tahun.Saat itu saya adalah :seorang anak perempuan, gadis muda dengan banyak cita-cita. Buku  yang entah  bagaimana membuat saya ‘jatuh cinta’ pada Sang Raden Ajeng. Selanjutnya, saya semakin intens menelusuri banyak buku, tulisan dan beberapa artikel tentang Kartini.Ya, tentang semangat dan pemikirannya.
                Waktu berjalan dan saat ini  usia saya menjelang 30 tahun. Kini saya telah menjadi seorang istri dan ibu dari tiga anak balita. Namun toh  saya tetap seorang perempuan. Dan saya tidak mau ‘turun mesin’ dalam cita-cita dan idealisme seperti keluhan banyak perempuan saat telah menjadi istri dan ibu. Bagi saya, Sang Raden Ajeng menjadi salah satu perempuan inspiratif yang mampu menyikapi segala perubahan budaya, peran, status, dengan tetap menghidupkan idealismenya sebagai perempuan bercita-cita luhur ditengah bangsa dan budaya terjajah.
                Perjalanan saya ‘mengakrabi’ sosok Kartini, justru tidak membentuk saya selalu menuntut persamaan hak. Itu sudah selesai. Wacana tentang tuntutan kebebasan, peluang, kesempatan meraih kemajuan sudah sejak lama kita genggam. Justru, telaah saya terhadap sosok Sang Raden Ajeng mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa RA. Kartini adalah perempuan sederhana yang sadar terhadap fitrahnya sebagai istri dan ibu namun menyimpan semangat  kemajuan yang melampaui adatnya. Sang Raden Ajeng  bagi saya justru menyemaikan beberapa inspirasi dan kesadaran yang tak lekang kapanpun. Inspirasi yang akan menjadikan peringatan kelahiran beliau –semoga- bukan lagi peringatan simbolik, bukan lagi diperingati dengan peragaan trend-trend busana kebaya terbaru,misalnya J
                Maka,dalam konteks kekinian,dimana teknologi dan informasi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, izinkan saya memaparkan setidaknya tiga inspirasi dari Sang Raden Ajeng Kartini bagi kita, perempuan Indonesia di era digital untuk memberdayakan diri, keluarga dan masyarakatnya.
Inspirasi Pertama : Kesadaran Menjadi  Perempuan Pembelajar
                Kartini seorang pembelajar. Semangat pembelajar itu yang membawa Kartini pada kesadaran untuk mengakses  informasi dan terus mengikutinya dari semua kalangan. Semangat belajar itulah yang mengeluarkan Kartini dari sekat-sekat budaya dan keterbatasan. Kesadaran belajar itu pulalah yang menggiring Kartini mengakrabi kembali ajaran Al-Qur’an dan menjadikannya seorang perempuan kritis yang akhirnya menemukan bahwa agamanya mengajarkan persamaan hak belajar dan hak-hak kemanusiaan yang sama untuk laki-laki dan perempuan. Kesadaran itulah yang membentuk kesadaran moral bagi Kartini untuk mencerahkan kaumnya.Luarbiasa !
Kita, perempuan Indonesia masa kini semestinya lebih mampu memompa semangat belajar. Era digital  didepan mata, mengajak kita menjadi pemilih teknologi dan informasi yang cerdas. Segala hal dapat kita akses, segala ketrampilan dapat kita pelajari dan segala ilmu dapat kita perdalam hanya dengan menggerakkan jari. Apapun profesi dan kegiatan perempuan saat ini, ia harus dapat belajar menemukan hal baru yang dapat meningkatkan kualitas aktifitasnya.
Hal itu benar-benar saya coba patrikan dalam diri. Bahwa saya bangga berprofesi dan berkegiatan utama sebagai istri dan ibu rumahtangga. Namun saya harus mampu meningkatkan kualitas saya dalam mengasuh anak-anak, memenej rumahtangga, berinteraksi sehat serta berpartner dengan suami dan orang-orang disekitar saya. Lewat teknologi internet saya dapat meluaskan wawasan saya, melejitkan potensi , bahkan ‘bersekolah’ online dari rumah. Perempuan pembelajar mampu mengatasi keterbatasan menjadi sebuah energi positif untuk lebih maju.Ya,seperti sang Raden Ajeng.
Inspirasi Kedua: Kemampuan Bersinergi dan Berkepedulian Sosial
                Hal lain yang saya temukan dalam sosok Raden Ajeng Kartini adalah kemampuan beliau untuk membuat sinergi dengan orang lain, dengan orang terdekat dan dengan masyarakatnya. Beliau –dengan spirit moral dan karakter pembelajarnya- mampu meyakinkan suaminya untuk mendukung cita-citanya, pun beliau mampu menjalin komunikasi efektif dan sinergis dengan sahabat Belanda beliau pasangan suami istri J.H Abendanon dan sahabat penanya yang lain,  Estelle "Stella" Zeehandelaar, untuk bertukar pikiran, saling mendukung dan mensinergikan cita-cita luhurnya. Tak heran jika dimasa itu, justru suami beliau mendukung keinginannya untuk membuka sebuah sekolah bagi kaum perempuan, sebuah dukungan berharga dan diluar kebiasaan kala itu.
                Itulah yang harus kita ejawantahkan saat ini. Kasus-kasus kekerasan, perkosaan, kasus sosial ,keluarga, anak dan semua yang terkait dengan dunia keperempuanan hanya bisa diselesaikan dengan sinergi para perempuan sendiri. Kita para perempuan Indonesia dapat menyuarakan segala persoalan dan mencari solusi dengan memanfaatkan jejaring sosial,media dan semua akses teknologi. Maka, tidak ada lagi alasan untuk bersikap acuh dan hidup dalam kepentingan diri. Sebab Kartini dan para pejuang bukan sosok yang hidup untuk dirinya sendiri.
Inspirasi Ketiga : Kemampuan Mendokumentasikan dan Menebar  Pemikiran/Ide
                Boleh jadi, Cut nya’ Dien adalah pahlawan perempuan yang lebih dahulu terjun dengan heroik di Tanah Rencong. Pun seorang Dewi Sartika lebih dahulu membuka Sekolah Istri sebagai kepeduliannya terhadap kemajuan kaum perempuan bumiputera.Namun, mengapa Kartini memiliki ide yang terus hidup, diperingati dan menyejarah??
                Jawabnya karena kartini MENULIS! Inspirasi terakhir dan menjadi terpenting dalam tulisan ini adalah bahwa Sang Raden Ajeng Kartini mampu mendokumentasikan pemikiran dan cita-citanya. Kegemaran korespondensi beliau dengan sahabat pena di Belanda, tulisan-tulisan beliau kepada Nyonya Abendanon menjadi kumpulan pemikiran yang tak lekang.
                Belajar dari semangat Kartini untuk menggunakan pena dalam memperjuangkan cita-citanya, maka saya mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk belajar ‘bersuara’ melalui tulisan. Sebab menulis akan menyalurkan ketulusan , kepedulian serta  energy positif kita. Menulis akan mengasah kemampuan kita untuk memandang persoalan dengan banyak sudut pandang, menulis mampu mempengaruhi pemikiran dan menyentuh perasaan.
Kemampuan mendokumentasikan pemikiran dan ide inilah yang kelak akan menjadikan kita perempuan yang memiliki rekam jejak dan sejarah cita-cita. Apalagi di era digital, tulisan kita di facebook, blog ataupun website menjadi sebuah sebaran pemikiran yang luarbiasa. Kesuksesan-kesuksesan kecil dan pemikiran-pemikiran –yang mungkin kita anggap sederhana- namun kita dokumentasikan melalui tulisan, kelak akan menjadi inspirasi bagi banyak orang, dan jika itu membawa kebaikan maka kita akan mampu menawarkan perubahan sikap dan perilaku yang luarbiasa. Ya,ya,ya!Maka inilah salah satu cara saya mendokumentasikan ‘perkenalan’ saya dengan Sang Raden Ajeng, dengan menuliskannya untuk Anda!
Demikian tulisan ini, semoga menjadi renungan dan inspirasi dari sosok yang tentunya tak ingin dirinya hanya menjadi sebuah simbol tanpa makna. Maka, mari kita coba menanyakan pada diri, apakah benar kita pantas menjadi ‘Kartini’ Digital masa kini? Mari memulainya hari ini!
*tulisan ini saya sertakan dalam kompetisi menulis blog ‘Kartini Digital’ oleh XL dan forum Indonesia Berprestasi. Mohon koment dari teman dan sahabat.Silakan berkunjung ke rumah pemikiran kami,  di  http://penaperempuan.blogspot.com untuk tulisan-tulisan seputar dunia perempuan dan keluarga .Salam Inspiratif!
Info Kompetisi Menulis Blog dan Kompetisi lain silakan klik http://xlcsr.com/kartinidigital/lomba-menulis-blog/


0 komentar:

Poskan Komentar